Happy St. Valentine's Day Minna~ Berhubung hari kasih sayang ini, saya memutuskan untuk megupdate fic kencan ini!
Maaf belakangan ini jarang update ya, banyak tugas di sekolah ( ^_^;) apalagi B. Indo

Well, HAPPY READING~

NOTE: Italic=dalam pikiran, jurus Bold=surat

Disclaimer: Saint Seiya itu milik Kurumada-sensei! tapi Mitsuki, Kaoru, Ayame, Nagisa, Teru, para Akumu dan OC lainnya itu milik saya... Kecuali Sophie, dia OC Gianti-Faith


~Tempat persembunyian Akumu, Ruang 'Penjinakan'~

Ruangan yang gelap, hanya ada sebuah ventilasi yang dilapisi kaca tempat cahaya dapat masuk... Bisa diduga, ruangan ini dipenuhi alat penyiksaan. Sekarang ini ruangan tersebut sedang di gunakan antek Medusa -yang siluman katak level rendah itu- untuk 'menjinakkan' si Doopleganger -kita sebut saja seperti itu-

"Dasar! Bisa-bisanya kamu mempermalukanku di depan Medusa-sama!" serunya sambil mencambuk si Doopleganger yang sekarang diikat ke dinding dengan rantai

Walau tubuhnya sudah penuh luka cambukan dan luka siksaan lainnya, ia masih bisa tersenyum licik, "Aku memalukanmu? Bukankah kamu yang mempermalukan diri sendiri?" sindirnya

"Ka, kamu!" dia kembali mengangkat cambuk itu dan bersiap mengayunkannya, tapi niatannya itu terhenti oleh suara Akumu lain

"Kamu sedang apa, siluman katak?" tanya sosok yang berdiri di pintu masuk ruangan tersebut, ia menggunakan jubah hitam yang menutupi badannya dari atas ke bawah, jubah itu juga memiliki penutup kepala yang mengakibatkan wajahnya tidak terlihat

"Kamu... Malaikat kematian?" tanya antek tersebut

"Heh, sepertinya 'malaikat' tidak terlalu cocok ya? Aku lebih memilih dipanggil 'shinigami'..." ucap sosok itu

"Aku tidak peduli, sedang apa kamu di sini? Meskipun kamu Akumu level 1, ruangan ini hanya boleh dimasuki orang yang bersangkutan"

"Hn? Bukankah aku orang yang bersangkutan? Aku datang menjemputnya..." ucapnya sambil menunjuk si Doopleganger yang entah bagaimana telah lepas dari rantai-rantai itu dan berdiri sambil menggerak-gerakkan pergelangan tangannya

"Ba, bagaimana kamu bisa lepas!?"

"Aku tidak perlu menjawabmu... Penjinakan hari ini sudah selesai kan? Kalau begitu aku pergi" ucapnya sambil keluar dari ruangan tersebut, begitu dia keluar, si Shinigami tersenyum kecil dan mengikutinya

"Hahh... Makin hari makin menjadi aja siksaannya" keluh Doopleganger

"Bukankah kamu yang salah? Menjatuhkan harga dirinya didepan 'Medusa-sama tersayang'nya" balas Shinigami

"Urusai, memangnya kamu mau apa denganku?"

"Ah tidak, aku hanya mau memberikan ini" ucapnya sambil mengeluarkan sebuah tali yang bercahaya

"Tali?"

"Bukan cuma tali, ini tali kuat yang berhasil mengikat Minotaur"

"Oh iya dia diikat ya? Aku terlalu kesal dengan tangisannya sampai tidak sadar. Tapi apa hubungannya denganku?"

"Ini adalah tali COSMO"

"Makanya, apa hub- Tunggu! Coba kulihat!" ucap si Doopleganger itu sambil merampas tali tersebut dari tangan sang Shinigami, "Cosmo ini..."

Sebuah senyum penuh arti muncul di wajah Shinigami yang masih tertutup itu "Akhirnya kamu sadar ya? Pemilik Cosmo itu..."


TITLE

Andromeda's Chain of Faith

.

アンドロメダの信仰の鎖

.

Andoromeda no Shinkō no Kusari


"Ah Ah... Gagal lagi..." keluh Mitsuki, dia sekarang sedang duduk di tengah kamarnya sambil memperhatikan tangannya yang direntangkan ke depan, "OK, ayo coba sekali lagi" ucapnya dengan wajah serius. Ia lalu memejamkan matanya dan memancarkan Cosmonya, Cosmo itu berkumpul di tangan yang direntangkannya. Cosmo itu perlahan-lahan berubah bentuk menjadi sesuatu yang sepertinya sebuah pedang, tapi tak lama bentuknya hancur dan Cosmo itu memudar

Mitsuki's POV

"Aneh, padahal aku bisa membuat busur dan panah dalam satu detakan jantung(!?). Tapi senjata lain... Sama sekali tidak bisa" ucapku dengan nada sedih dan kecewa yang bercampur, "Apa memang perlu bakat seperti Henna-chan, ya? Kemampuanku hanya setengah-setengah, salah deh, setengah saja tidak..."

