Disclaimer: Inazuma Eleven belongs to Level-5.
Warning: sedikit OOC, mungkin gaje, EYD tidak sesuai, alur terlalu cepat, typo, salah format, dan sebagainya.
Pair: ShindouxAkane
Ainotameni
- Breathtaking Moment -
Hari demi hari berlalu, waktu latihan yang ditambah 30 menit setiap harinya itu membuahkan hasil, anggota Raimon Eleven tampak lebih siap menghadapi Teikoku Gakuen di pertandingan persahabatan nanti.
Pagi ini kami akan berkumpul di gedung sepakbola sebelum berangkat ke Teikoku Gakuen dengan Inazuma Caravan. Namun aku sendiri malah datang terlambat.
"Uwaa …." aku nyaris terjatuh ketika pintu otomatis-nya mendadak terbuka lebar, untunglah ada tangan seseorang yang menahanku ….
Eh siapa 'seseorang' itu?
"Kau ini, kenapa terburu-buru begitu, Akane-chan?"
Aku mendongakkan kepalaku, "Hee? Kapten?! Go-gomenasai!" seruku seraya melepas genggaman tangannya yang barusan menahanku.
Sementara Shindou hanya tersenyum, "Tidak apa-apa." ujarnya.
"Kapten! Endou-kantoku menyuruhmu masuk!" seru Tenma yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Ah. Ayo, Akane-chan!" Shindou menepuk bahuku kemudian setengah berlari ia masuk ke ruangan klub.
Sambil berpikir aku berjalan mengikutinya. Kalau Endou -kantoku dan yang lainnya sudah datang, untuk apa Shin-sama keluar barusan?
Apa ia mencariku?
Ah, itu khayalanmu saja Akane.
"Oke semuanya, kita berangkat!" seru Otonashi-sensei bersemangat.
"Yosh!" balas Raimon Eleven tak kalah semangat.
Satu per satu anggota klub memasuki Inazuma Caravan dengan tertib. Aku bersama para manager lainnya duduk bertiga di bangku yang sama seperti biasa, sementara Shindou, Kirino, dan Tsurugi duduk dua baris di depan kami.
"Psstt …. Akane!" bisik Midori-san.
"Nani?" sahutku.
"Kau tahu tidak?" tanya Midori-san, membuatku sweatdrop.
"Tidak tahu, memangnya ada apa, Midori-san?" tanyaku balik.
"Shindou …. Tadi sebelum kau datang, ia mencarimu tahu!" jawab Midori-san dengan menggebu-gebu.
"H-hontou ni?!" tanyaku tak percaya, dan langsung dibalas dengan anggukan mantap dari Midori-san.
"Tentu saja! Tampangnya itu lho, seperti orang khawatir!" ucap Midori-san, masih menggebu-gebu.
"Siapa yang khawatir, Midori-san?" tiba-tiba Aoi-chan meng-interrupt obrolan bisik-bisik kami yang ternyata tak sengaja terdengar olehnya.
"E-etto …. Bukan siapa-siapa kok, Aoi-chan, hehehehe …." kilah Midori-san sembari tertawa maksa.
Sementara mereka dua berbincang-bincang, ingatanku melayang pada perkataan Shindou minggu lalu ….
.
.
"Akane-chan, minggu depan kau datang kan?"
"Datang ke pertandingan maksudmu? Tentu saja, Kapten."
"Baguslah kalau begitu …."
"Memangnya kenapa, Kapten?"
"Umm …. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Oh iya, Midori belum mengatakan apa-apa padamu kan?"
"Midori-san? Umm …. Belum."
"Haah …. Yokatta ne …."
.
.
Apa benar ada 'sesuatu' yang ingin Shindou sampaikan padaku? Kalau memang iya, kenapa ia tak mengatakannya daritadi?
Ah sudahlah, mungkin ia lupa, atau mungkin 'sesuatu' itu bukanlah hal yang penting.
(Normal POV)
Sesampainya di Teikoku Gakuen, anggota Raimon Eleven dan Endou-kantoku bergegas menuju ruang ganti. Sementara Otonashi-sensei dan ketiga manager menunggu di bench.
Setelah jersey kebanggaan Raimon telah mereka pakai, Endou-kantoku meluangkan waktu sejenak untuk masing-masing anggota berdoa dan memohon agar dewi keberuntungan tersenyum untuk kemenangan mereka.
