Normal PoV
"Kaa-san yakin inilah jalan terbaik?!" gadis berumur empat belas itu memekik tidak setuju.
"Kaa-san yakin," ujar wanita berumur tiga puluh lebih di hadapan gadis berambut golden blonde itu sambil meneguk tehnya dengan anggun.
"Tapi, kalau memorinya kembali, ia akan mengingat semuanya! Termasuk masalahnya dengan Mikuo! Bukankah itu justru akan menyedihkan hatinya?!" gadis itu kembali menyahut dengan wajah gusar. Wanita di hadapannya meletakkan cangkir tehnya lalu menatap sang gadis dengan tatapan tajam.
"Diam, Neru. Kaa-san dan Tou-san-lah yang menentukan. Dan keputusan ini tidak dapat diganggu gugat." Gadis bernama Neru itu menggigit bagian bawah bibirnya dengan kesal sebelum berjalan dengan menghentakkan kaki keluar ruangan.
Brak!
Bunyi pintu pun tertutup dengan kasar menggema dalam ruangan tersebut. Wanita bernama Lily itu pun menghela nafasnya melihat tingkah laku salah satu anak gadisnya.
Sejujurnya, sebagian sisi dari dirinya juga setuju dengan apa yang Neru katakan. Namun, jika keadaan terus seperti ini, gadis itu takkan dapat mengingat apapun mengenai keluarga serta teman-teman lamanya.
Lily mendesah pelan lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dimana para burung dalam berbagai jenis sedang hinggap di tiang-tiang listrik terdekat.
"Maaf Neru... tapi ini juga untuk kebaikanmu, nak..."
-Complicated Irony-
*Ch 1*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len
Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort, Tragedy
Warning: Typo(s), slight LenNeru (awal), slight MikuoRin, alur lambat/ngebut, mungkin ada LenRinMikuo
Summary: Pembalasan dendam merupakan tujuan awal Rin masuk ke Vocaloid Academy. Namun seiring berjalannya waktu, ia justru kebinggungan dengan perasaan serta memori lama yang menghantui dirinya.
"Rin-sama, anda mendapatkan surat dari Jepang," tutur seorang maid berambut biru sambil menyerahkan sebuah amplop yang tertutup rapat kepada sang nona muda yang tengah melalukan rutinitasnya di siang hari –minum teh.
Manik biru safir miliknya perlahan menghadap kearah sang maid. Lalu mengambil surat tersebut dengan tangan kanannya.
"Terima kasih, kau boleh pergi sekarang," ucap gadis bernama Rin itu sambil tersenyum manis ke arah sang maid dan meletakkan surat tersebut di permukaan meja.
Maid itu sempat terpesona sejenak lalu saat tersadar, ia pun pergi meninggalkan sang nona muda di dalam taman mansion sendirian.
Rin memiliki rambut berwarna honeyblonde sebahu dengan sebuah pita putih di atas kepalanya beserta jepit-jepit putih untuk merapikan poninya. Pakaian yang dikenakannya berupa dress panjang berwarna biru dengan lengan sampai ke pergelangan tangan.
Dress miliknya juga memiliki renda putih dan pita-pita di berbagai sisi tertentu dan dua buah kancing berwarna putih. Gadis itu mengangkat cangkir tehnya dengan anggun lalu meneguk teh itu dengan perlahan hingga tak bersisa.
Setelah itu meletakkan kembali cangkir tehnya dan mengambil sapu tangan untuk mengelap sisa teh yang menempel di wajahnya.
"Jepang ya...," gumamnya, "Kaa-san dan Tou-san berada disana kan?" Lalu ia meletakkan sapu tangannya dan membuka surat tersebut dengan perlahan tanpa merusak amplopnya.
Dear Rin,
Hai, nak. Kaa-san disini. Maaf karena Kaa-san tidak dapat mengunjungimu selama berada di Prancis. Begitu juga dengan Tou-san, ia benar-benar merasa bersalah padamu. Dan Neru terus saja menpertanyakan, "kapan kita akan menemui Rin?"
Hahaha... benar-benar tipikal kakak yang perhatian. Tapi tak usah khawatir, Rin. Kau akan segera berangkat ke Jepang tiga hari lagi, bersiaplah. Kaa-san sudah mengatakannya pada Kokone, jadi kau tidak usah terlalu khawatir mengenainya.
Semoga kau cepat mengingat kembali semuanya, sayang.
