Title: Kiss me, Good Night.
Disclaimer: Jeanne Rowling.
Warning: sebelum Draco dan Harry masuk Hogwarts.
Summary: Draco yang semenjak kecil selalu tidur sendiri, terkadang menganggap tempat tidurnya yang luas dan hangat terlalu dingin. Ia mempelajari Apparation secara sembunyi-sembunyi setelah melihat ayah dan ibunya menggunakannya. Kemudian suatu hari, ia Apparated kesuatu tempat yang hangat, dan nyaman untuknya tidur.
:D ah.. Draco...mau juga dong di kecup sebelum tidur (halah), seramat maram, chuu..
:D:D:D:D:D:D:D:D:*
Chapter 2: Warm Place to Smile.
22 July 1987
Malam itu Draco dapat tidur dengan nyenyak disamping seorang anak laki-laki yang baru ia kenal bernama dengan Arry –JustMerlinKnowWho-. Ia terbangun karena mendengar seperti orang melangkah diatas kepalanya. Ia tak tahu apa, tapi saat ia membuka matanya ia kembali dihadapkan pada helaian rambut dengan aroma yang khas.
Draco menyadari bahwa dirinya sedang memeluk 'Arry yang berada sedikit dibawahnya. Tubuh Arry jauh lebih kecil darinya. Draco terdiam, ia bingung apa yang akan ia lakukan, sedangkan Arry nampaknya masih tidur dengan nyaman dipelukannya. Benar, tempat ini memang hangat. Memeluk anak ini memang hangat. Sayang sekali kedua orangtuanya tidak dapat memeluk anaknya.
Draco kembali terdiam, dan teringat bahwa sekalipun orang tuanya masih hidup ia jarang sekali –bahkan mungkin tidak pernah, sesuai dengan ingatannya- dipeluk oleh kedua orangtuanya. Dirumah, ia harus bersikap dewasa. Selayaknya Malfoy, dan kedua orangtuanya memang memanjakannya. Memanjakannya dengan uang dan apapun yang ia inginkan. Bukan pelukan hangat seperti ini.
Draco merasa Arry bergerak, dan mengangkat wajahnya. Sedetik Draco merasa bahwa teman barunya itu kebingungan, dan kemudian tersenyum padanya, "Mhh… Selamat pagi, Draco." Katanya sembari menggosok-gosok kedua matanya. Sepertinya Arry belum terbiasa dengan kehadirannya atau bahkan mungkin kehadiran orang lain disisinya saat ia terbangun dari tidurnya.
"Arry, aku lapar. Bisa kau-" belum selesai Draco berbicara, tiba-tiba suara seorang wanita berteriak memanggil temannya –mungkin-,
"Hei Kau! Bangun!" dan menggedor-gedor pintunya.
Draco melihat Arry langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membuka sedikit pintunya lalu keluar tanpa berbicara apapun pada dirinya. Draco terdiam, dan ia dapat mendengar beberapa teriakan dari luar. Bukan hanya seorang wanita tapi juga seorang pria, dan mungkin seorang anak laki-laki. Draco tidak mengerti mengapa Arry dimarahi seperti itu.
Hampir 30 menit Draco hanya terdiam, dan kembali tidur-tiduran ditempat tidur Harry yang ia pikir sangat kecil. Ia mulai mengotak –atik isi kamar teman barunya itu. Harus tenang, dan tanpa suara. Draco tahu, rupanya teman barunya itu dibenci oleh anggota rumah yang lainnya. Pantas saja kalau ia harus tidur ditempat seperti ini.
Draco yakin benar, kalau kenyataan Harry tidur ditempat sempit itu bukan karena hobinya. Sinar matahari tidak masuk sama sekali kedalam kamarnya dan ia tak tahu apa yang akan anak itu lakukan jika cahaya penerangan satu-satunya dikamarnya itu mati. Draco yakin, jika anak itu tidak mampu menggunakan Lumos, yah walaupun dirinya juga belum pandai menggunakannya. Pantas saja dirinya harus menggunakan kacamata di usianya yang sangat muda.
Draco pun banyak belajar dan membaca, tetapi ia didukung oleh makanan yang bergizi dan ramuan-ramuan yang menjaga tubuhnya jadi kesehatan matanya pun terjaga. Draco berpikir sejenak, makanan seperti apa yang diberikan keluarganya kepada Arry kiranya.
Tepat sekali, Arry memasuki ruangannya kembali setelah kurang lebih 1 jam dirinya pergi. Draco melihat jam disampingnya, 08:32. Draco menatap Arry yang membawa sesuatu ditangannya dan mengangkat bahunya. "Maaf, membuatmu menunggu." Katanya sedikit canggung, menutup pintunya dan duduk disebelah Draco.
Draco melihatnya membuka bungkusan yang ia kenali dari aromanya adalah sepotong roti. Arry membagi roti itu menjadi dua, ukuran diantaranya tidaklah seimbang. Satu potong yang diatasnya terdapat kismis jauh lebih besar dari yang satinya lagi yang menyerupai pinggiran rotii tanpa isi. Draco tanpa ia sadari menelan ludahnya. Biasanya setelah ia bangun tidur akan ada Elf yang menyuguhinya makanan dan minuman sebelum ia sarapan di meja makan bersama dengan kedua orangtuanya.
