Disc: BoBoiBoy © Animonsta Studios

Warn! Teen!Boboiboy Elemental, Fang, Yaya, Ying, and Gopal. Semi romance. Typo. [BoldItalic] for message. Italic for electronic voice. AU. No power.


Kehidupan tragis sudah menjadi nama tengah ketiga saudara yang terpaksa satu atap karena tiada sosok wanita. Saling membantu. Terpaksa mengerjakan apa yang harusnya tangan wanitalah yang harus menangani pekerjaan itu—misal mencuci baju, memasak. Bahkan peran laki-laki sebagai pencari nafkah juga masih digelut, setelah sebelumnya lelah harus mengerjakan tugas yang seharusnya diemban kaum hawa.

Sebenarnya ada yang lebih berat dari sekedar hidup tanpa orangtua, namun sekarang yang difokuskan adalah kehidupan mereka sehari-harinya.

Namanya saja bertahan hidup, apapun harus dilakukan.

Biasanya, ada dua kategori manusia saat dihidangkan masalah sulit. Satu, dia menganjarkan manusia lain agar ikut merasakan pedih yang dirasakannya selama bertahan hidup. Dua, dia berusaha untuk melakukan budi pekerti agar tidak ada yang sepertinya.

Dan Gempa sudah menetapkan satu dari kedua pilihan itu. Ia berjaga sampai tengah malam hanya untuk menulis rancangan. Siang langsung beraksi di lapangan. Sisa waktu digunakan untuk mengetik. Entah setelahnya membuka email dan langsung mengirim via nirkabel, atau meminta Air mengantarnya pada pondok dimana berkasnya harus berdiam.

Semua itu ia lakukan bukan hanya sebatas mengasihani orang agar tidak hidup sulit sepertinya. Walau sebagian iya.

Tapi ia mencintai 'mereka'. Tidak ingin melunturkan harapan mereka.

Jika suatu saat 'mereka' mulai ragu keberadaan akan Tuhan, atau ragu pada keputihan hati mereka.

=oOo=

"Halilintar-chan yang lagi masak, apa kabar?"

Pada ruang dapur, pemuda beriris biru laut itu terkekeh setelah menggoda kakak tengahnya. Halilintar yang kelihatan serius memasak masih juga fokus menatap wadah yang ada di atas kompor.

"Air-kun bangun pagi?"

"Tolong hentikan obrolan wibu itu."

"Eh, yang menyapa embel-embel gadis tadi yang duluan siapa, ya?"

"Loh bukannya kakakku yang lahir duluan dariku ini jarang mau digurau?"

Gempa yang terlihat masih memakai piyama—sama dengan Halilintar dan Air—masuk dalam ruang dapur. Kedua tangannya ia angkat lalu meregangkan tubuhnya.

"Hoamm~ Pagi yang sejuk ya, langsung kedapatan dua adik ribut," sindir Gempa. Sampai pada meja makan dimana Air berada, ia menarik salah satu kursi disana kemudian mendudukinya.

"Aku sebenarnya mau tidur lagi, tapi hari ini aku terjaga pagi karena dibangunin kakak galak sana," desis Air. "Mukaku dibanting sama bantal."

"Kebiasaan bangun telat nanti rezeki dipatok ayam," sahut Halilintar yang ternyata menguping keluhan Air.

"Fuh."

Air melipat kedua tangannya kemudian menjadikannya sebagai alas bantal ke depan. Bertumpuh pada meja makan berlapis kain polos.

"Benar kata Halilintar. Air, kamu jangan kebiasaan kebo nanti pacar jauh loh."

"Hmm."

Gumaman kecil, hanya itu balasan Air.

"Banyakan tidur nanti pipi tembem loh," tambah Gempa lagi.

"Tidur itu obat murah untuk menyembuhkan penyakit."

"Ngomong rasional nomor satu, tapi gak seimbang sama penerapannya," kembali Halilintar membalas.

"Sudahlah, Halilintar. Kasihan Air kamu pojokin terus."

"Hmph."

Sudip digunakannya untuk mengangkat telur goreng dalam penggorengan, juga meniriskan minyak-minyak yang masih terkandung olehnya. Gempa memilih bangkit dari kursi lalu berjalan menuju rak piring. Diambilnya tiga keping piring dimana kemudian ia mendekati Halilintar.

Pemuda beriris merah delima itu mengerti. Ia menaruh telur setengah matang pada piring teratas yang dibawa Gempa. Sisa dua telur yang belum dipecah. Tengah cangkang telur ia ketuk pada ujung sudip pada tengah penggorengan. Setelah terpecah sepertiga, Halilintar menggunakan kedua tangannya untuk membuka si cangkang kuat. Isinya keluar, menampakkan kemilaunya inti dari sekitarnya yang bening menjadi tampak.