With love,
Lily
Rin tersenyum kecil melihatnya. Walaupun ia tidak memiliki memori lagi mengenai orang-orang yang pernah bersama dengannya dua tahun yang lalu, ia merasa tidak ditelantarkan karena terkadang orang-orang di Jepang yang ia sudah lupakan masih mengiriminya surat.
Ia kembali merogoh amplop dan menemukan tiket pesawat disana. Rin tersenyum kecil sebelum memasukkan kembali tangannya ke dalam amplop tersebut, mencari sesuatu.
Benar saja, ada satu hal lagi yang berada di dalamnya. Rin menariknya keluar dan pandangannya melembut melihat lembaran foto tersebut.
Foto keluarganya-
-sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi dan mengubah semuanya.
.
.
.
Tampak dua orang berbeda jenis berada di halaman sekolah. Yang perempuan sedang bermain-main dengan seragamnya dengan wajah merah, sedangkan yang lelaki tampak kesal karena terlalu lama menunggu.
"K-K-Ka-Kagane-kun, a-aishiteru!"
Pemuda dihadapannya tampak terdiam sejenak. Tidak, ia tidak terkejut ataupun gembira. Kesal. Itulah yang dirasakannya saat ini –gusar.
"Gomen, tapi aku tidak menyukaimu sedikit pun," jawab pemuda tersebut dengan nada cuek. Jawabannya juga terkesan sangat ketus.
Gadis di hadapannya menggigit bagian bawah bibirnya lalu berdecak pelan. Sejujurnya, ia dapat menduga bahwa dirinya akan ditolak. Namun, ia tetap berharap banyak dan akhirnya melakukan aksi yang terkesan nekat.
Pemuda berambut honeyblonde di hadapannya itu mulai mengambil langkah pergi dari tempat tersebut, dan hal itu membuat sang gadis cukup panik.
"Ka-Kalau begitu... a-aku akan berusaha supaya kau menyukaiku!"
Dengan sederet kata tersebut yang meluncur dari bibir sang gadis, pemuda itu menghentikkan langkahnya dan membalikkan badannya lalu menatapnya ketus.
"Apa kau buta? Aku sudah bilang kalau aku tidak menyukaimu. Dan lagi apa kau tidak melihat bahwa sebenarnya ada orang yang tulus menyukaimu?" respon yang sangat dingin pun keluar dari mulut sang pemuda.
Gadis itu terlihat terkejut dan matanya mulai berkaca-kaca –pertanda bahwa ia akan menangis. Pemuda di hadapannya tampak tidak peduli dan langsung berjalan pergi tanpa berpikir dua kali maupun menoleh ke belakang.
Tetes-tetes air pun mulai meluncur mulus dari mata sang gadis. Mulai dari sebutir hingga berbutir-butir meluncur deras menuruni pipinya. Berbagai emosi tertanam di dalam benaknya, namun sedihlah yang paling utama.
Dan itulah bagaimana Kagane Len menolak pernyataan Kagamine Neru.
.
.
.
"Penolakan memang sakit, namun terkadang hal tersebut berujung pada sesuatu yang lebih baik... aku percaya itu."
.
Halo, semoga anda sekali lagi tidak bosan melihat saya ya. Akhirnya salah satu cerita aneh saya ini lanjut lagi. Terima kasih banyak bagi semua yang sudah fave, fol, maupun me-review! Ah, ini balasan reviewnya~
-Hachipine IA
Halo IA-san... A-Arigatou nee #kebinggunganmaubalesapa
Ini sudah lanjut, arigatou IA-san sudah me-review! X3
-CityofReverence
Yo, Kei! Lol, banyak yang mau kuceritain sama Kei nanti *nak* X3
Yap, bukan Len memang... arigatou Kei sudah me-review! XD
-Yuuhizaka Sora
Iya sih, cerita ini rada banyak netorare-nya.. ok, ini sudah dicoba biar kata 'di' nya lebih baik (di itu salah satu kelemahan saya soalnya *nak*)
Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review!
-Aikawa Katsushika
Tahu! Runo-chan! #nak
Ini sudah lanjut, arigatou Runo-chan sudah me-review! X3
-Kurotori Rei
Ehehe, souka? Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! :3
-CelestyaRegalyana
Hahaha, itu yang pasti bukan Len! #nak
Ok, arigatou ne! Arigatou sudah me-review! X3
-RizuStef
Ini sudah lanjut, arigatou ne sudah me-review! XD
Terima kasih sekali lagi buat semua yang sudah me-review fict ini, maaf kalau ada kesalahan dan sebagainya, sekali lagi saya minta maaf!
Sekian, jaa ne~!
~Kiriko Alicia
