"Permisi.."
Junsu dengan hati hati membawa tubuh Jaejoong kedalam ruang uks, dan melihat seorang petugas yang sedang berjaga juga turut segera membantu Junsu membaring kan Namja cantik yang s sedang pingsan ini ke ranjang uks.

"Dia kenapa?"
Tanya petugas uks sambil menyentuh dahi Jaejoong guna,memastikan namja cantik tersebut demam atau tidak.

"Dia pingsan setelah melihat luka ditanganku yang sedikit berdarah" jelas Junsu sambil memperlihatkan tangannya.

"Hmm, jadi dia phobia pada darah"

"Iya"

Kemudian petugas itu mulai mengobati luka Junsu dengan perlahan.

Tak berapa lama kemudian, petugas beranjak dari tempatnya.
"Aku harus kembali ke kelas, jadwal jagaku sudah habis.. kalau dia sudah sadar dia bisa kembali ke kelasnya, oh dan jangan lupa untuk mengisi buku kunjungannya ya..aku pergi dulu.."

Kemudian ia berlalu menuju ke ruang kelasnya,meninggalkan Junsu sendirian menjaga Jaejoong.

Namja imut itu kemudian mengambil buku agak tebal berwarna merah yang berisikan daftar Setiap siswa yang berkunjung, kemudian menuliskan namanya dan Jaejoong dalam buku tersebut.

"Ung.."

Terdengar lengkuhan dari namja cantik yang sedang terbaring di ranjang uks. Matanya,mulai mengerjap pertanda namja tersebut akan bangun dari pingsannya.

"Jongie.. kau sudah sadar.."
Junsu menghampiri dan membantu Jaejoong untuk duduk.
Jaejoong melihat sekelilingnya sambil mengerjabkan matanya agar dapat kembali fokus.

"Ini di mana Suie"

" uks.. kau pingsan tadi"

"Oh"
Jawab namja cantik itu singkat seperti telah terbiasa dalam situasi seperti ini.

"Kalau begitu aku akan sekalian daftar sebagai pengurus uks."

Junsu memukul kepalanya tak menyangka bahwa namja cantik ini masih tidak menyerah atas keinginannya tersebut padahal dirinya baru saja pingsan akibat phobianya.

"Jongie..-"

Belum selesai Junsu melanjutkan ucapannya, pintu uks terbuka menampilkan namja dengan mata musang yang sedang memegang hidungnya yang tak henti hentinya mengeluarkan darah.

Krieettt

"Permisi..apa kau petugas yang sedang jaga.?"

Namja tersebut menunjuk Junsu sambil berjalan menuju ranjang kosong di sebelah Jaejoong dan Junsu.

Ia berjalan semakin mendekat dan darah yang terlihat di seragam dan sapu tangannya yang berwarna putih itu semakin jelas terlihat oleh Jaejoong dan Junsu.

Junsu hendak menjawab saat kemudian Jaejoong kembali tak sadarkan diri.

"Um.. bukan aku-"

Bruk

"Jaejoong.. aish.. baru juga dibilangin"

"Eh..eh.. dia kenapa?"

Yunho yang terlihat kebingungan dan khawatir menghampiri Junsu yang sedang membenarkan posisi Jaejoong yang kembali pingsan di ranjang uks.

Sadar bahwa ia tidak sendirian dalam ruangan ini, kemudian menoleh kearah Yunho yang masih memasang wajah bingung dan khawatir nya.
Tapi, tunggu...cairan apa yang mengalir dari hidung Yunho?

"Ya! Jangan biarkan mimisanmu menetes seperti itu donk."

Yunho yang tersadar, langsung kembali membuntu hidungnya dengan sapu tangan yang sedari tadi ia bawa.

"Anak ini takut sekali akan darah, ia juga memiliki anemia"
Ucap Junsu memecah kesunyian yang terjadi diantara mereka, serta guna menjawab pertanyaan Yunho tadi.

