Chiko: "Kembali dengan kita~ Kali ini sengaja dibikin jadi chapter 2, supaya ga ribet dijadiin new story!"
Niku: "Dan setelah ngebaca ulang fic macem gini yang cuman 50 itu, kita sepakat: ini mah bikinnya lama, bacanya cepet."
Chiko: "Jadi kali ini kita sekalian bikin 100! Dan pairingnya seperti biasa, AriJima!"
Niku: "Lalu kita juga buat pairing Jr, HokuJess dan JinguIwa!"
Chiko: "Tapi seudah baca nanti, jangan lupa tinggalin review yah~"
.
Disclaimer: DAIKI DAN GENKI PUNYANYA KITA #plak
#bukanpunyakita #mausihtapi
.
1. "Apa itu artinya... kau menyukaiku?"
Jinguji melipat tangannya, menatap Genki dan menyeringai. "Saa..."
2. Hokuto mulai bertanya dalam hatinya, sejak kapan awan-awan di langit terliat seperti wajah Jesse.
3. Dan saat Yuto berbalik, Daiki sudah menghilang dari ujung atap.
4. Genki melompat kaget saat tiba-tiba Jinguji membuka matanya, menyeringai puas. "Bibirmu manis, Iwahashi."
5. Daiki menarik selimutnya, menatap ranjang kosong di sebelahnya. Yuto menenggak birnya, menatap kursi kosong di sebelahnya.
6. Hokuto selalu berharap Jesse akan berbalik dan menyapanya. Jesse selalu berharap Hokuto akan datang dan menyapanya.
7. Setangkai mawar merah, boneka beruang, dan balon ucapan selamat ulang tahun dari seorang pengirim berinisial JY. Genki langsung merinding.
8. Daiki menatap ke luar jendela, memikirkan bagaimana kabar Yuto sekarang. Yuto menatap ke luar jendela, memikirkan bagaimana kabar kumbang-kumbangnya sekarang.
9. Bahkan saat Genki sedang mengiris bawang, Jinguji tak dapat menahan keinginannya untuk menghapus air mata Genki.
10. Hokuto menganga lebar melihat istana es di hadapannya. Ia menatap Jesse, setengah tidak percaya. "Jadi kau benar-benar Pangeran Salju..."
11. Yuto membelalak kaget saat Daiki terbang rendah dan tiba-tiba mendarat tepat di depannya. "Ini gawat, Yuto. Sepertinya mereka telah mengetahui hubungan kita."
12. Iwahashi Genki menatap cermin. Tak ada pantulan dirinya. Hanya ada Jinguji Yuta yang balik menatapnya.
13. "Bodoh," Hokuto menatap Jesse, kesal. "Kalau yang barusan adalah peluru perak, aku pasti sudah mati!"
14. "Yuto sedang selingkuh," kata Daiki suatu kali. "Dengan kumbang-kumbangnya."
15. Oksigen serasa diambil dari Jinguji saat Genki kembali ke hadapannya, mengenakan wig dan seragam perempuan.
16. "Pada hitungan ketiga," Jesse dan Hokuto sama-sama mengangkat pistolnya. "Satu, dua, tiga..."
17. "Kita seperti stick drum, Yuto. Kalau tidak berdua, tidak ada artinya."
"Tapi, Daichan, ada kok yang bisa bermain drum hanya dengan satu stick."
"Oh..."
Malamnya, Daiki tak mau keluar dari lemari.
18. Hokuto mulai berpikir, sejak kapan setiap kata yang Jesse ucapkan terasa dingin dan menusuk.
19. Saat Genki kembali datang ke ruang latihan dengan berlinang air mata, Jinguji menggeram dalam hatinya. "Reia..."
20. Sejak saat itu, Yuto telah bertekad dalam hatinya. Ia akan melindungi Daiki. Meskipun itu berarti, mempertaruhkan nyawanya sendiri.
