Naruto Masashi Kishimoto

Inspire by Goong (Princess Hours)

Warning : fem!naru

Saat hanya akan ada airmata diantara kita. Aku mulai berpikir jika kita harus mengakhiri ini. Walau aku sadar, kita bahkan belum memulainya.

.

.

.

Naruto menutup sambungan teleponnya dengan Gaara dengan janji Gaara harus mengunjunginya jika pemuda berambut merah itu memiliki waktu.

Sementara itu Sasuke yang sedang istirahat tengah memperhatikan Naruto. Mulai dari ekspresi dan segala gerak tubuhnya. Siapa yang sedang si kuning itu telepon? Pikirnya. Namun lamunannya buyar saat dirasakannya berat disebelah kirinya. Ternyata Haruno Sakura.

"Kau sedang melihat apa? Sampai aku yang sedari tadi disebalahmu tidak kau perhatikan,"

Sasuke tersenyum kecil melihat sikap manja kekasihnya ini. Berbeda dengan Naruto yang walau hanya sekedar menatapnya saja enggan, Sakura bagaikan sebagian dari hidupnya.

"Bukan apa apa,"

Sakura mengangguk semangat dan berkata, "bagaimana jika kita makan siang di restoran kesukaan ibumu itu?"

Sasuke hanya mengangguk. Dan kemudian kedua pergi dari sana sambil bergandengan tangan tanpa tahu bahwa Naruto melihat keakraban yang keduanya perlihatkan di depan umum.

Bahkan di depan umum pun, aku masih bukan siapa siapa bagimu.

Naruto turun dengan langkah gontai dari dalam mobil. Sasuke tak pulang bersamanya. Bahkan sang Putra Mahkota tak menghadiri kelas terakhirnya siang ini. Sepertinya dia sedang pergi ke suatu tempat bersama Sakura.

"Putri Mahkota, dimana Pangeran?"

Naruto terlonjak takut. Tak menyangka jika sang Ratu akan datang ke Istana Hades, kediamannya dan Sasuke dan bertanya mengenai Sasuke.

"Pangeran sedang ada urusan dengan temannya, Yang Mulia Ratu,"

Naruto tau Ibunda Sasuke itu tak puas dengan jawabannya. Namun, sang Ratu hanya menganggukan kepalanya saja.

"Baiklah, kalau begitu segeralah membenahi dirimu, hari ini akan ada jamuan penting," titah sang Ratu.

Naruto hanya mengangguk dan membiarkan Ratu Mikoto berlalu dari hadapannya.

Sasuke melangkah memasuki Istana Hades. Salah satu istana terbesar di kerajaan Konoha. Kediamannya bersama sang Putri Mahkota.

"Pangeran, hamba ingin menyampaikan pesan dari Yang Mulia Ratu Mikoto, sebentar lagi tamu undangan akan segera datang. Anda diminta bersiap," Kasim Kakashi berbicara sembari mengikuti sang Pangeran.

Sedangkan Sasuke sendiri hanya mengangguk singkat dan berhenti di depan pintu kaca kamarnya, yang langsung berhadapan dengan kamar sang Putri Mahkota.

"Dimana Putri, Kakashi?"

"Putri Mahkota sedang bersiap dengan para dayang, Yang Mulia Pangeran," jawab sang Kasim.

Sasuke hanya mengangguk. Kemudian masuk ke kediamannya. Dan mulai untuk bersiap menuju istana utama. Tempat acara jamuan akan dilaksanakan.

Naruto masih sibuk dengan segala macam hanbok yang akan dipakainya untuk acara jamuan. Putri kerajaan Suna itu merasa, dirinya harus memberi kesan yang baik di jamuan pertamanya sebagai Putri Mahkota Konoha.

"Tuan Putri, Pangeran sudah menunggu Anda di depan," lapor salah satu dari dayangnya.

Naruto mengangguk saja. Dia itu masih fokus dengan hanbok yang akan dipakainya, yeah setidaknya itu yang terlihat. Namun nyatanya, gadis itu tengah melakukan kejadian tadi siang saat mendengar sesuatu mengenai Sasuke.

