The New Staff

Main cast:

Kim Taehyung (BTS) x Jeon Jungkook (BTS)

Min Yoongi (BTS)

Park Jimin (BTS)

Kim Yugyeom (Got7)

Rating: T alias Aman

Disclaimer: Member BTS milik Bighit Ent dan orang tua masing-masing

Warning! Boyslove alias yaoi. Author masih pemula. Typo bertebaran. OOC. Nggak suka pairingnya? Silahkan tekan tombol close :D

Chapter 2

.

.

.

Hari ini hari Minggu. Masih pagi banget, sekitar jam 6an. Tapi Jungkook udah ada di salah satu taman paling gede di kotanya. Biasanya jam segini dia masih pules di atas kasur kesayangannya, tapi pagi ini dia diseret paksa sama kakak sepupunya –Yoongi buat ikutan jogging di sini. Taman ini memang salah satu tempat kumpulnya anak-anak muda pas hari Minggu, selain karena tempatnya enak buat jogging juga karena banyak orang jualan makanan di sini.

Dalam hati sebenernya Jungkook malesnya minta ampun buat nemenin Yoongi kesini. Pertama, karena Yoongi kesini buat janjian jogging bareng sama Jimin –fyi mereka saling ngeceng, dan yang kedua hari minggu itu udah Jungkook deklarasikan sebagai hari bangun siang –kecuali kalau di kampusnya sedang ada acara tertentu. Jadi seharusnya dia masih hibernasi dibalik selimutnya. Tapi mau gimana lagi, Jungkook terlanjur sayang dan takut sama sepupu yang sekarang tinggal serumah sama dia ini.

Jadilah dia di salah satu bangku taman, duduk ngantuk-ngantuk sendirian kayak anak ilang. Yoongi bilang dia mau pemanasan dulu, dan nyuruh Jungkook duduk diam di sini. Jungkook nurut aja, toh dia ke sini memang ngga ada niat buat olahraga.

"Loh? Jeon Jungkook ya?"

Jungkook noleh males-malesan, maklum masih ngantuk. "Eh Pak Taehyung." Sapanya sopan.

'Tuh kan gue dipanggil Bapak lagi.' Batin Taehyung muram. "Ngapain duduk bengong disitu? Nggak jogging?"

"Nggak pak, lagi males." Jawab Jungkook sambil nguap. "Bapak nggak pengen duduk?" tanya Jungkook sambil ngegeser duduknya.

"Oh boleh deh." Taehyung lalu duduk disampingnya sambil ngelirik Jungkook diam-diam. Mereka berdua kemudian cuma duduk diem-dieman tanpa saling ngobrol. Jungkook sih emang karena dianya masih ngantuk jadi males ngobrol, sementara Taehyung masih merasa canggung buat ngajak ngobrol duluan.

Bermenit-menit mereka duduk berdampingan tanpa ada yang memulai percakapan duluan. Sampai akhirnya Taehyung mendengar gerutuan dari pemuda di sebelahnya.

"Kak Yoongi lama." Jungkook menendang kerikil-kerikil kecil yang ada di depan kakinya.

"Kookie masih ngantuk demi apa." Sekarang kaki-kakinya menghentak.

"Ya ampun kalo mau pacaran kenapa ngajak Kookie sih?" gantian kedua tangannya yang meremas celana trainingnya gemes.

"Elu juga lemah sih Kook, masa disogok pizza aja mau."

Taehyung melongo ngeliatin Jungkook yang ngedumel sendiri di sebelahnya. Gemes juga sih sebenernya. Nggak nyangka Jungkook yang badannya tinggi berisi gitu masih merengek macem bocah playgroup yang ditinggal kakaknya maen.

"Eh, Jungkook." Panggil Taehyung sambil nowel-nowel bahu Jungkook. "Mau jajan nggak?"

"Hah?" sekarang giliran Jungkook yang melongo. 'Lah gue baru inget lagi duduk sama Pak Taehyung.' Batinnya. "Jajan kemana Pak?"

"Itu yang buka warung tenda." Taehyung mengendikkan bahunya ke arah kerumunan warung tenda yang nggak jauh dari mereka. "Kamu laper nggak? Makan yuk daripada ngedumel sendiri nggak jelas gitu."

