[REMAKE dari novel karya Sherls Astrella]

Summary: Pangeran Mark dari Kerajaan Helsnivia mengakui Jaemin Yvonne Lloyd, putri Duke of Cookelt dari Kerajaan Trottanilla, adalah seorang gadis jelita yang mempesona, gadis tercantik yang pernah ia temui. Namun, ia juga adalah satu-satunya gadis yang tidak akan pernah ia sentuh. Ia adalah putri haram Duke of Cookelt, putri dari seorang wanita hina, dan juga putri tercinta Duke. Setiap hari Duke membuatnya berkencan dengan putri tercintanya. Dan, pada puncaknya, melamarnya untuk sang putri haram! Sang petualang cinta itu bersumpah ia tidak akan pernah berhubungan lagi dengannya apalagi menjadikannya istri.

Jaemin Yvonne Lloyd tahu Pangeran Mark tidak tertarik padanya. Pangeran baik padanya hanya karena permintaan Duke, ayah angkat yang telah merawatnya semenjak enam tahun terakhir. Ia, sejujurnya, juga tidak tertarik pada sang Pangeran. Jaemin mengidamkan seorang pria yang setia seperti ayah kandungnya dan Pangeran bukan seorang pria setia.

Duke of Cookelt pernah bersumpah di depan makam sahabatnya, Taeyong Lloyd, ia akan memulangkan Jaemin ke Helsnivia. Demi sumpahnya, apapun akan ia lakukan termasuk melamar sang Putra Mahkota Helsnivia. Hanya inilah satu-satunya keinginannya sebelum meninggal.

.

.o0o.

Mark menatap bayangan dirinya di cermin untuk terakhir kalinya. Setelah yakin penampilannya rapi dan meyakinkan, ia berangkat.

Seperti yang telah direncanakannya untuk liburan ini, hari-harinya dipenuhi oleh petualangan-petualangan alanya dan satu-satunya petualangan yang hanya dapat dimengerti olehnya. Ini adalah perjuangan yang panjang untuk mendapatkan ijin libur panjang dari orang tuanya, dan ia tidak ingin mensia-siakannya. Sepanjang hari ia mempunyai janji dengan paling sedikit tujuh wanita cantik. Jika ada yang bertanya padanya mengapa ia menikmatinya? Jawabannya adalah ini adalah hobinya. Apa ia tidak pernah bosan? Ini adalah petualangan. Kapan ia akan berhenti? Seorang petualang tidak pernah terpuaskan.

Ya, ini adalah petualangan modelnya. Ia tidak butuh orang lain mengerti tentangnya. Ia tidak butuh orang lain memahaminya. Seorang petualang tidak membutuhkan semua itu.

Sayangnya, ia adalah seorang Putra Mahkota. Sebagai satu-satunya penerus tahta Kerajaan Helsnivia, ia punya kewajiban meneruskan tahta. Hanya inilah satu-satunya hal yang membuatnya terikat, tapi tidak menghentikan jiwa petualangnya.

Saat ini ia masih dua puluh tiga tahun. Ia masih mempunyai beberapa tahun sebelum orang tuanya mulai mengusiknya dengan urusan pernikahan. Ketika saat itu tiba, Mark telah memutuskan, ia akan memilih wanita terbaik yang pernah ia kencani.

Hingga saat ini ia belum menemukan wanita itu dan ia tidak terlalu pusing untuk menemukannya. Ia masih mempunyai banyak waktu. Kalau pada saatnya ia masih belum dapat menemukannya, ia hanya perlu memilih wanita yang dirasakan pengalamannya akan menjadi Ratu dan ibu yang baik.

Semua orang tahu tentang jiwa petualangannya. Namun tetap saja ada orang tua yang berusaha menjodohkan putri mereka dengannya.

Mark pun sudah tahu hal yang semua akan terjadi pada liburannya ke Trottanilla ini. Namun, siapa peduli? Hal itu justru memperkaya petualangannya.

Tiada hari yang lebih menyenangkan dari berada di sini. Ini adalah surganya!

Andaikan bisa, Mark ingin memperpanjang liburannya di sini. Namun sayangnya, orang tuanya telah mengirim utusan mengingatkan hari Minggu mendatang ia harus pulang. Ini berarti liburannya hanya tinggal tiga hari! Dan sebagai seorang Pangeran yang bertanggung jawab, Mark tidak bisa mengabaikan perintah itu, bukan?