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu dan tersentak bangun, aku merasakan kehadiran seseorang atau dengan kata lain, ada orang yang mendekat. Kenapa aku bisa tahu? Mungkin aku harus jelaskan dari awal... Sejak lahir, kepekaanku terhadap sekeliling berada jauh diatas manusia normal. Aku tidak pernah tersesat -saat hiking, atau di hutan dan tempat lainnya-, tapi kalau aku ada di bagian kota yang jalannya sama sekali tidak kuketahui, aku lebih memilih bertanya kepada orang daripada menggunakan kemampuanku itu, kota kan lebih berbahaya dari hutan... Selain itu, aku selalu bisa menemukan benda yang hilang. Dan juga saat seseorang datang, pasti aku mengetahuinya sebelum orang itu benar-benar sampai di hadapanku. Lebih parah lagi, dokter yang pernah memeriksaku bilang, kelima inderaku juga jauh diatas rata-rata. Sampai-sampai penciumanku dibandingin sama anjing(ALL: Hah?), penglihatanku dibandingin sama burung elang(ALL: Busettt). Tapi bukan itu yang parah, yang parah itu... Indera keenamku juga diatas rata-rata, aku bisa merasakan 'makhluk halus'. Biasanya aku tidak bisa melihat, tapi di hari-hari tertentu aku... Bisa melihat dan berkomunikasi dengan 'makhluk halus', aku benci itu. Niisan juga memiliki indera keenam yang tinggi sepertiku, tapi Niisan lebiih hebat, dia bisa membedakan roh dan manusia... Enaknya

Loh? Kok malah curhat ya? Kebawa suasana... Maaf ya, readers sekalian. OK, back to the story

Aku merasakan kehadiran seseorang dan tersentak bangun, sebuah bayangan terpantul di pintu geser kamarku -soalnya pintu geser Jepang-. Dia meraih gagang pintuku dan membukanya

"Mitsuki? Kenapa posisimu begitu?" ternyata Niisan lah bayangan yang kulihat tadi, syukurlah...

"Ah, tidak... Kupikir siapa" jawabku

"Ooh... Kupikir kamu melihat hantu perang lagi!"

"Niisan! Jangan ingatkan aku dong!" seruku dengan wajah memerah

"Gomen gomen. Oya, ada telepon buatmu tuh!"

"Eh? Dari siapa?"

"Dari Shun, buruan jawab gih!"

"Siap~" candaku

Normal POV

Mitsuki berjalan menuju telepon rumah yang terletak di lorong dekat pintu masuk

"Halo? Shun-kun ya?" ucapnya setelah mengangkat telepon ke telinganya

"Ah, Mitsuki-chan..." balas Shun -lewat telepon tentunya-

"Ada apa?"

"Ng, kamu sibuk gak?"

"Nggak kok, soalnya hari Minggu"

"Baguslah... Ng, aku mau ajak kamu jalan-jalan, sendirian"

"Wah, tumben... Memangnya ada acara apa?" balas Mitsuki dengan polosnya

"Eh... Agak susah dijelasin lewat telepon, nanti saat aku datang menjemputmu"

"Baiklah kalau begitu, aku siap-siap dulu ya"

"OK, jaa..." ucap Shun sebelum menutup telepon

Mitsuki juga meletakkan kembali telepon rumahnya dan berjalan ke kamarnya sambil bersenandung

"Shun mo ngapain?" tanya Teru yang kebetulan berpapasan dengan Mitsuki di lorong

"Eh? Bukan apa-apa, cuma ngajak jalan..." jawab Mitsuki dengan polosnya

"Ooh... WWHHHAAAATTTTT!?" jerit Teru dengan suara yang cetar membahana(?)

~Di Kamar Mitsuki~

Mitsuki sedang mengganti bajunya, mana mungkin dia jalan-jalan dengan kaos rumah dan celana pendek kan? Yaah, baju yang dia pilih juga simple, sebuah kaos putih, jaket hitam dan celana jeans pendek (diatas paha kayaknya(!?))

