"BOMB BULLET!"
DUAAAAAAAAAAAARRRRR!
"Uhuk uhuk... Asapnya banyak sekali, aru!" komentar Yao sambil memicingkan kedua matanya.
"Vee~ Iya, uhuk uhuk... Matthew mana, vee~?" tanya Feliciano sambil menggendong Kumajirou.
"Uhuk uhuk... A-a-aku di sini..." sahut Matthew terbata-bata sambil bangkit, rupanya ketika mengucapkan artesnya tadi, ia terpental ke belakang dan punggungnya menabrak dinding sel itu karena efek artesnya sendiri.
"Sinar bulan!" seru Gilbert spontan sambil menunjuk ke arah sinar bulan yang melewati sebuah lubang besar di dinding tersebut, "Matthew, kau berhasil!"
"Be-benarkah?" tanya Matthew sambil menghampiri Feliciano dan Kumajirou, "Kalau begitu, ayo kita lari dari sini!" lanjutnya sambil berlari bersama Feliciano melewati lubang besar yang dibuatnya.
"Uhm!" timpal Gilbert dan Yao kompak sambil berlari mengekori Matthew dan Feliciano yang kini bersembunyi di balik semak-semak.
"Ssssssttt, jangan berisik. Penjaganya sedang berjaga di sekitar ini.." bisik Matthew sambil menunjuk ke seseorang berjubah hitam yang tengah berjaga-jaga di di depan mereka. Serentak mereka bersembunyi di balik semak-semak, terlihat sosok itu berjalan di sekitar semak-semak itu sebelum sosok berjubah hitam itu mulai meninggalkan semak-semak yang menyembunyikan mereka.
"Sssssttt, ayo kita pergi dari tempat tak awesome ini!" ajak Gilbert setengah berbisik sambil keluar dari semak-semak, lalu mereka berlari menjauhi sebuah kastil hitam kelam besar. Ketika mereka hampir berhasil menjauhi kastil itu tiba-tiba—
"..Apa? Jurang, aru?!" tanya Yao kesal sambil melihat sebuah jurang di depannya.
"Mein gott, kenapa harus ada jurang di sini?!" timpal Gilbert sambil menghentikan larinya.
"Kalau tidak cepat-cepat kabur dari sini, bisa-bisa kita tertangkap lagi..." ujar Matthew sambil melihat ke bawah jurang di depannya.
"Vee~ Ki-kita harus cepat-cepat pergi dari sini!" seru Feliciano setengah ketakutan sambil menengok ke belakangnya, "Tapi bagaimana caranya kita melewatinya, vee~?"
"Kita terjun!" seru Gilbert spontan.
"APA?! KITA MENER—" teriak Yao sebelum Gilbert menutupi mulutnya.
"Sssssstttt, nanti para penjaga bisa mendengar suaramu!" bisik Gilbert, "Iya, kita menerjuni jurang ini! Di bawah jurang ini ada hutan, syukur-syukur kita tersangkut di dahan pepohonan!"
"Vee~ Ayo kita coba!" ajak Feliciano bersemangat.
"Oke, semuanya siap-siap!" ajak Matthew tegas, "Satu—"
"Dua—"
"TIGA!"
"—AAAAAAAAHHH!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tales of Hetalia : The Adventure's Begin
Chapter Two : Chaos in the Peaceful Village
Warning!
AU, mungkin ada unsur per-OOC-an, POV random, genre campur (adventure-fantasy-friendship-humor), human name inside, ada beberapa unsur yang mirip dengan anime/games/yang lainnya, penuh dengan fantasi tingkat akut, bahasa absurd sangat, de el el...
Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya
Tales of Series © Bandai Namco
NB!
Huruf miring artinya job/spell/monster/weapon/dll
DLDR alert activated!
Daku gak pernah mengharapkan hal-hal finansial dalam membuat fic ini dan hanya menyalurkan kesenangan belaka
Yosh, ittadakimasu~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku dan teman-temanku tiba di Rune Village, kampung halamanku. Sebelumnya kami memesan penginapan terlebih dahulu, mengingat mereka sempat berlomba lari dengan banteng peliharaanku yang menurut mereka itu 'banteng-itu-monster' dan pasti, mereka perlu beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
"Haaah, akhirnya kita sampai juga~" kataku sambil merebahkan diri di tempat tidur.
"Demi Tuhan, aku tidak mau berlomba lari bersama peliharaanmu itu lagi, idiota!" gerutu Lovino sambil berbaring di tempat tidur yang lain.