"Haahh"
Junsu menghela nafasnya sembari membenarkan posisi selimut Jaejoong dan merapikan rambut yang menutupi poninya.

"Padahal ia akan pingsan jika melihat darah sedikit saja.. tapi.. ia tetap bersikeras untuk menjadi pengurus uks"

"Wah..wah.. cantik sekali" gumamnya dalam hati

Yunho yang sedari tadi memerhatikan interaksi kedua orang tersebut, kemudian memperhatikan Jaejoong dengan tatapan yang sulit diartikan. Entahlah apa yang dipikirkannya saat itu setelah mendengar ucapan Junsu, entah ia kagum akan motivasi Jaejoong untuk menjadi pengurus uks dan betapa cantiknya namja tersebut atau ia merasa kasihan kepadanya yang dengan begitu mudahnya bisa kehilangan kesadaran.

"Oh iya, maaf tapi aku bukan pengurus uks, aku hanya menjaganya. Kebetulan pengurus yang berjaga belum datang"

"Oh tidak apa, aku bisa mengobati sendiri, aku sudah biasa."

Yunho kemudian berjalan menuju rak obat obatan mencari obat yang tepat serta tak lupa ia membawa kotak p3k yang tersedia kemudian membawanya ke meja yang tersedia.
Tak berapa lama kemudian mimisannya berhenti dan Yunho mulai memberikan obat di daerah hidungnya yang terluka akibat sodokan benda saat di kantin tadi.

"Oh ia, nama kamu dan temanmu itu siapa? Emm, aku Yunho, Jung Yunho kelas 3-a"

"Ah.. aku Kim Junsu dan ia Kim Jaejoong kami kelas 1-a, sunbae"

"Cukup panggil hyung saja, oh ia aku sudah selesai, ini tolong berikan untuk temanmu itu, saat ia sudah sadar nanti. Maaf sudah membuatnya takut dan pingsan lagi"

Yunho kemudian menyodorkan origami berbentuk angsa yang tadi dilipatnya dengan kertas bekas di meja.

Junsu menerimanya dengan raut wajah yang kebingungan dengan sikap si sunbae yang baru dikenalnya tersebut, kemudian memasukkan origami tersebut kedalam saku jasnya dengan hati hati.

"Terima Kasih sunbae, ah maksudku hyung"

Yunho tersenyum kemudian beranjak keluar dari uks.

Junsu hanya memperhatikan punggung Yunho yang menghilang dari balik pintu uks, kemudian beralih menghadap Jaejoong.

"Huh.. Jongie pasti masih lama sadarnya. Sebaiknya aku ikutan tidur saja, lumayan bisa bolos"

Junsu lalu merebahkan diri di ranjang sebelah. Dan perlahan memejamkan matanya.

*kelas 3-b*

Yunho kembali kedalam kelasnya yang masih ramai karena guru yang mengajar tidak dapat hadir sehingga menggantinya dengan tugas.
Terlihat duo Changmin dan Yoochun sedang bercanda ria dengan sesekali mengerjakan tugasnya.
Diantara mereka bertiga Changmin lebih muda 1 tahun dari mereka, karena otaknya yang encer Changmin dapat sekelas dengan kedua teman yang dianggap hyungnya sendiri tersebut.
Kalau Yoochun sebelas duabelas lah dengan Yunho. Pintar tapi gak menonjol banget kayak Changmin.

"Yunho hyung, sudah mendingan" tanya Changmin ketika melihat Yunho yang memasuki kelas dan menuju bangkunya yang berada di dekat Yoochun.

"Hmm.. " jawabnya singkat.

Tak berapa lama setelah mereka bertiga selesai mengerjakan tugas, Yunho bertanya kepada dua sahabatnya tentang kondisi namja cantik yang ditemuinya tadi.

"Hmm, Changmin ah.. apakah phobia akan darah bisa disembuhkan?"