"Ah, kayaknya bawa tas saja ya?" gumamnya setelah selesai mengganti baju

Ia langsung membuka lemari gesernya dan mengambil tas coklat yang dia pakai saat 'kencan'nya dengan Seiya kemarin

"Ng... Dompet, HP, air mineral botolan, bawa iPod gak ya? Ah gak usah deh, bawa headset HPku saja..." gumamnya lagi saat memasukkan benda-benda yang disebutnya diatas dan beberapa benda lain

"MMMMMMIIIIIIIIIIITTTTTTTTTSSSSSSSSSSSSUUUUUUKKKKKKKKKKKKIIIIIIIIIIII(Capslock jebol)" teriak Teru sambil melesat masuk ke kamar Mitsuki

"Nii, san? Kenapa teriak-teriak begitu?" tanya Mitsuki agak cengo

"Tadi, kamu bilang apa soal Shun? Dia ajak apa?" Teru menginterogasi Mitsuki

"Eh? Ajak jalan-jalan..." jawab Mitsuki masih dengan polosnya

"Apa ada orang lain yang ikut?"

"Ng... Kayaknya tidak, cuma aku dan Shun-kun" masih dengan polosnya...

"APA!?"

"Memangnya kenapa?"

"Mitsuki, adikku tersayang, itu namanya... KENCAN!"

"Eeeeehhhhhhhhhh!?"

"Kamu pernah mengajak Seiya *nelen ludah* kencan, masa tidak tahu!?"

"Aku tidak tahu! Kalau aku yang mengajak sih aku tahu itu kencan, tapi kalau orang lain..."

"Pokoknya aku tidak setuju! Aku ikut!"

"Tapi Shun-kun bilang mau jalan sendirian-"

"TIDAK! Aku harus menjagamu! Karena, aku sudah janji pada Kaasan dan Tousan!"

Wajah Mitsuki berubah terkejut tapi di saat yang sama,sedih. "Niisan, masih ingat ya?" ucapnya pelan

"Tentu saja, aku tidak akan pernah lupa..."

Sebuah kesunyian menyelimuti keduanya, wajah kedua adik-kakak itu berubah sedih. Saat ekspresi mereka sama seperti ini, wajah mereka juga tampak hampir seperti kembar. Ah, tapi bukan itu yang penting. Pasti readers sekalian tahu saat Atsuko -ibu Teru dan Mitsuki- meninggal, ia meminta Teru menjaga Mitsuki, dan ketika ia 10 tahun -berarti Mitsuki 8 tahun-, ia juga membuat janji yang sama kepada ayahnya sebelum dia pergi dan menghilang

Flashback Mode ON

Ini terjadi sekitar 2 minggu setelah nenek Mitsuki dan Teru meninggal, ketika pagi-pagi buta, langit masih gelap, dan seakan-akan mendukung suasana, berkabut. Terlihat sebuah sosok pria dewasa berambut coklat keperengguan yang sedang berjalan di jalan setapak menuju pintu keluar

"Otousan?" panggil Mitsuki dari belakang sosok itu

Sosok itu menoleh, "Mitsuki?" balas sosok yang tidak lain, tidak bukan adalah Satsuki, "Kenapa kamu bangun pagi-pagi begini?" tanyanya sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka

"Aku merasakan seseorang yang berjalan mengendap-ngendap jadi kuikuti..." jawab sang gadis kecil sambil mengusap matanya yang masih mengantuk, "Bukan hanya aku, Niisan juga datang" ucapnya lagi sambil menunjuk sebuah pohon sakura yang ada di samping jalan setapak itu

Tak perlu waktu lama, Teru cilik berjalan keluar dari tempat persembunyiannya itu. Wajahnya serius dan menatap tajam Satsuki, "Tousan, kamu mau kemana?" tanyanya seolah tahu tujuan Satsuki

Satsuki menghela napas panjang dan berdiri, "Maaf ya Mitsuki, Teru. Aku harus pergi..." ucapnya sambil tersenyum dan menatap kedua anaknya yang sekarang berdiri berdekatan

"Eh? Kapan Otousan akan kembali?" tanya Mitsuki

"Otousan tidak tahu... mungkin minggu depan, bulan depan, mungkin tidak akan pernah" jawab Satsuki

"KENAPA!?" seru Teru, "Kaasan sudah meninggal, Baachan juga meninggal, sekarang kamu mau pergi tanpa jaminan akan pernah kembali!? Kemana janji 'Kita akan selalu bersama'mu!?"

"Teru, aku juga merasa berat meninggalkan kalian. Tapi percaya saat aku mengatakan ini: Aku hidup demi kalian, kepergian ini juga kulakukan demi membuat masa depan yang bahagia untuk kalian..." ujar Satsuki

"Otousan... Okaasan dan Obaachan sudah pergi, aku tidak mau kehilangan Otousan juga!" ucap Mitsuki dengan mata berair

"Mitsuki... Aku, Atsuko dan Okaasama tidak benar-benar pergi, kita akan terus bersamamu disini" ucapnya sambil menunjuk dadanya, "Teru, tolong jaga Mitsuki..."

"Kh!" Teru terlihat marah, tapi matanya yang mulai berair berkata lain

Satsuki menatap mata Teru, "Kamu punya mata ibumu..." pikir Satsuki

Teru juga memandangi ayahnya itu, tinjunya ia kepal kencang... Tapi setelah beberapa saat, ia buka kepalan tangannya dan sambil menatap mata Satsuki berkata "Aku janji..."

