Chapter 2

Tapi Asato bukannya melepaskan dekapanya ke Tatsumi, dia malah semakin erat memeluk tubuh Tatsumi, dan dia pun semakin mengubur wajahnya di dada Tatsumi. Sekarang Tatsumi benar-benar bingung, sekarang bukan cuman wajahnya yang merah padam, tapi entah kenapa dia merasah seluruh tubuhnya menjadi panas. Saat dia hampir pingsan karena tak tahan, tiba-tiba saja ia disadarkan oleh suara bisikan Asato.

"Tapi Sei… aku…. Aku… gak mau pulang… aku… mau… di sini saja, sama kamu. Aku takut di rumah sendiri… ya Sei… biarkan aku menginap disini ya?" Kata Asato dengan mata berbinar-binar, sambil menatap mata Tatsumi.

"Ta…pi… Asato….aku…gak punya kamar lain…kamu mau tidur di mana?" Kata Tatsumi sambil berusaha menhindari pandangan mematikan dari Asato.

"Ah gak papa kok aku bisa tidur dimana saja, di sofa juga… boleh..jadi..tolong Sei ijinkan aku ya, menginap di sini ya?" Kata Asato dengan nada memelas.

"Apa mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa…" Kata Tatsumi sambil menghindari tatapan Asato ( tidak boleh sei..kau tidak boleh membiarkan dia menginap di sini.. itu berbahaya..).

"Loh tak apa-apa kok..aku sudah biasa, tapi kalau aku tak boleh tidur di sofa… aku tidur sama kamu saja di tempat tidur. Boleh kan Sei..?" Tanya Asato sambil tersenyum.

Tatsumi yang melihat senyum Asato itu pun semakin merah wajahnya ( ya ampun senyumnya benar-benar membuatku hanyut, tapi tidak boleh mana mungkin aku membiarkan dia tidur sama-sama dengan ku di tempat tidur. Bisa-bisa aku….). lalu Tatsumi pun segera menolak dengan tegas.

"Tak bisa.. itu tak boleh Asato… kau lebih baik tidur di rumah mu saja….." Kata Tatsumi gugup.

"Loh memangnya kenapa?...tempat tidurmu besarkan…?... bukannya menyenangkan kalau kita bisa tidur sama-sama?...seperti berkemah saja….." Kata Asato sambil tertawa senang.

"Ta…pi… itu tidak mungkin Asato…soalnya…soalnya…." Kata Tatsumi bingung mencari alasan (ya ampun Asato.. kau ini polos sekali.. aku jadi bingung bagaimana menjelaskannya).

"Kenapa?...Sei… kau tak suka ya kalau aku lama- lama sama kamu?" Kata Asato sedih, air mata pun mulai mengalir dari matanya.

"Eh.. bu..ka…n…. begitu.. cuman aku… aku…"Kata Tatsumi gugup, bingung harus menjawab apa.

"Kenapa?.. kenapa Sei…?"Kata Asato sambil menangis. Air mata membasahi mata ungunya yang indah.

"A….a..ku….a..ku…WAH…! YA SUDAH KAU BOLEH MENGINAP DI SINI!" Kata Tatsumi berteriak (aku tak tahan melihat dia menangis).

"YEH…!" Teriak Asato senang. Sambil melepas dekapanya dari Tatsumi dan bangun dari pangkuanTatsumi, Asato melompat-lompat gerbira.

Tatsumi yang melihat Asato gembira dia pun tersenyum, dia lega karena sudah lepas dari dekapan Asato, dan dia meghela napas saat dia mengigat apa yang barusan dikatakannya.

"Ya.. sudah kamu tidur di tempat tidur, biar aku yang tidur di sofa." Kata Tatsumi sambil berjalan menujuh kamarnya dan membuka pintu lemari sambil mencari selimut untuknya.

"Eh.. loh kok gitu?.. kenapa kamu tidur di sofa?...tidur sama-sama di tempat tidur saja."Kata Asato mengenggam erat lengan Tatsumi.

Tatsumi semakin kalang kabut mendengar permintaan Asato. (ya ampun Asato, kenapa kamu polos sekali? Masa kamu masih gak ngerti juga alasan ku?).

"JAN..JANGAN…..AKU ..ITU GAK .. BOLEH…!" Teriak Tatsumi kalang kabut (sampai gak sadar ngomongnya belepotan).

"Loh kenapa? Kamu gak suka tidur 1 tempat tidur sama aku?" Kata Asato sambil menangis lagi.

"Eh…bu..bukan..gitu..a..ku…aku…(kenapa dia nangis lagi sih?) KUMOHON ASATO JANGAN NANGIS LAGI YA..!" Teriak Tatsumi , kebingunggan melihat air mata Asato.

"Tapi ..kamu mau kan tidur bareng sama aku?" Tanya Asato, sambil mengusap air mata dari pipinya yang merah karena menanggis.

"I..I..YA….IYA….AKU MAU..!" Teriak Tatsumi sambil mengenggam erat kedua lengan Asato (aduh kenapa sih aku ppaling lemah kalau melihat air matanya?).

"Nah gitu dong he….he."Kata Asato, tertawa. "Oh iya Sei aku pinjam kamar mandimu ya? Aku mau mandi nih."Kata Asato sambil berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarTatsumi.

"EH.. MANDI? KAMU MAU MANDI?" Teriak Tatsumi.

"I..iya..memangnya kenapa?(kok teriak gitu?) Oh..kamu juga belum mandi? Ya sudah kita mandi sama_sa…."Kata Asato, sampai tiba-tiba omongannya di potong Tatsumi.

