Ketika aku terpuruk sendiri dalam duniaku
Kau hadir
Memberikan sejuta warna baru untukku.
Hey
Aku memang tidak mengenalmu,
Tapi maukah kau di sini selamanya, bersamaku?
Bersama mewarnai monokrom hitam dan putihku?
.
.
.
.
.
taintedIris proudly presents
An Another Secret
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Me
Gaje Overload, typos bermekaran ( ? ), AU, OOC tingkat akut, rated T for save
Warning: Alur mundur, minim dialog. Bagi yang merasa akan bosan membaca fic ini silahkan tekan tombol back.
don't like don't read. simple as that
.
.
.
Hitam dan putih, itulah yang selalu aku lihat.
Salju terus jatuh menghiasi duniaku. Salju yang berwarna putih, kontras sekali dengan kerumunan orang-orang yang berwarna hitam putih itu. Aku terus berjalan menyusuri kerumunan hitam putih itu, membuarkan tubuhku bertabrakan dengan mereka. Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku celanaku. Dan dapat kurasakan uap nafas menguap dari lubang hidungku.
Dingin, beku.
Seperti itulah yang menggambarkan perasaanku.
Sejak kaa-san menikah dengan lelaki lain sekitar tiga tahun yang lalu dan meninggalkanku untuk selamanya sekitar satu tahun yang lalu, hidupku berubah drastis. Tidak ada ibuku yang dulu, yang selalu mengutamakan dan menemaniku di saat-saat sulit. Kini aku hidup bersama seorang 'ayah' yang bahkan sangat asing dalam hidupku.
Kalian boleh bilang aku cengeng atau bagaimana, aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanyalah ibuku, satu-satunya orang yang memperjuangkanku disaat sosok ayah yang tak pernah kulihat mati-matian membuangku jauh-jauh.
Ya, aku adalah anak haram, itulah yang kerabat-kerabatku katakan padaku.
Namun aku benar-benar tidak peduli. Asalkan aku memiliki kaa-san dalam hidupku, maka semuanya baik-baik saja. Tapi sekarang beliau sudah tidak ada. Beliau kini telah berada di atas sana.
Warna yang satu-satunya ada dalam hidupku telah hilang, membiarkan aku terjebak sendirian dalam monokrom hitam dan putih ini.
Pandangan mataku pun teralihkan ketika aku melihat sesuatu berwarna merah muda, terjongkok di depanku. Sosok itu tengah memunguti kertas-kertas yang berserakan di tanah yang bersalju. Dan entah ada dorongan apa, tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri. Aku memunguti kertas-kertas yang berserakan itu. Dapat kulihat tangan yang tidak terbungkus sarung tangan itu bergetar. Sepertinya kedinginan, eh?
Aku pun menyerahkan kertas yang berada ditanganku kepadanya. Dan seketika itulah pandangan kami bertemu. Bola matanya, berwarna hijau seperti batu emerald. Untuk sesaat aku tertegun melihat bola mata itu.
"−sekali lagi, arigatou. Entah apa yang akan terjadi pada kertas-kertas ini seandainya saja anda tidak membantu saya." gadis berambut merah itu membungkukkan tubuhnya berkali-kali. Aku pun hanya membalasnya dengan anggukan dan berlalu, meninggalkan gadis aneh itu.
Tapi tunggu …
Kenapa ia tidak berwarna hitam dan putih seperti yang lainnya?
.
.
Hari ini adalah hari pertamaku di Konoha High. Setelah mengikuti ujian saringan dengan nilai pas-pasan ( apa peduliku? Setidaknya aku bisa tetap melanjutkan sekolah tanpa perlu keluar kota, ) aku pun bisa menginjakkan kakiku di sekolah ini. Persetan dengan prefek yang mengomentari penampilanku−yang ia katakan sangat urakan. Memang dia siapa? Ayahku?
Bahkan ayah tiriku saja tak pernah peduli denganku. Ia lebih peduli pada putranya yang lain.
Aku berjalan menuju auditorium sekolah. Well, tidak perlu susah-susah mencarinya. Ikuti saja rombongan anak baru yang memakai pita berwarna merah di sisi kiri dadanya. Berbicara tentang pita bodoh itu, aku bahkan lupa untuk mengenakannya. Ah apa peduliku? Aku ke sini untuk ke sekolah 'kok, bukan untuk mengenakan aksesoris-aksesoris bodoh semacam itu.
Aku pun akhirnya dapat memasuki auditorium sekolah ini−setelah diceramahi oleh para senior yang melihatku tidak mengenakan pita yang mereka sediakan. Aku bahkan meninggalkan mereka ketika mereka masih asyik berceramah ria. Aku yakin mereka pasti kesal sekali!
Aku mendudukkan diriku di bangku yang berada paling dekat dengan pintu keluar, agar aku tidak perlu berdesakan dengan anak-anak lainnya. Aku menutup mulutku yang tengah menguap lebar, lalu aku memposisikan diriku dalam posisi tidur yang nyaman. Dan beberapa saat kemudian aku pun terbawa oleh mimpiku sendiri.
Mimpi yang lain dengan warna yang sama.
Aku terbangun ketika aku mendengar suara gaduh seperti tepukan tangan yang amat keras. Dengan kesal aku membuka mataku, lalu meregangkan badan dan tanganku serta menguap lebar.
"Uuunggh."
Aku mendapati sosok-sosok hitam putih itu memperhatikan kegiatanku dengan tatapan mencela. Cih, dan aku sama sekali tidak peduli. Pandanganku teralih pada podium besar yang berada jauh di depan.
Mataku terbelalak lebar melihat sosok yang berdiri di sana. Memang kurang kelihatan, namun aku masih mengingat sosok berwarna itu. Rambut merah muda, namun bola matanya tidak terlalu terlihat.
Entah kenapa, pandangan mataku tidak terlepas dari sosok berwarna itu. Sosok itu turun dari podium. Ah, ia menghentikan gerakannya sekilas. Bukannya aku terlalu percaya diri, namun aku dapat merasakan pandangan matanya itu tertuju padaku. Dan beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangannya dan duduk di tempatnya yang memang jauh dari tempat dudukku.
Pertanyaan yang sama pun kembali melintas dibenakku saat aku melihat sosoknya.
Kenapa hanya sosoknya yang tidak berwarna hitam putih?
.
.
Aku melirik ke arah papan pengumuman, sekedar untuk melihat kelasku dimana. Ah, dapat kulihat beberapa anak yang kukenal di SMP. Tapi aku tidak peduli, toh aku tidak mau berteman dengan mereka. Setelah menemukan namaku di salah satu yang tertempel di sana, aku berjalan menerobos kerumunan hitam putih yang berjalan berlawanan arah denganku. Dan akhirnya aku sampai di kelas yang kutuju, X-3. Dengan malas aku membuka pintu kelas itu dan langsung menempati sebuah meja yang berada di ujung kelasku, dengan posisi yang bersebelahan dengan jendela. Spot favoritku.