Satsuki tersenyum, iakembali berjalan dan akhirnya keluar dari rumah mereka tersebut. Mitsuki langsung mengejar Satsuki, tapi begitu keluar gerbang, sosok ayahnya sudah menghilang

Mitsuki langsung menyatukan kedua tangannya dan berdoa, "Otousan... Kumohon, pulanglah dengan selamat..."

Flashback Mode OFF

DING DONG! (bunyi bel)

"Ah, sepertinya Shun-kun sudah sampai... Niisan, aku pergi dulu ya?" pamit Mitsuki

"Fuh, baiklah. Aku tidak mungkin menghentikanmu" walau aneh, Teru akhirnya membiarkan Mitsuki pergi jalan dengan Shun, Mitsuki tersenyum dan melambai sebelum pergi

Teru mendesah panjang melihat Mitsuki pergi, "Aku sudah melanggar janjiku dengan pergi ke Amerika selama 3 tahun, aku tidak ingin melanggarnya lebih jauh... Tapi tanpa kusadari, Mitsuki sudah tumbuh dewasa... Dia dikelilingi teman yang peduli dan yang dia pedulikan juga, aku merasa seolah-olah perlindunganku tidak dibutuhkan lagi" gumamnya kepada diri sendiri

.

.

Mari kita lihat keadaan Mitsuki dan Shun

"EH?" itulah kata yang pertama diucapkan Mitsuki ketika melihat Shun

"Kenapa Mitsuki-chan?" tanya Shun

"Ah, tidak... Baju kita, sama"

Bagaimana gak sama? Sekarang ini Shun mengenakan jaket hitam dan kaos putih serta celana jeans yang sama persis dengan Mitsuki, yah gak pendek sih...

"Wah iya ya? Berarti kita sehati ya? Ahaha..."

Mitsuki hanya tersenyum kecil mendengar canda Shun, akhirnya mereka memulai 'kencan' mereka. Tapi ada maksud tersembunyi di balik ini...

.

.

"Ah"

"Ada apa Mitsuki-chan?" tanya Shun yang agak bingung dengan sang gadis berambut cream yang tiba-tiba berhenti

"Ini... Tempat kita pertama bertemu kan?" ucap Mitsuki sambil menunjuk sebuah klinik

"Eh? Wah... Benar, sudah sebulan lebih sejak itu ya?" komentar sang pria berambut hijau lumut

"Iya... Waktu itu aku menanyakan jalan kepada Shun-kun"

"Kamu lagi mengantarkan God Cloth Artemis ya?"

"Oh iya, bagaimana kabar Kamui itu?"

"Kamui itu disimpan di ruang kerja Saori-san, hampir setiap hari Saori-san bengong memperhatikan Kamui itu"

"Bengong?"

"Iya... Pandangannya fokus melihat Kamui itu, tak memperdulikan ada orang yang masuk atau dokumen-dokumen yang sedang ia tanda tangani"

"Wah, apa karena keberadaan Artemis belum diketahui? Saori-san khawatir dengan kakaknya itu ya?"

"Ahaha, mungkin"

Keduanya tertawa kecil lalu melanjutkan jalan mereka, tak lama Mitsuki kembali memecah kesunyian

"Naa, Shun-kun?"

"Ada apa?"

"Ng, sebenarnya kenapa kamu mengajakku jalan-jalan? Tidak mungkin kamu, ng, lupakan"

"Tidak mungkin apa?"

"Ng... Agak susah mengatakannya, tolong jangan berpikir yang aneh-aneh ya?"

Shun mengangguk mantap

"Niisan bilang yang seperti ini itu... Ke, kencan" ucap Mitsuki dengan pipi agak memerah

Shun blush berat, wajahnya merah merona. Mirip seorang gadis. "Bu, BUKAN! Bukan kencan! Sebenarnya ini, ano, etto"

"Apa?" tanya Mitsuki masih dengan pipi memerah

Shun menenangkan diri, "Sebenarnya, belakangan ini Sophie suka murung... Jadi, aku ingin memberinya sesuatu yang dapat mengembalikan semangatnya"

Mitsuki menghela napas lega, "Begitu ya? Tapi kenapa mengajakku?"

"Kupikir, karena kalian sahabatan dan sama-sama gadis-" Shun mengurungkan niatnya untuk mengatakan kata-kata terakhir tadi, "Eh, gitulah"

"Sama-sama apa?"

"Nggak kok! Gak usah dipikirin. Lebih penting lagi, kamu setuju atau tidak?"

"Setuju dong! Akan kulakukan apa saja agar Sophie-chan ceria kembali!" jawab sang gadis dengan senyum berbinar-binar yang bisa membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama(?), untung Shun udah punya Sophie

"Terima kasih"

.

