DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO
Warning: AU, rush dan kekurangan lainnya dan jangan lupakan typo ya T^T
.
.
Bruk!
Hinata menghempaskan sebuah bantal dan guling ke depan TV yang terletak di ruang tamunya—yang diambilnya dari kamarnya sendiri.
Masih dengan kemeja—baju kerjanya yang dipakainya saat mengajar tadi pagi, ia langsung merebahkan kepalanya di atas bantal empuk yang terus-terusan memanggilnya untuk digulingi.
Tenang dan nyaman. Inilah yang ia butuhkan sekarang.
Hanabi yang duduk di atas sofa tepat di samping Hinata melirik kakaknya itu. Sejak kapan Hinata punya kebiasaan tidur diluar kamar seperti ini?
"Di sini dingin Nee," ujar Hanabi memperingati. Sementara tangannya sibuk memencet tombol remote untuk mencari acara TV yang menarik. Sepertinya memang TV bukanlah hal yang menarik untuk gadis yang berusia enam belas tahun ini. Ia gadis yang gaul sangat berbeda jauh dari sang kakak. Mungkin TV hanyalah pelariannya sementara selagi waktu senggang.
Bahkan cara tersenyum saja mereka beda. Hanabi cenderung cool, sedangkan Hinata?
Suka malu-malu tentunya.
"Tidak apa-apa," entah dengan siapa saja Hinata selalu bicara dengan lembut. Dan terkadang suaranya malah tidak terdengar.
"Hump, begitu yah?"
Hinata melirik Hanabi yang sekarang sudah berdiri dari duduknya, sepertinya adiknya akan kembali ke kamar.
"Hanabi," panggil Hinata yang membuat langkah gadis itu terhenti, gadis kecil yang bermata sama seperti Hinata itu menatap kakaknya kembali.
"Duduk dulu di sini." kali ini giliran Hinata yang duduk di tempat—lalu Hanabi pun ikut duduk di lantai berkarpet itu di sampingnya.
Hinata tidak yakin mengapa ia harus memanggil Hanabi dan menyuruhnya duduk di sampingnya. Tidak yakin untuk bercerita tentang sesuatu dan untuk meminta pendapat. Semoga ia tidak salah langkah.
"Nee lagi bingung, tepatnya lagi tidak mengerti."
Hanabi memiringkan kepalanya menunggu lontaran kata apa lagi yang keluar dari mulut sang kakak. Dan mungkin ini serius.
"A-ada yang melamar Nee."
"Hah?" Hanabi tampak sedikit terkejut. "Siapa? Sasuke-Nii?" tebaknya cepat. Hanabi tahu, satu-satunya laki-laki yang dekat pada kakaknya ialah Sasuke Uchiha.
"Bu-bukan." sebenarnya Hinata gugup untuk mengatakan ini. Tapi, kalau ia menceritakan ini pada Sasuke, apa jadinya nanti? Yang pasti ia tidak ingin menanggung beban ini sendirian.
Ok, ini memang beban bagi Hinata. Walau tidak terlalu besar. Tapi cukup kuat untuk dapat jadi ingatannya. Dan ia tidak mau hal itu terjadi.
"Siapa Nee?" Hanabi sungguh tidak sabaran mendengar hal ini. "Kenapa dia tidak datang pada ayah. Dan bagaimana dengan Sasuke-Nii? Oh, aku tahu! Apakah laki-laki itu dulunya secret admire-nya Nee?" yang tadinya Hanabi mengantuk, kini kilat matanya bersinar kembali.
"Bukan..." sedikit pun tebakkan Hanabi tidak ada yang benar. Hinata menjadi tambah lesu sekarang. Ia butuh ke dokter minggu ini untuk mengecek darah rendahnya. "Hanya seorang lelaki yang pernah bertemu sekali padaku."
Hanabi menahan napasnya mencoba menyimak dengan baik cerita Hinata. "Dan suka membaca blogku."
.
.
.
"Gaara darimana saja kau!"