"Hari ini menunya telur setengah matang saja, Halilintar?"

"Makan pagi yang ringan saja dulu."

"Ya sudah deh. Nanti kalo siang aku menagih menu besar, ya?"

Halilintar menoleh pada Gempa, "Maunya apa?"

"AKU MAU PIZZA!"

Halilintar dan Gempa menoleh pada suara seruan tba-tiba. Air mengacunngkan tangannya bersemangat.

"Eh barusan kulihat orang disana lemas, deh," Gempa tahu Halilintar pasti akan bertutur pedas kembali. Jadi dia menyerobot dengan membuka obrolan manis—semoga.

"Uangnya? Jangan minta sama Gempa," seperti yang diharapkan Gempa. Walau Halilintar masih terdengar menyindir, sih.

"Katanya boleh request. Jahat."

Gempa tampak lelah, raut wajahnya kusut. "Daripada itu, siapa yang mau antar aku lagi tugas hari ini?"

"Aku!"

Serempak Halilintar dan Air mengajukan diri. Sadar karena jawaban mereka berdua sama, keduanya langsung bertatap tajam.

"Akulah!"

"Aku saja!"

Padahal Gempa berniat menengahi dengan menawari hal seperti itu guna mencerahkan pertengkaran kecil antara Halilintar dan Air. Tapi apa boleh daya, tidak ada salah satu diantara mereka ingin mengalah.

Gempa hanya bisa menghela napas.

=oOo=

Air punya personaliti yang cukup irit bicara. Makanya kalau dibanding sekarang, dahulu dia orangnya tertutup lagi pendiam. Cuek akan urusan berat. Walau hobinya masih serumpun dari dulu sampai sekarang—tidur sampai 12 jam sehari.

Sekarang dia berbanding terbalik ketika dihadapkan wajah Halilintar. Dia sedikit sewot.

Gempa tidak tahu apa yang menyebabkan adik bungsunya yang biasa kalem itu jadi sedikit mirip temperamental mirip Halilintar. Mengingat saat masih sekolah dasar saja, Air itu tidak bisa melawan temannya yang meminta contekan pekerjaan rumah. Air adalah orang yang takut untuk menyakiti perasaan seseorang secara langsung.

Ya, awalnya Gempa sempat curiga bahwa Air tahu sesuatu alasan Api dan Taufan pergi. Khusus kepada Api. Kalau bisa diberi tanda petik dua pada nama laki-laki yang memengaruhi hidup Air itu. Tapi tidak. Air bahkan tidak tahu apa yang membuat dia—Gempa sendiri, sampai berkelahi dengan kedua saudara itu.

Api adalah sosok berharga di depan mata Air sendiri. Saudara kembar yang terlahir tidak lama keluar setelahnya yaitu Air. Meski Api tua beberapa detik, tapi sebenarnya mereka berdua itu setara. Tunggu, Gempa, Halilintar, dan Taufan juga terlahir dalam waktu dekat. Tapi Gempa memang paling dahulu hadir.

Mungkin dalam negara mereka sendiri, kelima saudara yang hidup bersama sampai beranjak dewasa hanya mereka. Dahulu ada rumor mengatakan, saudara kembar tidak boleh saling bersama karena mereka bisa saling menyukai. Tapi Gempa mengelak legenda yang dari pandangannya sendiri itu mitos. Kalau ditanyakan alasannya apa saja, Gempa bisa memberi alasan bejibun.

"Paman?"

Pemuda yang dipanggil paman itu ia geleng. Kedua matanya yang tampak serius dari tadi, kini membesar.

Ada sosok perempuan dengan poni rata menatapnya cemas. Ia mengenakan pakaian terusan tipis yang dibalut jaket agar tampak sopan. Posisinya dalam berjongkok, berlawanan dengan orang yang ia tegur dimana posisinya duduk pada kursi tamu.

"Eh? Ah—maaf. Paman sedikit ngantuk."

Gempa menghela napas pelan. Melamun saat bekerja? Ini bukan style Gempa biasanya. Sudah berapa menit ia kuras? Sudah tahu misinya itu hanya mengunjungi klient tanpa sepengetahuan pihak lain, dan kemungkinan waktu luang seperti itu jarang sekali ada. Kalau dia bekerja begini terus, bisa-bisa misinya tidak akan sukses.

"Ibu kemungkinan memang lama baru datang. Barusan beliau telepon."

Pemuda bertopi terbalik itu tertegun. Bukan karena arti bahwa waktu luang Gempa bisa menjalankan misinya semakin panjang—walau mungkin itu bisa sedikit menambah persen. Hanya saja ada yang salah dari ekspresi anak di depannya.

