LEMBAR KEDUA

Tubuh kurus dan pucat terbaring di atas tanah. Meringkuk damai, bagai lama tak menemukan kebahagiaan. Kageyama hanya memandang dalam diam, merasai berbagai perasaan yang berkecamuk. Sungguh tidak menyangka hewan buruannya adalah seorang manusia.

Iris gelita itu menyorot turun, berhenti pada tulang kering yang terbungkus sedikit lemak tampak mulus, hanya menyisakan hamparan kulit pucat bersinar, tanpa luka barang setitik. Padahal beberapa saat yang lalu, senapan Kageyama memuntahkan isinya tepat di atas sana.

Kageyama masih menumpukan tungkai-tungkainya yang membeku, di tempat sama ketika ia melihat keajaiban itu. Bagaimana sebuah lajur-lajur cahaya meliuk-liuk bagai listrik hidup, berwarna secerah matahari sore, menghapus sebuah luka bagai menghapus guratan noda. Masih teringat cahaya itu berpusat pada sesuatu dalam tas. Bersinar. Serupa inti matahari.

Kageyama tidak berani bertindak lebih jauh, sebab kepalanya telah kosong dari pikiran. Kemudian ia membawa orang itu pulang. Entah dalam alasan apa, Kageyama hanya mengizinkan otak dan otot-ototnya berkehendak semau mereka.

Kini, manusia ajaib itu berada di depannya. Terduduk kaku dengan kaki-kaki lemas, dan wajah yang berekspresi secerah warna rambutnya.

" Aku, Hinata Shouyou. Berkelana mencari Sang Kelima Raja Penjaga Gerbang Suci."

...

Tentang Kelima Raja Penjaga Gerbang Suci itu, Kageyama pernah mendengarnya. Dalam bentuk dongeng pengantar tidur, dilantunkan para orang tua yang berharap anak mereka akan terbangun dengan bekal budi pekerti luhur. Manifestasi perangai kelima raja yang menjadi panutan.

Tentunya Kageyama menyukai dongeng itu. Mendiang ibunya kerap bercerita sambil menina bobokan, berdoa agar ketika bangun nanti ia menjadi bocah yang manis. Dan tentu saja tidak pernah terwujud. Sampai sekarang.

Dan orang ini rela melahap bahaya bulat-bulat hanya demi mencari cerita fiksi? Dia mencari sebuah dongeng?

Dengan wajah penuh keseriusan, berkelakar seolah-olah mencari kebenaran dongeng akan membuahkan hasil. Orang sinting.

Demi apapun, Kageyama bahkan harus membutuhkan beberapa saat untuk memahami kekonyolan itu.

...

"Aku pernah mengengarnya," kataku, masih terus menodong wajah lugu itu dengan moncong senapan.

Orang itu membalas dengan tatapan berbinar.

"Benarkah? Apa kau tahu sesuatu tentang mereka?"

Lihatlah. Bahkan wajahnya penuh keseriusan yang menyebalkan.

"Tentu saja," jawabku. "Di dalam dongeng."

Kulihat perubahan ekspresi di wajahnya, namun itu tidak berlangsung lama. Karena kemudian ia memajukan tubuhnya, sama sekali tidak takut terbentur mulut senapan. Memandangku dengan serius.

"Hei, apa kau yang menembakku di hutan waktu itu? Atau, kau yang telah menolongku?"

Aku tertegun mendengar itu.

"Dua-duanya," jawabku dengan tenang.

Orang itu, Hinata, terkejut dengan jawabanku. Matanya sedikit membulat dan kulihat ia tampak menahan napas.

"Mengapa kau lakukan itu?"

Dengan wajah seperti itu, aku tahu apa yang ia pikirkan. Sepertinya, Hinata tidak menyangka bahwa akulah yang telah menembak kakinya.

"Kau telah meresahkan penduduk desa dengan berkeliaran bagai hantu di hutan. Kau dianggap sebagai hewan pengganggu. Maka dari itu aku memburumu."

Kutunggu jawaban darinya. Mungkin akan marah, tidak terima atau apapun, aku tidak peduli. Namun yang terlontar justru mengejutkanku.

"Aku pikir kau semacam pengusaha atau sejenisnya, kau tahu, melihat itu dari rumahmu." Ia menjawab dengan tenang. "Lalu, kenapa kau juga menyembuhkanku?"

Aku terkejut, itu jelas. Sebab, salah satu alasan yang membuatku membiarkan Hinata di sini adalah kejadian itu. Aku berpikir, akan menginterogasi dengan mengancamnya jika ia bungkam.

