"Hiks hiks" terlihat gadis kecil –berkisar umur 7 tahun dengan rambut teal panjangnya sedang meringkuk di sudut ruangan kelas . Jari-jari mungilnya terus menyeka aliran sungai yang turus turun di pipi chubinya. Warna mata yang senada dengan ciri khasnya –teal, terlihat berkaca-kaca akibat air mata yang tak henti-hentinya menerobos keluar.
"Miku-chan. . . ." gadis mungil berambut pink panjang memanggil nama temannya. Gadis teal –yang di ketahui bernama Miku itu melirik ke arah sang pemanggil. Pancaran sinar dari kedua iris teal tersebut berubah menjadi benci.
"Pelgi! Pelgi kau monstel! Miku tidak mau belteman dengan monstel!
DEG!
"Mi-Miku-chan. . ." sang gadis berambut pink tertunduk, ia tahu itu. Semua orang sudah sering memanggilnya monster. Tapi, kenapa rasa itu sakit saat gadis teal ini yang mengucapkannya. Bukankah, selama ini hatinya sudah mati. . . termakan rasa kesedihan...
"Hiks hiks. . . . MIKU BENCI LUKA!"
DRAP DRAP DRAP
'. . . . kenapa. . . hiks hiks' Luka merosot terjatuh di lantai mamer yang dingin itu, bersama dengan kesedihan yang mendera hatinya. Untuk yang kesekian kali, ia harus menerima kenyataan bahwa sahabat baiknya juga meninggalkannya.
かわいい悪魔
Summary : Megurine Luka, gadis sederhana yang memiliki kemampuan aneh. Di jauhi oleh orang di sekitarnya, dan menjadi bahan lelucon bagi teman-temannya. Bagaimana, bila suatu hari seorang iblis datang mengulurkan tangan padanya. Bagaimana reaksi Luka atas tawaran diberikan oleh Iblis tersebut.
Rated : T
Genre : Supranatural, Romance, -sedikit Humor
Char : Megurine Luka, Hatsune Mikuo, dan Kaito Shion
Pair : LukaMikuo , LuKaito, -Slight MikuKaito
Warning : Cerita abal, ide pasaran, OOC, OC, dan gak jelas banget !
"Hos hosh hosh. . .. "
Pagi itu Luka terbangun dengan peluh yang membasahi tubuh dan kasurnya "Hosh hosh hosh. . . ." nafasnya memburu seiring dengan peluh yang turus turun dari pelipisnya. Luka mengedipkan kedua matanya, kemudian ia terbangun dari posisi tidur dan duduk di pinggiran kasur berukuran king size tersebut.
"Hosh hosh. . . mimpi itu lagi"gumamnya, kedua iris azure itu bergerak ke arah sebuah foto kecil yang berada di samping tempat tidurnya, foto yang merupakan kenangan lama dan satu-satunya yang masih tersisa dari –mantan temannya itu. Kedua azurenya menajam, meneliti setiap sudut foto yang menampilkan dua sosok gadis cilik yang tersenyum dengan lebar memancarkan kebahagiaan mereka dengan latar taman. Satu gadis berambut teal terlihat sedang mendekap salah satu tangan gadis pink disebelahnya sambil memberikan senyum riang khasnya yang tidak berubah. Sementara sang gadis yang didekapnya juga tak salah ceria dengan sahabat, kedua tangan mungilnya membentuk huruf 'V' dan tak lupa memberikan sebuah cengiran kepada sang pemotret.
". . . . . Hahh"
"Menangis lagi heh?"
"KYAAA!"
BRUK!
Luka terjungkal dari kasurnya. Mendapati sosok pemuda –mesum berambut teal yang secara tiba-tiba muncul didepannya. "It-Ittaa~!. . . .. KAMU!" jari telunjuk itu menunjuk ke arah pemuda teal yang mengejutkannya tadi. Kedua azurenya menatap tajam makhluk teal yang sedang melayang-layang di langit kamarnya.
"Heh. . . Payah, masa lalu itu seharusnya menjadi pelajaran untuk masa yang mendatang. Bukan untuk di renungi dan di tangisi" ucap pemuda teal yang diketahui bernama Mikuo.
"Da-dari mana kamu tahu. . . .?"
"Kamu pikir aku siapa? Aku adalah Raja Iblis yang kece tiada tara sejagat raya." Ucapnya narsis, mulai mengeluarkan beberapa pose kece –dan menjijikan bagi Luka- khasnya tersebut. "The Demon Lord Mikuo, putra mahkota dari kerajaan Demon, anak dari Satan, kembarannya Lucifer" lanjutnya, tak lupa aura bling-bling –menjijikan- yang menguar keluar di sekitarnya.
