Di Balik Sebuah Nama
Gundam Seed/Destiny belongs to its owner: SUNRISE, BANDAI, and its creators
No material profit taken from this.
Warning: OOC, short multichapter, AU, typo(s), kegajean cerita dan penulisan, sedikit adegan pertempuran berdarah (?).
.
Chapter 2
Hope you enjoy!
.
"Serigala?" tanya Lacus hati-hati.
"Orc."
Lacus memucat. Ia memang belum pernah melihat orc secara langsung. Yang ia ketahui tentang monster berlumpur itu hanya berasal dari buku yang ia baca dan cerita-cerita yang ia dengar. Gadis bersurai merah muda itu menatap wajah rekan seperjalanannya sejenak. Dilihat dari sorot tajam di mata emerald itu, ia bisa mengira-ngira bahaya apa yang sedang menghampiri mereka. "Sembunyi di atas pohon?" sarannya.
Athrun menggeleng. "Orc berbeda dengan hewan buas, Lacus. Mereka bisa berpikir—meski tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan manusia. Beberapa dari mereka pandai menggunakan busur. Takkan ada tempat untuk lari jika kita bersembunyi di atas."
"Tapi hari sudah gelap," Lacus mendongak menatap langit sejenak, "ada kemungkinan mereka tidak bisa melihat kita."
"Ide yang bagus." Saat itulah sebatang panah memutuskan untuk melintas dengan kecepatan tinggi di atas kepala Athrun, menimbulkan suara jleb yang kuat saat menancap di batang pohon di sebelahnya. "Tapi kurasa sudah terlambat. Lari!"
Mereka mulai berlari seperti orang kesetanan. Hujan panah berikutnya terus menyerang diiringi raungan kawanan orc yang kesal. Genggaman Athrun semakin erat saat ia terus berlari sekaligus menuntun gadis di belakangnya agar tidak tertinggal dan terhindar dari panah-panah yang melesat cepat. Ia merasa bersyukur bulan malam ini memancarkan sinar yang cukup terang sehingga masih memberi mereka kesempatan untuk melangkahi akar-akar besar yang terjulur.
Mereka berdua segera melompat ke balik pohon besar tepat saat serentet bunyi jleb lain terdengar dari sisi lain pohon persembunyian mereka. Athrun menarik anak panah di busurnya dan berputar. Ia membidik dalam waktu singkat dan melepaskan jarinya sebelum kembali menempelkan punggungnya di permukaan batang pohon yang kasar. Bunyi jeritan tidak mengenakkan terdengar disusul raungan-raungan marah. Pemuda itu melakukan hal yang sama dengan tiga kali tembakan yang berbuah erangan kesakitan lain.
Athrun membulatkan matanya saat sebatang panah baru saja menancap dan hanya berselisih tiga senti dari mata pemuda itu. Sebelum ia sempat melepaskan panah ke arah serangan tadi berasal, erangan khas itu sudah terdengar dari arah targetnya. Athrun menoleh cepat dan melihat Lacus—masih melepaskan beberapa panah dengan penuh konsentrasi—berlutut di sampingnya. Jeritan-jeritan berikutnya terdengar.
Tidak buruk, batinnya dengan kedua alis terangkat. Leher pemuda itu tiba-tiba terasa dingin dan ia segera menghunus pedangnya sebelum berbalik ke kiri dan mengayunkannya dengan cepat. Satu orc berkapak jatuh. Ia tidak merasa lega dan langsung berbalik ke arah sebaliknya, kali ini berhasil menebas orc lain yang muncul tiba-tiba di samping Lacus.
"Jangan coba-coba," tegur Athrun sambil menarik Lacus bangun.
Mengerti apa yang dimaksud sang pengembara, Lacus menjawab tanpa ragu, "Aku bahkan tidak perlu mempertimbangkannya." Tentu saja, sekali melihat sosok monster berkulit hijau kebiruan dengan beberapa lumut dan lumpur yang menempel di badan gempal mengerikan itu, anak kecil juga tahu sebuah nyanyian tidak akan memberi efek—menggelitik pun tidak. Hidung bengkok dan telinga runcing pendek yang terlipat itu hanya menambah kesan menyeramkan seperti perompak di tengah laut.