Changmin yang sedang menikmati cemilan nya menatap Yunho dengan pandangan sedikit heran, mengapa hyungnya bertanya begitu, tidak mungkin kan jika ia phobia terhadap darah sementara dia sendiri setiap hari selalu berdarah. Begitulah pikir Changmin.

"Tergantung penderitanya hyung"

Yunho mengernyitkan kedua alisnya, karena tak mengerti dengan ucapan Changmin.

"Maksudmu?"

"Maksudku, pada dasarnya semua phobia itu bisa sembuh jika penderitanya mampu menghalau ketakutannya, tapi bisa juga disembuhkan melalui pengobatan dan juga terapi"

Yunho yang menyimak penjelasan dari Changmin terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu. Yoochun yang merasa tindakan Yunho yang sedikit aneh mulai curiga terhadapnya, jangan jangan ada sesuatu ketika di uks tadi.

"Memang ada apa Yun?"

"Ti..tidak ada apa-apa, aku cuma penasaran saja"
Elak Yunho secara langsung ketika mendapati Yoochun mulai curiga padanya.

Dalam hati ia sedikit bersedih karena dia tidak dapat dekat-dekat dengan malaikat cantik yang ditemuinya tadi.
Secara, dia adalah orang yang sering terluka. Dan ia tidak mau sampai melihat malaikatnya ketakutan seperti tadi.

"Huft... kenapa kita seperti magnet yang berlawanan arah..?Kim Jaejoong.. malaikatku.."

*uks*

Seorang namja cantik sedang mengerjakan matanya pertanda ia akan segera tersadar dari pingsannya.

"Suie.."

"Jongie, sudah sadar? Masih pusing?"
Tanya Junsu pada namja cantik tersebut yang dibalas dengan gelengan kepalanya.

"Minum obat dulu!"

Junsu langsung memberikan segelas air dan juga sebuah obat penambah darah.
Jaejoong langsung meminum obat itu dan sedikit merebahkan diri pada sandaran ranjang uks.

Junsu mengamati Jaejoong dengan seksama.

"Jongie, apa kau tetap mau menjadi pengurus uks ?"
Tanya Junsu meyakinkan

"Iya"
Ucap Jaejong mantab, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Setidaknya aku ingin mengobati luka orang yang aku cintai"

Junsu memandang agak sendu kepada namja cantik di depannya ini, karena hal itu adalah hal yang mustahil jika kondisinya seperti ini. Namun ia memilih diam tidak menyanggah ucapannya, karena bagaimanapun ia sangat menyayangi Jongie dan tak ingin namja itu bersedih

"Emm, Suie, bagaimana dengan siswa tadi?"
Tanya Jaejoong yang mengingat kejadian sebelum ia pingsan untuk kedua kalinya.

"Oohh.. ia sudah pergi, tadi ia merasa gak enak karena sudah membuatmu takut "maaf" katanya"

Junsu kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

"Ini"
Ia memberikannya pada Jaejoong, origami angsa yang tadi diberikan oleh Yunho.

"Dia semangat sekali melipatnya, dari kertas bekas yang ada di situ"
Ucap Junsu menunjuk tumpukan kertas tak terpakai di atas meja.

Jaejoong menatap origami angsa yang kini ada ditangannya.

"Hihi angsa yang jelek sekali"

"Namanya siapa? Suie..?"

"Hmm.. aku agak lupa, sebentar aku ambilkan buku hadir uks.."

Junsu beranjak mengambil buku agak tebal yang tadi ia gunakan untuk menulis namanya dan Jaejoong.

"Ini Jung Yunho"
Junsu memberikan daftar tersebut.

"Jadi namanya Jung Yunho ya"

"Padahal akulah yang pingsan begitu melihatnya, seharusnya akulah yang harus minta maaf"

Gumam Jaejoong sembari memperhatikan origami angsa di tangannya.

Tbc