'Dasar narsisme' gumam Luka sweatdrop.
"Kok diam? Terpanah dengan ke-KECE-an saya heh?" kembali Mikuo memasang pose narsisnya, menyibakkan poninya kebelakang.
Tak mengetahui, bahwa sang gadis di depannya sudah tak tahan untuk mengeluarkan semua apa yang ada di dalam perutny. "Siapa yang terpesona denganmu Baka!" balas Luka dingin, bersamaan dengan melayangnya barang-barang yang berada di sekitarnya ke arah pemuda teal itu.
"Eh eh! Hati-hati dengan itu! Luka!"
"Mati kauu! DEMON NARSISSS!"
BRAK! PRANG! PRAKK! BRUKK! KRETAKK! MEOW MEOW~!
"Lu –BUK- ka"
BRUK!
"Rasakann!"
"Manusia ini (Baca: Luka) sungguh mengerikan!" gumam Mikuo sebelum kesadarannya buyar –akibar lemparan telak oleh Luka-.
(Alice : yak 1-0 untuk Luka! –TENG TENG!-)
"Ohayou Luki-nii" sapa Luka pada seorang pemuda –identik dengannya- yang tengah duduk menonton acara sebuah saluran TV di ruang keluarga.
"Ohayou Luka-chan" balas pemuda bernama Luki tersebut tersenyum. "Sepertinya tadi dikamarmu ada suara ribut, ada apa?" Luki menatap sang adik tercinta penuh selidik. "Kamu tidak membawa teman priakan? Luka-chan" lanjutnya menekan kata 'Luka-chan'.
"Tentu saja tidak, hanya lupa menaruh barang"
"Kenapa seuaranya berisik?"
"Itu karena aku harus mengobrak abrik isi lemari baka-aniki!" Luki masih terus mencari kebohongan dari sinar azure milik adiknya. Namun nihil, Luka terlalu cakap –bagus- dalam menutupi emosinya itu. Tidak mendapat apa yang ia cari, Luki mengambil napas "Haahh. . .. baiklah"ujarnya pasrah. "Tadi ada telepon untukmu."
"Siapa?"
"Dari temanmu Gumi, dia bilang untuk mengingatkanmu bahwa hari ini ada janji di rumahnya"
"Oh, baiklah" Luka berjalan mendekat ke arah sang kakak lalu duduk tepat di sampingnya. "Otousan, dan Okasan?"
". . . . mereka pergi pagi-pagi sekali. Ada rapat dengan klien di negeri tetangga" jawab Luki, mengerti maksud Luka.
"Souka. . . . ." Luki melirik kearah imotou kesayangannya. Kemudia ia menepuk kepala Luka pelan. "Mereka akan kembali besok, Luka-chan. Jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja"
". . . . . . iya nii-san"
'Selalu seperti ini, hanya Luki-nii yang dapat mengerti keadaan Luka. Dibandingkan orang lain, bahkan Otosan, dan Okasanpun tak mengerti. Bagaimana mau mengerti, mereka bahkan tidak pernah berpikir bahwa aku ada. . .' ucap batin Luka sedih
SRET
"Luka" panggil Luki bingung melihat sifat adiknya yang tiba-tiba saja berlari ke arah kamarnya di lantai dua. Kedua alisnya bertaut "Ada apa dengan anak itu?" batinnya bertanya-tanya.
BRAK!
Luka menutup pintu kamarnya –secara ketidak pintuan- itu. "Hah. . . hah. . . hah. . ."
"Sudah balik?" sapa seonggok –ralat maksud saya seorang pemuda yang saat ini sedang tiduran di kasur milik Luka, sambil membaca manga shojo –ralat lagi maksudnya sedang berchatting ria dengan author lewat android miliknya.
"Hah. . . hah. . . hah. . ."
"...Hey kamu baik-baik saja?" Mikuo menatap khawatir kearah gadis pink di hadapannya. Iapun bangkit dan berjalan mendekat kearah Luka.
"Akh!"
"Luka!" Mikuo berlari kearah tubuh mungil Luka yang akan jatuh itu. Ia mendekap erat tubuh mungil gadis bermahkota sewarna bunga sakura. "Hey! Luka!"
"Ukh. ."
DEG DEG!
"Hah hah. . ."