Athrun kembali menarik tangan Lacus dan mereka berlari di balik bayang-bayang pohon lebat di sekitar mereka. Athrun melepaskan tangannya untuk menahan ayunan kapak orc yang tiba-tiba muncul di depannya. Orc itu jatuh tanpa sempat mengerang saat panah Lacus menancap di dahi sang monster. Athrun mengucapkan terima kasih singkat sebelum menepis panah yang hampir saja menujam punggung sang songstress dengan pedangnya. Gadis itu dengan cepat berputar dan menembak ke asal serangan sebelum berputar lagi dan menarik senar busur beberapa kali dengan selisih waktu yang sangat sedikit. Semakin banyak orc yang jatuh namun mereka terus saja bermunculan.
Awalnya Athrun sempat khawatir dengan kondisi mereka berdua karena ia membawa seorang gadis di tengah-tengah bahaya yang mengancam nyawa, tapi sepertinya kekhawatiran itu tidak begitu berarti karena sang gadis jelas tahu beberapa trik untuk melindungi dirinya sendiri. Orc-orc pemanah sudah tidak terlihat lagi dan sekawanan orc dengan kapak dan pedang rusak—yang sayangnya masih tajam—semakin mendekat.
Athrun mengangkat pedangnya untuk menahan serangan pedang orc di hadapannya dan segera menunduk saat orc lain mengayunkan kapaknya dari samping—melukai orc berpedang tadi tepat di dada. Pemuda itu segera mengambil langkah ke samping dan menebas orc salah sasaran itu tepat di punggung. Orc-orc berikutnya terus berdatangan, menghalau jalan sang pemuda dengan keras kepala. Athrun dengan lihai mengayunkan pedangnya, menebas, menghindar, merunduk, dan menahan serangan yang datang. Satu orc lagi jatuh di depan kakinya dan pemuda itu mengedarkan pandangannya dengan panik. "Lacus!"
"Aku baik-baik saja!" Terdengar jawaban tersengal dari belakangnya. Pemuda itu berputar dan menemukan Lacus yang sedang kewalahan menghadapi segerombolan orc yang semakin mendekat. Gadis itu mengayunkan busurnya dengan kuat ke leher salah satu monster hijau kebiruan itu dan mencabut pisaunya sebelum berbalik dan menujamkannya pada perut orc lain di belakangnya. Keringat terlihat membanjiri wajah cantik gadis itu yang sudah ternoda cipratan darah hitam.
Pemuda itu mengeluarkan jerit kesakitan saat seekor (atau seorang) orc berhasil menebas lengan kanannya. "Athrun!" Ia mendengar Lacus memanggil namanya dengan panik. Pengembara itu menggigit bibir bawahnya—berusaha menahan sakit—sambil mengambil sebilah pisau di pinggang kirinya dan menebas leher monster itu dengan cepat dan menendangnya menjauh.
Pemuda itu menelan erangan kesakitan lain saat ia dipaksa berputar untuk berhadapan dengan orc lain yang baru datang. Ia berhasil membunuh orc tersebut dan membuat catatan mental untuk berterima kasih pada Lacus saat orc yang muncul tiba-tiba di sebelahnya jatuh dengan sebatang panah yang menempel di leher pendeknya.
Ia menyimpan pisau itu dan mengambil pedangnya yang terjatuh dengan tangan kiri. Ia yakin ia tidak akan bisa memakai tangan kanannya saat ini. Lengannya itu hanya sibuk menimbulkan denyut menyakitkan yang menyiksa. Pandangannya sempat mengabur.
Tiba-tiba Lacus menyambar lengan kiri pemuda itu dan menyeretnya dengan langkah cepat. "Kita harus lari! Aku akan mengawasi punggungmu!"
Baiklah, untuk kedua kalinya hari ini, harga diri Athrun tergores.
Seharusnya laki-laki yang melindungi perempuan, bukan sebaliknya! Ia hanya mengeluarkan geraman jengkel sambil menebas orc yang menghalangi jalan mereka. Seberapa bencinya Athrun dengan kalimat itu, itu kenyataan. Saat ini Athrun tidak bisa menggunakan tangan kanannya—tangan andalannya, dan ia hanya bisa mengayunkan pedang ala kadarnya dengan tangan kiri. Di lain pihak, Lacus masih bisa menggunakan busurnya dengan baik. Hal itu cukup berarti untuk memberi jarak antara orc dan mereka, karena itu Athrun memilih diam. Ia juga memilih diam saat Lacus mengambil beberapa anak panah sekaligus dari quiver milknya ketika pemuda itu menunduk setelah melancarkan serangan ke perut seekor (seorang?) orc.
Suara petir terdengar keras menggetarkan tanah. Cahaya menyilaukan menyapa mereka diiringi butiran hujan yang turun dengan derasnya.