"Hehehe, maaf..." timpalku sambil tersenyum jahil di depannya.
"Ngomong-ngomong keadaan di sini sepi sekali ya..." gumam Arthur sambil mengamati pemandangan dari jendela.
"Hee... Itu sudah terjadi belasan tahun yang lalu." timpalku santai sambil beranjak dari tempat tidur.
"Eeeh?! Tempat seindah ini...?! Bagaimana bisa?!" seru Alfred sambil membelalakkan kedua matanya, seakan tak percaya dengan ucapanku barusan.
"Iya, belasan tahun yang lalu desa ini diserang oleh seseorang berzirah hitam kelam yang menunggangi seekor anjing raksasa berkepala tiga." ujarku sambil menghela napas ketika melihat panorama Rune Village.
"...Maksudmu seekor anjing raksasa berkepala tiga itu Cerberus?" tanya Ludwig sambil menengok ke arahku.
"Hm," gumamku sambil menganggukkan kepala, "Seluruh pemuda dikerahkan untuk melawannya, akan tetapi mereka tak dapat mengalahkannya. Akhirnya hampir seluruh penduduk terpaksa diungsikan, termasuk aku yang waktu itu berumur 5 tahun." lanjutku.
"Lalu, sekarang desa ini menjadi desa mati?" tanya Francis yang masih berbaring di salah satu tempat tidur di kamar ini.
"Tidak, kepala desa ini telah memerintahkan beberapa orang untuk tinggal di sini untuk berjaga-jaga jika ia datang kembali. Pemilik penginapan ini adalah salah satu orang yang menetap di sini pasca penyerangan Rune Village." jawabku sambil menyandarkan diri di dinding dekat jendela.
"Betul juga ya, lalu tadi tujuanmu apa?" tanya Lovino sambil bangkit dari tempat tidurnya.
"Tujuan utamaku itu untuk mengecek keadaan di sini, tapi karena banteng peliharaanku kabur entah ke mana... Yah, kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya..." jawabku sambil menunjukkan cengiranku di depan mereka yang kini menatapku dengan tatapan... Err, sedikit mengerikan—
—apalagi aku merasakan aura mengerikan yang terpancar dari tubuh Arthur.
"He-hentikan..." gumamku sambil memasang ekspresi ayo-lah-berhenti-menatapku-seperti-itu di depan mereka.
"Ngg?" gumam Alfred sambil melihat pemandangan melalui jendela, "Kenapa tiba-tiba suasananya agak mencekam ya?" lanjutnya sambil melongok ke luar jendela.
"Benar, kenapa para penduduk berhamburan masuk ke rumahnya masing-masing?" tanya Francis sambil melongok ke luar jendela.
"I-iya, jangan-jangan..." bisik Lovino sambil bergelidik ketakutan, dan—
BUUUUM BUUUUM!
"Su-suara apa itu?!" seru Ludwig sambil melongok ke luar jendela.
"Pasti orang itu datang lagi!" seruku sambil mengambil battle axe yang kuletakkan di tempat tidurku, "Rune Village dalam bahaya!" lanjutku sambil berlari keluar menuju pintu gerbang, karena aku merasakan orang itu datang dari pintu gerbang.
"Hei, aku ikut!" seru Arthur yang mengejarku sambil membawa panahnya.
"Ayo kita hadapi dia!" timpal Alfred sambil berlari keluar.
Kami berlari ke luar penginapan dengan tergesa-gesa, berharap orang tersebut belum sempat menghancurkan desa ini. Beberapa lama kemudian kami tiba di pintu gerbang dan melihat seekor Cerberus yang menatap tajam ke arah kami, di atas punggungnya terlihat sesosok berzirah hitam kelam.
"...Kau.." gumamku geram sambil memperhatikan sosok itu, genggaman di battle axe milikku pun menguat.
"Khu khu khu... Kupikir aku tak akan mendapat halangan untuk menghancurkan tempat ini lagi." gumam sosok itu, "Ternyata aku salah, dan penghalangku hanya enam orang pemuda.." lanjutnya sambil tertawa dengan angkuhnya.
"Tch, dasar sombong..." gumam Ludwig sambil bersiap-siap menyerang dengan two-handed swordnya.
"Huh, kau tahu dari mana sampai menganggapku sombong, hn?" tanya sosok itu dengan nada angkuh.
"Dari nada bicaramu itu sangat mencerminkan keangkuhanmu." jawab Arthur tegas sambil menatap tajam sosok itu.