Arry memberikan satu potong yang besar pada Draco, "Ini untukmu, maaf kalau hanya ada segini saja-" kemudian ia mengeluarkan minuman disampingnya, "-dan ini teh untukmu." Jelas dari mug yang diberikan kepadanya, teh didalamnya sudah dingin. Ini mungkin pertama kalinya Draco meminum teh dingin. Arry tersipu malu.
Draco kebingungan, ia akan memakannya atau tidak. Orangtuanya mengajarinya untuk tidak memakan makanan dari sembarang tempat atau orang yang tak dikenal. Tapi ia melihat Arry yang mulai menatapnya canggung. Ia berpikir mungkin ia teman pertamanya, dan mungkin inilah cara terbaik yang ia ketahui untuk menyenangkan temannya.
Arry tetap terdiam, dan juga tidak menyentuh rotinya sebelum Draco. Sesaat sebelum Arry meminta maaf, Draco memakan Roti itu. Draco tahu, roti yang ia makan mungkin adalah roti terburuk yang pernah ia makan, walaupun rasanya tidak seburuk bentuknya. Draco harus berakting bahwa roti ini adalah roti terenak yang pernah ia makan. Draco melihat Arry mulai memakan roti bagiannya, dari wajahnya ia tahu. Arry setidaknya bahagia. Draco pun tersenyum diantara roti yang ia gigit.
Harry menyelesaikan sarapan paginya sebelum Draco, dan kemudian menunggu teman barunya untuk meminum teh yang sudah dingin itu terlebih dahulu.
Draco menghabiskan gigitan terakhirnya, dan meminum teh yang sudah dingin itu. Kemudian tanpa berpikir panjang ia bertanya, "Kau tidak sarapan pagi?" tanyanya yang belum menyadari suatu fakta. Draco tahu sesaat setelah mengungkapkan pertanyaannya, bahwa dirinya telah salah menanyakan hal itu dari mata Harry yang tiba-tiba terbelalak sedikit terkejut.
Harry tersenyum canggung, "Itu, sarapan pagiku. Kalau bibi Petunia sedang marah atau moodnya sedang buruk mungkin aku tidak sarapan pagi sama sekali. Tapi kalau aku sedang beruntung maka aku akan mendapatkan sandwich atau makanan yang sama seperti Dudley."
Draco terdiam, itu sarapan paginya? Dan aku yang menghabiskan sebagian besarnya? Draco menatapnya lekat. Kalau saja ia berada dirumahnya, ia akan berteriak memanggil Dobby untuk membawakan makanan untuknya. Banyak makanan untuk mereka berdua. Andaikan ia dapat pulang kerumah.
"Siapa itu, Dudel? Duedely? Errr…apapun namanya?" tanya Draco.
Harry hanya mengangkat bahunya dan memilih untuk menjawabnya dengan simpel, "Sepupuku yang menyebalkan dan gendut seperti babi merah kecil." Katanya sedikit kesal.
Pemikiran yang tiba-tiba muncul memberikan suatu ide padanya. Draco beranjak dari tempatnya dan mencoba berdiri, kemudian 'dukk', "Auuhhh….SAk-" dan Arry menutup mulutnya saat Draco hampir berteriak karena terbentur atap kamar teman barunya itu.
"Harry! Apa yang kau lakukan!" teriak seseorang dari luar kamarnya sembari menggedor-gedor kamarnya. Draco yang mulutnya masih ditutupi oleh tangan Harry menahan napasnya.
Suara laki-laki itu sangat kencang yang tidak baik bagi jantung menurut Draco. Kalau ada seseorang yang meneriakinya seperti itu, Draco lebih memilih untuk menendangnya dan mengutuk dirinya. Draco menatap kearah Harry yang terlihat marah namun juga… sedih?
"Aku menjatuhkan sesuatu!" teriaknya, tanpa membuka pintunya dari dalam.
"Lain kali kalau kau berisik saat aku membaca, KAU TIDAK AKAN KU BERI MAKAN SEHARIAN!" teriaknya. Dari suara langkah kaki yang perlahan-lahan tak terdengar menandakan pamannya itu meninggalkan Harry.
Harry memilih untuk diam, dan Ia dapat merasakan Draco marah dari tatapan matanya yang menajam. "Sudahlah, aku sudah terbiasa." Katanya. "Asal mereka tidak mengunciku dari luar aku bisa keluar untuk mencuri-curi makanan." Dan meringis.
Draco menampakkan wajah khawatirnya, pantas saja ia pikir kalau tubuh anak ini sangat kecil. "Kau, tidak bersekolah?" tanyanya. Mungkin saja ia tidak diperbolehkan untuk bersekolah. Draco pernah mendengar bahwa Muggle harus bersekolah semenjak mereka kecil.
Harry menggelengkan kepalanya, "Kami sedang liburan musim panas." Katanya simple. Dari nada bicaranya, Draco tahu Harry tidak mengganggap sekolah hal yang menyenangkan.