Baiklah. Pertama, harga dirinya terusik karena rencana pertarungannya dengan sekawanan kucing hutan terbukti tidak efektif bila dibandingan dengan nyanyain seorang songstress. Kedua, ia mendapat luka menyakitkan di lengan kanan karena kecerobohannya sendiri yang membiarkan perhatiannya teralihkan di medan pertempuran. Ketiga—ini yang paling melukai harga dirinya—Athrun Zala, seorang pangeran dari Kerajaan Julius yang sudah mengambil jalan keras sebagai pengembara selama lima tahun, harus menerima kenyataan bahwa ia dilindungi oleh seorang perempuan—songstress—yang lebih bisa bertarung dibandingkan dirinya—untuk saat ini.
Hujan deras seakan ikut tertawa dan mengejek pemuda itu. Athrun tidak bisa merasa lebih menyedihkan lagi dari ini.
.
Mereka berdua membuka pintu kayu berlumut di depan mereka dengan bahu. Suasana pengap dan lembab menyambut mereka berdua seiring dengan kegelapan yang menguasai saat pintu itu ditutup. Lacus menyandarkan punggungnya dan membiarkan tubuhnya merosot di dinding goa perlindungan mereka dengan napas tersengal. Athrun tak jauh berbeda. Ia membiarkan dirinya terduduk di balik pintu tanpa mencoba bergerak sama sekali untuk beberapa lama. Suara petir kembali terdengar namun teredam. Tangan pemuda itu menggapai sebuah pegangan di atas pintu dan menggesernya—membuka sirkulasi udara dari jendela kecil yang tersembunyi.
Pemuda itu menghela napas panjang. Ia bersyukur ia masih ingat jalan-jalan di hutan ini dan beberapa goa perlindungan tersembunyi yang sengaja dibuat untuk para petugas patroli atau pun penduduk Julius yang terjebak di hutan saat cuaca tidak memungkinkan. Ya, badai cukup sering datang ke kerajaan ini, tapi untunglah bukan hari ini.
Pemuda itu membuka matanya—meski ia tetap tidak bisa melihat apa pun—saat suara sesuatu yang bergerak mendekatinya. Ia sedikit tersentak saat jemari yang basah dan dingin menyentuh dagunya. "Lacus?" tanyanya heran.
"Bagaimana perasaanmu, Athrun?" tanya gadis itu pelan. Perasaan cemas terdengar jelas dari suaranya.
"Aku baik-baik saja." Tentu saja ia berbohong. Hal terakhir yang ingin dilakukannya saat ini adalah membuat Lacus cemas. Gadis itu sudah cukup melewati banyak hal hari ini. Ia tidak perlu menambah beban sang songstress dengan luka miliknya yang kini membuat lengan itu mati rasa.
Lacus masih belum melepaskan tangannya. Gadis itu menurunkan jemarinya perlahan dan mulai meraba leher pemuda itu dengan lembut, menuruni puncak bahunya, dan sebelum tangan dingin gadis itu menyentuh luka terbuka di lengan kanannya, Athrun menangkap tangan itu terlebih dulu. Ia menggenggam tangan itu lembut namun mantap. "Aku baik-baik saja," ulangnya lagi.
Terdengar helaan napas gadis itu yang jelas-jelas tidak merasa yakin. Athrun tertawa kecil. Gadis di depannya ini memang bukan gadis biasa yang mudah dibohongi. Harus ia akui, Lacus adalah perempuan yang sensitif namun tegar dan kuat di saat yang bersamaan. Kemandirian gadis itu tidak perlu ditanya sejak Athrun melihat sang songstress tadi pagi. Karena itu jugalah, ia yakin rekan seperjalanannya ini tidak mungkin bisa diam dalam kegelapan menyesakkan ini tanpa melakukan apa pun, apalagi soal luka yang ia dapat. "Lacus?"
"Ya?" Suara itu kini terdengar dari sampingnya.
"Ada perapian kecil di sebelah kiri sekitar delapan langkah dari sini. Tidak perlu khawatir soal asap, ada cerobong di atasnya yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga asapnya tidak akan muncul di dekat sini. Keberadaan kita aman—oh, dan tetaplah merunduk," jelasnya lagi.
Mengerti apa yang Athrun maksud, Lacus bangkit dari tempatnya tanpa bicara dan mulai berjalan. Athrun ikut menghitung dalam hati tiap suara langkah yang gadis itu timbulkan sebelum menghilang diganti suara sesuatu yang bergesek. Tak lama kemudian, cahaya merah kekuningan menyinari seluruh ruangan.
