A/N: Fic ini merupakan sekuel dari serial utama "Chronicle Parabellum" yang belum selesai Ane publis. Adapun kemiripan plot yang dimiliki oleh Fic ini merupakan murni penyesuaian. Sedangkan untuk even-even yang terjadi di Fic ini merupakan ide dari Ane. Selebihnya merupakan sumber referensi yang Ane gunakan untuk kepentingan Fic ini.
.
.
.
Perbatasan [Kekaisaran Suci Asura], lima tahun setelah invasi yang pertama…
[Dragon Road], satu-satunya jalur penghubung antara [Kekaisaran Suci Asura] dengan [Republik Rakyat Krisna], merupakan sebuah celah raksasa yang menembus [Pegunungan Hinalaya], sebuah pegunungan karang yang membentang dari timur ke barat dan menjadi pembatas antara kedua negara. [Dragon Road] yang merupakan satu-satunya jalan memasuki [Asura] dari [Krisna] ini memiliki jalur berkelok-kelok sepanjang ±50 km. Di tiap sisi jalan berdiri tebing-tebing raksasa yang curam. Di beberapa sisi juga terdapat jurang berbatu cadas. Jalur ini cukup terjal dan berbahaya untuk ditempuh.
Di jalur inilah tampak rombongan konvoi prajurit militer bergambar [Palu, Arit, & Bintang] dengan background berwarna merah terang, lambang [Novaya Krisna], berjalanan beriringan menyusuri jalur dengan hati-hati.
Tampak di depan rombongan ada sepuluh buah Tactical Surface Attacher (TSA), [Hyperion HEV-05], bergerak perlahan dengan membawa gatling-gun. Mecha dengan tinggi delapan meter ini dipiloti oleh satu orang yang duduk di kokpit di bagian dadanya. Rudal jarak pendek berjumlah sembilan buah bertengger di punggungnya. Di belakang barisan [HEV-05] terdapat hampir dua puluh halftrack yang mengangkut ratusan pasukan droid dan bahan logistic serta mesiu.
Rombongan halftrack ini dikelilingi oleh mecha defender [Molus MV-03B] di sebelah kanan dan kirinya. Mecha setinggi lima meter ini membawa senjata mesin dan menggendong sepuluh roket anti-roket [Aegis]. Di belakang halftrack tampak tiga puluh tank tempur [Avengers AV-30] berjalan beriringan. Mereka dikawal oleh lima heli tempur [Helios HM-26] yang terbang berhati-hati agar tidak menabrak dinding cadas di sekitar mereka sambil mengawasi parameter.
Di halftrack terdepan, duduklah dua orang dengan pangkat militer tertinggi dalam konvoi itu, Kolonel Naruto Minatovich Kozlov & Kolonel Emiya Kirisugov Rulin.
Halftrack yang mereka tempati telah dimodifikasi menjadi kendaraan khusus untuk para perwira dengan tempat duduk dan sandaran yang nyaman. Kolonel Naruto duduk dekat jendela sebelah kiri. Mata biru langitnya menerawang ke dinding cadas yang mengurung mereka. Wajahnya yang keras dan kaku menunjukkan begitu banyaknya pengalaman pertempuran yang telah dia lalui. Bekas luka yang memanjang di pipi kirinya semakin menegaskan hal itu.
Sebenarnya Naruto baru berusia dua puluh lima tahun. Karir militer dia mulai di usia dua belas tahun sebagai prajurit dua. Selama sepuluh tahun di militer dia telah melalui banyak pertempuran menumpas pemberontak dan pengacau keamanan di wilayah [Novaya Krisna].
Pada usia dua puluh tahun pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan oleh Presiden Illyana berkat kesigapannya menggagalkan kudeta yang dilakukan oleh para pemberontak.
Selama setahun pengalamannya di invasi ini dia telah memimpin banyak misi di berbagai belahan dunia dan diangkat menjadi Kolonel. Karena prestasinya yang sangat luar biasa dia direkomendasikan naik pangkat lagi setelah misi penaklukkan perbatasan ini selesai.