"Bukankah kalau kau bersekolah, kau akan jauh dari keluarga palsumu? Kenapa kamu kelihatan… sebal?" tanyanya penasaran.
Harry tertawa –pelan tentunya- mendengar kata 'keluarga palsu'. Ia bingung, secara garis keluarga, Dursley memang keluarganya dari sisi ibunya. Tapi, dari tindakannya –Harry sedikit menggeram- bahkan pembantu rumah tangga dirumah teman-temannya diperlakukan lebih baik dari dirinya. Setidaknya mereka selalu diberi makan , pikir Harry yang belum mengetahui konsep perbedaan besar antara perbudakan dengan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga.
Harry mengangguk, "Tapi disekolah, maupun dirumah sama saja selama ada Dudley. Ia akan memusuhi anak-anak yang berusaha menjadi temanku." Harry terdiam, jelas dari suaranya ia bersedih. "Semua anak takut padanya, terlebih lagi aku ini aneh dan aku tidak memiliki teman akibatnya."
Draco tidak menyukai fakta ada seseorang yang seolah-olah menjadi raja dan memperoleh perhatian serta kewenangan yang jauh lebih besar dari banyak orang lainnya. Mungkin karena Draco merasa tersaingi, biasanya dirinya yang menjadi pusat perhatian banyak orang dan anak lainnya mengikutinya. "Aku temanmu. Aku tak takut pada si anak babi kecil merah itu." Mungkin, walaupun aku belum melihatnya pikir Draco menggampangkan. "Kau tidak aneh."
Harry tersenyum, jelas sekali ia bahagia dengan perkataan Draco, dan Draco melanjutkannya, "Kau mungkin memang sedikit-" ia terhenti, "Aku tidak tahu, tapi aku menyukaimu. Aku suka menjadi temanmu."
Dihadapan Arry yang jauh berbeda dengan Draco, Draco dapat merasakan sesuatu. Mungkin suatu nanti mereka akan bertengkar, bermain dan bersaing dalam suatu hal. Tapi Draco tahu, suatu saat nanti Arry akan menjadi seseorang yang dapat dikatakan seimbang dengan dirinya. Namun pada saat yang sama memiliki warna yang berbeda. Dan mereka akan hidup bersama, sampai mereka memiliki anak dan cucu. Draco tersenyum atas pemikiran polosnya tersebut.
Arry malu-malu dihadapannya, "Aku juga menyukaimu." Dan terdiam. Ini pertama kalinya Harry memiliki teman seperti Draco. Bukan karena Draco terlihat kaya, bukan pula karena Draco sama seperti dirinya. Tapi karena Draco mau menerimanya dan juga menyukainya.
Draco senang mendengar perkataan Harry, karena setidaknya perasaannya terbalaskan sama besarnya dan ia mendapatkan teman yang menarik. Draco melirik kearah pakaian Harry yang masih sama dengan sebelum ia pergi, mungkin karena Draco ada dikamarnya Arry jadi tidak dapat mengganti pakaiannya. Kemudian melihat pakaiaannya. Ia risih belum mengganti pakaian tidurnya.
"Aku harus pulang." Kata Draco tegas.
Dan mengalihkan perhatian Harry dari termenungnya mengenang perkataan Draco, "Iya?"
"Sebelum ayah mencariku, sebelum ada yang tahu aku menghilang dari rumah, dan sebelum-" perut Draco berbunyi, sebagai tanda bahwa dirinya masih lapar.
Mereka berdua tertawa, dan disusul suara perut Harry. Dan mereka tertawa sekali lagi. Tentu dengan suara yang tidak begitu kencang. "Aku akan kembali malam ini, dan membawakanmu makan malam yang sangat banyak." Bisiknya pada Arry.
Arry dilihatnya menampakkan wajah kecewanya. "Kau sudah akan pulang? Secepat ini? Akan kembali tidak?" tanyanya berturut-turut.
Draco hanya mengangguk saja, ia masih bingung bagaimana caranya ia dapat kembali kerumahnya. Ia mengingat-ingat apa yang ada didalam buku yang ia baca sebelumnya. Ia harus yakin bahwa dirinya akan pergi, dan dengan tujuan yang sudah pasti. Ini jelas, Malfoy Manor. Tidak boleh tergesa-gesa dan harus penuh kehati-hatian, tenang.
Harry menatapnya dengan tenang karena melihat Draco yang seperti orang yang sedang berpikir dengan keras. Ia menganggap Draco sedang berkonsentrasi terhadap mantranya dan Ia juga dapat merasakan ada sesuatu yang mulai muncul dari diri Draco.
Harry tidak begitu paham, tidak juga menyenangi fakta yang muncul.
Sekejap kemudian terdapat suara retakan keras yang membuat Harry kembali diomeli oleh Paman Vernon. Harry melihat langsung bahwa sahabatnya telah pergi. Ia menyesalinya, seharusnya ia meminta beberapa helai rambut pirang Draco agar ia tidak berpikir bahwa Draco hanyalah bayangannya saja.