"Apa yang terjad? Luka!" Mikuo menatap ke arah Luka yang tertidur –pingsan- didalam dekapannya. Alis teal pemuda itu bertaut, perasaan khawatir, cemas, dan bingung hinggap menyelimuti hatinya. Masih dalam posisi duduk, Mikuopun bangkit dengan menggendong Luka secara bridel style 'Ukh! Berat juga ternyata dia. . . makan apa sih ini anak' komentar batinnya singkat, lalu iapun berjalan ke arah kasur berseprai putih gading dengan corak bunga sakura itu. Dan membaringkan sang putri tidur di singgahsananya.
"Sebenarnya, apa yang tidak aku ketahui tentangnya" Mikuo menatap Luka, menyibakkan beberapa helai poni gadis itu dan mencium keningnya sebelum menghilang meninggalkan tempat tersebut.
SKIP TIME
Matahari telah kembali dari peraduannya, kembali menduduki singgahsana miliknya di antara bentangan langin biru yang bersih tanpa awan. Disertai nyanyian pagi burung kecil, dan hembusan angin menambah keindahan, dan ketantraman bagi siapa saja yang melihatnya. Cahaya matahari yang mulai menyinari dengan bersahabatpun tak lupa mengiringi mereka yang akan memulai aktivitas pagi mereka.
Disebuah rumah bergaya Jepang kuno-minimalis, tepatnya di salah satu ruangan yang didomonasi dengan cat putih-peach tersebut. Terlihat sosok gadis dengan surai merah mudanya yang masih terlelap di alam mimpinya. Sinar matahari yang menerobos masuk melalu jendela kecil di sudut ruangan menerpa wajahnya yang ayu. Merasa terusik, Luka –mengedipkan matanya beberapa kali- bangkit dari tidurnya yang lelap. Kaki-kaki mungilnya, dengan pasti menuntun tubuh itu berjalan kearah sebuah meja kecil yang berada di sebrang tempat tidurnya. Setelah menemukan benda persegi panjang berwarna merah –yang ia cari, segera jari-jari lentiknya menari menekan segala angka yang sudah ia hafal diluar kepalanya.
"Ha-hallo. . ." ucapnya hati-hati, saat orang yang ia tuju telah mengangkat panggilan telponnya.
"Luka-chaaannn! Kamu kemana saja!? Kami khawatir tau, kamu tidak datang kemarin!" teriakan cempreng milik seorang perempuan yang sudah –sangat- ia ketahui segera menerpa indra pendengarannya. "Kamu tahu, Gakupo-senpai, Meiko-senpai, dan juga Kaito sudah menelponmu berkali-kali. Namu tidak kamu jawab!" lanjut orang disebrang sana.
"Ah... gomen Gumi-chan, Semalam aku ketiduran. . . . . iya aku gapapa kok. . . Ahahaha maaf sudah membuat kalian khawatir, sepertinya aku tidak bisa pergi kerumahmu. Sampaikan salamku ke yang lain . . . . iya iya ahahaha, ja nee"
Setelah sambungan terputus segara Luka menyambar handuk pink yang tergantung di lemari pakaiannya, dan kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
"Wah wah sudah rapi, mau kemana sepagi ini?" Mikuo bertanya, alisnya bertaut mendapat bahwa sang gadis pink sudah berpenampilan rapi. Semburat merah muda tipis terlihat di kedua pipi pemuda teal tersebut.
Luka memandang Mikuo yang sedang berdiri disampngnya sebentar. Sebelum kembali memasang flat shoes merah miliknya.
Sebuah dress peach tanpa lengan telah membungkus tubuh ramping perempuan gulali itu. Tak lupa untuk bawahan ia memakai sebuah legging hitam untuk menutupi kaki jenjangnya dari angin liar (?) diluarsana, serta mahkota pink panjangnya yang ia ikat satu keatas. Sebagai pelengkap (?) Luka memakai sebuah kalung berbentuk buah leci berwarna merah yang selaras dengan flat shoes miliknya. Simple memang, tapi itu sudah cukup membuat para pria meleleh dengan muka merah –seperti Mikuo. Ditambah wajahnya yang pada dasarnya memang manis.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar" ucapnya selesai memasang flat shoes.
"Apa! Tidak boleh! Kamu masih belum pulih"
"Aku bosan dirumah Mikuo-kun, dan lagi ada yang ingin aku kerjakan di perpustakaan kota" Mikuo memerah 'Sejak kapan perempuan ini menambahkan surfix –Kun dibelakang namanya?'
