Jadi begitulah. Semuanya tiba-tiba terjadi. Sangat cepat dan tak terkira. Jika memang ini hanyalah sebuah jebakan, apa yang harus dia lakukan? Dia tidak bisa meninggalkan impiannya untuk menjadi seorang penulis naskah begitu saja. Walau pun sebenarnya pekerjaan ini tidak berhubungan dengan impiannya...

"Argh!" dengan kuat Sakura menggelengkan kepalanya. Dia menatap bathtub yang baru terisi setengah air. Tapi meski pun begitu, menulis lagu juga memerlukan imajinasi layaknya sebuah naskah. Mungkin ini adalah salah satu jembatan baginya sebelum ia benar-benar resmi bekerja sebagai penulis. Namun bagaimana pun, dia ingin namanya tertulis pada lirik itu. Bukan nama Kakashi... "Apakah aku benar-benar tidak bisa menuliskan namaku disana? Bagaimana pun aku yang akan menulis liriknya kan.." gumamnya. Sakura memutar mati krannya, lalu segera masuk setelah bergumam tentang membersihkan tempat ini layaknya pembantu. Tapi itu tidak masalah sih, permasalahan paling besar adalah tinggal bersama mereka. Bayangkan saja seorang gadis berusia 21 tahun yang masih perawan dan tidak punya pengalaman berpacaran harus tinggal bersama 5 orang laki-laki dengan kepribadian mereka yang susah ditebak. Seperti Sasori yang mendapat julukan pangeran dan selalu bersikap manis di panggung atau pun di hadapan orang, nyatanya omongannya begitu dalam. Atau Sasuke yang terlihat ramah itu, bisa seketika berubah menjadi menyeramkan. Namun diantara mereka, yang masih terlihat biasa hanyalah Naruto. Entah di panggung atau tidak, dia tetap terlihat ceria. Dan setidaknya dia juga telihat lebih bersahabat. Dan Sakura pikir Naruto begitu pendek namun saat berdiri berhadapan dengannya, ia bahkan hanya setinggi telinganya.

Sekedar info, member Revance berusia sama yakni 25 tahun. Dengan Sasuke member yang paling tinggi yaitu 180cm. Dan Naruto yang terpendek dengan tinggi 178cm. Sementara member yang tertua adalah Sasori, dan termuda adalah Naruto.

Sraasshhh

"Huh?" suara shower yang menyala memaksa Sakura menengok kearah pintu, dimana dia melihat seorang laki-laki sedang membilas tubuhnya lalu melingkarkan sehelai handuk kecil di pinggangnya.

Kreeek

Laki-laki itu membuka pintu menuju bathtub dan mereka saling pandang.

"KAU!"


SCANDAL IN THE SPOTLIGHT

Based on game with the same tittle

Semua karakter milik Masashi Kishimoto

Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Akasuna Sasori, Sai, Uzumaki Naruto, Sabaku Gaara

Rate: M


.

Warning

(OOC (maybe), EYD berantakan, typo(s))


SCANDAL 2.


.

.

"Heh." Sasuke berkacak pinggang, "kenapa kau tidak memotretku? Itu akan lebih berkesan."

Huh? Sakura melihat seringaian yang diberikan Sasuke. Mereka berdua berdiri berhadapan. Tentu wajah kaget sempat nampak, namun sekarang yang lebih terlihat shock adalah Sakura.

"Ma-maaf! Aku benar-benar tidak tahu ada orang di dalam." Sakura menunduk rendah, ugh seharusnya dia mengetuk pintu dulu tadi.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, pandangannya menatap dari bawah keatas, "Mungkin ada yang perlu kau lakukan sebelum minta maaf."

"huh?" Sakura yang tersadar bahwa dirinya sedang telanjang terkejut.

"Kau memberiku pemandangan yang lumayan bagus, kau tahu?"

"Maaf!"