Baru saja Gaara memasukki rumah depannya, ia sudah disambut oleh suara sang kakak yang super cerewet itu. Langkah kaki pria berambut merah itu terhenti seketika. Inginnya ia mau mengabaikannya. Dan ujung-ujungnya sang kakak pasti akan menghukumnya.
Sebenarnya Gaara sudah bosan dengan sikap dan peraturan dari Temari. Cuma mau bagaimana lagi—mengingat posisi Temari sekarang sudah menjadi pengganti ibunya.
Temari menaruh koran yang sedari tadi di bacanya. Kemudian ia sepenuhnya menatap sosok Gaara yang masih berdiri tidak jauh di depannya.
"Dari kemarin kau tidak pulang. Darimana saja?"
Gaara hanya melirik Temari dari sudut mata tajamnya. "Mencari calon istri seperti yang kau mau," jawab Gaara sangat datar dan terkesan tenang.
Memang Temari menyuruh Gaara segera menikah karena mengingat ia dan Kankuro sudah menikah. Alasan Temari seperti itu hanya takut kalau Gaara nantinya tidak akan menikah dengan siapa pun, lalu hidup sendirian untuk selamanya. Dan ujung-ujungnya nama keluarga mereka yang tercemar.
Ini semua karena Gaara dalam hidupnya tidak pernah mengakui ia suka dengan perempuan. Tidak pernah bilang mengagumi perempuan sebelumnya. Kalau perempuan yang mengaguminya, tentu saja ada. Oh, ia kan pria tampan yang dapat dengan mudah mencari wanita dengan kedudukkan tingkat tinggi.
Hanya saja satu masalahnya, siapakah wanita itu yang cocok di hatinya?
Ia juga tidak pernah pacaran. Dan ini menjadikan Temari was-was akan hal itu.
Belum lagi Gaara suka melanggar peraturannya—berbuat nakal—yang nanti bakal mencemari nama keluarga besarnya.
Oh, nama besar itu memang sangat penting bagi gadis berkuncir empat itu.
"Aku katakan sekali lagi, Gaara. Kalau kau tidak mau diatur kau—"
"Segera menikah dan biarlah istriku saja yang mengaturku." Gaara memotong perkataan Temari cepat—karena perkataan itu sudah terulang beberapa kali sebelumnya. Bosan memang mendengarnya. Tapi, dengan cara inilah Temari memberikan sebagian perhatiannya kepada adik bungsunya.
Bagi Gaara, Temari sangatlah lucu. Menghawatirkan dirinya yang tidak akan menikah. Tentu saja ia punya orang yang disukainya walau belum kenal lama. Tapi, apa gadis itu akan menerimanya nanti ya?
Entahlah, yang penting usaha dulu.
"Aku capek, aku mau tidur dulu."
"Tunggu! Memangnya kau sudah dapat calonnya? Atau aku carikan saja?"
Ini yang sangat tidak ingin Gaara dengar; ia akan dicarikan calon istri oleh kakaknya!
Sepertinya kiamat dengan hal itu hampir sama saja. Sebanding tidak jauh malah.
"Tidak perlu. Aku sudah ada pilihan," sebenarnya Gaara tidak yakin dengan perkataannya yang ini—walau ia akui ia tertarik dengan gadis yang diketahui bernama Hinata itu.
Temari langsung tersenyum. Dipikirannya ia langsung memikirkan pesta perayaan untuk hal ini. Tidak menyangka Gaara menyukai seseorang. "Apa itu seorang gadis?"
Gaara tidak menyangka ternyata kakaknya sebodoh itu. "Tentu saja."
Temari langsung menautkan tangannya seperti seseorang ingin berdoa. "Oh Tuhan, terimakasih!" ekspresi Temari yang berlebihan ini membuat Gaara menghela napas sesak.
Mungkin memang hal yang bagus kalau Gaara cepat-cepat keluar dari keluarga ini. "Sekarang kau puas? Kalau begitu aku mau tidur."