Sebuah ranjang dengan dipan kayu sederhana berada tepat di sisi kanan paling belakang dinding goa yang berbentuk setengah bulat dengan langit-langit yang cukup rendah—orang dewasa perlu menundukkan pinggangnya sedikit. Sebuah lemari kayu diletakkan di sebelah ranjang. Tidak jauh dari sana, sekitar empat sampai lima langkah, terdapat perapian kecil dengan api menyala di depan Lacus. Gadis itu menambahkan beberapa kayu bakar yang diletakkan di samping perapian dan setelah suhu ruangan sudah cukup hangat, ia bangkit dan melepas jubahnya. Lacus mengambil dua kayu bakar lagi dan menancapkannya tidak jauh dari perapian sebelum meletakkan jubah cokelat itu di atasnya. Tempat ini jelas tidak pernah ditinggali cukup lama, tapi sepertinya masih siap untuk ditinggali di waktu-waktu terdesak.
"Kau bisa berjalan?" tanya Lacus, masih dengan nada khawatir yang sama.
Athrun tersenyum simpul. "Tentu saja." Pemuda itu mulai memberi tekanan pada pintu di belakangnya dan memberi dorongan lagi dengan tangan kirinya yang memegang dinding. Lacus cepat-cepat menghampiri pengembara itu dan melingkarkan lengannya di pinggang sang pemuda. Athrun menggumamkan terima kasih kasih diikuti tawa pendek. "Sekedar mengingatkan, lenganku yang terluka, bukan kakiku."
Athrun bisa melihat seulas senyum mengembang di bibir sang songstress. "Aku tahu." Ia mulai membuka simpul di jubah pemuda berambut biru itu dan melepasnya. Lacus berjalan terlebih dulu melewati Athrun dan mengambil kayu bakar lagi, melakukan hal yang sama seperti jubah miliknya. "Kemarilah, Athrun," gadis itu memberi isyarat untuk duduk di sampingnya dekat perapian, "aku harus melihat lukamu."
Athrun mengerang. "Ini hanya goresan. Aku baik-baik saja."
Lacus terlihat kesal mendengar jawaban itu dan akhirnya berdiri lagi, mendorong Athrun mengambil posisi di dekat perapian, dan menekan bahunya agar pemuda itu duduk. Menyadari tekanan yang diberikan Lacus padanya, pemuda itu tahu kalau ia tidak akan bisa menghindar dari inspeksi sang songstress.
Lacus menarik pisau dari pinggangnya dan menarik sehelai kain dari tas kulit yang ia letakkan di samping. Melihat Lacus yang mulai membersihkan permukaan pisau tersebut, mata Athrun membulat. "Apa yang kau—"
"Tahan."
Sedetik kemudian, terdengar suara robekan yang diiringi jeritan pendek sang pemuda. Pemuda itu terkejut melihat lengan mantel dan baju di sebelah kanannya lenyap. "Hei!"
"Ups. Maafkan aku," ujar Lacus sambil tersenyum geli, sama sekali tidak merasa bersalah. Gadis itu melihat lengan Athrun dengan lebih seksama. Bahunya melemas dan senyum lega terukir lebar. "Syukurlah, darahnya sudah berhenti."
Athrun ikut menghela napas. "Sudah kubilang, kan? Aku baik-baik saja."
Lacus mengambil wadah air minum dari tasnya dan membasuh luka itu perlahan-lahan. TIba-tiba Athrun menarik tangannya dengan cepat, membuat gadis itu mengerjap beberapa kali. "Maaf, aku menyakitimu, Athrun. Tapi luka itu—"
"Itu air minummu."
Lacus kembali mengerjap. "Ya?"
"Itu air minummu," ulangnya lagi, "tidak seharusnya kau membuangnya seperti itu. Kita tidak tahu kapan kita akan menemukan sungai lagi dan bagaimana kalau malam ini kau haus? Cuaca di luar—ow!"
Lacus tidak memedulikan celoteh Athrun dan kembali membasuh luka pemuda itu. Athrun sudah siap menarik tangannya lagi namun melihat wajah serius Lacus yang disorot warna menyala dari api di depan mereka, ia sudah mendapat jawaban. Pemuda itu menghela napas panjang. Mengalah.