"Biarlah hari itu tiba," gumam Mark melangkah pergi, "Sampai hari itu tiba, aku tidak akan mensia-siakan waktuku."

Hari ini Mark mempunyai banyak janji dan salah satunya adalah putri Duke of Cookelt. Tentu saja dengan putri sah sang Duke.

Sejujurnya Jaemin, sang putri haram Duke jauh lebih cantik dari Yeri, sang putri sah Duke. Sayangnya, ia adalah putri yang dilahirkan di luar pernikahan sah. Dan sebagai seorang Pangeran, Mark tidak mau mempertaruhkan reputasinya dengan berhubungan seorang putri haram.

Ia memang pernah menjalin hubungan dengan Jaemin tetapi itu demi menghormati Duke Johnny.

Mark sempat mengira Jaemin adalah putri sah Duke ketika melihat Duke menggandengnya ke arahnya dalam sebuah pesta dansa yang diselenggarakan oleh Earl of Striktar. Ia baru tahu gadis itu adalah putri haram Duke of Cookelt setelah Duchess Nayeon memberitahunya. Kemudian Mark membuktikan sendiri cinta Duke yang lebih besar pada putri haramnya dibanding putri sahnya. Duke selalu mengajukan putri haramnya itu dibanding putri sahnya. Duke juga selalu mendesaknya mengajak pergi Jaemin dan pada akhirnya melamarnya untuk putri haramnya itu.

Duke adalah seorang pria yang tampan dan gagah ketika ia masih muda. Ia terkenal dengan reputasinya sebagai penakluk wanita sebelum ia menikah dan setelah menikah ia tidak memutuskan hubungannya dengan kekasih-kekasihnya itu. Bertahun-tahun setelah pernikahannya, Duke tiba-tiba menghentikan kebiasaannya dan sepuluh tahun setelahnya, ia membawa pulang Jaemin.

Mark menduga di saat Duke bertemu ibu Jaemin itulah, petualangannya berhenti.

Jika Jaemin tidak mewarisi kecantikan ibunya, maka tentunya ia masih membawa warisan kecantikan ibunya. Melihat paras cantik Jaemin, Mark percaya ibu Jaemin adalah wanita yang jelita hingga Duke Johnny mencintainya dan keturunannya melebihi keluarga sahnya.

Mark merasa Jaemin jauh lebih jelita dari yang diingatnya ketika melihat gadis itu menuruni tangga ke arahnya sebagai jawaban pelayan yang mengabarkan kedatangannya. Rambut panjangnya yang kuning pucat melambai lembut seiring langkah-langkah ringannya yang membuatnya tampak seperti melayang. Tubuhnya yang kecil ditambah sepasang mata biru mudanya yang sayu, membuat setiap orang ingin melindunginya. Wajahnya yang kecil tampak begitu serasi dengan tubuh moleknya yang ramping.

"Yeri sedang bersiap diri, Yang Mulia," nada lembut mengalun dari bibirnya yang menggoda. "Bila Anda berkenan, silakan menanti di Ruang Tamu. Saya akan meminta pelayan mengantar Anda."

Bila Jaemin berpikir sikap dinginnya akan menarik perhatiannya, ia salah. Mark sudah banyak melihat wanita yang tiba-tiba bersikap dingin padanya setelah hubungan mesra mereka. Namun sikap dingin itu langsung berubah setelah Mark membalasnya dengan sikap dingin yang sama. Mungkin Jaemin adalah salah satu di antara wanita yang membencinya setelah tahu hubungan mereka tidak akan berlanjut ke tingkat yang lebih jauh. Atau mungkin Jaemin adalah salah satu di antara wanita-wanita licik yang tahu bagaimana menjerat pria. Sayangnya, Mark bukanlah mangsa yang mudah. Biarlah orang memandang sebelah mata usianya yang masih muda. Mark tahu ia sangat berpengalaman dengan wanita sejak pemuda seusianya masih bermain pedang-pedangan.

"Tidak perlu repot-repot, Lady Jaemin," jawab Mark sama sopannya, "Saya akan menanti di sini."

"Bila itu keinginan Anda, Yang Mulia, saya tidak akan memaksa," kata Jaemin, "Bila Anda mengijinkan, saya akan memastikan Yeri segera muncul."

