Wuthering Heights

Naruto milik Masashi Kishimoto

Terinspirasi dari Drama Korea Secret (2013)

.

.

.

.

.

.

Chapter 1 (Part 1)

.

.

.

.

.

"Apa impianmu?"

"Aku … ingin mati suatu saat nanti sebelum dirimu."

.

.

.

.

.

.

Musik elektronik menggema di sebuah resort mewah milik salah seorang pengusaha di Konoha. Pesta yang diadakan pengusaha tersebut terbilang cukup mewah. Para tamu yang datang sangat menikmati pesta tersebut. Mereka menari, minum wine, dan segala macam hal dilakukan. Para wanita di sana berpakaian sangat minim hingga mengundang nafsu kaum adam. Namun ada seorang pria di sana yang terlihat malas-malasan dengan remot kontrol di tangannya. Di samping kanan dan kirinya da gadis-gadis cantik dengan pakaian seksi tengah menggelayutinya, menggodanya yang tak dianggap sama sekali oleh dirinya. Ia malah asik memainkan mobil-mobilan dengan remot kontrol dalam genggaman tangannya.

"Kenapa, Sasuke? Nikmatilah pesta ini!" Suara pria yang merupakan orang yang mengadakan pesta itu berkata pada pria berambut raven yang bahkan tak menatap minat dirinya. Ia sibuk dengan dunianya sendiri. Hingga akhirnya perhatiannya teralihkan ketika sang rekan yang merupakan pengusaha itu mengatakan sesuatu yang menarik dirinya.

"Lihat itu! Dia Matsuri. Artis yang baru saja naik daun," ujar pengusaha bernama Suigetsu itu. Matanya menatap lapar wanita yang berdiri beberapa meter darinya tersebut. Wanita itu hendak mengambil segelas wine yang telah disediakan. Sasuke tersenyum sekilas, mengejek Suigetsu sebenarnya. Terlebih lagi ketika Suigetsu menghampiri wanita itu dan berniat mengajak wanita tersebut.

"Aku Suigetsu," ucap pria berusia 30 tahunan itu sambil menuangkan segelas wine pada Matsuri, berniat menarik hati wanita tersebut. Wanita itu menatapnya tak minat. Ia bahkan berusaha mengalihkan pandangannya dari pria tersebut.

Prang

Pecahan gelas berserakan di lantai akibat ulah Sasuke yang dengan sengaja mengarahkan mobil mainannya pada gelas yang berisikan wine yang telah dituangkan Suigetsu untuk Matsuri. Suigetsu menatapnya kesal. Sasuke mengabaikannya.

Pria tampan itu malah mendekati Matsuri sambil memberikan saputangan pada wanita itu. Matsuri menerimanya. Terlebih lagi ketika di sela saputangan itu terdapat nomor kamar hotel. Wanita itu mengerti maksud pria tersebut. Ia pun tersenyum penuh arti.

Menolak Suigetsu dan menerima Sasuke, bukan hal yang buruk sepertinya.

Gadis berambut merah muda itu mondar mandir di depan area pertokoan di Konoha. Tangannya memegang ponsel androidnya. Matanya pun tak lepas dari ponsel tersebut seakan ada yang ia tunggu. Hingga akhirnya ponselnya berdering.

"Sekarang? Baiklah. Baiklah. Kau sms saja alamatnya. Oke. Terima kasih," ucapnya berbicara dengan seseorang yang meneleponnya.

Gadis dengan style agak tomboy itu langsung bergegas pergi dari area pertokoan tersebut. Raut wajahnya berubah riang.

Ciuman panas antara Sasuke dan Matsuri tak terlepas sejak berada di dalam lift. Hingga menuju kamar yang telah dipesan Sasuke, keduanya masih saja berciuman panas. Ciuman tersebut penuh nafsu. Namun kemudian Matsuri melepaskan ciumannya dan membuka pakaiannya secara perlahan hingga menyisakan pakaian dalamnya. Ia tersenyum menggoda Sasuke.

Sasuke tersenyum sekilas. Namun langsung berubah datar ketika wanita itu masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya sengaja tak dikunci sambil melepaskan satu persatu pakaian dalamnya. Ia menjatuhkan pakaian dalamnya di luar pintu kamar mandi sedangkan ia berada di dalam. Niat wanita itu adalah menggoda Sasuke yang tanpa ia tau, Sasuke bahkan tak berminat sama sekali.

Pria itu berjalan mendekati kamar mandi dan tubuhnya membungkuk memungut pakaian dalam wanita itu. Kemudian ia berjalan menjauh dan membuang pakaian dalam wanita itu ke dalam tong sampah. Lalu pergi meninggalkan wanita yang masih mandi itu.

