Wah… wah… sepertinya banyak yang bilang fict ini mirip sama anime Okane Ga Nai, tapi memang begitulah… saya memang mengambilnya dari anime itu *di rajam*

Saya pas ngeliat Ayase yang cantik dan girly itu mengingatkan saya pada Naruto. Trus si Kanou yang sifatnya agak mirip Sasuke *apanya yang mirip?* Makanya terbesit pikiran saya untuk membikin fict kayak gitu.

Saya tau ini bisa di bilang plagiat, tapi kan… saya mau bikin fictnyaaaa…*nangis guling-guling* #plakk!

Nga papa kan kalo saya bikin fictnya agak mirip sama anime itu? Tapi saya pengen bikinnya versi saya sendiri. Anggaplah ini Okane Ga Nai yang kedua versi saya * di bunuh om Hitoyo Shinozaki*

Tapi saya janji, saya bikinnya nga mirip-mirip banget. Mungkin adegannya memang ada yang di ambil di anime itu.

Oh ya, sepertinya lemonnya baru ada di chap tiga. Gomeeen banget!

Ada yang nanya, ini rate T apa M? sementara ini ratenya bakalan T dulu (meskipun di chap sebelumnya sudah menjurus ke M), kalau udah masuk lemon baru saya ubah jadi rate M.

Ok… langsung saja. Happy reading…^^

A Pet

Story By : MagnaEvil

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Waning : AU, OOC, Yaoi, Typo, dll dsb.

Matahari mulai menampakkan kilaunya di sebuah kota bernama Tokyo pada pagi hari ini. Burung-burung mulai menari berterbangan, pohon-pohon melambai menyambut pagi ini, lukisan awan yang begitu cerah, di sertai orang-orang yang berlalu lalang. Orang-orang mulai melakukan aktifitasnya seperti biasa. Seperti lari pagi bersama keluarga atau teman, berangkat kerja sambil menunggu di halte untuk kedatangan sebuah bus. Lalu para remaja yang bercanda ria menuju sekolahnya mereka masing-masing.

Tapi sang direktur perusahaan Uchiha corp. tidak melakukan satu pun hal yang telah di sebutkan. Baginya saat ini memandang wajah tan pemuda yang ada di depannya yang sedang tertidur di ranjang empuk sangatlah menarik. Pipinya yang kenyal dengan hiasan tiga garis mirip kumis tersebut semakin menampakan kemanisannya. Sasuke tidak suka manis, tapi kalau manisnya seperti pemuda yang sedang tertidur di hadapannya ini dia bersedia melahapnya. Entahlah… melahapnya tersebut dalam artian apa.

Rambut pirangnya semakin mengingatkan Sasuke pada matahari yang kini bersinar terang di kota Tokyo. Lalu bulu mata yang lentik dan juga bibir merah muda yang ranum itu sungguh menggoda iman Uchiha bungsu ini. Andaikan pemuda yang di hadapannya ini adalah seorang wanita, mungkin dia adalah wanita tercantik kedua setelah ibunya, Uchiha Mikoto. Tapi menjadi pria pun tak membuatnya kalah 'cantik' dari wanita manapun. Setidaknya ini menurut Sasuke.

Pemuda yang ada di hadapannya ini pingsan setelah tak seberapa Sasuke memintanya untuk bangkit setelah semua rantai yang mengikatnya di lepas tadi malam. Mungkin saat itu dia sedang lelah karena tak henti-hentinya dia memberontak agar dirinya jangan di jual, belum lagi dirinya yang masih di kuasai oleh zat yang membuatnya lumpuh sementara. Tanpa paksaan siapa pun Sasuke menggendongnya dengan hati-hati dan meminta salah satu dari bawahannya untuk mengantarkannya pulang ke apartemennya.

"Ngh…"

Erangan kecil meluncur lembut dari bibir seorang pemuda yang di ketahui bernama Uzumaki Naruto ini. Hal ini membuat Sasuke terlonjak kecil dari lamunannya di kursi malas yang ia duduki. Sasuke pun menghampiri pemuda berambut pirang yang ada di hadapannya ini.

"Kau sudah bangun?" tanya Sasuke pada pemuda yang sedang terbaring lemah di hadapannya.

Pemuda berkulit tan tersebut membuka matanya perlahan-lahan, sehingga matanya yang seindah batu sapphire mulai di tampakkan. Ia mulai mengerjap-ngerjapkan mata birunya itu. Untuk membiasakan cahaya yang masuk ke retinanya. Lalu bayangan Sasuke yang kabur mulai semakin jelas dalam pengelihatanya.

"Ini… ada di mana?" katanya lemah. Dia memcoba bangun dari tempatnya, tapi rasa pening langsung menjalar ke kepalanya sehingga membawa tangan kanannya untuk memegang kepalanya yang sakit tersebut.

