Jazdia Crystalspark membuka kelopak matanya yang berat dan bangun dengan perlahan. Pintu kamarnya diketuk dengan irama pelan namun terdengar sama menganggunya dengan teriakan.

"Nona Jazdia…" Sebuah suara halus bernada rendah memanggilnya dari luar. "Aku harap kau tidak keberatan jika aku menganggumu terlalu pagi."

"Aku keberatan!" Jawabnya dengan suara parau. Matanya memandang ke jam kecil di mejanya, sudah pukul 9 pagi, dia hanya tidur 2 jam lebih lama dari biasanya tapi dia merasa seperti bangun dari kematian.

"Reese!Ini hari Minggu!" Lanjut gadis itu lagi. "Minggu adalah hari libur hampir diseluruh penjuru dunia!"

"Ya, aku tahu." Pria dibelakang pintu menjawab dengan nada yang sedikit canggung. "Tapi tamu ini orang yang sangat penting, dan dia ingin bicara denganmu sesegera mungkin."

Jazdia tidak segera menjawab. Dia tidak ragu soal seberapa penting tamu yang datang kali ini, tapi ayolah! Tidakkah mereka seharusnya memberinya satu hari saja dalam seminggu untuk bermalas malasan?

Rasanya jawabannya tidak.

"Jika boleh," Kata Jazdia, mencoba sebisa mungkin untuk menjawab dengan sopan." Bisakan kau beri aku waktu setengah jam untuk bersiap?"

"Okay."

Dengan malas Jazdia bangkit dan duduk di tepi kasurnya, menoleh sebentar ke cermin besar yang terpasang di dekat lemarinya. Gadis pirang yang menatap balik kearahnya terlihan asing, berantakan dan letih.

Beberapa bulan ini terasa begitu melelahkan. Ada banyak kasus yang ditangani agensinya, dan hampir semuanya melibatkan dirinya sebagai seorang investigator lapangan. Sejak agensinya membongkar sebuah konspirasi yang melibatkan dua petinggi dari Stormwind, klien-klien dari berbagai negara berdatangan ke kantor mereka dengan kasus-kasus baru, yang pada akhirnya membuat dia dan rekan-rekannya kewalahan.

"Ah terserahlah!" Ujarnya gusar sambil melangkah pelan ke kemar mandi.

_

Jazdia berdiri di luar pintu ruang pertemuan, mencoba sejenak mengusir rasa malasnya dan mencoba bersikap lebih siap. Tangannya mengetuk pintu, kemudian dia masuk.

Semuanya sudah disini. Dia mengambil tempat duduk di dekat rekannya Reese, dan segera menemui sorot mata tajam dari seniornya, Norrington. Pria paruh baya itu hanya menatapnya, memberikan sinyal non-verbalke gadis itu kalau dia sedang gusar atas keterlambatannya.

"Jadi… bisa kita lanjutkan?" Seorang yang asing berbicara dari sudut meja pertemuan mereka. Dia terlihat rapi, dengan setumpuk kertas dokumen, koper hitam dan sebuah kaca mata baca di dekatanya, dia hampir terlihat mirip seperti manusia pada umumnya, hanya telingnya yang pendek dan dua taring yang mencuat dari lipatan bibirnya yang membuktikan kalau dia orc.

Norrington mengangguk, dan orc tadi mengeluarkan serangkaian foto buram dari kopernya. "Kejadiannya kemarin malam," Katanya. "Yang terbunuh adalah salah satu jendral kami, Garthok Wofgang, dia dilumpuhkan oleh sepasang panah sebelum akhirnya ditembak dari jarak dekat."

Jazdia memandang foto itu sebentar, dan mulai berpikir kalau dia akan ditugaskan lagi untuk investigasi pelik yang mungkin bisa sangat berbahaya. Atau penuh konspirasi politik,namun sebelum dia berpikir terlalu jauh, orc itu melanjutkan.

"Kami percaya kalau pembunuhan ini direncanakan oleh pihak aliansi Eastford. Seperti biasa, mereka membantah tuduhan kami padahal bukti yang ada cukup jelas."

"Dan bukti apa maksudmu?" Tanya Jazdia.

"Peluru yang digunakan untuk menghabisi Garthok adalah senjata pengembangan dari Broadwealth, bukankah para dwarf beraliansi ke Eastford?"

"Namun senjata-senjata itu dijual bebas dipasaran." Jawab Reese. "Apa menurutmu tidak ada motif lain?"

