Tidak ada yang tidak mengenal Mikasa Ackerman. Keturunan oriental terakhir yang cukup terkenal karena kasus pembunuhan yang dilakukannya saat masih kecil melawan penjahat-penjahat yang berniat menjualnya sebagai budak.

Tidak ada yang tidak mengenal Mikasa Ackerman. Prajurit nomor satu di pelatihan prajurit dan menjadi panutan karena ketangkasannya dalam bertarung. Bahkan menyaingi kopral muda tercinta kita.

Tidak ada yang tidak mengenal Mikasa Ackerman. Senjata mematikan tentara manusia yang di sebut-sebut kekuatannya setara dengan 100 prajurit biasa. Mitos atau bukan, sampai saat ini memang Mikasalah prajurit yang paling di andalkan.

.

.

.

I do not own Shingeki no Kyojin

Original Story by Black Tofu

.

.

.

Day 2 : Between Confussion and Consultation

.

.

.

Dalam 5 tahun belakangan ini. apa yang membuat Armin berbeda?

Banyak!

Dan yang paling terlihat adalah, ketenarannya yang mendadak menjadi pria nomor satu di angkatan para junior. Bukan hanya Mikasa yang mengetahui hal ini, perbincangan mengenai Armin bahkan sudah sampai ke penduduk sipil. Seolah-olah pria berambut pirang itu adalah idola baru, tak satupun orang –atau lebih tepatnya perempuan yang tidak mengetahui nama Armin Arlert.

What a progress…

Mikasa menghembus nafas malas dengan sebelah tangan menopang dagunya memperhatikan dari balik cermin bagaimana pesona Armin begitu hebat dalam hal menggaet wanita. Disanalah Armin, pria yang baru saja melepas masa pubertasnya dan menjadi pria dewasa yang katanya super keren, berbincang dengan setidaknya 3 gadis junior yang tak Mikasa kenali wajahnya sama sekali. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Armin tampak tidak keberatan dengan hal itu. terbukti dengan gerak bibirnya yang menjawab setiap kata-kata perempuan-perempuan itu lengkap dengan senyuman khasnya yang manis.

Tunggu… kenapa aku membuang-buang waktu untuk ini?!

Mikasa mendecak sebal dan segera menghambur keluar dari ruangan tersebut mencari kesibukan lain.

.

.

Sebuah sore lain yang tak terlihat terlalu indah untuk Mikasa. Awan mendung yang siap menghujani daerah mereka kapan saja, tugas laporan misi yang tak kunjung selesai, dan kini… selera hidupnya untuk hari ini semakin menurun ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

"…Kau…"

"H-hai! Joanne Shanka-desu!" katanya dengan nada gugup. Dari badge berlambang dua pedang saling bersilang yang tertempel di seragamnya, Mikasa bisa tahu ia adalah salah satu dari divisi pelatihan. Dan dari wajahnya, Mikasa juga bisa tahu, ia adalah salah satu pengagum Armin.

"Ada apa?"

"…A-ano… maaf sebelumnya. Karena aku tidak akan menanyakan sesuatu yang berhubunagn dengan pelatihan." Katanya. "S-senpai… aku lihat cukup akrab dengan Armin-senpai kan?"

See? Benar apa dugaanku. Gerutu Mikasa dalam hati melempar tatapan jengkel yang amat kentara pada gadis 'pemberani' di hadapannya. Tanpa menjawab, Mikasa melipat kedua tangannya di depan dada membiarkan juniornya tersebut untuk bicara lebih jelas.

"Apa Armin-senpai… punya pacar?"

Pertanyaan macam apa itu?

"Tidak." Jawab Mikasa ketus.

"Ka-kalau begitu apa ia sedang menyukai seseorang?"

"Tidak."

"Kau menyukai Armin-senpai?"

"Ti-… H-hah? Apa yang kau bicarakan? Aku menyukai Armin?!" semprot MIkasa lantang tanpa sadar, kehilangan sikap tenangnya dalam waktu singkat.

Untuk selanjutnya, gadis malang bernama Joanne Shanka tersebut tak pernah menunjukan dirinya di depan Mikasa karena suatu alasan. Mikasa tidak memusingkan tentang junior yang menghindarinya. Jikapun anak bernama Joanne itu berbalik tak menyukainya dan membicarakan hal aneh di belakangnya Mikasa bukan orang yang punya waktu cukup banyak untuk mementingkan masalah sepele seperti itu. tapi pertanyaan terakhir anak itu belakangan ini benar benar mengganggu.

