Pairing: Sasu/Hina always.

Rating: M

Tag : Romance/ Tragedy/ friendship/ AU

Disclaimer: All characters in this story belongs to Masashi Kishimoto

Happy reading..

###########################

Ninja.

Merupakan suatu tehnik kuno yang menjadi bagian dari seni Nonuse.

Nama ninja sendiri merupakan gabungan dari kata 'Nin' yang artinya menyusup, dan 'Sha' yang berarti orang. Bila ditafsirkan secara gamblang, maka ninja atau shinobi berarti sebuah teknik yang digunakan untuk menyusup dan spionase**.

Klan Uchiha merupakan merupakan klan Ninja yang berasal dari kakek buyut yang sama dengan klan Senju, yaitu Rikudou Sennin.

.
.

Aku melempar gulungan manuskrip ditanganku asal – asalan.

Sejarah tentang keluargaku yang seharusnya menjadi satu hal yang paling kubanggakan, nyatanya justru menjadi hal paling memuakkan.

Aku menatap kearah Karesansui kebanggan Fugaku Uchiha, Ayahku, pemimpin klan Uchiha saat ini. Menjadi putra dari bangsawan klan ninja Konoha sungguh beban yang berat. Membuat aku, Uchiha Sasuke, harus belajar sejarah dan tehnik Ninjutsu semenjak kecil. Padahal bila boleh jujur, daripada menjadi seorang shinobi aku lebih ingin menjadi seorang samurai.

Nilai - nilai moral dalam bushido telah memukau diriku semenjak aku mulai mengenal huruf. Dibandingkan Ninja yang bergerak dibalik bayangan, eksistensi Samurai lebih nyata dan membanggakan. Sebuah tekat untuk menjunjung tinggi martabat diri dengan pengabdian, dan mati berlaga dimedan perang sambil menenteng samurai, merupakan suatu impian berbau maskulin yang tidak terbantahkan bagi jiwa seorang pria. Itulah sebabnya mengapa alih - alih mendalami Ninjutsu, aku lebih suka belajar Kenjutsu atau Iaijutsu.

Bahkan untuk senjata sekalipun, dari pada menggunakan kunai, aku lebih memilih menggunakan Chokuto.

Chokuto kesayanganku ini memang lebih besar dari ukuran normal, namun juga tidak memiliki standar untuk disebut sebagai katana. Kunamai chokuto ini 'Kusanagi', nama yang kuambil dari nama Kusanagi no Tsurugi, sang pedang legendaris milik Take Haya no Susano o Mikoto

.

Untuk sementara, aku menjalani hidup dengan mengabil dua peran.

Tidak ingin dicap sebagai anak durhaka, aku tetap menjadi shinobi penerus keluarga, namun disamping itu aku juga hidup sebagai samurai. Suatu hal yang kuanggap mewakili diriku yang sebenarnya.

Namun semua yang yang kulakukan saat ini bukan tanpa halangan

Ayahku selaku kepala keluarga dari klan Uchiha, sangat menentang keputusanku. Bahkan sampai detik ini, ayahku masih mengharapkan aku menjalani hidup sebagai seorang shinobi seutuhnya, bukannya samurai. Namun segala hal yang dilakukan ayahku untuk menghalangi niatku itu, sama sekali tidak menyurutkan tekatku.

Untuk memperdalam ilmu pedang, aku diam - diam belajar di dojo milik paman Mifune, seorang mantan kepala pasukan samurai dari Tetsu no Kuni.

Disana aku bertemu dengan Mangetsu Hozuki, si jenius pedang kesayangan paman Mifune.
Tumbuh bersama pedang, kami menjadi sahabat erat, bahkan dia telah kuanggap layaknya saudara kandunggku sendiri.

Selain Hozuki aku juga mengenal keponakan paman Mifune.
Putri dari saudara jauh paman yang bernama Shiho. Seorang gadis bertutur lembut dan halus, namun juga berwatak kuat sebagaimana dia didik menjadi calon istri samurai.

Seorang bidadari dari surga yang telah mencuri hatiku.

.

Pagi ini paman Mifune memanggil murit - muritnya untuk berkumpul didojo. Biasanya hal ini dilakukan bila ada pengumuman yang ingin disampaikan berkenaan dengan keberlangsungan dojo.

Namun hari ini tampaknya sedikit berbeda. Aku dan Hozuki hanya saling menatap saat paman meminta kami duduk didepan.

"Tanpa terasa waktu telah memakan usiaku.." Paman mulai membuka pertemuan.

"Dojo ini ku dirikan dengan susah payah bermodal tabungan hari tuaku.."