Dengan asal aku menggantungkan tas selempangku pada pegangan kursi, lalu bersiap mengambil posisi tidur. Rasanya hari ini aku merasa amatlah sangat mengantuk.
.
.
"Jangan lari kau bajingan!"
Segerombolan lelaki dengan berbagai macam senjata ditangannya terus mengejarku dengan hawa membunuh yang amat sangat terasa. Cih, mana ada orang yang akan berhenti berlari kalau mereka tahu mereka tengah berhadapan dengan musuh yang memegang senjata? Hanya orang tolol yang melakukan hal seperti itu!
Dengan stamina yang masih bugar, aku terus berlari menyusuri gang-gang sempit di penjuru kota. Berlari, menghindar, melompat. Apapun itu asalkan aku dapat meloloskan diri dari orang-orang gila itu. Namun aku suka melakukan hal ini. Aku suka sekali berlari. Panggil aku pengecut, dan aku tidak peduli Berlari membuatku merasa seakan-akan perasaanku ini dibiarkan lepas.
Seakan-akan beban dalam pundakku terangkat begitu saja.
Lajuku terhenti ketika di depanku terdapat tembok besar yang menghalangi jalanku. Sial, sepertinya mereka sengaja menjebakku. Tapi jangan sebut aku Akasuna Sasori jika aku tidak dapat melawan mereka. Aku langsung menyambar pipa air yang terdapat di sana beserta tutup tong sampah. Dan tak lama kemudian orang-orang yang mengejarku pun datang dengan seringai yang nampak jelas diwajahnya. Aku pun membalas seringai mereka.
"Sepertinya tikus pengganggu kita ini terjebak, eh?" ujar seorang pria berbadan besar dengan tongkat baseball yang teracung ditangannya. Seringaiku semakin terkembang.
"Yeah, kelihatannya begitu," ucapku dengan nada meremehkan.
Dan tanpa dapat kuelak lagi aku langsung dikerumuni oleh pria-pria tak sayang nyawa yang bersiap untuk membunuhku. Aku menyeringai semakin lebar.
Jangan panggil aku Akasuna Sasori jika aku tidak dapat menghabisi mereka semua.
Akasuna, the red sand. Merah karena darah yang berceceran dan memandikan sosoknya.
.
.
Aku tiba di rumah dengan luka yang menggoresi sekujur tubuhku dan pakaian yang kini robek di beberapa bagian. Rasa ngilu sedikit kurasakan di daerah pipiku yang kini terlihat sedikit biru.
Cih, aku tidak mengira kalau lelaki tolol itu membawa pasukan sebanyak itu.
Jangan salahkan aku yang bersikap sok berani karena melawan segerombolan preman-preman bodoh itu sendirian. Mereka sendiri yang tidak sayang nyawa karena berani melawanku.
Seringai pun kembali muncul dari bibirku.
Bagaimana ya kabar mereka di rumah sakit? Atau di neraka?
Polisi langsung menyerbu kami dan menghentikan 'perang' kecil yang terjadi di antara kami. Dan aku pun dapat lolos dengan mudah setelah memanjat tembok yang menghalangi gerak lariku tadi. Dan bersyukur sekali polisi-polisi itu tidak melihat wajahku, bahkan tidak menyadari ketidakberadaanku karena sibuk mengurusi pria-pria yang kini telah terluka parah berkat ulahku. Dan aku yakin setelah itu mobil-mobil polisi dan ambulans langsung mendatangi lokasi kejadian dan membawa preman-preman bodoh itu pergi.
Mereka memang pantas menerimanya. Salahkan diri mereka sendiri yang mengganggu ketenanganku.
Aku melirik jam dinding yang berada di dalam kamarku. Pukul 2 pagi. Heh, masih ada 6 jam lagi hingga bel sekolah berbunyi. Apa aku membolos saja? Rasanya ke sekolah pun aku malas. Dan luka-luka yang berada disekujur tubuhku ini rasanya memaksaku untuk mengistirahatkan diriku seharian.
Kalian tidak tahu seberapa lelahnya tubuhku menghadapi semuanya ini. Sangat lelah.
.
.
Aku pun kembali bersekolah setelah seminggu membolos. Setelah menghadapi ceramah dari guru kedisplinan−entah siapa namanya−panjang lebar dan mendapat detensi sepulang sekolah, akhirnya aku diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Dan beruntungnya bagiku pelajaran belum dimulai, sehingga aku tidak perlu repot-repot menutup telingaku untuk mendengar ceramah guru-guru lain. Cukup satu saja untuk pagi hari ini.
Dengan santai aku memasuki ruang kelas itu. Aku dapat merasakan perhatian seisi kelas tertuju padaku, lalu mereka mulai berbisik. Hah! Busybodies! Hanya bisa berbicara tentang kejelekan orang lain, sok sibuk dengan urusan orang lain. Memang kalian ga punya kehidupan sendiri? Dasar manusia-manusia aneh.
Dan aku dengan cueknya mengabaikan perhatian spesial mereka semua, lalu duduk ke tempat dudukku seperti biasanya. Sepertinya tidak ada yang menempati tempat ini selama aku tidak ada, huh?
Baguslah. Karena kalau ada dari mereka yang menempati kursi ini, akan kupastikan mereka akan melayang ke rumah sakit!
Pandanganku pun teralihkan ketika aku melihat sosok berwarna merah muda itu diantara monokromku. Tunggu, jadi selama ini ia sekelas denganku? Ini benar-benar aneh.
Dan beberapa saat kemudian bel pun berbunyi, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Orang-orang dikelasku kini berseliweran ke sana kemari. Dengan panik mereka menempati tempat duduknya masing-masing. Aku dengan santainya meletakkan kedua tanganku ke atas meja, dengan kepalaku yang menyusul kemudian. Akibat berkelahi semalam, aku jadi kurang tidur.
Dan rasa kantuk sedikit demi sedikit menguasai tubuhku, membiarkan aku terlelap dalam bunga tidur.
.
.
Hari ini hujan turun. Dan hal itu membuat rasa kantukku semakin besar karena hawa hujan yang amat sejuk sedari tadi menerpa tubuhku. Duduk di dekat jendela dengan keadaan jendela yang terbuka kelihatannya berefek kurang bagus untukku. Toh, apa peduliku? Tanpa mengikuti pelajaran pun aku bisa tetap naik kelas. Walaupun aku terlihat bodoh dan berandalan, terkadang aku masih menyempatkan diriku untuk belajar di rumah. Mereka saja yang mengecapku sebagai anak tidak benar tanpa tahu hal yang sebenarnya.