.

Tapi itu juga berarti mereka harus pergi ke...

"Ma, MALL!?" jerit Mitsuki begitu sampai di Ground Floor Mall tersebut

"Kenapa? Bukankah gadis remaja suka ke Mall?" tanya Shun

"Suka sih, membeli buku atau ngemil... Tapi, kalo Shopping sih..."

Shun hanya terkekeh kecil, "Benar-benar mirip" pikirnya

.

.

"Wah, liat tuh! Mereka pacaran ya?"

"Eh? Apa gak salah? Bukannya mereka berdua cewek?"

"Lihat yang bener! Yang rambut hijau itu cowok!"

"Wah, iya ya? Kalau gitu mereka pasti pacaran, bajunya aja matching"

Begitulah gosip-gosip yang keluar dari beberapa gadis yang ada di Mall itu

"Inilah yang kubenci... Gosip sembarangan pasti muncul kalau aku jalan dengan cowok" pikir Mitsuki yang mendengar percakapan gadis-gadis itu, ini salah satu saat dimana dia benci inderanya yang diatas normal itu "Ya sudahlah, diamkan saja... Diamkan saja"

Akhirnya Mitsuki mendiamkan gosip-gosip itu dan fokus membantu Shun menghibur Sophie. Mereka berjalan mengelilingi Mall itu lantai demi lantai, mencari sesuatu yang mungkin menghibur Sophie dan sepanjang itu, makin banyak gosip tentang mereka berdua

"Diamkan Mitsuki, diamkan..." entah berapa kali Mitsuki berpikir seperti itu

"Wah" ucap Shun tiba-tiba

"Ng? Ada apa Shun-kun?" tanya Mitsuki

"Ah, tidak. Aku hanya berpikir Sophie pasti kelihatan manis memakai dress ini" ucapnya sambil menunjuk sebuah dress frilly berwarna oranye cerah

"Iya ya... Tapi Shun-kun, coba lihat tag pricenya" balas Mitsuki sembari sweatdrop

"Ng? ... YA AMPUN NOLNYA BERAPA ITU!?" jeritnya

"Aku bilang Sophie-chan pasti tidak suka kamu menghambur-hamburkan uang hanya untuk menghiburnya"

"Benar juga ya... Kalau begitu apa dong?"

"Hmm... Sophie-chan suka kotak musik kan? Bagaimana kalau kita membelikannya satu?" usul Mitsuki

"Kotak musik memangnya tidak mahal?"

"Ehehe, kita lihat saja nanti~"

Sebuah tanda tanya muncul di kepala Shun, "Apa yang direncanakannya?"

"Shun-kun? Kok melamun? Lebih baik kita cari toko yang menjual kotak musik..."

"Ah, iya..."

Keduanya pun kembali menyusuri Mall itu, mencari sebuah toko yang menjual kotak musik. Tapi sayangnya, mereka tidak menemukan satu toko pun. Akhirnya mereka putuskan untuk bertanya kepada security yang kebetulan mereka temui

"Toko yang menjual kotak musik? Ada ada, kalau tidak salah di lantai 4... Toko itu satu-satunya yang menjualnya di Mall ini" jawabnya

Wajah keduanya langsung berubah cerah bagaikan anak kecil, "Terima kasih pak!" seru mereka berdua bersamaan. Mereka bergegas pergi ke lantai 4

"Shun-kun, naik lift saja!" usul Mitsuki, kebetulan mereka berjalan di depan lift

"Ide bagus, Mitsuki-chan"

Mereka masuk ke salah satu lift dan menekan tombol lantai 4, hanya mereka berdua yang menaiki lift itu. Lift itu naik, naik, dan naik. Tapi saat mencapai lantai 4, lift itu berhenti tiba-tiba dan lampu lift itu ikut mati

"Ada apa ini?" tanya Mitsuki

"Mitsuki-chan? Dimana kamu?" tanya Shun, maklumlah lift itu gelap sekali

"Disini..."

"Dimana?"

Tiba-tiba Shun merasa seseorang memegang tangannya

"Ini aku, Shun-kun..." ternyata orang itu adalah Mitsuki, "Lebih baik begini dari pada kita terpisah kan?" ucapnya dengan polos

"I-i-i-ya..." ucap Shun terbata-bata, untung lampunya mati, kalau tidak wajahnya yang merah merona pasti kelihatan jelas

Tepat saat itu lampu darurat menyala, pintu lift itu terbuka

"Selamat datang di Kerajaan Hades..." ucap orang yang berdiri di depan lift itu, ia memakai kimono putih dengan ikat kepala segitiga, seperti hantu saja

"Uhm, apa ini?" tanya Shun dan Mitsuki sweatdrop

"Eh? Kok gak takut?"

