Title : We Are Family, aren't we?

Scriptwriter : sapi68

Main Cast: Lee Hyun Woo (actor) | Lee Donghae (Suju)

Sandara Park (2ne1) | Nam Ji Hyun (aktris)

Support cast : Your imaginations

Genre : Family, Brothership, Friendship, Romance

Duration:

Rating : R12

Summary

Berjalan ke barat. Gemar pada hal berbau seni

-Donghae

Berjalan ke timur. Gemar pada hal berbau sains

-Hyun woo


Hyun woo POV

"Seharusnya aku bisa sepertimu hyung... kalau saja" ujar hyun woo dalam hati. Ternyata, hyun woo merasa sangat iri pada donghae. Ia mengenang masa dulu ketika mereka bermain gitar sambil bernyanyi bersama, belajar menari bersama, seperti seorang saudara seharusnya.

"Hei! Katanya mau pulang cepat?" Jihyun mengagetkan hyunwoo dari lamunanya.

"Hei! Ia, yu pulang bareng?" ujar hyun woo menutupi kegugupanya.

Merekapun berjalan bersama menuju halte. Dihalte, hyunwoo masih saja memikirkan Hyung-nya.

"Kamu baik2 saja?" ujar jihyun terdengar khawatir

"Sejujurnya tidak juga.." Hyunwoo tahu, bagaimanpun ia berusaha berbohong pasti jihyun tahu jadi ia berusaha untuk jujur, meskipun ia tidak dapat sepenuhnya terbuka.

"Mari ikut aku" Ajak jihyun sambil menarik lengan hyunwoo.

Dengan ogah-ogahan ia mengikuti jihyun.

"Kita mau kemana?" teriaknya persis sepertoi korban penculikan.

Ternyata jihyun membawa ia ke sebuah toko musik, dimana mereka bisa mendengarkan CD, bahkan mencoba berbagai alat music. Hyunwoo yang sejujurnya juga kangen pada gitar akustik malu-malu memainkanya setelah dipaksa jihyun. Jihyun yang pandai bermain biola meminta hyunwoo untuk mengiringinya memainkan lagu. Lagu kesukaan hyunwoo , berjudul U dari Taemin, entahlah mungkin hatinya begitu lembut sampai ia juga menyukai lagu ini.

"Terimaksih ji hyun, kau selalu berada didekatku, dan tahu apa yang dapat membuatku bahagia seperrti saat ini… terimakasih" suara hati hyun woo sambil tersenyum sangat manis pada jihyun.

Tidak heran permainan baik mereka mengundang para pengunjung toko untuk berkumpul. Tidak disangka mereka terhibur sampai sampai ketika mereka selesai bermain para penonton memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.


Malam hari, di ruang makan

"Lee donghae! Dari mana saja kau? Cepat makan kemari" Ayah

Tanpa berkata apa-apalagi donghae langsung menuju ruang makan, dan memberikan salam hormat pada ayahnya dan langsung makan. Tanpa sedikitpun menoleh pada adiknya yang menunggunya.

"Ayah, aku tadi… " donghae

"Sudahlah, cepat selesaikan makanmu. Nanti kita bicara. " ujar ayahnya, dan berlanjut "Kau harus mencontoh adikmu. Dia pandai dan menjadi idola guru. Kalaupun aku dipanggil kesekolah karena dia, itu pasti karena ia mendapat penghargaan. Bukan sepertimu yang malah mendapat hukuman. Ayah, kecewa hae!"

Tanpa mendengar penjelasan Donghae ayahnya terus saja membanggakan putera keduanya, Lee Hyun Woo.

"Sudahlah, suamiku!" sergah ibunya setengah teriak.

"Kita dengarkan dulu penjelasanya nanti. Sekarang kita makan dulu. Ayo berdoa" Merekapun makan dalam hening.

Hyun woo yang juga berada disitu sejujurnya merasa tidak enak. Bukan seperti itu maksudnya.

Donghae hanya bisa menghela nafas, berusaha tidak mendengarkan ayahnya.


Donghae POV

Malam harinya, Donghae tidak bisa tidur. Ia memikirkan kejadian 3 tahun lalu. Saat itu aku kelas 3 SMP dan Hyun Woo kelas 1 SMP. Ketika tiba-tiba Ayahnya pulang membawa seorang anak lelaki pemalu berumur 12 tahun.