Baginya semua itu menggelikan.

Wanita-wanita yang datang padanya hanya tergiur oleh kekayaan dan ketampanannya. Mereka terlalu murahan, pikirnya. Bahkan ia merasa jijik dengan wanita-wanita tersebut. Tidak ada yang benar-benar tulus padanya. Dan hal itu yang membuatnya tak mempercayai cinta.

Baginya cinta itu tidak ada.

Pulang dalam keadaan mabuk itu adalah masalah. Dan masalahnya lagi adalah, Juugo tidak ada. Pria itu menghilang entah kemana. Membuat Sasuke kesal. Hingga akhirnya ia tertidur di mobilnya sampai sebuah suara membangunkannya.

Seorang wanita yang ia rasa seumuran dengannya berada di dalam mobilnya. Di sampingnya dan memegang kunci mobilnya.

"Kau siapa?"

"Ah. Aku sopir pengganti. Katanya sopirmu tidak bisa datang. Jadi aku disuruh untuk mengantarkanmu, Tuan." Senyum Sakura terlukis di wajahnya. Sasuke menatapnya tak peduli. Ia memasang sabuk pengamananya. Demikian pun dengan Sakura.

Gadis itu hendak menyalakan mobil milik pria di sampingnya namun kunci mobil itu jatuh tepat di bawah pria tersebut. Ia berusaha mencari dengan sabuk pengaman yang masih terpasang. Alhasil ia kesulitan bergerak. Sesaat keadaan nampal canggung ketika dia mengangkat wajahnya dan bertatapan langsung dengan mata hitam Sasuke yang menatapnya datar. Berusaha mengabaikannya, ia segera mencari lagi namun tangannya tanpa sengaja menyentuh tombol yang membuat atap mobil itu terbuka. Agak terkejut, ia menatap Sasuke dengan tatapan bertanya.

"Biarkan saja," kata Sasuke menjawab tanya Sakura. Gadis itu pun tak ambil pusing. Kunci mobil sudah digenggaman tangannya. Dan kini saatnya mengantar pria itu pulang ke rumahnya.

Mobil tersebut langsung melaju dengan kecepatan sedang. Sakura fokus menyetir sementara Sasuke terdiam. Tubuhnya bersandar dan tangannya ia rentangkan. Tatapan matanya sendu. Raut wajahnya terlihat seperti sedang merindukan seseorang.

Sakura meliriknya sekilas. Ia setengah tersenyum lalu kembali fokus menyetir.

Mobil tersebut berhenti ketika lampu merah menyala. Sasuke yang tadinya terdiam tiba-tiba saja bereaksi. Matanya menangkap sesosok perempuan tengah menyebrang jalan. Ia bangkit dari posisinya, melepaskan sabuk pengamannya dan tepat saat itu, lampu hijau menyala.

"Hentikan mobilnya!" perintah Sasuke sambil berusaha mengambil alih kemudi Sakura.

"Eh? Apa-apaan kau?!" Sakura yang tak terima berusaha mempertahankan setirnya. Kondisi di jalan raya tersebut tiba-tiba menjadi parah akibat rebutan setir antara kedua orang itu.

"Kubilang hentikan!"

"Kau gila?! Kita bisa kecelakaan!"

"Berhenti!" teriak Sasuke yang tak mau kalah dari Sakura. Akhirnya gadis itu pun membanting setirnya hingga posisi mobil mereka berada di pinggir jalan raya. Rem mendadak pun dilakukan dan Sasuke langsung keluar dari mobil tersebut dan berlari mengejar sosok perempuan yang tadi dilihatnya.

Sakura hendak mencegah namun tak sempat. Ia hanya bisa menghela napasnya, sedikit kesal dengan tingkah pria itu. Alhasil ia menunggu pria itu kembali dengan berdiri di samping mobil tersebut. Di pinggir jalan. Sakura merutuki nasib sialnya itu.

Sasuke terus berlari tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. Yang ia butuhkan adalah orang itu. Dia harus mendapatkannya. Dan ketika pada akhirnya ia tak menemukan orang itu, ekspresi wajahnya berubah kecewa. Sorot matanya menyiratkan luka.

Dengan langkah pelan, ia kembali menuju mobilnya. Di sana gadis itu masih menunggunya sambil menendang batu kecil di jalanan. Terlihat sekali gadis itu bosan. Sasuke menatapnya dari kejauhan. Ia enggan kembali namun ada perasaan tak tega pada gadis itu.