Dengan malas kulipat kedua tanganku ke atas meja, lalu mempersiapkan posisi tidur seperti biasa. Perutku yang sedari tadi berkeroncong ria masih protes meminta untuk diisi makanan. Tapi masa bodo lah. Aku sedang tidak bawa uang! Lagipula dengan tidur, aku dapat melupakan rasa lapar yang melanda perutku.
Dan tak berapa lama dapat kurasakan kantuk kini menyerang kedua kelopak mataku. Dan tak perlu kulawan, aku membiarkan mataku terpejam, menikmati alunan Hatake-sensei yang sibuk berceloteh dan dinginnya angin yang menerpa tubuhku.
.
.
Aku kembali terbangun untuk kesekian kalinya setelah mendengar bel tanda pulang. Ah, akhirnya. Aku langsung mengacak-acak rambutku dan menguap lebar. Langsung kusambar tas selempang yang sedaritadi tergantung tak berdaya pada pegangan kursiku. Kulirik jendela di sampingku. Hujan masih turun dengan derasnya. 'Sepertinya akan banjir,' pikirku. Untung saja hari ini aku tidak mengenakan sepatu baruku. Mungkin aku akan mengenakannya musim gugur nanti. Kalau kugunakan saat musim panas nanti malah cepat kotor.
Ah peduli amat. Memang ada yang memperhatikan sepatuku kotor apa tidak? Mereka melirik sedikit padaku saja sudah langsung kuberi hadiah berupa deathglare andalanku.
Aku tersenyum senang ketika membayangkan muka ketakutan mereka.
Aku pun berjalan menuju loker sepatuku. Sesampainya di sana aku langsung mengambil sepatuku yang berada disana, menggantinya dengan yang sebelumnya kukenakan dan menyimpannya ke dalam loker di depanku. Sejenak aku melihat warna merah muda yang melintas di dekat lokerku. Ah, sepertinya si gadis aneh itu tengah berjalan bersama teman-teman hitam putihnya juga.
Aku pun kemudian mengalihkan perhatianku darinya. Dan langsung aku berlari kecil, menerjang air hujan yang kelihatannya telah siap untuk membasahiku. Aku mengangkat tas selempangku, melindungi kepalaku agar cepat kering. Dapat kurasakan perih disekitar kulitku yang masih terdapat luka-luka baru di sana. Namun kuabaikan rasa sakit itu. Aku menambah kecepatan lariku. Yeah, tidak enak bukan basah-basahan dengan luka yang masih menganga?
.
.
Oh, dan esoknya aku mengalami kejadian yang amat sangat aneh.
Pagi ini aku datang ke sekolah seperti biasanya. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa aku harus bersekolah, namun aku masih tidak berkelahi tentu saja. Sejak aku mengetahui bahwa si gadis berambut merah jambu itu sekelas denganku, semangatku kembali timbul begitu saja. Aneh memang, mengingat kami bahkan tidak pernah mengobrol. Oh, mungkin pernah. Namun saat itu ialah yang tidak berhenti mengoceh sedangkan aku hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan.
Oke, kembali ke cerita.
Saat itu jam istirahat dan kelas sudah sepi, mengingat anak-anak lain sudah berhamburan menuju kantin. Aku sendiri sedang berada di kelas. Tidak, bukan karena aku bokek sehingga aku tidak bisa makan siang, ini karena aku memang sudah sarapan tadi pagi. Aku memang jarang makan, dan aku muak harus makan makanan yang harus dibeli.
Aku merindukan masakan ibuku.
Ayah tiriku memang jarang berada di rumah, dan saudara tiriku memang banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi ia pun membeli makanan diluar, karena memang dia tidak bisa memasak. Sedangkan aku? Jangan kalian tanya. Aku memang jarang pulang, aku juga jarang makan. Makan pun kalau memang aku benar-benar lapar. Tapi entah kenapa, aku tidak kurus-kurus juga.
Nah, di sinilah anehnya.
Saat aku sedang mengambil posisi tidur, aku teringat akan headsetku yang tertinggal di bawah laci mejaku beberapa hari yang lalu. Aku pun bangun dari posisiku dan mengintip laci mejaku. Alih-alih headset yang kutemukan di sana, ada sebuah kotak bento yang diletakkan di laci mejaku. Setahuku kemarin kotak ini tidak ada di sana.
Dengan agak ragu kuambil bento itu. Di atasnya ada secarik pesan. Aku mengambil kertas itu dan membacanya.
'Hai. Hmm, begini, aku melihatmu jarang makan saat istirahat. Jadi, apa kau berkenan untuk memakannya? Aku tidak menaruh racun kok di dalamnya. Oh ya, karena aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu, aku hanya memasak seadanya. Dimakan ya.'
Tidak ada nama, ataupun inisial.
Hangat.
Hal itu yang pertama kali aku rasakan. Rasa hangat memenuhi hatiku yang kurasa sudah lama membeku. Aku menelan ludahku sejenak. Apa aku pantas memakannya? Bahkan aku saja tidak mengenal orang ini, tapi kenapa orang ini peduli padaku?
Aku meletakkan kembali kotak makan itu ke dalam laci, lalu langsung mengambil posisi tidur. Namun sekeras apapun aku berusaha, bayangan bento itu terus menghantui pikiranku, membuatku jadi tidak bisa tidur.
Aaarrgghh!
Dengan kesal langsung kusambar kotak bento yang sebelumnya berada di laci mejaku dan membuka tutup kotaknya dengan kesal.
Yang pertama kali kulihat di sana adalah nasi dengan potongan yakiniku, lalu telur dadar gulung dan tumis brokoli dengan udang. Dengan agak ragu kuambil sumpit yang ada di dalam bento, menyumpitkan potongan yakiniku dalam mulutku.
Enak …
Betapa aku merindukan rasa masakan rumah …
Dan aku pun tanpa ragu lagi langsung memakan makanan yang ada di depanku hingga habis. Benar-benar enak, sungguh. Dan setelah makan aku langsung bergegas ke kantin untuk membeli minuman. Aku pun menenggak air dari botol plastik itu hingga tandas. Dan benar saja, perutku sekarang jadi sakit karena langsung berlari sehabis makan.
Sesuatu yang hangat kembali menjalari dadaku. Entah kenapa, rasanya hatiku bergejolak. Sudah lama sekali aku merasakan hal seperti ini.
Aku kembali berjalan ke kelas. Sesampainya di sana, aku langsung menuju ke mejaku dan merapikan bento yang isinya sudah tidak ada lagi. Dan pandanganku pun teralihkan pada secarik kertas yang sedari tadi setia menunggu untuk disentuh. Aku menaikkan sebelah alisku. Oh, pesan singkat itu.