"Anda lapar, Kolonel?"
Kolonel Emiya menawarkan sepotong sandwich ikan segar kepada Naruto. Pria yang dipanggil menatapnya sambil tersenyum.
"Tidak, terima kasih. Aku sudah makan di perjalanan tadi malam."
"Dengan apa? Ramsum perang?" Yang ditanya tersenyum lagi.
"Ramsum perang bukanlah makanan yang baik untuk tubuh kita. Memang betul makanan ajaib itu mengandung banyak nutrisi dan vitamin dan bisa membuat kita merasa kenyang dan berenergi, tetapi kita manusia biasa harus tetap makan makanan normal, kan?" Emiya menyerocos sambil menggigit sandwich yang tadi ditawarkannya kehadapan Naruto.
"Tapi memang di situasi perang seperti saat ini kita butuh makanan sialan itu. Entah sejak dua belas tahun di militer aku sudah biasa memakannya. Aku khawatir di saat tuaku nanti aku lupa gimana rasa sandwich ini…"
Naruto tidak begitu menghiraukan ocehan Emiya. Dia hanya menatap dinding cadas di pinggir jalur yang mereka lalui.
"Tinggal [Asura], satu-satunya kerajaan di dunia ini yang tidak mau tunduk kepada kita." Naruto bergumam sendiri. Emiya menoleh memandangnya.
"Sudah tiga bulan sejak kita menginvasi [Asura] pertama kali. Kita baru bisa merebut daerah pinggiran. Cukup sulit masuk ke dalam. Pesawat tempur kita yang membawa bom [Meteorit] tidak mampu menembus kota-kota di wilayah [Asura] karena kekuatan sihir pelindung mereka yang sangat hebat."
"[Rho Alias]…?" celetuk Naruto.
"Ya, itu seperti kubah besar, yang menyelimuti satu kota, semua rudal dan bom kita tak mampu menembus dan menghancurkan kubah itu." Emiya berkata sambil memakan potongan terakhir sandwichnya.
"Pada akhirnya kita harus menaklukkan negeri ini dengan berjalan kaki." Sambungnya, Naruto hanya tersenyum.
Beberapa menit berjalan mereka akhirnya keluar dari [Dragon Road]. Padang rumput yang luas menyambut mereka. Dari dalam Naruto bisa melihat kumpulan tenda berdiri di padang rumput itu. Itulah tujuan mereka, Kamp Pertahanan 4905, garis depan pasukan [Novaya Krisna] di perbatasan [Asura].
Kamp ini sudah menyerupai kota kecil dengan tenda-tenda berderet di tiap penjurunya. Aktivitas pasukan yang sedang berlatih dan berjaga-jaga dengan kendaraan tempur berat dan mecha defender meramaikan kamp ini.
"Kita sudah sampai, Kolonel", ucap Emiya sambil menoleh ke para prajurit yang sudah siap menyambut mereka. Halftrack mereka memisahkan diri dari rombongan lalu bergerak menuju tenda utama. Tampak Letnan Erik Krazis siap menunggu di depan kamp.
"Selamat datang di Kamp Pertahanan 4905, Kolonel Naruto Minatovich Kozlov dan Kolonel Emiya Kirisugov Rulin", ucap Letnan Erik tegas sambil memberikan hormat. Naruto dan Emiya yang keluar dari halftrack langsung membalasnya singkat. Mereka lalu dibimbing memasuki ruangan kantor di tenda utama itu.
Tetapi, belum selangkah mereka bergerak, langit di atas mereka mendadak berubah. Langit biru tenang tiba-tiba bergolak menjadi pusaran gelap. Sebuah lubang yang dipenuhi api muncul dari pusaran itu. Semua penghuni kamp menjadi panik. Terdengar suara sirene bersahutan dan keributan prajurit.
