Sinner
Disclaimers: Tite Kubo yang punya manga Bleach beserta semua karakter yang ada di dalamnya.
Summary: Sekujur kulit yang menutupi tubuh yang tadinya berwarna kecokelatan, kini berubah menjadi sewarna rambutnya. Merah.
Warning: bahasa berantakan, deskripsi kurang, EyD kacau, typo(s), AU, OoC, alur cepat. judul ngga nyambung dengan cerita, a HichiRuki dark fanfic dan setetes perasan jeruk pecel dari karakter lain, ^^a.
Rate: M for gore, violence, and blood.
DON'T LIKE, CLICK BACK IMMEDIATELY
»«
.
«»
.
"Ohayou Rukia-chan~" suara ceria seorang gadis bermata oranye menyapa seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Ohayou, Riruka!" balas Rukia tak kalah riang dan mulai memeluk teman sebangkunya itu.
Kedua sahabat tersebut langsung menempati bangkunya yang berada di pojok kanan. "Nee Rukia-chan, bagaimana kemarin kencanmu dengan si nanas merah. Apa kau sudah mendapatkan ciuman pertamamu, hm?" tanya Riruka begitu pantat mungil mereka menyentuh bangku kelas.
"Da-dari mana kau tahu kemarin kami berciuman!?" Rukia spontan berteriak kecil pada teman yang juga bersurai merah, hampir sama seperti milik kekasih yang baru dipacarinya selama seminggu.
Riruka menyeringai mendengar jawaban Rukia, "Ahhh, aku kan hanya bertanya apakah kau sudah berciuman atau belum," ia semakin mendekatkan duduknya ke arah gadis beriris ungu, "Jadi... bagaimana rasanya? Lembut dan basah, lalu secara naluri kau membuk— umhff."
Tangan kanan Rukia dengan sigap membungkam mulut bawel sahabatnya, sebelum kupingnya menangkap suara yang mampu membuat rona kemerahan semakin merajai kedua belah pipinya yang putih, "Diam. Dan kurasa aku tidak perlu mengatakannya, mengingat kau jauh berpengalaman melakukannya dengan Yukio."
Percakapan keduanya terhenti ketika bel berbunyi dan sensei berambut putih panjang mulai memasuki kelas dan pelajaran pertama di hari senin pun dimulai.
...
Kaki mungil Rukia melangkah dengan riang saat jam pelajaran berakhir. Dihampirinya Renji yang telah menunggunya di depan kelasnya untuk pulang bersama. Senyum mulai merekah ketika wajah sang pacar menyeringai bodoh. "Maaf Rukia, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang kali ini. Ada tugas yang harus dikerjakan berkelompok."
Bibir yang tadi terangkat bahagia kini layu, "Yaaah, mau bagaimana lagi kalau begitu... semoga sukses dengan tugasmu!" Rukia kembali memasang wajah cerianya lagi.
"Heh, syukurlah. Kukira kau akan marah padaku. Lekas pulang dan jangan main-main!" tangan besar Renji mengacak rambut gadis di depannya lembut.
"Ahrh, hentikan nanas! Aku baru saja keramas tadi pagi!" protes Rukia seraya menjauhkan tangan penuh kuman dari kepala hitamnya. Renji hanya tertawa ringan melihat wajah sebal Rukia yang menurutnya sangat menggemaskan.
Pemuda berusia 15 tahun tersebut kemudian berjalan menjauh dan melambaikan tangannya. Rukia hanya menghela napas pasrah saat menghadapi kenyataan jika ia harus pulang sendirian sore ini. Dilihatnya punggung lebar Renji yang semakin mengecil dan akhirnya menghilang dibalik tikungan. Hanya perasaannya saja, atau memang ini adalah pertemuan terakhir mereka?
.
.
Sinner
.
.
'Praaanngg'
Piring cantik hadiah dari deterjen bubuk yang baru dibeli seminggu lalu kini berubah menjadi serpihan kaca yang tajam dan berserakan di kamarnya.
"Apa kau tuli, hah! Aku sudah memanggilmu ratusan kali untuk dibelikan bir!" kini tangan kasar mencengkeram kerah kemeja yang dipakai si pemuda pemilik kamar sempit.
"Aku sudah tidak mempunyai uang."
