WHAT ARE WE?
2018 © yeppeutta
[ Mature ; NSFW ; contains: blowjob ]
Bagi Soonyoung, pertemanannya dengan taruna bermarga Lee yang memiliki tubuh kecil dalam kelompoknya adalah pertemanan paling kompleks. Menjadi salah satu kawan yang berjuang untuk menjadi idola sejak lama, kemudian menjadi punya perasaan sama dengan tekad yang juga sama kuat. Lantas hal-hal membingungkan muncul karena Jihoon perlahan memberi perlakuan spesial dengan anti-skinship dalam tingkatan tinggi mengalahkan jumlah anti dari anggota lain, padahal mereka tergolong sangat dekat.
Sementara di satu sisi, Jihoon menilai pertemanannya dengan Soonyoung jauh lebih sederhana. Menurutnya, Jihoon memahami sebagaimana karakter pemuda itu dan gemar mengajak sosok yang kadang mudah terpancing kekesalan itu dengan gurauan lewat tindakan. Selain itu, karena sama-sama memiliki ambisi yang sama kuat, Jihoon lantas sadar bahwa ia memang cocok untuk menjadi kawan si Kwon tersebut.
Sedangkan dari sudut pandang anggota lain, kedua wira itu punya ikatan yang aneh. Terkadang keduanya amat dekat dengan tingkah Soonyoung yang senang menempel sementara Jihoon yang gemar menolak, lalu berubah menjadi saling diam dan tidak banyak interaksi seolah sedang bertengkar hebat. Bukan rahasia lagi jika Soonyoung tergolong salah satu anggota yang mudah kesal, persis seperti Jihoon pula. Namun masih terasa aneh jika memikirkan bahwa kesamaan yang keras justru alasan yang membuat keduanya dekat.
.
Pertemanan yang dekat itu makin lama makin jauh. Soonyoung menyadari betapa menariknya sosok Jihoon dengan kemampuannya membuat musik, sementara Jihoon terpesona pada bagaimana Soonyoung tanpa lelah membuat tarian terbaik. Soonyoung selalu ingin berteriak pada dunia betapa hebatnya sang produser Lee tersebut, sementara Jihoon selalu ingin menyuarakan ke semua orang bahwa Soonyoung tidak hanya bisa, tapi ia amat berbakat.
"Kita ini teman, 'kan?" Jihoon bertanya saat Soonyoung menemaninya dalam mengurus lagu terbaru. Bercerita bahwa kaki sang wira kelelahan digunakan untuk latihan dan ia ingin melihat si marga Lee. Dan yang paling inti, Soonyoung tidak sedikitpun menyapa pemuda itu, namun mendaratkan kecupan lembut pada pipi sang produser.
"Mm, tentu," Soonyoung mengangguk mendapati pertanyaan barusan, membuat senyum simpul seolah tidak ada apapun yang terjadi. "Bukannya kita memang teman sejak dulu, Jihoonie?"
Yang dipanggil menoleh, lantas menarik tengkuk pemuda lain untuk mendekat dan menyatukan bibir keduanya. Mencium dengan cara cepat namun berani, pun sedikit kasar dan menantang. Sosok itu mendesis kala bersuara, "Lalu kenapa kau menciumku untuk sebuah sapaan, Kwon Soonyoung?"
Kekehan meluncur halus tanpa ragu, disusul ciuman menjurus lumatan pelan pada bibir tipis temannya itu. Jemarinya tanpa ragu mengusap pipi yang tadi ia kecup dengan cara lembut, lantas menangkup wajah bulat itu hingga terlihat makin menggemaskan. "Karena kita teman," ia membalas dengan senyuman lembut dan dilanjutkan kembali dengan jilatan tanpa ragu pada bibir yang sempat ia lumat beberapa sekon. "Aku memperlakukanmu dengan manis karena kita teman."
Helaan napas keluar dari bibir Jihoon, pemuda itu nampak tidak puas dan setengah gusar. Boleh dibilang Soonyoung memberi jawaban yang pas, namun satu-satunya yang membuat hati terasa panas adalah, ia ingin terus menciumi bibir lembut dan menggemaskan milik si Kwon.