Setelah itu Gaara berlalu meninggalkan Temari yang masih berdiri di tempat—dengan ekspresi menggelikan bagi Gaara tentunya.
Entah apa yang dilakukan Temari di ruang tamu sana. Yang pasti Gaara terus melangkah sampai ia masuk ke dalam kamarnya. Menghempaskan dirinya ke kamar tidur sambil memandang langit-langit.
Punya keluarga seperti ini, membuat batinnya cukup tertekan. Tapi, tak apalah kalau mereka menyuruh hal-hal yang benar.
Hyuuga Hinata. Walau ia bukan orang bangsawan, tapi ia cukup pantas ada di sampingnya. Yah, pastinya ia tidak akan salah pilih.
Masih dengan memandang langit-langit Gaara bergumam sendiri. "Besok kita bertemu lagi."
.
.
.
"Hanabi tolong hapus semua isi blogku." Hinata memohon sembari mengatupkan kedua tangannya kepada adiknya—yang sibuk dengan laptopnya. Jujur saja Hinata tidak tahu cara menghapus semua itu. Ia tidak mengerti bagaimana cara menggunakan situs yang bernama blog.
Ia hanya tahu cara mengapdet data diri ke dalam sana saja. Selebihnya ia tidak tahu. Lagipula selama ini blog itu sudah menjadi sampah dalam internet—karena sudah lama sekali ia tidak menyentuh situs itu.
Tahu-tahu sekarang malah ada yang melihatnya. Kenapa tidak dari awal saja ia menghapus semua itu. Menyesal memang ada sih. Tapi, yah sudahlah...
"Tidak usah, itu perlu kok, Nee..." ujar Hanabi masih dengan pandangan pada laptopnya. Apa-apaan pula kakaknya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dan memohon padanya ini? Gadis kecil itu masih tidak mengerti dengan permasalahan yang terletak pada kakaknya.
Ia sungguh tidak mengerti dengan masalah orang dewasa.
"Dapat!" ujar Hanabi tiba-tiba setelah ia bungkam dalam beberapa menit. Ternyata sesuatu yang dicarinya sudah ditemukan di dalam layar tipis di depannya itu.
"A-ada apa sih?" Hinata sedikit penasaran dengan apa tujuan Hanabi sedari tadi.
Hanabi masih diam sambil membaca tulisan-tulisan pada layar laptopnya. Sedangkan Hinata terus-terusan memandangi wajah adiknya yang masih terpaku di sana. Kian lama ekspresi raut Hanabi berubah tersenyum. Dan lama-lama ia malah berteriak.
"AAAWWW! Nee-chan orang yang beruntung!"
Hinata terlonjak kaget karena tiba-tiba Hanabi berteriak kencang.
Kembali Hanabi mengetikkan sesuatu pada laptopnya. "Nee tahu?"
Hinata memiringkan kepalanya menunggu ucapan Hanabi berikutnya.
"Pria itu bukan pria sembarangan."
"Maksudmu Gaara?"
Hanabi mengagguk mantap. "Menurutku Nee jalani saja apa adanya bersamanya." kali ini Hanabi menoleh menatap Hinata sebelumnya.
Membuat Hinata lebih terlonjak kaget dari sebelumnya—karena mendengar penuturan kata tersebut.
"Tidak akan!"
"Apa salahnya coba, kalau tidak dicoba? Dia orang yang baik-baik dan ternama. Jarang orang yang seperti dia. Dan pokoknya Nee orang yang beruntung!" Hanabi menekan tombol enter pada laptopnya. "Aku dapat nih blognyaaa~" Hanabi tersenyum lebar sendiri masih menghadap layar. "Dia curang sekali ya tidak pernah menulis sesuatu di blogmu."
"Hanabi-chan. Aku tidak suka ini." Hinata menghela napas pelan. Sepertinya bicara pada Hanabi memang bukanlah keputusan yang baik. Ya, setidaknya ia sudah bercerita pada orang lain itu cukup membuatnya merasa lega.