Sepersekian detik berikutnya pelipis bocah remaja mengucurkan darah segar akibat pukulan tangan dari orang yang sampai saat ini masih dianggapnya sebagai ayah. "Sekarang cepat keluar dan jangan kembali kemari sebelum kau membawakanku sebotol minuman!" laki-laki paruh baya dengan rambut ikal sepundak langsung menyeret anak peninggalan isterinya dan melemparkannya keluar rumah. "Ingat, jangan kembali tanpa bir!" debuman pintu reyot menandakan jika ia harus bekarja lembur lagi malam ini. Disekanya cairan merah yang mengelir dipelipisnya dengan punggung tangan, kemudian beranjak pergi.
Hichigo berjalan menyusuri pinggiran kota Karakura, berharap ada rejeki yang datang menghampirinya. Bocah seumuran yang seharusnya masih bisa merasakan kehangatan kedua orang tua, telah hilang sejak 10 tahun lalu. Berganti menjadi pribadi yang pendiam dan sama sekali tidak mempunyai satu pun teman. Umm, itu 6 tahun lalu sebelum ia secara tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya menjadi pemuda yang mempunyai setidaknya satu tujuan hidup. Membuatnya berjanji untuk terus menjaganya, melindunginya dari apapun dan siapapun yang membuat wajah manis bersedih dan atau iris ungu mengeluarkan air mata. Satu-satunya orang yang menganggapnya manusia berharga sama seperti yang lain.
Langit senja kemerahan mengiringi langkah layu kaki-kaki panjangnya yang tertutup celana jeans belel dan beralaskan sandal jepit usang. Iris emasnya berkilat diterpa sinar mentari sore, saat sosok mungil yang berjalan di depannya adalah gadis yang dikenalnya. Seringai jahil yang lebar segera tercetak di wajah kusutnya. Ia berjalan dengan cepat, namun tetap tidak menimbulkan suara langkah yang terburu-buru. "Tebak siapa."
Sepasang tangan besar dan kasar tiba-tiba menutup kedua kelopak matanya dari belakang, disertai bisikan pelan yang menggelitik telinga kanannya membuat Rukia merinding dengan sendirinya. "Hichi, aku akan menghantuimu seumur hidup jika aku mati terkena serangan jantung!"
"Hahaha, kalau begitu aku akan menemanimu mati, Rukia-chan~" pemuda itu kemudian berjalan di samping teman tunggalnya. "Kau mau kemana? Bukankah jalan ke rumahmu berseberangan?"
"Aku mau jalan-jalan sebentar, apa kau mau menemaniku?" tanya sang gadis mungil penuh harap.
Senyum samar lagi-lagi terlihat di wajah pemuda putus sekolah, "Tentu saja, apapun yang Anda minta, Tuan Putri~" candanya.
Mereka berdua berjalan dalam diam. Hichigo yang memang terkadang tidak banyak bicara, sedangkan Rukia enggan membuka suara. Dibiarkannya angin yang menuntun arah hingga kaki tak sanggup melangkah. Melewati taman, pusat perbelanjaan, area pertokoan... hingga akhirnya kaki mungil berhenti melangkah di depan sebuah kafe dengan dinding kaca transparan. Detak jantungnya mulai terasa berat dan udara serasa sesak mengisi bilik paru-parunya. Iris ungunya terasa panas melihat apa yang ditangkap indera penglihatannya. Seorang lelaki yang sangat dikenalnya sedang tertawa riang dengan gadis yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya. Seraya menikmati es krim di cuaca sore yang cukup gerah .
"Rukia-chan?" mata emas Hichigo mengikuti arah pandang Rukia yang tertuju pada satu titik. Geraman kecil lolos dari tenggorokannya, tangannya terkepal erat melihat kekasih dari sahabatnya berduaan dengan gadis lain. Namun sebelum kakinya sanggup melangkah menghampiri, Rukia terlebih dahulu berlari menjauh darinya.
...
Ditemani cahaya lampu jalanan yang mulai menyala satu-persatu dan bintang yang bertebaran layaknya ketombe di kepala hitam, serta bulan sabit yang seolah tersenyum menyapa penghuni kolong langit, Rukia duduk dibangku ayunan yang sampai saat ini masih terpasang kokoh. Kakinya terayun maju-mundur menggerakkan ayunan secara perlahan. Kepalanya masih setia tertunduk sejak beberapa menit yang lalu. Berbanding terbalik dengan pemilik surai putih, yang sengaja menatap indahnya lukisan malam. "Kau harus segera pulang Rukia-chan."