"Baiklah, tapi aku akan ikut bersamamu" ucap Mikuo, membuat kedua mata azure itu melebar.
"Ap-Appa! Tidak usah, kamu tetap disini"
"Kalau begitu kamu tidak boleh pergi"
"Apa!"
"Kamu belum pulih Luka, harus ada yang menemanimu untuk menjagamu"
". . . Baiklah tapi, kamukan tidak bisa terlihat oleh orang lain. Kalau kita berbicara bisa-bisa aku di sangka orang gila"
"Tidak bisa terlihat ya?. . . . Tentu saja aku bisa, kamu pikir aku ini siapa."
Luka memalingkan wajahnya mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah. Penampilan pemuda dihapannnyalah yang membuatnya seperti ini –salah tingkah-
Kaus putih polos berlengan panjang beserta sebuah rompi coklat –berhoodie- membungkus tubuh tegap pemuda didepannya. Jeans panjang berwarna dark blue, serta sepatu kets berwarn putih menambah kesan gagah pada diri pemuda tersebut. Dan sebuah jam tangan dan gelang kulit semakin menambah kesan 'WOW' .
Sungguh jika dilihat dari penampilan kedua anak Adam dan Hawa ini, mereka terlihat sangat serasi layaknya sepasang kekasih sungguhan.
"Apa yang kamu lihat?" Mikuo mendapati Luka yang terus menatapnya dengan wajah yang memerah.
"Ti-tidak. . . ya sudah ayo kita pergi"ucap Luka -mengubah topik pembicaraan.
かわいい悪魔
TIK TOK TIK TOK
"Seratus sembilan puluh tujuh, seratus sembilan puluh depalan, Seratus sembila- . . . " Mikuo terus menggumamkan detik waktu yang terus berlaru. Terlihat dengan jelas bahwa pemuda teal tersebut merasa –sangat bosan. Bagaimana tidak, jika hampir tiga jam waktumu kalian habiskan disebuah ruangan penuh dengan rak-rak besar yang berisi sebuah benda tentang ilmu pengetahuan dalam jumlah banyak. Masih mending jika dia memiliki hobi yang sama seperti gadis pink didepannya ini, yang terus sibuk membaca sebuah buku dan sesekali mencatat hal-hal penting yang tercantum dalam buku ensiklopedi biologi tersebut. 'Apa dia tidak bosan membaca buku itu?'Mikuo mendesah, waktu tiga jam yang ia miliki harus terbuang demi menemani perempuan yang ia cintai ini ke tempat yang paling ia benci.
TIK TOK TIK TOK
TIK TOK TIK TOK
"Haahh. . . Luka, sampai kapan kamu akan berada di sini membaca tumpukan buku tebal yang membosankan itu" kembali Mikuo mendesah, dua bola tealnya bergerak menatap jam dinding kayu disudut ruangan tersebut. ' Sudah jam segini rupanya'
"Hn. . . ."
". . . . . baiklah" Mikuo berdiri dari posisi duduknya. Kemudian tangan kekar milik pemuda teal tersebut menarik tangan mungil perempuan didepannya.
"Mikuo apa yang kamu lakukan! Aku belum selesai!"
"Kamu hanya terus membaca, apa tidak bosan? Lebih baik kita pergi dari sini. Aku tahu satu tempat yang akan membuatmu melupakan bebanmu"
"A-Apa. .?"
"Sudahlah, ayo ikut"
"Heh! Apa-apaan sih jangan tarik-tarik! Baka!"
"Shh. . . cukup diam dan jangan menolak" telak Mikuo menjatuhkan keputusannya secara sepihak, tanpa membiarkan Luka berbicara. "Baiklah, ayo Luka-chan" Mikuo menggandeng tangan perempuan tersebut pergi menuju suatu tempat.
Luka POV
Saat ini kami, kami? Kalian pasti taukan orang yangku maksud? Iyakan? Ayolah, yang kumaksud adalah aku dan si baka akuma yang bernama Mikuo. Tiba-tiba saja dia menarikku dari perpustakaan, bukankah sudah kubilang lebih baik tidak usah ikut? 'hahhh' sekarang kami sedang berjalan, sudah terlalu jauh jika kembali ke perpustakaan, lagipula. . . sejujurnya aku sedikit penasaran dengan tempat yang pemuda ini maksud. Pasalnya selama diperjalanan dia tidak memberi tahu tempat tujuan yang akan kami datangi.
