Sebelumnya :
Naruto sangat shok mendengar cerita tersebut, terlihat dari raut wajahnya yang campur aduk antara senang, sedih dan marah "a-aku a-adalah anak dari Yondaime Ho-kage?..." ucap Naruto terbata sambil meneteskan air mata.
"...aku tak tau harus bagaimana saat ini aku harus senang atau sedih. Senang karena aku adalah anak Hokage keempat atau sedih karena ayahku sendiri yang menyegel Kyuubi ke dalam tubuh anaknya sendiri" lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.
Kyuubi yang melihat jinchurikinya sedih jadi merasa iba, karena bagaimanapun dia juga yang membunuh kedua orang tua bocah tersebut "ayahmu hanya ingin kau menjadi shinobi yang kuat dan bisa melindungi orang-orang yang berharga bagimu, karena itu dia menyegelku ke dalam tubuhmu" ucap Kyuubi menghibur Naruto.
Naruto yang mendengar itupun menatap kearah mata Kyuubi untuk tidak percaya lalu tersenyum "ayah dan ibu sangat menyanyangimu Naruto dan mereka mewariskan mimpi mereka padamu" ucaap Rikudou juga berusaha menghibur Naruto.
"baiklah...aku akan meneruskan mimpi mereka berdua !" ucap Naruto semangat.
Rikudou Sennin lalu tersenyum tulus mendengar ucapan Naruto sedangkan Kyuubi hanya nyegir menunjukkan taringnya yang tajam.
'arigatou kaa-chan, tou-san'
Namun tiba-tiba rikudou berbicara pada Naruto "Naruto pejamkan matamu sebentar aku ingin memberikan seseuatu padamu" Naruto mengangkat sebelah alisnya tidak paham apa yang di ucapkan oleh rikudou.
"pejamkan saja matamu" perintah Rikudou, Naruto mengangguk lalu menuriti ucapan Rikudou.
.
.
.
DISCLAIMER : MASHASHI KISHIMOTO
AU
Rated : T
Genre : Adventure & Friendship
Naruto U. & Sasuke U. & Team 7
Warning : OOC, Semi-canon,Typo,abal Dsb...
Pair : Naruto x ? , Sasuke x ?
RnR
.
.
.
Naruto Rikudou
Chapter 2 : Impian Baru
.
.
.
Tampak Rikudou Sennin masih menyentuh mata Naruto dengan telapak tangannya. Terlihat sebuah cahaya redup muncul di telapak tangan Rikudou yang menyentuh mata jinchuriki ekor sembilan tersebut. Cahaya itu semakin lama semakin terang.
Tak berselang lama sang pendiri shinobi itu kembali melepaskan tangannya dari mata Naruto dengan senyum yang mengembang di wajah tuanya "...baiklah, sekarang bukalah matamu" ucapnya. Naruto perlahan membuka matanya, tampak raut wajah Naruto yang menunjukkan perasaan kaget serta takjub sesaat setelah dia membuka matanya.
"apa kau merasakan sesuatu dari mata barumu itu naruto..?" tanya Rikudou, Naruto menganggukkan kepalanya lalu menatap intens Rikudou Sennin "hm,ya...aku dapat melihat aliran chakra dari dalam tubuhmu" ucap Naruto menatap Rikudou dari atas hingga bawah.
"...itu adalah mata yang sama dengan mataku yaitu rinnengan. Dengan mata itu kau dapat menggunakan kekuatan six path, kelima elemen dasar serta ying, yang dan yin-yang."
Naruto yang mendengarkan itu hanya takjub dengan mata tersebut dan bergumam "kekuatan yang hebat.." hanya kalimat itu yang dapat diuucapkan olehnya.
"Kurama kau bisa mengajari Naruto tentang mengendalikan rinnengan, apa kau bisa..?" tanya Rikudou pada Kurama (kyubi), Kurama hanya mendengus dan menjawabnya singkat "ya"
"hah...siapa itu kurama..?" tanya Naruto bingung "Kurama adalah nama asli Kyubi yang aku berikan" Naruto hanya bisa ber'oh'ria mendengar jawaban yang diberikan oleh pak tua Rikudou.
