jumpa lagi! maaf updatenya lama, tugas sekolah saya menggunung *nangis kejer*
dan untung ada temen yang neror siang malam nuntut fic ini.
Arigatou minna! yang udah baca, nge-review, fave, serta alert fic ini. ini chap seanjutnya! Happy Reading!
Previously on The Last Petals of Cherry Blossoms
Apakah nasibnya sekarang sama seperti salju yang turun itu? Jatuh dari tempat yang sangat tinggi dan mencair saat jatuh di atas dataran bumi.
"Mustahilkah? Mustahilkah … Jika aku berangan-angan kalau nee-san masih berada di sampingku dan bermain di atas panggung yang sama? Hahh … Aku rasa itu memang mustahil."
-O0O-
Rukia sudah berjalan menjauh meninggalkan cafe. Dingin terasa menusuk tulang. Rukia merapatkan kembali syalnya yang bermotif bunga cosmos. Sesekali matanya melirik ke arah kanan dan kiri untuk memastikan keadaan sekitarnya. Yang terlihat oleh jangkauan matanya hanyalah beberapa orang yang sibuk dengan urusannya sendiri, tak satupun dari orang-orang itu dikenalnya. Memang, sejak kepindahannya ke Tokyo empat tahun lalu, hanya Hinamori yang dikenalnya.
Tanpa disadari, kakinya sudah menuntunnya ke sebuah taman kanak-kanak yang memiliki halaman bermain cukup luas dengan beberapa fasilitas permainan seperti ayunan, jungkat-junkit, seluncuran, dan lainnya. Taman kanak-kanak itu juga memiliki sebuah gedung bertingkat satu dengan dinding berwarna merah bata sebagai tempat berlangsungnya pembelajaran. Di sekeliling gedung itu terdapat beberapa pohon sakura yang diselimuti salju tebal. Awalnya Rukia ingin langsung pulang ke rumah akibat insiden kecil yang dialaminya di cafe tadi. Tapi kaki-kakinya menolak untuk kembali ke rumah dan malah membawanya ke tempat ini.
Sudah terlanjur kan? Apa salahnya mengunjungi taman kanak-kanak ini sebentar. Rukia membuka gerbang taman kanak-kanak itu, kedatangan dirinya disambut oleh seorang petugas keamanan di TK ini.
"Ahh ... Rukia-san? Mengunjungi temanmu ya?" petugas keamanan itu berlari-lari kecil ke arah Rukia dan tersenyum ramah. seakan sudah hafal di luar kepala maksud kedatangan Rukia.
"Benar. Apakah Hinamori sedang mengajar?" balas Rukia juga tersenyum, hanya sebuah bentuk formalitas.
"Iya, dia sedang mengajar saat ini. Apa perlu kupanggilkan?" tawar petugas itu.
"Tidak, tidak usah! Itu akan merepotkannya, aku yang akan masuk ke dalam."
Petugas keamanan itu pun hanya mengangguk singkat dan berlalu dari hadapan Rukia. Rukia kembali berjalan perlahan menyusuri karpet putih yang sedikit menghambat langkahnya dan masuk ke dalam gedung.
Setelah berjalan beberapa meter, dia dapat mendengar samar-samar suara Hinamori yang sedang bernyanyi. Rukia terus mendekati suara itu dan sampailah dia di depan ruang kelas yang pintunya dihiasi oleh ornamen origami burung dan kupu-kupu dengan berbagai warna. Tangannya meraih kenop pintu dan membukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara dan mengusik kegiatan belajar-mengajar Hinamori.
"Rukia? Kau kah itu?" tanya Hinamori memastikan, ketika melihat sosok Rukia yang menyembul dari balik pintu.
"Umm ... Apa aku mengganggu?"
.
.
.
.
~...::The Last Petals of Cherry Blossoms::...~
Disclaimer : I do not own Bleach, Bleach belong to Kubo Tite
WARNING!