"EH..gak usah..aku sudah mandi kok…!" Kata Tatsumi, dengan wajah yang merah padam.

"Oh.. gitu.. (terus kenapa dia teriak?), ya sudah aku mandi dulu ya Sei. Kamu kalau mau tidur, tidur duluan saja." Kata Asato yang yang berbicara dari balik pintu kamar mandi, lalu dia pun menutup pintu itu.

Setelah melihat pintu itu tertutup, Tatsumi pun menghela nafas panjang, sambil mengelus-ngelus dadanya karena lega. Tapi setelah mendengar suara air di kamar mandi wajahnya pun kembali merah dan jantungnya semakin bedetak cepat.

'' (Ya ampun ini benar-benar pencobaan, aku benar-benar gak tahu apa aku bisa bertahan. Yah Tuhan tolonglah aku.) " Pikir Tatsumi, yang pikiranya sudah entah kemana lagi.

" (Asato..dia..dia..apa dia masih mandi sekarang? Apa aku salah menolak ajakannya mandi bersama? Padahal ….aku ingin sekali melihat…melihat…WAH TIDAK! TIDAK BOLEH, AKU PIKIR APA SIH?) " Pikir Tatsumi dengan wajah merah, sambil mengelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran tidak baiknya itu. Tapi sepertinya nasib berkata lain, godaan sepertinya tidak meninggalkannya melainkan semakin parah. Tiba-tiba saja godaan itu muncul dari balik pintu kamar mandinya.

"Ah, Sei.… maaf ya.. aku pinjam yukatamu dulu. Soalnya aku lupa kalau aku belum pinjam bajumu." Kata Asato, sambil berjalan keluar.

Tatsumi yang melihatnya semakin merah wajahnya ( ya ampun… kenapa dia harus keluar dengan penampilan begitu sih? Dan kenapa yukata itu harus tipis begitu? Dan kenapa warnanya harus putih sih? Tubuh Asato yang basah kan jadi terlihat. Ya ampun… dia…dia…s…s..WAH AKU PIKIR APA SIH?" Pikir Tatsumi yang sedang menhadapi dilema dipikirannya.

Lalu Tatsumi segera berlari menuju lemari pakainnya ( yang sebenarnya dekat ) dan dia segera mengambil satu set piyama. Setelah itu ia menyerahkannya kepada Asto sambil berusaha menghindari matannya dari Asato.

"Makasih Sei…!" Katanya sambil menerima pinyama itu, sampai dia melihat bertapa merahnya wajah Tatsumi. "Loh kamu kenapa? Kok wajahmu merah sekali? Kamu demam ya?" Kata Asato sambil menjinjit untuk menaruh telapak tangannya di dahi Tatsumi.

Tatsumi semakin hilang kesadaran, saat melihat wajah asato yang sangat dekat dengan wajahnya. (sebenarnya aku gak sakit, tapi kenapa rasanya aku sudah mau pingsan ya?)

"Aku…a..ku…gak pa-pa kok." Kata Tatsumi gugup, sambil mengenggam erat kedua lengan Asato untuk menjauhkan tubuh Asato dari tubuhnya. Tapi godaan memang semakin menghantui Tatsumi, saat dia menjauhkan diri dari Asato dia malah menjadi melihat ….melihat kulit putihnya Asato yang tampak jelas dari sela-sela leher yukata putih yang terlalu besar untuknya.

Tatsumi panik lalu dia berjalan mundur, dan tak sengaja ke dua kakinya tersandung ujung tempat tidurnya. Sehingga dia pun jatuh di atas tempat tidurnya. Saat dia membuka kedua matanya yang tertutup karena panik saat jatuh tadi, dia kaget karena ternyata Asato juga ikut jatuh bersamanya. Tubuh Asato sekarang ada di atas tubuhnya. Tatsumi panik lalu dia segera bangun dan duduk sambil menbantu menbangunkan Asato.

"Kamu gak papakan Sei?" Kata Asato, yang berusaha bangun dan akhinya sekarang dia duduk di pangkuan Tatsumi.

Tatsumi tak bisa menjawab dia menjadi bisu seketika. Itu semua karena matanya tertuju ke tubuh Asato. Yukata yang dipakai Asato sekarang berantakan, leher yukata yang besar itu melorot di sebelah kiri pundak asato, dam menperlihatkan sebagian tubuhnya. Lalu bagian bawah yukatanya tersingkap sehingga membuat paha kanannya Asato terlihat jelas. Semua itu benar-benar membuat Asato terlihat sangat seksi dan mengoda.

Tatsumi akhirnya tidak mampu lagi menahan godaan itu, langsung saja dia….memeluk Asato…..tangan kirinya dia taruh di pingang Asato dan tangan kanannya dia taruh di dagu Asato, lalu dia mengangkat wajah Asato, akhirnya mata mereka berdua saling berhadapan, sehinga dia bisa melihat mata ungu Asato yang indah itu (yang melihatnya dengan penuh kepolosan). Tatsumi pun semakin memeluk erat tubuh Asato, dan dia membelai pipi Asato yang halus dan merah (sepertinya dia malu karena Tatsumi memeluknya). Tatsumi pun semakin mendekatkan wajahnya sampai jarak antara wajah mereka berdua tak lebih dari satu jengkal. Sampai-sampai mereka berdua bisa saling merasakan hela nafas mereka berdua.

Wajah Asato pun semakin merah, dia pun menutup ke dua matanya karena malu. Dan saat bibir Tatsumi sudah sangat dekat dengan bibir mungil itu, tiba-tiba saja Asato membuka matanya dan berkata.