"Bibirmu," kembali desisan keluar, dan kali ini dilanjutkan ciuman cukup lama dengan tautan di bawah dominasi Jihoon. Dalam posisi masih saling menempelkan bibir, Jihoon melanjutkan, "Jangan menjauh."
Soonyoung tahu seberapa adiktifnya sebuah ciuman dan Jihoon membuat beberapa kembang api meletup-letup lebih kuat di perutnya karena kebahagiaan dikecup hingga pemuda itu lupa bahwa ada bibir lain yang bisa ia kecup selain milik Jihoon. Ia menyetujui soal bibir yang dilarang menjauh dengan menarik sosok kecil itu makin dekat, lantas kembali meneruskan ciuman hingga amat dalam dan basah.
Gigitan lembut, jilatan berani, juga kuluman penuh perasaan. Jihoon mendapati perlakuan terbaik hingga sempat hilang arah sebelum mulai memberi balasan untuk menyeimbangkan perlakuan Soonyoung.
Desahan lirih lolos di sela bibir yang bertautan karena lidah salah satu dari mereka menelusup masuk pada mulut lawan, mengeksplor rongga kosong di dalam dan membuat gerakan penuh dominasi yang menantang. Tidak mau kalah, Jihoon yang mulutnya dipenuhi lidah lawan main pun melilit kuat lidah yang ada di dalamnya. Membuat pergelutan yang sama-sama tidak mau kalah, membuat ciuman dalam jadi makin panas meski saliva sudah mengalir membasahi dagu keduanya.
"Ki– kita… teman, 'kan?" Jihoon berbisik dengan terbata di sela ciuman dalam mereka.
Suara ragu-ragu tanpa minat melepaskan ciuman pun membuat Soonyoung makin semangat mengerjai. Tangan pemuda yang berkesempatan mendominasi itu pun berpindah memegang pinggang sang wira, mengusap dan memainkan jemari di sana hingga desisan lolos dari si penanya tadi.
"Kita, teman?" ia justru membeo di sela tindakannya. Keraguan yang Jihoon nampakkan memancing hati Soonyoung turut meragu. Dada yang berdegub cepat karena ciuman dalam tersebut pun menyisakan sesak saking banyaknya kembang api meledak-ledak dalam tautan yang seakan-akan tidak ingin terlepas. Soonyoung turut merasakan bagaimana rasa takut entah akan kehilangan atau justru ketahuan.
Kekehan serak berpadu dengan desisan karena gigitan-gigitan pelan pada bibir sang puan, membuat ciuman dalam itu kemudian jadi lebih jauh lagi. Mengabaikan napas yang tersenggal dari kedua belah pihak dan justru menikmati sesak serta kesulitan bernapas. "Kita teman," ia kemudian menegaskan, seolah tengah mempertimbangkan jawaban yang pas untuk keduanya. "Ahh—tidak ada definisi lain."
Terlalu panas. Terlalu menggoda. Soonyoung tidak tahan untuk tidak merambat turun menciumi leher Jihoon, membuat bekas panas hingga yang diciumi bergetar. Lama-kelamaan bekas yang tersisa menjadi bercak merah lewat hisapan dan gigitan. Yang ditinggali tanda itu pun mendesis sambil menjengjangkan leher karena tindakan ahli dari si Kwon Soonyoung.
"Kau harum," ia berkomentar saat menghirup dalam bau tubuh Jihoon, juga dengan jemari menanggalkan kancing yang dikenakan sang produser. "Rasanya ingin menciummu lebih banyak lagi."
"Cium saja kalau mau," Jihoon menanggapi dengan seringaian. Desisan seketika berhenti dengan sosoknya yang langsung mendorong tubuh Soonyoung, membuat sosok itu bersandar pada bangku lalu menciumi leher jenjang sang wira.
Ia lantas mendominasi ciuman tersebut dengan kecupan-kecupan pada leher hingga bahu. Membuat gigitan serta hisapan pelan dengan cara sensual sampai keduanya sama-sama punya banyak bercak merah di leher masing-masing. Tanda yang terlalu jelas di sekitar perpotongan leher dari keduanya.
"Teman yang saling menandai," Soonyoung berkomentar di sela desisan dan napas yang agak tersenggal karena tubuh Jihoon di pangkuannya bergerak dengan cara mendebarkan, seolah dengan sengaja memancing sesuatu untuk naik ke permukaan.