Dengan sigap Sasuke langsung memegang pundaknya agar dia tetap dalam posisi berbaring. "Jangan bangun dulu, kau masih lemah," ucap Sasuke. "Tunggu di sini sebentar, aku akan memgambilkan minum untukmu." Lalu Sasuke pun melangkah keluar menuju dapur.

Naruto hanya mengiyakan. Dia pun mulai bangun dari tempatnya dan bersender, menjadikan dia setengah duduk dengan bantal di belakangnya. Kemudian ia mengedarkan pandang ke segala penjuru ruangan. Ruangan ini cukup sederhana tapi terkesan mewah. Ruangan yang di dominasi berwarna cat putih. Lalu di sudut dari ruangan tersebut terdapat sebuah lemari yang berbahan kayu jati berwarna coklat dengan ukiran yang cukup mendetail. Lalu di samping lemari tersebut ada sebuah cermin yang besarnya hampir dari separuh dari tubuhnya. Di sampingnya tempat dia berbaring terdapat sebuah meja kecil dan lampu tidur di atasnya. Lalu di hadapannya kini terpampang sebuah jendela berukuran besar, sehingga Naruto bisa memandang lukisan langit yang cerah dengan matahari yang bersinar cerah.

Naruto tidak tahu di mana dia sekarang. Baginya saat ini memejamkan mata sejenak untuk menghilangkan rasa peningnya lebih baik dari pada memikirkan hal yang membuat peningnya semakin bertambah.

Naruto membuka matanya ketika di dengarnya pintu ruangannya kini terbuka menampilkan sesosok pemuda berkulit putih pucat yang sedang membawakan segelas air putih di tangan kanannya, kemudian pintu itu di tutup.

Naruto tak mengenal pemuda itu, tentu saja. Ketika dia sadar, dia sudah berada di ruangan ini bersama pemuda berambut pantat ayam itu di sampingnya. Dia tidak begitu ingat tentang pemuda yang ada di hadapannya ini.

Sasuke menyodorkan gelas yang berisi air putih itu kepada Naruto, "minum dulu, aku yakin kau pasti haus." Lalu kembali duduk di kursi malasnya.

Naruto menerima gelas itu ragu-ragu, sebelum memandang mata onyx itu bersungguh-sungguh, "terima kasih." Dan gelas itu pun langsung tandas begitu ia meminumnya. Sepertinya dia memang haus seperti yang sudah di katakan Sasuke tadi.

Sasuke mengambil gelas kosong yang ada di tangan Naruto, kemudian meletakkan di meja samping tempat tidurnya.

"Sebenarnya… ini dimana? Dan kau siapa?"

Sasuke menghela nafas, "ini di apartemenku. Dan aku adalah Uchiha Sasuke."

"Oh." Hanya itu respon dari Naruto.

Hening melanda di antara mereka berdua. Sasuke tidak tahu apa yang akan dia bicarakan untuk mencairkan suasana seperti ini. Dia memang tak pandai mencairkan suasana, hingga saat ini diam adalah pilihan tepat baginya.

Sasuke mendengar pemuda yang ada di hadapannya ini membuang nafas, "lalu bagaimana aku bisa ada di apartemenmu?" tanya pemuda itu seraya memandang wajah Sasuke.

"Kau tidak ingat kejadian tadi malam?" tanya Sasuke membalas pandangan yang di berikan pemuda yang ada di hadapannya.

Naruto tengah berfikir keras, tapi yang di dapatnya hanyalah rasa pening yang kembali di rasakannya.

"Aku tidak tahu."

Sasuke kembali membuang nafasnya, "lalu… apa kau masih ingat denganku?" tanya Sasuke ragu-ragu. Dia tidak yakin pemuda ini mengingat kejadian dua tahun yang lalu.

Naruto memandang wajah Sasuke lekat-lekat. Hal ini membuat Sasuke tampak gugup. Tentu saja hal ini tidak akan tertampak di wajah tampannya itu, dia adalah keturunan Uchiha yang pandai menyembunyikan ekspresi.

"Aku tak pernah mengenal kau."

"Bagaimana mungkin? Saat itu kau pernah menolongku waktu kejadian dua tahun yang lalu," seru Sasuke tidak percaya apa yang di katakan pemuda berambut pirang tersebut.

Naruto menggelengkan kepalanya, "sungguh! Aku tak pernah mengenal kau sebelumnya Uchiha-san."

"Sasuke."

"Eh?" ucap Naruto bingung.

"Panggil aku Sasuke."

"Uh… baiklah, Sasuke-san."

"Cukup Sasuke."

Naruto membuang muka, "terserah kau sajalah."

"Jadi… kau memang tak mengenalku?" tanya Sasuke sekali lagi.

Naruto pun kembali menolehkan kepalanya ke hadapan Uchiha bungsu itu, "sebenarnya… aku merasa mengenal wajahmu, tapi aku benar-benar tidak ingat."

