I wish that you are different from me.

Persona 4 © Atlus

Romeo and Juliet © William Shakespeare

Warning : Gaje,Ngaco,Aneh,Hint of Yaoi ? Hint of Yuri ?,Lebai n Sok Dramatis in this chapter!,Dll.

Efek samping : Cuma membuat anda sweatdrop karena cerita ini gaje atau nyesel karena dah mau-maunya baca cerita ini. Mungkin membuat anda terharu karena ke-sok-dramatis-an.


St. Reithania's class

Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Kota Neo Verona masih terlihat gelap. Terlihat dua orang yang sepertinya sedang dalam pertemuan rahasia di sebuah kelas.

"Jadi menurutmu kita harus bagaimana?" Tanya sebuah suara.

"Menurutku kita bersikap seperti biasanya saat ada orang lain." Jawab Souji

"Lalu apa be.." Naoto ingin bertanya lagi tapi langsung dipotong oleh Souji.

"Kita adalah teman saat kita berdua saja. Suatu saat nanti, saat kita menjadi dewasa nanti , saat kita bebas, kita akan memutuskan hubungan konyol keluarga Montaque dan keluarga Capulet" Jawab Souji lagi sambil menjelaskan.

"Aku setuju, sebentar lagi akan ada yang datang, aku pergi dulu. " Naoto mulai berjalan ke arah pintu kelas.

"Tunggu!" Cegah Souji.

"Apa?" Tanya Naoto.

"Sekarang baru jam 05:30, memangnya siapa yang akan datang jam segini? " Tanya Souji balik.

"Menurutkku akan lebih baik jika kita berhati-hati, mungkin tidak ada yang datang sepagi ini, tapi kenyataannya kau dan aku datang jam 05:00 untuk bicara berdua." Naoto lalu melanjutkan langkahnya.

"Naoto." Panggil Souji lagi.

"Apa lagi? Kau seperti kekasih yang tidak ingin ditinggalkan." Naoto berkata dengan senyum nakal di bibirnya

"Malam ini aku akan menyelinap ke kamarmu, untuk bermain tentunya." Jawab Souji sambil membalas senyum Naoto.

"Terserah, jangan sampai ketahuan. Doakan aku supaya bisa mencium Rise hari ini." Naoto lalu meninggalkan Souji di kelas sendirian.

"Good Luck Naoto!" Teriak Souji agar Naoto bisa mendengarnya.

Tanpa mereka sadari seseorang telah menyaksikan persahabatan mereka yang dirahasiakan itu.


Venees Garden

"Rise , aku..." Naoto berbicara dengan menatap mata Rise dalam-dalam.

"Ah, Naoto-kun. Jangan terburu-buru! Aku jadi malu." Rise yang sudah bisa menebak maksud Naoto tersenyum kepadanya dengan pipi yang bersemu dan tangan yang menutupi bibir mungilnya.

"Tapi aku..." Bantah Naoto dengan menatap Rise semakin dalam.

"By the way, Naoto-kun, maukah kau mewujudkan keinginanku? " Terlihat Rise mencoba menghindari tatapan Naoto.

"Apa?" Naoto menghela nafas, menyerah.

"Aku ingin ciuman pertamaku pada saat pernikahanku, maksudku saat pendeta memberkati kita." Jawab Rise dengan senyum mengembang diwajahnya.

Naoto mengerutkan keningnya. Ia mencoba menghitung berapa lama lagi ia akan menikah dengan Rise. Saat ini mereka berusia 16 tahun, masih 2,5 tahun sampai mereka lulus SMA, ditambah menyelesaikan kuliah 3,5 tahun, belum lagi ia harus bekerja untuk menambah pengalaman dan mempersiapkan dirinya untuk menikah nanti. Hal itu masih amat lama.

"Sudah ya! Aku ada pelajaran PKK ." Rise langsung meninggalkan Naoto , sepertinya ia menyadari kemurungan Naoto.

Naoto yang sendirian hanya bisa menghela nafas dan berbisik, " Masih amat lama..."


Outside St. Reithania's Gym

Terlihat Souji sedang berlari, ia berusaha untuk mencapai lapangan indoor sekolahnya. Lalu ia berhenti dan menepuk kepalanya.

"Aku lupa ganti baju! Pasti sekarang ruang ganti sedang dikunci." Keluh Souji.

"Sedang apa kau?" Tanya sebuah suara.

Souji menoleh dan melihat Naoto dibalik semak-semak. Ia belum mengenakan pakaian olah-raganya, seragamnya masih melekat dengan rapi di tubuhnya.

Souji menyadari kalau Naoto memang tampan.

"Aku lupa ganti baju, padahal bajunya ditanganku. Ruang ganti pasti sudah dikunci." Souji menjawab masih dengan mata yang mengamati Naoto.