Aku memandangi pesan itu. mengamatinya dalam jangka waktu yang lama. Tanpa sadar, tanganku merogoh kantung tasku, mengambil benda berwarna hitam dengan tutupnya. Aku membuka tutup itu dan menyentuhkan ujung benda itu di atas kertas, membentuk guratan-guratan tulisan dengan tinta.
'Aku suka makanan apapun. Tapi aku sedang ingin makan kare.'
.
.
Nah, itu adalah keanehan yang pertama, kau mau tahu apa yang kedua?
Jadi, saat jam pelajaran akhir hujan mulai turun. Dan sialnya aku memang tidak membawa payung. Bukannya aku tidak punya payung, aku selalu lupa membawa payungku. Dan kalau beli? Untuk apa aku beli kalau payung saja aku banyak di rumah!
Sesekali aku menundukkan kepalaku, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang amat mengganggu mataku ini dan memandangi kertas ulangan matematikaku yang hanya terisi sedikit semenjak tadi. Tapi apa mau dikata, pada akhirnya aku dikalahkan juga oleh rasa kantukku. Aku pun akhirnya tertidur di atas meja dengan kertas ulangan yang sedikit basah ketika bel tanda pulang berbunyi. Dengan cuek aku pun mengumpulkan kertas itu, dengan mata si guru killer yang melihat jejak air di atas kertas ulangan yang kukumpulkan.
Aku pun langsung mengambil satu-satunya alat tulis yang ada di mejaku dan memasukkannya ke dalam kantung tasku. Kemudian aku menyelempangkan tas itu di bahuku dan berjalan keluar kelas, berdesak-desakan dengan anak-anak lain tentu saja.
Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana setelah berhasil keluar dengan selamat dari pintu kelas. Aku pun lanjut berjalan menuju loker sepatuku seperti biasa.
Sesampainya di sana aku langsung melepas sepatu sekolah dengan cepat dan menggantinya dengan sepatuku yang berada di dalam loker. Namun saat aku akan meletakkan sepatu sekolah ke dalamnya, mataku menangkap sesuatu yang berada di dalam lokerku. Bukan sepatu sekolah, sesuatu yang lain.
Aku mengambil benda itu dengan agak ragu. Mataku langsung membulat lebar melihat sebuah payung lipat berwarna biru gelap yang berada ditanganku. Dan secarik kertas pun berada di sana. Aku mengambil kertas itu. Guratan tulisan yang sama seperti yang terdapat pada bento itu tadi siang.
'Dipakai ya payungnya. Semoga berguna ^^'
Aku menatap payung itu dengan perasaan yang campur aduk. Antara senang, sedih dan haru. Lalu aku menatap daerah luar sekolah yang memang saat itu sedang hujan deras. Aku pun menutup loker sepatuku, lalu melipat kertas pada tanganku dan memasukkannya dalam saku kemejaku. Aku berjalan dari sana, lalu membuka payung lipat itu dan membiarkan payung itu melindungi kepala dan tubuhku dari derasnya hujaman air hujan yang jatuh dari langit.
Dan tanpa sadar, seulas senyum tipis terkembang dari bibirku.
.
.
Dan pada hari berikutnya aku kembali menemukan kotak bento yang sama di bawah laci mejaku. Yang berbeda, terdapat dua botol minum juga disana, berisi air mineral dan jus apel. Saat aku membuka bento itu, aku menemukan nasi putih dengan tempura, dan kotak bento lain yang berisi kare ayam dengan kentang dan wortel. Dan kembali aku mendapati secarik pesan singkat di sana.
'Aku tidak tahu kau suka kare apa. Dan aku juga tidak tahu kau suka pedas atau tidak. Tapi semoga kau suka makanannya. Oh ya, jusnya diminum ya! ^^'
Mungkin sejak saat itu duniaku mulai berwarna. Ya, tidak monokrom seperti dulu lagi.
Terkadang sosok itu membuatkan bento dengan berbagai jenis sayur, dan kadang ia juga memberikan sebungkus cookies dan camilan lainnya. Ia pun sering membuatkan jus untukku, kadang susu.
Seperti menemukan sosok ibu.
Dan dapat kusadari aku pun mulai sering tersenyum dan rajin ke sekolah. Walaupun aku memang masih berkelahi dan sering tidur di kelas, tapi aku dapat menyadari perubahan dalam diriku.
Tapi tidak pernah sekalipun aku bertanya tentang sosok itu melalui pesan singkat itu. Kurasa, membiarkan ia menjadi seorang sosok misterius tidak masalah untukku. Walau memang rasa penasaran itu ada, tapi aku tidak akan bertanya. Tidak sampai ia yang memperlihatkan dirinya padaku.
Untukku, seperti sekarang saja sudah cukup.
.
.
Saat itu aku sedang tidur, dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengguncang-guncangkan bahuku.
'Mungkin guru,' pikirku.
Dan guncangan itu pun terhenti, digantikan dengan guncangan yang lebih keras. Oke cukup! Walaupun guru sekalipun, aku tidak peduli! Tak ada orang yang boleh mengganggu waktu tidurku! Dengan kasar langsung kutepis tangan yang mengguncang bahuku sedari tadi. Aku pun langsung mengangkat wajahku dan membuka mataku dengan malas.
Yang pertama kali kulihat adalah sesosok manusia dengan rambut berwarna merah muda, lalu iris berwarna hijau sebatu emerald, dan yang terakhir adalah ekspresi terkejutnya dan tatapan kasihan yang diberikan oleh penghuni kelasku.
Mereka kira aku monster?
"Ermm, Sasori-san, apa aku bisa duduk di sebelahmu? I−itu … Yuuhi-sensei …"
"Hn."
Ia pun menatapku dengan wajah kaget. Ia bahkan tidak mengedipkan matanya? Apa gadis ini sudah gila ya? Apa dia saking kagetnya mendengar jawabanku?
"Kau mau duduk tidak?"
Dengan cepat langsung kupotong lamunan gadis aneh itu. Dan sekarang gadis itu mulai menyibukkan dirinya memutar kursi yang ada di depanku dan dengan seenak jidatnya yang lebar itu ( Ahem. Aku tidak memperhatikannya, sungguh. Itu karena saat kau melihatnya kau pasti akan menyadari ukuran jidatnya yang memang tidak biasa! ) meletakkan alat tulis dan bukunya di atas meja.