"Silakan," sambut Mark.

Dalam hatinya, Mark mencibir Jaemin. Gadis itu pasti kecewa besar. Ia pikir Mark akan mengikuti undangannya. Mark dapat memastikan Jaemin akan mengeluarkan segala daya tariknya untuk memikatnya jika ia mengikuti usul gadis itu ke Ruang Tamu.

Baru saja Jaemin menginjakkan kaki di tangga teratas ketika seorang pria muncul dari dalam koridor di sisi kanan tangga.

"Di sini rupanya anda berada, M'lady," Mark mendengar pria itu berkata pada Jaemin dan ia merasa aneh. Sejauh yang diketahuinya, setiap orang sebisa mungkin tidak menyebut gadis itu dengan gelar "Lady" apalagi memanggilnya. Tidak seorang pun suka akan gadis itu. Tidak seorang pun tertarik untuk membicarakannya.

"Ah, rupanya waktu telah berlalu," gadis itu berkata ramah, "Maafkan saya, saya tidak dapat mengantar Anda."

"M'lady," Jiwon menangkap tangan Jaemin, "Pikirkan baik-baik tawaran saya."

"Tentu," Jaemin memberikan jawabannya sembari tersenyum manis dan di saat yang bersamaan menarik tangannya. "Terima kasih atas perhatian Anda. Sungguh menyesal saya tidak bisa mengantar Anda. Selamat siang."

Tanpa menanti jawaban lawan bicaranya, Mark melihat gadis itu melangkah pergi.

Dalam hatinya, Mark memuji cara lembut gadis itu dalam mengusir lawan bicaranya. Namun pada saat yang bersamaan ia juga mencibir gadis itu akan kepura-puraannya. Apapun tawaran pria itu, Mark percaya Jaemin tertarik.

"Rupanya Anda di sini, Yang Mulia Pangeran Mark," akhirnya Jiwon menyadari keberadaan orang lain dan bergegas menuruni tangga, "Maafkan saya tidak menyapa Anda semestinya. Saya adalah guru privat Tuan Muda Jisung. Anda bisa memanggil saya Jiwon," ia mengulurkan tangan. "Sungguh suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda."

Tepat seperti reaksi Jaemin ketika mereka pertama kali bertemu! Hanya saja saat itu Jaemin tampak seperti seorang peri cantik yang malu-malu menunjukkan pesonanya.

"Senang berkenalan dengan Anda," kata Mark pula.

"Apakah Anda datang untuk menjemput Lady Jaemin?"

Apa yang membuat pria ini ia akan mempertaruhkan reputasinya hanya untuk seorang anak haram?

"Tidak. Saya datang untuk menjemput Lady Yeri," Mark menjawab sopan.

"Oh," Jiwon melihat kesalahannya, "Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Saya menduga Anda datang untuk Lady Jaemin."

"Tidak mengapa."

"Seperti yang Anda lihat, Lady Jaemin jauh lebih mempesona dari Lady Yeri. Setiap pria di sekitar tempat ini ingin merebut hati Lady Jaemin. Setiap pria ingin menawarkan segala yang terbaik untuk Lady Jaemin terutama di saat-saat seperti ini."

"Apakah yang Anda maksud kondisi Duke Johnny?"

"Tentu saja. Semua orang tahu Duchess Nayeon tidak akan membiarkan Lady Jaemin tinggal di Sternberg bila sesuatu terjadi pada Duke. Saat itu Lady Jaemin tidak mempunyai tempat berteduh. Setiap pria di tempat ini ingin memanfaatkan kesempatan itu."

Mark pernah mendengarnya sendiri dari mulut Yeri tentang rencana Duchess Nayeon mengusir Jaemin bila Duke Johnny wafat. Baginya, pria yang benar-benar ingin mendapatkan Jaemin pasti hanya pria hidung belang yang tidak tahu malu. Tentu saja pria ini adalah salah satunya.

"Ingin sekali saya menemani Anda berbincang. Namun saya harus segera pulang sebelum istri saya curiga."

Tepat sudah dugaannya.

"Silakan," kata Mark.

Mark tahu masih ada waktu yang cukup panjang sebelum Lady Yeri muncul. Walau ia sudah terbiasa olehnya, dalam hati ia tetap berharap Jaemin akan mempercepat Yeri. Mark tidak mau waktunya terbuang percuma oleh penantian yang tidak berguna ini.

