Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning : Belajar nulis tahap dua

Sebelumnya :

Saat Sakura menyatakan cintanya pada Sasuke dan membutuhkan jawaban atas pernyataannya, Naruto mendadak muncul dan mengacaukan semuanya. Sakura sangat marah, sehingga Kakashi harus menjadi korban bombastiknya. Tenten yang menyukai Kakashi membantu mengobati lukanya, yang membuat dia beruntung karena bisa melihat wajah asli Kakashi.

LISTEN MY ANSWER

Chapter 2

Akhirnya dengan slow motion, Kakashi membuka masker yang menutupi wajahnya itu. Tenten langsung terpaku, terpana dan hatinya berdebar kencang setelah melihat wajah asli Kakashi yang tidak pernah dia lihat selama ini.

"Oh my god…", desis Tenten hampir pingsan. Ternyata wajah Kakashi sangat tampan, bibirnya manis dan ada lesung pipit di kedua pipinya. Selama ini Tenten hanya bisa melihat bekas luka dan Sharingan di mata sebelah kiri Kakashi, tapi sekarang dia bisa melihat semuanya. Lama sekali Tenten terhipnotis menatap gurunya itu.

"Tenten?", panggil Kakashi membuyarkannya.

"I_iya Guru…", jawab Tenten tersenyum malu. Lalu perlahan dia mengusap darah di bibir Kakashi dengan tangannya yang gemetar karena grogi, baru kemudian mengolesinya dengan obat antiseptic, itupun sambil senyum-senyum memandang wajah Kakashi.

"Kau itu kenapa Tenten?, dari tadi senyum-senyum begitu memandangku?", tanya Kakashi.

"Hah?, oh ti_tidak Guru, aku hanya…hanya tidak menyangka kalau ternyata Guru Kakashi sangat tampan ya?", aku Tenten jadi tersipu.

"Baru tahu ya?, karena itu aku menutup wajahku dengan masker. Kalau tidak semua gadis pasti akan mengejarku, bisa repot nanti", ujar Kakashi pede.

"Guru benar, aku…aku juga sangat menyukai Guru Kakashi", ucap Tenten malu-malu dan wajahnya bersemu merah. Akhirnya Tenten mengutarakan juga isi hatinya itu.

"Aku sudah tahu, kelihatan jelas dari wajahmu", kata Kakashi santai seraya bangkit dan membersihkan pakaiannya yang kotor. Setelah itu menutup kembali wajahnya dengan masker.

"Terima kasih Tenten, karena kau sudah mengobatiku. Kalau kau menyukai seseorang jangan lihat dari penampilannya, tapi dari hatinya dan…berjuanglah!", kata Kakashi yang kemudian menghilang menjadi asap.

"Eh, Guru Kakashi!". Tenten jadi bingung, apa maksud dari kata-kata gurunya itu.

"Apa itu berarti…Guru Kakashi memberiku harapan?", pikir Tenten. Lalu dia pun tersenyum senang.

Sementara itu di sungai, Naruto dan Sasuke sedang berlatih. Mereka bertarung dengan sungguh-sungguh, tapi hanya menggunakan serangan fisik saja.

"Tadi saat bersama Sakura, apa yang kalian bicarakan?", tanya Naruto penasaran sambil terus bertarung.

"Itu bukan urusanmu!", ketus Sasuke.

"Yeah memang, aku kan cuma ingin tahu apa dia menyatakan cintanya lagi padamu", sungut Naruto.

"Jangan lengah Dobe!". Tendangan Sasuke sedikit mengenai Naruto, tapi dengan cepat dia berhasil menguasai kembali keseimbangannya.

""Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku Teme!", tukas Naruto kesal.

"Sudah ku bilang itu bukan urusanmu!", damprat Sasuke jengkel. Kali ini ritme pertarungan mereka jadi semakin cepat dan penuh emosi.

"Kalau begitu apa kau mencintainya Teme?, ayolah…katakan padaku apa kau mencintai Sakura?, tanya Naruto memaksa. Sasuke jadi marah dan langsung melempar beberapa kunai pada Naruto, cowok itu sangat kaget dan menghindar.

"Hey!, kenapa kau menyerangku dengan kunai?!, bukankah kita hanya latihan serangan fisik saja?!", semprot Naruto. Sasuke menatap Naruto dengan tajam dan marah.

"Kalau aku mencintai Sakura, pasti sudah ku bunuh kau!", tandas Sasuke.

"Oh…syukurlah kalau begitu, aku jadi lega, karena tidak mungkin kan jika aku harus bersaing denganmu ", ujar Naruto senang.

"Dasar bodoh!", dengus Sasuke.