Naruto menoleh ke langit, dia melihat pemandangan mengerikan yang baru pertama kali dia lihat sepanjang hidupnya. Lubang berapi di langit itu bergolak, memunculkan sosok pria berkuda yang muncul dari lubang api itu.
Sosok itu dan kudanya memakai jubah besi zaman dulu. Mata penunggang itu merah menyala, menatap kamp di bawahnya lekat-lekat dengan nafas memburu. Dia memegang tombak di tangan kanannya. Kuda yang ditungganginya berlari kencang menjejak udara kosong, turun menuju bumi, ke arah kamp itu, dan meninggalkan jejak api di belakangnya. Mereka terus bergerak kencang ke arah para prajurit dan perwira yang terheran melihat sosok aneh itu.
"Ap–apa itu?"
"Monster… pasti monster yang dipanggil pasukan [Asura] untuk menghancurkan kita." Tukas Emiya, "Sial, aku belum pernah melihat makhluk macam ini selama invasi. Ini pasti teknik baru untuk menghancurkan kita!"
Letnan Erik menyuruh para perwiranya untuk bersiap melakukan penyerangan terhadap penunggang aneh itu. Para mecha tempur, [Hyperion], sudah bersiaga, begitu pula tank dan heli tempur yang ada. Mereka siap melepaskan tembakan.
"Tak semudah itu menghancurkan kita, Kolonel Emiya. Pasukan, TEMBAK MONSTER SIALAN ITU !"
Perintah keras yang muncul dari mulut Letnan Erik langsung diikuti dengan terjangan ratusan roket yang meluncur dari punggung [Hyperion]. Heli tempur [Helios] juga melepaskan tembakan dari senapan mesinnya sekaligus roket jarak pendek yang bertengger di lengannya. Tidak ketinggalan roket serbu dari mecha defender Molus dan tembakan meriam dari moncong tank [Avengers]. Tembakan mengerikan itu menyerbu penunggang kuda itu dan meledakkannya di langit.
"Berhasil!" seru Erik. Sedangkan Naruto merasakan tidak yakin.
Dari kepulan asap ledakan, sosok berkuda itu muncul. Dia sama sekali tidak terluka seakan-akan ada perisai yang melindunginya dari ledakan dahsyat itu.
Para perwira dan pasukan disana melongo.
"Jangan berhenti! TEMBAK!" teriak Erik. Pasukan kembali menembaki sosok itu dengan membabi buta. Tapi dia tidak bergeming. Penunggang dengan kudanya yang aneh itu terus bergerak ke bawah sambil mengambil ancang-ancang hendak melempar tombak.
"TEMBAK! TEMBAK TERUS!"
Penunggang itu melempar tombak ke arah salah satu tenda.
'DUAAAAAARRRR!'
Tenda itu meledak. Ledakan sangat dahsyat hingga menghancurkan tenda-tenda di sebelahnya dan mecha yang tengah bersiaga di dekatnya. Para prajurit yang ada di sana terlempar karena angin ledakan. Tak terkecuali Naruto, Emiya, dan para perwira yang lain.
"Berlindung!" teriak Naruto. Para prajurit droid melindungi mereka dengan terus melesatkan roket mereka ke arah sosok itu.
Tak lama kemudian penunggang dan kudanya berhenti di udara. Tembakan yang ditujukan padanya terus berlanjut tanpa henti. Di tangan kanannya mendadak muncul pedang api dari udara kosong. Sosok itu menatap salah satu [Hyperion]. Dia lalu mengibaskan pedangnya ke arah mecha itu. Tak ayal, [Hyperion] dan beberapa tank [Avengers] yang bersiaga di sampingnya langsung terbelah dua dan meledak berkeping-keping terkena angin hempasan dari pedang penunggang itu.
Pasukan yang ada di sekitarnya berlari kalang kabut. Sosok itu mengibaskan pedang apinya ke arah lain lagi. Puluhan tenda kecil yang menjadi barak prajurit hancur lebur.