Selama diperjalanan, suasana canggung –sepi selalu menyelimuti. Sepertinya kami terlalu fokus dengan pikiran masing-masing. Kedua azureku bergerak memperhatikan tanganku yang masih ia genggam. '. . . . . ' oh tidak ada apa ini? Kenapa wajahku. . terasa memanas?
"Hey Luka-chan. . ."
BUK!
"Aduh! Baka kalau berhenti jangan tiba-tiba!."
"Kamu juga yang salah, dari tadi aku panggil-panggil tidak jawab."
'Mikuo dari tadi memanggilku? Kenapa aku tidak sadar?'
"Hey, wajahmu memerah" tanyanya menatapku dengan lekat.
PPSHHH. .
'Si-sial! Apa wajahku sememerah itu sehingga ia menyadarinya?'
"Kau sakit Luka-chan? Tapi kamu tidak panas. . .? Hmm" Mikuo menempelkan keningnya pada keningku.
PSSHHH. .
'Ahhhh! Terlalu dekaaattt!'
"Ba-Baka! Kamu tidak merasa panas heh!?"
"Panas? Luka-chan inikan musim gugur. Dan hey, wajahmu semakin memerah! Kamu sakit Luka-chan?" Mikuo semakin panik terlihat dari genggamannya yang mengerat.
'Sial, aku lupa ini musim gugur'
"Hmm. . "kupalingkan wajahku –tak berani menatap wajahnya. "Sudah kubilang, aku gapapa. Jangan khawatir. Sudahlah, jika berdiam diri disini, kita bisa pulang kemalaman nanti. Aku tidak mau kena ocehan dari si baka Luki-nii itu." Elakku berjalan mendahuluinya.
"Kamu aneh Luka-chan"
"Urusaii!"
Mikuo mendengus, kemudian ia berlari kearahku dan kembali menggenggam tanganku.
PSSHHH. .
"Aku penasaran, apa wajahmu memerah karenaku heh?"
"Ap-Appa!Berharap sajakau Baka!"
"Hahahahah. . .aku hanya bercanda. Ayo sebentar lagi kita sampai di tujuan" Mikuo semakin mempercepat jalannya. Sepertinya makhluk teal satu ini terlihat senang –tidak sabaran segera sampai ditempat tujuan kami. "Ayo Luka-chan, kamu lama sekali!"
"Aku ini perempuan baka! Lagipula kamu tau sendiri kalau aku ini tidak ada bakat dibidang olahraga"
". . . .benar juga, dasar payah"
"Apa kamu bilang!" alisku terangkat saat menyadari ia menatapku secara lekat "Ap-Ap-"
HUP!
"W-Waa! Apa yang kamu lakukan bakaaa!"
"Menggendongmu tentu saja, habis kamu lelet. Memang kenapa?" jawab Mikuo polos.
"KENAPA!"
BUKKK!
"Aww Luka sakit!"
"Baka! Kamu tidak lihat kita dimana heh!" Mikuo memperhatikan sekelilingnya. Ternyata mereka menjadi pusat perhatian para pejalan. "Memang kenapa? Ada yang salah jika aku menggendongmu ?"
"BAKAA!" teriakku kesal. 'Cih seberapa baka-nya sih dia. Apa dia tidak malu menjadi pusat perhatian seperti ini?' Luka mendesah, ingin rasanya ia mencabik tubuh pemuda dihadapannya sekarang Kembali Luka mendesah.
Perlu diketahui, disini Mikuo menggendong Luka secara BridelStyle~!
"Luka-chan, pegangan yang erat" ucap Mikuo tersenyum penuh arti.
"Ha-. . kyaaaaaa! Mikuo-kun pelan-pelan!" teriakku saat ia mulai berlari dengan kekuatan super inhuman miliknya.
"Hahahahah"
"BAKA!" tanpa Luka sadari kedua tangannya sudah merangkul leher pemuda tersebut erat.
"Ahahahah Luka-chan, ternyata kamu penakut!"
"URUSAII!"
"Hahahahah. . " Mikuo tersenyum tipis.
Luka POV End
Terlihat sepasang anak Adam, dan Hawa yang sedang berjalan –berlari –menyusuri jalan setapak yang berada di bukit belakang sebuah sekolah yang diidentifikasi adalah sekolah dasar.