Lalu sekarang, keadaan berbalik dengan dia tidak tahu apa-apa mengenai kejadian itu? Kupikir aku akan percaya begitu saja?

Kucondongkan senapan ini semakin dekat dengannya.

"Jangan berpura-pura. Aku tahu semuanya."

Hinata kebingungan memandangku. Alisnya berkerut heran.

"Apa maksudmu? Tahu apa?"

"Yang terjadi di malam itu. Di hutan. Setelah aku menembakmu."

Kulihat Hinata tampak tengah berpikir. Dahinya berkerut-kerut. Lalu kembali menatapku, dengan iris cokelat bersinar.

"Kau menembakku, lalu aku pingsan. Setelah itu, apa lagi?"

Hinata masih menganggapi semua ucapanku dengan penuh kebingungan. Maka aku mendekat. Untuk melihat di balik mata itu.

Jarak kami hanya terpaut selangkah. Hinata mendongakkan kepala, menatapku balik. Dalam mata bulat itu, tidak kutemukan setitik kebohongan di sana.

Wajah itu tetap sama lugunya. Matanya memancarkan kilau kejujuran. Hinata tidak berbohong, aku dapat merasakannya. Namun itu membuatku semakin bingung.

Selanjutnya, aku ingin memastikan sekali lagi.

"Kau tidak tahu?"

Setelah melihat mata itu, untuk sementara aku memutuskan bahwa Hinata memang tidak tahu apa-apa. Aku tidak memberitahunya perihal kejadian malam itu, untuk jaga-jaga.

Namun, aku masih dilanda penasaran. Kembali teringat, cahaya itu tampak bersumber dari benda di dalam tasnya.

Mataku menari-nari pada tas kumalnya. Mencari suatu kebenaran.

"Benda apa yang kau bawa di tasmu?"

"Ini?" Ia meraih tas kumalnya, digendong di belakang. "Hanya sebuah batu. Kau ingin lihat?"

Tidak menunggu jawaban dariku, Hinata mengeluarkan benda itu. Ia tampak bersusah payah sebab benda itu terlihat besar dan berat.

Kemudian, dari dalam tas muncul sebuah bongkahan batu besar, kelam seperti malam. Gelap ruangan membuat benda itu tampak menyaru. Dan jika tidak berkilauan, ia akan sangat tak kasatmata.

Hinata bangkit, berjalan mendekati jendela besar. Di sana sinar siang menerobos masuk, ia berniat membawa batu hitam itu agar ditelan cahaya.

Aku terkejut melihat bayangan hitam di atas lantai. Batu itu, tampak kelam yang transparan. Membentuk siluet yang hidup di lantai. Bergelombang, serupa riak air. Sudah kuduga, itu bukanlah sebuah batu, melainkan kristal.

Tidak, itu berlian, berlian hitam!

Cahaya matahari menembus masuk dan mengubah kelamnya menjadi serupa kola, dengan keseluruhan rupa muka tidak bulat sempurna, melainkan berpola tentragram-tentragram kecil. Aku bersumpah seumur hidupku inilah kali pertama aku melihat benda seindah itu.

Mataku terfokus pada bayangan hitam transparan, terjun bebas di atas lantai semen. Ada serupa bentuk jejak geometris meliuk-liuk hidup beserta semburat kilat aliran. Begitu hidup, aku teringat akan riak air. Mirip cahaya yang kulihat di tubuh Hinata.

Di ujung sana, Hinata bersuara. "Menjelang kematiannya, adikku memberi batu ini. Tidak banyak yang pernah dikatakan semasa hidupnya, namun kala itu ia berkata bahwa bisa melihat laju masa depan dalam batu ini. Untuk alasan mengapa ia menyerahkan padaku, sampai sekarang aku tidak tahu."

Aku masih tidak ambil pusing mengenai penjelasannya itu. Fokusku masih tertanam pada batu indah, terdiam angkuh sejauh mata memandang. Jika memang bisa dipakai untuk melihat masa depan, kupikir itu adalah salah satu dari deretan keindahannya. Tanpa sadar aku telah jatuh cinta pada benda itu.

Hinata melihatku dengan pandangan mata sendu. Kutahu batu itu berat, namun ia tampak tidak peduli. Iris cokelat itu yang berkilau, ditemani setitik air di sudutnya.

Kubiarkan sejenak Hinata bermasa lalu. Kemudian tidak lama dari itu, kembali kutodong dengan pertanyaan.

"Apa kau tidak tahu-menahu mengenai benda itu?" tanyaku.