AU, OOC, typo(s), Misstypos, Jalan cerita semau Author, EYD kagak jelas, Ide pasaran dan klise (maybe?), Author newbie, D.L.L, D.S.B
Chapter 2 : Melody of The Wild Dance
Hidup ini ibarat melodi,
Jika ingin meraih keindahannya
Maka susunlah notnya dengan sempurna.
.
.
.
.
If you don't like, don't read! Simple as that ^.^
"Mereka kelihatan bahagia," bisik Rukia pelan yang sekarang duduk di dekat Hinamori. Rukia mengedarkan pandangannya ke sekeliling penjuru ruang kelas memerhatikan setiap anak yang kini sedang menikmati makanan mereka, jam istirahat.
"Hmm ... Kau mengatakan sesuatu?" Hinamori menoleh ke arah Rukia. Rukia memang sering datang ke tempatnya mengajar dan mengobrol ringan di saat jam istirahat seperti ini. jadi, merupakan hal yang sangat lumrah ketika Rukia datang tiba-tiba.
"Mereka saling tersenyum, berbagi, dan bahkan tertawa. Aku iri," sambung Rukia. Entah rasa apa yang sekarang sedang menohok hatinya, ketika melihat betapa harmonisnya hubungan seluruh anak yang ada di hadapannya.
"Yahh kau benar. Dan aku akan melakukan apa pun untuk menjaga senyum itu agar tidak hilang," ujar Hinamori sambil tersenyum maklum kepada Rukia. Hinamori tahu semua perihal buruk yang menimpa sahabatnya ini. Masa lalu yang kelam itu nyaris membuatnya menjadi seseorang yang hidup tanpa tujuan, untung saja tidak sampai tahap jisatsu(1), memikirkannya saja membuat bulu kuduk berdiri.
Lalu keduanya dilanda keheningan selama beberapa menit, hingga Rukia kembali berbicara.
"Hinamori?"
"Ya Rukia, ada masalah?"
"Jika boleh tahu, apa yang membuatmu merasa sangat bahagia?"
Hinamori menatap Rukia kaget bercampur heran, temannya tidak sedang diserang demam tinggi kan? Atau jangan-jangan udara di musim dingin membuatnya berbicara hal-hal yang ngawur?
"hehehe ... Kau lucu Rukia, kau tidak sedang sakit kan?" sindir Hinamori sambil cekikikan. Betapa lucunya wajahnya Rukia ketika berbicara seperti itu, seperti polosnya anak kecil saat bertanya 'Bagaimana rasanya jika bisa terbang seperti burung?'
"Aku serius!" celetuk Rukia dengan wajah yang merah padam antara malu sekaligus marah.
"Tak perlu marah Rukia, aku hanya bercanda kok. Kau tahu? Kadang bahagia itu sederhana, saat kau mau mengerti dan memahami. Bagiku ... Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain bisa membuat orang lain tersenyum dengan sebuah usaha yang aku lakukan."
"Heh … Entah kenapa aku merasa terkadang kau pintar juga dalam hal berkata-kata."
"Nahh aku anggap itu pujian. Oleh karena itu, aku akan melakukan hal yang sama padamu."
"Apa yang akan kau lakukan? Memberiku permen? Boneka?"
"Bukan! Umurmu sudah terlalu tua untuk itu. Ini yang akan kuberikan." Hinamori menyodorkan selebaran brosur berwarna coklat keemasan yang baru saja diambilnya dari laci meja, di kertas itu terdapat tulisan dengan judul "The Sound of Music" yang dicetak besar. Di brosur itu berisi beberapa keterangan singkat dan lengkap.
Alis Rukia menukik tajam ke bawah. apa maksudnya ini? Ajang kompetisi untuk para pianist? Tidak, jangan musik lagi. Itu sudah cukup membuat kepalanya pusing tujuh keliling di pagi ini. Mendadak hatinya dilanda badai topan, membekukan seluruhnya dengan dingin yang tersibak gemuruh. Meraung kesakitan kala luka lama yang kembali menganga.