Dan gadis itu kini tengah menyibukkan dirinya sendiri mencatat tugas yang dituliskan oleh …. Siapa namanya? Yuuki-sensei atau Yuuhi-sensei? Ah, terserah. Yang jelas, gadis berambut merah muda itu sedang mencatat di dalam bukunya. Aku dapat melihat senyumannya, walau ia memang menundukkan kepalanya. Seketika bulu kudukku berdiri. Apa gadis ini benar-benar gila sampai-sampai ia senyam-senyum sendiri?
"Aku tidak berniat dalam kerja kelompok ini jadi−"
"Tak apa, lakukan saja apa yang kau suka."
Ucapan gadis aneh itu berhasil membuatku bingung dengan alis yang terangkat sebelah. Oke, mungkin aku memang menakutkan bagi banyak orang. Tapi masa gadis ini mau mengerjakan tugas kelompok sendirian?
Dan tawa pun meluncur dari bibirnya. Apa yang lucu? Aku kembali menaikkan sebelah alisku.
Kali ini memang benar-benar menakutkan. Kurasa gadis ini sudah tidak−
"Baiklah, baiklah." ujarnya lalu berdeham sejenak. "Tapi kau jangan tidur ya, bisa-bisa Yuuhi-sensei memarahiku karena membiarkanmu tidur sehingga aku harus mengerjakan tugasnya sendiri."
−waras.
Gadis itu kini kembali menundukkan kepalanya. Kelihatannya ia telah memfokuskan dirinya pada kertas di depannya. Aku pun menopangkan daguku, memperhatikan gadis di depanku yang kini sedang asyik menulis di atas kertas. Aku pun melirik pada bukunya, dan mendapati namanya tertulis disana.
Haruno Sakura.
Jadi, gadis yang pertama kali memberi warna pada dunia monokromku ini bernama Haruno Sakura?
Senyum pun perlahan terkembang dari bibirku.
Pas sekali. Seperti warna rambutnya, merah muda.
Oh, dan ternyata nama guru itu bukan, Yuuki-sensei −Yuuhi-sensei.
.
.
Dan tak terasa waktu pun terus berlalu. Musim semi, ke musim panas, lalu musim gugur, kemudian musim dingin.
Dan kembali pada musim semi lagi.
Betapa beruntungnya aku bisa naik kelas. Walaupun memang aku sering membolos, tapi kelihatannya nilaiku cukup membantu –pas-pasan jika bisa kau bilang. Setidaknya aku tetap naik kelas.
See? Tidak selamanya seorang berandalan dan sering bolos itu bodoh!
Aku langsung berjalan menuju papan pengumuman yang terdapat di koridor lantai dasar sekolah, dan kelihatannya para adik kelas pun langsung menyingkir menyadari keberadaanku.
'Bagus, sepertinya mereka tahu siapa aku,' pikirku. Aku pun langsung mengedarkan pandanganku pada kertas-kertas yang menempel di sana. Daftar ekskul –ah tidak penting. Aku pun dengan cepat langsung menemukan daftar kelas yang berada di sana. Aku meneliti kertas itu satu persatu, hingga akhirnya aku menemukan namaku di sana. Kelas XI-1 hmm?
Namun yang menarik perhatianku adalah nama yang tertulis di bawah namaku. Haruno Sakura. Jadi, aku sekelas lagi dengannya?
Senyum tipis pun tersungging dari bibirku. Dan dengan itu, aku berlenggang menuju kelasku sembari bersenandung kecil.
Aku pun tiba dalam kelas baruku ketika bel masuk telah berbunyi. Tepat waktu, sepertinya. Dan aku menemukan hampir semua anak yang sama di kelas sebelumnya menjadi teman sekelasku lagi. tapi aku tidak peduli. Dengan santai aku berjalan menuju meja kosong yang terdapat disamping gadis berambut merah muda aneh itu. Sakura Haruno duduk disampingku, eh?
Aku pun berjalan melewati gadis itu yang sedari tadi asyik mengobrol dengan teman-temannya. Aku memposisikan tanganku di atas meja lalu merebahkan kepalaku di atasnya. Dan tanpa perlu repot-repot untuk membuka sweaterku dan melepaskan tasku dari pundakku.
Rasanya hari ini aku mengantuk sekali!
.
.
Aku terbangun dengan pemandangan berupa langit biru yang menyambutku ketika aku membuka kedua mataku yang sebelumnya tertutup. Gara-gara semalam berkelahi lagi, aku jadi terlalu lelah dan membolos pelajaran. Kira-kira sudah jam berapa ya sekarang?
Aku pun langsung bangun dari posisi dudukku lalu merentangkan tanganku ke arah langit. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tidur senyenyak ini. Baru saja aku akan berjalan meninggalkan atap mataku menangkap sesuatu yang terbaring tak berdaya di atas lantai di samping kakiku.
Mataku terbelalak mendapati kotak bento yang amat kukenal berada di sana. Tunggu, bagaimana bisa …
Aku meraba-raba pelipisku, sekedar untuk menggaruknya karena bingung. Namun pada detik berikutnya gerakanku terhenti ketika aku mendapati sesuatu dari bahan kain yang agak kasar menempel di sana. Dan mataku sukses dibuat terbelalak lebar untuk kesekian kalinya pagi ini.
Bagaimana bisa …?
Entah kenapa, sesuatu yang hangat kembali menjalari dadaku. Rasanya aneh, bahkan jantungku kini berdetak lebih cepat dari biasanya. Perlahan, kubiarkan tanganku memegangi dada kiriku yang sedari bergemuruh tidak karuan. Dan tanpa sadar, senyum kembali terulas dari bibirku.
Apakah ini perbuatannya?
Perlahan, aku kembali mendudukkan diriku di atas lantai yang dingin itu. Dan tanganku terjulur ke arah kotak bento yang sedari tadi meminta untuk dibuka. Aku meletakkan kotak bento itu di atas pahaku, lalu membuka tutupnya.
"Itadakimasu."
Dan entah kenapa, aku merasa duniaku kini amat berwarna. Semua yang terlihat olehku bukanlah hitam dan putih lagi. Semuanya terlihat lebih indah dari sebelumnya.
.
Oh, dan saat aku pergi ke toilet aku langsung memeriksa wajahku di cermin. Dan benar saja, pada pelipisku tertempel sebuah plester.
Senyum kembali tersungging dibibirku, dan sedetik kemudian digantikan oleh ekspresi kesal.
Plester itu … Ya, plester itulah yang membuatku kesal!
Tidak, tidak, bukannya aku tidak terima wajahku dihiasi oleh benda lengket itu.
Hanya saja …
Plester itu berwarna pink! Dan yang lebih parahnya lagi, kau bisa melihat gambar seekor kelinci besar di sana!
Pantas saja sepanjang perjalanan, banyak anak-anak yang melirik ke arahku dan menunjuk-nunjuk kepadaku sambil terkikik geli.
