Disclaimer : I never own vocaloid. Tak akan pernah... *hiks*
e·qui·lib·ri·um [ee-kwuh-lib-ree-uhm, ek-wuh-]
noun, plural e·qui·lib·ri·ums, e·qui·lib·ri·a [-ree-uh].
1. a state of rest or balance due to the equal action of opposing forces.
2. equal balance between any powers, influences, etc.;equality of effect.
3. mental or emotional balance; equanimity: The pressures of the situation caused her to lose her equilibrium.
4. Chemistry . the condition existing when a chemical reaction and its reverse reaction proceed at equal rates.
Chapter 2 : Tiga Puluh Senti
Salju di bawah kembali berbisik,
"Tiga jiwa akan bersatu, kami dan dua
Yang mengatasnamakan debar dan lupa akan logika
Tak ada yang salah, tidak
Tiga, ya, tiga..."
Kami mendengar, kami memperhatikan.
"Tambah tehnya, Rin?"
Rin menggeleng, membiarkan Len kembali menaruh pot beruap itu di side drawer di samping tempat tidurnya. Pot keramik tersebut membuat suara ketukan lemah di atas kayu.
Len, Len. Aku ingin untuk bisa mandiri, kau tahu?
Rin mengenggam cangkir tehnya, seolah berharap dapat mendapatkan kehangatan yang lebih darinya. Dalam pantulan air cokelat tersebut, Rin melihat kembarannya menatap balik. Bergoyang seiring tangannya yang gemetar.
Menyisip tehnya sedikit, ia tercenung. Entah kenapa, untuk sesaat tadi pikirannya kosong, seolah ada yang memanggil... Tapi ia menghiraukannya, dan menaruh cangkir bermotif bunga sederhana itu di sebelah pot pasangannya.
"Kau menggigil."
Rin merasakan kontak di dahinya. Seketika, ia menemukan wajah Len di hadapannya. Kedua mata mereka, biru jernih bak lapis lazuli, saling bertemu. Kontak barusan ternyata tangan kanan Len, mengecek suhunya di balik poni pirang yang lepek.
Sahabatnya itu menghela nafas. Tangannya terasa dingin di atas alis Rin. Ah, tahukah lelaki itu, ia terlihat sangat tampan dengan ekspresi khawatir?
"Sudah, Len. Aku bukan anak kecil lagi," kata Rin, berusaha untuk tersenyum.
"Hangat. Apa obatmu sudah habis?"
"Baru tadi pagi... Tapi aku tak apa-apa, kok."
"...Rin."
"Kamu sedang kerepotan, kan... Berapa lagu untuk bulan ini?"
Len tidak menjawab. Sebaliknya, ia menarik tangannya dan berdiri. Mata biru itu keluar dari kamar, jaket cokelatnya yang kusam melambai sebelum menghilang dari ambang pintu. Suara-suara langkah dapat terdengar menuruni tangga, disusul dengan suara pintu ditutup samar-samar.
Giliran Rin yang menghela nafas.
Gadis itu mengedarkan pandangan di kamarnya - atau mungkin tepatnya, bekas kamar ibunya. Ayahnya menghilang sejak yang bisa ia ingat, tak ada sama sekali di ingatannya. Tak pernah menjadi masalah baginya.
Hubungannya dengan ibunya tak harmonis, kata orang. Tapi memang apa itu harmonis? Sejauh ini, tak ada yang ia keluhkan. Rin sudah tinggal terpisah dari ibunya sejak ia berusai empat belas tahun... Atau tepatnya, kabur dari rumah. Tapi ia puas dengan itu. Ia berhasil tinggal untuk sementara di rumah apoteker yang ia kenal dengan baik. Cukup nyaman, terutama karena kemudian Yuuma, dengan tangan peracik berbau kimia, berhasil mendapatkan kamar sewaan untuk Rin. Tempat yang akhirnya bisa ia panggil rumah, tempat yang damai dan hening. Rumah dimana tak ada pukulan, teriakan, atau perempuan mabuk yang membawa lelaki asing ke dalamnya.
Di sisi lain, Rin bisa menyanyi, dan dapat mencari uang sendiri. Cukuplah untuk makan. Orang-orang di jalanan tak sekikir itu untuk memberinya koin ke dalam kaleng bekas – lagipula, beberapa dari mereka memang suka dengan suara Rin.
Beberapa bulan sesudahnya, seorang wanita mengatakan bahwa ia tertarik. Awalnya Rin tidak mengerti, tapi kemudian ia menemukan dirinya dibawa ke belakang panggung. Kali itulah ia pertama berkenalan dengan Luka.