"…Aku… menyukai Armin?"

.

.

Tidak pernah ada dalam kamusnya untuk merasa terganggu pada sikap laki-laki lain selain Eren, namun berbeda kasusnya dengan sekarang. Ia merasa seluruh dunia sudah keterlaluan karena sudah menyisihkannya sendirian sementara yang lain kini tengah menikmati kesenangan mereka sendiri dengan Armin yang 'baru'.

Berada dalam pelatihan khusus dibawah pimpinan Irvin benar-benar membuahkan hasil luar dalam untuk Armin. Tak hanya pintar, tubuhnya kini semakin membentuk. Armin yang dulu dikenalnya sebagai laki-laki kikuk tidak pernah ada lagi.

Dihadapannya kini Armin tampak berbagi tawa dengan teman-temannya yang lain membicarakan sesuatu yang tak bisa ia dengar. Setiap tawanya, setiap tatapannya, setiap gerakannya, semuanya tak lepas dari onyx Mikasa.

Armin menjauh darinya…

Rasanya ada yang tidak enak di dalam hati Mikasa ketika mengambil kesimpulan pahit seperti itu. perubahan Armin yang seperti ini memang baik. Tapi jika itu yang jadi penyebab kenapa hubungan mereka merenggang, maka Mikasa memilih untuk agar Armin tetap seperti dulu. Agar Armin bisa tetap disampingnya dan bergantung dengannya.

Mikasa menyingkir dari tempatnya di kafetaria mencampakan semangkuk sup kacang dan roti yang hanya termakan seperempatnya berjalan acuh menuju kamarnya.

"Mikasa! Oi Mikasa! Ah, supnya untukku ya!" terdengar teriakan Sasha dari belakang.

.

.

"Armin bertanya tentangmu."

"Hah?"

Mikasa menahan gerakannya menoleh ke arah Eren dengan ekspresi setengah jengkel dan setengah tidak percaya. Sedangkan Eren hanya mengangguk membenarkan. Keduanya kembali bergerak memilah-milah kotak berisi persediaan makanan mereka selama di markas.

"Aku tidak melihat kalian bersama. Mungkin karena kau dan Armin sama-sama sibuk. Dia mengkhawatirkanmu."

Ah, bahkan sekarang berbeda. Dulu, Mikasa menjadi orang pertama yang selalu mengkhawatirkan kondisi Armin. Berperan menjadi kakak perempuan baginya. Seolah-olah waktu ebrjalan mundur, Mikasa merasa kelakuannya belakangan ini lebih kekanak-kanakan di banding dulu saat ia masih kecil. Perubahan sikap tak beralasan.

"Oh," gumam Mikasa tanpa peduli Eren mendengarnya ataupun tidak.

Tangan mereka kembali bekerja dengan mulut yang tertutup rapat. Tak lagi membuka pembicaraan. Eren sedikit heran dengan Mikasa yang seperti ini. bukan berarti biasanya ia banyak bicara, tapi sepi yang seperti ini terasa lain. Bagaimanapun Eren adalah yang terlama yang pernah mengenalnya. Ia tahu Mikasa luar dan dalam. Ia tahu Mikasa memikirkan sesuatu.

Mikasa cukup takjub karena beberapa detik berikutnya, objek yang menjadi topic di dalam pikirannya muncul di antara mereka.

"Eren! Mikasa!"

"Ah! Armin!" Eren berseru. "Tunggulah disini. Aku akan kedalam sebentar." Dengan langkah terburu-buru Eren segera masuk ke markas membawa setidaknya tiga kotak berisi bahan pangan mentah. Dan kecanggungan yang menyelimuti diri Mikasa semakin menadi ketika sosok Eren benar-benar menghilang.

Ayolah! Dalam kurun waktu satu tahun ini keadaan diantara Armin dan Mikasa amat sangat berubah. Akibat dari popularitas Armin dan egonya Mikasa. Gadis itu berharap bisa menyelesaikan tugasnya agar bisa ikut dengan Eren masuk ke markas, atau berharap Eren muncul lagi di antara mereka mengalihkan perhatian Armin.

Pemuda itu tersenyum. "Butuh bantuan?"

Mikasa segera memalingkan wajahnya. "Tidak."