Jungkook merengut. Enak aja dibilang ngedumel-sendiri-nggak-jelas-gitu sama orang disebelah ini. Tapi emang dia kelaperan sih. Marah-marah gitu bikin dia kelaperan.

"Saya laper sih, Pak." Katanya dengan muka memelas. "Tapi saya nggak bawa uang."

Taehyung menghela napas pasrah. "Yaudah deh saya bayarin."

"Bener nih Pak?" Jungkook nyengir lebar. Matanya yang bulat besar/? berbinar-binar bahagia. Duh, Taehyung jadi silau. "Iya, yuk buruan. Warungnya rame."

Jungkook ngangguk-angguk antusias sambil bersyukur dalem hati. 'Untung gue ditemuin sama Bapak TU nan baik hati. Lumayan kan dapet traktiran.' Dia lalu ngekorin Taehyung berjalan ke arah warung tenda di sekitar mereka.

.

.

.

"Jadi Bang Jimin itu dulunya sekelas sama Bapak?" tanya Jungkook sambil melahap roti gorengnya.

Sekarang mereka berdua balik lagi duduk di bangku tadi setelah membeli beberapa biji roti goreng dan air mineral. Mereka ngobrol-ngobrol sambil makan roti goreng yang semuanya dibeliin sama Taehyung, sambil nunggu Yoongi balik dari acara pemanasannya.

Taehyung manggut-manggut. "iya, dari sekolah menengah. Sekarang kita sekantor lagi. Ya ampun kayak nggak ada orang lain aja gitu di dunia."

Jungkook ngakak. "Paling enggak Bang Jimin kan orangnya lucu, walaupun rada nyebelin sih. Lumayan lah buat hiburan"

"Iya sih, tapi kalo ketemunya dia lagi dia lagi ya bosen banget."

"Jodoh kali Pak." Celetuk Jungkook asal.

"Uhuk, uhuk." Taehyung terbatuk heboh keselek roti goreng yang dia makan gegara omongan Jungkook.

Jungkook lalu buru-buru ngasih minuman dinginnya ke Taehyung. Taehyung yang beliin sih. "Ya ampun, Pak. Makannya pelan-pelan aja. Saya nggak bakalan minta koook."

Taehyung menegak minuman Jungkook rakus terus megap-megap buat melancarkan pernafasannya. 'Gara-gara siapa coba.' Batin Taehyung. "Kamu sih ngomongnya sembarangan." Dengusnya.

"Lah emang saya ngomong apa Pak?" tanya Jungkook dengan muka polos. Taehyung mau marahin dia jadi nggak tega. "Nggak deh lupain."

Jungkook angkat bahu terus anteng lagi makan roti goreng yang masih sisa beberapa biji.

"Ngomong-ngomong Bapak ke sini ngapain? Beli roti goreng doang?" tanya Jungkook basa-basi. Nggak enak dong sama Taehyung, udah dibeliin roti goreng plus minuman dingin masa Cuma dia diemin aja.

Taehyung menggeleng sambil ngunyah potongan terakhir rotinya. "Diajakin Jimin. Tapi malah ditinggalin gara-gara dia mau ngajak gebetannya jogging."

Jungkook mendengus. "Sialan emang tuh mahluk dua. Dikiran kita pengawal pribadinya apa?"

"Lah, kamu kenal emang sama gebetannya Jimin?" tanya Taehyung bingung.

"Kenal lah, Pak. Orang gebetan Bang Jimin itu sepupu saya. Saya kan disuruh jadi mak comblangnya mereka."

"Kasian amat kamu. Udah disuruh nyomblangin tapi malah ditinggal pacaran." Kata Taehyung setengah prihatin setengah ngejek?

"Bapak teh simpati apa ngejek saya? Makasih loh, Pak." Kata Jungkook keki.

"Hehehehe sama-sama." Jawab Taehyung sambil cengengesan.

Jungkook menghela napas terus ikutan ketawa juga. 'Tawanya si Bapak nular deh kayak virus flu.'

.

.

.

Jungkook langsung nyusruk ke kasurnya begitu dia selesai mandi. Setelah sekitar satu jam nungguin, akhirnya Jimin sama Yoongi balik juga dari acara joggingnya. Mereka berempat –Jimin, Suga, Jungkook, dan Taehyung sempat ngobrol bentar sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Di luar kamar, Yoongi neriakin Jungkook buat ngajakin sarapan. Udah telat sih sebenernya, tapi gimana lagi Yoongi laper. Dan tadi kayaknya Jungkook rada ngambek ditinggal jogging. Salah satu cara buat ngebujuk dia kalo lagi ngambek ya pake makanan.