Sesekali terlihat, sang gadis bernama Luka, -Megurine Luka tepatnya –menepuk dada bidang sang pemuda jadi-jadian itu –ralat –maksud saya sang akuma. Sementara pemuda teal bernama Mikuo, hanya tertawa tanpa ada rasa bersalah karena telah menggoda sang putri yang berada digedongannya.
"Hahahaha" tawa laknat Mikuo menggema disepanjang perjalanan. Bisa diprediksi, jika orang yang lewat dan mendengar suara itu pasti akan lari terbirit-birit saking persisnya dengan suara-suara yang selalu terngiang di film-film bernuansa horor.
"Cih! Kapan kita sampai! Baka!" Luka mulai geram dengan keadaan yang memojokkannya seperti ini.
"Sebentar lagi juga kita sampai"
"Anda sudah mengulang ucapan hal tersebut sejak tiga puluh menit yang lalu. Baka no Akuma Mikuo!"
"Benarkah?"
"Arrkhh!"
"Hahahah, tenang saja yang ini beneran. Sebentar lagi kita akan sampai di tempat tujuan:"
"Terserah kamu sajalah!"
"Jiaahh kok ngambek?!"
Luka memalingkan wajahnya memandang kearah lain. Mendesah sebentar, kemudian kembali menyenderkan kepalanya di dada bidang pemuda tersebut.
"Bangunkan aku jika sudah sampai" ucapnya, sebelum terlelap dalam dunia mimpi.
Mikuo terkikik geli "Ha'i ha'i himesama" dan iapun terus melangkah menuju tempat yang ia tuju.
SKIP TIME
"Luka-chan, bangun kita sudah sampai"
Suara berat khas pemuda, menyapa indra pendengaran Luka. Gadis tersebut segera mengerjabkan kedua matanya. Mencoba mengumpulkan nyawa-nya yang sedang melayang-layang tertinggal di alam mimpi.
"Bangun woy, putri tidur... kamu susah sekali dibangunkan ternyata" Mikuo terkikik geli melihat tingkah Luka yang terlihat imut itu.
"Bentar!"
"Haahhh"
Setelah berdebat dengan nyawa-nyawanya yang berceceran (?) entah kemana. Akhirnya dengan segenap jiwa dan raga, Luka akhirnya bisa tersadar dari alam mimpinya. Kedua manik azure Luka terbuka lebar, hal pertama yang ia lihat sungguh membuatnya terpesona.
"Sugoi!" ucapnya tanpa sadar, sementara Mikuo yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum kemudian menurunkan tubuh mungil Luka di atas karpet beralaskan padang rumbut beserta indahnya warna warni bunga yang berada ditempat itu.
"Mikuo-kun! Ini sungguh luar biasa." Ujar Luka "Aku tidak menyangka, akan ada tempat seindah ini di daerah seseram ini" lanjutnya, mengingat beberapa kisah dari orang-orang sekitar bahwa bukit belakang sekolahnya dulu. Merupakan salah satu tempat terangker di daerahnya tinggal.
"Jangan lihat sesuatu dari covernya, kalau kamu hanya tertuju dengan cover tersebut bukan maknanya. Selamanya tempat ini akan tertutup, tak terlihat dari pandangan" ucap Mikuo melihat sekeliling tempat tersebut.
"Hmm" angguk Luka menyetujui pendapat pemuda disampingnya tersebut. "Mikuo! Lihat!" Luka menarik bagian bawah baju pemuda itu. Telunjuknya mengarah ke arah sebuah danau yang memancarkan warna ketujuh pelangi. "Disana ada angsa! Dan lihat danaunya! Sugoi!"
"Hmmm, mau kesana"
"Eh?"
"Kita lihat angsa tersebut dari dekat"
"Mau!" ujar Luka bersemangat.
Langit jingga telah mengganti langit biru, mataharipun telah siap kembali kesisi bumi yang lain menukar tugasnya dengan sang rembulan yang siap menyinari langit malam. Dari arah bukit terlihat Luka, dan Mikuo sedang berjalan kembali ke rumah. Diselingi canda tawa, Luka dan Mikuo terlihat senang –sepertinya kencan mereka berhasil dilaksanakan.
"Ahhh! Kapan-kapan kita harus kembali ketempat itu lagi! Kamu harus janji Mikuo!" teriak Luka semangat
"Ehh"
"Oke, kamu harus janji"
"Hahh, baiklah aku janji"
"Yeahh!"
"Tapi ada syaratnya!" Mikuo tersenyum licik.
"Yaahhh, apa syaratnya. Membelikanmu dua kantung negi?"
"Tidak, tapi menikah denganku gimana?"