Mungkin Draco benar hanya bayangannya saja, karena mana mungkin ada seseorang yang mau menyukai dan menjadi temannya. Harry tidak mau berharap lebih. Dan Harry kembali merasa kosong dan sedih.
Harry merindukan sosok temannya yang baru meninggalkannya itu.
…
Draco muncul dikamarnya, 'plop' tepat diatas tempat tidurnya. Draco langsung memeriksa seluruh tubuhnya dan sedikit panik kalau-kalau ada anggota tubuhnya yang menghilang. Contohnya saja hidungnya atau sesuatu yang lain dari wajahnya yang akan membuatnya buruk rupa. Draco lega karena ia dapat pulang kembali dengan selamat. Sekaligus mengerti bagaimana caranya untuk ber-Apparated sekarang.
Saat ia kembali, Elf sudah menunggunya. Draco pucat pasi. Sudah pasti si Elf dan kedua orang tuanya mengetahui kepergiannnya dari Malfoy Manor semalam.
Draco menatap Elf didepannya yang sepertinya menunggu perintah Draco, "Siapkan pakaianku." Katanya dengan dengan tegas.
Draco menatap pakaian yang telah disiapkan Elf itu padanya. Kemeja berwarna putih bersih dan celana kain yang sepanjang lututnya berwarna hitam. Ia mengingat-ingat motif piyama Arry yang bermotif gambar-gambar aneh yang lucu. Seperti gambar laki-laki berjubah merah dan memakai celana dalamnya diluar. Laki-laki kekar yang memiliki huruf 'S' didadanya.
Walaupun Draco tidak mengerti itu gambar apa, tapi sepertinya anak-anak seumurannya akan menyukainya dan Draco benci faktanya ketinggalan mode. Mau bagaimanapun budaya didunia sihir jauh lebih lambat berkembang dari pada didunia muggle pada umumnya.
Draco menggunakan pakaiannya, dan merapikan sisi-sisi celananya. Ia membayangkan Arry menggunakan pakaiannya saat ini. Pasti ia akan terlihat sangat rapi dan..kalau Arry juga menggunakan topi untuk menutupi rambutnya pikirnya. Draco mengambil topinya yang berwarna hitam sedikit kecoklatan dan bersiap menuju ruangan makan tempat ayah dan ibunya.
Ketika ia muncul didepan meja makan, ibunya menyapanya "Morning, Dear." Kemudian tersenyum. Draco tidak begitu sadar bahwa senyum Narcissa jauh lebih lebar dari hari-hari biasanya.
Draco menggangguk pada ibunya, ia terlihat canggung. Ayahnya diam dan menatapnya dengan sangat jeli saat Draco mengambil kursi untuk duduknya. Ayahnya membuka mulutnya, "Kau dari mana semalam?"
Tepat disasaran.
Ayahnya tidak begitu menyukai basa basi. Draco bingung ia harus menjawab apa. Ia duduk dikursi dengan tegak dan tidak mampu menatap ayahnya yang berara disamping kanannya.
"Draco!" panggil ayahnya yang nampaknya kesal karena Draco tetap terdiam. Narcissa mencoba menenangkannya.
Draco tersentak, dan menatap ayahnya kali ini, "Aku pergi kerumah…err… teman?" katanya ragu. Kenyataannya bahwa sekarang Arry dapat dikatakan ia adalah temannya.
Wajah ayahnya mengeras, "Didunia Muggle, Draco? Kau berteman dengan Muggle? Atau setidaknya Muggleborn?" dari suara Ayahnya Draco tahu, dirinya dalam masalah yang sangat besar.
Draco ketakutan. Bukan karena ia akan dihukum oleh ayahnya, tapi ia takut ayahnya akan berbuat sesuatu dan ia tak akan dapat ber-apparated ketempat Arry lagi. Pemikirannya membuatnya tidak nyaman, dan ia kesulitan dalam bernapas. Ia ingin menemui Arry dan memenuhi janjinya untuk membawakannya makanan.
Draco tahu, tidak banyak penyihir yang hidup menetap didunia muggle. Sekalipun demikian ia tetap yakin Arry bukanlah Muggleborn, karena luapan sihirnya yang sangat besar.
"Maaf, Ayah. Aku…tanpa sengaja kedunia Muggle. Tapi disana aku bertemu dengan seorang anak yang diasuh oleh Muggle."
Ayahnya mencibir, "Kau berteman dengan seorang Mudblood, Draco?" Draco tahu dari suasana yang berat disekelilingnya, Ayahnya marah besar.
Draco panik dan bingung ia harus menjawab dengan apa, "Ia memang dirawat oleh Muggle, tapi kurasa kedua orang tuanya penyihir karena ia memiliki luapan sihir yang sangat besar, Yah." Katanya berharap Ayahnya mau mengerti.
Seorang mantan Slytherin, bertemu dengan calon Slytherin. Lucius tahu anaknya tidak mungkin berani berbohong kepadanya. "Berteman dengan anak yang tidak jelas asal-usulnya, Draco?"