"Kalau aku jadi Nee sih, aku akan ikuti dia. Dia kaya sih... dan lagi, lihat ini!"
Lagi-lagi Hanabi menyuruhnya untuk melihat apa yang sekarang dilihatnya. Mau tak mau Hinata melihat isi dari layar datar tersebut.
Pupil matanya mengecil kaget karena melihat apa yang ada di dalam sana.
Tidak banyak.
Hanya fotonya saja yang ada di dalam blog Gaara. Hanya foto Hinata! Bukan foto pemiliknya!
Dan seketika tubuh Hinata terjatuh ke belakang—di atas kasur yang menjadi tempat duduk mereka sedari tadi.
"Eh, Nee?"
.
.
.
"Koran paginya satu."
Pagi ini Hinata menyempatkan diri sebelum sampai tempat kerjanya untuk ke toko buku kecil—yang terletak tidak jauh dari SD tempat kerjanya.
Setelah ia mendapatkan barang yang diinginkannya—lalu membayar sebuah koran tersebut—ia keluar dari dalam toko sana dan duduk di sebuah bangku yang kebetulan berada di luar toko itu.
Gadis itu langsung membuka isi koran itu—membalik-baliknya untuk mencari sesuatu yang diinginkannya—yang menjadi tujuannya untuk membeli kertas lebar tersebut.
Ia menarik senyumnya sembari menyingkirkan beberapa helaian rambut indigo-nya kebelakang telinga, saat ia berhenti di salah satu halaman pada lembar koran itu.
Inilah yang sekarang tengah Hinata lihat, di bagian sudut bawah koran terdapat sebuah kuis dengan selembar kupon. Pertanyaannya sangatlah mudah—yang tentu saja jawabannya sudah diketahuinya.
Setiap pagi Hinata selalu membeli koran ini, hanya untuk mengirim lembaran jawaban kuis itu ke kotak pos. Karena waktu pengiriman itu hanya beberapa bulan, rencananya Hinata akan mengirimkan banyak kupon atas namanya untuk kuis ini. Dengan begitu, peluang mendapatkan sebuah mobil yang diidamkannya selama ini akan terwujud.
Dilipatnya kembali koran itu dan dimasukkannya ke dalam tasnya. Kemudian barulah ia beranjak dari sana ke tempat kerjanya.
Dari kejauhan Gaara melihat gerak-gerik Hinata. Dengan sebuah topi coklat—jas panjang serta kacamata hitam, lengkaplah sudah penampilan Gaara hari ini sebagai spy.
"Ternyata, dia suka baca koran."
Karena penasaran, Gaara pun masuk ke dalam toko buku itu—dan tentunya ingin melihat koran-koran itu.
.
.
.
"Lima enam..." hitungan Hinata berhenti pada lembaran-lembaran kupon berhadiah dari koran yang di belinya. Sampai hari ini ia baru mengumpulkan lima puluh enam kupon itu. Hah, kenapa sedikit sekali?
Saat ini ia sedang berada di kantor sekolah—lagipula ini jam istirahat murid sekolah ini, jadi ia dapat bersantai dulu. Dan tentunya meluangkan waktu untuk mengisi jawaban seluruh kupon-kupon itu.
Sungguh, Hinata sangat terobsesi akan hal itu.
"Hinata!" seseorang memanggil namanya dan Hinata pun segera menoleh.
"Ino-chan?" Hinata buru-buru memasukkan seluruh kupon-kupon itu ke dalam laci meja kerjanya. Ia tidak mau saja kalau sampai dilihat Ino. Lagipula apa kata teman kerjanya yang satu itu kalau melihat hal ini. Inikan hanya kerjaan orang-orang yang kurang kerjaan.
"Lagi apa kau?" tanya Ino setelah ia sudah duduk di samping Hinata.
"Ti-tidak, aku hanya mengoreksi soal mu-murid. Iya itu..." alasan Hinata terdengar rancu di telinga Ino. Karena sekarang ada gosip yang ingin disampaikannya, ia abaikan saja perkataan Hinata.