Jungkook malah nyuekin Yoongi dan mulai meremin matanya. Belum ada semenit dia meremin mata, pintu kamarnya menjeblak terbuka dan kepala Yoongi menyembul dari pintu.

"Oy, makan yuk. Gue masakin enak nih." Ajak Yoongi.

Jungkook cuma menggumam malas tanpa membuka matanya.

'Lah nih bocah masih ngambek.' Batin Yoongi. "Kookie, makan dulu. baru bobok lagi. Kasian itu peliharaan kamu nanti jadi kurus."

Jungkook ngebuka matanya dan duduk males-malesan di atas kasurnya. "Peliharaan apaan?" tanyanya bingung. "Kookie masih kenyang, Kak. Simpen aja di meja, nanti siangan Kookie makan."

"Itu cacing di perut elu." Jawab Yoongi ngaco. "Lu kenyang dari hongkong? Dari pagi belom makan juga."

"Ih udah tadi. Makan roti goreng." Jawab Jungkook. "Di tempat jogging tadi loh waktu Kookie ditinggalin Kak Yoongi pacaran."

"Asem, siapa juga yang pacaran." sungut Yoongi. Jungkook mendengus ngeliatnya. 'Lah mukanya merah gitu sok-sokan ngeles.'

"Jangan boong deh, elu tadi kan nggak bawa duit." Kata Yoongi sambil jalan ke kasurnya Jungkook terus duduk di pinggiran kasurnya. Pegel cuy berdiri sambil ngomong gitu.

"Iya sih, tapi suwer tadi Kookie makan roti goreng banyak." Jungkook ngomong sambil nunjukin tanda peace ke Yoongi. "Tadi dibeliin Pak Taehyung. Sama air minumnya juga."

Yoongi masang muka kebingungan. "Elu malakin bapak-bapak?"

Jungkook facepalm. "Mana ada malakin orang roti goreng? Mending palakin dompetnya terus jajan yang mahalan."

"Bener juga." Yoongi mangut-mangut. "Terus itu Bapaknya siapa yang ngasih Roti goreng?"

'Jangan-jangan tadi rotinya udah dikasih racun terus habis dimakan Jungkook keracunan terus mau diculik.' Yoongi ngebatin ngeri. 'Ya ampun gue belum mau kehilangan nih bocah.'

Jungkook facepalm lagi. "Itu loh Kak yang tadi ngobrol sama kita. Temennya Bang Jimin."

"Oh, yang temennya dari SMA itu ya?" Yoongi mangut-mangut. "Yaudah, nanti siang bangun, terus makan. Kalo nggak bangun gue tabok sampe elu nggak bisa jalan." Ancam Yoongi.

"Ya ampun sadis amat." Jungkook bergidik ngeri. "Iya, iya. Gue masang alarm deh nih di hape. Tapi kalo nggak bangun tolong banguninnya yang manusiawi dong Kak."

Yoongi ketawa ngedenger perkataan Jungkook. Sebenernya ia juga bercanda tadi, masa iya dia tega nyakitin sepupu kesayangannya.

"Udah nih." Jungkook menunjukkan layar handphone nya yang masih membuka aplikasi alarm. "Udah sana Kak Yoongi keluar. Gue masih pengen menikmati sisa hari libur dengan tenang. Hush Hush." Usir Jungkook.

Yoongi menjitak kepala Jungkook gemas. "Iya kelinci cerewet. Sebelum bobok doa dulu ya, biar ga mimpiin jurig."

"Duh, Kak. Sakit tau!" kata Jungkook kesel sambil ngelus-elus kepalanya yang kena jitak Yoongi. "Ngapain takut sama jurig, Kak Yoongi lebih serem kemana-mana."

Yoongi melotot, udah siap ngejitak kepala Jungkook lagi. "Ampun, Kak. Ampun. Nanti otak Kookie jadi bego kalo dijitakin mulu."

"Yaudah, sana bobok. Gue keluar ya."

"Iya. Bye Kak Yoongi." Jungkook lambai-lambai ke arah Yoongi yang lagi menutup pintu.