Wajah Sakura memerah, ia lantas segera mengambil handuk dan melingkarkannya, tapi itu percuma karena dia sudah melihat semuanya. SEMUANYA!

Sasuke mengacak rambut belakangnya yang basah dan tertawa mengejek.

"Jangan bilang itu usahamu untuk menggodaku," ujarnya.

"Tidak!"

"Cobalah untuk terlihat lebih menantang lain kali."

"Apaaaaa!"

Sakura berpikir, apakah gadis seperti dia benar-benar bisa menggoda seorang pria yang seksi seperti Sasuke? Tidak! Aku tidak boleh berpikir seperti itu. Sakura menggelengkan kepalanya, lalu berjalan untuk mengganti bajunya. Saat hampir selesai berganti, Sasuke melangkah tepat di sampingnya.

"A-apa yang kau lakukan?" Sakura menyilangkan tangannya di dada.

"Melepaskan bajumu lagi."

Apa dia bilang tadi? Sakura melotot.

"Itu tentu saja hanya sebuah lelucon. Apa kau mempercayainya, ha?" Sasuke mendengus lalu melangkah menjauhi Sakura.

Sasuke mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Yah benar dia baru saja selesai mandi. Sakura sempat berpikir aneh saat melihat Sasuke menyusulnya tadi.

"Jadi kau suka mengintip orang mandi. Apa kau suka melihat mereka berganti baju juga?" Sasuke menoleh, membuat Sakura yang sedari tadi menatapnya tersadar.

"Ma-maaf, aku akan pergi dari sini."

Sakura memutar tubuhnya untuk pergi saat tiba-tiba sesuatu yang hangat menetesi kakinya dan lantai. Cairan merah apa itu?

"Kau mimisan?"

Sakura sempat mendengar Sasuke menahan tawanya saat mengucapkan itu.

"Sialan!" umpat Sakura, ia menutupi hidungnya serapat mungkin.

"Kudengar, orang yang sangat mesum akan mimisan saat mereka terangsang."

"Mesum?"

"Mesum tingkat dewa."

Sialan! Bilang apa dia tadi!

"Kau terlihat tidak gampangan dengan laki-laki, dan kau tidak begitu tertarik. Jangan bilang kau masih perawan." Ekspresi Sasuke seolah berkata AHA saat itu. Seperti seseorang yang berhasil membuka aib orang lain.

"Per..."

Siapa yang baru saja menanyainya pertanyaan macam itu? Apakah dia benar-benar Sasuke-sama sang idola yang dipuja-puja? Dan mimisan ini juga kenapa tidak mau terhenti.

"Permisi!"

"Mau kemana kau?"

Sakura sangat malu, jadi dia memutuskan untuk keluar saja tanpa pikir panjang.

.

.

.

"Uff, hidungku akhirnya berhenti mimisan."

Sakura mencuci wajahnya di wastafel dapur dan dia mulai merasa lebih baik.. Mengingat kejadian dengan Sasuke di kamar mandi benar-benar membuatnya terkejut. Sakura terkejut melihat top idol, si Sasuke uchiha telanjang. Kalau fans diluar sana tahu, dia sudah pasti dihabisi. Ini seperti sinetron sinetron kebanyakan. Pemain utama wanita dikelilingi fans dan mereka berteriak dasar jalang! Sasuke milik kami! Kami akan menghukummu karena mencoba mencurinya. Terdengar seperti itu. Tapi bagaimana mereka akan memghukumnya?

"Itu terlalu menakutkan untuk membayangkannya." Sakura terkekeh.

"Apanya yang menakutkan?"

"Sasuke!"

"Wah, jangan mimisan lagi." Sasuke menyilangkan dadanya lalu terkekeh.

Sialan! Dia mengejekku!

"Uh, umm. Dimana bajumu? Bukankan kau seharusnya memakai sesuatu?" tanya Sakura.