Khusus bagi Shindou, ia menambahkan sederet harapannya di antara doa dan permohonan tersebut.
'Jika Raimon memenangkan pertandingan ini, maka kemenangan ini kupersembahkan untuk Akane-chan.' ucapnya dalam hati.
"Nah, semuanya, ayo berjuang! Mainkan sepak bola kalian!" seru Endou-kantoku.
"Ya!" balas Raimon Eleven serempak.
Kickoff pun dimulai dari Raimon, namun belum separuh jalan beberapa pemain Teikoku sudah menjaga beberapa dari Raimon, Hamano yang terdesak berusaha mengoper pada Shindou namun bolanya direbut oleh pemain Teikoku dan langsung dibawa ke gawang.
Beruntung Shinsuke dapat menahan serangan Teikoku.
Akane yang melihat semua itu dari bench hanya mengepalkan tangannya, 'Shin-sama, ganbatte!' batinnya.
Akhirnya setelah 90 menit berlalu, pertandingan persahabatan yang nampak seperti tanding sungguhan itu selesai. Raimon berhasil melampaui skor Teikoku di menit terakhir berkat hissatsu Ultimate Thunder. Rasanya seperti bernostalgia, dengan taktik sama, Raimon unggul 3 – 2 melawan Teikoku.
"Kita berhasil!" seru Tenma dan Shinsuke, masih sama seperti biasanya, mereka berdualah yang paling riang ketika Raimon memenangkan pertandingan.
"Midori-san, Akane-san, kita berhasil!" ucap Aoi gembira.
Akane mengangguk seraya tersenyum, 'Shin-sama, minna, omedetto ….' batinnya.
Shindou yang berada di antara euphoria menoleh sekilas pada Akane yang tengah berbahagia bersama para manager dan pelatih, bibirnya membentuk sebuah lekuk senyuman.
'Aku berhasil, Akane-chan.'
.
.
Di luar stadion, anggota Raimon Eleven tengah berjalan beriringan menuju tempat parkir Inazuma Caravan. Sesekali mereka bersenda gurau dan membicarakan pertandingan yang tadi.
Sampai di parkiran, "Lho, dimana caravan-nya?" tanya Otonashi-sensei.
"He? Bukankah Furukabu-san memarkirkannya di sini?" tanya Tenma.
"Ano …. Sebenarnya tadi Furukabu-san berkata padaku dan Kirino kalau kita sudah selesai, caravan-nya menunggu di seberang jalan sana." jelas Shindou yang diikuti anggukan Kirino.
"Sou ka …. Kalau begitu ayo semuanya!" ucap Otonashi-sensei.
Mereka kembali berjalan ke gerbang utama Teikoku Gakuen, saat di pinggir jalan Shindou berhenti sejenak untuk menunggu Akane.
'Aku harus mengatakannya sekarang. Harus!'
Ketika itu Akane dan Midori lewat, Midori yang tahu bahwa Shindou akan mengatakannya pada Akane langsung paham.
"Akane, aku duluan ya, jaa nee …." dengan sengajanya Midori meninggalkan Akane.
"Eh, Mi-Midori-san …." Akane berniat mengejar Midori, namun niatnya urung ketika genggaman kuat menguasai lengannya.
"Tunggu, Akane-chan …." ujar Shindou.
"Ka-kapten?" Akane nampak terkejut.
"Akane-chan, soal minggu lalu itu …."
"Shindou, kau dipanggil oleh kantoku!" ujar Kirino setengah berteriak dari seberang jalan.
"A-ah, ba-baiklah …." Shindou yang kebingungan langsung saja berlari ke seberang tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Shin-sama!" jerit Akane ketika melihat sebuah truk melaju ke arahnya. Gadis itu mendorong Shindou dan membiarkan truk itu ….
…. Menghantam tubuhnya.
Shindou tercengang melihat apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Akane ….!"
To Be Continued
note: gomen gomen saya baru post chapter 2 nya *sujud*
dan lagi, sepertinya chapter ini gaje, alurnya kecepetan uhuu T.T
sudikah readers-sama memberikan kritik sarannya untuk saya? last chapter will come soon *bows*