"Baiklah, ayo kita lanjut lagi latihannya. Kalau bertarung aku tidak akan kalah darimu!, HYAAAA…!", seru Naruto sambil menyerang Sasuke. Akhirnya dua sahabat yang tidak pernah akur itu melanjutkan kembali latihan mereka hingga matahari terbenam.

Keesokan paginya seusai pelajaran di Akademi, Sakura berlari keluar dan mencari-cari Sasuke.

"Sasuke kemana ya?, tadi kan baru saja keluar, cepat sekali perginya", kata Sakura dengan kecewa. Sakura akhirnya berjalan pulang sambil melamun, memikirkan kejadian kemarin saat Sasuke hendak memberinya jawaban tapi Naruto sudah mengacaukan semuanya.

"Waktu itu kira-kira Sasuke mau jawab apa ya?", piker Sakura penasaran. Karena hal itulah sekarang Sakura mencari Sasuke, dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin dikatakan Sasuke kemarin.

"Hey…Sakura!", panggil seseorang dari belakang, terdengar agak marah. Sakura berbalik dan orang itu langsung menghampirinya.

"Tenten?". Sakura jadi heran melihatnya.

"Kenapa kemarin kau pukul Guru Kakashi?, berani sekali kau!, benar-benar keterlaluan!", tukas Tenten. Sakura terkejut kenapa temannya itu bisa tahu.

"Memangnya kenapa kalau aku memukul Guru Kakashi?, kenapa kau yang marah?", heran Sakura.

"Tentu saja aku marah, aku tidak terima orang yang aku sukai seenaknya saja kau pukul!", tukasnya.

"Hah?, ja_jadi kau…", kontan Sakura terkejut.

"Iya, aku menyukai Guru Kakashi!. Jadi sekali lagi kau bersikap tidak sopan padanya, aku tidak akan tinggal diam!. Setidaknya kau harus menghargai dia sebagai guru pembimbingmu Sakura!", tandas Tenten.

Iya iya aku minta maaf, kemarin aku sedang kesal jadi gitu dech", kata Sakura. Lalu dia menghampiri Tenten dengan penasaran.

"Eh Tenten, kenapa kau bisa menyukai Guru Kakashi?", goda Sakura ingin tahu.

"Rahasia dong", jawab Tenten sambil senyum-senyum teringat wajah Guru Kakashi.

"Wah, sepertinya ada yang kau sembunyikan?", selidik Sakura.

"Tidak, hanya saja kemarin akhirnya aku mengetahui semuanya tentang Guru Kakashi dan aku jadi semakin menyukainya", ujar Tenten tersipu-sipu.

"Mengetahui soal apa?". Sakura jadi semakin penasaran dibuatnya.

"Kenapa kau ingin tahu?, bukankah kau sedang mengejar Sasuke?", tanya Tenten curiga.

"Yaa iya sich, tapi kenapa kau pelit sekali, kita kan teman?", sungut Sakura. Tenten menatap temannya yang berambut pink itu, lalu senyum-senyum.

"Baik…akan ku beritahu, tapi janji yak au jangan mengatakan hal ini pada siapapun!", kata Tenten serius.

"Siiip!", ujar Sakura sambil menunjukkan jempol dan mengedipkan sebelah matanya.

"Begini…pssst…pssst…pssst…", bisik Tenten di telinga Sakura.

"Hah?, kau serius?". Sakura terkejut dan tidak percaya.

"Iya, saat aku mengobati luka di wajahnya kemarin. Mungkin aku wanita pertama yang sudah melihat wajahnya itu, aku benar-benar sangat beruntung", angguk Tenten dengan bangga.

"Wow, kau memang hebat Tenten", puji Sakura.

"Ya sudah, aku pergi dulu ya?. Aku mau mencari Guru Kakashi, soalnya kemarin Guru bilang kalau aku menyukai seseorang aku harus berjuang. Makanya sekarang aku akan berjuang, kau juga ya Sakura!", pamit Tenten yang kemudian melompat dan melesat pergi.

"I_iya, semoga kau berhasil", ujar Sakura nyengir. Setelah itu dia jadi memikirkan Guru Kakashi.

"Guru Kakashi sangat tampan?, masa sich?", gumam Sakura sambil berlalu pergi. Sakura tidak tahu kalau di atas pohon tidak jauh darinya, seorang cowok sudah memperhatikannya sejak tadi.

"Kau mencintainya kan?". Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan cowok itu.

To be continue…..

Ermaci :

Huwaaa…kayaknya makin gaje dan dipaksain, ruwet pairingnya kayak yang nulis lagi ruwet nch -.-". Protes boleh aja, tapi jangan lupa review dan ikutin terus ceritanya yaa?. Thanks untuk para senior dan semua yang sudah review dan ngasih saran fanfictku yang sebelumnya, tapi jujur aku masih belum begitu paham dengan cara publish chapter xixixi…