"Darimana saja kau, hah?" tanya gadis itu dengan nada nyaris tinggi. Sasuke tak mempedulikannya. Dia berusaha merebut kunci mobilnya dari tangan Sakura yang nyatanya digenggam erat oleh gadis itu.

"Kembalikan kunci mobilku!" perintah Sasuke tegas. Sakura tertawa. Ia melambai-lambaikan kunci mobil Sasuke, seakan mengejek.

"Aku tidak akan mengembalikannya!" jawab Sakura tegas. Sasuke menatapnya tajam. Ia meraih tangan Sakura, memaksa gadis itu melepaskan kunci di genggaman tangannya yang tentunya tak semudah itu didapatkan oleh Sasuke.

Adegan rebutan kunci pun terjadi di pinggir jalan raya tersebut. Bahkan Sakura harus berlari menghindari pria itu.

"Kembalikan kunciku, Sopir Pengganti!"

"Kau pikir aku akan melakukannya? Kau mabuk dan tidak bisa menyetir," jawab Sakura tak takut. Sasuke mengejar gadis itu, meraih tubuhnya dan mengambil kunci itu dari tangan Sakura. Gadis itu berontak tak karuan. Hingga akhirnya Sasuke mendapatkannya dan Sakura terjatuh akibat ulah Sasuke.

Pria berusia 28 tahunan itu tersenyum penuh kemenangan pada Sakura yang terjatuh di jalanan. Ia hendak membuka pintu mobilnya namun gagal karena dengan cepat Sakura meraih kunci itu dari tangan Sasuke. Pria itu terkejut dengan tindakan gadis itu.

"Kau!"

"Aku tidak membiarkanmu menyetir. Mengerti?" Sakura tersenyum penuh kemenangan. Sasuke hendak mengambil kembali kunci itu dari tangan Sakura namun gadis itu malah melemparkan kunci mobilnya hingga jatuh ke semak-semak yang berada di bawah jalan layang tempat mereka berada sekarang.

Sasuke berlari menuju pembatas jalan layang tersebut. Ya, cukup dalam dan jauh. Gelap pula. Pria itu menggeram marah. Ia menatap tajam Sakura. Bahkan ia mengejar Sakura yang dengan cepat kabur dari Sasuke sambil menertawakan pria itu.

"Siaaal!" teriak Sasuke sambil menendang mobilnya. Tak lama kemudian ia mencari ponselnya yang kemungkinan ada di dalam mobil namun nyatanya tak ada. Dan bertambahlah kemarahannya.

"Ya Tuhan, Sakura! Seharusnya kau minta pria itu bertanggungjawab." Seorang gadis yang berusia dua tahun lebih muda dari Sakura terlihat sangat emosi ketika melihat Sakura terluka. Namun Sakura tertawa pelan sambil mengobati lukanya.

"Untuk apa aku melakukan itu?" tanya Sakura balik sambil tersenyum.

"Kompensasi, Sakura. Dia pasti pria kaya. Aa, harusnya kau bisa memanfaatkannya. Atau kau bisa meminta Gaara membantumu. Dia kan seorang jaksa."

"Aku tidak mau merepotkan Gaara. Dia harus fokus pada pekerjaannya," jawab Sakura sambil menempelkan plester di lututnya yang lecet akibat terjatuh tadi.

"Ya ya ya. Sepertinya aku tau arah pembicaraanmu," sahut gadis bernama Ino tersebut. Sakura hanya tersenyum. Namun matanya menatap penuh tanya ketika Ino menatapnya intens.

"Aku benar-benar tak mengerti dirimu, Sakura. Kalian berpacaran selama 7 tahun dan dia bahkan belum melamarmu. Tapi kau masih setia padanya? Astaga, Sakura!" Sebuah pukulan mengenai paha Ino. Hanya pukulan main-main tapi jelas membuktikan bahwa Sakura tidak suka ucapan Ino mengenai kekasihnya itu.

"Dia bukan tidak mau menikahiku. Tapi Gaara sangat sibuk sekarang. Aku … tidak mungkin mengganggunya dengan hal itu," bela Sakura tegas. Meski begitu, sebenarnya ia cukup sedih mendengar ucapan Ino.

"Ya baiklah. Kau yang paling tau," balas Ino.

Sasuke berjalan pelan menuju sebuah rumah kontrakan. Rumah tersebut kosong namun penuh dengan barang-barang yang ditinggali pemiliknya. Tatapan matanya berubah sendu. Dan tanpa menyalakan lampu, ia merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya terpejam. Memorinya kembali ke masa itu.