Draco terdiam, Ia melihat ibunya berbisik menenangkan Ayahnya. "Maaf, ayah. Tapi kurasa akan sangat menguntungkan pureblood, untuk memiliki sekutu kuat sepertinya, Ayah." Sebenarnya Draco tidak mengerti dengan ucapannya. Ia hanya menjilpak perkataan Ayahnya mengenai pihak Pureblood dan menghilangkan Muggleborn dari dunia sihir.
Ayahnya tersenyum, Slytherin tetaplah Slytherin, baik ia telah keluar dari Hogwarts maupun akan memasuki Hogwarts. Walaupun Lucius lebih menginginkan anaknya masuk Drumstrang dari pada Hogwarts. Thanks to her, pikirnya melirik kearah Narcissa.
"Kalau aku tahu ia muggleborn atau Half-blood, Draco…-" ayahnya terdiam, dan sepertinya sedang memutuskan apa yang akan ia lakukan. Draco panik, ia takut ayahnya akan melarangnya pergi menemui temannya itu. "Aku akan meng-obliviate ingatanmu. Kau akan melupakannya selamanya."
Ia merasa ada rasa sakit didalam hatinya, belum ada satu hari ia berteman dengan Arry tapi rasanya kalau sampai ia melupakannya. Draco memucat, dan ia hanya mengangguk. Garis keturunan tidak mungkin dapat diubah, baik Pure-blood, Half-blood maupun Muggleborn.
"Dan aku pasti akan mengetahui siapa dirinya, Draco!"
…
Hari itu Draco menghabiskan waktunya didalam perpustakaan. Ia dihukum ayahnya untuk seharian disana dan tidak boleh keluar bermain. Namun hukuman seperti apapun yang akan diterima oleh dirinya, Draco tidak mungkin akan dibuat kelaparan oleh kedua orangtuanya. Terutama ibunya yang sangat memanjakannya.
Draco ingin menemui Arry, ia mengira-ngira apa yang ia lakukan sepanjang hari tanpa temannya. Sebenarnya ia bisa saja ber-apparated keluar Malfoy Manor, tapi pasti ayahnya akan mengetahuinya dan itu beresiko.
Mau bagaimana pun juga, Draco senang sekali karena diakhir-akhir sarapan pagi tadi ibunya –setelah ayahnya pergi- memeluknya, dan berkata kalau dirinya bangga terhadap anaknya karena mampu ber-apparated dengan baik. Aku memang berbakat, dan mungkin aku akan mengajak Arry untuk pergi ketempat lain untuk bermain. Pikirnya.
Draco mencari-cari buku 'How to Apparated' yang pernah ia baca sebelumnya. Dan kembali membacanya dengan perlahan-lahan, toh dirinya memiliki waktu yang saaaanggaaaattt longgar hari ini. Pelajarannya pun ditunda oleh ayahnya dan teman-temannya tidak dapat bermain dengannya.
Draco sempat berpikir untuk mengenalkan Arry kepada teman-temannya dan mengajaknya kekamar Arry, tapi mengingat betapa sempitnya kamar Arry sepertinya akan jadi lebih bagus kalau Draco yang mengajak Arry kerumahnya. Walaupun Draco belum tahu ayah atau ibunya akan mengizinkannya atau tidak.
Draco terdiam sebentar, kalau dirinya mempertemukan teman-temannya dan tanpa diragukan lagi Pansy –anak perempuan keluarga Parkinson- pasti akan tertarik melihat wajahnya yang manis dibalik kacamatanya.
Draco mengkerutkan alisnya, dan ia tidak menyukai khayalannya sendiri bila Arry berteman jauh lebih akrab dengan orang lain dari pada dirinya khususnya Pansy. Oh, Please Draco, kamu hanya bertemu dengannya satu hari tapi seakan-akan sudah puluhan tahun. Pikir Draco yang kemudian menggelengkan kepalanya mengingat usianya belum genap 7 tahun.
Angin berhembus masuk kedalam perpustakaannya dan membalikkan lembaran buku yang sedang Draco baca diatas mejanya. Draco menatap kearah keluar jendela ruangan perpustakaan yang lebar. Perpustakaan yang berisi ribuan buku dan beberapa pasang meja dan kursi. Diatasnya ada sebuah pencahayaan dari kaca yang sangat besar, dan menyala otomatis ketika seseorang masuk.
Diluar jendela Draco melihat halaman, tanaman, pohon-pohon dan burung-burung serta langit biru yang sangat luas. Berbeda sekali dengan kamar Arry yang sempit dan gelap. Draco ingin melihat tempatnya tinggal, seperti apa rumah tempatnya tinggal itu. Draco kembali menatap bukunya, dan tersenyum.
…
Malam harinya setelah makan malam, Ayahnya sedang ada urusan diluar dan tidak bersama-sama dengan ibunya untuk mengantarnya tidur. Draco naik keatas tempat tidurnya dan ibunya menyelimutinya.
Narcissa tersenyum melihat anaknya, "Malam ini kau pasti akan menemui temanmu lagi ya?" tanyanya tiba-tiba.
Draco terkejut mendengarnya, karena ia memang berencana untuk pergi kekamar Arry. Ia bahkan sudah menyuruh Dobby untuk memasakkan makanan dan minuman yang akan ia bawa kekamar Arry. Draco menelan ludahnya, "Iya Mum, Tidak boleh ya?"