"Kau bercanda? Aku kira kau sudah tahu kalau aku sudah meninggalkan dunia musik selama 9 tahun lamanya. Kau ingin aku ikut ini?" Rukia mengibarkan brosur itu ke depan wajah Hinamori, lalu menghela napas lelah. Dunia serasa tidak adil untuknya, menyeret paksa dirinya ke dalam jurang curam, mengisolasi tanpa ada cahaya penerang setitik pun.
"Hah? Aku tidak bilang padamu untuk mengikutinya. Aku hanya ingin mengajakmu pergi ke sana untuk menemaniku. Kau tidak akan ikut bermain, tapi kita ke sana untuk mendengarkan musik," jelas Hinamori sedikit ragu, takut kalau Rukia menolak bahkan lebih buruk lagi.
"Kau pikir aku tertarik? Beri aku alasan yang kuat kenapa aku harus datang ke sana." Tuh kan! Tepat sasaran. Tersirat sebuah penolakan dari gaya bicaranya.
"Tentu saja untuk menemaniku! Aku tidak ingin pergi sendiri, ayolah kumohon?" rajuk Hinamori, hanya kata itu yang tebersit.
"Fine! Kau menang! Acara ini akan dilaksanakan dalam dua minggu lagi ya?" Rukia kembali menilik brosur yang berada di tangannya. Kali ini dia tak bisa menghindar lagi, sekuat apa pun usahanya. Desakan Hinamori membuat dirinya tak punya pilihan lain. Ayolah ... Rukia tidak serendah itu untuk mengecewakan sahabatnya.
"Hmm-mmm ... Janji kau harus datang ya!"
"Ya ya ya. Ada lagi?" kata Rukia sambil menggerutu di dalam hatinya, sedikit keberatan atas janji yang diajukan Hinamori secara sepihak.
"Bisakah kau tersenyum? Jika kau selalu memasang tampang seperti itu, kau lebih mirip seperti ratu es yang kejam dan suka menyiksa. Pasti kakakmu sangat sedih melihat dirimu seperti ini."
"Hey hey, Hinamori ini tidak ada sangkut pautnya dengan nee-san," protes Rukia. Serangan apa lagi yang akan dilancarkan Hinamori? Bom nuklir kah?
"Aku tahu! Tapi kakakmu selalu mengawasimu di atas sana kan? Melihat dirimu yang seperti ini sudah pasti membuatnya sedih." Raut wajah simpatik tercetak jelas di wajah manisnya yang diperuntukkan kepada seorang gadis keturunan bangsawan—sedikit keras kepala dan susah diatur—yang duduk di sampingnya.
Rukia terdiam. Kata-kata Hinamori ada benarnya juga. Tapi masalahnya, apakah dia bisa kembali seperti dulu lagi? Hatinya sudah terlanjur beku, tak lagi merasakan kehangatan.
Entahlah ... Tapi waktu akan menjawab semuanya.
"Ah ya! Satu lagi Rukia, laki-laki tak akan pernah melirikmu, kau mau menyandang status jomblo seumur hidup? Jika tidak, maka lakukan sesuatu pada wajah yang mengerikan itu," lanjut Hinamori sambil melengos pergi meninggalkan Rukia. Menghindari konsekuensi terburuk yang akan datang dari Rukia.
Baiklah, kata-kata Hinamori yang satu itu semakin membuat moodnya bertambah buruk.
.
.
.
-O0O-
.
.
.
After Two Weeks Later
Gedung yang digunakan untuk ajang kompetisi ini di-set up dalam suasana non formal namun tetap mengesankan kemegahan gedung ini. Sekitar seratus penonton—lumayan banyak hanya untuk ajang kompetisi—duduk melingkar. Sedangkan peserta lomba akan memperlihatkan permainan pianonya di atas panggung berbentuk bulat yang diletakkan di tengah-tengah penonton.