'Akhirnyaaa, minggu yang indah.' Batin Jungkook seneng sambil menggelung di atas kasurnya.

.

.

.

Minggu yang indah berganti lagi jadi senin. Jungkook melirik jam tangannya gemes. Udah hampir sejam lebih dia nugguin dosen, tapi yang ditunggu ngga nongol-nongol. Pengennya sih, dia telfon dan marah-marahin gegara bikin dia nunggu. Tapi untungnya Jungkook masih sadar, yang dia tunggu bukan sembarang dosen. Tapi Pak Kepala Prodi. Bisa dapet SP dia kalo berani-berani memaki dosen.

Mau pergi juga gimana, dia butuh tanda tangan dosen itu di proposal acara yang dia bikin. Seharusnya proposal ini udah ditandatanganin kemarin-kemarin setelah diperiksa, tapi kayaknya si Bapak Professor lagi kurang fokus. Dia lupa ngasih tanda tangan keramatnya ke proposal itu. Mungkin lain kali kalau ngasih proposal Jungkook juga ngasih Aq*a.

'Hampir jam satu.' Batinnya ngenes. Dia ada kuliah jam satu ini, dan sialnya belom sempet makan siang. Perutnya udah kelaperan sedari tadi, tapi demi proposal ini dia tahan rasa lapernya. Kemaren dia sempet kena semprot Bang Sungjin –ketua BEM Fakultasnya – gegara pulang tanpa tanda tangan dosen. Dan dia gamau di semprot lagi. Big No.

Jungkook lalu ngeluarin hapenya, dan membuka aplikasi line buat nge-chat sahabat bongsornya.

Jungkook J.

12.57 Yug, gue kayaknya telat masuk kuliah.

12.57 Kalo engga kayaknya gue bakal ngga masuk.

12.57 TA in gue peulis

12. 57 *Emot Cony nangis*

Kim Yugyeom

12. 58 Napa lu?

12.58 Kesiangan?

Jungkook J.

12.58 Kaga

12.58 Gue di PHP dosen lagi.

12.58 *Emoji nangis*

12.59 *Emoji nangis*

12.59 *Emoji nangis*

Jungkook menatap layar hapenya lesu. Udah dua menit tapi Yugyeom belom bales juga. 'Di read doang dih.' Batinnya sedih. Dia nyoba ngehubungin lagi sahabat baiknya itu.

Jungkook J.

13.01 Yug?

13.01 Yugyeomie ping!

13.02 Yugyeomie ping!

13.02 Yuuuuuuug?

Udah jam 13.05. sekarang malah chatnya ngga diread sama sekali. Jungkook lalu duduk menyender ke sandaran kursi depan ruang KaProdi sambil meremin mata. Dia capek dan laper. Tapi proposalnya lebih mendesak. Duh kalo sampe mamahnya di Busan tau dia telat makan gegara segores/? tanda tangan, bisa abis ruang KaProdi ditangan sang mamah.

"Loh? Dek Jungkook?"

Suara lembut khas si pegawai TU bikin Jungkook membuka mata terus langsung menegakkan punggungnya. Di depannya, Teh Dawon berdiri anggun sambil ngebawa tumpukan kertas. *nahloh ada yang nyangka itu Tae?*

"Eh, Teteh. Banyak amat bawaannya." Sapa Jungkook sopan. Adem deh siang-siang liat yang cantik.

"Iya, ini mau di bawa ke ruangan Pak KaProdi." Jawab Teh Dawon. "Kamu bukannya ada jam kuliah?"

Jungkook masang senyum asem sambil nunjukin proposal di tangannya. "Iya teh, seharusnya. Tapi saya nungguin Pak KaProdi daritadi, mau minta tanda tangan."

"Lah, Profesor Kang kan lagi rapat ke Dekanat sampe jam dua. Kamu nggak tahu?" tanya Teh Dawon.

Rahang Jungkook langsung terjun bebas ngedenger ucapan Teh Dawon. "Beneran teh?"

Teh Dawon berusaha nahan ketawanya ngeliat muka Jungkook. Lucu banget, jadi gemes pengen nyubit. "Iya, deh suwer. Teteh aja ini mau nganterin berkas buat Professor Kang kok."