Sasuke menegakkan punggungnya, kemudian bersender ke kursi malasnya. "Begitu." Dan kemudian menutup matanya.

Naruto menundukkan kepalanya, "kalau kau bersedia…" Sasuke membuka matanya seraya memandang wajah tan yang ada di hadapannya. "Bisakah kau menceritakan kejadian dua tahun yang lalu itu? Mungkin dengan begitu aku bisa mengingatmu."

"Kau yakin?"

Naruto mengangguk.

"Baiklah kalau itu maumu."

Flashback

Malam mulai menjelang ketika Sasuke menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di ruang kerjanya. Dokumen-dokumen penting harus dia tanda tangani malam ini juga karena besok dia harus menyerahkannya segera. Di sinilah Uchiha seharusnya bekerja. Duduk di kursi direktur, menandatangani dokumen penting, memantau setiap karyawan yang bekerja, dan tidak ada waktu hanya untuk sekedar berlibur.

Sasuke terpaksa mengambil tugas memimpin di perusahaan ini sebenarnya. Sedangkan sang kakak, Uchiha Itachi, memilih untuk memimpin di perusahaan cabang yang berada di kota Taipei. Lalu sang ayah memilih untuk pensiun dari dunia perbisnisan sejak tujuh tahun yang lalu ketika ia masih berumur 16 tahun. Tapi, meskipun telah pensiun, Uchiha Fugaku tetap memantau perkembangan perusahaan Uchiha corp. dengan laporan yang selalu Sasuke berikan setiap minggunya.

Menjadi direktur sebenarnya bukan keinginannya. Menjadi seorang pengacara yang handal adalah keinginan sebenarnya. Dengan otaknya yang cerdas itu dia mampu untuk menjadi pengacara. Tapi sayang, sang kakak tercintanya memaksanya untuk mengambil tugas di pusat perusahaan ini.

Deringan telpon membuatnya menghentikan pekerjaannya untuk sementara waktu. Tangannya yang seputih pucat tersebut ia ulurkan untuk mengambil ganggang telepon yang di minta untuk di angkat, kemudian dia pun mendekatkan ganggang telepon tersebut ke telinganya. Terdengar suara berat mengalun dari telepon menuju telinganya.

"Halo," sapa Sasuke.

"Halo Sasuke, ini aku Asuma." Orang yang mengaku bernama Asuma tersebut merupakan orang kepercayaan ayahnya Sasuke untuk mengurus segala keperluan perusahaan tersebut. Bahkan dulu Asuma pernah menyelamatkan Uchiha corp dari kebangkrutan.

"Hn. Ada apa?"

"Aku hanya ingin bilang sesuatu kepadamu," terdengat helaan nafas dari arah telepon.

Sasuke mengerutkan alisnya, "apa yang ingin kau katakan?"

"Apa kau masih ingat dengan kerja sama yang di lakukan beberapa hari yang lalu dengan perusahaan Aburame corp.? tanya Asume. Bahkan Sasuke mulai mendengar ada nada cemas di setiap perkataan Asuma.

"Ya, aku ingat. Ada apa dengan mereka?"

"Mereka…" terdengar ada keraguan di setiap perkataan Asuma, lalu dia pun melanjutkan. "Mereka membatalkan kerja samanya dan menarik semua saham-saham yang mereka tanamkan di perusahaan ini sebagai modal kerja sama, dan itu mengakibatkan kita mengalami kerugian hampir dari seperempatnya," jelas Asuma.

"Apa?" pekik Sasuke terkejut dengan penjelasan Asuma. "Bagaimana bisa?" tanyanya lagi. Kali ini emosi sudah memenuhi seluruh isi kepalanya.

"Mereka lebih tertarik pada kerja sama yang di lakukan oleh perusahaan milik keluarga Nara. Menurut mereka, apa-apa yang di tawarkan dalam kerja sama itu lebih menarik dari yang kamu tawarkan."

"Sial!" Sasuke mengacak rambutnya frustasi.

"Untuk saat ini aku hanya bisa menyampaikan hal ini saja, kita sudahi saja pembicaraan ini dulu, ada yang harus aku lakukan stelah ini." Asuma mengakhiri pembicaraannya.

"Baiklah."

Dan telepon itu pun di tutup.

Setelah meletakkan ganggang telepon tersebut, Uchiha bungsu itu pun menyenderkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Dia mulai memijat-mijat pelipisnya yang tiba-tiba rasa pening melanda kepalanya. Dia sungguh tak percaya dengan semua kejadian ini. Memang keluarga Nara itu tidak bisa di remehkan. Kecerdasannya saja melebihi mereka dalam berbagai hal. Sungguh di luar dugaan kalau keluarga Aburame akan tertarik pada tawaran mereka.