Dafuq.
Hancurlah sudah image-ku sebagai cowok paling mengerikan satu sekolah.
.
.
Akhir-akhir ini aku merasa agak aneh.
Sejak peristiwa kerja kelompok itu, pandangan mataku tidak pernah lepas dari sosok merah muda itu. Melihatnya tertawa, tersenyum. Ia selalu terlihat ceria. Ia bahkan terlihat begitu hangat.
Kadang aku merasa iri padanya. Ia yang hangat seperti mentari membuatnya dikelilingi oleh banyak orang. Dan aku yang dingin seperti es, mana ada yang berani mendekat padaku?
Tidak, aku bukanlah orang yang tidak ingin bergaul. Sejujurnya aku ingin berbaur dengan orang lain. Setidaknya aku ingin menjadi diriku yang lalu seperti tiga tahun yang lalu, sebelum ibuku membawa pria itu dalam hidup kami.
Tapi, aku tetap tidak bisa menyalahkan ibuku sendiri.
Aku memang tidak tahu alasan dibalik keputusan beliau. Namun setidaknya menurutku, ia melakukannya karena ia tidak ingin aku tidak memiliki sosok ayah seumur hidupku.
Entah kenapa aku mengepalkan tanganku kuat-kuat ketika sosok gadis aneh itu kini sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya. Tidak, bukannya apa, yang berbeda adalah seorang lelaki dengan rambut dengan model yang sangat aneh menurutku−pantat ayam−ikut berpartisipasi dalam kelompok kecil itu.
Setahuku lelaki itu merupakan salah satu lelaki paling popular di sekolah kami. Tidak, tidak, aku tidak tertarik pada lelaki itu. Aku normal, maaf saja.
Entah kenapa aku merasa dadaku sakit saat melihat lelaki itu tengah mengakrabkan dirinya dengan si gadis aneh berambut merah muda itu. Bahkan gadis itu tertawa saat ia mendengar lelaki itu berbicara padanya.
Apa sih bagusnya pria itu dibandingkan aku?
Tunggu dulu, apa yang aku bicarakan?
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat, dan aku pun langsung memposisikan diriku untuk tidur, sekedar untuk melupakan pemikiran aneh yang baru saja terlintas dalam pikiranku.
Otakku pasti sedang konslet!
.
.
Entah berapa lama sudah kupacu kedua kakiku ini. terus berlari menapaki salju yang kini menyelimuti setiap sudut kota, menghujaniku dengan tumpukan benda berwarna putih dan dingin tersebut.
"Hey, jangan lari kau!"
Tak kuindahkan kata-kata yang sedari tadi kudengar di belakangku. Memangnya siapa yang akan menyerahkan dirimu dengan mudahnya untuk dihajar? Dan aku tidak sebodoh itu! kupaksa otakku untuk bekerja ekstra, berusaha memikirkan cara untuk lolos dari kejaran orang-orang yang berlari di belakangku.
Dengan lincah kupanjat tembok yang menghalangi jalanku, dan hup! Aku berhasil mendarat dengan selamat setelah langsung melompati tembok yang lumayan tinggi itu tanpa berpikir dua kali. Namun baru saja aku akan berlari, kutemui sosok yang tidak asing di depanku. Sosok itu kali ini membawa pasukan yang lebih banyak, dengan senjata di tangan yang lebih bervariasi.
Cih, merepotkan.
"Membawa pasukan yang lebih banyak lagi huh? Tidak kapok setelah kulayangkan kalian semua ke rumah sakit?" ujarku sambil menyeringai. Lelaki yang kurasa adalah pemimpin mereka itu pun balas tersenyum mengejek.
"Justru aku ingin balas dendam. Akan kubuat kau menyesali apa yang telah kau perbuat dulu!" dan lelaki bodoh itu pun langsung berlari menerjangku. Dan dalam sepersekian detik, kukeluarkan pisau lipat yang berada dalam saku celanaku sambil menyeringai.
"Dalam mimpimu!"
DUAAAAAGGHH!
.
.
Dengan susah payah kini aku menyeret tubuhku sendiri menjauh dari lokasi perkelahianku dengan susah payah. Dapat kurasakan sesuatu yang basah kini mengucur dari pelipisku, dengan rasa mendengung yang amat sangat di sana. Aku memegangi kepalaku, dan mendapati darah di sana.
Setelah bertarung mati-matian, akhirnya aku berhasil mengalahkan mereka. Tapi tentu saja harus dibayar dengan luka yang cukup parah disekujur tubuh. Selain karena aku melawan sendirian dan hampir tanpa senjata, yang aku lawan adalah orang-orang dengan jumlah yang lebih banyak dengan senjata yang lebih tajam.
Cih, beraninya keroyokan!
Dan tak lama kemudian aku dapat mendengar suara sirine mobil polisi dari dekat. Aku pun langsung memanjat tembok yang tadi kupanjat dengan susah payah, karena tidak ada tempat untuk kakiku berpijak di sana. Dan setelah sedikit memutar otakku, aku pun berhasil memanjat tembok itu dan terjatuh dengan tubuh yang menyentuh tanah terlebih dahulu.
Aku terus berjalan melewati lorong-lorong sempit, tak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihatku dengan tatapan ketakutan dan ngeri. Yeah, tak ada yang tidak mengenalku di sini. Aku adalah raja di jalanan ini, aku adalah yang memegang kekuasaan paling tinggi di sini.
Dan siapa pun yang macam-macam padaku artinya sudah tidak sayang nyawa lagi.
Dengan sisa-sisa tenagaku, aku menopang tubuhku pada tembok terdekat dan terus berjalan. Aku tidak tahu aku berada di mana. Yang jelas, setelah agak lama berjalan aku dapat melihat sebuah kursi di dekatku. Aku pun berjalan menuju kursi itu. pandanganku semakin kabur. Yang aku ingat berikutnya adalah tubuhku menyentuh sesuatu yang keras dan dingin pada punggungku yang tertutup mantel dan dunia yang mendadak menjadi gelap.
.
.
Aku dapat merasakan sesuatu yang hangat kini merasuki tubuhku. Perlahan, aku membuka kelopak mataku. Yang pertama kali aku lihat adalah sebuah vas yang berisi beberapa kuntum mawar yang masih segar di dalamnya. Dan yang kedua adalah seorang laki-laki dengan celemek berwarna hitam sedang mengelap cangkir teh dengan kain berwarna putih.
Aku tidak bodoh. Ini bukan surga.
Tubuhku aku angkat perlahan, membuatku menyerngit kesakitan. Sepertinya lukaku lebih parah dari yang aku perkirakan. Dan laki-laki yang sebelumnya tengah mengelap cangkirnya itu langsung berjalan ke arahku setelah meletakkan cangkir yang ada ditangannya ke meja terdekat.