Yahh ... Barangkali set up seperti ini dimaksudkan untuk menghadirkan aura Chopin yang sebagian besar konser-konsernya dilakukan di ruangan kecil, di salon-salon sederhana, dengan tidak begitu banyak penonton. Namun, dari kesederhanaan itu Chopin membangun sebuah musik yang indah, megah, menyentuh, dan abadi.
Ok, sampai di situ dulu bahas tentang Chopin.
Beralih ke Kuchiki Rukia yang duduk di kursi penonton ke delapan dari depan bersama seseorang di sebelahnya. Semua kursi-kursi di aula ini hampir seluruhnya sudah diduduki oleh orang-orang. Setelah beberapa menit berlalu, seluruh lampu-lampu ruangan diredupkan. Lampu-lampu sorot LED difokuskan ke arah panggung peserta lomba.
"Rukia lihat! Sebentar lagi akan dimulai!" ujar Hinamori sambil mengguncangkan lengan Rukia.
"Tanpa kau bilang pun aku sudah tahu itu." Lalu Rukia mencari-cari sesuatu di dalam saku mantelnya yang terbuat dari bahan tweed biru terang dan mengeluarkan earphone berwarna putih. Saat Rukia akan memasang earphone tersebut ke telinganya, tangan Hinamori mencegahnya.
"Apa-apaan ini Rukia? Kau seharusnya mendengarkan permainan piano para peserta. jika kau memasang earphone bagaimana kau akan mendengar?" Komentar Hinamori sedikit marah atas tindakan temannya yang keras kepala ini. Dia sungguh tak dapat menebak jalan berpikir Rukia yang begitu luar biasa. Luntur sudah semangatnya untuk melihat performance para peserta.
"Kembalikan earphoneku! Yang penting aku datang kemari untuk menemanimu kan?" Rukia merebut paksa earphonenya dari tangan Hinamori.
"Hei, tapi kau juga berjanji akan ikut mendengarkan!" sanggahnya.
"Aku tak pernah membuat janji semacam itu," ralat Rukia.
Hinamori hanya bisa pasrah. Adakah hal lain yang bisa membuat sahabatnya ini bersikap lebih lembut? Dan tidak menyangkal apa yang sudah menjadi takdirnya?
-O0O-
Rukia's POV
Dasar Hinamori, kentara sekali kalau dia berusaha memaksaku untuk kembali ke dunia musik. Tidak apa-apa, aku hargai usahanya itu. Semua orang sama saja.
Lagi pula, playlistku tertinggal di kamar. Lantas ... Kenapa memakai earphone? Entahlah, aku sendiri tidak memiliki alasan yang pasti. Mungkin agar kelihatan tampil stylish, hmm ... Aku rasa itu tidak ada hubungannya.
"Rukia, itu peserta yang pertama! Namanya Dokugamine Riruka. Juara ketiga di ajang kompetisi tahun lalu."
Masih belum menyerah ya Hinamori? Semangatmu sungguh luar biasa. Mungkin aku harus belajar banyak darimu. Dan siapa katanya tadi? Dokugamine Riruka? Gadis berambut panjang dengan warna magenta yang sedang berdiri di atas podium itu? Juara ketiga?
Ah aku baru ingat! Si keluarga Dokugamine, yang rata-rata semuanya adalah musisi terkenal. Bodohnya aku tidak menyadari hal itu.
Di sana, Riruka mulai mengambil posisi duduknya di atas bangku piano dan jari-jarinya menekan tuts-tuts piano berirama.
Alunan ini ... Ya aku mengenalnya.