Ia pun bertemu gedung megah para Diva. Berjabat tangan dengan banyak penyanyi, dari Miku yang terkenal hingga para veteran Leon dan Lola. Termasuk ke dalam kelompok mereka adalah Len, yang menawarkan diri menjadi partner. Tidak seberantakan yang dikatakan orang, kan?
Ibu Rin meninggal saat usianya enam belas tahun. Menurut pria berjas yang waktu itu memperkenalkan diri sebagai pengacara ibunya, rumah lamanya kini haknya. Baiklah. Kemudian popularitasnya sebagai penyanyi muda meningkat. Partner duetnya kini menjadi sahabat terbaiknya. Jadi apa lagi yang kurang?
Kecenderungannya untuk jatuh sakit? Memang ada yang tidak wajar di sana. Sekali Rin terkena flu, Luka akan membatalkan jadwalnya untuk sebulan ke depan. Termasuk di dalamnya jadwal Len, karena mereka tahu tidak ada lagi yang bisa mengurus Rin.
Tapi itu sudah biasa, semua sudah biasa.
Rin menerima semuanya, di saat yang sama mempertahankan kemandiriannya. Semua sudah bisa ia lakukan sendiri, dan ia lega mengetahui bahwa ia bahagia, lebih dari yang pernah ia rasakan...
Paling tidak, itu setahun yang lalu.
Sekarang ia terkapar lemas, tanpa daya. Tahun lalu - tidak, lebih tepatnya sepuluh bulan yang lalu, di musim semi, Rin mendapati kepalanya berat. Ia tahu sebentar lagi ia akan sakit, maka ia segera menghubungi gedung Diva lewat Len. Yang ia tidak dapat tebak, sakitnya berlangsung hingga berbulan-bulan.
Tiga bulan di tempat tidur, barulah ia bisa kembali ke panggung. Namun entah kenapa, setelah dua minggu, gadis itu jatuh lagi, dan belum kembali ke bawah lampu sorot sejak itu. Len pun berhenti dulu menyanyi demi Rin. Sebagai gantinya, ia menulis lagu di rumah, membuat kord dan melantunkan nada di tengah mengurus sahabatnya. Semua ia lakukan di rumah Rin.
Rumah... Rin mengalihkan pandangannya ke jendela. Disibaknya sedikit tirai, untuk menampakkan bentangan putih di langit. Bunga-bunga es terjalin dengan indah di pinggiran kaca, menunjukkan dinginnya udara saat itu. Julai-julai bening menggantung di pinggir atap. Menakjubkan bagaimana bangunan kayu yang terlihat tua ini bisa bertahan.
Tak pernah ia merasa keberatan dengan musim salju. Tapi, dalam situasi seperti ini, ingin rasanya ia ingin membalik jarum jam. Tidak dengan alasan panas tubuhnya rasa itu ada. Ia memang demam, tapi ya sudah. Lebih karena Rin tahu kemana Len pergi - paling tidak, ia bisa menebak sahabatnya itu sedang mengarah ke apotik Yuuma. Atau ke rumahnya, atau dimanapun ia dapat menemukan sedikit jahe atau kayu manis untuk mengurangi demam Rin. Telinga gadis itu menangkap suara udara mendesis di luar. November yang beku, tapi Len ada di luar. Sendiri menembus gigitan angin dingin. Mengingat pakaiannya dan kesegeraannya tadi, mungkin tanpa syal dan sarung tangan.
Helaan nafas itu terdengar lagi. Satu-satunya yang ia sesali hanya rendahnya daya tahan tubuhnya, dan itu pun bukan dengan alasan ketidaknyamanan pada raganya. Sesal itu ada untuk Len, selalu untuk Len. Kenapa pemuda itu harus repot sendiri untuknya, kenapa penyakit selalu memutuskan untuk meminjam tubuhnya, kenapa ia tak bisa mandiri di subjek yang satu ini?
Untungnya, pemuda itu diberi karunia daya tahan tubuh yang luar biasa. Namun tetap saja... Bagaimana kalau nanti ia terkena radang beku yang dapat menyerang siapapun?
Lamunan Rin terputus oleh hembusan angin yang datang dari bawah, bersiul-siul di celah kayu. Menandakan pintu depan baru dibuka. Len baru saja pulang.
Ada beberapa suara gesekan, dentingan, dan ketukan di lantai dasar. Lalu desingan ketel menjerit-jerit mendidih. Lalu beberapa dentingan lagi.