Mungkin saat pertama ia datang—tepatnya kemarin—wajah anak itu memang datar sekali. Tapi hari ini seperti ingin melupakan sesuatu yang tidak bisa dilupakannya. Ekspresinya nyata sekali berubahnya.

"Sebenarnya ibumu ada di rumah berapa lama setiap harinya?"

Gempa langsung menatap anak tersebut yang sudah lain ekspresinya. Hanya ingin memastikan tidak ada karangan atau hal-hal yang perlu disembunyikan.

"Maaf ya paman, ibuku memang jarang di rumah."

"Yang melakukan ibumu. Kau tidak perlu minta maaf."

Senyuman lembut langsung Gempa sunggingkan pada dua sudut bibirnya. Perempuan bernama Farah itu diam. Ia merasakan hal aneh yang sepertinya terasa nyaman dari aura paman di depannya itu. Berbekal keyakinan bahwa orang di depannya baik, Farah mencoba terbuka. Perempuan itu duduk pada kursi teras yang tersisa.

"Sejak tidak ada lagi bapakku hidup, keluargaku kelihatan hancur. Kakak pergi, ibu jarang di rumah."

"Kau menjaga rumah setiap hari sendirian?"

"Engh... gak lama sih. Nanti sore ibu biasanya pulang. Tapi kalau pulang nanti jalan lagi."

"Jadi kamu jarang main ke rumah teman ya?"

"... ," Farah terkekeh. Dengan cara seakan memaksa. "Hahaha, iya. Farah udah biasa kok. Farah dibelikan boneka banyak sama ibu juga."

"Paman dulu gak punya teman juga. Paman ga punya ayah sama ibu."

"Loh jadi yang rawat paman siapa?"

"Paman mantan anak panti asuhan dulunya."

Farah manggut-manggut mengerti.

"Ingat tidak, dahulu saat kecil kamu suka main apa sama ayahmu?"

"Main kartu."

"Mau main? Paman juga mau coba main. Siapa tahu punya anak kayak Farah nanti."

"Uhh—"Farah tampak malu-malu. Merasa namanya disebut. "Tapi kartunya dibuang ibu."

"Sayang sekali..."

Pemuda itu paham kalau berlama-lama pada rumah orang, ia pasti akan dicurigai. Langsung saja Gempa bangkit dari kursinya, dan secara tidak sadar matanya bertemu dengan sampul yang tidak asing di matanya. Kertas dengan sampul gambar anak-anak sedemikian penuh—namun tidak menutup seluruhnya. Dikemas dengan latar dan judul sampul yang indah dipandang.

"Oh Farah punya buku majalah anak-anak?"

"Iya!" ucap Farah antusias. "Itu Farah beli supaya gak bosan di rumah."

Sambilan itu Gempa membuka lembar demi lembar halaman itu. "Wah bukunya bagus."

"Bahkan disana punya rublik 'Kepada Paman Baik'!"

"Eh itu rublik apa?"

"Gini paman, jadi kita itu sebagai anak-anak bisa ngasi curahan hati. Sekarang 'kan zamannya teknologi, tapi rublik sana gak mau pake gituan. Musti surat ngirimnya."

Lagi-lagi Gempa duduk pada kursinya. Paham akan Farah yang sepertinya lagi dalam masa mood mengobrol.

"Dia itu cantumin kolom dari siapa dan alamatnya. Biar bisa saling berbagi."

"Kamu suka rublik gituan?"

"Suka dong paman! Sekarang sudah zamannya orang ngambek gak mau ngomong, tapi main kesal aja lewat status. Pas tahu ada rublik gituan, jadinya anak-anak zaman sekarang gak ketergantungan dunia maya. Ya, Farah sih liatnya kalo ada gituan jadi kita bisa saling terbuka."

"Pernah ngirim kesana emangnya?"

Reaksinya langsung diam. Seharusnya Gempa tidak perlu bertanya hal itu sekarang. Namun pemuda itu berpikir lagi, waktu yang tepat untuk menanyakan hal pilu baiknya ada disaat ia enak mengobrol. Kesannya akan beda.

"... baru saja sih ngirim. Dua hari lalu."

"Ohh gitu."

Mau tahu kesan orang yang tengah mood mengobrol tiba-tiba ditanya hal pribadi bagaimana?

"Farah ngirim tentang masalah keluarga Farah."

Biasanya, orang seperti itu akan mudah terbuka. Kau tidak perlu memutar otakmu lagi hanya untuk mencari pertanyaan yang pas dengan apa jawaban yang kau mau cari. Gempa hafal sekali dengan situasi seperti ini.

"Tentang gini... Farah kan anak yatim sejak sekolah dasar... lalu Farah punya masalah kenapa gak bisa nangis saat liat muka bapak sendiri..."

"Pertanyaannya bermutu juga."