"Harus bilang sejujurnya nih?" pikir mereka berdua bersamaan

"Ya sudahlah! Selamat datang di Rumah Hantu 'Underworld'!"

"Rumah hantu?"

"Iya! Lantai 4 ini sudah dimodifikasi jadi rumah hantu!"

"Loh? Kalo gitu toko yang jual kotak musiknya dimana?"

"Ah, kalau itu sih ada di lantai 3..."

"Loh? Katanya ada di lantai 4"

"Jangan-jangan yang ngasih tau itu security gendut yang megangin donat dan ada kumis jojon ya?"

"Eh? I-iya..."

"Dia itung 1 dari Ground Floor, jadi lantai 3 berubah menjadi lantai 4 deh"

"Ooh... Kalau begitu kita turun dulu deh..."

Niatnya sih begitu, tapi lift mereka tidak mau turun

"Ahaha, aku lupa bilang! Lift ini sudah dimodifikasi juga! Kalian harus melewati Rumah Hantu ini kalau mau turun!"

"EEEHHHH!?"

Begitulah, Shun dan Mitsuki terpaksa masuk ke Rumah Hantu itu

"KYYAAA!" jerit seorang gadis yang langsung memeluk pacarnya

"UWWAAHH!" teriak seorang anak kecil yang langsung memeluk ibunya

"GYYYYAAAA! #$%^&*|/{! AMPUN TUHAN! BUDDHA! ZEUS JUGA BOLEH!" itu... teriakan seorang pria dewasa loh ( =_=;)

Sementara Shun dan Mitsuki... Mereka dengan tenangnya berjalan menyusuri Rumah Hantu itu, ada banyak hantu yang menakuti mereka, tapi tidak sekali mereka menjerit

"Tidak diduga Mitsuki-chan berani ya?" ujar Shun memecah kesunyian

"Eh? Yah, begitulah. Aku sudah biasa soalnya" Gimana gak biasa? Mitsuki sudah pernah ketemu hantu korban kebakaran, hantu yang kepalanya terbalik, youkai rokuro-kubi, yuki-onna, kuchisake-onna bahkan kuntilanak! Dia juga udah ketemu monster-monster di Akumu, hantu-hantu di rumah hantu mah lewat...

"Walau ada satu hantu yang aku takuti sih..." pikir Mitsuki, tiba-tiba ada yang memegang kakinya dari bawah, ia langsung melihat ke bawah dan menemukan hantu yang memakai seragam militer Jepang

Kalian pasti mengira bakal ada reaksi datar dari Mitsuki kan? Tapi malah kebalikannya loh...

"KKYYYAAAA!" jeritnya sambil *ehem* memeluk Shun yang berdiri di sampingnya

"W-w-w-wah!? Mitsuki-chan!? Ada apa!?" tanya Shun yang ikut panik dan kaget

Mitsuki tidak menjawab dan hanya menunjuk ke arah hantu tadi

"Ng? Mitsuki-chan... Kamu takut, hantu dari zaman perang?" tanya Shun

Mitsuki mempererat dekapannya dan mengangguk pelan

"Tenanglah, tuh hantunya sudah-" kata-kata Shun terputus ketika melihat sebuah papan di depannya, ia membaca tulisan yang ada didalamnya "Mulai titik ini anda akan memasuki kengerian zaman perang. Persiapkan diri anda... Ya, am, pun"

Shun mendesah panjang, ia melingkari pundak Mitsuki dan tangannya yang satu lagi menggenggam pergelangan tangan Mitsuki, "Tenanglah Mitsuki-chan... Aku ada disini" ucapnya mencoba menenangkan sang gadis

.

.

DUAR!

OPEN FIRE! OPEN FIRE!

BOOM!

AAARRRGGGHHH!

Kira-kira begitulah sound effect yang dipasang di bagian rumah hantu itu, benar-benar mengesankan suasana perang, di kiri-kanan juga banyak 'korban-korban' perang yang terluka sana-sini dan 'meminta tolong'

Shun tidak begitu tenang saat berjalan di sana. Bukan, bukan karena pemain-pemain rumah hantu itu. Tapi karena Mitsuki masih 'lengket' di badannya, tubuh gadis itu gemetaran tidak berhenti

"Mitsuki-chan..." Shun memecah kesunyian yang tidak enak itu (Emang makanan?), "Kalau boleh tahu, kenapa kamu takut dengan hantu dari zaman perang? Apa karena wujud mereka yang penuh luka?"

Gemetar Mitsuki sedikit mereda, dengan pelan ia membuka matanya -walau masih menolak melihat ke sekililingnya- "Bukan, itu memang menyeramkan, tapi bukan itu yang membuatku takut..."

"Lalu apa?"