"Tuan Putri, hanbok mana yang akan Anda pilih?" pertanyaan kepala dayangnya itu membuyarkan lamunan Naruto.

"Bagaimana jika yang putih ini?" pilihnya asal. Walau ini adalah jamuan pertamanya, rasanya rasa semangat itu tadi lenyap dan hilang tertiup angin dan terbang entah kemana.

"Itu pilihan yang bagus, Tuan Putri." jawab salah satu dayang.

Dan Naruto akhirnya menyelesaikan pilihannya dan beranjak untuk menganti baju.

Sementara itu, sang Pangeran sendiri sedang asyik memperhatikan teras dari kamar sang Putri Mahkota. Nampak rapi juga tertata, tak lupa dengan banyaknya bunga yang ditanam, menambah kesan asri dari halaman sang Putri.

"Aku sudah siap, Pangeran,"

Suara yang selalu didengar oleh Sasuke belakangan hari ini membuat sang Pangeran menoleh. Dan di sana, berdiri sosok manis dan menawarkan Putri Mahkota yang tanpa sadar membuat Pangeran terpanah. Sasuke menggelengkan kepalanya pelan, seolah meraih kembali rasa terpanahnya.

"Baiklah, mari kita ke kediaman utama, Putri," ucap Sasuke setelah dia sudah bisa mengendalikan dirinya dari rasa terkesima. Pangeran Konoha itu mengulurkan tangannya untuk sang Putri, seperti hal yang memang sudah sewajarnya terjadi.

Naruto hanya mengangguk dan menerima uluran tangan sang Pangeran untuk berjalan bersama, layaknya pasangan.

Mereka berjalan dengan iringan dayang juga Kasim menuju kediaman utama. Di sana sudah nampak rami oleh para tamu undangan. Wajar saya, jamuan makan malam kali ini juga dimaksudkan sebagai pesta penyambutan sang Putri Mahkota.

"Semoga Putri bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan kerajaan Konoha. Walau sama sama kerajaan, tapi saya yakin Suna dan Konoha banyak memiliki perbedaan," Ucap Perdana Menteri Konoha, yang jika Naruto tak salah ingat bernama Hyuuga Hiasi tersebut.

"Saya pun berharap demikian, Perdana Menteri. Dan terima kasih kepada Hwangtaeja yang sudah membantu saya sejauh ini." ucap Naruto.

"Saya yakin Hwangtaeja-bi bisa beradaptasi dengan baik. Karena Hwangtaeja-bi sendiri adalah Putri Suna yang terkenal," sanjungan itu berasal dari istri sang Perdana Menteri. Sementara Naruto sendiri hanya tersenyum kecil.

"Gamsahamnida,"

Naruto mengamati sekitar. Menurutnya, acara jamuan yang di adakan Konoha tak jauh beda dengan yang ada di Suna. Namun, gadis itu sadar, jika di Suna setidaknya dia tak akan merasa sepi seperti ini dengan hanya duduk di tepi air mancur. Sasuke? Entahlah, dia juga tak tau sang Pangeran itu kemana.

Akhirnya Naruto memutuskan berjalan mengelilingi istana utama. Tanpa sadar kakinya melangkah menuju halaman belakang yang dipenuhi pohon sakura. Namun, bukan itu fokus mata Naruto. Melainkan, dua sosok manusia yang nampak duduk di bawah salah satu pohon. Sosok familiar dan menjadi bagian hidupnya selama beberapa hari ini. Sasuke Uchiha dan seorang lagi adalah Haruno Sakura.

Aku pergi sebentar menemui seseorang. Kau sebaiknya tunggu saja di sini. Ini urusan penting.

Kata kata Sasuke sebelum pergi tiba tiba teringat oleh Naruto. Ahh~ jadi ini urusan pentingmu, Hwangtaeja. Batin gadis itu miris.

Naruto segera berbalik dan kembali masuk. Sepanjang lorong, dia terus berpikir, aku sepertinya memang harus mengakhiri sesuatu yang bahkan, belum aku mulai.

Sasuke berusaha mencari Naruto diantara ribuan tamu undangan. Namun nihil. Padahal seharusnya mereka sudah harus kembali ke Istana Hades.