Hinata menggeleng lemah, ia tersenyum. "Walau hingga kini belum kutemukan maksud dari pemberian adikku, aku yakin, suatu saat ketika bisa kugunakan dengan baik, batu ini akan membawaku ke sebuah kejadian besar. Tentu saja, berkaitan dengan perjalanan ini."

"Tentang masa depan itu, kau pernah melihatnya?" tanyaku lagi.

"Hanya adikku yang pernah melihat, mungkin. Selama batu ini perpindah tangan, belum sekalipun aku melihat kecuali penampakan sebuah batu hitam yang berat."

Perkataannya itu, masuk akal dengan kenyataan Hinata yang tidak tahu menahu mengenai kejadian di hutan waktu lalu. Semua, kuterima sebagai murni ketidaktahuannya.

Namun, aku seperti mencium hal-hal aneh. Dibalik semua itu, semacam ada sesuatu yang meronta ingin keluar, tetapi tidak menemukan jalan.

Di dalam otakku bergelut mencari cara agar menemukan jalan itu. Menguak misterinya. Dan aku yakin, semua jawaban ada hadapan kami. Tepatnya, di dalam batu itu.

...

Rumah kami yang kecil dan reot tidak berdiri di tengah desa, melainkan di sudut hutan terpencil jauh dari permukiman. Sudah lima tahun aku hanya tinggal bersama Natsu, adikku, semenjak ibu dan ayah meninggal.

Aku yang mengurus segala kebutuhan kami. Sebab sejak lahir Natsu hanya bisa berbaring. Tubuhnya mati rasa, padahal bentuknya sempurna. Bahkan, setiap hari ia hanya bisa menelan bubur nasi. Dimakan dengan cara kusuapi.

Tidak banyak yang pernah ia katakan semasa hidup. Bahkan, nyaris tidak pernah mengobrol denganku, padahal setiap saat aku berada di sampingnya, kecuali saat tengah bekerja.

Tubuhnya pucat dan kurus. Namun adikku begitu cantik, mirip ibu. Walau ayah berkali-kali berkata yang mirip ibu bukan Natsu, melainkan aku.

Meskipun setiap saat bungkam, ada satu waktu adikku akan berbicara layaknya manusia normal. Pada malam hari, Natsu akan mendongeng. Setiap malam, tanpa pernah absen.

Natsu berdongeng, bahkan aku sampai lupa sejak kapan itu dimulai.

Dongengnya tanpa judul, berkisah tentang semesta yang tengah dilanda kehancuran. Langit akan pecah, lautan tumpah, bahkan isi perut bumi muntah-muntah.

Diutus dari langit, ujarnya, makhluk serupa manusia yang terlahir dengan kekuatan untuk menyelamatkan bumi. Mencegah bencana sebelum terjadi.

Menceritakan itu adikku tampak sangat bahagia. Matanya bersinar. Natsu yang cantik.

Kelima makhluk itu begitu melegenda. Sebab tidak ada yang tahu kapan, siapa, bagaimana, dan dengan apa mereka muncul.

Makhluk-makhluk itu, kemudian dikenal sebagai Kelima Raja Penjaga Gerbang Suci.

Aku hanya mendengarkan dongengnya, tanpa pernah berpendapat. Juga tidak tahu atas alasan apa Natsu mendongeng. Sebab hanya dengan itu adikku akan tampak layaknya manusia sungguhan. Mengingat sehari-hari ia serupa mayat hidup.

Suatu hari, untuk kali pertama adikku berbicara di luar agenda mendongengnya. Sore itu aku melihat Natsu lebih kurus dari biasanya.

Sambil menatap wajahku, Natsu berkata dengan wajah serius. "Kelima Raja itu nyata, mereka ada di sini. Kakak, carilah mereka agar umat manusia bisa diselamatkan."

Aku menatapnya bingung. Diselamatkan? Diselamatkan dari apa?

Aku tidak bertanya seperti itu karena lebih mengkhawatirkan kondisi Natsu. Ia tampak lebih lemah dari yang biasanya.

Setelah itu, Natsu menyuruhku membuka pintu lemari.

Ketika terbuka, betapa terkejutnya aku melihat sebuah batu bulat besar tergeletak di atas tumpukan baju. Batu itu, kelam melebihi malam, menyaru dalam kegelapan. Natsu memintaku untuk mengambilnya.

"Itu bukan batu biasa. Aku bisa melihat masa depan di sana. Kenyamanan kita tidak lagi lama. Ambillah."

Natsu tidak memberitahuku darimana ia dapatkan batu ini, serta apa gunanya. Karena setelah mengatakan itu adikku langsung tertidur. Dan tidak pernah lagi membuka mata.