"..."
Tidak ada jawaban.
"Masih ada banyak laki-laki lain diluar yang akan menyukaimu."
Hanya hembusan napas yang terdengar berat yang menyahut pernyataannya serta kepala yang semakin tertunduk dalam. Hichigo masih ingat betul, bagaimana minggu lalu Rukia dengan semangat menceritakan bahwa gadis itu mempunyai kekasih baru, yang merupakan orang yang sangat didambanya sebagai pacar pertama. Bagaimana kupingnya dijejali oleh angan-angan Rukia jika seandainya mereka— Rukia dan Renji— menikah dan dikaruniai anak yang lucu dan menggemaskan.
"Umh, seandainya saja sekarang dia ada di hadapanmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Hichigo, mencoba mengetahui perasaan Rukia mengenai pacar pertamanya. "Hanya ingin tahu imajinasi dari luapan kemarahanmu saja."
"Entahlah..." jeda sebentar, "Mungkin aku akan memakinya sepuasku, lalu akan ku cabuti satu-persatu rambut merah menyebalkannya itu!" suara Rukia semakin meninggi. "Kemudian aku akan memotong tubuhnya kecil-kecil dan memberikannya pada anjing jalanan untuk makan malam, karena sudah berani mempermainkan perasaanku!"
"Wo-wow."
Rukia tertawa keras karena menganggap Hichigo serius menanggapinya. "Aku hanya bercanda Hichi~, tidak mungkin aku sanggup melakukannya kan?" gadis itu berdiri dari tempat duduknya, "Ah sudahlah... mungkin benar yang kau bilang tadi, masih banyak laki-laki diluar sana. Baiklah, aku pulang duluan yah, jaa~" siswi menengah pertama itu melambaikan tangannya, meninggalkan sang sahabat yang masih mengingat apa saja yang ingin dilakukan Rukia pada mantan kekasihya.
"Itukah yang kau inginkan Rukia-chan? Jika kau tidak bisa melakukannya, mungkin— ahh tidak, aku pasti yang akan melakukannya untukmu," tubuh setinggi lebih dari 180cm tersebut berdiri kokoh, "Saatnya berpesta, Renji..."
.
.
Sinner
.
.
"A-ahh~" desahan terus mengalun dari bibir merah seorang gadis yang ditindih badan besar pemuda di atasnya. Suara decit ranjang ikut bergoyang mengikuti irama sepasang manusia yang tengah berdansa dengan indah di awang-awang surgawi dunia. Tubuh polos yang telah berlumuran peluh kenikmatan semakin menambah daya pikat bagi siapapun yang melakukan kegiatan yang serupa.
Jeritan gadis bersurai hitam semakin menambah semangat sang pemuda untuk menambah kecepatannya, bagian pinggulnya maju-mundur dengan tempo yang lebih cepat dan semakin menggila ketika ia merasa tak mampu lagi menahan hasrat yang terpendam.
Dibukanya mata yang sedari tadi tertutup rapat untuk melihat kekasihnya mengerang kenikmatan dengan rona wajah yang merah. "Renjihhh!" namanya terucap cukup keras seakan menjadi pemicu keluarnya cairan putih kental ke dalam lorong hangat yang sejak tadi dipompanya sekuat tenaga.
Tubuh besarnya ambruk ke dalam pelukan hangat gadis yang baru kemarin resmi menjadi kekasihnya. "Aku mencintaimu Renji."
"Hm."
...
Bulan sabit masih tersenyum riang menghiasi lautan kelam. Hampir tidak ada satu orang pun yang masih berada di luar rumah, mengingat jam telah berdetak 12 kali beberapa menit lalu, menandakan pergantian hari. Hampir tidak ada, kecuali seorang pemuda dengan jaket tipis yang sedang berjalan dengan tenang. Ia sudah tahu di mana letak targetnya berada. Menjadi tempat curhat mantan kekasih target memang memberikan banyak keuntungan.
Sebuah apartemen murahan dengan 2 lantai, yang merupakan tempat berteduh sang calon korban telah berada di depannya. Dengan tenang dilangkahkan kakinya menaiki satu-satu tangga yang akan membawanya semakin dekat pada tujuannya.