21. "Aku akan menangis," Genki menggembungkan pipinya. "Kalau kau pergi dan meninggalkanku, aku akan menangis, Jingu."
22. "Aku tidak cemburu," Jesse meremas gelas plastik di tangannya. "Hokuto memang begitu. Tidak, aku tidak cemburu."
23. "Aku pandai bermain ufo catcher," Jinguji menyerahkan boneka panda yang baru saja didapatkannya pada Genki. "Tapi, yang kuinginkan sekarang adalah menangkap hatimu."
24. "Rasanya?" Jesse hanya tertawa pelan. "Kau tahu, Hokku, kelanjutan hubungan kita tidak ditentukan dari pahitnya coklat valentine yang kau buat ini."
25. "Kau berubah." Daiki tahu, sejak ia dan Yuto mulai saling melemparkan kata-kata tersebut, hubungan mereka sudah di ambang kehancuran.
26. Jinguji menatap sikat gigi berpita merah yang baru saja disodorkan Genki padanya. "Kau pernah bilang bahwa yang paling penting sikat gigi, kan?"
Jinguji tidak tahu harus terharu atau bagaimana.
27. "Oba Mina, hmm..." Jesse menatap wallpaper ponsel Hokuto. Ia tertawa miris. Benar juga, kenapa ia berasumsi bahwa Hokuto menyukainya?
28. "Selamat malam, Daichan." Daiki tersenyum mendengarnya. Kata-kata sederhana tersebut cukup untuk menenangkannya, meyakinkannya bahwa Yuto masih menyayangi dan memperhatikannya.
29. Panas menjalar di pipi Jinguji. Genki terengah, berjalan meninggalkan Jinguji dengan mata berkaca-kaca.
30. Jesse tahu, Hokuto adalah anak dari bos yakuza paling berpengaruh di daerah tersebut. Karena itu, memotong jari kelingkingnya sebagai bukti kesetiaannya pada Hokuto memang tidak terelakkan.
31. Katanya, kalau kau sulit tertidur di malam hari, artinya kau sedang terjaga di mimpi seseorang. Yuto menyeruput kopinya, menatap Daiki. "Apa kau tidak pernah tidur? Karena kau selalu terjaga di mimpiku."
32. "Ada yang bilang, jika sepasang kekasih bunuh diri bersama-sama, mereka akan berreinkarnasi sebagai anak kembar."
Jinguji mendorong Genki, menamparnya keras, kemudian kembali memeluknya. "Jangan bodoh. Semuanya berakhir jika kita mati."
33. Mata Jesse menyipit saat Hokuto melepas jaketnya. Di pergelangan tangan kiri Hokuto, samar-samar terlihat beberapa bekas sayatan. Jesse terdiam, mungkinkah ia alasan di balik sayatan-sayatan tersebut? Membelakangi Jesse, air mata Hokuto jatuh.
34. "Daiki, turun." Daiki menatap Yuto, tapi bagaimanapun juga keputusannya sudah bulat. "Maaf, Yuto," Daiki tersenyum, merentangkan tangannya, dan melompat. Beberapa saat kemudian, Yuto keluar dari kolam renang sambil menyeret Daiki yang pingsan.
35. "Jinguji benar-benar berbahaya," gumam Genki sambil diam-diam memotret Jinguji yang sedang tertidur di sebelahnya, menahan diri untuk tidak melompat dan menciumnya.
36. Hokuto mengerutkan dahinya saat membaca surat cinta tersebut. Tak berapa jauh darinya, Jesse menepuk dahinya. "Sial, lagi-lagi kutulis dengan bahasa Inggris..."
37. Daiki tertawa. Daiki selalu terlihat bahagia bersama Hikaru. Yuto hanya tersenyum, membalikkan badannya dan pergi. Jauh dalam hatinya, Daiki menangis.