Jihoon tidak berhenti, bekas-bekas merah itu terus bertambah pada leher Soonyoung. Bahkan pakaian pemuda yang memangku itu sudah tersingkap sana-sini karena jemari Jihoon dengan cekatan mempreteli kancingnya.
"Oh damn, Lee Jihoon!" taruna itu memekik tiba-tiba. Jemarinya meremas kuat pinggang sosok di pangkuan dengan netra menatap lurus ke dalam partnernya. "You touch me."
"My bad," sosok itu menjawab acuh, seolah mengabaikan tatapan penuh peringatan yang Soonyoung berikan dan justru makin semangat menggodai leher penuh bercak itu.
Hanya saja, Soonyoung tidak terima. Dibanting dengan cara sehalus mungkin tubuh mungil itu, terlentang di lantai studio yang dengan kurang beruntung beralaskan ubin dingin. Jihoon merintih, tapi Soonyoung tidak ambil pusing. Taruna itu justru berbisik sambil meremas kuat pantat yang di bawah, "Bad, bad, bad, bad boy."
Jihoon terkesiap mendapati remasan kuat di pantatnya. Netra itu membola hingga nyaris bulat dengan tatapan kaget yang lucu, "You call that, we are friend?" wira bermarga Lee di bawah pun mendesis jengkel, membuat tatapan tajam pada mata Soonyoung. "What kind of friend we are, if we did this?"
Soonyoung tidak peduli dengan suara penuh perlawanan, toh tubuh di bawahnya terlihat tidak member perlawanan berarti selain tangan yang menahan agar badan yang di atas tidak makin jatuh. Satu hal yang kemudian ia simpulkan, Jihoon hanya tidak mau tubuh itu ambruk di atasnya, bukan menolak posisinya.
"A friend who fuck," ia berbisik dengan nada rendah, lantas langsung melepas baju yang Jihoon kenakan. Dikecupinya dada putih yang masih bersih dari noda kontras seperti di leher. Membuat sosok itu penuh noda dan menghasilkan desahan halus karena sentuhan yang Soonyoung berikan dengan benar.
Jihoon tidak pernah tidak menyukai bagaimana Soonyoung menyentuhnya. Tidak pernah ingin mendorong tubuh itu menjauh meski seluruh syarafnya selalu ingin menolak sentuhan—hanya Soonyoung yang dengan ahli mengambil alih kerja otaknya dalam menerima rangsangan. Sang marga Lee menyukai bagaimana sosok itu membuat noda panas hingga bekas merah nyata di atas kulitnya meski kemudian membuat beberapa sudut terasa pegal kala disentuh. Soonyoung tahu betul bagaimana membuat Jihoon kalap dan menyukai apapun itu meski tidak ia sukai.
"Soonyoung," Jihoon memanggil, lantas tangannya begerak untuk turut menyingkirkan pakaian yang dikenakan pemuda itu. Membuat keduanya seimbang dengan pakaian atas yang tersingkap. Senyuman miring terukir pada bibir dari sosok di bawah, membuat seringaian kecil yang menantang seolah pemuda di atasnya tidak bisa melakukan apa-apa. "I thought you can touch me better, can't you?"
Mendapat pertanyaan retoris dari yang di bawah, sekaligus ekspresi meremehkan, tentu hal itu memancing Soonyoung untuk bergerak lebih liar. Dengan hanya mengeram rendah karena kesal, ia menurunkan ciuman makin ke bawah hingga bertemu pada ujung celana yang masih terikat. Soonyoung paham betul Jihoon meminta lebih, namun pernyataan penuh ejekan jelas membuat sosok di atas merasa kesal dan tidak tahan untuk tidak bergerak lebih jauh.
Saat tangan itu berhasil membebaskan celana yang dikenakan teman satu group-nya, ia tersenyum bangga. Dikecup lembut pusat gairah yang di bawah, lantas ditiup dengan cara menggoda.
Sensasi dingin sekaligus menggelitik menjadi satu. Jihoon dapat merasakan bagaimana Soonyoung membuatnya agak gugup dengan sentuhan dan membuat udara bersuhu rendah dalam ruangan seketika terlupakan. Tubuh itu serasa siap berkeringat banyak karena sentuhan lembut namun berani yang diberikan pada tubuhnya.