Api berkobar di mana-mana. Para prajurit berusaha memadamkan api yang mencoba membumihanguskan tenda-tenda yang ada. Pasukan tempur terus menembaki sosok yang tengah berdiri di udara itu yang sedang asyik mengibaskan pedangnya secara membabi buta ke arah mereka. Dan sosok itu tetap tidak terluka sedikitpun.
Sosok itu kembali mengibaskan pedangnya ke arah helikopter tempur yang menyergapnya. Tak lama, benda itu terbelah dan meledak di udara. Dia mengibaskan pedang ke arah belakangnya, tak ayal puluhan halftrack yang sedang parkir hancur dalam kobaran api. Dia mengibaskan lagi ke arah samping kirinya, puluhan [Avengers] dan pasukan droid langsung hancur dan hangus terbakar. Dia mengibaskan pedangnya ke arah yang dia suka, dan kehancuran menyambut sasarannya. Hampir semua bagian kamp itu sudah hancur terbakar.
"Kita tak bisa berbuat apa-apa. Suruh pasukanmu mundur!" teriak Naruto kepada Erik.
"Ta–tapi…"
"Kita harus mundur. Makhluk itu akan menghancurkan kita semua!"
Letnan Erik bergeming. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang luar biasa. Menyadari bahwa baru pertama kali sepanjang pertempuran yang pernah dia alami, dia bisa dimusnahkan semudah ini.
"Suruh pasukan mundur." Ucapnya lemas kepada salah satu perwiranya.
"Anda juga harus mundur, Kolonel, mari!" Erik mengajak Naruto dan Emiya menuju tenda terjauh yang masih aman dari serangan sosok itu. Di dalamnya terdapat pesawat penyelamat. Mereka langsung memasuki pesawat penumpang yang ramping dan kecil itu.
Sosok itu langsung melempar pedangnya hingga mengenai kumpulan mecha defender yang langsung meledak dan hancur. Dia lalu menengadahkan tangan kanannya di udara. Dalam sekejap muncullah tombak yang tadi dibawanya dalam kobaran api. Sosok itu memandang kamp yang dikacaukannya dan tampak berniat ingin segera menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Dia lalu melemparkan tombaknya tepat di tengah-tengah kamp itu.
"SHAAAAAAA!!"
Cahaya terang menyilaukan mata muncul dari arah kamp itu, membuat suasana hening sejenak. Beberapa saat kemudian, muncullah ledakan maha dahsyat. Ledakan itu kemudian mengikis habis dan menghancurkan tenda-tenda serta semua prajurit yang masih hidup. Mengelupas semua yang ada disana dengan api yang sangat panas hingga tidak tersisa. Tak ada yang selamat, semuanya lenyap menjadi abu. Untunglah pesawat penyelamat yang ditumpangi Naruto dan rekan-rekannya berhasil terbang menjauh dari arena ledakan itu.
Dari jendela pesawat, Naruto bisa menyaksikan ledakan yang sangat dahsyat itu meluluh lantahkan kamp mereka. Dia terkagum. Ledakan itu menyerupai ledakan yang dihasilkan dari bom [Meteorit] milik mereka. Agak lama terpana, tiba-tiba dia dikejutkan oleh guncangan. Ternyata gelombang ledakan yang luar biasa membuat pesawat yang ditumpanginya berguncang keras. Guncangan itu mengakibatkan sirene darurat pesawat berbunyi dan pesawat kehilangan kontrol.
Naruto yang selama penerbangan menatap jendela tiba-tiba melihat sosok. Penunggang kuda itu. Monster yang telah menghancurkan kamp mereka. Dia muncul dari cendawan raksasa yang tercipta dari ledakan tombaknya, berlari menjejak udara kosong mengejar pesawat mereka. Naruto melihat kobaran api di tangan kanannya yang kosong, yang kemudian menjelma menjadi sebuah pedang. Pedang itulah yang lalu dikibaskan ke arah mereka.
Naruto tidak ingat apa-apa lagi sesudah itu.
…