Stravinsky 'Petrushka'
Sempurna, dia memainkannya tanpa ada kesalahan sedikitpun. Musik yang dapat dibilang cukup sulit ini dapat ditaklukkannya dengan baik. Tapi aku tidak suka. Lihat saja dirinya, dia berdiri dengan angkuh setelah selesai bermain, dagu yang sedikit diangkat dan tanpa ada senyuman sedikit pun. Setelah membungkukkan badan kepada para juri, dia berlalu pergi begitu saja. Bahkan tepukan tangan yang meriah dari penonton pun tak ditanggapinya.
Dokugamine Riruka, jika kau mengikuti ajang ini hanya sekadar untuk memamerkan bakat pianistmu sebaiknya tidak usah. Jangan menghina musik klasik dengan bakatmu, itu menjijikkan.
"Rukia bukankah tadi itu hebat? Upss, aku lupa kalau kau tidak mendengarkan. Kau membosankan Rukia," ucap Hinamori dengan sarkastis. Aku tahu dia marah padaku saat ini, sikapku memang terlalu egois.
Peserta selanjutnya, kali ini seorang gadis SMA tahun ketiga—begitu yang kudengar dari Hinamori—memainkan Chopin Etude Op.10 No.3. Dia membawakannya dengan lembut dan santai, sehingga semua penonton di sini dibuat terhanyut dalam permainannya.
Peserta demi peserta tampil, sekitar 4 jam aku habiskan waktu di gedung musik ini. Saatnya Break. aku serta Hinamori pun bangkit dari kursi dan keluar mencari minuman.
Saat di luar aula gedung musik, mataku disuguhkan oleh pemandangan adegan perkelahian—yang unik sekaligus aneh—antara seorang pria paruh baya berambut hitam dengan umm ... Seorang berandalan? Jangan tanya kenapa aku menyebutnya berandalan, lihat saja rambutnya yang berwarna oranye dan runcing itu. Apa dia mengecatnya?
Perkelahian unik sekaligus aneh, sang pria paruh baya yang bertekuk lutut membuat suasana dramatis di hadapan orang berandalan yang terus mengomel panjang lebar. Pria berambut hitam itu mengatupkan kedua tangannya dan membuat ... Air terjun Niagara atau lebih tepatnya air mata yang terlalu berlebihan menurutku. Apa mereka sedang latihan drama? Sungguh pemandangan yang nista sekali.
"Apa yang kau lihat Rukia? Aku sudah kehausan, ayolah cepat! Sebelum kompetisinya dilanjutkan lagi!" Hinamori menarik tanganku menjauh dari kedua orang itu, dan mencari mesin penjual minuman otomatis. Seakan dikejar oleh bom waktu, Hinamori menggerakkan kakinya begitu cepat. Jika terlambat satu detik saja, maka meledaklah gedung ini.
"Drama komedi gratis, kau tidak mau melihatnya?" candaku pada Hinamori sambil berusaha menyamai langkah kakiku dengannya. Tak lama kemudian, kami menemukan sebuah vending machine dengan warna merah mendominasi.
"Dimana?" Hinamori meneliti setiap minuman kaleng di dalam mesin itu dengan napasnya yang tersenggal-senggal—tak jauh berbeda dengan keadaanku, setelah didapat apa yang diinginkannya dia memasukkan uang lalu mencondongkan tubuhnya ke bawah dan mengambil dua kaleng minuman dari mesin penjual otomatis itu.
Apa dia tidak melihatnya tadi? Atau dia memang mengabaikannya? Pemandangan aneh yang dengan jelasnya terpampang nyata di samping pintu aula musik.
"Sudahlah, abaikan saja. Kau bilang ingin kembali sebelum kompetisinya dimulai lagi kan Hinamori? Sebaiknya kita bergegas." Aku mengambil minuman kaleng yang disodorkan Hinamori padaku. Sebelum aku melangkahkan kakiku lebih jauh menuju aula musik, tiba-tiba tangan Hinamori menarik earphoneku—lagi—sehingga seluruh bagian earphone ke luar begitu saja dari mantelku.
Duh! Aku ketahuan.