"Soal itu kami tidak tahu." Orc itu menutup kopernya. "Pengembangan kasus ini mungkin akan berbeda dari apa yang sekarang bisa kami simpulkan, itu alasan kenapa kami datang kemari dan pengembangan kasus ini akan menjadi tanggung jawab kalian. Norrington, aku harap kasus ini cepat mencapai titik temu. Beberapa petinggi militer mulai tidak sabar dan ide-ide soal perang muncul. Kalau memang ini tidak seperti yang kami duga, aku harap penyelidikanmu cukup meyakinkan sebelum Chieftain kami merobek-robek traktat perjanjian dengan pihak Eastford ."

"Aku mengapresiasi langkahmu untuk tidak buru buru bertindak." Kata Norrington. "Kau bisa mengandalkan kami."

"Tiga minggu, kami harus sudah menerima hasil investigasinya." Kata orc itu. "kecuali kalau keadaan memburuk, lebih cepat lebih baik."

Orc itu berdiri, menunjukkan tubuhnya yang tinggi dan kekar. Sejenak dia mengangguk, memperhatikan wajah agen-agen yang mengikuti rapatnya.

"Siapa yang akan kau tugaskan?"

Norrington memutar pandagannya kearah Jazdia, seperti yang gadis itu sudah duga.

"Agen Jazdia Crystalspark akan memimpin penyelidikan secara langsung. Pastikan dia mendapat semua akses informasi yang dibutuhkan untuk investigasi ini."

Sejenak orc itu terpaku diam di tempatnya.

"Chief…"

"Aku paham…" Jawab Norrington cepat, sambil berbalik kea rah gadis itu. "Soal pertemuan tadi kan?"

Jazdia mengangguk.

"Karena klien kita kali ini dari Orsetia, kau merasa keberatan dengan misi ini, iya kan?" Tebak Norrington seolah dia punya kemampuan telepati. "Ternyata kau tidak lupa sejarah."

Jazdia terdiam, jawaban darinya tetap tersimpan di hatinya. Ada banyak cerita kelam yang dengar dengar bagaimana brigade penakluk dari Orsetia membumihanguskan kota Nimrais dan membunuh hampir seluruh penduduknya. Dan dia adalah salah satu dari sedikit yang selamat dari genosida itu albeit saat itu dia masih terlalu kecil untuk mengingat apapun.

"Memang menunjukmu sebagai investigator sudah menuai pertentangan." Kata Norrington. " Aku dan klien kita sudah bicara tadi, dan dia memang meragukan apakah kau bisa cukup netral di kasus ini. Aku meyakinkannya… memang cukup sulit bicara ke orang-orang keras kepala dari Orsetia. Tapi aku beritahu kau satu hal, nona Jazdia, jika mereka puas dengan hasil investigasi yang kau pimpin, itu bukan hanya akan menambah reputasi kita sebagai organisasi netral yang kredibel, namun juga akan menjadi simbol perdamaian baru, dimana seorang elf membuktikan dirinya lepas dari dendam dan sintimen bangsanya."

"Bukan soal itu Chief."

"Bukan?" Norington mengangkat alisnya. "Tapi aku harap penjelasanku tadi membuatmu paham pertimbangan pertimbanganku untuk memilihmu. Aku terkejut kalau teryata masalah tentang masa lalu bangsa elf tidak menjadi beban pikiran buatmu."

Gadis itu menghela nafas panjang. "Aku tidak akan menyangkalnya. Tapi aku sudah paham bahwa posisiku disini adalah sebagai investigator yang netral. Aku hanya ingin bertanya kenapa kau yang memilihku untuk sebuah kasus pembunuhan ini."

Norrington menyodorkan sebuah lencana perak. "Kau tahu ini apa kan?"

"Lencana para Ranger dari Nimrais…"

"Sebuah kebetulan? Ini sengaja diletakkan di tangan korban atau si korban dengan paksa merenggut ini dari penyerangnya. Yang jelas pelakuknya adalah seorang elf. Dan kaulah yang paling mengenal bangsamu.

Jazdia menggigit pelan bibirnya. Ini terasa semakin aneh saja, tadi dia baru sadar kalau dia akan melakukan kerja sama dengan orang orang dari Orsetia, dan sekarang dia akan mengejar seorang elf?

"Itu saja sudah cukup." Katanya, sambil mencoba menyembunyikan segala keraguan di benaknya. "Aku akan bersiap sekarang."

"Jazdia… kau tahu kau bisa menolak tugas ini kalau kau mau?"

"Tidak usah chief, kau sudah terlanjur menugaskanku."