"Diamlah, aku merasa gerah setelah mandi. Aku memakai boxer, tidakkah itu cukup? Atau dari ketelanjanganku itu memberimu ide?" Sasuke menyeringai.

"Tidak mungkin. Dasar bodoh!" Sakura menampik, ia tidak ingin Sasuke menganggapnya lebih mesum seperti yang ia lakukan sebelumnya.

Melihat Sakura tidak berani menatapnya membuat Sasuke mengendus geli.

"Baiklah, sepertinya aku akan pergi kekamar sekarang." Sakura menggaruk lehernya sambil berjalan mundur

"Hey."

Aku tidak ingin menyebabkan masalah lagi.

Saat Sakura mulai melangkah cepat, Sasuke menghentikannya.

"Jangan pergi, aku ingin membicarakan sesuatu." Sasuke memberinya isyarat untuk mengikutinya.

Meski sedang setengah telanjang di sofa, Sasuke seperti memberinya getaran yang intens. Dan itu membuat Sakura was was, mengingat bahwa mereka dari dunia yang berbeda. Sepertinya akan susah baginya untuk tinggal disini. Sebenarnya tinggal bersama dengan kumpulan idola lebih ke suatu hal yang mustahil

"Umm..."

"Mulai besok, kau akan mulai bekerja untuk kami. Kami akan memberitahu para staff bahwa kau anggota kami." Sasuke menyilangkan kakinya dan mulai menjelaskan.

"Huh?"

"Manajer kami, Pak Obito tahu semua hal ini. Jika kau punya pertanyaan, tanya dia." Imbuh Sasuke.

"Tu-tunggu, aku punya banyak pertanyaan." Sakura mengangkat tangannya. "Apa maksudnya aku mulai bekerja dengan kalian mulai besok?"

"Seperti yang kau dengar. Kau harus mengerti semua tentang pekerjaan kami."

"Tapi..."

"Diam."

DUK

Terdengar sebuah dentuman keras di dinding tepat disamping kepala Sakura. Sasuke berhasil mengurungnya. Sakura menelan ludahnya, ia semakin memerosotkan tubuhnya pada sofa.

"Apa kau pikir kau cukup menghabiskan menulis lirik di ruanganmu? Dunia kami tidak sesederhana itu, jidat."

"Itu bukan apa yang aku maksud..."

Eh? Dia memanggilku apa tadi?

"Aku yang membuat peraturan disini, semua yang tidak setuju akan diusir, tanpa pengecualian." Angkuh dan sombong, begitulah raut yang Sakura tangkap dari Sasuke, "Kalau kau ingin kembali menjadi penulis, kau tahu pilihan yang harus kau pilih kan?"

Sasuke menyipitkan matanya saat menekankan hal terakhir tentang impian Sakura. Bibirnya yang sempurna itu membentuk sebuah senyuman palsu.

"Mulai besok, kau akan mulai bekerja dengan kami. Mengerti?"

"Y-ya."

"Selamat malam kalau begitu, ghostwriter."

Sasuke pergi meninggalkan aroma manis yang membuat pusing kemudian menutup pintu ruang tamu dibelakangnya.

"Oh, tidak. Apa yang sudah terjadi..."

.

.

.

"Aku adalah manajer mereka, Obito. Jika ada pertanyaan silahkan tanyakan padaku." Pria berusia 30 tahunan melemparkan senyum ramahnya pada Sakura.

Di hari berikutnya. Sesuai perintah Sasuke, Sakura menyamar sebagai salah satu anggotanya dan ikut serta saat mereka memulai kegiatan. Ruangan ganti dari TV show yang mereka datangi penuh dengan kegiatan. Namun satu persatu dari selebritis yang disana berkurang hingga hanya ada Revance, Sakura dan sang manajer.

"Ini jadwal syuting hari ini." Pak Obito menyerahkan selembar kertas dimana disana tercantum segala kegiatan Revance hari ini. "Dan ini adalah rincian untuk pemanggilan mereka. Aku sudah mengirimimu email tentang jadwal berikutnya, jadi periksalah nanti."