"Jadi ... Kau selama ini mendengarkan permainan semua peserta kan? Apa maksudnya ini?" tangan Hinamori menenteng earphoneku dengan sebelah tangan, menggoyangkannya ke kanan dan kiri menuntut penjelasanku.
"Itu ... Aku mencoba tampil stylish, bagaimana menurutmu?" Aku akui ini adalah alasan terkonyol yang pernah kukatakan. Sungguh tidak seperti seorang Kuchiki.
"Dengan ini? Gelagatmu aneh sekali sejak berada di aula musik tadi, dari awal aku memang mencurigaimu, kau menjadikan benda ini sebagai tameng? itu tak ada gunanya. Huftt sudahlah ayo kembali," sergah Hinamori begitu cepat membuatku terlonjak kaget.
Kami pun kembali ke tempat semula. Ada yang sedikit berbeda ketika kami memasuki ruangan, aku tidak tahu apa ini perasaanku saja atau memang fakta, jumlah penonton yang hadir bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya—menurut taksiranku. Untung saja kami datang lebih awal beberapa menit, jika tidak, maka nasib kami berdua akan seperti orang-orang yang berdiri di sana—tidak mendapatkan kursi untuk duduk. Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Apa yang kami lewatkan?
"Hinamori apa yang—" ucapanku mau tak mau harus kuhentikan kala melihat Hinamori sedang berbicara kepada orang lain, dia kelihatan begitu antusias.
"Kau serius? Si tampan tuan Kurosaki mengikuti ajang kompetisi ini?!" Pekikan riang keluar dari mulutnya. Mengabaikan keberadaanku yang sedari tadi diam mematung di kursi.
Kau mengabaikanku Hinamori, Dan lebih memilih berbicara dengan orang asing di sebelahmu? Kenapa aku jadi posesif begini sih. Ya ... Sudahlah, biarkan Hinamori berbicara dengan orang itu, tentu saja dia merasa bosan denganku, aku selalu mengabaikannya saat kompetisi berlangsung tadi—aku pantas menerimanya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, siapa itu Kurosaki? Dan julukan 'si tuan tampan' menurutku itu terlalu berlebihan.
"Rukia kau tidak akan percaya ini! sang juara tahun lalu, Kurosaki! Dia datang dan ikut berpartisipasi lagi!" masih dengan pekikan riangnya yang membuat tanganku refleks menutup telinga.
"siapa? Kurosaki? Apa peduliku?" Aku bahkan belum pernah sekalipun mendengar seseorang yang bernama Kurosaki. Serius ... Belum pernah sama sekali, baru kali ini aku mendengarnya.
"Percayalah! Kau pasti akan menyukai permainannya, aku jamin itu!" Teriak Hinamori dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Kau terlalu fanatik Hinamori." Kataku sambil menggelengkan kepala tidak percaya. Terperangah akan perubahan emosi yang begitu cepat pada dirinya.
Kualihkan pandanganku ke arah podium. Seseorang berjalan di atasnya. Dan warna itu? Kelihatan familiar di mataku, makhluk oranye! Ya si berandalan yang terlibat perkelahian adu mulut dengan pria paruh baya tadi. Ini sungguh di luar dugaanku, penampilannya yang sangar serta alis yang bertaut tajam seperti berandalan liar itu seorang pianist? Bagaimana bisa? Ternyata pepatah itu benar, don't judge a book by it's cover dan itu berlaku padaku sekarang.
Pria itu mengambil posisi duduknya senyaman mungkin, mengatur nafasnya lalu jari jemarinya menari-nari di atas tuts piano dengan lincah memainkan musik karya Maurice Ravel, Gaspard de la nuit 'Scarbo'. Melodi yang bagus dan sangat berseni, yang menceritakan tentang Goblin yang datang dan menghilang secara tiba-tiba di malam hari.