'Ya ampun demi dewa. Gue ngapain daritadi nunggu disini kayak anak ilang?!' batinnya kesel. Jungkook kemudian berusaha ngatur napas. 'Inhale, exhale. Inhale, exhale. Oke sip. Sekarang elu mendingan buru-buru lari ke ruang kuliah. Belom telat seperempat jam, masih bisa masuk.' Jungkook menatap bundelan proposal acaranya sadis. 'Sabodo teuing lah sama nih proposal.'

Teh Dawon jadi kasian sama Jungkook. Keliatan banget dari mukanya kalo dia capek dan laper. Jadilah dia nawarin Jungkook buat nitip proposalnya ke dia.

"Eh, dek. Mau nitip ngga proposalnya? Nanti saya mintain tanda tangan Profesor Kang deh."

Mata Jungkook langsung berbinar-binar bahagia. "Eh. Serius teh? Boleh?"

"Bolehlah. Saya kan juga sekalian mau minta tanda tangan." Teh Dawon angguk-angguk. "Udah jangan nangis lagi, nanti gantengnya ilang." Godanya.

"Ih, si teteh mah. Siapa juga yang nangis teh?" Jungkook merengut sambil nyerahin proposal acaranya ke Teh Dawon. "Saya nitip ya teh, mohon dijagain baik-baik."

"Iya iya. Nanti habis kuliah ambil aja di ruang TU ya."

"Siap teh. Besok saya jajanin gorengan deh di kantin."

"Eyy, ngga usah. Saya juga kasian ngeliat kamu lemes lesu gitu."

Jungkook merengut lagi. Mau kesel tapi Teh Dawon ini udah baik hati mintain tanda tangan. "Yaudah deh teh, saya pamit ya. Lumayan masih dapet masuk kelas Dosen Song."

.

.

.

Jungkook mengatur napasnya yang abis gegara lari dari ruang KaProdinya. Untungnya Dosen Song telat masuk, jadi dia nggak ketahuan kalo telat masuk kuliah.

"Yug, minta air dong." Pinta Jungkook ke arah Yugyeom yang lagi asik maen Candy Crush dihapenya.

"Ambil sendiri di tas." Kata Yugyeom cuek tanpa mengalihkan pandangan.

Jungkook ngebuka tas Yugyeom terus ngobrak-abrik isi tasnya. "Kaga ada cuy."

"Yang resleting kedua." Kata Yugeyom sambil ngelirik tasnya yang lagi dipegang Jungkook. "Duh, kelinci gendut! Tas gue kenapa di berantakin."

"Ya elu habisnya ngga bilang naruh di mana." Jawab Jungkook kesel. "Line gue juga ngga di bales tadi, terus terakhirnya ngga di read. Jahat amet elu Yug. Gue kan H2C nungguin balesan elu."

'Lah unek-uneknya keluar deh. Duh.' Yugyeom ngerasa banget seisi kelas lagi merhatiin dia sama Jungkook. Udah biasa. Mereka berdua memang biasa digosipin pacaran saking deketnya. Tapi dia biarin aja, kelinci ngambek di depannya ini lagi butuh perhatian.

Haduh, ngeliat muka capek Jungkook bikin Yugyeom jadi ngerasa bersalah. Tadi emang dia lagi keasyikan maen game di hapenya jadi nyuekin chat dari Jungkook. Toh, Dosen Song telat masuk ini.

"Maaf deh, tadi gue keasyikan maenan hape." Ucap Yugyeom sambil ngasihin botol minumnya ke arah Jungkook. "Lagian kan Dosen Song nya telat masuk, jadi yaudah deh gitu."

Jungkook menenggak air minum Yugyeom ganas. Udah habis hampir setengahnya baru dia balikin ke Yugyeom lagi. "Gitu?"

"Iya gitu." Yugyeom nyengir sambil garuk-garuk kepala. 'Bahaya nih anak orang ngambek.'batinnya. Sekilas dia denger cewek di belakang dia lagi ngomongin mereka berdua. Yugyeom terus balik badan, melototin dua cewek yang masih kasak kusuk di belakang tempat duduk mereka. Dua cewek itu malah nyengir. "Istrinya ngambek ya, Mas?"

'Istri pala lu.' Batinnya kesel. Oh iya, dia inget masih nyimpen roti di tasnya. Siapa tau Jungkook luluh disogok pake makanan.

"Nih, sari roti. Elu belom makan siang kan?"