Draco selalu memanggilnya, Mum ketika mereka hanya berdua saja. Ayahnya tidak begitu menyukai panggilan 'Mum' karena Draco akan terlihat manja. Ibunya menyentuh rambut Draco yang berwarna pirang perlahan-lahan, dari dahinya hingga kebelakang. Berulang-ulang kali.
"Tidak, ayahmu tidak melarangmu kan? Yang ia larang hanya kau bermain dengan Mudblood atau bahkan Half-blood." Wajah Narcissa tetap lembut dihadapan anaknya.
Draco sedikit terkejut mendengar Ibunya mengatakan hal yang sama dengan ayahnya. Sebenarnya Draco tidak menyukainya, karena mau dilihat dari manapun Arry sepertinya bukan pure-blood. Terutama kalau melihat caranya berpakaian dan bertindak.
Draco hanya mengangguk saja dan ibunya berhenti membelai anak satu-satunya dikeluarga Malfoy tersebut. Ibunya menggerakkan tongkatnya, dan meredupkan cahaya diruangan itu sehingga nyaman untuk tidur. Ia membungkuk dan memberikan Draco kecupan selamat malamnya.
Kemudian Narcissa membisikinya, "Sampaikan salam Mum, padanya dan lain kali ceritakan tentang dirinya." Dan tersenyum lembut. Ia mengusap-usap kepala Draco sebelum meninggalkan ruangan anaknya itu.
Saat pintunya tertutup dan langkah kaki Narcissa sudah tidak terdengar, Draco bangkit dari tempat tidurnya dan memanggil Dobby. Elf itu muncul seketika. Draco menyuruhnya membawakan makanan yang telah dipesan dalam keadaan terbungkus rapi serta piyama untuk Arry tidur serta beberapa permen coklat sihir berbentuk katak dan buah-buahan.
Satu bungkusan besar telah hadir dihadapannya, dan menurut buku yang ia baca diperpustakaan tadi pagi hingga sore ia dapat membawa sesuatu saat ber-apparated. Draco menyuruh Dobby pergi dan memegang erat bungkusan itu.
Draco bersiap-siap untuk ber-apparated, ia berkonsentrasi dan menutup matanya. Sesaat kemudian muncul bunyi 'Kraakkk' dari dalam ruangannya.
Taktaktaktaktaktaktaktak
"Harry, kau mau kemana?" tanya seseorang yang Harry sadari adalah suara dari Bibi Petunia. "Bersihkan dulu dapur, baru kau boleh kekamarmu!" perintahnya.
Hari ini tidak terjadi apapun dikeluarga Dursley, Paman Vernon pergi kekantor seperti biasa, Bibi Petunia sibuk memasak dan membanggakan anaknya diantara tetangganya serta Dudley hanya makan, makan, menonton televisi dan makan.
Tubuhnya kelelahan, dan masih harus mencuci piring. Harry diperintah Bibi Petunia siang ini untuk membersihkan halaman belakangnya. Kalau Harry memang sungguhan penyihir, ia akan menyihir rumput dibelakangnya tumbuh meninggi kedalam tanah, sehingga ia tidak perlu memangkasnya lagi.
Sejenak Harry berpikir, jikalau rumput tumbuh kebawah pasti akan menyusahkan tuan Tikus Tanah dan Cacing yang sering ia temui saat memotong rumput. Harry menggelengkan kepalanya.
Dihadapannya masih banyak cucian piring. Saat ia melirik kearah ruang tamu, Paman Vernon dan dibantu Bibi Petunia sedang sibuk-sibuknya mengangkat Dudley yang tertidur saat menonton kartun. Harry tahu benar tingkah Dudley jika ayah ibunya lebih memilih untuk membangunkannya.
Harry menggosok dan mencuci piring, kemudian gelas, hingga sendok. Setelah itu, ia mengelap meja makan, dan membersihkan tempat masak. Semuanya telah bersih, dan Harry siap untuk tidur.
Sebelumnya ia sudah mandi, jadi ia hanya perlu menggosok gigi dan mengganti pakaiannya dengan piyamanya. Harry setelah menggosok giginya, masuk kekamarnya dan menggunakan piyama berwarna hijaunya, piyama yang sama dengan warna matanya. Piyama ini, menurut Harry adalah piyama terbaik yang ia miliki, mengingat kemarin Draco tidak menyukai piyamanya yang sedikit lusuh.
Piyama Harry kebanyakan adalah bekas dari Dudley yang sudah tidak muat, atau Dudley tidak menyukainya dan Piyama hijau ini adalah salah satu yang baru saja dibelikan bibi Marge tapi ditolak karena menurutnya warna hijau terlalu norak. Mau bagaimanapun juga Harry menyukai piyama ini dan berharap Draco pun demikian.
Draco.
Seharian penuh Harry mengingat-ingat mengenai Draco, dan mengharapkan kedatangannya, seharian penuh pula Harry terkadang berpikiran negatif bahwa Draco mungkin tidak akan pernah mendatanginya kembali. Dudley sering mengatakan dirinya aneh, bodoh dan buruk rupa. Jelas bagi Draco yang menurutnya rapi, tampan –mungkin manis lebih tepat- , terkesan kaya dan baik hati dapat meninggalkannya begitu saja.