Musik yang dimainkannya dapat disajikan dengan apik dan menghipnotis seluruh penonton, aku benci mengakui ini tapi itu memang benar, aku pun seperti di bawah kendalinya. Pikiranku seolah-olah terasa kosong dan hanya dipenuhi oleh nada-nada yang dilantunkannya. Dan lagi, pandangan mataku tak bisa lepas darinya. Rasa sesak memenuhi rongga dadaku membuat suaraku tertahan di pangkal tenggorokan.
Berakhir. Seluruh penonton riuh dalam tepuk sorak. Mereka berdiri memberikan penghormatan dengan terus bertepuk tangan—terkecuali aku. Tepuk tangan yang tanpa henti itu menunjukkan apresiasi mereka terhadap pertunjukan yang begitu memukau.
Kuperhatikan sosoknya lekat-lekat, dia memiliki postur tubuh yang tinggi, bulir-bulir keringat yang berjatuhan di sekitar wajahnya, ritme napasnya yang naik turun tidak beraturan, serta senyum tipis yang terpatri di wajahnya. Tapi jika diteliti lagi, kelihatannya senyum itu sedikit tidak … Ikhlas? Aku memang tidak bertepuk tangan seperti penonton lainnya, tidak juga berdiri seperti juri-juri di kursi depan sana. Tubuhku membatu di tempat, lantunan nada-nada yang dimainkannya masih terngiang di benakku. Terekam dengan sempurna oleh memori otakku.
"Aku rasa tidak perlu bertanya lagi, kau sungguh terkejut atas permainannya kan? Kau bahkan diam tak berkutik sedikit pun." Suara Hinamori terdengar di sela-sela riuhnya tepuk tangan.
.
.
.
-O0O-
.
.
.
"Hinamori, aku ingin pulang sekarang. Masalah siapa yang akan lolos ke babak final, it's none of my business! Jika kau mau menunggu lama disini tidak apa-apa asalkan aku dibiarkan pulang, aku bukan tipikal orang yang sabar menunggu."
Kakiku hampir seluruhnya terasa keram. Kami sudah berdiri cukup lama di sini—bagian luar aula musik—hanya untuk menunggu pengumuman peserta yang berhasil lolos ke babak final. Sungguh tak dapat dipercaya.
"Sebentar lagi Rukia, sebentar saja ya? Aku ingin melihatnya. Kita akan pulang bersama setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi," pinta Hinamori.
"Melihat siapa? Si tuan tampan Kurosaki? Sebenarnya kau mengagumi permainan musiknya atau orangnya?" sengaja kulemparkan death glare terbaikku kepada Hinamori berharap dia mengerti keadaanku sekarang.
"Keduanya sih," balas Hinamori sambil cengar-cengir tidak jelas membuatku semakin jenkel dan hampir menghancurkan vas bunga yang tidak bersalah di sampingku ini. Tapi aku masih memiliki akal sehat, bersabar adalah jalan yang terbaik. Tenang Rukia, jangan biarkan amarah menguasaimu.
Hampir sebagian dari penonton yang hadir tadi sudah ke luar gedung dan pulang. Kami? Salahkan orang yang sangat ambisius di sebelahku ini.
"Oww Rukia dia di sana! Kyaa aku ingin meminta alamat E-mailnya." Dan sekarang, dia membuat gendang telingaku hampir pecah—asetku yang berharga—dan mari kita lihat si tuan buruk rupa Kurosaki itu.
Damn! Dia juga melihat kemari. Dan berjalan ke ... Sini? Apa yang diinginkannya? Aku memeriksa ke sekelilingku berusaha mencari-cari seseorang, bisa saja kalau hipotesisku salah kan?
Tujuh langkah lagi! Dia memang berjalan ke sini. Hinamori belum pingsan kan? aku harap begitu.
Tidak ada angin dan hujan, seseorang langsung berlari ke arahnya dan bergelayut mesra di lengannya. Apa-apaan ini? Jangan bermesraan di depan umum! Lihat situasi dan kondisi dasar pasangan mesum! Ini penyimpangan, tak boleh dibiarkan.