Rasanya menyebalkan karena melihat Armin yang sekarang, yang bisa Mikasa ingat hanyalah ketenaran pria itu di kalangan wanita berbagai usia. Ia ingin Arminnya yang dulu…

Sengatan kecil di sekujur tubuhnya terasa seperti menggelitik permukaan kulitnya ketika merasakan sepasang tangan besar menangkap kedua bahunya. tentu saja itu tangan Armin. Tapi aa yang ia lakukan?

"Ahaha, sekarang kau lebih pendek dariku Mikasa." Katanya lebih terdengar konyol.

Armin hanya ingin mencairkan suasana yang sempat kaku di antara mereka beberapa waktu ke belakang, biarpun ia percaya tak ada masalah di antara mereka.

Berlainan dengan pikiran Mikasa, gadis itu merasa dipermainkan oleh sikap Armin. Tanpa menunjukan wajahnya, Mikasa bergerak melepas tangan Armin dari bahunya dan segera berlari kecil menuju markas meninggalkan Armin dengan segudang tanda Tanya.

Pria itu mengekori kepergiannya.

"…Mikasa…"

.

.

.

.

.

Tak banyak yang berubah beberapa hari selanjutnya. Semenjak Armin menyadari perubahan ini, ia selalu menyampatkan waktu untuk bertemu Mikasa. Sekedar memuaskan rasa penasarannya. Dan setiap mereka bertemu, Mikasa tidak pernah terlalu menanggapinya. Malah terkesan menghindarinya.

Berada dalam kesibukan masing-masing Armin menyadari betapa kurangnya komunikasi mereka selama ini. dan jika Mikasa sampai seperti itu, mungkin ia melakukan kesalahan tanpa ia sadari dan menyakiti Mikasa? Siapa yang tahu.

Armin menghela nafas meletakan penanya kembali ke kotak tinta, melepas kacamatanya sambil sebelah tangannya memijat pelan pelipisnya. Ternyata hal mengenai Mikasa bisa juga mengganggunya. Mungkin karena ia dan Mikasa belum pernah bertengkar serius atau perang dingin seperti ini. Mikasa bukanlah tipe orang yang suka membesar-besarkan masalah, karena itulah ia penasaran alasan apa yang Mikasa punya sampai ia seperti itu.

"Apa yang salah aku lakukan?" gumam Armin.

.

.

Sementara di lain sisi Mikasa tampak menggeram frustasi seraya mengacak-acak rambutnya. Beruntung tak ada siapapun di ruangannya saat itu yang mungkin akan menatapnya dengan tatapan 'heran'. Mikasa memasang wajah cemberut menatap pintu berniat mengutuk siapa saja jika ada satu orang lagi yang datang untuk bertanya tentang Armin.

Sungguh! Sejak kasus perempuan bernama Joanne yang mendatanginya untuk bertanya macam-macam tentang Armin dan mengemukakan keinginannya untuk berhubungan special dengannya, paling tidak dua hari sekali ia akan menerima tamu serupa dan ini hampir membuat Mikasa gila!

Kenapa mereka harus bertanya padanya? Kenapa tidak bertanya langsung pada Armin?

Untuk sebuah alasan setiap pertanyaan yang perempuan-perempuan itu lontarkan terdengar menjengkelkan di telinga Mikasa.

Gadis itu menghela nafas beberapa kali mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya terdengar lagi ketukan lain dari balik pintunya.

Oh, nice! Mungkin besok Mikasa akan membuka jasa konsultasi.

"Masuk…" kata Mikasa setengah hati seraya mengubur wajah di antara lengannya mendengarkan suara derit pintu terbuka lalu tertutup beserta dengan suara langkah kaki di atas lantai kayu.

"Ada apa?"

"Armin Arlert, present."

Mikasa hampir melompat kaget karena tamunya yang satu ini ternyata, sumber masalah dari tamu-tamu sebelumnya. Mikasa buru-buru menengadah menemukan Armin mencondongkan setengah tubuhnya dengan kedua tangan menopang di atas mejanya, lengkap dengan senyum di bibirnya.

Segera ia membenarkan posisi dan kembali memasang topeng stoicnya seperti biasa. Bersandar di kursinya sambil mengalihkan pandangannya kemanapun, asal tidak ke dua manik biru itu.

"Ada apa… Armin?"

"Apa aku perlu alasan untuk menjengukmu?"

"Aku tidak sakit."

"Tapi kau bertingkah aneh, Mikasa."

Lihat siapa yang bicara? Armin kecilnya sudah berubah!