"Haah…" Sasuke membuang nafasnya, kemudian menghirupnya lagi. Pekerjaannya yang sempat tertunda itupun tak di hiraukannya . Mungkin dengan pulang ke mansionnya dan merebahkan diri, mengistirahatkan tubuhnya dan juga pikirannya adalah hal yang terbaik dilakukan saat ini.

Pemuda bermata onyx itu bangkit dari kursi kebesarannya. Lalu dia melirik arlojinya yang terpampang di pergelangan tangan kirinya. Pukul 8, pikirnya. Masih ada waktu untuk mengisi perutnya. Meskipun telat, tapi dia tidak ambil pusing mempermasalahkan jam makannya. Dia sudah terbiasa dengan itu semua.

Sasuke merogoh kantongnya, dan menemukan sebuah kunci lengkap dengan gantungannya yang merupakan adalah kunci dari mobil kesayangannya. Pekerjaannya ia tinggalkan begitu saja, mungkin pagi-pagi sekali dia bisa melanjutkannya, pikirnya.

Dia pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan pribadinya. Lalu melepaskan tuxedo yang melekat di badan tegapnya dan menuju lift yang tak jauh dari ruangannya. Setelah menekan tombol angka satu dan pintu lift itu pun tertutup.

xoxoxoxox

Setelah mengisi perutnya dengan berbagai macam makanan dan minuman, dia memutuskan untuk menuju mansionnya. Seperti tujuan utamanya tadi adalah untuk menyegarkan pikiran dan mengistirahatkan tubuhnya. Memang tubuhnya merasakan lelah yang luar biasa ketika dia baru saja keluar dari kantornya.

Hari sudah semakin malam ketika Sasuke memarkirkan mobilnya di halaman Uchiha mansion. Di sinilah dia tinggal bersama ayah dan ibunya, di sertai beberapa maid yang bertugas di kediaman itu. Sedangkan kakaknya sendiri memutuskan untuk menempati sebuah apartemen demi kelangsungan pekerjaannya itu. Bahkan hampir sebulan sekali Itachi pulang untuk menengok keadaan keluarganya, terutama Sasuke.

Ketika Sasuke membuka mansion itu, tidak ada satupun para maid yang menyambutnya seperti biasanya. Maklum saja, dia pulang ketika waktunya jam tidur. Sekali lagi, Sasuke tak mempermasalahkan hal itu.

Dia melangkahkan kakinya pelan-pelan agar tak membangunkan penghuni seisi dari kediamannya itu. Tuxedonya pun ia sampirkan ke bahu kanannya. Tapi langkahnya berhenti ketika sebuah suara menghampirinya.

"Kau sudah datang, Sasuke?" itu adalah suara milik kepala keluarga Uchiha, yang tak lain adalah ayahnya sendiri, Uchiha Fugaku.

"Hn." Sasuke menolehkan kepalanya ke sofa di ruang keluarga tersebut. Dan memdapati ayahnya yang tengah duduk membelakanginya.

Lalu tak lama setelah itu Fugaku berdiri dari tempatnya, Sasuke melihat di tangan kanan ayahnya ada sebuah gelas berisi air yang berwarna agak kecoklatan. Mungkin yang di minum ayahnya adalah wine.

"Ada hal yang ingin ku tanyakan padamu," ucap Fugaku sambil mendekat kea rah dimana Sasuke berdiri dengan santainya.

Sasuke mengubah gaya berdirinya, "apa yang ingin ayah tanyakan?"

"Apa benar perusahaan milik keluarga Aburame telah menolak kerja sama dengan perusahaan kita?" tanya Fugaku dengan tatapan mata tajam yang menjurus kearah mata onyx Sasuke.

Sasuke terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Fugaku. Bagaimana bisa ia mengetahui semuanya? Ah… pasti tak lain adalah Asuma sendiri yang menberitahukannya.

Sasuke menghembuskan nafas pelan, "Benar."

Sebuah taparan keras tengah melayang di pipi kiri Sasuke. Dengan segera Sasuke memegang pipinya itu yang terasa sangat panas. Tak lama lagi pasti pipinya akan menimbulkan bekas tato tangan milik ayahnya itu.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai mereka menolak kerja sama, hah?" geram Fugaku terhadap anaknya yang paling bungsu. "Kau tau? Kita mengalami kerugian! Mau taruh dimana mukaku kalau jadinya akan seperti ini. Kejadian seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya!" lanjut Fugaku dengan intonasi yang tinggi.

"Maaf." Sasuke mencoba untuk melunakkan hati sang ayah dengan cara meminta maaf.

"Maaf? Maaf katamu? Dengan maafmu itu kau tidak bisa mengembalikan semua ini seperti semula!"

Sasuke hanya pasrah setiap mendengar cercaan yang keluar dari mulut sang ayah. Dia tidak tahu bagaimana membalas semua perkataan dari sang ayah. Lebih tepatnya tidak bisa.