"Aku mengharapkan adanya regenerasi yang bisa membantuku mengembangkan dojo. Disamping itu aku juga ingin ada seorang lelaki yang kuat dan bertanggung jawab, yang mau menggantikan tugasku menjaga keponakanku, Shiho, seumur hidup.."

Paman Mifune menarik nafas panjang.

"Hozuki.. Kau adalah murit pertamaku dan juga yang terbaik.. Bagaimana menurutmu tawaranku?"

Hozuki terdiam dan melirikku sejenak.

"Suatu kehormatan sensei mempercayakan hal ini kepada saya.." Ucapnya sambil melakukan ojigi, "namun murit terbaik disini bukan hanya saya.. Masih ada Sasuke san.."

Paman Mifune mengernyitkan kening mendengar kata - kata Hozuki. Sementara aku terdiam dengan mata menyalang ke arah Hozuki.

Apa maksudnya?
Apa dia mengasihani aku?

"Nanti sore bawalah boken kalian masing - masing. Akan kuputuskan setelah melihat hasilnya.." Ucap paman Mifune mengakhiri pertemuan.

.

.

Segera setelah pertemuan berakhir, aku mendorong Hozuki menjauhi murit - murit yang lain.

"Apa maksudmu?" Desisku tak suka.

"Aku hanya ingin bersaing secara adil denganmu, sahabatku.." Ucap Hozuki santai.

"HAH?!"

"Oh ayolah.. jangan mengelak dari kenyataan.. Kita berdua sama Sasuke.."

Jari telunjuk Hozuki mengarah ke dadaku.

"Kau dan aku.. Kita.. Mencintai gadis yang sama.."

Hozuki hanya tersenyum simpul menatapku yang diam tercenung. Tangannya menepuk bahuku perlahan.

"Aku menunggu yang terbaik darimu.."

.

.

TRAK! TRAK!

Suara boken yang beradu, keras membahana dihalaman depan dojo paman Mifune.
Pertarungan sudah berlangsung lebih dari setengah hari, dan kedudukan kami masih seimbang.

Masalah tenaga dan teknik, Hozuki boleh berbesar hati. Tubuhnya yang tampak kurus itu mampu mengayunkan pedang dengan tenaga besar.

Namun kami para Uchiha dikaruniai lebih dari itu.
Tenaga dan tehnik yang dibarengi dengan sikap tenang dan otak encer, mampu membuatku selalu melihat celah dalam permainan pedang Hozuki.

Aku berputar kebelakang untuk menghindari sabetan pedang, sekaligus berniat mengakhiri pertarungan.

Tanganku kuangkat tinggi keatas dan bersiap menebas, namun secara tiba - tiba, bayangan wajah kecewa dan sedih ibuku, Uchiha Mikoto, berkelebat dalam ingatanku.

TRAK!

Saat aku menyadarinya, boken telah lepas dari tanganku dan melayang diudara. Tanganku serasa berdenyut nyeri dan kebas karena menerima efek getarannya.
Namun aku tidak perduli, mataku langsung melihat kearah dojo.

Paman Mifune hanya berdiri dan berjalan meninggalkan tempat pertarungan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sedangkan Shiho.

Butiran bening meluncur dari sudut matanya yang menatapku dengan pandangan kecewa.

.

.

"Maafkan aku.."

Gadis itu hanya menunduk sambil meremas ujung kimononya saat ku temui dia usai duel.

"Dari awal paman Mifune memang sudah menghendaki Hozuki san sebagai penerus.. Jadi..."

Mata shiho yang mulai berkaca – kaca, membuatku mengangkat tanganku dan hendak merengkuhnya, namun gadis itu mundur mengindar.

"Aku mohon.. jangan.." Shiho perlahan terisak dan berlari menjauhiku.

.

.

Aku menyusuri jalan menuju kerumah dengan langkah gontai. Tanganku meraih ujung kimono dan mengeluarkan sebuah tusuk konde berhias bunga Gardenia.

Aku tersenyum miris.

Seandainya tadi tidak ada kejadian seperti ini, tusuk konde ini pasti akan sangat indah tersungging disanggulnya.

.

.

"Aah.. kau sudah pulang Sasuke.." Ucap ibuku saat melihatku memasuki rumah.

"Tadaima.."
Aku membungkuk memberi hormat.

"Okaerinasai.. Sasu kun.." Tangan perempuan yang telahmelahirkanku itu mengalung dilenganku, wajahnya tersenyum manis, tampaknya ia tengah berbahagia, "ayah menunggumu.. Ayo.."