"...Kalian berani melawan Cerberus peliharaanku, huh?" tantang sosok itu, Cerberus yang ditungganginya pun menggonggong dengan keras.
"Kami berani melawan anjing setan itu!" seru Alfred sambil mengarahkan salah satu dual gunbladenya ke arah Cerberus itu yang kini mengeram di depan kami.
"A-apa?! Kau ini sedang bercanda kan?!" tanya Francis panik.
"Bagaimana kalau kita kalah dengannya?!" tanya Lovino tak kalah paniknya.
"Tidak! Kita memang harus melawannya! Ini semua demi keselamatan penduduk Rune Village!" jawab Alfred tegas, "Sekaligus membuatnya jera untuk menyerang desa seindah ini..." lanjutnya pelan sambil menyeringai di depan sosok itu.
"Khu khu khu..." gumam sosok itu, "Baiklah kalau itu maumu, gunslinger pemula..."
"Aku bukan gunslinger pemula!" gerutu Alfred dengan nada tersinggung.
"Kalau begitu... Mari kita mulai permainan maut ini..." gumam sosok itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"...AAAAAAAHHHH!"
GUBRAAK!
"A-aduh punggungku.." gumamku sambil mengusapi punggungku yang terbentur tanah.
"...Kau tidak apa-apa?" tanya Kuma— Err, mungkin Kumashiro sambil memperhatikanku.
"I-iya, terima kasih Kumakishi..." jawabku sambil mengusapi bulu halus Kumashiro.
"Kalian semua tidak apa-apa kan, aru?" tanya Yao tiba-tiba sambil bangkit.
"Hm!" jawabku sambil mengangguk, "Feliciano, kau tidak apa-apa?" tanyaku sambil menengok ke arah Feliciano yang tersungkur di sampingku.
"V-vee~ Aku tidak apa-apa." jawab Feliciano sambil bangkit, "Ngomong-ngomong, di mana Gilbert, vee~?"
Hening.
"...Aku tak tahu.." jawabku sambil menengok ke sana kemari untuk mencari Gilbert yang tiba-tiba menghilang.
"Mungkin dia tersangkut, aru." ujar Yao sambil menengok ke atas pepohonan yang seakan-akan menyelimuti langit.
"Mung—"
"—AWAAAAAASS!"
"GYAAAA!"
Dan bertepatan di saat aku ingin berbicara, tiba-tiba Gilbert terjun bebas bersama—
BRUKKKKK!
—sebuah dahan pohon yang rapuh dan kini ia tersungkur di depanku dan Feliciano.
"Kau tidak apa-apa, Gil?" tanyaku sambil menggendong Kuma— maksudku Kumakashi.
"Aku yang awesome ini tidak apa-apa!" jawab Gilbert bersemangat sambil bangkit, seakan-akan tidak mengalami suatu hal yang nyaris menyebabkan tulang-tulangnya remuk.
"Ternyata ucapanmu benar, aru. Kau barusan bilang kalau kemungkinan besar kita akan tersangkut dahan pepohonan, dan akhirnya kau sendiri yang mengalaminya, aru!" celetuk Yao sambil menahan tawa.
"Ce-cerewet!" gerutu Gilbert bersungut-sungut, "Ini semua gara-gara dahan pohon yang tak awesome itu!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah sebuah dahan pohon yang tergeletak di sampingnya.
"Vee~ Kasihan pohonnya... Pasti pohon itu kelelahan karena dahannya dibebani oleh Gilbert..." celetuk Feliciano polos, sontak Yao mulai tertawa keras, aku mulai tersenyum kecut, serta Gilbert yang menepuk wajahnya dengan telapak tangannya.
"Hahaha! Feli benar, aru! Hahaha!" celetuk Yao di tengah-tengah tawanya.
"Be-berisik!" gerutu Gilbert kesal sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya dan memalingkan wajahnya.
"Ba-baiklah, aru..." gumam Yao sambil memegangi perutnya.
"Ngg ngomong-ngomong, kita ada di mana?" tanyaku sambil menengok ke sana kemari.
"Intinya kita berada di tengah hutan, Matthew." jawab Gilbert sambil menengok ke arahku.
"Ada yang tahu kota atau desa terdekat dari sini, aru...?" tanya Yao khawatir.
"Vee~ Aku tidak tahu..." jawab Feliciano setengah ketakutan.
"Berarti..." gumamku pelan.
"...KITA TERSESAT!" teriak Gilbert panik, "Demi Tuhan, ini tidak awesome sama sekali!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?!" tanyaku panik.