"Sebaiknya kau keluar dari sini!" Sasuke tidak terkejut dengan perintah dari sang ayah. Baginya itu sudah biasa.

"Baik kalau begitu kemauan ayah." Sasuke pun membalikkan tubuhnya, menuju pintu luar dari mansionnya itu.

Pemuda berambut pantat ayam tersebut kemudian menghidupkan mobil kesayangannya. Lalu tak berapa lama dia mulai meninggalkan halaman Uchiha mansion itu.

xoxoxoxox

Sepertinya tujuan utamanya yang menginginkan sebuah kasur untuk merebahkan diri harus mengalami penundaan. Bagaimana tidak? Sang ayah telah mengusirnya kini sebagai akibat dari perbuatannya sendiri yang telah merugikan perusahaan milik ayahnya itu. Tak sepenuhnya salahnya juga, toh hal ini memang sudah sering terjadi di dunia perbisnisan. Tapi di mata sang ayah hal ini tidaklah biasa.

Tiba-tiba mobil Sasuke berhenti tepat di pinggir sebuah perbatasan jalan. Sasuke berdecak kesal ketika mengetahui bahwa bensinnya habis. Mau tak mau hal ini membuat Sasuke harus menggunakan kakinya untuk mencari bensin yang mungkin saja ada yang menjualnya, meskipun Sasuke ragu mengingat ini sudah terlarut malam.

Sasuke keluar dari mobilnya lalu menguncinya dengan remote otomatis yang tergantung di kunci itu sendiri. Sasuke mulai berjalan sendirian di perbatasan jalan tersebut. Angin malam yang dingin mulai menembus kulitnya di sela-sela kemejanya. Dasi yang menggantung di lehernya itupun sudah ia lepas dari tadi.

ketika dia melewati sebuah gang terpencil, telinganya tak sengaja mendengar sebuah suara di gang tersebut. Suara sekelompok manusia yang terdengar seperti memperebutkan sesuatu.

"Ku mohon, jangan ambil uangku. Ini adalah hasil kerjaku selama ini. Kalau kalian mengambilnya, nanti kakakku akan marah padaku." Mohon seseorang kepada seseorang lainnya.

Sasuke tak mau ambil pusing. Toh pemalakkan seperti ini sudah sering terjadi di kota besar seperti ini. Jadi ini adalah bukan urusannya sama sekali.

"Memangnya kami peduli?" terdengar sebuah suara menyahut dari perkataan seseorang yang sebelumnya. "Kisame, cepat ambil uangnya!" perintah orang tersebut yang kemungkinan kepada temannya.

"Jangan! Ku mohon jangan ambil uangku!" jeritannya kali ini sungguh membuat Sasuke terdorong untuk menolongnya. Sepertinya lumayan di jadikan pelampiasan kekesalannya untuk semua yang terjadi padanya malam ini.

Sasuke melangkah ke arah gang kecil tersebut. Di tempat gelap tersebut Sasuke bisa melihat empat orang pemuda, satu dari keempat orang tersebut tengah di pegangi tangannya agar tak bisa bergerak, sedangkan yang lainnya tengah berusaha mengambil uang dari tangannya.

"Berikan kataku!" orang itu tetap berusaha mempertahankan uang yang ada di tangannya.

"Lepaskan dia!" ucap Sasuke atau yang bisa di sebut dengan perintah.

Seseorang yang hendak merampas uang tersebut menghentikan kegiatannya. Dia pun menoleh, mendapati Sasuke tengah berdiri di muka tersebut dengan santainya.

"Heh, siapa kau? Beraninya mengacaukan pekerjaan kami!" orang tersebut terlihat geram dengan ucapan Sasuke.

"Itu bukan milik kalian, jadi lepaskan dia!"

Orang yang lainnya yang berada dekat dengan mereka kemudian meludah, "ini bukan urusanmu! Zetsu, hajar dia!" orang yang tengah memegangi seseorang itu pun melepaskan pegangannya, kemudian dia berlari dan mengeratkan kepalan tangannya bersiap-siap untuk menghajar Sasuke.

Sasuke yang dari kecil sudah melatih tubuhnya dengan gerakan taekwondo dengan mudahnya menghindar terjangan seseorang yang bernama Zetsu tadi. Zetsu tak menyerah begitu saja, dia pun kembali melancarkan serangannya dan memukul Sasuke. lagi-lagi Sasuke menangkis segala serangannya dengan cara menangkap kepalan tangan tersebut. Lalu kemudian menghajar orang tersebut tepat di pipi kirinya sehingga orang tersebut meringis dan jatuh terduduk.

"Cih, tidak berguna! Kisame, kita hajar dia!" perintah orang tersebut, lagi.

Kisame menoleh kepada temannya itu, "Ok, Pein!"