Seperti yang Dudley sering katakan, orang tuanya meninggalkanya karena ia jelek, bodoh, aneh dan buruk rupa. Harry menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin ayah dan ibu membenciku! Atau memang itu yang diharapkannya. Harry mengaitkan kancing terakhir di piyamanya dan merebahkan tubuhnya kekasur.
09:03, angka yang ia temukan ketika ia melihat jamnya. Harry mencoba mengingat-ingat, pukul berapa malam kemarin Draco mendatanginya. Mungkin saja bahwa Draco memang tidak akan datang lagi. Harry menutup matanya.
Draco.
Harry ingat betul malam itu Draco sempat memeluknya dan memberikan kecupan didahinya. Harry menyentuh dahinya. Rasanya sedikit aneh dan hangat. Harry menyukai sensasinya. Ia mengira-ngira apakah ibu dan ayahnya juga selalu mengecupnya saat ia akan tidur?
Harry tidak memiliki ingatan apapun mengenai orang tuanya, dan bibi Petunia sebagai adik ibunya juga tidak menceritakan apapun. Bahkan memperlihatkan foto kedua orangtuanya saja bibinya tidak mau. Kapan kiranya ia terakhir melihat foto kedua orang tuanya. Ia pernah melihatnya tapi sudah sangat lama. Karena bibi Petunia membenci kedua orangtuanya-menurutnya- .
Tak apa menurut Harry, karena Harry pun tidak menyukai keluarga Dursley. Hal yang akan dirinya lakukan ketika ia sudah cukup dewasa atau setidaknya bisa memenuhi kebutuhannya sendiri adalah keluar dari rumah itu. Harry berpikir mengenai, bagaimanakah kehidupan Draco. Draco terlihat sangat sehat, dan tubuhnya segar, tidak ada yang kurang dari dirinya.
Draco.
'Pop' dan Draco muncul tepat dihadapan Harry. Kelihatannya ia terhuyung-huyung dan seperti mau muntah. Harry mendekatinya, hatinya sedikit berdebar-debar karena Draco tiba-tiba muncul dihadapannya tepat saat ia memanggilnya dipikirannya. "Kau tidak apa-apa Draco?" tanyanya dengan lirih sambil menyentuh lengan kiri Draco.
Draco yang memegang kepalanya, menatap Arry, "Ah, Hai, Arry-" katanya tersenyum, "Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing saja." Mungkin ini yang dikatakan buku pikir Draco.
Harry sebenarnya merasa aneh, karena mau didengar berapakali pun Draco memang memanggilnya 'Arry', tapi Harry tidak mau mengambil pusing. Baginya ia seperti diberi nama panggilan khusus dan ia menyukainya.
Harry membantu Draco untuk duduk diatas tempat tidurnya. Draco yang nampaknya sudah membaik tersenyum, "Kau menungguku Arry?"
Harry tersipu malu, karena seharian penuh dirinya memang menanti kedatangan Draco, dan mengangguk. Draco menatapnya dan menyadari bahwa hari ini Arry menggunakan piyama yang jauh lebih bagus dari hari yang sebelumnya.
"Piyamamu bagus Arry, warnanya sama seperti warna matamu." Draco berpikir apakah Arry sengaja membeli atau setidaknya menggunakan piyama terbaiknya. Draco merasa nyaman dengan pemikirannya itu, "Padahal aku membawakan piyamaku untukmu, aku rasa ukuran piyama kita tidak berbeda jauh-" Draco membuka bungkusan yang ia bawa dan mengeluarkan piyama berwarna hijau juga namun jauh lebih terang dari milik Harry. Draco membuka bungkusan lainnya, "-dan ini untukmu." Katanya tersenyum lebar.
Beberapa Kue, Snack, appel berwarna hijau dan sesuatu yang terdapat dikotak, dari bungkusnya ia beranggapan kalau kotak itu berisi coklat, "Ini untukku?" tanyanya dengan semangat, dan Draco mengangguk berkali-kali, "Terimakasih!" katanya senang.
Awalnya Harry ingin memakan snacknya terlebih dahulu, tapi Draco melarangnya, "Buka permen coklat sihir ini dahulu, Arry. Kau pasti akan terkejut." Katanya seperti ingin melihat apa yang akan terjadi pada Harry.
Harry yang awalnya ragu-ragu mulai membuka kotak itu dan 'plop' sesuatu meloncat kearah Harry dan Draco tertawa puas. Harry berusaha menutup mulut Draco dan berharap keluarga Dursley yang tinggal dilantai atas tidak mendengar suara Draco.
Sesuatu yang menempel diwajah Harry,berbau manis seperti coklat dan benda itu bergerak-gerak seperti bernapas. Harry perlahan-lahan ingin menangkap coklat yang menempel diwajahnya itu dengan tangan kanannya, dimana tangan kirinya masih sibuk memegangi mulut Draco.