"Kau sudah sadar?"
Tentu saja, idiot. Kau kira aku sudah mati apa?
"Syukurlah. Luka-lukamu benar-benar parah, bung. Malam natal kok masih berkelahi? Hahaha, anak muda sekali."
Kata-kata lelaki aneh itu sukses membuatku menaikkan sebelah alisku. Dan tanpa menunggu jawabanku ia kembali membuka mulutnya.
"Kau pasti kedinginan! Sebentar akan aku ambilkan sesuatu untuk kau minum."
Lelaki aneh itu pun langsung meninggalkanku sendirian. Aku pun melirik ke arah jam tangan baruku. Syukurlah tidak rusak, batinku. Jarum pendek jam itu kini mendekati angka dua belas, dengan jarum panjang yang menunjuk ke arah angka sebelas.
Aku pingsan selama itukah?
Aku pun melirik ke arah tubuhku. Tangan-tanganku penuh dengan plester dan perban. Aku pun tanpa pikir panjang langsung mengangkat−
−sweater?
Tunggu, seingatku aku tidak mengenakan sweater. Dan lagi, aku tidak punya sweater berwarna …
Merah muda?
Dan sepertinya indera perasaku kini telah bekerja dengan normal. Aku dapat merasakan sesuatu yang hangat melilit leherku. Langsung kulepas benda itu, dan mendapati syal dengan warna merah maroon tanpa motif norak berada di tanganku. Aku pun meletakkan syal itu di atas meja yang kosong itu, lalu melepaskan mantel yang kukenakan. Dan pada saat itu juga sepertinya otakku kini bisa bekerja dengan normal.
Tunggu dulu?
Sejak kapan mantelku mengecil? Dan sejak kapan mantelku berwarna coklat?
Aku meletakkan mantel itu bersama dengan syal itu, lalu disusul oleh sweater yang sempat melekat padaku. Dan kudapati kaos turtle neck berwarna hitam yang memang kukenakan tadi sore. Terdapat beberapa bekas robekan di sana. Cih, kelihatannya bajingan-bajingan itu berhasil merobek pakaian kesukaanku.
Akan kubuat mereka menyesal telah melakukannya!
Aku dengan agak ragu mengangkat pakaianku, dan mendapati luka pada tubuhku yang kini terlilit dengan perban dan plester di sana sini. Dan aku pun langsung meraba kepalaku. Aku merasakan kain yang agak tebal kini melilit dengan sempurna di sana.
Siapa yang melakukan ini semua?
Si lelaki itu kini keluar dengan segelas besar coklat hangat yang masih sangat mengepul. Lelaki itu pun meletakkan segelas coklat hangat itu di atas mejaku. Aku menatapnya dengan rasa bingung, dan lelaki itu pun membalas tatapanku dengan ekspresi bingung juga.
"Ada apa? Apa−"
"Apa kau yang melakukan semua ini? Maksudku mengobati luka-lukaku dan membawaku sampai ke sini?"
Lelaki itu terdiam beberapa saat, dengan ekspresi keterkejutan yang sama. Namun beberapa saat kemudian ekspresi itu tergantikan dengan senyuman hangat yang tersungging dibibirnya.
"Tidak bukan aku. Tapi kalau kau mau tahu, yang menolongmu adalah seorang perempuan. Ah, sayangnya ia melarangku untuk memberitahukan ciri-cirinya padamu."
Aku tertegun, lama. Pikiranku terus melayang pada kejadian-kejadian yang baru saja terjadi padaku. Dan pada saat itulah suatu pemikiran gila melintas dikepalaku … Apa jangan-jangan−
"Tapi, satu hal tentangnya. Gadis itu sangat manis."
−ia adalah gadis yang selalu memberikan bento rahasia itu padaku?
Aku menaikkan sebelah alisku. Manis? Aku tidak tahu ada gadis yang manis di dunia ini selain−
"Oh ya, cepat kau minum coklat hangat itu, nanti keburu dingin. Oh ya, gadis itu menitipkan ini padamu. Ah ya, sebentar!"
Tanpa menunggu kujawab, lelaki itu dengan seenaknya−lagi, kini tengah sibuk mengambil sesuatu yang berada dibalik konter pastries yang ada di depannya. Dan ia pun kembali dengan sepiring tart mini yang berada di tangannya.
"Dia bilang ini untukmu." Ujarnya sambil tersenyum. "Selamat menikmati." Lanjutnya lalu meninggalkan aku yang masih terbengong memandangi sepiring tart mini dengan secarik kertas yang ada di sampingnya.
Perlahan, kuambil kertas itu. Terdapat tulisan tangan yang amat aku kenali di sana.
'Merry Christmas Sasori-kun! Semoga kau suka dengan syalnya. Aku tidak tahu apa warna kesukaanmu, tapi aku harap kau tidak keberatan memakainya lain waktu.
p.s: cepat sembuh ya! Jangan berkelahi lagi :o'
Dan entah kenapa aku kembali merasakan kehangatan dalam dadaku, dan kini jantungku kelihatannya memacu darahku jauh lebih cepat dari biasanya. Perlahan, senyum pun terbentuk dari bibirku. Aku mengambil garpu yang tersedia di samping piringku dan memotong tart yang sedari tadi berada di depanku. Potongan coklat itu pun masuk dengan mulus ke dalam mulutku.
Samar-samar dapat kudengar suara lagu natal dari luar sana. Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah jendela. Mengamati bintang-bintang yang bersinar dengan indahnya malam ini.
Selamat natal juga, gadis asing.
.
.
"Hei, apa kau tahu Sakura-chan akan pindah?"
Aku mendengar suara desas desus yang sedari tadi mengganggu acara tidurku. Tunggu, tadi siapa yang dia bilang? Sakura-chan? Haruno Sakura maksudnya?
Sudah beberapa sejak gosip itu beredar, dan sejak beberapa hari itu pulalah acara tidurku tidak tenang lagi. Entah kenapa, setiap kali aku mendengar berita itu dadaku berdenyut sakit.
Apa yang salah denganku?
Aku mengeram pelan, berusaha untuk kembali dalam mimpiku yang sempat tertunda. Namun berapa lama pun aku mencoba, sepertinya aku tidak berhasil. Kata-kata itu pun terus saja terngiang dalam kepalaku.
Dan kembali, dadaku berdenyut sakit untuk kesekian kalinya dalam minggu ini.
.
.
Dan waktu pun terus berlalu. Dan berita tentang kepindahan si gadis berambut berwarna merah muda bernama Haruno Sakura pun benar-benar terjadi.