"Naruto aku punya hadiah lain untukmu" ucap Rikudou sambil mengeluarkan sebuah gulungan dan membuka gulungan tersebut, setelah itu mencul asap dari gulungan tersebut. Setelah asap itu menghilang keluarlah beberapa senjata "ini adalah totsuka no tsugiri. Pedang ini mampu menyegel apapun yang ditusuknya. Dan ini kusanagi no tsugiri, pedang ini tidak seperti totsuka yang dapat menyegel. Namun pedang ini dapat menghantarkan elemen pengguna"
Naruto memandang takjub pada kedua pedang itu "wah...arigatou rikudou-jiji" ucap Naruto senang lalu mengambil pedang tersebut "sama-sama Naruto-kun" balas rikudou sambil tersenyum lembut pada Naruto "waktuku sudah hampir habis Naruto aku akan kembali.."
Naruto yang mendengar ucapan pak tua itu langsung mengalihkan pandangannya menatap wajah tua Rikudou "apakah secepat itu..?" tanya Naruto sedih karena baru saja mereka bertemu "ya.. karena chakraku sudah menipis. Aku yakin kau bisa membuat perdamain didunia ini Naruto" ucap Rikudou menghibur Naruto.
Naruto mengangguk lemah namun tak lama kemudian kembali tersenyum "baiklah...aku akan berusaha menjadi shinobi yang hebat dan menciptakan perdamain didunia ini" ucap Naruto penuh keyakinan. Rikudou tersenyum lembut mendengar tekad bocah berambut pirang itu "akanku pegang kata-katamu Naruto...dan selamat tinggal"
"ha'i" balas Naruto lalu perlahan tubuh rikudou bersinar dan perlahan menghilang 'arigatou jiji' lanjut Naruto dalam hati "hei Kurama apa kau akan mengajariku menggunakan rinnenganku sekarang..?" tanya Naruto pada Kurama setelah cahaya sudah menghilang sepenuhnya.
Kurama tampak sudah merebahkan tubuhnya bersiap untuk tidur"..nanti saja aku masih ngantuk, aku ingin tidur saat ini" balas Kurama malas karena masih ngantuk.
"huh..dasar rubah pemalas" balas Naruto langsung pergi dari tempat itu, namun tak sampai lima langkah di berhenti setelah memutar tubuhnya meghadap ke kurungan Kurama "hei Kurama... bagaimana cara keluar dari sini" tanya Naruto pada Kurama.
Kurama yang tidurnya di ganggu hanyan medecih kesal "pejamkan matamu dan berkonsentrasilah bocah" balas Kurama cuek, Naruto mendengus kesal lalu mengikuti apa yang di ucapkan Kurama.
.
.
.
RealWorld
Naruto POV
...
Perlahan kubuka mataku lalu kulihat sekeliling kamarku dan mataku tertuju pada jam weker kecilku yang berada di atas meja "..masih jam setengah enam pagi. Apa aku berkeliling dulu ya..?" ucapku entah pada siapa.
Kuturunkan kakiku dari tempat tidur lalu aku pergi kekamar mandi untuk membasuh muka sebentar, setelah aku selesai dari kamar mandi aku langsung pergi keluar apartemenku "Yosh... hari ini aku berolahraga dulu sebelum berlatih" ucapku semangat tiba-tiba aku mendengar suara berat yang memanggilku.
'hei bocah hari ini akan kulatih cara menggunakan rinnengan' ucap suara tersebut, dan ternyata Kurama "baiklah, ayo berangakat" balasku semangat lalu pergi meninggalkan apartemenku dan kulahkahkan kakiku di jalanan desa, aku dapat melihat orang-orang menatapku dengan pandangan benci serta jijik namun hal itu aku abaikan saja dan kupercepat langkahku menuju tempat latihan.
...
Normal POV
.
.
.
Skip time
...
...
-Ruang Hokage-
Tampak seorang laki-laki paruh baya tengah sibuk menyelesaikan laporan-laporan yang entah mengapa setiap hari laporan itu semakin menumpuk. Dialah 'sang profesor' Sandaime Hokage atau Hiruzen Sarutobi.