Lima belas menit sudah berlalu semenjak kepergian Jiwon ketika Jisung muncul menyapanya.

"Selamat siang, Yang Mulia Pangeran."

"Selamat siang, Jisung."

"Apakah Anda melihat Jaemin?"

"Kurasa ia pergi memanggil kakakmu."

Jisung tersenyum lebar. "Tolong jangan katakan apapun pada Jaemin tentang perjumpaan kita ini."

"Baik," Mark juga melihat tidak ada gunanya ia memberitahu Jaemin.

"Selamat bersenang-senang, Yang Mulia," Jisung melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Sternberg.

Dua puluh menit berlalu sudah sejak kepergian Jisung namun Yeri belum juga muncul. Jaemin juga tidak menampakkan wajahnya. Mark mulai dibuat lelah olehnya.

Apa yang dapat diharapkannya dari perkataan seorang wanita? Ia sudah sangat berpengalaman dalam hal ini. Ia tahu baik hal ini.

Mark tidak sabar.

Lima menit berlalu ketika akhirnya Yeri muncul.

"Selamat siang, Yang Mulia Pangeran Mark," kata Yeri ketika ia muncul di tangga teratas.

Mark melihat gadis cantik itu. Ia tampak bersinar di bawah sinar mentari. Permata berlian yang menghiasi gaunnya menambah kecermelangan rambut merahnya yang tertata rapi. Penampilannya yang mempesona, membuat Mark merasa penantiannya tidak sia-sia. Ia segera menyambut gadis itu.

"Apakah Anda sudah siap, Tuan Puteri?" Mark mengulurkan tangannya.

Yeri tersenyum tersipu-sipu. "Dengan segenap jiwa raga saya," Yeri menyambut uluran tangan itu.

Markpun tidak membuang waktu membawa Yeri pergi ke tempat perjanjian mereka.

Mark bukanlah seorang pria yang suka membanding-bandingkan. Namun perbedaan tingkah laku dua kakak adik seayah yang berbeda ini benar-benar tidak dapat menghentikan Mark membandingkan mereka.

Tidak perlu menyebut beda lamanya waktu ia menanti dua gadis ini. Mark tidak pernah dibuat Jaemin menanti. Sebaliknya, Jaeminlah yang menantinya.

Tentu saja Jaemin yang menantinya bersiap diri. Duke Johnny selalu mengantar Jaemin ke villa tempat ia tinggal di Trottanilla. Beginilah cara Duke memaksanya menemani putri kesayangannya. Begitu Duke tahu ia punya waktu luang, ia pasti akan langsung mengusulkan ide. Dan seperti takut ia akan ingkar janji, Duke mengantar Jaemin lima belas menit sebelum waktu perjanjian mereka.

Perbedaan yang mencolok di antara mereka adalah sikap diam Jaemin dan sikap manja Yeri. Perbedaan mencolok lainnya adalah Jaemin tidak pernah menyebut apapun tentang keluarganya dan Yeri selalu mengobral gosip keluarganya terutama tentang Jaemin.

Sudah rahasia umum kalau Duke Johnny hanya mencintai Jaemin dan Duchess Nayeon lebih mencintai Yeri di antara dua anak kandungnya. Perbedaan dukungan di antara mereka mungkin membuat Yeri terdesak sehingga ia selalu menjelek-jelekkan Jaemin di depannya.

Mark tidak peduli akan hal itu karena ia sendiri tahu ia tidak akan memilih seorang pun di antara mereka betapapun cantiknya mereka. Sekalipun mereka bisa mentolerir jiwa petualangannya, ia tidak akan mencintai mereka. Mereka berdua bukanlah wanita terbaik yang pernah dikencaninya. Yeri terlalu suka menjelek-jelekkan orang lain dan Jaemin, walau tidak diragukan lagi kecantikannya, adalah anak haram.

Mark tidak pernah lagi berhubungan dengan Jaemin semenjak Duke melamarnya untuk Jaemin!

Sepanjang hidupnya, itulah lelucon terbesar yang pernah dialaminya. Memang banyak orang tua yang mengajukan putri mereka padanya, tapi tidak ada yang terang-terangan seperti yang dilakukan Duke of Cookelt.