Mereka berdua melancarkan aksinya. Sasuke pun tak ambil diam, dia bersiap-siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Orang yang bernama Kisame itu mulai mengarahkan kepalan tangannya menuju wajah Sasuke, tapi dengan sigap Sasuke memiringkan badannya, menghindar dari serangan Kisame dan kemudian menghajar Kisame tepat di dagunya. Lalu Pein pun maju, melakukan gerakan seperti Kisame, mengarahkan kepalannya. Tapi kali ini Sasuke tak dapat menghindar, sehingga dia pun terkena pukulan Pein dan jatuh tersungkur. Pein tersenyum puas.

"Makanya, kau jangan berani melawanku bocah," ejek Pein di sertai seringai kemenangan.

"Aku bukan bocah!" Dan berikutnya Sasuke maju, memperkuat kepalan di tangannya, mengarahkannya ke wajah Pein. Kali ini Pein berhasil menghindar. Tapi itu membuat Sasuke tak menyerah, dia pun mengarahkan kakinya ke punggung Pein sehingga Pein jatuh tersungkur.

Pein mengerang kesakitan. Ketika dia bangun, Sasuke menahannya dengan cara menginjakkan kakinya di dada Pein tersebut. Dan Pein pun tak bisa berkutik.

"Enyahlah kalian dari sini!" katanya seraya melepaskan kakinya dari tubuh Pein.

"Cih! Lihat saja nanti, aku akan membalas perbuatanmu!" ancam Pein sambil bangkit berdiri lalu melangkahkan kakinya pergi.

Pemuda yang menjadi korban pemalakkan tersebut menghampiri Sasuke yang berdiri tak jauh darinya. Dengan senyum kecil dia mulai menyapa orang yang telah menolongnya tersebut.

"Kau tidak apa-apa?"

"Hn." Jawab Sasuke singkat.

"Tapi… pipimu lebam." Kata pemuda itu khawatir.

"Tak apa, ini akan sembuh sendiri-ouch!" ringis Sasuke ketika pemuda itu memegang tepat di lebamnya.

Pemuda itu tersenyum, "ini jelas bukan apa-apa, ayo!" katanya sambil memegang tangan orang yang telah menolongnya itu, kemudian membawanya berlari ke suatu tempat.

"He-hei! Kau mau bawa aku kemana?" tanya Sasuke kepada orang yang tak dikenalnya ini. Yang Sasuke tahu dari orang ini hanyalah warna rambutnya yang pirang, sedangkan dia tak sempat melihat wajahnya secara jelas karena penerangan yang minim di gang tersebut.

Ternyata orang yang telah di tolongnya ini membawanya keluar dari gang ke tempat yang lebih terang. Lalu orang tersebut membawanya ke sebuah kursi tunggu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

Kali ini Sasuke bisa melihat wajahnya lebih jelas. Dia memiliki mata yang begitu indah, berwarna Sapphire blue. Lalu kulit tan yang cukup erotis di sertai tiga garis halus yang menyerupai kumis. Sontak membuat Sasuke terpana akan keindahan pemuda yang ada di hadapannya ini.

"Kau tunggu di sini, aku akan mencari sesuatu yang bisa mengobati lebammu itu," katanya seraya melangkah pergi menjauhi Sasuke.

Sasuke tak menjawab apa-apa, dia sibuk memandang wajah pemuda tersebut, hingga dia pun tak sadar kalau pemuda yang di tolongnya sudah pergi dari hadapannya.

"Dia… manis sekali," gumam Sasuke entah kepada siapa. Hal ini membuat Sasuke sadar kalau ia sedang sendirian di tempat itu.

Tak berapa lama Sasuke menunggu, akhirnya pemuda yang di tolongnya itu kembali lagi kehadapannya dengan sebungkus es yang ada di tangannya. Lagi-lagi Sasuke hanya diam terpana memandang wajah yang ada di hadapannya ini.

"Ku pikir es adalah obat terbaik untuk mengobati lebam yang ada di wajahmu," ucapnya seraya duduk tepat di samping kanan Sasuke.

"Kemarikan wajahmu!" ucap pemuda pirang itu atau bisa di sebut perintah.

"Mau apa kau? Ouch! Pelan-pelan saja, idiot!" Sasuke kelihatan tidak terima dengan apa yang di lakukan pemuda prang ini. Secara tak lembut dia mengompres lebam di wajah Sasuke.

"Kau jangan menyebutku idiot dan jangan protes!" lagi-lagi Sasuke hanya diam tak menjawab perintah pemuda yang ada di hadapannya itu.

Lama mereka pada posisi itu sampai lebam di wajah mulai berkurang. Pemuda bermata Sapphire itu menghentikan kegiatannya. Lalu dia mulai berkata.

"Terima kasih kau sudah menolongku hari ini," ucap pemuda pirang itu tanpa memandang wajah Sasuke yang kini memandangnya. Semilir angin mulai menerpanya, sehingga membuatnya sedikit menggigil karena angin malam ini cukup dingin. Dia pun mulai merapatkan jaketnya seraya memandang awan hitam di langit malam ini dengan taburan penuh bintang-bintang yang berkelip.