"Jihoonie my friend," Soonyoung memanggil sebelum kemudian langsung memasukkan senjata yang setengah mengeras itu ke dalam mulutnya. Membuat kuluman berani dengan hisapan-hisapan pelan yang menimbulkan desahan lirih dari sang pemilik. Seringaian puas terukir pada bibir yang sibuk menggodai milik Jihoon. Membuat gerakan sengaja menggoda lewat buaian lidah hingga yang di bawah mendesah keras di ujung.
Kepalanya pening dengan suara sebaik mungkin ditahan agar tidak ribut. Jihoon memahami bagaimana studionya kedap suara, namun harga diri terasa masih terlalu tinggi untuk sekadar mendesah hanya karena sentuhan awal pada miliknya oleh mulut hangat Soonyoung. Pemuda itu menolak kalah meski kepalanya sudah berkedut dengan bagian bawah seolah dapat meledak kapan saja saking nikmatnya sentuhan-sentuhan yang diterima.
Dan saat gelombang kenikmatan itu tiba, Jihoon setengah gemetar. Tubuhnya menegang untuk beberapa saat dengan punggung sedikit melengkung nyaris menyerupai busur, miliknya menyemburkan kepuasan dari perlakuan ahli mulut Soonyoung hingga rongga hangat itu penuh dengan cairan klimaks dari Jihoon.
"Mhh—sweet," pemuda itu tersenyum setelah yakin membersihkan semua klimaks yang dicapai oleh sosok di bawah. Tubuhnya kemudian merangkak naik untuk mengusap pipi memerah dari sosok yang baru sampai pada titik kenikmatannya. "Seorang teman yang sangat manis dan mendebarkan."
"Shut up," Jihoon mendesis jengkel. Pipinya mungkin makin memerah, tapi ia masih denial untuk sekadar menunjukkan respon bahwa ia menyukai apa yang Soonyoung lakukan padanya. Entah yang baru saja atau yang lalu-lalu pula.
Kecupan lantas mendarat pada bibir sedikit membengkak karena digigiti. Mengecup sosok di bawahnya sambil mengangkat tubuh yang terbaring di lantai untuk kembali ke bangku. "Aku pasti sangat menganggu lagumu, jadi ada baiknya segera kau lanjutkan."
Jihoon melirik tajam, tangannya sendiri bergerak untuk membetulkan letak celana karena rasanya memalukan pula jadi telanjang seorang diri. Setelah dipikirkan baik-baik, sepertinya ia memang memahami bagaimana kompleks sekaligus menyenangkannya hubungan yang mereka berdua jalin dan pahami betul-betul berdua saja. Kepala itu kemudian menoleh untuk menatap Soonyoung beberapa sekon dan bicara, "Bajuku, tolong."
— end.
[ writer's note ]
Ah, sebenarnya fiksi ini sudah saya bagikan ke beberapa teman yang saya tau, tapi dikarenakan ada seseorang yang minta terusan dari ending yang katanya kurang mantap, maka saya tulislah ini dengan lanjutan sedikit lebih panas. Ya... sedikit saja, karena saya gugup membayangkan SoonHoon this and that dengan universe as Idol. Aduh. Saya nggak sanggup...
Terus nih, saya ada draft sekaligus ide ff fluff... dan GS. Saya bingung ... apakah halaman tiap kumpulan oneshoot di sini bakal saya isi sama beragam jenis dengan warning yang tertera di judul dan beberapa keterangan soal isi fiksi saya tulis di head. Tapi sudah dua chapter isinya mature semua... aduh labil.
Tapi sepertinya memang bakal hanya saya post di sini beragam oneshoot itu deh. Jadi tunggu yang fluffy dan GS saya juga ya!
Oh iya... saya baru menyadari betapa indahnya komentar. Bikin saya semangat menulis lebih buanyak lagi. Jadi sepertinya saya mau minta komentar dari kalian deh huhu. Mau ya? Mau dong. Demi perkembangan cerita juga loh.
Omong-omong, terima kasih juga buat yang sudah meninggalkan komentar di chapter berikutnya! Semoga betah dan menyukai cerita-cerita saya. hehe. Luv!