Untuk beberapa hari aku tidak memikirkan perkatannya sebab tengah dilanda masa berkabung. Keluarga yang tersisa akhirnya meninggalkanku juga. Berhari-hari kupandangi ranjangnya. Aku merindukan adikku.

Beberapa hari setelahnya aku teringat akan perkataan Natsu. Tidak ayal membuat kepikiran. Kuambil kembali batu kelam itu, yang sempat kudiamkan di dalam lemari.

Natsu tidak gila, aku yakin itu. Maka perkataannya bukan sekadar lanturan. Apa yang Natsu sampaikan pastilah memiliki maksud.

Sampai saat itu aku tidak melakukan apapun, kecuali hanya memandanginya. Namun dengan pasti, tanpa kutahu bagaimana harus menjelaskan, batu kelam ini tampak hidup. Aku merasakan sebuah hawa keberadaan. Kupikir ia tidaklah jahat.

Pesan terakhir Natsu, batu itu, dan kejadian yang menimpa keluargaku di masa lalu telah cukup untuk membuatku bertekad mencari Sang Legenda.

Kelima Raja, yang akan menyelamatkan semesta. Tempat di mana aku kehilangan seluruh orang yang kucinta.

...

Makanan yang berjejer memenuhi meja panjang itu telah terjamah satu-satu. Sebatang garpu sudah cukup untuk Hinata jadikan sebagai alat membasmi kelaparannya.

Kageyama melihat itu dengan tatapan ngeri sekaligus prihatin. Ia tahu Samara adalah kawasan yang hanya ditumbuhi pohon-pohon tua tanpa buah, kelaparan adalah hal lumrah bagi para penjelajah. Sulit disangka manusia mungil itu bisa bertahan di dalamnya selama dua bulan.

Sedangkan Hinata sama sekali tidak ambil pusing dengan tatapan tuan rumah. Ia fokus pada misi pemberantasan kelaparan. Padahal sejak tadi Kageyama sama sekali tidak berniat menyentuh makanan. Masih memandangi Hinata yang terus-terusan menyumbat mulut dengan makanan tanpa peduli sudah penuh.

Kageyama hanya tidak tahu lagi akan makan apa. Sebab seluruh makanan telah dijamah garpunya. Ia kehilangan selera makan.

"Oi, cara makanmu menakutkan."

"Mwwfkwn wkw ywng twdwk swpwn wnw," balas Hinata, mulutnya penuh sumpalan makanan.

Kageyama mengibas-ngibaskan tangannya. "Ah, sudah-sudah, jangan bicara lagi."

Hinata mengangguk, melanjutkan aksi sumpal-menyumpal makanan. Harusnya ia kasian pada mulut mungilnya, tampak sebentar lagi akan robek. Namun Hinata terus-terusan menyumpal sambil mengunyah. Kemampuan yang mengagumkan.

Pemandangan itu tampak menyebalkan sekaligus lucu. Wajah Hinata yang sudah bulat semakin bulat dengan mulut penuh sumpalan makanan. Kageyama mendengus menahan tawa.

"Harusnya kau kunyah dulu makanan itu, bodoh."

Hinata menoleh. Alisnya tertarik ke atas, tanda bertanya. Kemudian mengatakan hal-hal tidak jelas. Semua makanan itu telah memblokir semua akses suaranya.

Namun melihat itu Kageyama justru makin tidak bisa menahan tawa. Ia terkekeh. Dituang air putih dalam gelas, lalu berdiri ia dan meletakkannya di samping piring penuh Hinata. Kemudian beranjak pergi.

Melihat itu, Hinata cepat-cepat mengunyah makanan dalam mulutnya dan menyambar minum.

"Kau mau kemana?"

"Mencari udara segar," jawab Kageyama tanpa menoleh.

Hinata terkejut mendengarnya. "Bukankah ada yang mau kau tanyakan padaku, Kageyama?"

"Soal itu, nanti."

Pintu besar dengan ukiran-ukiran indah itu berdebam. Tuan rumah keluar tanpa sedikitpun menoleh padanya

Hinata merasa kesepian, entah mengapa. Kehadiran Kageyama sesaat yang lalu seperti membawa sesuatu yang telah rama ia rindukan. Mungkin merasa, akhirnya setelah sekian lama menemukan seorang teman.

Walau sesungguhnya Kageyama tidak bisa dikatakan sebagai seorang teman.

"Apa ia ingin aku menghabiskan makanan ini seorang diri?"