"Ganti disini saja" Jawab Naoto sambil melepaskan kancing jasnya.

"Kau benar. Sebagai laki-laki ganti baju dimanapun tak masalah kan?" Souji juga mulai melepas kancingnya.

Souji melirik ke arah Naoto yang sudah melepaskan jasnya. Naoto memiliki bahu yang kecil dan tinggi yang tidak seharusnya untuk anak laki-laki seumurnya. Tapi dalam balutan kemeja putih dan celana panjangnya, Ia terlihat gagah. Dirinya yang selalu serius membuatnya semakin tampan. Tidak heran ia disukai gadis-gadis meski ia memiliki tubuh yang kecil, pikir Souji.

"Naoto-kun!" Panggil sebuah suara yang dikenal mereka.

Rise datang dan menghampiri mereka, terlihat ia sedang mengamati kedua lelaki didepannya dan langsung berteriak.

"Ah! Apa yang kalian lakukan?!" Teriak Rise sambil berbalik menutupi matanya.

Naoto dan Souji masih memakai pakaian mereka, tapi Souji sudah melepaskan 3 kancingnya dan Naoto seperti akan menurunkan resleting celananya. Pemandangan yang akan membuat siswi-siswi di sekolah itu bersemu merah. Lalu Rise berbalik lagi sambil mengacuhkan Souji dan menarik tangan Naoto.

"Ketua Osis memanggilmu , kau dan aku sudah diberi ijin untuk tidak ikut pelajaran olahraga. Ayo Naoto! Dah Souji-kun." Ucap Rise sambil mengambil jas Naoto dan menariknya pergi.

Dan Souji melanjutkan acara ganti bajunya.


Capulet's Residence

Naoto berbaring di tempat tidurnya yang empuk. Ia masih mengenakan seragam yang ia pakai tadi biarpun hari sudah gelap. Alisnya berkerut mengingat apa yang dilakukannya di sekolah. Ketua Osis menyuruhnya membawa barang-barang berat yang akan digunakan untuk festival St. Reithania besok.

Lalu terdengar suara ketukan dari jendela kamarnya. Naoto lalu bangkit dari tempat tidurnya dan menggeser gorden kamarnya. Ia melihat Souji sedang dalam posisi memanjat di balik kaca jendelanya. Naoto langsung membuka jendela dan membiarkan Souji masuk kekamarnya supaya tidak ada yang melihatnya.

"Punya nyali juga kau, seorang Montaque menyusup ke kediaman Capulet." Naoto berkata sambil menuangkan segelas air untuk Souji.

"Aku sudah bilang akan main, lagipula aku sudah bilang untuk melupakan nama keluarga kita saat berdua saja. Aku adalah Souji Seta dan kau adalah Naoto Shirogane. Mengerti?" Tanya Souji setelah bicara panjang lebar lalu ia meminum air yang diberikan Naoto.

"Jadi kau mau main apa? Masak-masakan?" Tanya Naoto bercanda.

"Hah? Memangnya kau belum pernah bermain dengan laki-laki? Aku rasa kau terlalu banyak bermain 'cinta-cintaan' dengan Rise!" Souji langsung tertawa setelah mengucapkan sindiran untuk Naoto.

Naoto yang kesal dengan sindiran Souji langsung mencekiknya dengan kedua lengannya. Souji yang kaget langsung dengan refleks memberontak. Pergumulan antara kedua remaja itu tidak berlangsung lama, mereka berhenti dalam posisi Souji diatas Naoto. Wajah mereka terpisah sekitar 15 senti, dan mereka terjebak dalam keheningan.

"Mungkin bukan kau, tapi aku yang gay." Tiba-tiba Naoto memecahkan keheningan diantara mereka.

"Apa?" Tanya Souji yang terkejut.

"Kau jauh-jauh dulu, baru aku bicara." Jawab Naoto dengan ekpresi yang terlihat keberatan dengan berat badan Souji.

"Ah maaf." Souji langsung menjauh dan duduk di samping Naoto.

"Dulu aku pernah merasa berdebar-debar dengan seorang lelaki." Naoto duduk dan mengingat-ingat. 'Dan kini denganmu.' Lanjutnya dalam hati.

"Apa?! Jadi Ri.." Souji yang kaget langsung bertanya tapi langsung dipotong.

"Aku mencintainya!" Potong Naoto.

"Kalau bersama Rise aku merasa nyaman , aku senang melihatnya tersenyum , rasanya jadi damai. Selain itu dia manis sekali. " Naoto duduk merenung.

"Aku tidak tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang tapi menurut para gadis-gadis , jatuh cinta itu membuat hati berdebar-debar , perasaan jadi tidak tenang." Jelas Souji.