38. "JINGU!" Jinguji nyaris terjungkal saat Genki tiba-tiba berlari dan memeluknya dengan tubuh bergetar dan mata berkaca-kaca. "Aku—aku bermimpi... K-kau menghilang... Kau—"
"Ssh, itu kan hanya mimpi," Jinguji tertawa, tanpa menghiraukan tubuhnya yang perlahan mulai tembus pandang.
39. "Seventh heaven?" Jesse mendekat, dan dengan sebuah gerakan cepat, melekatkan bibirnya dengan bibir Hokuto. "Kurang lebih seperti itulah."
40. "Aku mohon," bisik Daiki pelan. "Tersenyumlah kembali, Yuto. Aku akan melakukan apapun. Apapun. Tersenyumlah."
41. Jinguji menghela nafas panjang. "Iwahashi, tolong dengarkan aku."
Aku mendengarkan, jawab Genki dalam hati. Aku akan mendengar penjelasanmu. Maaf, aku terlalu cepat mengambil kesimpulan tadi.
Tapi harga diri menahannya untuk mengatakan hal tersebut. Ia hanya bisa menangis saat Jinguji berjalan keluar dan membanting pintu.
42. "Aku selalu ingin melihat pemandangan seperti ini," Jesse berjalan menyusuri pantai menjelang terbenamnya matahari. "Indah sekali. But still, Hokku, you're far more gorgeous."
Hokuto berhenti. "Hah?"
43. "Aku tak akan memaksamu untuk bicara," kata Yuto. "Aku akan menunggu. Aku akan menunggu setiap katamu, Daiki."
44. Di sela-sela photoshoot mereka, Genki selalu menyukainya saat Jinguji diam-diam menggenggam tangannya. Entah bagaimana, ia merasa aman.
45. Terkadang hiproll Jinguji terlalu berbahaya bagi Genki. Ia mencubit hidungnya, berharap semoga tak ada darah yang keluar di atas panggung nanti.
46. Jesse mengucek matanya. Tidak mungkin, kan, ia melihat bunga-bunga bermekaran saat Hokuto tersenyum?
47. Di bawah payung, berdua, dengan tangan bertautan. Seharusnya ini momen yang sangat romantis bagi Jinguji dan Genki. Ya, kalau saja mereka tidak sedang terjebak di tengah hujan badai dan beberapa saat kemudian payung mereka terbang tertiup angin.
48. "Kau pilih kumbang atau aku?!" tanya Daiki kesal. Yuto mengangkat sebelah alisnya. "Kau, tentu saja. Tapi sekarang aku harus mengajak kumbang-kumbang ini bermain."
Malamnya, Daiki lagi-lagi tak mau keluar dari lemari.
49. Sang Pangeran Salju tertawa pelan menatap sesosok pria di ranjangnya. "Jadi begini cara menaklukkan Pangeran Kegelapan, hmm?"
Hokuto balas menyeringai. "Yah, mungkin. Kau harus sedikit bereksperimen, Jesse."
50. "Honoka Miki?" hati Genki mencelos. Ia meletakkan kembali dompet Jinguji di atas meja, berjalan pergi sambil menahan air matanya.
Ia tidak tahu, di balik foto Honoka Miki, Jinguji menyimpan fotonya yang sedang tersenyum cerah.
51. Hokuto selalu menyukainya saat Jesse berbicara dengan bahasa Inggris. Jesse terlihat keren, terlihat... seksi. Ia terbatuk, menendang pikiran tersebut dari kepalanya.
52. Jinguji menahan nafasnya. Sungguh, Genki yang hanya terbalut selimut di ranjangnya adalah salah satu hal terindah yang pernah dilihatnya. Oh, nilai tambah untuk kuping kucing dan tatapan nakal Genki.
"Nyan, Jingu."
53. Daiki dan Yuto bukannya pasangan yang dingin. Mereka hanya menghargai kesunyian di tengah kesibukan mereka.
54. Jantung Jesse hampir berhenti saat menerima undangan pernikahan Hokuto dan Oba Mina.
"Satu minggu," gumamnya pelan. Ya, ia masih memiliki kesempatan selama satu minggu untuk merebut Hokuto kembali.