"Vee~ Mungkin kita bisa menjelajahi hutan ini sembari mencari jalan keluarnya." jawab Feliciano dengan ekspresi serius.
"Usulmu awesome juga, Feli!" seru Gilbert, "Sekalian menambah kemampuan kita, berhubung di hutan ini banyak monsternya..."
"Iya betul juga, aru!" seru Yao bersemangat, "Kalau begitu ayo kita menjelajah!" lanjutnya bersemangat sambil menarik tanganku dan berlari.
"Eeekkh, pelan-pelan!" seruku ketika Yao menarik tanganku sembari berlari kencang, bahkan Feliciano dan Gilbert terpaksa mengejarku dan Yao.
"Vee~ Tunggu!" seru Feliciano sambil mengejar kami.
"Hei, kau tak awesome sama sekali! Tunggu—" seru Gilbert yang tiba-tiba tersentak, "YAO, MATTHEW, AWAS DI SAMPING KALIAN!"
Serentak aku dan Yao menengok ke arah samping dan melihat...
...Seekor babi hutan raksasa tengah berlari kencang mendekati kami, seakan-akan hendak menerjang kami.
"Uh-oh..."
"WAAAAAAA—"
SREEEEEEEETTT!
Perlahan kami membuka kelopak mata dan menemukan sang babi hutan yang hampir mengancam keselamatan kami, kini tergeletak di samping kami. Di belakangnya terlihat seorang pemuda yang tengah memegang sebuah pedang. Entah itu pedang apa tapi kuyakin pedang yang dipegang pemuda itu adalah salah satu jenis two-handed sword.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya pemuda itu, dari nada bicaranya aku mengetahui bahwa ia amat khawatir dengan keselamatan kami.
"I-iya, kami tidak apa-apa, aru..." jawab Yao terbata-bata sambil beranjak bangkit.
"Nggg, ngomong-ngomong kau siapa ya?" tanyaku sambil menunjuk pemuda itu yang tengah memasukkan kembali pedangnya.
"Sumimasen, aku lupa memperkenalkan diri kepada kalian. Namaku Honda Kiku, yoroshiku desu..." jawabnya sambil menunduk sopan di depan kami.
"Ma-maaf, yoroshiku itu artinya apa?" tanyaku kebingungan.
"Ah, yoroshiku itu artinya 'salam kenal'" jawab Kiku.
"Oooh begitu.. Kalau begitu perkenalkan, aku Gilbert Beilschmidt yang awesome!" ujar Gilbert sambil bergaya dengan tak elitnya, sampai-sampai aku, Feliciano, Yao, dan Kiku bersweatdrop.
"Aku Wang Yao, aru!" timpal Yao bersemangat.
"A-aku Matthew Williams.. Dan ini Feliciano Vargas." kataku sembari menunjuk Feliciano.
"Vee~ Salam kenal~" ujar Feliciano sambil melambaikan tangannya.
"Ngomong-ngomong senjatamu itu apa?" tanya Gilbert sambil menunjuk pedang yang kini berada di balik punggung Kiku.
"Itu katana, senjata para samurai. Kebetulan aku adalah seorang samurai." jawab Kiku tenang.
"Vee~ Pedangnya kereen~" ujar Feliciano polos.
"Bu-bukan! Ini namanya katana, bukan pedang.." tukas Kiku meralat ucapan Feliciano barusan.
"Ooooh..." ujar Yao, Gilbert, dan Feliciano berbarengan, "...Itu pedang."
Sesaat kemudian aku dan Kiku pun menepuk wajah bersama-sama.
"Ma-maaf.. Teman-temanku agak... Err... ya begitulah.." kataku dengan suara pelan.
"Tidak apa-apa, mungkin mereka baru pertama kali melihatnya..." ujar Kiku sembari menepuk pundakku, "Lalu, sedang apa kalian di sini?"
Gilbert pun menjelaskan kejadian barusan kepada Kiku yang hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu...
"...Jadi kalian tersesat di sini dan sedang mencari kota terdekat? Kebetulan, kota terdekat adalah Frostine dan aku dalam perjalanan menuju ke sana." kata Kiku tenang, "Mungkin aku bisa bergabung dengan kalian.."
"Waaah, terima kasih banyak, aru! Kalau begitu, ayo kita langsung ke sana, aru!" seru Yao bersemangat sembari menarik tangan Kiku lalu berlari menelusuri hutan.