Lacus terus bekerja dengan cekatan saat membersihkan darah yang menempel di lengan Athrun. Beberapa kali gadis itu membisikkan kata maaf saat Athrun menyernyit ketika rasa nyeri menyerangnya. Setelah selesai, Lacus mengambil segulung perban yang dibungkus rapi oleh kain lain. "Syukurlah tidak basah." Sekali lagi ia tersenyum lega.
"Persiapanmu lengkap juga, ya," ujar Ahtrun.
Lacus tertawa. "Tidak juga. Aku tidak membawa baju ganti sama sekali. Karena jarak antara Copernicus dan Julius hanya satu hari berjalan kaki, jadi kupikir aku tidak membutuhkannya." Ia mulai melingkarkan perban tersebut dengan kencang namun tidak terlalu ketat. Setelah beberapa lama, ia berkata, "Nah, sudah selesai." Senyum puas terkembang di bibirnya.
Athrun mengucapkan terima kasih dengan senyum yang sama. Senyuman itu pudar saat ia menyadari wajah lelah Lacus. Ia mengangkat tangan kirinya dan menangkupkannya di pipi sang songstress. "Kau terluka," ujarnya dengan kedua alis bertaut saat ibu jarinya meraba noda darah yang sudah pudar terkena hujan di pipi gadis itu. Gadis itu sedikit menyernyit saat jemari sang pengembara menelusuri garis lurus sepanjang tiga sentimeter di pipinya.
"Itu hanya goresan, Athrun," balas gadis itu lembut sembari menggenggam tangan Athrun dengan kedua tangannya. Ia menjauhkan tangan kokoh tersebut dengan lembut.
Athrun masih belum terlihat tenang. "Biarkan aku memeriksanya." Pemuda itu sudah mengulurkan tangan kirinya lagi saat Lacus bergerak mundur.
"Kau berlebihan, Athrun. Ini benar-benar hanya goresan!"
"Kau itu perempuan, Lacus! Kau harus memperhatikan luka yang ada di tubuhmu, terutama wajahmu!" tegur pemuda itu tegas. Melihat mata Lacus yang membulat karena terkejut dengan nada suaranya, Athrun menghela napas. Sedetik kemudian, seringai mencurigakan muncul di wajahnya. "Aku akan memeriksanya."
Pandangan Lacus tertuju pada tangan kiri pemuda itu yang sudah memegang sehelai kain bersih yang tadi ditinggalkannya dan menumpahkan sedikit air di permukaannya. Mengerti, Lacus sudah akan berdiri dan menjauh namun tangan kanan Athrun lebih dulu mencengkram lengannya. Dengan satu gerakan cepat, kain basah itu sudah menjalar ke kening, pipi, hidung, dan dagunya. "Athrun!" protes gadis itu sambil mendorong tangan yang memegang kain itu menjauh.
Athrun sedikit meringis di antara tawanya karena rontaan Lacus yang menimbulkan beberapa pergerakan di lengan kanannya. "Diam dan menurutlah. Akan lebih cepat selesai. Perlawananmu hanya akan menyakiti kita berdua—secara harfiah."
Didasari rasa bersalah, akhirnya gadis itu menurut dan duduk diam dengan tenang. Athrun tersenyum lega dan mulai menumpahkan sedikit air lagi di kain bersih yang baru dari tas Lacus. "Itu persediaan minummu, Athrun. Kau membutuhkannya. Bagaimana kalau—"
"Jangan membalas dendam secepat itu padaku, Lacus," tegur sang pemuda dengan seringai jahil di wajahnya.
Lacus ikut menyeringai. "Ara~ ara~ siapa yang sedang membalas dendam sekarang, eh?"
Athrun tertawa lepas. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali menyadari tingkah mereka berdua. Ini cukup aneh kalau mengingat mereka berdua baru bertemu pagi tadi dengan cara yang kurang menyenangkan. Namun entah kenapa Athrun merasa sangat nyaman hanya berdua bersama Lacus dan tertawa seperti ini meski mereka saat ini sedang berlindung di dalam goa dengan raungan hujan yang menggetarkan di luar sana.
.
TBC
.
Aaaand here it is the second chapter!
Maaf seandainya adegan pertarungan itu terkesan monoton dan agak susah dibayangkan, jujur. saya masih butuh banyak belajar untuk menulis adegan yang lebih agresif begini hehehe. #lemparbaskomed.
Seperti biasa, segala kritik dan saran dengan senang hati saya terima :D terima kasih untuk readers yang udah bersedia mampir dan membaca~
Have a good day!
