ini adalah chap 2. semoga kalian bisa menikmatinya.

banyak kesalahan, maaf. hehe


***IDK***

" Disini, Cagalli, Kira! "

Lambaian tangan mencuat di sebuah ruangan yang memiliki lebar 1,5 m dan panjang 3 m dengan skat setinggi 1 m tiap ruangan. Suara itu, Kira dan Cagalli tau itu suara ibu kandung mereka. Maka tanpa ragu, mereka melangkahkan kaki menuju ruang tersebut dan tersenyum melihat dua orang dewasa yang merupakan orangtua mereka telah duduk nyaman di dalamnya.

" Syukurlah kalian sampai tidak terlalu lama. Ayah kalian sangat keras kepala untuk memesan diawal. Bahaya jika kalian lama datang kesini."

Kira dan Cagalli duduk bersampingan dan menghadap orangtua mereka. Itu kedai lesehan, jadi tak ada kursi disana.

" Aku akan memakannya jika mereka telat." ucap Ulen yang merupakan ayah mereka.

"Mo.. kau sungguh penggila ramen." Via, ibu mereka memanyunkan bibirnya karna kesal.

" Itu cukup menjelaskan darimana Cagalli memiliki sikap rakus pada ramen." ungkap Kira.

" Benarkah? kau memang anakku, Callie-chan" Ulen mengangkat jempolnya menghadap Cagalli.

"kenapa hanya aku yang ayah pakai embel-embel -chan?" Cagalli cemberut.

"kau anak gadis kesayanganku, Callie-chan." Ulen tersenyum lembut, memberikan sensasi hangat di hati Cagalli. Kira yang melihat senyum bahagia dari Cagalli ikut tersenyum lembut. Kira tahu, Cagalli sangat minim kasih sayang dari seorang Ayah. Karnanya, Kira senang saat ayahnya memberikan perhatian lebih pada Cagalli dibandingnya.

Empat mangkuk ramen datang, mereka mulai memakan masing masing ramennya dan berbincang-bincang sedikit hingga ramen mereka habis.

" Bolehkah aku memesan satu lagi? " ucap cagalli dengan memasang puppy eyes pada ibunya.

" Aku juga!" Ulen langsung memanggil pelayan untuk semangkuk ramen jumbo.

" Oh ya ampun, kalian ini." Via hanya menggelengkan kepalanya.

Lima belas menit kemudian, Keluarga kecil itu meninggalkan kedai ramen tersebut dan berjalan menuju rumah mereka. Cagalli dan Ulen melangkah beriringan di depan, sedangkan Via dan Kira di belakang mereka memberikan jarak satu setengah meter dengan Cagalli dan Ulen.

"Aku sangat bahagia menemukan kalian berdua." Via membuka percakapan, dia menatap Cagalli dan Ulen yang seperti sedang membicarakan suatu hal. " Maaf dulu kami terpaksa menyerahkan kalian kepada keluarga Yamato. Kondisi saat itu begitu rumit, Maaf sekali lagi."

"Tidak apa-apa, Ibu. Kami mengerti, Kalian sudah menjelaskan sebelumnya." Ucap kira sambil tersenyum ke arah ibunya.

"Terimakasih, Kira." Via membalas senyum putranya.


***IDK***

Hibiki's Home

20.00

Malam itu suasana kediaman Hibiki cukup tenang, Remaja kembar hibiki sedang asyik bermain PS, Kepala keluarga sedang membaca buku, dan sang ibu memainkan ponselnya.

" Oh iya Cagalli, kau kurang mengerti dalam pelajaran apa?" Tanya sang ibu pada putri berambut pirang.

" Matematika." jawab Cagalli dengan pasti tanpa mengalihkan pandangannya pada layar datar di hadapannya.

" Baiklah, mulai minggu depan kau ikuti kursus special ya." ucap Via dengan senyum ceria.

satu detik belum ada respon, dua, tiga, empat, lima. Cagalli membeku.

"Gol! aku menang!" Ucap Kira mengambil kesempatan dari diamnya Cagalli.