"Katanya ada guru pria yang tampan akan bekerja di sini!" Ino menyampaikan gosip yang kini sudah menggempar dalam sekolah ini.
Sedangkan Hinata mana mau dan mana peduli soal ini. "Oh siapa memang?"
"Tidak tahu, yang pasti dia tampan sekali." sepertinya Ino sedang mengajaknya ber-fangirling ria. Sayangnya Hinata tidak dapat melakukan itu. Bagaimanapun tetap Sasuke yang berada di hatinya sampai detik ini.
Oh iya, sedang apa ya Sasuke sekarang? Hinata malah ingin bertemu deh.
"Hei Hinata kau tidak dengar aku ya?" sunggut Ino cemberut karena melihat Hinata seperti tidak menyimak ceritanya.
Hinata tersentak, "eh ma-maaf. Memang ia akan mengajar apa?" kembali Hinata ke dalam topik pembicaraan Ino.
"Katanya sih ia akan mengajar olahraga!" beritahu Ino dengan semangat membara. "Aaaah~ pasti badannya bagus!" Ino masih ber-fangirling ria sendirian. Sedangkan Hinata hanya tercengang saja.
Atsmosfir seperti ini rasanya selalu ada saat jaman-jaman sekolah dulu. Bedanya kalau dulu murid baru yang digosipkan terlebih dahulu. Dan sekarang malah guru baru. Hinata hanya bisa menarik senyum tipis.
"Ah! Itu dia orangnya!" Ino menangkap sosok yang disebut-sebutnya barusan. Dan ia pun menyuruh Hinata menatap orang itu pula. "Hinata ia kemari!" Ino mengguncang bahu Hinata sebagai lampiasan rasa geregetnya pada orang yang dimaksudnya. "Ehm, ehem. Aku sudah rapikan?" Ino terlihat sedikit menata rambutnya sesaat.
"O-oke kok," ujar Hinata tidak mau panjang lebar. Ia terus-terusan memandangi wajah gadis pirang itu—yang sekarang memasang senyum lebar. Dirasakan Hinata orang yang dipandang oleh Ino sudah berada di sampingnya—mungkin meja kerjanya berada di samping Hinata, lagipula meja itu memang kosong.
Hinata memutar badannya melihat orang tersebut—dan betapa terkejutnya saat ia melihat orang itu adalah orang gila kemarin yang masuk ke rumahnya.
Jeleger!
Hinata merasa disambar petir. Atau lebih buruk dari hal itu?
"Ka-kau..." Hinata sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Wajah itu, rambut itu, mata dan ekspresi aneh yang merupakan rangkaian dari orang gila kemarin.
Gaara melirik ke arah Hinata yang sekarang tengah memucat di tempat. Dengan santainya Gaara menyapa mereka. "Selamat siang."
"Selamat siang, Pak." Ino langsung menjawab cepat dengan senyuman ramahnya. Ia menyenggol bahu Hinata untuk segera menjawab sapaan Gaara pula.
Namun yang disenggol bukannya sadar. Ia malah pingsan di tempat duduknya dan membuat Ino tersentak kaget.
"Himeee!" pekik Ino kalut.
.
.
.
"Hahhaa, Hime memang suka pingsan kalau melihat pemuda tampan seperti Anda," jelas Ino formal kepada Gaara yang kini berada di hadapannya.
Ino memberikan sekaleng soft drink kepada Gaara—yang disambut Gaara tanpa ragu-ragu.
Baru kali ini Gaara mendapati gadis itu pingsan dengan cepat. Apa mungkin ia-lah penyebab semua ini? Memang apa yang ia lakukan padanya. Hanya menyapanya dengan santai saja bisa pingsan begitu?
Unik.
Satu pikiran yang Gaara tujukan pada gadis indigo itu—yang kini tengah tertidur di dalam ruang kesehatan.
Gaara kembali menoleh ke jendela yang tepat berada di belakangnya, untuk melihat Hinata yang terguling di dalam sana.