Angka 14 terpasang di tengah pintu yang kini diketuknya pelan dengan tangan kiri. Terdengar suara gerutuan di balik pintu kayu sebelum terbuka. Tanpa rasa iba, begitu manik emasnya menangkap siluet pria, langsung diayunkannya tongkat bisbol yang sedari tadi dipegangnya ke arah kepala korban. Membuat lelaki dengan rambut terurai panjang jatuh berdebum keras.
"Mari kita bersenang-senang~"
...
Renji menggeram kesakitan saat kesadarannya berangsur pulih. Kepalanya terasa berat dan berputar ketika ia mencoba membuka mata. Ia merasakan tubuhnya seperti terjatuh dari tebing curam berbatu. Tangannya terikat erat ke atas oleh seutas tali yang tersambung dengan langit-langit.
"Kau sudah sadar?" suara berat khas laki-laki terdengar menyambutnya kembali dari alam bawah sadar. "Apa kau tahu, sebenarnya aku juga enggan melakukan ini. Tapi..."
"Siapa ka—ARRGH!" jeritan keras keluar tatkala sebuah pukulan dari batang kayu menghantam perutnya yang telanjang hingga membuatnya memuntahkan darah ke lantai.
"Ahhh, jangan berteriak seperti anak perempuan begitu~"
Ruangan dengan cahaya remang-remang karena lampu tepat berada di atasnya dengan penutup berbentuk segitiga, membuat hanya tubuh setengah telanjangnya yang nampak jelas. Sosok penyerang bersembunyi dengan lihainya di balik bayangan cahaya lampu berwarna kuning keemasan.
"Apa maum—Ohok!" cairan merah kental sekali lagi muncrat dari mulutnya akibat tusukan keras pegangan tongkat bisbol.
Tawa keras menggema di ruangan yang tidak lebar tersebut, "Kau bisa menyebutku sebagai dewa kematian untukmu. Dan aku ingin kau merasakan ratusan kali rasa sakit yang dirasakan seseorang akibat perbuatanmu!" intonasi si penyerang semakin tinggi disetiap kata yang terucap.
"Aku tidak—Argh!" ucapannya terhenti ketika rambut panjangnya ditarik kebelakang. Dinginnya bahan yang terbuat dari besi memberi salam pada dahinya. "Uuaargghhhhh!" ia menjerit sekuat yang ia bisa saat benda tajam bernama pisau menguliti kepalanya secara perlahan hingga ke leher bagian belakang. Air mata mulai keluar bersamaan dengan darah yang mulai menuruni punggungnya. "Aku –hiks- mohon, hentikan ini –hiks-..." ucap pemuda bertato yang bagian tengah rambutnya menghilang diselingi isakan menyedihkan.
"Ohh, tato yang indah sekali~" pisau tajam mulai mengukir setiap jengkal tato yang terlukis di bagian dada. "Berteriaklah sekeras mungkin, itu akan semakin membuatku bersemangat!"
Kulit dada kecokelatan telah berubah menjadi sumber aliran darah yang mengalir deras ke bawah tubuhnya. "A...pa... sal...ahku?" dengan kesadaran yang masih tersisa ia bersuara. Pisau yang tadi digunakan untuk menguliti dibuang oleh maniak yang menyerangnya. Kini tatapan horor semakin kentara ketika kapak berukuran cukup besar menjadi senjata berikutnya.
"Kau tanya apa kesalahanmu?" tawa keras sang maniak kembali membahana, "Kesalahanmu adalah..."
Craaashh
"Arrgghhh!" kedua pergelangan kaki yang tadi mesih menempel erat kini terlepas dari tempatnya terpasang.
"Menyakiti perasaan..."
Craashh
"Arrrrghh! Hentikan..." kini sebelah kakinya terjatuh di atas lantai, bau anyir darahnya sendiri semakin tajam memenuhi udara yang ia hirup. Tingkat kesadaran semakin sulit untuk ia pertahankan.
"Gadis berambut hitam yang kukagumi..."
Crraasshh
Ia sudah tidak mampu lagi bersuara. Jangankan bersuara, bernapas pun menjadi hal paling sulit untuknya saat ini. Tubuhnya otomatis bergelantungan pada pergelangan tangan yang terikat, karena kedua kakinya kini tergeletak lunglai di atas lantai yang kini berubah menjadi lautan darah miliknya. Darah terus menetes dari perpotongan lutut yang putus.