"APA?!" Suara nyaring Cagalli memenuhi ruangan itu. Itu bukan untuk kekalahannya, Tapi itu adalah respon untuk sang ibu.

" Ibu punya teman, Katanya anaknya pergi dari rumah untuk bisa hidup mandiri. Anaknya itu hanya dibekali sebuah apartement dan sedikit uang. Untuk hidup tentu anaknya butuh pekerjaan. Ia mendengar kabar bahwa anaknya akan membuka kursus. Ia meminta bantuan ibu agar membantu anaknya karna anaknya di ORB, di kota kita. Dia sahabat baik ibu,sayang.. jadi maukah kau kursus pada anak dari sahabat ibu itu?" tanya Via dengan memohon.

" Ta-tapi, kenapa bukan Kira?"

" Terlihat bohong sekali jika Kira yang pandai mengikuti kursus pada orang yang seangkatan dengannya. Anak sahabat ibu itu seumuran dengan kalian."

" Jadi ibu menganggap aku bodoh?" tanya Cagalli pada ibunya, Kira hanya tertawa mendengar pernyataan Cagalli.

" Bu-bukan begitu." Via gugup karnanya, ia tidak bermaksud menyinggung perasaan sang anak.

" Baiklah." jawab cagalli setelah menghela nafas panjang.

" Kau mau? Kau anak tersayangku!" Via segera memeluk Cagalli dengan erat. Cagalli tersenyum senang karna bisa membuat ibunya bahagia.

'Selama aku bisa, apapun untukmu, ibu.' ucap cagalli dalam hatinya.


***IDK***

Cagalli POV

Golden Resto

19.00

Setelah aku menyetujui untuk mengikuti kursus dari anak teman ibu, maka disinilah aku berada dengan pria berambut night blue bermata zamrud. Ini adalah pertemuan formal yang ibu rencanakan untuk kami di sebuah restoran kelas atas.

" Jadi namamu Athrun Zala?" Ibu memulai percakapan setelah menu utama sampai di meja. Hurf, ibu aktor yang hebat. Bisa-bisanya ia bersikap tidak tahu tentang namanya. Padahal semalaman dia mengobrol dengan ibu pria itu di ponsel.

" Ha'i, Mrs. Hibiki." Dia menjawab dengan sangat sopan.

" Panggil saja aku 'tante'. Bisa?"

"baiklah." Dia tersenyum dan ibupun tersenyum. Aku hanya terdiam memperhatikan mereka lalu kembali pada makananku. Aku kurang aktif dalam percakapan dengan orang yang belum aku kenal.

"Kapan kursus dimulai, Athrun?"

" Itu terserah kapan putri tante siap." Dia menatapku, aku merasakan tatapannya, namun aku tak ingin merespon apapun.

" Bagaimana jika lusa? apa kau tidak sibuk?" ibu menggantikan aku untuk menjawab pertanyaan yang Dia ajukan padaku.

" Lusa ya? hm, tentu."

" Seperti apa yang kau cantumkan di blogmu, Cagalli akan mengikuti kursusmu tiga kali dalam seminggu. Pelajaran yang Cagalli kurang mengerti adalah Matematika. Jadi mohon terfokus pada pelajaran tersebut."

" Seperti yang tante minta". Dengan responnya tersebut, percakapan antara mereka selesai.

Waktu berlalu dengan lamban bagiku yang ingin segera pulang daripada duduk berhadapan dengan orang asing, walaupun ada ibu di sisiku. Aku bersyukur saat makanan kami habis. Tinggal menunggu makanan penutup, aku sangat bersemangat dengan puding vanila yang aku pesan.

" Cagalli, ibu ke belakang dulu, ya?" aku menatap ibuku dan mengangguk saat beliau mulai berdiri.

" Athrun, tante tinggal dulu. Mulailah percakapan, Cagalli agak pendiam jika bersama orang yang belum ia kenal." ibu tersenyum pada Dia dan beranjak pergi meninggalkan meja kami.