55. Jinguji membuka matanya, menyadari bahwa Genki masih tertidur lelap di pelukannya. Ia tersenyum lembut, mencium kening Genki. "Selamat pagi, Iwahashi..."
56. "Yuto!" Daiki menarik-narik pakaian Yuto, kesal. "Bagi tinggi badanmu padaku! Bagi! Bagi!"
57. "Kau harus kembali, Jesse. Kau harus memenangkan perang ini dan kembali dengan selamat."
Dan itu adalah hal terakhir yang Hokuto katakan padanya.
"Matsumura Hokuto, tunanganmu, sudah tewas terbunuh pasukan musuh."
Jesse tahu, ia sudah tak punya alasan lagi untuk bertahan hidup dan kembali. Dengan senang hati ia mengajukan diri sebagai umpan.
58. Saat kedai dango-nya sedang sepi, Iwahashi Genki sering berdiam memperhatikan sawah. Hatinya berdegup kencang melihat Jinguji Yuta yang sedang bekerja keras mengolah sawahnya.
59. Yuto menatap Daiki aneh saat kekasihnya tersebut meminum kopi hitam tanpa gula. "Tidak usah pakai gula. Toh aku sudah manis."
60. Hokuto terkejut saat mendapati Genki yang sedang cemberut di depan pintu hotelnya. "Ada apa, Iwahashi?"
"Mou, Matsumura-senpai, Jinguji jahaaaat! Menyebalkaaan!"
Selama Hokuto mendengarkan dengan sabar curahan Genki, Jesse sedang melakukan hal yang sama dengan Jinguji.
Dan keduanya hanya bergumam pelan, "Benar, benar... Hokku/Jesse juga begitu..."
61. "Putri akan terbangun dengan ciuman sang pangeran."
Jinguji menatap para kurcaci, "Jadi aku harus menciumnya?"
"Begitulah."
Tak ada yang menyangka Jinguji benar-benar mencium Genki.
"Astaga Jinguji... Tahu begitu aku saja yang tadi jadi pangeran..." junior lain—yang berperan sebagai kurcaci, nenek sihir jahat, dan cermin—saling berbisik.
62. Daiki harus berada di panggung beberapa detik lagi. Sesaat sebelum ia berlari menuju panggung, Yuto menepuk bahunya. "Ganbatte, Daichan."
63. "Menikahlah denganku, putri Genki."
Kishi Yuta—dengan kain warna-warni yang dililitkan asal di tubuhnya dan ekspresi manis yang terkesan sangat dipaksakan—berlutut di depan Genki dengan sebatang coklat KisMyFt2.
Sang putri—Iwahashi Genki—mengangguk, diikuti tepuk tangan dari Junior lain dan tawa garing Kishi Yuta.
...bahkan meski ini hanya candaan, entah bagaimana Jinguji merasa sangat cemburu.
64. Jesse tahu, ia tidak boleh berbalik. Jika ia menengok ke belakang dan melihat ekspresi sedih Hokuto, ia tahu ia tidak akan sanggup pergi lagi.
65. Yuto memijat pelipisnya. Ia berpikir, apa lagi salahnya sehingga Daiki lagi-lagi tak mau keluar dari lemari?
66. Genki masih menangis. Jinguji menghela nafasnya. Astaga, bahunya mulai pegal. "Jangan menangis lagi... Ya? Aku di sini, jadi jangan menangis lagi..."
67. Setiap Jesse melihat langit malam, ia teringat akan rambut hitam Hokuto yang terasa lembut di bawah dagunya. Ah, betapa ia merindukan Hokuto terlelap di pelukannya.