"Kakashi, apakah kau melihat Bi-gung Mama? Aku tak melihatnya sedari tadi. Padahal kami sudah harus kembali,"

"Maafkan hamba, Joenha. Namun, hamba juga tidak melihat Hwangtaeja-bi sedari tadi. Tadi hamba dipanggil oleh Hwangtaehu," jawab Kakashi.

Sasuke mendesah frustasi. Dimana kau Hwangtaeja-bi? Pikir Sasuke bingung.

Diambilnya ponsel dari saku jasnya dan kemudian mendial panggilan untuk Hwangtaeja-bi yang merepotkan itu.

"Hallo,"

"Kau dimana?"

"Kenapa tak memberi kabar? Aku frustasi mencarimu dari tadi!"

"Apa kau bilang?"

"Hei, Hwangtaeja-bi! Sialan! Hei!" sedetik itu Sasuke melupakan tata kramanya. Jawaban Naruto benar benar mengesalkan!

"Yah, ada apa?"

"Aku sudah kembali. (kau terlalu lama, batinnya),"

"Itu salahmu. Kau tak tau ada alat canggih bernama telepon yang bisa digunakan berkomunikasi jarak jauh?"

Belum selesai orang di sebrang sana berbicara, Naruto sudah lebih dahulu memutuskan sambungan teleponnya. Dia sudah terlalu lelah untuk bertengkar.

Tiba-tiba, ingatannya mengenai kejadian di halaman belakang muncul di benak gadis cantik itu. Rasanya, seperti ada sesuatu yang menggelik diperutnya. Dan rasanya, tak menyenangkan. Membuatnya sesak dan susah bernafas.

"Hwangtaeja-bi, air panasnya sudah kami siapkan,"

Ahh~ mungkin berendam bisa menghilangkan rasa aneh itu. Batin sang Putri.

Sekolah pun bahkan menjadi tempat baru yang membuat segalanya bertambah sulit bagi Naruto. Semua bisikan dan cemoohan itu kian hari, kian menjamur. Apakah sebegitu tidak pantasnya ia menjadi Putri Mahkota?

Naruto melangkahkan kakinya menuju atap yang berada tiga lantai dari kelasnya. Yang memaksa Naruto harus menaiki tangga. Karena lift sama saja dengan menambah beban dengan mendengar segala bisikan di belakangnya.

Sepanjang perjalannya, gadis itu merasa bersyukur. Untunglah dia menaiki tangga. Pemandangan yang disajikan dari kaca bening di samping tangga sungguh menakjubkan.

Namun, saat mencapai lantai empat, barulah Naruto sadari, jika di sana, dibawah pohon akasia di dekat lapangan basket yang terlihat dari atas, duduk dua sosok yang walau ingin ditepisnya, ia kenal dan sangat familiar. Sasuke. Lagi lagi sosok itu bersama Sakura. Dan keduanya tengah berciuman.

Rasa itu kembali hadir. Rasa sesak hingga rasanya sulit bernafas. Kenapa? Apakah aku mulai jatuh padanya? Apakah aku mulai menganggap jika ini bukan sandiwara lagi?

TBC

Ahh!!! Gimana? Harap kalian suka :)

Cerita ini, terinspirasi dari Goong By Park So Hee. Makanya aku lebih nyaman menggunakan istilah Korea dibanding Jepang. Lebih ngena aja pas nulis. Dan ini juga mengambil settings di sana sebenarnya.

dan bagi yang beranggapan aku bashing Sakura. aku emang gak suka dia tapi aku juga gak benci. bagi kalian yang tau drama ini mungkin bakalan ngerti, bahwa sakura di sini bukanlah perebut atau perusak. dia hanyalah gadis yang merasa bahwa cintanya diambil (awal nonton goong aku malah berpikir naruto/tokoh utama wanita yang jahat,)

Arti istilah

Hwangtaeja : Putra Mahkota

Hwangtaeja-bi : Putri Mahkota

Gamsahamnida : Terimakasih

Joenha : Yang Mulia

Bi-gung Mama : Yang Mulia Putri Mahkota