Hinata menghela napas. Dilihatnya piring Kageyama yang sama sekali belum terisi makanan. "Padahal dia belum makan sedikitpun."

...

Saat Kageyama datang, kedai milik sahabatnya itu masih sepi. Para pekerja lelaki yang telah menjadi pelangan tetap pulang untuk makan siang di rumah masing-masing. Pada saat-saat sepertilah biasanya Kageyama dan Tanaka akan berbincang berdua.

Tanaka tengah sibuk mengelap botol-botol bir ketika mendapati Kageyama datang. Dilihat dari wajahnya, lelaki dewasa itu tampak lebih muram dari yang biasa.

Begitu Kageyama duduk di kursi dekat meja bar, Tanaka langsung menyambut dengan pertanyaan. "Ada apa?"

Kageyama diam melamun, tidak langsung menjawab.

"Tanaka-san, apa kau pernah mendengar dongeng tentang lima raja yang menjaga sebuah gerbang suci?"

Tanaka tampak berpikir, menopang dagu dengan sebelah tangan.

"Ah, aku ingat!" jawabnya sambil menjentikkan jari. "Ibuku dulu pernah berdongeng semacam itu beberapa kali. Untung aku masih bisa mengingatnya, kenapa? Kau tidak memintaku untuk mendongengkan itu, kan?"

Pertanyaan konyol. Kageyama menggelengkan kepala.

"Orang itu, si hewan hantu, Hinata Shouyou, mengaku tersesat di Samara karena tengah dalam perjalanan mencari dongeng itu. Legenda kelima raja."

Tanaka tampak terkejut.

"Benarkah? Kau sudah menanyainya?"

Kageyama mengangguk. "Itu hal yang jelas tidak akan kupercayai. Namun, aku merasa ada sesuatu yang tidak aneh."

"Aneh?" tanya Tanaka.

"Pernah kukatakan padamu sebelumnya, Tanaka-san. Tentang cahaya yang merambati tubuhnya, berpusat pada benda dalam tas, dengan ajaib menghilangkan lukanya. Masih ingat?"

Tanaka mengangguk. Tentu ia masih mengingatnya.

"Apa hubungannya dengan itu?"

"Aku sempat berpikir ia menguasai ilmu gaib, atau memiliki sesuatu semacamnya. Namun Hinata Shouyou bahkan tidak mengetahui apa-apa. Tidak untuk cahaya-cahaya itu, tidak juga untuk batunya," jelas Kageyama termenung.

"Bagaimana kau yakin ia tidak tahu?"

"Matanya. Hinata tidak berbohong."

"Tunggu, kau bilang batu? Batu apa?"

Kageyama tersentak dilamunanya. "Ada semacam batu hitam yang selalu dibawanya kemana-mana. Namun bukan batu, tampaknya seperti berlian."

Belum sempat Tanaka mengeluarkan pendapatnya, tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara dentingan. Bel yang dipasang untuk memberi tahu ketika pelanggan datang. Tanaka melihat itu dan langsung menyambut.

"Selamat datang!" sambut Tanaka riang.

Kageyama tidak menoleh demi melihat pengunjung yang menganggu perbincangannya dengan Tanaka. Ia tetap pada posisi sebelumnya: duduk menghadap meja panjang bar dengan kedua tangan tertekuk di dada, wajah dingin dan mata beku. Pikiran melayang kemana-mana.

Kursi di sebelah Kageyama di tarik, pengunjung baru itu duduk di atasnya. Kageyama masih belum sudi menoleh.

Tidak lama kemudian Tanaka menghampiri sambil membawa buku menu.

"Pesan apa, Nona?"

Tanpa melirik buku menu, pelanggan itu menunjuk seseorang di sebelahnya.

"Berikan aku bir sama dengan yang orang ini pesan."

Tanaka mengernyit heran. "Kageyama?"

Mendengar namanya disebut, alhasil Kageyama menoleh. Ketika irisnya menumbur pada sosok di sebelah, mata kelam itu membulat. Terkejut mendapati seseorang yang tiba-tiba berada di dekatnya. Bak turun dari langit.

Surai sejingga mentari senja, kulit serona salju, iris cokelat yang pernah menatapnya tajam namun penuh warna., baju yang sama ketika ia lihat di hutan. Ketika tas kumal itu terpancang cahaya, Kageyama bisa melihat siluet benda bulat kelam meringkuk angkuh di dalamnya.

Dan Kageyama melihat semua itu dengan wajah kesal bercampur takjub.

"Aku menemukanmu, Kageyama Tobio."

"Ini dia! Bir favorit Kageyama untuk pelanggan baru kita!"