Dapat kulihat anak-anak dikelasku kini tengah membereskan bukunya. Atas saran wali kelasku yang bawel, Namikaze-sensei, kami pun memutuskan untuk pergi mengantar gadis aneh itu ke bandara. Ralat, aku tidak memutuskan hal itu.
Namun entah kenapa, dadaku semakin lama berdenyut semakin sakit. Rasanya hati ini tidak rela untuk melepaskan gadis itu pergi.
Apa yang salah denganku?
Dan kelas pun kini telah sepi. Aku yang tak tahu harus melakukan apa memutuskan untuk kembali pada posisi tidurku. Namun belum sempat aku meletakkan kepalaku pada lipatan tanganku, sebuah suara menginterupsi kegiatanku.
"Kau tidak ikut?"
Aku mengangkat kepalaku dan mendapati seorang gadis berambut blonde−yang kuketahui sebagai teman baik si gadis aneh itu−kini tengah berdiri di samping mejaku dengan tangan yang dilipat dengan dadanya. Aku menaikkan sebelah alisku.
"Mau ikut tidak?"
Gadis itu mendengus kesal. Aku hanya mengendikkan bahuku lalu memutuskan kembali pada posisi tidurku. Dan tak lama kemudian aku dapat mendengar suara hentakan kaki yang mulai samar, beserta kata-kata umpatan yang sepertinya keluar dari mulut si gadis pirang itu.
Tak lama kemudian, tanpa sadar tubuhku tergerak sendiri.
Dan entah kenapa sekarang aku berlari menyusuri koridor sekolahku dengan kecepatan tinggi. Dan aku pun sampai pada bis yang ditempati oleh rombongan kelas kami pada detik terakhir. Untungnya masih terdapat sebuah beberapa kursi kosong di sana. Aku pun berjalan menuju kursi kosong terdekat.
Walau samar, aku menangkap suatu suara dekat telingaku. Aku mengalihkan pandanganku pada sosok gadis berambut pirang yang tadi menegurku.
"Arigatou." ujarnya sambil tersenyum lemah. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Aku pun kemudian mendudukkan tubuhku pada kursi yang kutuju, lalu mengalihkan pandanganku pada jendela yang berada di samping tempat dudukku.
.
.
Kini aku sudah berada di bandara. Dan aku dapat melihat sosok gadis dengan rambut merah itu dari kejauhan. Gadis itu kini terlihat sedang memeluk teman-temannya. Dan dapat aku lihat air mata telah sedari tadi membasahi pipi pucat itu.
Entah kenapa, rasanya aku ingin segera berlari ke sana dan memeluk gadis itu.
Tapi tidak, aku masih cukup waras.
Dan kenapa aku harus memeluknya?
Dan saat itu juga tatapan kami bertemu. Aku dapat melihat sorot mata berwarna kehijauan itu kini tengah menatap padaku. Entah ilusi atau apa, kini aku dapat melihat senyum terkembang dari bibir gadis itu. Dan sedetik kemudian pandangan gadis itu teralih pada teman-temannya yang lain.
Aku perlahan memegang kemejaku dan meremasnya pelan.
Kenapa melihat senyumannya membuat dadaku jadi sakit?
Dan pesawat yang membawa gadis berambut merah muda itu kini telah lepas landas, membawa gadis itu jauh ke atas langit. Mataku sedari tadi tak lepas dari pergerakan pesawat itu. Semakin lama semakin terlihat kecil, dan pada akhirnya tidak terlihat lagi.
Dapat kurasakan sesuatu menepuk pundakku. Aku mengalihkan pandanganku dan mendapati Namikaze-sensei kini tengah menatapku sambil tersenyum.
"Ayo pulang, Akasuna."
Dengan agak ragu aku pun mengangguk dan berjalan mengikuti punggung wali kelasku itu. dan sepanjang perjalanan pulang pandanganku tak dapat terlepas dari langit biru di atas sana.
.
.
.
Mungkin kita bersama dalam waktu yang tidak lama
Bahkan kita belum dekat satu sama lain.
Tapi bolehkan aku berharap?
Bahwa suatu saat nanti kita akan bertemu lagi.
Hey,
mungkin ini aneh, dan aku tidak mengerti sama sekali.
.
.
.
Tapi kenapa semenjak kepergianmu hatiku kembali merasa hampa?
.
.
.
Fin
Hey semuanya~ hehehe. aku kembali dengan bagian kedua fic ini :D
maaf kalo misalnya ada typos, ga sempet meriksa gara2 numpang ngupload d sekolah. MODEM SAYA ABIS KAWAN KAWAN T_T *nangis dipojokan*
terima kasih sudah membaca. reviewnya ditunggu~ saran, kritik dan flame diterima :D
Omake
Sudah seminggu sejak kepergian si gadis aneh itu, dan sudah sejak seminggu juga aku tidak menerima bento dari orang tak kukenal itu. Dan kotak bento yang berada dalam laciku pun sudah seminggu terbaring tak berdaya di sana.
Ini aneh.
Dan kini bel istirahat makan siang pun berbunyi. Semua anak-anak dengan cepat langsung menyerbu pintu keluar kelas, meninggalkan aku sendiri yang masih termangu di atas mejaku. Aku pun mengambil kotak bento yang berada di sana. Kupandangi kotak itu, lama.
Pikiranku pun melayang ke arah pesan-pesan yang kukirim bersama orang asing itu beberapa hari terakhir. Sampai pada akhirnya aku teringat suatu pesan.
'Hey, kalau nanti aku pergi apakah kau akan merindukanku?'
Deg.
Pandanganku pun langsung teralih pada kursi yang seminggu belakangan ini telah tidak ditempati lagi. Dan dadaku kembali berdenyut sakit. Sakitnya bahkan lebih parah dari sebelumnya. Dan tanpa sadar, setetes air mata pun jatuh dari pelupuk mataku.
Air mata pertama yang kukeluarkan sejak kematian ibuku dua tahun yang lalu.
.
.
Waktu pun terus berlalu …
Aku mulai mengakrabkan diri dengan orang lain, dan mereka pun mulai dapat menerimaku. Dan aku pun tidak pernah berkelahi lagi.
Bahkan hubunganku dengan ayah tiriku mulai membaik.
Meskipun begitu, aku tetap merasakan sesuatu yang kurang dalam hidupku. Seakan-akan hatiku merasa hampa sejak kepergian gadis aneh itu−Haruno Sakura.
Dan entah kenapa, sejak saat itu aku sering memandangi kursi kosong yang berada di sebelahku itu.
.
.
.
Mungkin ini memang terlalu terlambat
Untuk menyadari perasaanku padamu …
.
.
.
Terima kasih untuk menjadi bagian terindah dalam hidupku
.
.
.
It's Really the Fin