"Tapi aku merasakan hal yang dirasakan lelaki lain! Aku ingin menyentuhnya.., seperti yang dirasakan lelaki lain." Ujar Naoto.

Lalu Souji meletakkan tangannya di atas kepala Naoto, lalu bergerak-gerak mengelus kepala Naoto.

"Sudah.., yang seperti itu tidak usah dipusingkan, yang namanya cinta itu bermacam-macam jenisnya." Souji menenangkan Naoto sambil tersenyum.

"Sou..., terima kasih." jawab Naoto.

Lalu Souji berdiri dan berkata,"Aku pulang dulu. Selamat malam." dan ia berjalan menuju jendela dan pergi.

Naoto memandang jendela, merenung, Souji Seta Montaque yang menjadi saingannya sejak kecil, ternyata menjadi teman yang baik baginya.


Venees Garden

Venees Garden dipenuhi dengan siswa-siswi St. Reithania. Hari ini diberikan ijin untuk semua murid memasuki Venees Garden yang biasanya hanya untuk murid yang berprestasi.

"Naoto-kun! Coba lihat, cocok tidak?" Tanya Rise sambil mencoba sebuah gelang perak.

"Tentu saja, dengan wajah semanis ini , mana mungkin tidak cocok." Puji Naoto.

Rise akhirnya membeli gelang tadi dan membawa Naoto ke stand ramalan, Rise meminta Naoto untuk menunggunya dan masuk sendiri. Setelah beberapa lama , Rise keluar dengan keceriaan yang dibuat-buat. Jelas hal ini membuat Naoto merasa heran.

"Ayo Naoto-kun! Coba minta ia meramalkanmu!" Rise mendorong punggung Naoto sampai ia masuk kesebuah tempat yang gelap.

'Buat apa sih!? Hasilnya kan pasti sama, ya itu kalau Rise menanyakan tentang hubungan kami.' Pikir Naoto sambil duduk di kursi yang disediakan.

"Nama?" Tanya sebuah suara yang membuat Naoto kaget.

"Eh? Naoto Shirogane Capulet." Jawab Naoto masih dalam kekagetannya.

"Hmm.. I see, Apa yang ingin kau ketahui?" Tanya sang peramal.

"Em.., apa ya... Siapa yang akan jadi pemimpin kota Neo Verona berikutnya?" Tanya Naoto dengan pernasaran.

"Keluarga Montaque atau Keluarga Capulet?" Lanjut Naoto.

"Tidak keduanya" Sang peramal langsung menjawab dengan tegas.

"Eh?" Respon Naoto dengan heran.

"Karena kedua keluarga itu tidak punya penerus yang akan memimpin kota ini." Sang peramal menjelaskan sambil menyandarkan dirinya di kursi.

"Ta..tapi kedua keluarga itu kan mempunyai penerus." Tanya Naoto dengan tergagap.

"Waktulah yang akan menjawab pertanyaanmu." Sang peramal berdiri lalu menarik naoto keluar dari stand ramalnya.

Naoto, yang masih dalam keadaan kaget, berdiri di depan stand ramalan. 'Apa yang akan terjadi?' Tanyanya dalam hati. Dan selagi ia memikirkan hal yang akan terjadi , Rise yang melihatnya dari tadi langsung memanggilnya.

"Naoto-kun? Peramal itu bilang apa? Tanya Rise dari belakang.

"Ah, tidak, bukan apa-apa." Naoto mencoba tersenyum supaya Rise tidak banyak tanya.

Sepasang kekasih itu kemudian berjalan mengelilingi Venees Garden dan mengunjungi stand-stand yang ada di tempat itu. Mereka mencoba berbagai makanan yang dijual, memainkan permainan yang ada, dan melihat-lihat keterampilan yang dipertunjukan oleh beberapa murid. Tak terasa hari sudah malam dan tiba saatnya puncak acara yaitu Dance Party.


Lavetia Hall

Naoto dan Rise sebagai pasangan kekasih, tentu mereka berdansa di acara Dance Party. Naoto yang tampan dan Rise yang cantik, tentunya membuat iri pasangan lain, gerak mereka yang ringan mengundang rasa kagum dari seluruh orang yang hadir ditempat itu, tapi pasangan ini juga dibicarakan dalam arti yang tidak menyenangkan.

Saat lagu selesai, Naoto yang kesal dengan apa yang dibicarakan orang-orang langsung berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Rise yang ditinggalkan hanya bisa memaklumi dengan apa yang dilakukan Naoto.


Venees Garden

Naoto duduk termenung memikirkan apa yang terjadi di Lavetia Hall. Ia mendengar samar-samar suara yang dibisikkan oleh orang lain. "Tapi ia pendek ya?" "Tinggi mereka tidak serasi." Itulah yang ia dengar selama ia berdansa dengan Rise. Pujian-pujian yang mengatakan ia tampan atau gerakannya luwes tidak dapat meredam kekesalannya.