"Makasih paman," Farah menyumbingkan senyumnya. Ia semakin yakin bahwa sedikit terbuka pada orang yang bersamanya tidak masalah. "Jadi, Farah takut punya kelainan gak nangis waktu depan bapak. Farah keknya orang jahat ya..."

Lagi-lagi pantat ia naikkan. Gempa tidak lelah bergerak, walau sebenarnya sudah lelah melakukan naik-turun kursi.

"Itu gak salah, Farah."

Kini ia menekuk kedua lututnya kemudian berjongkok. Gempa mengelus kepala anak kecil yang masih umur awal pubertas itu.

"Percayalah, kau pasti melakukan hal tersebut karena masih merasa ayahmu ada. Tapi saat kau merasa ada kekurangan dalam kehidupanmu, kau akan sadar kemudian. Ada yang salah. Dan itu adalah, ayahmu yang kini tidak lagi bisa membuatmu tertawa."

Bibir perempuan itu gemetar. Ia merasakan sensasi lain setelah mendengar ucapan Gempa. Begitu lembut, dan hangat rasanya.

"H—hiks!"

Farah menyeka airmatanya beberapa kali. Berusaha keras untuk tampak tegar. Namun ia tidak bisa. Bulir airmatanya terlalu banyak mengalir. Tangannya sampai dirasa basah dan lengket.

"Kau tahu kenapa kau tidak bisa menangis? Kau saat itu masih kecil. Kau bisa merasakan ayahmu masih bersamamu. Beliau memelukmu. Menahan tangismu. Namun ia hanya diberi kesempatan tipis untuk bisa di dunia. Hingga Tuhan mengumandangkan waktunya habis, beliau terpaksa harus meninggalkanmu. Beliau tidak bisa lagi menyeka tangisanmu."

"J—jadi gitu ya—hiks! Maaf, Farah kira Farah anak aneh—ibu bilang Farah orangnya susah beremosi! Hiks!"

Disana, Gempa mengelus belakang punggung anak itu. Membelainya.

"Jangan merasa bahwa mereka ikut mengabaikanmu, kalau kau mengacuhkan mereka sejenak..."

=oOo=

"Hari ini misi berhasil dengan bekal airmata, paman redaksi?"

"Heh, ojek. Diam sana."

Hari ini Gempa sedikit jengkel. Lagi-lagi disupir Air, tadi Farah menempelkan wajahnya pada jaket kesayangannya ketika bertugas, sekarang—

"Aku tadi kesandung saat berlari kesini. Telat amat lapor emaknya udah ada! Nyaris ketahuan aku datang kesana bukan karena nyari ibunya!"

"Mana kutahu, aku tadi beli susu kocok pas mau masuk ke mobil kelihatan deh ada ibunya mau datang."

Starter mobil dinyalakan. Air menggerakkan stirnya lalu menjalankan mobil tersebut pada jalanan terbuka. Gempa yang duduk pada kursi tengah, memilih untuk menyandarkan punggungnya. Bersantai sejenak daripada mempersalahkan Air yang sudah keseringan lalai menjalankan tugas.

"Anak kesepian. Dia bahkan tidak tahu dia orangnya seperti apa."

"Sudah dibilang 'kan, kenapa tidak mengajukan untuk penambahan rublik uji sifat pada perusahaan magangmu itu?" balas Air yang menyetir begitu konsentrasi.

"Kalau gitu biasanya antara anak-anak tidak tertarik baca, atau orangtua yang isi jika itu berhadiah."

"Susah sih ya."

Gempa menolehkan kepalanya pada kaca mobil bagian kiri. Beberapa kios dan pepohonan dilalui mobil tersebut begitu laju.

"Dari awal Halilintar 'kan sudah bilang, kalau tugasnya hanya memuat surat... ya surat aja..."

"Kau tidak mengerti, Air...," Gempa mendongakkan kepalanya. Belakang kepala bersandar pada sandaran kursi mobil. "Aku ini juga sekalian mengumpulkan survei..."

"Ingatlah, pekerjaanmu cuma mengetik dan menerima surat pembaca... mobil saja pinjaman dari pimpinan perusahaan."

"Argh, aku pusing ah! Pengen tidur!"

Air berdecak sendiri. Kalau Gempa sendiri sudah badmood untuk diajak berbincang, apa boleh buat. Yang bisa Air lakukan hanya mengendarai terus mobil yang disetirnya.

'Kalo sama Halilintar baru mungkin bisa. Mana bisa aku keras hati.'

To be Continued

A/N: Ada yang bisa tebak pekerjaan Gempa? Then, kalau ditanya urutan lahir mereka: Gempa – Taufan – Halilintar – Api & Air. Kalau ditanya kasus Api dan Taufan... masih rahasia author~

Saran dan kritik sangat diterima!