Sekarang langkah-langkah di tangga yang terdengar, kali ini semakin keras, bukan meninggalkan lantai dua. Rin mengalihkan pandangannya dari jendela ke ambang pintu, dan sesaat kemudian, mata mereka bertemu lagi.
Len terlihat... kedinginan, sepertinya tak ada kata lain untuk mendeskripsikan keadaannya saat ini. Bibirnya berubah ungu pucat, pipinya merah. Dugaan Rin benar, ia tak mengenakan sarung tangannya, karena terlihat kuku-kukunya pun sewarna dengan bibirnya. Jaketnya lembap, menandakan bahwa sebelumnya ada salju di bahunya. Tangannya membawa pot dan cangkir baru.
"Untung Yuuma belum tidur."
"Len..."
Len menuang isi pot tersebut ke dalam cangkir. "Ini. Teh jahe," katanya, menyodorkan porselin tersebut.
Rin menerimanya, tapi tak langsung meminumnya. Pandangannya terpaku pada Len. Pemuda itu sedang melepas jaketnya dan menaruhnya di sofa, memperlihatkan sweter kerah-gulung hitam. Ia duduk di sebelah jaketnya sambil menggosok-gosokkan tangan. Sesekali ia akan melakukan hal yang sama dengan lengan atasnya, mencoba menciptakan sedikit kehangatan ekstra. Lalu, pandangannya menangkap mata Rin lagi.
"Rin... minum tehmu," senyumnya lembut. Bibirnya belum berubah warna.
Rin tak mampu memandangnya lebih lama lagi. Ia menunduk. "Bukankah kau yang lebih perlu teh panas?" Ada sensasi panas di pipinya, tapi ia memutuskan pasti itu hanya karena demamnya.
Len tertawa kecil. Rin mengalihkan fokusnya ke cangkir di pangkuannya. Jari jempolnya menyusur pelan mulut licin porselin.
Mendadak, kontak itu ia rasakan lagi.
Punggung tangan Len di dahinya. Mengusap pelan ke pipi, lalu leher Rin. Rasanya dingin sekali, beku itu belum mau keluar dari balik kulit Len. Warnanya masih pucat. Rin tahu, seharusnya dalam kondisi itu Len tidak memeriksa suhunya. Termometer alaminya sedang kacau, bingung menimbang. Hangat menjadi panas, dan panas menjadi membakar. Namun ia punya perasaan bukan itu maksud Len...
Tangan itu mendorong lembut dagu Rin untuk menoleh ke kanan. Wajah Len sekali lagi ada di hadapannya. Namun tawa kecil barusan lenyap, diganti wajah khawatir yang sama seperti sebelumnya. "Ah... aku lupa kompresmu."
"Kau—"
"Rin, kalau yang tadi kau maksud dingin, ini takkan berlangsung lama. Kau-lah yang harus lebih diperhatikan," tangan kirinya tiba-tiba ada di tangan kanan Rin, seakan membantunya menopang cangkir teh. "Lihat dirimu. Tanganmu gemetar, tehmu tumpah. Habiskan saja dan tidurlah."
Sesungguhnya, Len benar. Dada Rin terasa sesak, lehernya lemas, rasanya seperti tak mampu menanggung beban kepala sendiri. Berat sekali. Dan ternyata, tanpa sadar ia memang sudah menumpahkan beberapa tetes teh ke selimutnya.
Apa yang bisa Rin lakukan untuk membantu sahabatnya ini, selain untuk menurut? Diminumnya jahe itu, dan Rin merasakan kehangatan berjalan dari tenggorokan ke lambungnya. Setelah habis, Len mengambil cangkirnya. Rin mendapati dirinya letih, kelopak matanya meminta untuk menutup beberapa jam. Ia masuk ke dalam selimut dan membiarkan Len menutup bahunya. Kebiasaan lama.
Rin menatap wajah Len, matanya setengah menutup. Iris pemuda itu terlihat lebih cerah daripada cahaya kamarnya...
Satu meter.
Len mematikan lampu di langit-langit, meninggalkan satu lampu duduk di meja. Kuning remang-remang yang membuat bayangan memanjang. Len menggosok-gosokkan kedua tangannya lagi. Tentu saja, ia masih kedinginan... Rin ingin meraih sepasang tangan itu dan mengenggamnya, membuat suhu menjadi netral, panas tubuhnya merengkuh beku jemari sahabatnya. Bahkan dalam penerangan yang terbatas, masih terlihat bahwa kuku-kuku itu belum beranjak dari warna nila...
Rin melihat Len keluar dari kamarnya.
Lalu ia beranjak, berdiri, dan keluar menaiki tangga rumahnya, mencoba menyusul.
...?