Normal POV
"Hentikan Riruka! Kau membuatku malu, lepaskan!" Ichigo berusaha melepaskan diri dari cengkeraman monster yang tiba-tiba saja datang.
"Tidak akan! sebelum kau jawab pertanyaanku." Gadis yang dikenali namanya sebagai Riruka itu tetap teguh pada pendiriannya. Merantai lengan pria di sampingnya dan menempel seperti perangko pada suratnya.
"Kau merepotkan! Itu jawabannya, sekarang lepaskan aku. Aku perlu berbicara dengan seseorang di sana." Ichigo masih berjuang melepaskan rantai di lengannya. Dia menunjuk ke arah seseorang yang berdiri tak jauh di dekat vas bunga berukuran besar, tapi orang yang dimaksud tidak ada di sana.
"Tidak ada siapa pun di sana! Kau mencoba menghindariku ya?" Luapan emosinya tak bisa ditahan lagi, lalu gadis itu mengentak-entakkan kakinya ke lantai dan meninggalkan Ichigo sendiri.
Ichigo yakin ada seseorang di sana, lebih tepatnya ada dua orang. Yang satu memakai sweater polos berwarna hijau lumut dan yang satu lagi memakai mantel terusan berwarna biru terang sepanjang lutut. Apakah matanya mulai rabun? Itu mustahil.
Sekelebat memori mulai melintas di penglihatannya, seperti sebuah film lama yang diputar dengan Background bunga sakura yang gugur berjatuhan.
Dia ingat siluetnya dengan jelas.
Dia bahkan ingat bagaimana gadis kecil itu melantunkan melodi yang sampai saat ini masih terngiang di benaknya.
Dia juga ingat cara gadis kecil itu tersenyum mengucapkan sebuah rangkaian kalimat yang menjadi salam perpisahan mereka.
"Aku harap itu benar dirimu sensei, my little cherry blossom."
.
.
.
.
~To Be Continued~
.
.
.
.
(1) jisatsu : bunuh diri
A/N :
ngebosenin ya? maaf! maaf! *bungkuk dalam2*
sedikit cerita boleh ya? sebenarnya, fic ini terinspirasi setelah melihat performnya Ryota Yamazaki (kalau gak tahu siapa, ada di google kok). Sumpehhh keren bener, mangap2 mulut saya kayak ikan koi (?) dan tiba-tiba aja ada Rukia di sana *ini cuma khayalan Author yang ngelantur ke mana2*
ngomongin soal 'Shigatsu wa Kimi no Uso'/'Nodame Cantabille' saya kagak tahu, ada kemiripan dengan fic saya ya? *pundung di pojokan*
semuanya sekali lagi terimakasih banyak, yang udah kasih saran dan koreksinya. Maaf kalau chap yang ini masih ancur.
Balasan Review :
Darries: ada typo ya? hehe, maaf kalau bikin gak nyaman bacanya.
makasih atas sukanya, hmm kaya'nya iya deh XD
benarkah? semoga kagak sama.
ini udah update! semoga suka :)
Eikichi: uahhh! makasih sarannya. Shigatsu wa Kimi no uso? ntar saya cari deh. thank's karena mau nunggu, ini udah update (mudah-mudahan sesuai harapan, kalau tidak mampuslah saya)
Dearest: fic ini keren ya? *garuk2* Arigatou! ini udah update :D
Hendrik Widyawati: suka? hehehe makasih ... Ini udah Update XD
Special Thanks
Megumi Dee, Ella Mabby-Chan, Azura Kuchiki, Fumika Crisilia, XxStarTimeZhafirxX, Arisa Narahashi,
Darries, Eikichi, Dearest, Rini desu, Hendrik Widyawati, dan
Dhisty Yuri
segitu aja, Review please? XD
Sign,
Classie