68. "Eh? Kenapa kau tanya? Tentu saja aku suka Pocky karena Pocky enak, lalu sticknya panjang, seperti kau yang tinggi..." Daiki diam sejenak, ekspresinya berubah kecut. "Bagi tinggi badanmu padaku! Bagi!"
69. Melihat teman-temannya membicarakan Jinguji yang kadang terlalu bersemangat, rasanya sulit bagi Genki untuk mengatakan bahwa murid paling alay dan berisik di kelasnya tersebut adalah kekasihnya.
70. Bagi Daiki, tak ada yang lebih mengejutkan daripada Yuto yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menari India. "Astaga, akhir dunia sudah dekat..."
71. Genki membuka satu kancing. Satu lagi. Semakin ke bawah. Ia menyibakkan rambut basahnya, tersenyum.
Dibutuhkan pengendalian diri yang sangat besar bagi Jinguji untuk tidak merusak area photoshoot dan melompat, memeluk Genki.
72. Sejak Daiki mulai sering menabrak tembok dan terjatuh di tangga, Yuto tahu ada sesuatu yang salah. Karena itu, seharusnya ia tidak terkejut saat akhirnya Daiki sepenuhnya kehilangan penglihatannya.
"Yuto... kau masih di sini, kan?"
Yuto menggenggam tangan Daiki erat, menahan air matanya.
"Aku.. akan selalu berada di sini, di sisimu."
73. Jesse tidak pernah tahu, berkencan di tengah malam ternyata menyenangkan. "Aku sebenarnya ingin membawamu melihat matahari terbit di pantai, tapi lupakanlah..."
"Kenapa?"
"Yah," Jesse menatap Hokuto. "Kau tak ingin dibakar hidup-hidup di bawah matahari, kan?"
Hokuto menyeringai, menampakkan gigi taringnya. "Bukan ide yang buruk, sebenarnya."
74. "Hati-hati, Yuto..."
Setelah menambahkan kalimat terakhir tersebut, Daiki memutuskan jalur komunikasinya dengan Yuto. Saat sang kekasih bertarung di lapangan, ia hanya dapat berdoa di menara kontrol. Entah bagaimana, hatinya sakit.
75. "Kalau kau menyakiti Genki, atau membuatnya sedih, menangis, bahkan menyesal telah menjadi kekasihmu—" kepalan tangan Kishi Yuta berhenti tepat di depan wajah Jinguji, "—inilah yang akan terjadi padamu. Mengerti?"
Jinguji menelan ludahnya, mengangguk.
76. Hokuto melihat seorang malaikat. Bukan, ia benar-benar melihatnya.
"Waktumu sudah habis," Jesse menutup bukunya. "Aku datang untuk menjemputmu, Matsumura Hokuto."
77. Jinguji mempererat pelukannya dengan Genki, matanya tertuju pada seorang lelaki lain di belakang Genki.
Milikku.
Ia melepaskan pelukannya, mencium kening Genki lembut.
Genki milikku.
Di belakang sana, Reia mengangkat kedua tangannya sambil tertawa pelan. Aku tahu, Jinguji. Aku kalah.
78. "Ia merebut Yuto darimu, kan? Kenapa kau tidak bicara baik-baik padanya?!" Yamada berdiri, menatap Daiki.
"Masalahnya mereka tidak bisa kuajak bicara, Yamada..."
"Katakan siapa namanya. Aku akan membantumu."
"Coba saja," Daiki tertawa kasar, tapi tetap menjawab juga, "...kumbang-kumbang Yuto."
79. "Fukasawa, kan?"
Hokuto nyaris tersedak mendengarnya. "B-bagaimana kau.."
Jesse hanya tertawa. Ternyata benar, batinnya, aku sudah tak punya kesempatan.
80. "Aku benar-benar tak menyangka selera Jinguji-sama buruk."
"Hee? Anak seperti itu?"
"Ia tak pantas untuk Jinguji-sama."