Aneh, seharusnya rumah tua itu hanya memiliki dua lantai. Tetapi ia naik terus, terus, menapaki anak-anak tangga berwarna ungu... Kenapa, sepertinya tangga itu tak ada habisnya? Suhu udara mendadak lembap dan hangat, mengingatkannya akan musim panas. Dinding kayu sekelilingnya tak menyisakan ruang yang besar, yang memperparah rasa pengap. Ini panas yang tidak nyaman, dan mendadak Rin merasa haus.
Secercah cahaya terlihat di ujung tangga, beserta sebuah angin sejuk bak musim semi. Angin. Jalan keluar kah? Perhatian Rin teralih, dan ia mencoba berlari. Kakinya menurut, dan sesaat kemudian ia sudah begitu cepat hingga tangga tadi hanyalah kelebatan berwarna ungu dan nila.
Tiba-tiba betisnya bagai terbuat dari timah. Satu langkah – dua – tiga – dan dirinya terdiam, tak kuat lagi. Peluh menetes dari anak rambutnya. Ia masih ingin keluar, panas ini menekan paru-parunya, angin itu tinggal beberapa puluh langkah lagi. Tangan kanannya meraih sia-sia ke atas, dirinya berlutut tak berdaya...
Dan mendadak tangga itu runtuh, menelan dirinya ke kegelapan. Rin jatuh, angin panas berdesir menampar pipinya. Ia dapat melihat tumpukan salju – salju? – di bawahnya, mendekat, mendekat, semakin dekat, Rin memejamkan mata dan bersiap untuk tabrakan-
Tiga puluh senti.
Rin membuka mata dengan kaget.
"Rin!" Len tersentak, menjatuhkan sebuah handuk lembap ke hidung Rin. "Ah, kau... ya ampun. Kau membuatku kaget." Rin mengerjap, mencoba mencerna keadaan. Mimpi...?
Len memindahkan handuk itu ke dahi Rin. "Mimpi buruk?" Duh, wajah khawatir itu lagi. Dan apa Len baru saja membaca pikirannya? Rin menghela nafas, dan menjawab, "Ya." Ia terlalu lemas untuk menjawab lebih jauh, sepertinya.
Kompres itu hangat, basah, namun nyaman... Rin ingin tidur lagi. Tapi ada secuil takut duduk di belakang kepalanya, takut dan lelah akan banyak hal. Dingin. Tangga. Salju. Len. Demam. Len. Nila. Len. Len. Len.
Kenapa ia harus selalu ikut menanggung bebannya...?
Len menarik selimut hingga menutupi leher Rin. "Istirahatlah. Suhumu semakin panas, tapi be... "
Rin tak memperhatikan sisa kalimat Len lagi. Otaknya berjalan dengan demikian sederhana, yang ia perhatikan hanya dua bongkah lapis lazuli di hadapannya. Begitu dekat... Wajah itu begitu dekat...
Dari balik kelopak mata yang setengah tertutup, gadis itu menyadari segala detil di wajah sang pemuda, ya, hanya di wajahnya. Matanya perih karena demam, namun ia melihatnya. Sepasang pandangan berwarna biru, cerah di dalam remang ruangannya. Bulu mata yang sewarna dengan rambut diikat itu. Bibir yang sudah kembali ke warna asalnya. Pipi putih yang disusul sebuah rahang kuat. Rasanya, Rin dapat menghitung utas per utas poni yang menjuntai menutupi alis Len...
Perlahan, tanpa ia sadari, tangannya meraih telinga Len. Lemas, namun dengan pasti ujung jarinya menyentuh pelipisnya. Menariknya lebih dekat lagi.
Tiga puluh senti.
"Jangan kemana-mana..." ucap Rin lirih.
Sebuah anggukan menyambut, sebelum buram menyambut tidur.
N/A :
Tiga puluh senti dalam beberapa maksud.
LEN KASIAAAAAAAAAAAAAN /lahyangnulissiapaya :p
Rin pintar bersyukur, ya. Sepertinya enak menjadi pribadi sekuat itu.
Lembap, bukan lembab... Haih, sampai nyari ke KBBI online.
Review, flame, all accepted. I need some critics after all. Kalau pace-nya terlalu cepat, tolong bilang. Maaf N/A sepotong-sepotong nggak jelas.
Enjoy my galau-ness :")
Terima kasih~
Sang pemanggil... Begitu dekat kini, menarik jarak dari tiga puluh hari
Menjadi tiga puluh senti(meter)
Maka hitunglah, wahai hamburan pasir.
Hitunglah pasir kedua sejoli.
~starfingers/folia*