Jika bisa, Mikasa ingin sekali menghujani pria di hadapannya dengan omelan-omelan mengapa ia menjadi sok dewasa dan mengajari banyak hal sepele tentang sikap dan segala hal lainnya. Tapi Mikasa memilih diam.

"Ceritakan sesuatu." Kata Armin. Nada bicaranya lebih seperti memerintah.

"Tidak ada apa-apa." Kilah Mikasa, tidak suka pada fakta bahwa Armin dengan mudah mengetahui titik lemahnya dan kini tengah menyudutkannya. Ini tidak akan berjalan baik. Satu-satunya jalan adalah… melarikan diri!

"Aku harus latihan." Mikasa mempercepat langkahnya bangkit dari kursinya berjalan melewati Armin. Tapi ia mungkin sedikit lupa bahwa Armin yang polos sekarang tidak ada lagi, berganti menjadi Armin yang keras kepala. Armin menangkap pinggang Mikasa mendorongnya ke sisi meja, mengurung Mikasa diantara kedua tangannya memastikan agar ia tidak lari. Tidak lagi.

"Katakan sekarang."

"Apa yang kau lakukan, Armin?" Mikasa mencoba berontak. Tapi sayangnya tidak berhasil.

"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau menghindariku?"

Mana bisa ia menjawab pertanyaan itu ketika Mikasa sendiri tidak tahu?
Dan akan konyol jika ia menjawab bahwa alasannya adalah ia kesal setiap kali melihat Armin yang ada di kepalanya adalah bocah-bocah perempuan yang hampir setiap hari berdatangan padanya. Mikasa tetap bungkam menggunakan tangan-tangannya melepaskan kurungan tangan Armin.

"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Armin lagi mencoba sedikit sabar. Tidak, sejujurnya itu bukan salahnya. Mikasa menunduk terdiam.

"Kau membenciku?"

"Tidak!" sontak Mikasa berteriak. Itu cukup membuat Armin lega, hanya saja rasa penasarannya masih belum teratasi.

Segera setelah menjawab spontan seperti itu Mikasa kembali ciut. Wajahnya entah sudah semerah apa, ia tidak berani menampakan diri di hadapan Armin. Kepalanya terasa hangat oleh telapak Armin yang kini mengelus pelan permukaan rambut-rambut hitamnya.

"Kau tahu aku banyak berpikir kenapa kau menghindariku. Aku pikir aku melakukan kesalahan. Itu membuatku merasa bersalah dan kesal." Kata Armin setengah berbisik. "Kau adalah sahabat terbaikku, yang paling bisa diandalkan selain Eren. Kakak perempuan yang perhatian."

"Bicarakan padaku secepatnya, Mikasa... Aku tidak suka kau menjauhiku." Dengan itu Armin mengecup pelan kepala Mikasa sebelum pergi keluar dari ruangan tersebut. Menutup kembali ruangan sunyi tersebut.

Mikasa masih dalam posisinya dengan pinggang bersandar di sisi meja dan kepala yang menunduk dalam. Kepalanya penuh dengan kata-kata Armin yang baru saja pria itu tuturkan untuknya secara lembut… dan menyedihkan.

Kedua tangannya membekap mulutnya berusaha untuk tidak mengeluarkan satupun isakan. Mengeluarkan sebanyak-banyaknya air mata yang ia tampung selama ini hanya karena masalah kecil ini.

Sahabat terbaikku…

Kakak perempuan…

Tentu saja… tentu saja Mikasa menyadari kenapa ia begitu sensitive belakangan ini.

Semakin parah ketika mendengar dua julukan itu dari Armin, yang ia katakana dengan nada tulus tanpa terbaca sedikitpun kebohongan darinya.

Seharusnya aku cukup bersyukur dengan penghargaan tertinggiku…

Sebagai sahabat dan kakaknya…

Tapi tidak bisa…

Dan seterusnya Mikasa menelungkup menangis sediam mungkin. Tanpa pernah ia tahu Armin tidak pernah kemana-mana setelah itu, bersandar di sisi lain pintu ruangan yang baru saja ia tinggalkan memandangi dinding di hadapannya dengan tatapan kosong dan lamunan di kepalanya. Segaris senyum pahit tergambar di bibirnya ketika bayangan Mikasa muncul kembali di kepalanya.

Berpikir tentang kapan ia bisa berkata jujur di hadapan gadis itu…

"…Gomen ne… Mikasa…"

.

.

.

A/N : another favorite story TwT aaa yappari penggemanr AruMika di dunia ini sedikit sekaliiii hikhiks~~