"Ba-baiklah." Sakura menatap pusing jadwal yang baru saja diterimanya.

Pak Obito begitu bersahabat, dan dia menangani tugas yang sangat berat juga.

"Kami sudah bilang bahwa kau adalah pekerja baru dari Uchiha Production. Secara resmi kau adalah asisten manajer Revance. Kami tidak ingin semua orang curiga, jadi jagalah Revance seperti yang dilakukan asisten manager dalam menjaga bandnya." Ujar Pak Obito.

"Kau akan jadi asisten pribadi kami. Aku senang memiliki seorang wanita di dalam produksi." Naruto melempar cengiran khasnya.

Sementara itu setelah menengok ke jam tangannya pak Obito buru-buru pergi, "Ada sesuatu yang harus kulakukan, sampai jumpa nanti."

Pak Obito pergi dan Sakura akhirnya sendirian bersama mereka di ruangan ganti. Sakura berbalik dengan gugup, matanya bertemu dengan milik Gaara yang tadi sempat berkutat dengan game di ponselnya.

"Cobalah untuk tidak melakukan apapun agar tidak membuatnya kesulitan. Dia sudah membantu banyak untuk mencari Kakashi." Ekspresi datar dari Gaara saat mengatakan itu malah terlihat seolah sedang mengancamnya.

"Dengar, sepertinya aku.. aku..." Sakura menggigit bibir bawahnya.

"Jangan bilang kau tidak bisa melakukannya." Sasuke menyahut ketus.

"Aku..."

"Kau belum mecobanya, jadi aku tidak ingin mendengar keluhan apapun!"

"Sasuke jangan terlalu kasar. Kau akan menakutinya." Sasori menepuk bahu Sasuke.

"Dia tidak akan pergi." Dan lagi, entah sudah yang keberapa kalinya Sakura melihat Sasuke memberikan seringaiannya itu. "Jika dia pergi, dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang penulis lagi. Jika kau memiliki waktu untuk mengeluh, gunakan itu untuk melakukan sesuatu yang terbaik untuk kami dan lirikmu itu!"

Sasuke dengan santai menyilangkan kakinya dan menutup cerita di ruang ganti hari ini. Seolah dia bilang percakapannya berakhir. Aku tidak ingin mendengar apapun darimu.

"Kau begitu kejam, Sas." Naruto menghela napasnya, "Dia sudah tertekan bahkan sebelum kau berbicara seperti itu."

"Tuan Uzumaki..." Sakura menoleh kearah Naruto dengan mata yang berkaca.

"Panggil aku Naruto."

"huh?"

"Kau adalah asisten manajer, tak perlu terlalu formal dengan kami. Lakukan dan panggil kami dengan nama depan, atau kau boleh memberi kami sebutan. Itu akan lebih bagus." Naruto melebarkan senyumnya.

"Um.. tuan Naruto?"

"Itu masih sama saja." Susul Gaara.

Naruto tertawa ringan, "kau bisa membuang kata 'tuan', Sakura."

"Permisi Revance? Sudah waktunya rapat sebelum pengambilan gambar." Seorang pria berusia 28tahunan muncul di tengah obrolan kami.

"Sudah waktunya? Ayo pergi ketua." Ujar Sasori disusul anggukan dari sang ketua, Sai.

"Sampai jumpa lagi. Berlatihlah untuk memanggil nama kami sampai kami menyelesaikan syuting kami." Naruto melambaikan tangannya.

Orang yang keluar terakhir dari ruang ganti adalah Sasuke, Sasuke berjalan beriringan dengan pria tadi sambil membicarakan sesuatu..

Dia tidak seperti asisten direktur. Dia terlihat lebih tinggi dari itu. Sakura mengerutkan keningnya, meneliti pria yang baru saja membawa pergi Revance.