Hinata bertepuk tangan.

"Horee! Makasih, Tanaka-san!"

Hinata menyambut gelas bir dengan penuh suka cita. Sebelum meneguk ia membauinya sedikit, bir itu berwarna seputih susu. Sedangkan Kageyama melirik jengkel.

"Aku minum bir yang sama dengan Kageyama," gumam Hinata tersenyum. Hati-hati ia melirik ke samping demi memastikan lelaki itu tidak mendengar perkataannya.

"Bagaimana birku, Hinata?" Tanya Tanaka. Rupanya lelaki itu menunggu penilaian Hinata terhadap birnya.

Hinata mengangguk dan tersenyum manis. "

Ini adalah bir paling enak semur hidupku!"

Tawa Tanaka meledak mendengar itu, berkacak pinggang bangga dengan dadanya yang turun naik. Lalu setelah berbincang sedikit dengan Hinata, ia kembali ke dalam untuk mencuci gelas.

Tinggallah Kageyama dan Hinata. Berdua.

Hinata terduduk kaku dengan kedua tangan yang memegangi lutut, sedangkan lelaki di sampingnya masih kalem tidak terganggu. Berbanding terbalik dengan Hinata yang sontak menjadi gugup.

Tiba-tiba Kageyama membalik posisinya, mengejutkan Hinata. Menatap tajam ke arah surai jingga dengan siku bertumpu pada meja.

"Oi, bagaimana kau bisa menemukanku?"

Hinata tersentak mendengar perkataan Kageyama. Dilihatnya wajah lelaki itu begitu suram, seperti ingin mencekiknya jika berani macam-macam. Hinata yang sudah gugup sejak tadi menjadi lebih sulit berbicara.

"Oi," sentak Kageyama lagi.

Hinata menelan ludah, mengumpulkan keberanian. "K-ketika kutanyai penduduk di jalanan, mereka semua mengenalmu. Lalu berkata kau sering mengunjungi kedai ini. Maka aku kemari."

Terlihat Kageyama memicingkan mata. Hinata merasa aneh dengan mata itu. Iris kelam yang seakan memiliki lading untuk menelanjanginya bulat-bulat. Demi itu Hinata menunduk menghindar dari tikaman mata elang.

"Kau tidak menyuruhku untuk tidak mengikutimu," sambung Hinata ragu-ragu.

Mata itu mengendurkan pertahanannya, memberi ruang bagi Hinata untuk bernapas.

"Apa kau tahu? Jika mengetahui kau bukan penduduk desa ini, mereka tidak segan untuk mengangkapmu."

Hinata tersentak. Kali ini kepalanya mendongak.

"Kenapa bisa begitu? Apa salahku?"

"Karena orang asing begitu dicurigai di sini. Bisa jadi kau tidak ditangkap karena telah menyebut namaku," balas Kageyama.

Hinata terdiam. Mengingat-ingat perjalanannya sebelum sampai kemari. Sepanjang perjalanan, para penduduk itu ramah dan murah senyum. Bahkan menawarinya buah-buahan.

Hinata tidak percaya. Mereka tidak tampak seperti orang jahat.

"Aku tidak percaya. Penduduk itu ramah padaku."

"Kau tidak tahu apa-apa tentang desa ini, Hinata Shouyou. Kau orang luar."

Hinata bungkam mendengar itu. Jika memang benar begitu, bagaimanapun desa indah dan penduduk ramah pastilah tidak menyimpan sisi kejahatan. Itu yang ada dipikirannya.

Namun kemudian, dengan tiba-tiba muncul ide sebuah ide di kepalanya. Hal yang bisa mengimbangi ucapan Kageyama barusan

"Kalau begitu kenalkan aku dengan desa ini. Ajak aku berkeliling."

Kageyama memincingkan mata. Terkejut.

"Atas dasar apa kau menyuruhku begitu," tanyanya dengan suara dingin.

"Aku tidak tahu apa-apa tentang desa ini, seperti katamu. Agar aku tidak berbicara asal, kau harus mengenalkannya padaku. Ajak aku berkeliling."

Kageyama mengerlingkan mata tidak peduli.

"Cih. Itu bukan urusanku."

"Bukankah ada hal yang mau kau tanyakan? Temani aku berkeliling dan akan kujawab semua pertanyaanmu."

Sejenak, Kageyama menoleh. Memperhatikan pemilik surai jingga itu.

"Tidak mau."

"Ayolah," balas Hinata merajuk. "Desa ini tidak begitu luas, kau tidak akan kelelahan."

"Kalau begitu pergilah sendiri, bodoh."