"Yoohooo! Frostine, kami dataaang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Violent Bite!" seru sosok itu sambil menunjuk ke arah Lovino, seketika Cerberus itu menyerang Lovino yang langsung membentuk tanda silang dengan kedua tangannya di depannya.
"Barrier!" seru Lovino kencang, dan seketika muncullah sebuah perisai cahaya raksasa yang melindungi dirinya dari serangan Cerberus itu.
"Fire Arrow!" seru Arthur sambil membidik Cerberus itu dengan sebuah anak panah yang kini berselimut api, akan tetapi panah itu tidak mengenai sasaran.
"Tch, sial—"
"Boomerang Blade!" seru Antonio bersemangat sambil melempar boomerang blade miliknya ke arah Cerberus itu dan mengenai salah satu kakinya, sedangkan boomerang blade itu kembali di genggaman Antonio.
"Fire Ball!" seru sosok itu sambil mengeluarkan dua bola api dari kedua tangannya lalu melemparkannya ke arah Alfred yang segera menghindar sembari menembakkan blade dari dual gunbladenya ke arah Cerberus itu yang mengerang kesakitan.
"Cross Cut!" seru Ludwig sambil menyerang Cerberus itu dengan two-handed swordnya dan terbentuklah tanda salib di bekas luka itu.
"Thorny Rose!" seru Francis sambil mengarahkan staffnya ke arah sosok itu, sesaat kemudian sulur bunga mawar yang berduri mulai meliliti sosok itu lalu menghilang.
"D-darkness Bolt!" seru sosok itu terbata-bata sambil mengeluarkan dua buah bola api hitam dan mengarahkannya ke arah Arthur yang lengah.
"Artie, awas!" seru Alfred sambil mendorong Arthur menjauhi serangan itu dan akibatnya bola api hitam tersebut mengenai dada kirinya sehingga ia terpental ke belakang.
"U-u-ukh, sial—" gumam Alfred pelan sambil memegangi dada kirinya yang terkena serangan barusan.
"ALFRED—" teriak Arthur panik sambil menengok ke arah Alfred yang tersungkur, sialnya bola api hitam itu mengenai pundak kanannya dan ia ikut terpental lalu tersungkur di sampingnya.
"Artie!" seru Alfred sambil memeluk Arthur yang tersungkur, "Kau tidak apa-apa kan?!" tanyanya dengan nada khawatir sambil menepuk pelan pipi kirinya.
"I-iya.. Te-nang sa-ja..." jawab Arthur lirih sembari membuka kedua matanya.
"...Clone Blade!" seru Alfred sambil meluncurkan bladenya yang kini berlipat ganda ke arah Cerberus itu.
"Kalian tidak apa-apa?!" tanya Francis panik sambil menengok ke belakangnya.
"I-iya... Kau masih sanggup kan?" tanya Alfred bernada khawatir sambil menengok ke arah Arthur yang mengangguk pelan.
"Bi-biar aku yang mengatasinya..." jawab Arthur lirih yang bangkit sembari menundukkan kepalanya.
"Ja-jangan! Kau bisa terluka seperti tadi!" seru Antonio khawatir.
"Be-berisik!" gerutu Arthur kesal, terlihat sebuah lingkaran pentagram di bawahnya dan di bawah Cerberus itu, hanya saja ukurannya lebih besar darinya.
"...Artes apa yang ia gunakan...?" tanya Ludwig dengan napas terengah-engah karena terus menyerang musuhnya itu sambil menengok ke arah Arthur.
"Kupikir ini dark artes..." jawab Francis, " Dari auranya aku dapat menduganya.." lanjutnya sambil melihat aura hitam keungu-unguan yang terpancar dari kedua lingkaran itu.
"Flare up and burn it down..." gumam Arthur sembari menyenandungkan ucapannya, terlihat api hitam mulai menyelimuti tangan kanannya yang terkepal, "From corner to corner with that hellfire... CIRCLE OF EVIL!" lanjutnya sambil menghentakkan tangan kanannya ke tanah.
BWOOOOOOSSSHHH!
Tiba-tiba sebuah api hitam mulai membakar Cerberus dan sosok itu, sesaat kemudian api hitam itu menghilang disertai dengan menghilangnya mereka.
"...Circle... of Evil?" gumam Lovino sambil terperangah melihat apa yang terjadi di depannya.
"...Hei! Sepertinya kita menang!" seru Antonio senang, "Sekarang Rune Village sudah aman!"