"Terima kasih banyak telah datang hari ini tuan Uchiha. Kami sangat senang bertemu anda."

"Aku tahu aku sudah mengatakan ini. Tapi biar aku ulangi, aku tidak ingin ada pertanyaan tidak penting. Aku tahu kau tidak bisa melakukan banyak hal di acara talk show ini, tapi kami memiliki image yang haru dijaga." Kata Sasuke.

"Jangan khawatir." Pria itu menenangkan, "Aku tidak akan melakukan apapun yang akan membuatmu atau Revance terlihat buruk. Sekarang tolong ikuti saya. Produser kami tuan Jiraiya juga disini."

Bahkan produser juga ikut datang menghadiri rapatnya? apa itu normal? Selain itu, melihat om om itu, sudah jelas bahwa dia ada diposisi berkelas. Menunduk pada pemuda semacam sasuke sungguh mengejutkan. Sakura yang berjalan paling belakang bergumam.

.

.

.

"Rolling and action!"

"Wow, jadi kalian selalu memiliki kegiatan bahkan dihari libur?" Host kembali bertanya setelah terpotong iklan.

"Ya. Aku merasa lelah kalau harus terus duduk tanpa melakukan sesuatu." Sasori menjawab diiringi senyuman ramahnya.

Sakura mendengus, ini dia Sasori sang pangeran. Kalau saja mereka tahu bagaimana aslinya dia.

Beberapa staff terlihat berlari seperti orang gila dan tidak lama lampu kamera memadam, membuat gelap panggung. Sakura sendiri diijinkan melihat rekamannya di balik layar. Syuting hari ini adalah tentang mengobrol dan bercanda dengan bintang tamu. Jadi begitulah yang tergambar dari studio ini. Santai dan terlihat menyenangkan.

"Itu memang cocok dengan penampilanmu, Sasori." Artis berambut hitam, Kurenai, menyahut jawaban Sasori, "Dan bagaimana denganmu Sasuke? Apa yang kau lakukan saat liburan?"

"Tidak ada yang khusus. Minum kopi, membaca buku, hal yang biasa." Jawab Sasuke.

"Oh, jadi bahkan bintang idola pun juga melakukan hal yang wajar seperti ini ya." Rin, selebritis lain mengangguk, "Kutebak kau memakai piyama yang biasa juga saat tidur."

"Tidak mungkin. Aku bertaruh Sasuke tidur dengan telanjang, kan?" tanya Kurenai.

Sasuke tertawa renyah, "Mungkin. Ataukah kalian ingin mengetahuinya?"

"YAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Hebat. Semua fans wanita berteriak memenuhi ruangan. Sakura semakin down mengingat dia harus menulis lagu untuk band se populer ini. Mungkin setelah ini Sakura harus memeriksakan kejiwaannya, karena semakin dia berpikir tentang ini, semakin tidak mungkin rasanya.

.

.

.

"Maaf, Gaara."

"Ya?"

Setelah syuting. Gaara berbalik menjawab panggilan Sakura, meski dia terlihat sedikit terganggu.

"Siapa mereka yang sedang mengobrol dengan Sasuke dan Sasori di sebelah sana?"

Gaara mengarahkan pandangannya pada arah yang sama dengan Sakura, "Mereka band baru bernama Grenade. Mereka juga ada di acara yang sama."

"Mereka akan mulai syuting sekarang? jadi mereka akan muncul di episode yang sama dengan kalian?" tanya Sakura.

"Setengah acara diisi oleh Revance dan setengahnya oleh mereka."

Apa ini sebuah talk show bertajuk boyband spesial?

"Terima kasih. Senang bisa mengobrol dengan kalian." Grenade terlihat membungkukkan badannya sebelum pergi.

Setelah selesai berbicara dengan Grenade, Sasuke dan Sasori berjalan kearah kami.

"Rumor sepertinya benar bahwa Grenade telah cukup populer akhir-akhir ini." Ujar Naruto.