Hiruzen tampak menghentikan sebentar tugasnya lalu menyandarkan punggungnya ke kursi yang ditempatinya menghela nafas lelah "haahh... aku jadi ingin cepat-cepat pensiun menjadi Hokage. Andai saja Minato masih ada, saat ini mungkin aku sedang bersantai-santai dirumah".
"tapi kita belum menemukan calon hokage yang pantas menggantikan anda" balas sang asisten, Iruka sambil tersenyum.
Hiruzen kembali menghela nafas lalu memandang keluar jendela kearah patung wajah Hokage "Iruka" panggil sang Hokage memanggil asistennya itu.
"ya Hokage-sama" respon Iruka sopan.
"aku punya rencana untuk Naruto-kun..." ucap Hiruzen sambil menghisap cerutunya"rencana apa itu Hokage-sama?." tanya Iruka penasaran.
Hiruzen tampak tersenyum sebentar "aku ingin memasukkan Naruto ke akademi agar dia bisa bersosialisasi dengan anak-anak seumurannya dan bisa menjadi shinobi yang hebat, seperti yang Minato harapkan." ucap Hiruzen, Iruka hanya mengangguk setuju dengan rencana Sandaime "hm...aku setuju dengan rencana anda Hokage-sama"
Hiruzen lalu membalikkan badannya menatap Iruka "besok tolong beritahu Naruto-kun tentang ini, dia pasti sangat senang" ucap Hiruzen.
Iruka mengangguk "baiklah, Hokage-sama.." balas Iruka sambil sambil merapikan berkas-berkas laporan yang ada di meja Hokage.
.
.
.
-Di tempat Naruto-
Tempat yang di gunakan sebagai area latihan oleh Naruto tampak sudah tidak karuan lagi. Terdapat banyak lubang disana-sini "hah... hah ...hah ...berlatih menggunakan kelima elemen ini cukup sulit hah.. hah ...hah ..aku baru sedikit menguasai elemen angin" ucap Naruto sambil mengatur nafasnya.
'istirahatlah dulu Naruto kau sudah kelelahan' kata Kyuubi melalui pikiran Naruto "baiklah.." balas Naruto sambil berjalan mendekati sebuah pohon besar yang terdapat di tempat latihan tersebut.
Sejenak Naruto memandang langit yang tampak cerah hari ini 'indah..' pikir Naruto, lalu Naruto perlahan menutup matanya.
Setelah hampir dua jam terlelap Naruto kembali membuka matanya lalu berdiri dari posisinya berniat pulang "hoam...aku lapar sekali, mampir ke ichiraku dulu ah!." ucap Naruto.
Di tengah perjalanan menuju warung ichiraku Naruto tidak sengaja melihat seorang anak kecil seumuran dengannya tengah duduk sendirian di tepi danau 'siapa anak itu.?...sepertinya dia ada masalah' pikir Naruto lalu berjalan menghampiri anak tersebut
"hai... kenapa kamu sendirian disini?" tanya Naruto pada anak itu, anak tersebut memiliki rambut hitam dengan gaya mirip seperti...pantat ayam.
Anak tersebut hanya diam tidak memperdulikan sapaan dari Naruto, Naruto yang tidak mendapatkan respon lalu bertanya sekali lagi "hai... kenapa kamu sendirian disini?... dan siapa namamu?" tanya Naruto lagi namun tetap saja tidak ada jawaban dari anak berambut raven itu.
Naruto yang kesal akan pertanyaannya yang tidak digubris anak raven itu lalu berbicara lagi dengan marah-marah "hei...jawab pertanyaanku !" ucap Naruto sambil menunjuk-nunjuk anak tersebut.
Anak tersebut menolehkan kepalanya menghadap Naruto lalu membalas ucapan Naruto "hn. bukan urusanmu" jawab anak itu dingin.
'hm...dari tatapan matanya aku dapat melihat dia mempunyai dendam yang kuat, namun terlihat rasa sedih yang mendalam pada anak itu meskipun sedikit' pikir Naruto mencoba mencari tahu permasalahan anak raven itu.