"Kalau aku tersesat bagaimana?" tanya Hinata

"Aku tidak peduli," balas Kageyama acuh.

Hinata merogoh saku celana kumalnya demi meraih sesuatu. Kartu AS untuk menghadapi sikap angkuh Kageyama.

"Bagaimana kalau kukatakan, akan kukembalikan foto ini jika kau mau menemaniku berkeliling?"

Kageyama menoleh, mendapati Hinata tengah memegang sesuatu di tangan kanannya. Sebuah kertas foto berukuran kecil. Demi melihat lebih jelas Kageyama memicingkan mata. Dan sontak matanya membulat menemukan sosok bocah berambut hitam, menangis di sebuah taman, terpotret jelas di atas kertas foto yang sudah menua.

Itu adalah potret dirinya dua puluh tahun silam. Foto yang dianggap sebagai salah satu aib dalam hidupnnya.

Dengan kesal, Kageyama berusaha merebut foto itu walau gagal.

"Kembalikan."

Hinata tertawa melihat usahanya berhasil. Ia angkat foto itu tinggi-tinggi sambil menjauh.

"Temani aku berkeliling desa. Lalu akan kukembalikan foto ini."

"Darimana kau dapatkan foto itu?" tanya Kageyama geram.

"Album fotomu. Sudahlah itu tidak penting, temani aku, ya?"

Kageyama menghelan napas frustasi. Ia kembali duduk di kursinya sambil memijit pelipis.

Menyaksikan Kageyama terdiam, Hinata melihat dengan tatapan sedikit takut. Ragu, ia beringsut mendekati Kageyama.

"Temani aku, ya?"

Kageyama membalas wajah lugu itu dengan tatapan geram. Baginya Hinata saat ini adalah gangguan, dan foto di tangannya adalah penghinaan. Kageyama sungguh dibuat kesal hingga wajahnya memerah.

"Diam kau, Hinata boke."

...

Kaki-kaki mereka berjalan melewati deretan rumah penduduk yang warna-warni, halaman luas dihiasi berbagai jenis bunga, dan pagar bambu yang rambati dengan tanaman rambat. Semua bagai menjadi harmoni di sore yang hangat.

"Ne, kenapa semua rumah-rumah diwarnai?" tanya Hinata seriang suasana sore. Kakinya lompat-lompat kecil demi berbaur dengan keindahan desa.

"Itu bukan urusanku," balas Kageyama cuek.

Hinata berlarian ke arah selatan ketika mendengar suara riak air. Ia bertemu anak sungai yang begitu jernih. Alirannya amat tenang. Hinata bisa melihat pantulan wajahnya sejelas kaca.

Beberapa kilometer dari sini adalah hamparan sawah berpetak dan bukit-bukit perkerbunan. Mereka tampak indah bagai sebuah lukisan panorama. Tanpa memperdulikan Kageyama yang sedari tadi telah berkali-kali menghela napas bosan, Hinata kembali sibuk bertanya-tanya dengan riangnya.

"Indah sekali. Apa sawah-sawah itu milih penduduk desa?"

"Mana kutahu."

"Apa Kageyama pernah bermain ke sana?" tanya Hinata lagi.

"Itu bukan taman bermain."

"Apa di sana udaranya sejuk?"

"Setidaknya tidak sepanas di sini," balas Kageyama.

Bukan Hinata tidak menyadari sikap cuek dan acuh lelaki itu, seperti isyarat ingin cepat kembali. Namun, bagaimanapun Hinata suka melihat Kageyama yang terganggu ketenangannya. Sejak tadi ia sibuk bertanya-tanya, sengaja menggoda.

Sambil tersenyum-senyum, Hinata terus berusaha menambah kesal Kageyama.
"Kita ke sana, yuk."

Tentu Kageyama melirik itu dengan tatapan sebal.

"Itu hanya sawah, percayalah."

"Tapi aku belum pernah ke sawah," balas Hinata.

"Kalau begitu pergilah. Kutunggu di sini," ujar Kageyama.

Hinata menekuk wajahnya mendengar itu. Cemberut. "Tidak jadi. Aku di sini saja."

Hinata menemukan sebuah batu besar yang permukaannya pipih, tepat berada di tepi sungai. Demi itu ia meninggalkan Kageyama dan berbaring di sana

Tidak disangka, berbaring dapat menambah ketenangan di tempat ini hingga berlipat-lipat. Hinata menumpukan kepala dengan kedua tangan. Terpejam menikmati melodi riak anak sungai.