"... Aku pernah bertemu dengan mereka, sebagian besar dari mereka tidak tahu perang sudah berakhir, ada yang menjerit minta tolong kepadaku, ada yang membunuh satu sama lain..."

Shun memperhatikan sang gadis dengan pandangan... Iba?

"Luka mereka, jeritan kesakitan mereka, air mata mereka... Penderitaan yang terus berlanjut meski sudah mati. Semuanya terjadi di depan mataku, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk membantu"

Dekapan Mitsuki semakin kencang, matanya mulai berair, sepertinya benar-benar merasa bersalah tidak dapat menolong korban-korban perang itu

"Saat itulah mereka..."

"Mereka apa?"

Mitsuki menelan ludah, "Dengan pandangan penuh kebencian, mereka mengatakan kepadaku... 'Kenapa? Kenapa kalian bisa hidup dengan damai sementara kita menderita!? Kenapa hanya kami yang harus menanggung rasa sakit ini!? Kenapa kalian tidak menanggung beban yang sama!?', setelah berkata itu mereka mengikuti selama entah berapa lama. Sampai akhirnya aku menemukan cara untuk 'tidak melihat'..."

"Tidak melihat?"

"Jika kugenggam erat Locket pemberian ibuku, mereka akan menghilang, akan terbentuk sebuah barrier antara aku dengan dunia mereka, mereka tidak dapat menyentuhku dan aku tidak dapat melihat mereka lagi... Tapi tetap saja, perkataan mereka dan pandangan mereka cukup untuk membuatku trauma, setiap kali aku melihat perang atau darah yang bercucuran, ingatan yang kupendam dalam-dalam itu kembali muncul ke permukaan" jelas Mitsuki sambil menangis di dada Shun

Shun mengelus rambut Mitsuki dengan lembut, ia terus melakukannya sampai mereka keluar dari rumah hantu itu

.

.

Begitu keluar, Mitsuki sudah kembali seperti semula. Tapi saat itulah sesuatu terjadi

"Mitsuki-chan... Kita sudah keluar loh" ucap Shun dengan wajah memerah

Mitsuki ikut tersadar dan melepas dekapannya, "Ma-ma-ma-MAAF!" ucapnya dengan wajah yang tak kalah merah

"Tidak apa... Lebih baik sekarang kita pergi membeli kotak musik itu"

Mitsuki mengangguk, mereka berdua menggunakan eskalator untuk turun ke lantai 3 tempat toko yang menjual kotak musik itu berada

~SKIP TIME~

Begitu sampai di toko yang menjual kotak musik itu, mereka langsung memilih kotak musik. Tapi karena merasa tak ada yang cocok, mereka memutuskan memesan khusus sebuah kotak musik, saat menanyakan harganya...

"LI, LIMA JUTTTTAAAA!?" teriak mereka

"Iya, itu yang paling murah" jawab salesman toko itu

"Uang sih bukan masalah... Kapan kira-kira selesainya?" tanya Mitsuki

"Uhm, paling cepat... 1 bulan"

"Ah"

"Ah"

"Ah?"

"1 bulan? Apa tidak bisa lebih cepat?" tanya Shun

"Maaf, tidak bisa"

"Kalau tunggu sebulan Sophie sudah jadi kayak gimana?" pikir Shun

Mitsuki menghela napas panjang, ia langsung menarik tangan Shun keluar toko itu

"WAH!? Mitsuki-chan? Kita mau kemana?"

"Lihat saja nanti~"

"?"

~ANOTHER SKIP TIME~

"Awawawawawa..."

"Shun-kun? Kenapa menganga begitu?"

"Tempat ini... PA-PABRIK KOTAK MUSSSIIIIIKKKK!?" jeritnya dengan penuh keterkejutan dan ketidak-percayaan

"Iya, Olympia Corporation bergerak di semua bidang kecuali militer" jawab Mitsuki dengan enteng, "Kupikir kita bisa mendapat sebuah kotak musik di sini"

"Wah, nggak 'Abuse of Power' tuh?" pikir Shun sweatdrop

.

.

Begitu memasuki pabrik itu, mereka disambut sapaan hangat dari para pekerja pabrik

"Wah Mitsuki-chan! Kamu sudah besar ya? Tambah cantik saja!"

"Mitsuki-chan! Tumben datang ke sini? Bawa pacar lagi, ahaha"

"Mitsuki-chan? Ya ampun, saya hampir tidak mengenalimu! Sudah besar sekali! Tambah se** aja!"

OK, abaikan komentar terakhir itu. Kita langsung ke kantor manager pabrik itu saja

"Mitsuki-chan, ada perlu apa kesini?" tanya manager pabrik itu

"Manager-san, mungkin ini Abuse of Power... Tapi apa kita bisa mengambil salah satu kotak musik dari sini?" tanya Mitsuki to the point

"Wah, ternyata dia nyadar" pikir Shun

"Hmm... Kebetulan ada 1 kotak musik yang bisa kalian ambil"

"Benarkah!?"