"Sasuke-kun! Ayo bangun!" Seorang gadis berusaha keras membangunkan Sasuke yang masih tidur. Gadis itu menarik tangan Sasuke.

"Sara, aku masih mengantuk," jawab Sasuke dengan suara seraknya. Ia mengabaikan Sara yang masih menarik tangannya agar bangun dari kasurnya. Tapi pria itu malah kembali bergelung di balik selimut.

"Sasuke!" Mendengar gertakan Sara, mau tak mau Sasuke pun mengalah. Dengan matanya yang masih mengantuk parah, akhirnya ia bangun dan menatap gadis itu. Sara tertawa pelan sambil membawa Sasuke ke meja makan, yang tentu saja Sasuke masih dalam kondisi ogah-ogahan.

Gadis itu mendudukkan Sasuke di kursi. Aroma makanan yang disiapkan oleh Sara membuatnya membuka mata.

"Haruuum …." ujar Sasuke yang terlihat lebih bersemangat. Sara tersenyum riang. Terlebih lagi ketika Sasuke dengan antusias memakan makanan yang telah tersedia tersebut. Namun wajah pria itu langsung berubah ketika memakan salah satu makanan yang dibuat Sara.

"Air!" Sara mengambil air yang ada di meja dan menyembunyikan di balik tubuhnya. Ia tertawa melihat reaksi Sasuke. Pria itu memang tidak menyukai pedas. Dan gadis itu sengaja mengerjainya.

"Sara, air! Bawa kesini airnya!" teriak Sasuke sambil mengejar Sara. Gadis itu berlari menghindari Sasuke.

Menyerah karena tak mendapatkan air dari Sara, Sasuke menuju dispenser yang sialnya galonnya kosong. Ia pun menuju wastafel dan sialnya lagi, tak ada air di sana. Gadis itu benar-benar sengaja.

"Kau membutuhkan ini, Sasuke?" Sara menggoyang-goyangkan botol minuman di tangannya. Sasuke mengejar gadis itu lagi. Sara menghindar. Namun Sasuke berhasil menangkap gadis tersebut. Botol minumannya jatuh. Dan bukannya mengambil botol minuman itu, Sasuke malah mendekap gadis itu. Gadis itu berontak.

"Kau benar-benar nakal, hn?" ujar Sasuke menggoda. Sara mendorong Sasuke dengan sekuat tenaga namun ia kalah. Gadis itu terjatuh do kasur dengan Sasuke yang berada di atasnya. Keduanya bertatapan penuh arti. Namun tak lama kemudian Sara membalik tubuh Sasuke hingga posisi mereka berubah. Gadis itu kini berada di atas Sasuke dan tersenyum penuh kemenangan.

Sasuke meraih pinggang gadis itu dan membawanya dekat ke wajahnya. Keduanya saling bertatapan. Mata hitam Sasuke menatapnya lembut.

"Kau sengaja?"

"Bukankah itu menyenangkan?"

Sasuke semakin menarik Sara. Keduanya nyaris berciuman. Benar-benar nyaris berciuman sebelum akhirnya kenyataan kembali menamparnya.

"Anda di sini, Tuan Sasuke?"

Mendengar suara pria menyebut namanya, Sasuke membuka mata. Sinar matahari yang masuk menyilaukan pandangan matanya. Dia melirik ke sisi kanan dan kirinya. Tak ada siapapun di sana. Semua yang terjadi hanya mimpi. Ia mendesah kecewa, lagi.

Bangkit dari posisinya, Sasuke menatap pria yang berdiri beberapa meter darinya itu.

"Kau menemukannya?" tanya Sasuke sambil merapikan kaosnya yang berantakan.

"Belum," jawab pria yang merupakan pengawal yang merangkap asisten pribadinya itu. Mendengar jawaban pria itu, Sasuke langsung mengambil bantal dan melemparkan bantal itu tepat mengenai wajah pria tersebut.

"Cepat temukan dia!" perintah Sasuke dengan nada tinggi. Pria itu mengangguk paham.

"Tuan Besar mencari Anda," ujar pria tersebut. Sasuke turun dari ranjangnya dan berjalan mendekati pria itu. Tepat ketika dirinya berdiri di samping pria itu, Sasuke berucap pelan namun tegas. "Lakukan apa yang kuperintahkan! Sekarang!"


Chapter 1 (Part 1) Selesai


2036 words

Part 2 nya akan dilanjut secepat mungkin. :)

Sebelumnya terima kasih sudah membaca. Ini saya buat lanjutannya dari awal. Tapi per chapter saya buat beberapa bagian karena kepanjangan. Hehehe

Terima kasih sudah membaca :)