Mata Jungkook memicing ngeliat bungkusan roti yang disodorin Yugyeom. "Roti dari kapan tuh?"

"Baru tadi pagi demi. Mau gue makan buat sarapan tapi kelupaan." Yugyeom ngeliatin Jungkook males, tapi orangnya malah melototin roti di tangannya. Yugyeom terus inisiatif ngebuka bungkusan rotinya dan nyodorin ke arah Jungkook. "Nih, anggep aja buat permintaan maaf gue karena udah nyuekin elu."

"Bener ya, awas aja kalo abis makan gue sakit perut keracunan."

"Iya bawel. Kalo elu keracunan akang anter ke dokter deh."

"Dih akang apaan. Jijik, Kim Yugyeom."

.

.

.

Jungkook celingukan nyariin Teh Dawon di dalam ruang TU buat ngambil proposal. Tadi kan Teh Dawon nyuruh dia mampir ke ruang Tu habis kuliahnya kelar, tapi yang ngejanjiin malah nggak keliatan dimana-mana. Yang ada malah beberapa staf TU yang lagi sibuk depan komputernya –Jungkook nggak terlalu kenal, jadi mau nyapa nggak enak– dan si Bapak TU temennya Jimin alias Kim Taehyung.

'Besok aja kali yak gue balik TU lagi?' Jungkook ngebatin. 'Duh tapi Bang Sungjin nyuruh gue buat ngasih proposal ke dia malem ini.'

Jungkook celingukan di depan meja Taehyung. Mau nyapa, malu. Nggak di sapa, butuh. 'Yaudah deh ketimbang kena semprot Bang Sungjin di depan anak BEM lagi.'

"Eng, anu. Selamat sore, Pak." Jungkook mengetuk meja Taehyung pelan. Taehyung yang merasa terpannggil/? melongokkan kepalanya dari balik komputer. "Eh, iya. Kenapa dek? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Taehyung sopan..

"Itu, Pak." Taehyung mengernyit. 'Masih aje gue dipanggil Bapak.'

"Anu, Teh Dawon nitip sesuatu nggak, Pak? Buat saya?" tanya Jungkook. "Proposal acara, Pak. Tadi saya nitip ke Teh Dawon buat ditandatanganin sama Profesor Kang."

"Oh itu toh." Taehyung manggut-manggut paham sambil ngublek-ublek meja kerjanya. "Ini bukan? Yang acaranya tiga minggu lagi?"

Jungkook natap proposal di tangan Taehyung bahagia. 'Akhirnya, Mah. Setelah ribuan tahun dedek berusaha dan berdoa.'

"Tapi bener ini punya kamu?" tanya Taehyung lagi.

Jungkook ngangguk-angguk bahagia. "Iya, Pak. Itu proposal saya."

"Buktinya apa?"

"Hah?"

"Mana buktinya kalo itu punya kamu?" tanya Taehyung sambil natap Jungkook tajem. Beuh Jungkook jadi takut. "I-itu punya saya Pak, aseli. Buka aja halaman sekian, ada nama saya kok di list panitia acaranya."

Taehyung ngebuka halaman yang barusan Jungkook sebutin terus mangut-mangut. 'Bener ada nama dia.' Taehyung ngebatin. 'Hebat juga nih bocah jadi kadiv acara.'

"oke, sekarang saya percaya." Jungkook menghela napas lega sambil nengadahin tangannya mau minta proposal itu ke Taehyung. "Tapi ada syaratnya."

Muka Jungkook langsung layu lagi ngedenger omongan Taehyung. 'Paan lagi nih. Tinggal kasih ae sih, susah amat.'

"Syarat gimana, Pak?"

"Ya syarat, sebagai kompensasi kamu ngambil proposal ini."

" "

" "

"Gimana? Nggak mau yaudah."

"Iya, iya Pak. Pake syarat deh. Syaratnya apaan?"

"Nomer HP."

"Huh?"

"Saya minta nomer HP kamu."

" "

" "

" "

TBC

.

.

.

Hai hai hehehehe

Reupload karena yang kemaren rada kacau ternyata :(

Makasih yang udah review, follow, dan favorit hehehehe ku jadi terharuuuu huhu

Eh ada yang punya kato? Yang ada hayuu kita ngobrol! :)

Last,

RnR? :)