Tangan Jinguji mengepal erat. Kalau mereka berani mengatai Genki lebih dari itu, ia bersumpah akan berlari dan menghajar mereka satu persatu.
Tangan bergetar Genki yang menggenggamnya adalah satu-satunya alasan ia memutuskan untuk tetap diam.
81. Bila diminta untuk menggambarkan seluruh keindahan alam semesta, Jesse hanya akan tertawa dan menyebutkan satu nama.
Matsumura Hokuto.
82. Yuto menghela nafas panjang, menatap wallpaper ponselnya. Daiki. Benar juga, kapan terakhir kali ia meluangkan waktu untuk kekasihnya tersebut?
Ia tersenyum, menggerakkan jarinya, mengetik e-mail untuk Daiki.
To: Daichan
Daichan, bagaimana kalau malam ini kita makan bersama?
83. Jinguji tahu Genki punya sense nama yang kurang baik. Tapi ia tak menyangka Genki benar-benar mengusulkan nama Yutanki untuk nama bayi mereka.
"Kau tahu, Genki... Masih banyak nama yang lebih baik daripada menggabungkan nama kita berdua."
Genki hanya menggembungkan pipinya.
84. Hokuto memijat pelipisnya saat mendapat love letter berbahasa Inggris dari Jesse...
...lagi.
Dengan sabar, ia mengetikkan satu-persatu kalimatnya ke Google Translate.
85. Saat Kishi bertukar kamar hotel dengan Jinguji, Genki hanya menelan ludahnya. Ia tak yakin dapat tidur nyenyak dengan Jinguji di sebelahnya.
Bahkan mungkin jantungnya akan meledak.
Oh tidak.
86. Daiki yakin Yuto mulai stress dengan pekerjaannya. Apalagi setelah melihat Yuto menggunakan topi koboi sambil memutar-mutar selang di kamarnya.
"Tidak," Daiki cepat-cepat menutup pintunya. "Aku tak melihat apa-apa. Aku tak melihat apa-apa..."
87. Hokuto tersadar dari lamunannya, ingat bahwa ia harus menyelesaikan tugasnya. Dan matanya hampir melompat keluar saat melihat begitu banyak Jesse yang ia ketikkan selama ia melamun tadi.
88. Jinguji tak menyangka Genki memiliki sisi ini. Ia menahan nafasnya saat Genki merangkak mendekat, memojokkannya di sisi ranjang.
"Yuta," bisik Genki pelan, perlahan membuka satu-persatu kancing kemejanya. "Yuta..."
Dan Jinguji tahu, Genki tak akan membiarkannya tidur malam ini.
89. "Lihatlah langit, Yuto. Kita sedang melihat langit yang sama."
"Hmm.. Yah. Di sana masih siang, Daichan?"
"Tentu saja. Aku melihat langit yang cerah."
"Kau tahu? Di sini tengah malam."
Sekali lagi Daiki mengurung dirinya di lemari.
90. Rasanya aneh. Saat Jesse bangun di pagi hari, ia akan mengirim e-mail "selamat malam" untuk Hokuto. Dan sebelum Hokuto tidur, ia akan mengirim e-mail "selamat pagi" untuk Jesse.
Sungguh, perbedaan waktu mereka nyaris membuat mereka gila.
91. Aku benci semua tentangmu.
Genki hampir menangis dan menjambak rambutnya, frustrasi. Tapi lalu matanya menangkap bagian belakang surat tersebut.
April fools! Aku menyukai semua tentangmu.
-Jinguji Yuta
92. Tak peduli berapa banyak member yang ada di atas panggung, mata Daiki hanya tertuju pada satu orang. Nakajima Yuto.
93. "Apa keinginan terbesarmu, Hokku?"
"Aku.. Aku ingin bahagia."
"Ikutlah denganku," Jesse berdiri, tersenyum. "Aku akan membuatmu bahagia."