Sasuke hanya tersenyum tipis, "hn, tak masalah."

"Sebaiknya aku segera pulang, aku yakin kakakku akan marah kalau aku pulang terlambat malam ini," ucap pemuda itu sambil berdiri dari tempatnya duduk. Lalu dia pun menolehkan kepalanya menghadap Sasuke, "sekali lagi terima kasih atas bantuanmu, aku harap kita bisa bertemu lagi." Dan pemuda itupun berlari menjauhi Sasuke menuju rumahnya.

"Ya, kita akan bertemu lagi," gumam Sasuke sambil tersenyum. Dia pun bangkit dari tempat duduknya. Dia ingat akan tujuannya untuk mencari bensin untuk mobilnya.

End of Flashback

"Jadi… begitu ceritanya?" ucap Naruto sambil menautkan jari-jari tangannya.

"Hn. Kau ingat semuanya?" tanya Sasuke memastikan.

Naruto menolehkan kepalanya ke arah Sasuke yang semula tadi tertunduk, "aku ingat, tapi belum semuanya. Tak ku sangka itu adalah kau."

"Ya, itu memang aku."

Lagi-lagi Naruto tak bisa berkata apa-apa. Sungguh dia masih bingung dengan keadaanya sekarang, antara sedih dan bahagia bertemu lagi dengan pemuda yang telah menolongnya dulu. Ketika dia bangun, dia sudah ada di hadapan pemuda itu dengan keadaan terbaring di tempat tidur mewah serta piyama yang agak kebesaran di tubuhnya. Sepertinya Naruto tengah berfikir apa yang terjadi malam tadi. Dia bisa sedikit mulai mengingat kejadian malam itu. Dari rumah pergi ke suatu tempat bersama sepupunya, lalu bar, lalu tiba-tiba dia di ikat dan di telanjangi, itu semua terjadi karena ajakan kakaknya. Kakaknya!

"Ah kakakku, aku harus segera pulang, dia pasti menungguku di rumah!" seru Naruto seraya bangkit dari ranjangnya. Ketika dia menginjakkan kakinya di lantai, dia langsung limbung karena kondisinya yang masih lemah. Dengan sigap Sasuke menahan tubuh itu sebelum terjatuh kelantai.

Sasuke pun langsung mengangkat tubuh itu dan kembali membaringkannya, "kau ingin pulang?"

"Benar, aku ingin pulang, kakakku akan menyiksaku kalau aku tidak pulang." Naruto hampir mengeluarkan airmatanya ketika mengingat perlakuan kakaknya yang sering menyiksanya.

"Kau tidak boleh pulang!" perintah Sasuke dingin.

"Eh?" Naruto bingung dengan sikap Sasuke yang dingin.

Sasuke menatap Naruto dingin, "apa kau tidak ingat dengan kejadian malam tadi, huh?"

"Aku tidak ingat, dan sekarang aku ingin pulang!" Naruto mengeraskan suaranya hingga naik beberapa oktaf. Dia pun mulai memberontak dan bangkit dari tempat tidurnya. Tapi Sasuke menahan kedua pergelangan tangannya dan menindih tubuhnya.

Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto, "kakakmu sudah menjualmu dan aku sudah membelimu dengan harga tinggi!"

Naruto melebarkan matanya, terkejut dengan ucapan Sasuke, "apa? Kakak menjualku? Tidak mungkin!" sangkalnya sembari kembali memberontak.

"Aku tidak bohong! Kau sudah aku beli, dan kini kau milikku!" ucapan Sasuke terdengar ada nada kemarahan, hal ini membuat Naruto bergidik. "Dan aku berhak atas apa terhadap dirimu!"

TBC

Padahal chap ini rencananya mau aku jadi prequel dari fict ini. Tapi nga jadi ah, biar nyambung ama ceritanya ya aku buat aja di chap ini.

Mumpung ada yang minta lemon, ya sudah lemonnya chap depan. Dan chap depan publishnya habis lebaran, ok?

Kalian ngerasa chap ini alurnya cepet nga sih? Aku ngerasa cepet banget alurnya. Tapi chap depan aku akan berusaha memperbaikinya.

Yang udah nonton Okane Ga Nai pasti tau lemonnya seperti apa di chap depan, karena aku sedikit ngambil adegan seperti itu. Jadi nga tega Naruto aku bikin kayak gitu. Tapi kan aku suka kalau chara fave aku di bikin nista, huahahaha… *evil smirk*

Saatnya bales repiu…

*Arisu. ga. login. males

Lemonnya chap 3 aja ya? Untuk chap ini maaf banget nga ada lemon. Untuk rate M kalo udah masuk lemon akan dig anti. Thanks dah RnR. ^^

*miku

Iya, Narunya kasihan. Tapi ntar bakal ada yang lebih nista lagi, hehehe…*evil smile* Thanks dah RnR.