Aku tersenyum dalam hati. Melihat senyum ibu, entah mengapa aku merasa patah hati ini tidak terlalu buruk. Mungkin bila aku bertekat memenangkan duel tadi, aku akan kehilangan senyuman dan sentuhan lembut yang telah mengiringi kehidupanku selama ini.

"Ada masalah Sasu kun?" Ibu menatapku dengan wajah cemas saat memergokiku tengah menatapnya.

"Hn.. tidak ada apa - apa, bu.." Kataku, "hanya tiba – tiba saja aku merasa sangat merindukan ibu."

"Dasar anak manja.."Ibuku terkekeh dan kembali melanjutkan usahanya menyeretku ke ruang keluarga.

"Yah.. andai saja Itachi masih bersama kita.. mungkin kebahagiaan ini jauh lebih lengkap.." Mata ibu menerawang mengingat kakak sulungku yang meninggal saat perang dunia shinobi beberapa tahun yang lalu.

Satu alasan yang menambah aku semakin membenci profesi itu.

.

.

"Masuklah Sasuke.."Suara ayah terdengar dari balik oshire. Aku dan ibu bersimpuh, dengan perlahan ibu menggeser oshire dan beringsut maju memasuki ruangan disusul olehku.

"Ayah.." Kataku sambil melakukan ojigi.

"Hn.. Sasuke kenalkan, ini Hyuuga Hinata.." Jemari ayah menunjuk sosok gadis yang sedang duduk tak jauh dari kami.

"Ha.. hajimemashite.. namaku Hyuuga Hinata.. Mohon panggil saja saya Hinata.." Gadis bermarga Hyuuga itu melakukan ojigi dengan sopan,
"S.. senang bertemu dengan anda, Uchiha san.."

Aku menatap gadis didepanku. Rambutnya berwarna indigo dan matanya unik, polos bagai manik mutiara berwarna perak keunguan. Oh, jangan lupakan semburat merah yang menghiasi pipi gembilnya.

"Hn.. Kochirakoso douzo yoroshiki, Hyuuga San.."Aku menganggukkan kepalaku sekenanya untuk membalas ojiginya.

"Sasuke" Ayah mencoba menarik perhatianku, "Hinata ini adalah putri sulung dari Hyuuga Hiashi, pemimpin klan Hyuuga, yang juga merupakan sahabat baik ayah.."

"Dan dia seorang kunoichi.." Bisik ibuku

Aku membelalakkan mata tak percaya. Gadis yang tampak lemah dan cengeng ini seorang kunoichi?

"Dan mulai sekarang, dia akan tinggal disini, menyandang nama Uchiha.."

Kalimat terakhir ayahku, sukses membuat alisku bertaut.

"Ayah menikah lagi?"

Segera tawa ibu meledak.

"Kau ingin membuat ayahmu ini terbunuh?" Ayah berdehem sambil melirik ibu.

"Sasuke, Hinata akan menyandang nama Uchiha.. Sebagai istrimu.."

#bersambung...

Holla.. Hitora disini..

Terima kasih sudah mau mampir membaca fik remake ini. Walau remake, aku masih berusaha mempertahankan gaya bahasa penulisanku yang lama. Jadi mungkin agak kaku penulisannya. Tapi semoga tidak mengurangi kesan baik teman-teman saat membaca fik ini ya..

Mungkin yang sudah membaca fik aslinya, masih ingat endingnya. Sayangnya.. aku kehilangan chapter finalnya.. hiks.. jadi ada kemungkinan aku akan membuat ending yang berbeda.

Ada beberapa catatan yang perlu aku cantumkan.

1. ** pengertian Ninja ini diambil dari gabungan wikipedia dengan beberapa literatur yang aku baca.

2. Karesansui atau taman zen. Taman lanskap kering dengan batu dan pasir sebagai Pengganti aliran air. Zaman dahulu setiap daimyo dan bangsawan jepang memiliki taman ini sebagai simbol kemakmuran.

3. Chokuto atau pedang pendek. Baik aku maupun imnot san sependapat bahwa pedang Sasuke sesungguhnya bukan samurai seperti di fik Murasakiro no cho, melainkan sebilah chokuto. Hal ini juga dapat teman - teman baca di laman .

4. Boken merupakan pedang kayu yang digunakan murit - murit berlatih dalam dojo aikido.

5. Beberapa nama disini seperti Mifune dan Shiho merupakan tokoh yang hanya muncul di anime Naruto. Tetsu no kuni juga merupakan negara non shinobi di Naruto.

Well, mungkin itu dulu ya.. hehehehe.. sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Salam sayang, Hitora