"Baguslah—" timpal Arthur, tetapi terputus karena ia merasakan nyeri di pundak kanannya yang terluka karena serangan tadi, "Pu-pundakku—" lanjutnya lirih sambil memegangi pundaknya.
"Eeeh Artie, kau tidak apa-apa?" tanya Alfred setengah khawatir sambil menghampiri Arthur yang terus meringis kesakitan.
"A-Al, pu-pundakku sa-sakit.." jawab Arthur lirih sambil terus memegangi pundaknya.
"Lovino, ayo kita kembali ke penginapan!" ajak Alfred sambil menapah Arthur yang kini terengah-engah.
"Baiklah!" seru Lovino sambil mengangguk lalu berlari kecil menghampiri Alfred dan Arthur yang telah berjalan mendahuluinya menuju penginapan.
"Heei, bagaimana dengan kami?!" tanya Ludwig setengah berseru.
"Lebih baik kita beritahu penduduk di sini kalau keadaannya sudah aman!" jawab Francis santai.
"Uhm, aku juga setuju! Ayo kita lakukan sekarang!" timpal Antonio bersemangat sambil berlari meninggalkan Ludwig dan Francis yang berlari mengekorinya.
Sementara itu di penginapan...
"Naah, kita sudah sampai!" seru Alfred yang membuka pintu kamar sambil menapah Arthur sampai ke tempat tidurnya.
"Ce-cepatlah— Akh!" gumam Arthur sambil menyandarkan kepalanya di atas pundak Alfred yang melongo melihat perangainya.
"Sa-sabar sedikit dong!" gerutu Lovino sambil melepas sarung tangannya, "Al, lukamu mau sekalian kuobati?"
"Ngg... Kalau itu maumu, silakan.." timpal Alfred yang sesekali meringis ketika memegang dada kirinya, "Sepertinya serangan tadi terlalu keras.."
"Sekarang, buka baju kalian." perintah Lovino datar, seketika Alfred dan Arthur terperangah.
"Buka baju kalian, lukanya mau kuobati tidak?!" seru Lovino setengah kesal, sesaat Alfred dan Arthur saling berpandang sebelum akhirnya mereka menganggukkan kepalanya.
"Baiklah..." sahut mereka berdua sambil melepaskan bajunya dan—
"A-apa ini? Kenapa pundakku—"
"Pu-punggung tanganku mengeluarkan sinar—"
"—Dadaku juga."
Serentak mereka memperhatikan sumber cahaya berupa sebuah tanda bergambar dua ekor phoenix mengelilingi sebuah bintang di masing-masing bagian tubuhnya.
"Kau..." ucap mereka berbarengan.
"...MEMPUNYAI TANDA YANG SAMA?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
.
~Author Note~
Haaaaaah~
Akhirnya kelar sudah chapter 2 ini~ *ngelap keringet di jidat*
Sebenernya, aku minta maaf buat para reader fic ini karena ngaret 2 bulan lebih dari saat chapter 1 fic ini dipublish. Ini semua gara-gara kebanjiran ujian kayak Try Out, TUKPD, Ujian Sekolah, dan UN gaaaaah~! /LeMeHeadbang
Yosh, mari kita buka sesi 'Bales Review' ini!
Yukari Wada : Makasih buat reviewnya~ Jujur, daku juga pusing mikirin segala macem tentang fic ini kayak chara plus spell-spellnya, monsternya, dan lain-lain. Semoga chapter 2 ini gak mengecewakan ya~!
Kiroyin9 : A-a-ano... Gaya tulisanku gak bagus-bagus amat kok, mungkin standar gitu, tee hee... /plaked. Nih, updatenya sudah kupenuhi, semoga chapter 2 ini bisa memuaskan kamu ya~!
...Di chapter 2 ini kenapa malah masuk adegan USUK cobaaah~?!
—Oke, bagi yang bukan penggemar USUK jangan gorok saya—
Terus, maaf banget kalo adegan pertempurannya abal sangat, wong saya stress setengah mati ngerjain artes mereka dan yang baru kelar artesnya itu,
-Feliciano sama Lovino
-Arthur
-Ivan (yang ini dibikinin sama temen)
-Ludwig sama Kiku (beberapa masih draft)
-Alfred sama Matthew (yang ini masih draft)
So, gomen nee~ *sembah sujud*
Yak, nanti di chapter 3 bakal ada kejutan lho~ Mau tau kejutannya apa?
Tunggu aja yak~ /LeMeDitoyorReader
Akhir kata, selamat menunggu chapter 3 dan jangan lupa kirim kritik/saran/pertanyaan lewat review yak!