Dalam keadaan kesal ia bertanya tanya mengapa ia sependek ini. Tanpa disadarinya sepasang tangan menutupi kedua matanya dan membuat ia terkejut. Karena tangan yang menutupi kedua matanya ini tidaklah mungil seperti biasanya -yang pasti Rise-, tapi tangan ini kokoh dan besar, tangan seorang lelaki. Tapi lelaki mana yang iseng seperti ini kepadanya?

"So..Souji?" Naoto mencoba menebak.

"Dasar detektif! Mudah sekali kau menebak siapa aku." Keluh Souji sambil melepaskan tangannya dari kedua mata Naoto.

"Kenapa aku tidak melihatmu di Lavetia Hall?" Tanya Naoto dengan tersenyum, sepertinya ia mulai melupakan kekesalannya.

"Tidak ada pasangan. Kan sudah direbut kau." Souji menjawab sambil memasang senyum jahil diwajahnya.

"Rise itu milikku lho." Ujar Naoto menegaskan.

"Iya, aku tahu, cuma bercanda." Souji menanggapi sambil memegang tangan Naoto.

"Karena kau sudah menghabiskan waktu dengan Rise , maka kau harus menemaniku. Ikut aku!" Ajak Souji sambil menarik Naoto.


St. Reithania's Rooftop

Kedua lelaki itu membuka pintu yang menuju atap. Naoto langsung menuju ke pagar pembatas melihat kebawah. Ia melihat lampu-lampu taman yang dinyalakan di Venees Garden. Dari matanya terlihat kalau ia mengagumi pemandangan dihadapannya. Dari belakang Souji menarik kepala Naoto ke dadanya dan mengangkat dagunya dengan tangannya sehingga membuat Naoto memandangnya. Hal yang berlangsung hanya dalam beberapa detik itu cukup membuat mereka berdebar.

'Naoto terlihat manis jika dilihat seperti ini' Pikir Souji.

'Kenapa aku berdebar debar? Tidak! Aku hanya kaget karena ia tiba-tiba menarikku seperti ini.' Pikir Naoto.

"Ahem, maksudku lihat ke atas bukan diriku." Souji menyadarkan Naoto dari lamunannya.

"Eh? Oh iya." Naoto yang tersadar melihat kearah yang dimaksud Souji. Ia melihat bintang-bintang bertebaran di langit malam yang keindahannya melebihi dengan pemandangan yang dilihatnya tadi. "Indahnya." Satu kata yang terucap dari bibirnya.

Akhirnya Souji dan Naoto menyadari posisi mereka yang tidak baik dilihat orang dan mereka menjauh. Entah mengapa hal tadi membuat pipi mereka bersemu merah dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Merasa aneh dengan apa yang dirasakan dan menyadari sesuatu.

"Aku mencintai lelaki ini" Sebuah kalimat yang melintas dipikiran mereka.


Author notes'

Saya/Aku/Gue mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua yang menyempatkan diri membaca dan mereview fic ini di chapter sebelumnya dan yang pasti chapter ini juga kan?? -ditimpuk- tidak lupa kepada yang men-fav fic ini, dan Saya/Aku/Gue -dihajar karena bertele-tele dan ga bisa menentukan kata ganti orang pertama- minta maaf atas deskripsi yang kurang detail atau membangun imajinasi pembaca. Mari kita lihat saat Souji menarik kepala Naoto, saya merasa aneh, biarpun sudah mencoba menjelaskan aku tidak yakin imajinasi pembaca akan sama dengan imajinasi gue.

Moment cinta-cinta-annya juga ancur , jadi pengen bersembunyi di kolong kasur, tapi ga bisa karena ga muat... , dan maaf ya kalau ada typo...

Maafkan saya juga dengan karakter yang rada OOC , aku berusaha keras tapi mau bagaimana lagi? Selain itu agak melenceng dari Romeo & Juliet aslinya, gue mengambil intinya yaitu persaingan dua keluarga dan cinta terlarang -Ditimpuk karena gonta-ganti kata ganti orang pertama- Fic ini bakal tamat di next chapter, nantikan ya!

Kritik, Saran , Dll, disampaikan lewat review ya! Maaf kalo saya balesnya lama reviewnya...


Preview

"Meski tidak bisa mengatakan aku mencintaimu dengan bebas."

"Meski tidak bisa bergandengan tangan didepan orang lain."

"Meski tidak bisa memadu kasih seperti pasangan lain."

"Asalkan bisa bersama, hal-hal remeh seperti itu tidak masalah."