Suatu sore ketika ia baru pulang dari kencannya, pelayan memberitahunya bahwa Duke of Cookelt tengah menantinya di Ruang Tamu.

Mark pun bergegas menyambut tamunya. Di saat itu Mark hanya berpikir Duke tengah mencari kesempatan untuk memaksanya pergi dengan Jaemin lagi. Kala itu jadwal kencan Mark mulai sibuk sehingga ia tidak punya waktu luang untuk Jaemin. Mark sama sekali tidak memikirkan maksud lain ketika melihat wajah gembira Duke Johnny melihat kemunculannya.

"Selamat sore, Duke," sambut Mark, "Apakah Anda telah lama menanti saya?"

"Selamat sore, Yang Mulia Pangeran," jawab Duke, "Saya tidak menanti Anda untuk waktu yang lama."

"Keperluan penting apakah yang membuat Anda datang?"

"Saya datang untuk putri saya, Jaemin."

Mark pun telah menduganya.

"Saya datang untuk mengajukan Jaemin sebagai calon mempelai Anda."

Mark membelalak. Dari sekian ratus orang tua yang mengajukan putrinya padanya, tidak seorang pun mengajukan putrinya secara terang-terangan seperti ini.

"Saya percaya Anda tertarik pada Jaemin. Ia adalah gadis tercantik di Trottanilla dan ia adalah seorang gadis yang berhati lembut. Saya dapat mengatakan Jaemin adalah gadis impian setiap pria di dunia. Anda pasti menyesal kalau Anda tidak segera menikahinya." Lalu Duke menambahkan, "Saya yakin Jaemin akan menjadi pasangan yang cocok untuk Anda. Ia akan menjadi seorang ibu yang lemah lembut dan ratu yang bijaksana."

Kekagetan Mark membekukan lidahnya.

"Saya akan memikirkannya," Mark akhirnya mendapatkan kembali suaranya.

"Anda tidak akan menemukan gadis lain sesempurna Jaemin di dunia ini," Duke mendesak Mark.

Ingin sekali Mark berseru pada Duke namun tata krama membuatnya berkata tenang,

"Tentu, Duke Johnny. Putri Anda adalah gadis yang sempurna namun saya tidak bisa membuat keputusan sepenting ini secara mendadak. Saya akan memikirkannya baik-baik."

"Jaemin adalah pilihan terbaik yang Anda buat."

Mark benar-benar harus menahan emosinya.

"Saya sangat menghargai kepedulian Anda," Mark berusaha berkata sesopan mungkin, "Bagaimanapun juga ini bukan hanya menyangkut saya tapi juga seluruh rakyat Helsnivia. Berilah saya waktu untuk memikirkannya. Saya yakin tidak seorangpun yang akan meragukan pilihan saya sebelum saya memberi jawaban."

Duke of Cookelt termenung. "Anda benar. Saya tidak bisa memaksa Anda memberi keputusan secara mendadak."

Mark lega. Bila Duke terus mendesaknya, dapat dipastikan ia akan kehilangan kontrol dirinya. Ia paling tidak suka didesak menikah. Ia lebih membenci orang lain memaksanya menikahi seseorang. Sekalipun itu adalah orang tuanya, Mark tidak akan membiarkan mereka memaksakan calon pengantin mereka padanya.

"Pastikan Anda memikirkannya baik-baik," kata Duke dengan penuh harapan. Kalimat itu terus diucapkannya berulang kali hingga kereta keluarga Riddick membawanya pergi.

Bagaimana jawaban Mark?

Tidak perlu diragukan lagi. Jawabannya adalah TIDAK!! Seumur hidup Mark tidak akan pernah berpikir untuk menjalin affair dengan anak haram itu apalagi menikahinya.

Beberapa hari setelah mengajukan lamarannya, Duke Johnny jatuh sakit dan dari hari ke hari sakitnya kian parah. Dengan terbaringnya Duke di atas tempat tidur, Mark tidak pernah lagi bertemu Jaemin. Ia juga tidak bertemu gadis itu ketika ia mengunjungi Duke.

Jaemin melesat dengan cepat melewati tempat mereka berdiri.

Mark merasa ia sudah gila. Baru saja ia memikirkan gadis itu dan sekarang ia melihat bayangan gadis itu.

"Dasar anak pelacur!" hujat Yeri.