"Kelihatannya benar. Ketuanya adalah seorang penyanyi yang bertalenta dan benar-benar berbicara sangat halus." Sasori mengimbuhi.

"Kita harus melakukan sesuatu tentang ini." Sasuke menggertakkan giginya.

Melakukan sesuatu dengan ini?

Sasuke dan Sasori bertukar pandang. Tidak, bukan pandangan saling napsu seperti itu. Tapi lebih kepandangan dengan maksud buruk. Sasuke menoleh dan menyadari Sakura melihat mereka.

"Apa yang kau lihat?"

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk..."

"Ngomong-ngomong aku haus." Naruto menyeka keringatnya.

"Oh, baiklah aku akan pergi untuk membawakan kalian minuman."

Sakura ber-ugh-ria rasanya benar-benar jadi seorang pesuruh. Tapi lebih baik dari pada tidak bisa menghindar dari tatapan itu. Sasuke terlihat sedang dalam kondisi buruk untuk beberapa alasan.

.

.

.

"Ini adalah asisten manajer baru kami, nona Haruno." Sasuke mengenalkan Sakura pada seluruh karyawan di lembaga produksinya.

"Senang bertemu dengan anda." Sakura membungkuk.

Setelah syuting selesai mereka segera kembali ke lembaga produksi milik Uchiha untuk rapat. Sepertinya Pak Obito sudah menjelaskan tentang dirinya, hal itu terlihat saat seluruh karyawan memberinya senyum selamat datang.

"Konser ulang tahun Revance yang ke 10tahun segera datang. Aku tahu akan semakin berat yang harus kita lakukan, tapi... mari kita lakukan yang terbaik." Sasuke mengedarkan pandangannya pada seluruh karyawan.

"Kau bisa mengandalkan kami. Kami akan melakukan segalanya untukmu, tuan Uchiha." Seorang staff mengepalkan tangannya.

"Kami akan membuat konser sukses besar dan membuat Revance semakin populer!" staff lain menambahi.

Para karyawan melihat kearah sasuke penuh kagum. Sakura pikir Sasuke hanyalah bertingkah sok bos, tapi kelihatannya semua orang benar-benar percaya padanya.

"Yang kita butuhkan pertama adalah lagu baru untuk penutupan di konser ke 10 kita,." Sai menambahi.

"Simak baik-baik rapat ini. Ingat siapa yang harus menulis liriknya." Sasuke berbisik tepat ditelinga Sakura.

"Y-Ya."

Kecuali dengan Pak Obito, semua orang tampak tidak tahu seperti apa tampang Kakashi atau tentang kepergiannya.

"10 tahun adalah titik kritis bagi karir artis. Aku ingin kita membuat hal baru." Kata Sasuke.

"Maksudnya kau ingin mengubah aliran musik kita?" Sai mengangkat sebelah alisnya.

Kebanyakan dari lagu revance adalah lagu bertempo cepat. Mereka juga sempat bernyanyi ballad. Jadi gaya lain mungkin...

"Lagu untuk merayakan ini harus seksi. Aku ingin lagunya memiliki daya tarik yang memikat." Tambah Sasuke.

"Itu benar, kita belum pernah menyanyikan sebuah lagu yang seksi.." Gaara memiringkan kepalanya, seolah ikut berpikir tentang konser mereka selanjutnya.

"Untuk masalah itu, kalian juga harus mengganti gaya kalian." Susul staff.

"Mari kita ubah kostum kita. Seperti..." Naruto yang merupakan designer kostum Revance mulai memberi gambaran tentang apa yang akan mereka pakai.

Beberapa hari yang lalu Sakura hanyalah orang asing. Tapi sekarang dia berada ditengah-tengah industri yang mengagumkan ini. Apakah aku benar-benar berada ditengah-tengah revance.. hatinya bergejolak, bercampur antara gugup dan kagum. Berpikir tentang semua tanggung jawab yang dijatuhkan padanya membuat dadanya sesak.