Ibu dan Donghae terkejut mendengar penjelasan ayahnya. DOnghae tau, ibu sangat terluka setelah mengetahui bahwa ayahnya, seorang direktur, peengusaha sukses negeri ini, memiliki seorang selingkuhan, dan bahkan ia memiliki anak yang usianya hanya terpaut dua thaun. Bahkan pernikahan keduanya juga sah. Entahlah, malam itu, aku tahu hati ibu hancur. Begitupula hatiku.

Seiring hari berlalu, ia bisa melihat ibunya yang seperti malaikat, meski ia benci wanita itu, itu tidak membuat ibu membenci hyun woo, apalagi setelah mengetahui hyunwoo kini piatu ibu menyayanginya. Hal itu membuatku poerlahan membuka hatiku untuk dia.

Dia juga anak yang baik dan hangat.

Mengetahui hobiku menari, hyun woo juga kadang ikut berlatih menari, ia minta diajarkan setiap aku punya gerakan baru. Aku sangat sayang padanya, dan aku tahu perasaanku padanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Tidak hanya menari, aku yang juga gemar music sering mengajaknya bermain. Lamakelamaan hyun woo bahkan mahir bermain gitar akustik. Kalau sudah begitu aku akan mengambil bass, dan kami berduet bersama sambil mengiringi aku bernyanyi.

Aku memiliki hari-hari yang indah saat itu.

Sampai suatu hari, keluarga kami sedang berkemah dihutan. Aku dan Hyun woo bersepeda kehutan, meski pada awalnya ayah melarang, tapi aku tetap bersikeras. Kemudian Hyunwoo dengan sukarela mengajukan diri menemaniku, akhirnya ayah mengizinkan kami dengan syarat saling menjaga satu sama lain.

Tanpa diduga, sepede ku terpelset, sepedakupun jatuh kejurang beruntunglah aku dapat berpegangan ke akar pohon, hyunwoopun menyelamatkanku saat berusaha menarikku ia tidak sengaja terpeleset hingga dirinya terperosok kesebuah lubang dan mengalami patah tulang dan pendarahan dalam di tulang kering dan tumitnya. Hari itu, aku mengutuk diriku sendiri karena tidak mendengarkan kata-kata ayah.

Kami segera melarikan hyun woo kerumah sakit. Sejak saat itu, hyun woo dilarang menari oleh dokter.

Aku rasa, mulai hari itu ia membenciku. Aku akui, itu wajar…

1 bulan lamanya, hyun woo tidak dapat kesekolah. Satu sekolah yang tahu hal itu menitipkan salam dan doa padanya lewat ku. Mereka tahu kami saudara kandung, yah kau tahu di beberapa bagian kata saudara itu memang benar di beberapa tempat.


Hyun Woo POV

Pada jam yang sama, di kamar tidurnya.

"Hyung maafkan aku.. aku tahu tidak seharusnya aku bersikap seperti itu, dahulu…"

Hyun woo pun terbang kemasa lalu, sekitar 2 tahun yang lalu. Hari itu, hari pertama aku masuk ke sekolah setelah 1 bulan meliburkan diri akibat sebuah kecelakaan.

Aku yang sangat marah dan frustasi akibat tidak bisa lagi menari, semakin marah hari itu akibat adanya audisi tari. Hyung? Dia tentu saja mengikutinya. Ia bahkan menang.

Teman-teman sekelas sepertinya lebih perhatian pada kemenangan Hyung daripada kesembuhanku. Jadi saat teman-temanku bertanya apakah aku bangga pada hyungku, aku menjawab dia bukan hyungku dan menceritakan hal "sebenarnya" yang ku ketahui.

Aku tahu hari itu aku bohong, rumor segera menyebar. Bahkan satu sekolah mulai membicarakan Hyung dibelakangnya. Ia juga dijauhi kawan-kawannya. PAdahal aku hanya bilang ibuku dan ibunya berbeda. Dan bodohnya, aku bilang ibu Donghae lah yang selingkuhan.

Hah bodohnya aku, bodohnmya aku yang dikendalikan hawa nafsu dan amarah.

"Omma, apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan hyung ku?"

"Omma, aku salah kan? Maafkan aku omma…"

"Ji Hyun, apa yang harus aku lakukan?"