Mark bingung.

"Lihatlah itu, Pangeran," Yeri menunjuk rumah bordil di ujung jalan.

Mark melihat Jaemin memasuki tempat haram itu dengan tergesa-gesa.

"Anak haram itu memang tidak tahu malu. Papa terbaring sakit dan ia pergi mencari pria jalang."

Mark tidak terlalu memikirkan di mana Jaemin berada ketika ayah yang sangat mencintainya terbaring sakit. Ia juga tidak peduli tapi apa yang dilihatnya benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Jaemin memang benar-benar putri seorang pelacur!

"Mama sudah berbaik hati mencarikan suami yang pantas untuknya tapi anak haram itu tidak tahu terima kasih. Ia lebih suka mencari pria jalang daripada pria terhormat. Benar-benar anak pelacur!"

Mulai sudahlah Yeri membuka affair-affair keluarganya. Mark tidak ingin mendengarnya. Urusan keluarga mereka bukanlah urusannya. Ia berhubungan dengan Yeri hanya untuk bersenang-senang bukan untuk menjadi bagian keluarga itu.

"Papa lebih parah lagi! Earl of Mongar bersedia menjadi suami Jaemin sudah baik tetapi ia menolak. Ia terlalu memanjakan Jaemin. Ia memberikan segala yang terbaik untuk Jaemin tapi ia lupa siapa Jaemin itu. Putri haram seperti dia tidak akan pernah diterima di kalangan terhormat seperti kita."

Mark tidak tertarik. Biarlah Jaemin menikah dengan Earl of Mongar atau pria jalang atau siapa pun juga. Itu bukan urusannya dan ia tidak ingin tahu!

"Tapi begitu Papa meninggal, Jaemin tidak akan bisa menghindar lagi. Mama sudah menyiapkan segalanya untuk pernikahannya. Jaemin pasti berterima kasih seorang Earl mau menikahinya."

Kepala Mark berputar cepat untuk menutup mulut Yeri.

"Lady Yeri, bukankah Anda ingin melihat opera?" Mark bertanya, "Di rumah opera manakah pertunjukan yang menarik Anda itu?"

Yeri langsung mencari-cari rumah opera yang menjadi alasannya meminta Pangeran Mark menemaninya. Ketika ia menemukannya, ia melingkarkan tangan di siku Mark dan dengan bangga berjalan di sisinya.

Sesaat sebelum mereka memasuki gedung itu, Mark melihat kuda Jaemin masih ada di depan rumah border.

Itu bukan urusannya, Mark mengingatkan dirinya. Mark tidak mau tahu tapi sepanjang hari itu ia tidak dapat menghentikan dirinya sendiri berpikir bagaimana mungkin seorang anak meninggalkan ayah yang sangat mencintainya terbaring sakit di tempat tidur dan bersenang-senang dengan pria jalang di rumah bordir. Inikah yang dinamakan anak durhaka? Mark tidak dapat mengerti dan ia tidak habis pikir dibuatnya.

Memang seseorang tidak bisa menilai orang lain hanya dari penampilannya.

Mark ingat Jaemin begitu memukai di saat mereka bertemu. Rambut pirang pucatnya yang hampir putih, tertata rapi dan berhiaskan pernak-pernik batu mulia. Gaun biru mudanya senada dengan sepasang mata biru mudanya yang dalam. Bulu matanya yang lentik memahkotai sepasang matanya yang malu-malu. Bibirnya yang memerah tersenyum manis – memberi nuansa menyegarkan pada wajahnya yang manis. Gerakannya yang lemah gemulai begitu memukau. Suaranya yang lembut menenangkan pikiran. Tutur katanya lembut dan di atas semua itu, ia pendiam dan tidak banyak menuntut!

Mark sempat memberinya nilai wanita terbaik yang pernah ditemuinya. Ia mungkin memantapkan diri untuk memilih Jaemin kalau saja ia tidak tahu latar belakang Jaemin. Sekarang setelah melihat sendiri Jaemin mengabaikan orang tuanya yang sakit parah untuk tindakan yang terhina, Mark bersyukur atas mulut penggosip Yeri.

Di luar sana masih banyak wanita terhormat yang lebih pantas untuk mendampinginya. Mark tidak terburu-buru untuk menemukannya, ia masih punya banyak waktu.