"Iya, tunggu dulu kuambil ya..."

~SKIP TIME (Gak bosen-bosen)~

"Ini dia" ucap sang manager sambil memberikan sebuah kotak musik berwarna biru pucat dengan ukiran-ukiran timbul berwarna putih keperakan

"Cantik sekali..." komentar Shun

"Loh? Kotak musik ini... Mirip kotak musik ibuku di rumah" ujar Mitsuki

"Eh?"

"Hanya warnanya yang berbeda, milik Okaasan berwarna hijau pucat"

"Sudah kuduga kamu sadar, kotak musik ini sebenarnya dipesan Sono-san untuk ulang tahunmu tempo hari, tapi tidak jadi diambil beliau dengan alasan sudah punya hadiah lain" jelas Manager, "Dan bukan hanya warnanya yang berbeda loh, coba buka deh"

Mitsuki pun membuka kotak musik tersebut. Seperti yang anda duga, sebuah musik melantun dari kotak tersebut (Readers: Ya iyalah! Kotak Musik!). Tapi lagu itu, bukanlah lagu biasa...

"Musik ini... Bukankah ini Dareka no Tame ni ~What Can I Do for Someone~?" ujar Mitsuki

"Eh!? Lagu AKB48 itu!?" tanya Shun dengan tidak percaya

"PING PONG! Kalian benar!" canda Manager itu

"Sepertinya Sophie-chan akan suka ini ya?" tanya Mitsuki

"Sepertinya begitu" jawab Shun, "Ng, Manager-san. Apa benar tidak apa-apa kita mengambil ini?"

"Tentu saja! Sebenarnya ini kan hadiah untukmu, Mitsuki-chan. Anggap saja sebagai kado ulang tahun yang terlambat dari kami. Hahaha"

Sebuah senyum bak seorang dewi muncul di wajah Mitsuki "Terima kasih"

.

.

~Beberapa hari kemudian di Sanctuary, Kuil Scorpio~

"SOPHIE! DIMANA KAMU!? ADA PAKET UNTUKMU!" teriak Milo sambil mondar mandir di kuilnya

Tak lama, Sophie keluar dari kamarnya "Ada apa Kak Milo?" tanyanya pelan, tampaknya dia masih murung

"GAK DENGER? ADA PAKET BUATMU!" ucap Milo masih teriak-teriak, Sophie sontak menutupi telinganya

"Aku bisa mendengar dengan jelas! Tidak usah teriak-teriak dong!" serunya

"HAH!? NGOMONG APA BARUSAN!? GAK KEDENGERAN!?"

"Ah, aku lupa. Kemarin indera Kak Milo dihilangkan... Sepertinya belum kembali sepenuhnya ya?" pikir Sophie

Milo menatap adik adopsinya itu dengan pandangan bingung, "Ah sudahlah, ini paketmu!" pikirnya sambil menyodorkan paket tadi, dia tahu adiknya bisa membaca pikirannya

Sophie menerima paket itu dan kembali masuk ke kamarnya. Di kamar, dengan hati-hati ia membuka paket tersebut. Wajahnya berubah cerah ketika melihat kotak musik berwarna biru pucat dengan ukiran-ukiran timbul berwarna putih keperakan yang terdapat di dalamnya. Sebuah kertas juga tergeletak di atas kotak musik tersebut. Sang gadis berambut biru itu meraihnya dan mulai membacanya

Dear Sophie,

Apa kabar? Belakangan ini kamu terlihat murung, jadi aku mau mencoba menghiburmu. Aku... Bisa dibilang membeli kotak musik ini bersama Mitsuki-chan, semoga kamu bisa kembali ceria

Love,
Shun

Begitu selesai membaca, dia meletakkan surat tersebut dan meraih kotak musik itu, dibukanya dan sebuah lagu langsung melantun. Lagu Dareka no Tame ni ~What Can I Do for Someone~ by AKB48 yang diubah khusus menjadi lagu untuk kotak musik

Selagi mendengarkan, sebuah senyuman yang telah hilang entah berapa lama akhirnya kembali muncul di wajah sang gadis, "Terima kasih Shun, Mitsuki-san..." pikirnya


Date 2- 完」

SELESAI!

Wina:
Akhirnya selesai~ Kali ini gak begitu romantik ya? Maaf
Oya! Bagi yang mau mendengar musik Dareka no Tame ni ~What Can I Do for Someone~ by AKB48 yang diubah khusus menjadi lagu untuk kotak musik... Silahkan cari di Youtube! Ada loh! Tulis aja "dareka no tameni music box"
Sekian dulu, maaf atas segala typo, OOC keterlaluan, kegajean, ato ficnya aja yang terlalu jelek...

Next Up is... PHOENIX!