Otaknya mencoba menggali ingatan yang terselip... gadis berambut hitam... yang telah ia sakiti... gadis berambut hit— Ah Rukia! sekarang ia ingat telah menduakan gadis kecil seangkatannya itu. Salahnya yang telah membagi hati. Salahnya karena tidak mampu setia. Salahnya karena mempermainkan perasaan seorang gadis polos. Salahnya karena... "Maafkan aku Rukia..."
Craaasshh
Ayunan terakhir dengan sekuat tenaga memotong kedua lengan sekaligus kepala merah.
Salahnya karena... mempermainkan gadis yang mempunyai raja iblis sebagai penjaga.
...
"Naaah, makanlah sepuasmu~" tangannya masih berlumuran darah, meskipun sudah mulai mengering. Seringai bagai bulan sabit yang masih bertengger di atas kembali terbentuk, tatkala anjing-anjing liar mulai berebut daging segar yang baru saja dibawanya. "Selamat makan kawan..."
.
.
Sinner
.
.
"Hei Rukia-chan, apa kau benar-benar tidak tahu di mana mantan kekasihmu pergi? Sudah lebih dari sepekan ia tidak menampakkan rambut merah menyalanya," tanya Riruka disela-sela makan siangnya.
Rukia menghembuskan napas pelan yang terasa berat, "Entahlah... aku benar-benar tidak tahu," ia menggigit roti melon yang dibelinya di kantin sekolah. "Mungkin saja dia lupa jalan pulang ke apartemennya dan diserang anjing liar yang kelaparan dan dimakan tanpa sisa, hahahahha."
"Hei! Aku tahu kau sangat membencinya setelah insiden itu. Tapi candaanmu barusan membuatku kehilangan selera makan! Oh, terima kasih Rukia! Terima kasih banyak!"
Kau tahu Riruka, seandainya kau tahu ucapan Rukia tadi bukanlah bualan belaka, mungkin seumur hidup kau akan berada dalam kengerian tanpa batas.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
A/N: Maaf kelamaan updatenya! Haha, kukira ngga ada yang mau baca cerita ngawur yang kesekian buatanku, mengingat genre, pair dan ide cerita yang sangat tidak populer di FBI tercinta ini. Jadi aku santai-santai aja bikinnya, ^^a
Oh ya, info jika di sini Renji hidup sendiri, jauh dari orangtuanya yang berada di kota lain. Dan cewe selingkuhan Renji, aku memang tidak menjelaskan secara detail. Saat adegan mesumnya di rumah si cewe, jadi dia tidak tahu Renji diserang ^^. Sekalian MAAF untuk Renji's fangirl/fanboy! m(_ _)m
Special thanks to: Keiko Eni Naomi, Sakura-Yuki15, hendrik widyawati, Wisyh Nara, Purple and Blue, Voidy, Kiki RyuEunTeuk, dan juga wintersia. Terima kasih reviunya! *hug* XD
Voidy: haha, jangan khawatir! Rukia tidak akan apa-apa (mungkin), XD. Umh, untuk Hichi dia emang nganggep Rukia sebagai 'ratu' yang harus dilindungi, tapi dia tidak menganggap dirinya raja kok. Yang raja itu kan Ichigo *slap*, XDb. Terima kasih reviunya senpai! =D
Untuk update selanjutnya mungkin akan 'sedikit' lebih lama, maaf sebelumnya yah... aku ingin break sebentar saja, ditambah kondisi tubuh yang semakin meriang dan hidung mulai mampet...
Oh ya, mumpung ada Renji dicerita ini, bisa minta waktu buat curcol sebentar. Dulu aku pernah baca suatu essay kalo ngga salah. Bilang jika Ururu dan Jinta itu adalah anak masa depannya Renji dengan Rukia yang dikirim mesin waktu(?)! WTF! Dia bilang rambut merah Jinta warisan dari Renji sedangkan rambut hitam Ururu dari Rukia, dan juga jangan lupakan 'poni' unik yang jatuh di antara mata mereka berdua. Ya ampun! Aku speechless waktu baca itu, T_T. Gimana kalo itu beneran? Euhh... noooo.
Ah, sudahlah... itu hanya spekulasi fans'kan?
Eh lupa, jika ada saran dan kritik silahkan post lewat reviu. Terima kasih sebelumnya, ^^b