*Sasuchi ChukaCukhe

Iya, Sasuke yang dapet. Saya nga rela kalau yg lain yg dapet. Untuk lemon chap 3 ya? Tapi tetep, habis lebaran. Dan chap ini yang menceritakan Sasu yang di tolong Naru. Thanks dah RnR.

*nami kusunoki

Ini udah apdet ^^

Saran kamu akan aku pertimbangkan, tapi untuk apdet kilat aku nga jamin, soalnya aku orangnya agak males gitu. Thanks dah RnR. ^^

*Uchiha 'Haruhi' Gaje

Ini udah lanjut. Iya, adegan itu aku ambil dari Okane Ga Nai. Nga papa kan? Thanks dah RnR.

*LadyElizabeth-Kirkland

Lemonnya chap 3 ya? Tapi tetep pas lebaran. Aku aja apdet pas subuh-subuh gini. Ok, thanks dah RnR.

*NhiaChayang

Ini chap 2nya udah apdet. Agak cepet soalnya nga ada lemon, lemonnya chap 3. thanks dah RnR.

*Madame La Pluie

Iya, ini memang yaoi. Saya memang suka yaoi, kalau mau sharing boleh-boleh aja, dengan senang hati. Mau sharing lewat PM atau FB bisa aja. Mungkin manga yang di maksud Okane Ga Nai kali, kan dia imut juga. Thanks dah RnR.

*Tachikawa Yuzuki

Iya, bener kata kamu kalo nga ada lemon nga ngena, memang niatnya lanjut ke rate M. thanks dah RnR.

*Fi suki suki

Ini udah lanjut. Thanks dah di fave dan juga RnR.

*three0nine

Salam kenal juga buat kamu. Tapi tetep aja saya nga berani kalo konten fluff gitu bikinnya pas puasa. Ini aku ambil dari anime Okane Ga Nai. Thanks atas penjelasannya dan juga RnR.

*Micon

Update kilat kayaknya di pertimbangkan dulu. Soalnya saya musti membangkitkan mood dulu kalau mau ngetik. Kalo chap segitu mah fict ini udah tamat. Saya nga mau bikin fict yang panjang-panjang. Tapi kalau ada mood fictnya bisa lebih panjang. Thanks dah RnR.

*Airis Hanamori mles login

Iya, aku ambil dari anime Okane Ga Nai. Kalau apdet cepet kayaknya di pertimbangkan dulu. Maaf kalau lemonnya bukan di chap ini, tapi chap depan. Thanks dah RnR.

*NaruEls

Salam kenal juga buat kamu. Review telat nga pa-pa kok, asal review aja. Apdet cepet kayaknya di pertimbangkan dulu. Lemon chap depan ok? Tapi tetep habis lebaran. Soal rate ini masih T selama masih belum muncul lemon. Thanks dah RnR.

*White

Narunya cuma pake daleman, hehehe… NejiGaara masih lanjut dong. Thanks dah RnR.

*Assassin Cross

Iya, mirip banget ama Okane Ga Nai, soalnya saya ngambil dari situ. Tapi nga mirip-mirip banget kan? Duh pujiannya, makasih *blushing*. Adegan Sasu inget Naru itu kecepatan ya? Habisnya yang ada di pikiran saya cuma kayak gitu. Untuk rate chap depan diganti deh, soalnya ada lemon, serius! Kalau Naru falling in love with Sasuke pasti aku bikin kok. Untuk penjelasannya thanks ya, dan juga thanks dah RnR.

*Vipris

Wah, keren ya? Biasa aja fictnya. Coz sedikit niru sama animenya. Untuk apdet kilat di pertimbangkan dulu. Thanks dah RnR.

*xXxhibarixXx

Iya, mirip Okane Ga Nai. Kalo lemon memang udah ada alurnya. Tapi saran kamu aku pikirkan juga untuk chap depan. Thanks dah RnR.

*Yanz Namiyukimi-chan

Emang mau bikin lemon. Tapi untuk chap ini masih rate T, kalau chap depan baru dig anti jadi M. thanks dah RnR.

*Aglaea Dhichan

Halo salam kenal juga. Aku Fusae Deguchi, terserah mau manggil apa. Soalnya itu namaku yang ku translate ke nama Jepang. Iya, mirip Okane Ga Nai, saya memang ngambilnya dari situ. Lemonnya chap depan, tapi tetep habis lebaran, ok? Thanks dah RnR.

Semuanya makasih udah baca dan kasih review ke fict aku. Tak menyangka responnya cukup bagus. Tapi sekali lagi MAAF kalau kurang memuaskan kalian semua karena chap ini lemon belum nongol. Saran dan kritik kalian aku terima dengan senang hati. So… reviewnya lagi dong?