Melihat itu Ino langsung menghiburnya, "tenang saja, Pak. Ia tidak apa-apa." Ino terlihat merapikan rambutnya. Entahlah, ia merasa selalu kurang rapi kalau di depan pria tampan. Apalagi seperti Gaara ini.
Oh no!
Gaara kembali menatap Ino dengan hanya melempar senyuman yang sangat dan sangat tipis padanya. Meyakinkan gadis itu bahwa ia percaya.
Ino melirik jam tangannya. "Eh, aku ada jam pelajaran di kelas dua." kemudian Ino berdiri dari duduknya. "Saya permisi dulu, Pak." sebelum Ino undur diri dari sana, ia menyempatkan diri untuk membungkukkan badan sesaat—yang hanya dibalas oleh Gaara dengan sebuah anggukkan.
Setelah Ino benar-benar pergi dan menghilang dari pandangannya, Gaara malah menyeringai.
Dan kini waktunya bersama Hinata, berdua saja...
Gaara meletakkan soft drink pemberian Ino tadi di atas bangku yang di dudukkinya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam ruang kesehatan itu.
Di dalam sana benar-benar sepi. Hanya bunyi suara napas Hinata tidur yang teratur—dan tentunya suara langkah kakinya menggema di sana.
Baru saja Gaara duduk tepat di hadapan Hinata—gadis itu mengerjab-ngerjabkan matanya.
Sepertinya ia sudah siuman. Ino benar, pingsannya hanya sebentar.
Setelah ia merasakan pandangannya benar-benar sudah normal, Hinata harus; lagi-lagi tersentak kaget. Ia menarik selimutnya lebih tinggi sampai ke lehernya. "K-kau mau apa!" baru saja bangun, Hinata sudah harus melihat rambut merah Gaara.
Siapa yang tidak terkejut melihat orang seperti Gaara disaat dalam keadaan seperti Hinata ini?
Pose Hinata dengan pandangan takut, bibir memucat, serta selimut yang digenggamnya erat. Ia seperti akan dianiaya oleh Gaara.
Gaara malah menyeringai tipis, "memangnya aku suka membunuh orang?"
"Bu-bukan! Kau jauh lebih dari itu..."
"Hei, tenanglah aku tidak akan menyentuhmu," ujar Gaara tenang berharap gadis itu pun akan tenang. Kini Gaara melipat tangannya di depan dada. "Ok, apa salahku?"
Hinata membulatkan matanya tak percaya dengan pola tingkah Gaara yang menggelikan. "Ka-kau lupa apa yang kau lakukan kemarin?"
"Kenapa?"
"I-itulah kesalahanmu..." Hinata merasakan air matanya sudah berada di ujung matanya. Kali ini ia benar-benar akan menangis.
Masih dengan menatap Gaara dengan pandangan tajam ala dirinya, ia menahan semua gejolak yang timbul dalam perasaannya. Dan kini pipinya terlihat memerah.
Dan kini tangannya gemetar.
Dan kini ia sudah tak tahan lagi.
Sedangkan Gaara masih dengan pandangan datarnya. "Kau mau menangis?"
Gara-gara pemuda itu bertanya seperti itu, Hinata benar-benar menangis sekarang. Ia menundukkan wajahnya dan menenggelamkannya pada selimut putih itu, hanya sesegukkan saja yang terdengar di telinga Gaara. Sedangkan pipi Hinata yang masih dapat terlihat sedikit, warnanya sangat memerah.
Saat ini yang ada di dalam pikiran Hinata adalah sosok bayangan Sasuke. Kenapa ia tidak satu kerja saja pada pemuda itu, agar Sasuke dapat melindunginya? Kalau seperti ini mana tahu Sasuke tentang deritanya.
Tapi—tetap saja Sasuke tidak usah mengetahuinya. Ini akan berdampak buruk.
Hah, ia sudah membuat gadis itu menangis. Gaara mengambil napas pelan.