***IDK***

Athrun POV

Suasana hening di meja ini, setelah tante Via pergi. Beliau orang yang ramah, rasanya mudah bergaul dengannya daripada putrinya. Dari awal, gadis itu hanya diam dan duduk manis di kursinya. Rambut pirangnya hanya sampai di bahu ringkihnya. Dengan gaun sederhana yang ia pakai, itu memberi kesan lemah pada tampilannya. Apa aku akan mengajar gadis pendiam sepertinya? Itu akan sulit jika tiap pembelajaran dia hanya diam. Apa dia takkan pernah bertanya jika ia tak mengerti?

Aku menatapnya, dia perlahan mengangkat kepalanya dan mata kami bertemu. Itu adalah mata amber yang jarang aku temui. Dari matanya, ada hal baru yang aku pelajari. Matanya menunjukan sebuah tekad dan penolakan akan hal yang ia tak suka. Matanya menggoyahkan segala pandangan awalku padanya. Dia tidak lemah, matanya benegaskan hal itu. Jadi, mari kita buktikan.

Tangannya perlahan menuju sebuah gelas di tengah meja kami, maka dengan cepat aku berdiri dan mengenggam pergelangan tangannya lalu mengangkatnya sedikit.

"Kenapa kau kurus sekali? Tanganmu kenapa? Mirip daun bawang." Ucapku sambil menatap matanya yang nampak terkejut.

"Tidak sopan!" Dia segera menarik tangannya dengan cepat, padahal genggamanku cukup kuat pada pergelangannya. Ah, perlawanan yang bagus, aku pikir dia tidak akan bisa melakukannya. Akupun kembali duduk di kursiku dan menghela nafas panjang saat dirinya terus menatapku dengan pandangan tak suka.

" Apa kau terbiasa membandingkan tangan orang lain dengan sayuran?" Dia berbicara lagi, suaranya bergema di telingaku. Tidak manja, itu sangat tegas.

" Aku kan tidak perlu sesopan itu dengan orang yang tiga hari dalam seminggu akan bersamaku. Aku tidak suka suasana canggung yang mungkin akan tercipta nanti. Kau juga tidak perlu begitu sopan, aku merasa kau yang pendiam bukan dirimu yang sebenarnya."

Dia terus menatapku, tidak ada sembulat merah seperti gadis lain, dia hanya terus menatapku dengan tatapan menantang. akupun melanjutkan kalimatku.

"jika ada yang tidak kau suka, katakan saja. Dengan begitu, kita akan mudah memahami satu sama lain. Itu akan membantu memperlancar proses belajar-mengajar."

Diapun menghela nafas panjang, sepertinya dia mencoba merileks-kan dirinya. Senyum tipis terbentuk di bibirnya.

" Baiklah, karena aku akan menjadi muridmu, bagaimana aku memanggilmu? Sensei?"

" Jelek, yang lain saja." aku memalingkan wajahku.

" Kalau begitu, Athrun."

" Cepat sekali!" Aku terkejut dan langsung menatapnya yang hanya tersenyum tipis padaku.

" Kau sendiri kan yang bilang untuk tidak sesopan itu? kau bahkan telah menyebut tanganku daun bawang." Senyumnya merekah, sepertinya dia memang bukan gadis pendiam. Dia hanya sulit bersosialisasi dengan orang yang tidak ia kenal.

" Kau benar, baiklah."

" Heh? aku pikir kau akan marah."

"Ada apa? karna kau memanggilku dengan nama depan? nantinya juga kita akan saling mengenal, jadi tak apa, Cagalli."

Kami tersenyum, lalu tante Via datang dan menampilkan wajah ceria saat kami berdua terlihat mulai bergaul. Kami memakan hidangan penutup dengan suasana hangat. Gadis bernama Cagalli itu tidak lagi diam, sesekali ia merespon apa yang kami bicarakan. Dan begitulah akhir dari pertemuan kami ini.

TBC


hurf.. selesai juga. aku sengaja sekaligus mempublish chap 1 n chap 2. di 2 chapter ini aku menempatkannya seperti prolog. jadi chap 3 akan memulai keseharian cagalli. semoga ada yang suka. aamiin. hehe

jadi menurut kalian, akankah AxC atau KxC ?
lacus tentu saja akan jadi tokoh penting lainnya :)