'Plak'…dan disusul suara 'Auuu…' erangan Harry sendiri dan Draco terkekeh-kekeh didengan mulut yang masih didekap Harry. Coklat katak itu melompat kebawah. Harry melihatnya dengan terkagum-kagum, kemudian coklat itu pergi.
"Apa itu Draco?" tanyanya dan menarik kembali tangannya.
Draco masih berusaha menahan tawa karena melihat wajah terkejut Harry yang sedikit aneh menurutnya, "Coklat sihir untukmu." Ia tersenyum. Harry membuka mulutnya dan terkagum-kagum.
Kemudian Harry khawatir, "Ia kemana? Nanti kalau ada yang menemukannya bagaimana?"
Draco mengangkat pundaknya, "Masa kadaluarsanya sangat singkat setelah keluar dari kotak maupun tersentuh benda lain selain manusia, jadi ia akan lenyap dengan sendirinya. Makanlah yang lainnya." Harry melihatnya dengan kekaguman
Malam itu Harry memakan makanan yang Draco bawakan, dan menyisakannya untuk sarapan besok pagi. Sedangkan Draco hanya memakan sebuah apel berwarna hijau saja.
Setelah itu, mereka kembali ke toilet perlahan-lahan dan menyikat gigi mereka, walaupun Draco lebih suka menggunakan Cleansing Spell dari pada menyikat langsung atau menggunakan ramuan yang cukup dengan dikumur-kumur saja.
Mereka kembali kekamar Harry, dan harapan Draco untuk melihat rumah tempat Harry tinggal terpenuhi. Bila dibandingkan dengan Malfoy Manor, jelas rumahnya sangaaaaattt…sangat sempit dan Draco tidak mau berpikir mengenai kamar Harry.
Draco menatap Harry dengan serius, dan memancing rasa penasaran bagi Harry, "Ada apa, Draco?" tanyanya.
"Lain kali gunakan piyama yang aku bawakan ya? Aku ingin melihatnya. Tapi malam ini, piyama ini juga bagus dipakai olehmu." Katanya dengan tenang, dan Harry tersipu malu. Piyama yang dibawa Draco memang lebih bagus, dan tentu saja piyama berwarna biru tua yang Draco kenakan.
Harry menggangguk, dan ini saatnya mereka untuk tidur. Jam sudah menunjukkan 09:47, Harry maupun Draco sudah berkali-kali menguap. Harry meletakkan kacamatanya, mematikan lampunya dan bersiap menyusul Draco yang sudah ada ditempat tidurnya.
"Aku bingung Draco," kata Harry yang mulai naik keatas kasurnya.
"Hmm.. ada apa?"
"Kenapa kau menginap dikamarku lagi? Bukankah pastinya kamarmu lebih nyaman dari kamarku yang sempit?"
Draco yang awalnya diposisi tidur, kemudian duduk. "Kau tidak mengijinkan aku tidur disini Arry?" Harry kebingungan, bukan itu yang ia maksud tapi karena.. Draco menyela pemikirannya, "Karena disini hangat." Draco terdiam, kemudian menambahkan "Itu saja."
Harry sedikit terkejut dengan kata-katanya itu, dan pada yang sama entah kenapa sedikit kecewa. Ia menggelengkan kepalanya dan berbaring disamping Draco. Draco yang tetap duduk berkata, "Kau lupa Arry?" dan Harry kembali duduk.
Bukannya ia lupa, tapi Harry sedikit canggung. Draco menundukkan sedikit kepalanya, dan diraba kepala Draco oleh tangan Harry untuk mencari posisi yang tepat. Dan kemudian dengan perlahan…
Mencium dahinya.
Draco melakukan hal yang sama pula pada Harry. Perlahan-lahan, Draco tidak melupakan alasannya mencium dahi Harry yaitu agar Harry mengingat orangtuanya.
Mereka merebahkan diri, dan membelakangi mereka masing-masing. Tempat itu memang sempit dan mereka tidak dapat telentang. Draco terdiam, dan mulai merasakan hangatnya tempat itu.
Didengarnya dari arah Harry, dengkuran yang sangat halus. Harry telah tidur rupanya. Kemudian Draco menggeser tubuhnya kebelakang hingga punggungnya menempel pada punggung Harry. Begini lebih hangat, pikirnya, dan tersenyum ketika Harry juga menggeser bagian punggungnya untuk lebih dekat dengan Draco.
"Good Night, Arry."
~bersambung
A/N: kyakyakya… :D unyuuunya mereka yah? Sayah yang nulis mereka juga ngerasa greget.. uuuuuu…. Sama mereka. Banyak yang nanya 'Apa Draco nantinya lupa Harry?' … gimana ya? Antara iya, tapi juga nggak.. piye ngono.
Thanks buat Chachuulieee… hoho.. emang iyak, kamar yang dibawah tangga..jadi bayangin aja sempitnya kaya apa.
Thanks juga sama para Guest yang udah nge-review: Shin joo, Paradisaea rubra, Guest, Ayashaaa, Justread, asdjkereeeen.
Thanks for reading.. :D review atau saran dan kritik please…
Baca jugaLove is You, yaaa…. Dadah…dadah…dadah…