"oi... kau menyebalkan sekali sih !" ucap Naruto kesal karena bukan mendengar jawaban yang dia ingin dari anak itu "tidak ada gunanya berbicara denganmu" balas anak itu.
"aku tau kau ada masalah... jika kau ingin bercirita, aku siap mendengarkannya." ucap Naruto sambil tesenyum, "lagi pula jika aku ceritakan padamu kau tidak akan mengerti, Dobe" balasnya sambil menekankan kata terakhirnya.
Naruto yang mendengar kalimat terakhir yang diucapkan anak itu tadi, senyuman diwajahnya tadi langsung menghilang dan wajah Naruto merah padam menahan amarah yang meluap-luap dan muncul kedutan di dahinya lalu membalas ucapan Sasuke "hei...apa kau bilang, Teme?"
Muncul kedutan dikepalan bocah berambut raven tersebut namun dia tetap tenang "hn... D-O-B-E" ulangnya penuh penekanan pada kalimat 'dobe' Naruto yang mendengarnya hanya mendengus kesal lalu diapun menghela nafas "hah...percuma berdebat denganmu, Teme. Kau bisa cerita padaku mungkin aku bisa membantumu?" tawar Naruto lagi.
Anak itu terlihat tengah berpikir tentang sesuatu 'mungkin dia bisa membantuku'. "hn... semua keluargaku telah dibunuh oleh orang yang sangat aku kagumi." Jawabnya datar.
Naruto tampak tersentak mendengar pengakuan dari anak didepannya itu "hm... pasti kau sangat kesepian. Lalu siapa yang melakukan semua itu?" tanya Naruto.
"yang melakukan semua itu adalah anikiku sendiri." ucapnya penuh kebencian saat mengucapkan kata 'aniki'.
Naruto tampak menundukkan kepalanya "hm... lalu apa yang ingin kau lakukan?" tanya Naruto lagi "aku ingin membalaskan dendam klanku dengan cara membunuhnya" jawab anak itu dingin sambil menatap datar danau didepannya.
Sementara itu Naruto terlihat diam sebentar dan masih menundukkan kepalanya, lalu berkata lirih "mungkin... aku bisa mengerti penderitaanmu"
Anak itu langsung menatap tajam Naruto "hn. kau tidak pernah mengerti apa yang aku alami" balasnya setengah membentak "aku mengeri, aku bisa mengerti perasaanmu karena dari kecil aku sudah tidak mempunyai orang tua. Hanya Hokage-jiji dan Iruka-sensei yang merawatku" ucap Naruto balas membentak.
Naruto diam sejenak lalu melanjutkan ucapannya "setidaknya kau masih lebih baik dari pada diriku. Kau masih bisa merasakan kasih sayang orang tua dan kehangatan keluarga. Sedangkan aku... aku tidak bisa merasakan itu semua bahkan aku tidak mengenal orang tuaku...
...sejak lahir aku sudah ada di panti asuhan, namun sejak aku berumur lima tahun aku sudah di usir dari sana. Aku sangat kebingungan harus bagaimana terlebih lagi semua warga di desa ini sangat membenciku karena aku jinchuriki dari Kyuubi.." ucap Naruto dingin.
Anak itu tersentak mendengar pengakuan dari Naruto, namun dia hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya "kau jangan pernah dibutakan oleh rasa dendammu itu, aku yakin anikimu sangat menyanyagimu. Mana mungkin anikimu membunuh keluarganya sendiri tanpa alasan, aku yakin dia mempunyai alasan melakukan itu semua.
Jika kau mau kita bisa menjadi sahabat, jadi kau tidak kesepian lagi" ucap Naruto sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Sasuke terlihat diam saja tampak tengah mempertimbangkan ajakan Naruto.
Namun perlahan dia mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Naruto. Naruto hanya tersenyum lima jari sedangkan anak itu tampak tersenyum simpul "oh ya... kita belum memperkenalkan nama kita masing-masing. Perkenalkan namaku Naruto, Uzumaki Naruto." ucap Naruto memperkenalkan diri.