.

.

.

Tepat tengah malam mereka kembali ke mansion. Sakura berjalan mendahului anggota lain. Di depan pintu masuk Sasuke berbalik dan berkata pada member lain untuk tidak masuk sebelum waktu yang ditentukan.

"Aku sangat lelah." Sakura menyeret kakinya lalu membanting dirinya di sofa.

"Kau kehabisan tenaga, eh?" Sasuke melepaskan jaketnya dan menggantungnya. "Jadwal hari ini tidak seperti biasanya." kata Sasuke sambil memberikan pandangan apatisnya.

"Benar..." Sakura mengeluarkan ponselnya dan melihat jadwal yang telah dikirimkan padanya.

Jadwal yang Pak Obito kirimkan lebih penuh daripada ini.

"Tidakkah melakukan semua kegiatan ini membuatmu kelelahan?" tanya Sakura.

"Jangan bodoh. Semua pekerjaan itu melelahkan."

"Sepertinya aku juga harus mulai mengumpulkan tenagaku." Sakura mengepalkan kedua tangannya.

"Hn?"

"Aku telah menjadi asisten manajer kalian. Kupikir aku mulai membutuhkan banyak energi mulai sekarang."

"Aku senang akhirnya kau menerima peranmu dan mulai menguatkan badanmu yang kurus itu."

"Tolong lupakan apapun yang kau lihat di kamar mandi!"

"Jangan lupa pekerjaanmu sebagai penulis lagu. Mereka lebih penting dari hal lainnya." Dengus Sasuke.

Saat Sakura berbaring di sofa, pandangannya tiba-tiba kabur. Saat ia sudah mampu melihat lagi wajah Sasuke muncul tepat di depannya.

"Umm?"

"Aku sudah bertanya padamu kemarin. Tapi serius kau masih perawan? Aku tidak akan berhenti melakukan ini sebelum kau menjawabku."

Uh, dia bukan tipe yang akan berhenti sebelum pertanyaannya terjawab. Sakura melirik ke kanan dan ke kiri dimana lengan Sasuke kembali mengurungnya. Tapi Sakura terlalu lelah untuk meladeni pria ini, dia tahu Sasuke tidak serius.

"Aku yakin tidak bisa disamakan dengan pengalamanmu. Tapi aku cukup memiliki pengalaman seperti kebanyakan orang." Saat itu dengan jelas Sakura mampu merasakan napas dari Sasuke menerpa ringan wajahnya.

"Benarkah. Hal yang bagus." Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Seperti yang aku katakan di rapat tadi bahwa tema untuk lagu baru adalah seksi."

"Dan?"

"Biarkan aku berkata jujur. Aku ingin kau menulis sesuatu yang erotis."

"HA?"

"Itu akan merepotkan jika sang penulis tidak memiliki pengalaman.. tapi kau bisa melakukannya kan?"

Pertama, aku bukanlah penulis lagu, dan kedua aku harus menulis lagu seksi?

"Kau tidak terlihat percaya diri." Sasuke melanjutkan.

"Maaf, tapi sebenarnya kepercayaan diriku hanya selevel..."

"Tapi kau tidak bisa berkata tidak mungkin, karena kau telah membuat kesepakatan dengan kami."

"Eep!"

Wajah Sasuke tiba-tiba bergerak menjauh saat Sakura merasakan tubuhnya semakin terhimpit olehnya.

"Lirik yang seksi. Jika kau tidak bisa menulisnya, kau hanya butuh untuk mengalaminya."

"... apa maksudmu?"

"Kalau kau tidak punya cukup pengalaman, mungkin kita bisa melakukannya. Aku akan mengajari segala yang kau butuhkan."

Huh! Tunggu!

Bibir Sakura terkunci saat melihat bibir Sasuke semakin dekat dan dekat... terbeku dengan kepanikan, mata Sakura terbuka lebar..

.

.

tbc