Melihat dirinya telah ditinggal secara sepihak, Kageyama mendengus dan berjalan mendekati batu tempat Hinata berbaring.

"Oi," panggilnya kesal

Dengan mata yang masih terpejam damat, Hinata sedikit menoleh.

"Bukankah ada yang mau kau tanyakan, Kageyama?"

Kageyama terdiam. Memang ada satu hal yang ingin ia tanyakan pada Hinata. Awalnya agak ragu, namun rasa penasaran membuatnya berani bertanya.

"Saat itu, tanpa sengaja aku melihat bekas luka di punggungmu," jeda Kageyama sejenak, menunggu tanggapan Hinata.

Hinata membuka pejaman matanya demi mendengar itu.

"Bekas luka itu memang besar, aku tidak terkejut jika kau tanpa sengaja melihatnya," jawabnya. Kemudian terpejam lagi.

"Bekas luka apa itu?" tanya Kageyama.

Hinata membiarkan Kageyama menunggu jawaban. Dalam diam, matanya terbuka mengikuti aliran awan. Menerawang tembus jauh di sana, menyaksikan kilatan-kilatan masa lalu yang membuka duka lama. Tentang sejarah bekas luka di punggungnya.

"Dahulu ketika aku baru lahir, desa kami terjadi bencana hebat," Hinata berujar tanpa mengalihkan pandangannya. "Sebuah kebakaran yang menghanguskan seluruh desa bahkan mematikan tujuh mata air. Tidak lama setelah itu, kami sekeluarga diusir tanpa sebuah alasan yang jelas. Ada sebuah lahan hutan tidak bertuan, di sana lah kemudian kami tinggal. Jauh dari permukiman."

Kageyama diam mendengarkan. Terus memandangi Hinata.

"Ayah dan ibu tidak pernah membahas kejadian itu. Namun, ketika aku berusia sepuluh tahun, tanpa sengaja kudengar ayah berkata sesuatu. Kejadian di desa waktu lalu bukan kesalahan Hinata, api itu lah yang telah mengunjunginya, kata ayah dengan wajah putus asa. Aku tidak pernah meminta penjelasan pada mereka, namun dapat kusimpulkan bekas luka ini menjadi bukti bahwa akulah pelaku pembakaran desa. Walaupun kala itu aku masih bayi."

Hinata melanjutkan. "Bagiku itu adalah malapetaka. Namun aku juga tidak tahu harus berbuat apa."

Cerita itu, walau disampaikan dengan nada yang begitu tenang, bukan berarti Kageyama tidak dapat melihat derita di matanya. Kepedihan yang begitu dalam. Mendadak, dadanya hinggapi rasa sesak yang misterius

Tiba-tiba Kageyama berujar. "Ayahmu benar, itu bukan salahmu.".

Hinata menoleh sedikit terkejut. Menunggu penjelasan.

"Ketika kecil, aku pernah melepas seribu ekor domba gemuk milik peternakan ayah. Setelah itu, selama sebulan penuh desa mengalami kelangkaan daging, sebab peternakan ayah adalah satu-satunya di desa ini. Aku juga sering menimbulkan bencana. Kau tidak sendiran. Sengaja atau tidak, kita sama-sama memiliki dosa."

Hinata menyaksikan angin sore berhembus menerpa wajah Kageyama dengan lembut. Begitu tenang, bagai simfoni merdu di tengah kedamaian. Di balik wajah yang tampak selalu dingin dan angkuh, terdapat suatu keindahan penuh pesona yang membuatnya sulit berpaling. Pesona memabukkan, seperti telah tertanam berlian dengan seribu daya tarik yang memikat hati. Mentari senja juga telah ikut andil dalam pesona itu, teruntai tenang disetiap helai surai kelamnya.

Hinata seperti telah melihat sebuah lanskap pemandangan yang harmoni, sewaktu-waktu dapat muncul dan pergi sesuka hati. Dan ia telah jatuh cinta, pada keharmonian itu.

Ditengah-tengah keterpanaan yang tengah dialaminya, tiba-tiba muncul lagi sebuah ide gila yang membangkitkan semangat. Demi itu Hinata harus bangkit terduduk dan menatap wajah Kageyama yang berkilau tersentuh kilau matahari.

"Kageyama," panggil Hinata.

Kageyama menoleh, menatap wajah Hinata yang putih bersih.

"Apa?"

Kembali Hinata menikmati keindahan wajah angkuh itu, merasakan kedinginan namun memesona. Hinata tersenyum, kukuh memandang Kageyama.

"Ikutlah bersamaku, mencari Sang Kelima Raja Penjaga Gerbang Suci."

TBC