"..aku.. Sasuke, Uchiha Sasuke." balas Sasuke, Naruto hanya nyegir senang sedangkan Sasuke kembali tersenyum simpul "baiklah... mulai Sekarang kita sahabat" ucap Naruto semangat sambil mengarahkan tinjunya keatas.
"baiklah, aku pulang dulu Sasuke" ucap Naruto sambil melangkah pergi dari tempat itu. Sasuke yang melihat Naruto sudah berlari menjauh hanya menatap punggung anak itu dengan perasaan senang dan lega.
'arigatou... Naruto. Aniki aku akan mencaritahu tentangmu dan impianku sekarang adalah membawamu pulang' batin Sasuke sambil mengangkat bibirnya membentuk sebuah senyuman tulus yang jarang diperlihatkannya semenjak kejadian beberapa tahun lalu.
.
.
.
-Apartemen Naruto-
"TADAIMA..." terdengar suara saat pintu apartemen itu membuka, tapi tidak ada balasan dari dalam apartemennya. Naruto terlihat lesu saat melangkahkan kakinya kedalam apartemen miliknya tersebut 'tetap sepi, seperti biasanya..' batin Naruto sedih.
Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari dalam apartemen Naruto. Naruto yang mendengar langkan kaki mendekat menjadi penasaran, tiba-tiba muncul seorang laki-laki berambut coklat dan dikuncil keatas serta memiliki luka melintang di hidungnya, orang itu adalah Iruka "okaeri Naruto.." ucapnya.
Naruto yang mendengar ucapan selamat datang tersebut hanya mematung di tempatnya tampak dia tidak menyangka ada yang menjawab salamnya "Naruto, ada apa denganmu?" tanya Iruka khawatir melihat ekspresi dari Naruto.
Naruto langsung menggelengkan kepalanya "tidak apa-apa, aku hanya senang. Ini pertama kalinya ada yang menjawab salamku saat aku pulang" ucap Naruto, Iruka yang mendengar jawaban Naruto hanya bisa tersenyum lalu mengacak-acak rambut Naruto.
Bagi Iruka Naruto seperti adiknya sendiri, jadi dia sangat khawatir jika terjadi apa-apa pada Naruto, Naruto yang diperlakukan seperti itu hanya nyengir selebar-lebarnya "ne~, Naruto aku mempunyai kabar gembira untukmu." ucap Iruka.
Naruto yang mendengarnya terlihat penasaran, tidak sabar lalu bertanya kabar apa yang dibawa oleh Iruka "kabar apa Iruka-sensei?."
Iruka lalu tertawa "hahaha... kau selalu tidak sabaran Naruto..." ucap Iruka meberi jeda sejenak lalu melanjutkannya "kau di daftarkan oleh Hokage-sama untuk masuk ke akademi." sontak Naruto langsung melompat lompat gembira lalu memeluk Iruka.
"arigatou Iruka-sensei, aku akan belajar dengan giat agar menjadi shinobi yang hebat dan menjadi Hokage yang melampaui Hokage-Hokage terdahulu serta membawa kedamaian di dunia" ucap Naruto sambil tersenyum.
Iruka yang mendengar ucapan Naruto hanya bisa tersenyum tulus dan mendukung impiannya tersebut "aku percaya kau bisa Naruto... besok akademi sudah dimulai. kau jangan terlambat ya!" ucapnya.
"ha'i" balas Naruto.
"baiklah ayo kita makan dulu, aku sudah membawakanmu makanan" ucap Iruka "apa ada ramen?" tanya Naruto. Iruka kembali tertawa mendengar pertanyaan dari Naruto "hahaha... tenang saja mana mungkin aku lupa dengan makanan favoritemu"
"baiklah ayo" ucap Naruto sambil menyeret Iruka ke meja makan, Iruka yang di perlakukan seperti tiu hanya tersenyum 'anakmu sangat ceria Yondaime-sama. Aku berjanji akan menjaganya seperti adikku sendiri' batin Iruka.
.
.
.
To Be Continued