"Hah!" wajah Luka berubah sewarna dengan langit yang berada diatas mereka.
"Hmmm?" Mikuo menahan tawa, ia sudah menduga reaksi dari perempuan gulali disampingnya itu. "Luka-chan~!?"
"BAKA!" Luka berjalan meninggalkan pemuda tersebut dibelakangnya. Ia kesal sedari tadi Mikuo tidak berhenti menjahilinya. Dari arah belakang ia dapat mendengar bahwa pemuda tersebut sedang tertawa bahagia. "BAKAA!" teriak Luka sekali lagi, dan kemudia iapun berlari menjauhi tempat tersebut.
Luka berjalan menyisir anak sungai yang letaknya tak jauh dari jalan setapak yang ia lalui tadi. "Haahh... awas saja kau Mikuo! Pembalasanku akan lebih menyakitkan" ucapnya memikirkan rencana-rencana untuk menjaihili Mikuo. Selagi otaknya sibuk mencari-cari rencana yang bagus untuk membalas perbuatan Mikuo. Kedua manik azurenya menangkap dua warna yang telah ia kenal. Segera, kaki jenjangnya mengendap-endap mengikuti dua orang tersebut.
Luka POV
Saat ini aku sedang melakukan sebuah misi yang Imposibru banget! Yaitu menguntit kedua temanku. Bisa kulihat sang gadis yang terus menunduk, sementara sang pemuda yang terus menatap sang perempuan dengan pandangan bingung.
'Miku, dan Kaito? Apa yang mereka lakukan?' batinku bertanya-tanya.
'Sebenarnya apa yang mereka katakan!? Sedari tadi aku tidak dapat mendengarnya!' kembali batinku berteriak kesal. Segera ku langkahkan kakiku lebih dekat ke arah mereka berdua –tetap dengan mengendap-endap –memilih bersembunyi di belakang sebuah pohon ginko raksaksa yang berada tepat kurang dari lima meter dibelakang mereka.
Menajamkan indra penglihatan dan pendengaranku. Bersyukur dengan jarak yang tidak jauh, aku bisa mendengar ucapan mereka dengan jelas, dan ekspresi Miku yang... tunggu, bersemu? Ada apa ini?
"K-Kaito-kun..."
'Hah?'
"Nani yo Miku-chan?"Kaito terlihat bingung dengan sikap Miku yang berada didepannya. Kedua alis birunya terangkat –ini sudah menjadi kebiasaan Kaito jika ia sedang bingung atau penasaran akan sesuatu –
"S-..."
"Miku-chan, sudah malam sebaiknya kita pulang" ujar Kaito berjalan meninggalkan tempat tersebut. Namun, sepasang tangan mungil mencegahnya pergi meninggalkan termpat itu.
"Suki! Daisuki! "
"... M-Miku"
Tubuhku membatu, terduduk 'T-tunggu... a-aku tidak salah dengarkan?' ku palingkan kembali mataku kearah sepasang insan tersebut.
DEG DEG
'Kenapa aku tidak mengetahuinya, mengetahui bahwa Miku mencintai Kaito-kun. Da-dan kenapa... rasanya sakit...'
"Ughh" ku tajamkan kembali indra pendengaranku. Penasaran akan jawaban dari Kaito.
"Luka-chan apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba sebuah suara 0yang kukenal –menerpa indra pendengaranku. Membuatku terlonjak kaget.
"M-Mikuo!" Mikuo terlihat bingung, kedua manik tealnya menatap kearah kedua orang disana. "Hahhh.. sebaiknya kita pulang"
"T-Tunggu! Mikuo!"
"Sudah hampir malam, kamu tidak ingin dimarahi Luki bukan. Sebaiknya kita cepat pulang" ucap Mikuo –sekali lagi –menarik ia menarik tanganku membawa tubuhku perhi meninggalkan tempat –menyakitkan –itu.
Luka POV End
Sepasang manik sewarna sedalam lautan itu terus memperhatikan pemandangan yang tak jauh daritempatnya berada. Terlihat pancaran sedih, kecewa, dan penasaran yang terlukiskan dari pancaran mata yang menenangkan itu.
'Siapa pemuda yang bersama Luka...' batunnya bertanya.
TBC
YEAHH! Akhirnya chapter kedua "Kawaii Akuma" telah selesai. Sebelumnya, saya mau meminta maaf kepada para readers sekalian. Karena lama meng-update fanfic ini. Maklum nama juga seorang pelajar, sibuk dengan tugas, pr, dan ulangan!