94. Daiki kadang tak mengerti Yuto. Tentu saja, Yuto tak seharusnya bertindak sejauh itu.
Saat Daiki mengatakan bahwa ia akan melompat dari atap gedung kantor mereka, ia tak menyangka malamnya Yuto membakar habis gedung tersebut.
"Gedung itu sudah tidak ada. Kau tidak bisa melompat dari sana. Jadi, Daiki, jangan berpikir untuk mati... tetaplah hidup."
95. Genki sering mengalami mimpi buruk. Hal itulah yang Jinguji sadari setelah beberapa kali sekamar dengan Genki di hotel. Dan saat Genki terbangun di tengah malam, nafas terengah, terlihat ketakutan, entah bagaimana Jinguji juga terbangun. Ia akan memeluk Genki, menenangkannya, dan membawanya kembali tidur.
Dalam hati ia terus mengutuki orang-orang yang telah menindas Genki dulu, yang telah menciptakan mimpi buruk bagi lelaki manis tersebut.
96. Saat ditarik untuk menonton penampilan sebuah band oleh Keito, Jesse hanya mengikuti dengan malas. Tapi nafasnya tercekat saat ia melihat sang keyboardist. "I swear, I saw an angel," bisiknya pelan pada Keito.
97. Saat ditanya apa yang membuat Yuto begitu istimewa di matanya, Daiki tak bisa menjawab. Yuto yang begini dan Yuto yang begitu, ia menyukai semuanya. Semuanya.
Tapi saat melihat Yuto lebih memilih untuk mengurus kumbang-kumbangnya daripada mendengarkan cerita Daiki, ia mulai meragukan 'menyukai semua'nya.
Ya, semua. Kecuali kesukaannya pada kumbang.
98. "Kau cemburu?" Jinguji hanya tertawa, diikuti lemparan bantal Genki yang tepat mengenai wajahnya.
"Jangan tertawa!" wajah Genki memerah, kali ini siap melempar gulingnya.
"Kau tahu kau tidak perlu cemburu," Jinguji menghentikan tawanya, menatap Genki serius. "Aku milikmu, ingat?"
99. Jesse tersenyum menatap bintang jatuh, lalu mengalihkan pandangannya pada Hokuto yang sedang menutup matanya, berharap pada sang bintang jatuh.
Aku akan selalu mengamini setiap doamu, Hokuto...
100. Seratus. Yuto melompat, tersenyum lebar, mulai menari-nari tidak jelas di sekitar Daiki.
"Err... Yuto?"
"Selamat! Barusan keseratus kalinya kau tertawa hari ini!"
Daiki tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
.
.
.
10. Ya, entah bagaimana Chiko kepikir kalau Jesse = putih = pangeran salju.
11. AngelXDevil, seperti yang pernah kita tulis di fic sebelumnya XD
27. Yah... efek Bakaleya... Apalagi Minarun oshinya Niku, jadi rasanya lucu gitu kalau Hokuto beneran jadi sama Minarun
50. Yah, umum. Temen Chiko ada yang gitu, naroh foto ceweknya di belakang foto artis, biar ga ketauan gitu XD Btw Honoka Miki adalah cewek yang main bareng Jinguji di Kasuka na Kanojo.
58. Yap! Setting yang udah lama pengen Chiko lakuin, tapi gagal terus. Kali ini jadilah sepotong!
96. Shark, yes. Karena di sana Hokku jadi yang main keyboard. Dan Keito, karena mereka sama-sama bisa bahasa Inggris~
.
Chiko: "Selesai, yes, semoga kali ini bacanya puas."
Niku: "Yah, semoga..."
Chiko: "Karena sebenernya agak susah bikin fic Jr, terutama Jinguji dan Genki.."
Niku: "Mereka masih kecil soalnya, jadi kagok kalau dibikin macem-macem."
Chiko: "Tapi akhirnya selesai juga, hahaha!"
Niku: "Yep!"
Chiko: "Terus jangan lupa review ya!"