"Kalau begitu maafkan aku." Gaara sudah sedikit menyerah dengan pola tingkah Hinata. "Berhentilah menangis." Gaara bukanlah orang yang mampu meredakan air mata seseorang. Nada bicaranya saja terkesan datar—yang pastinya terdengar bukan untuk menghibur, tapi meledek.
Hinata masih sesegukkan walau terdengar pelan. Ia cukup kaget juga mendengar Gaara minta maaf.
"Ka-kalau begitu, ambillah cincin ini!" masih dalam keadaan menunduk Hinata menyodorkan cincin pemberian Gaara kemarin—yang kebetulan disimpannya di dalam kantungnya hari ini.
"Eh?"
"A-ambillah..."
Gaara hanya diam sebentar. "Barang yang sudah diberi tidak dapat dikembalikan lagi."
Mendengar itu Hinata rasanya ingin tertawa. Memangnya di sini toko ya, sampai ada moto seperti itu?
"Ambillah, anggap saja itu sebagai tanda pertemanan kita." hari ini rasanya Gaara juga sudah banyak bicara.
"Eh." tangan Hinata yang terjulur tadi sekarang turun ke atas kasur. Sedangkan kepalanya tetap menunduk.
"Kalau begitu mohon kerja samanya." Gaara membungkukkan badannya secara formal pada teman kerja barunya itu.
"Ta-tapi kan?" Hinata segera menghapus seluruh air mata dan keringat yang berada di wajahnya sebelum ia mengangkat kepala. "Aku tidak pantas mendapatkan seperti ini. Berikan saja pa-pada perempuan lain."
"Sudah kubilang, barang yang sudah diberi tidak dapat dikembalikan lagi!" Gaara mendekat ke arah Hinata dan langsung meraih salah satu tangannya yang kini tidak menggenggam kotak cincin itu.
Kemudian, Gaara mengangkat tangan Hinata dan mencium punggung tangan itu sekilas. "Sekali lagi, mohon kerja samanya..."
Jleb!
Untuk yang kali ini, Hinata merasa ia ditusuk oleh sebilah pisau tajam. Dan lagi-lagi ia harus terjatuh pingsan di tempat.
"Kenapa begitu saja dia pingsan sih?" Gaara menjadi kualahan melihat kondisi mental Hinata yang lemah ini. Tapi, walau begitu ia sudah sedikit lega. Dapat bertemu lagi dengan sang gadis.
Dan setelah ini pertemanan pun akan dimulai.
Yah. Dimulai.
.
-TBC-
.
Anneyoung GaaHina lovers... :D daku kembali lagi dengan fik gaje ini setelah sekian tahun/lebai/lupakan.
Soal pair di sini, of course GaaHina..
Tadinya sih mau bikin fik humor. Gaktahunya bakal seaneh dan sebosan ini T^T
Buat Sukie 'Suu' Foxie maafkan daku yang buat Ino ganjen mampus #digampol.
Buat OraRi HinaRa, gak jadi deh fik ini 3shot XD daku asal aja nyablak kemarin, gaktahunya pas udah ditumpahkan dalam tulisan jadi panjang gituloh #dilemparsendal.
And spesial thanks to: Lawliet cute(aku aja bersedia ama Gaara T^T), ulva-chan(aneh? Masak siii? #plak), Zoroutecchi, uchihyuu nagisa, Akasuna noHinata SYIFA'sasuKe(Hahaha, tungguin fik SH-ku aja ya *promo), NaruHina(makasih muah #dihajarmasa XD), yuuja(huwaaa jangan-jangan kamu bilang aku gila juga ya? *emang), Nanairo Zoacha, mayraa, Diichan-Daachan're here, azalea(makasih rifyunya), Sukie 'Suu' Foxie, edogawafirli, Chikuma new, Ai HinataLawliet(Hahah, kalo aku pastinya suka Gaara yang apaadanya #abaikan)
Ohya, besok lusa adalah pengumuman SNMPTN, doakan lulus ya T^T #jyaahpromodoa XD
Thanks for reading.
Rifyu. Rifyu? XD
Salam choco :P