Dan, saya mohon jangan mendemo saya! [] . Saya tau, pasti ada kosa kata garing, binti typo (?) yang menyelip di sela-sela alur cerita ini. Maklum saya ngerjainnya secara rodi atau bisa disebut SKS (Sistem Kebut Semalam). Karena saya tidak jamin akan dapat menyelesaikannya minggu depan. Karena, you knowlah apa yang ane maksud. Saya harus menyiapkan peralatan untuk bertempur dengan soal-soal laknat dari guru-guru yang tidak berperi kemuridtan! *Nangis darah*
Walau saya sedang galau, bin stressu! Saya tetap semangat dan bahagia~ karena ternyata chapter satunya laris manis dipasaraan! Yeaahh –plak- / lu kira ini pasar eceran yang biasa berjejer secara tiba-tiba di sekita stasiun kereta! Dasar Alice no Baka!
Dan sebagai ucapan terimakasih~ saya akan membalas review berharga yang anda berikan *nangis terharu*.
1. 68 , Iya saya memang bermaksud membuat Luka menderita dicerita ini ahahahahahah –plak -. Dan seperti dugaan anda~! Akumanya itu memang Mikuo-kun w kyaaa~! Untuk soal typo, saya minta maaf ;w; karena tidak teliti, dan sebuah kebanggaan anda mau meng-fav fanfic abal-abal saya ini! Arigatou! *bow*
2. Namii, benarkah? Terimakasih! *bow*. Dan maaf tidak bisa update kilat Nami-chan ;w;.
3. Nami-nami-chan, terimakasih desu ;w;
4. Kuchisaki Haruka, Ha'i akan saya usahakan w
5. Cherry Lily Blossom, terimakasihh! TT^TT sudah mau meng-fav FF abal saya ini!
6. Ayase Haruna, yup yang jadi akumanya itu Mikuo-kun~! w)/ , dan memang di FF ini Lukanya hidup penuh derita ;w;. Akan saya coba update kilat untuk chapter 3nya w)/ do'akan saya~!
7. Laylie Adalice, Laylie-nyan~ nama yang imut w dan O_O apa ini perasaan saya saja atau memang kita memiliki marga yang sama. Hanya penambahan 'c' saja? :3 . Dan terimakasih atas riview memukaunya ;w; saya sungguh terharu *nangis darah*. BAIK! AKAN SAYA USAHAKAN UPDATE KILAT *w*)/
8. Fuyuuki Rivaille, huwa huwa huwaa! Sora-chan /boleh saya panggil demikian?/ saya suka gaya anda! *ancungin 10 jempol untuk Sora* benarkah O.o hmm... baiklah akan saya coba :3 . ohohoho, tenang saja. Insyaallah next chapter itu full dengan adegan pem-bully-an Luka ohohho –dilempar tuna- , yup! Terimakasih untuk riviewnya Sora-chan *bow*
9. StawberryFreak, huwaaaa staw-chan~! Terimakasih mau riview di FF abal saya *bow*. Ya, saya tau memang masih banyak typo di chapter sebelumnya. Dan semoga di chapter ini tidak akan ditemukan typo –Amin -. Yang mengucapkan "calon pengantinku" itu si Akuma yang tidak lain dan tidak bukan adalah my honey bunny sweeti –readers pada muntah termaksud Alice- Mikuo-kun~! w. Dan kalau nikahnya sama Luki, Mikuo, Kaito,Rinto,Gumo, Yuuma, Yohioloid, Meito, dan Akaito saya rela kok *w*/\ -plak-.
Huweeee arigatou gozaimasu atas tim cheerleadesr yang anda ciptakan beserta spanduknya ;w; saya sungguh sangat amat terharu~! ;w;/~
Yak seksi jawab-menjawab riviewnya telah selesai. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih bagi readers sekalian yang telah membaca, bahkan meriview Fanfic alay nan gaje bin narsis buatan saya ini. Sa-saya sangat terharu TT^TT\ -lebay-
Sebelum mengakhiri chapter kedua ini, ada sedikit kuis nih dari saya untuk readers sekalian. Quiznya yaitu~
Apakah anda setuju jika Kaito menerima Miku sebagai pacarnya atau tidak?
Silahkan kirim jawaban anda dengan meng-riview Kawaii Akuma~!
Jawaban anda, menentukan kelanjutan cerita ini~!
Terimakasih
-Alice Adalie-
R & R PLEASE~!
