Naruto :: Anakku di Masa Depan!
A Naruto Fanfiction by Tobi Tobio.
•
•
•
A/N ::
• Alur tidak sejalan dengan Anime/Manga.
• Kejadian di ambil secara acak/tidak berurutan. Dengan sedikit pengembangan sesuai imajinasi Author.
• Ide Time Travel dan pasaran. Tapi semoga penyajiannya tidak pasaran.
•
•
•
Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).
Update tidak menentu karena terbentur kesibukan Dunia Nyata.
Tapi bisa di pastikan Fict Tobi tidak akan DisKon. Hanya saja Update sedikit lambat.
•
•
•
Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)
•
•
•
Nice fic, jarang loh ada yg buat fic BS(BoruSara), yup lanjutkan thor
Ah iya terimakasih. Hmm ... Entahlah, Tobi sendiri tidak pernah memperhatikan Fair, jadi tidak terlalu tau. Hahaha.
Kyaaa Time Traveeeelll... Aku sukaaaa..
Fanfic ini jangan di gantung. Jangan pernah di gantung ya author-san. Lanjut sampai enddddd..
Yosh aku nunggu..
Siap. Gak akan DisKon kok. Hanya saja Update lambat, karena terbentur kesibukan Duta.
Author tobi kok inojin jadi cewe kan inojin itu cowok!
Critanya bagus! Next Chap Fast Update!
Iya, maaf atas kesalahan itu. Tobi khilaf *plaakk*
Lanjutttt penasaran bgt kak
Ceritanya bagus tapi masak si hinata jadi kek gt tapi bagus kok
Hmm .. Soal Hinata, sebenarnya itu sifat istri sepupu Tobi yang kebetulan juga temen masa SMA dulu. Dia itu kalem dan lemah lembut, juga baik. Pokoknya Hinata banget deh. Tapi pas udah merit dan saat ini udah mengandung, sifatnya sedikit berubah. Rada berani menggerutu sama sang suami. Nah Hinata Tobi buat seperti itu. Baru hamil aja udah gitu, apalagi punya dua anak kan? Hahaha.
Maaf untuk yang belum sempat Tobi balas Reviewnya, Tapi Tobi baca kok ^-^
Dan terimakasih untuk Reader-San yang mau menunggu kelanjutan fict ini. Juga dengan pujuan-pujian yang Reader-San berikan. Jujur saja Tobi sangat senang dengan itu. Tidak ada yang lebih menyenangkan untuk Tobi selain, karya Tobi bisa diterima. Terimakasih!
•
•
•
Ingin mengenal Tobi lebih jauh silahkan cek ini (ini FB Tobi).
m(titik)facebook(titik)com/profile(titik)php?fref=nf&ref_component=mbasic_home_header&ref_page=%2Fwap%2Fhome(titik)php&refid=8
Atau cek ini (ID FB Tobi).
100007211745260 :: Keristanto (Heru).
Kalau begitu silahkan menikmati dan salam kenal dari Tobi. Membutuhkan fast respon dari Tobi? Bisa hubungi Tobi di FB, karena akun FFN cuma di buka hanya saat update Fict.
•
•
•
Anakku di Masa Depan.
Chapter 2.
Langit Malam itu terlihat begitu indah. Bintang-Bintang dan Bulan seperti sedang berlomba untuk memancarkan sinar mereka. Sarada terlihat berdiri di bawah sebuah pohon yang cukup rindang dan gelap, untuk menyamarkan kehadirannya. Sebuah Rangsel besar terlihat menghiasi Punggung anak itu. Setelah beberapa saat menunggu, kini terlihat Boruto berlari menghampirinya, juga dengan sebuah Rangsel besar. Agaknya dua bocah ini akan melakukan perjalanan jauh.
"Kenapa kau lama sekali, Boruto!" teriak Sarada saat melihat kehadiran bocah pirang itu. Sementara Boruto hanya mesem-mesem tak jelas seraya menggaruk Rambutnya yang tak gatal.
"Hehehe~ maaf Sarada, aku harus mengalihkan perhatian ayahku dulu" ucapnya.
"Hah ... Ya sudahlah, jadi bagaimana?". "Kau sudah mendapatkan Alat itu?"
"Hehehe~" bukannya menjawab, Boruto kembali tertawa garing mendengar pertanyaan Sarada.
"Soal itu ..."
•
Naruto :: Anakku di Masa Depan!
A Naruto Fanfiction by Tobi Tobio.
•
"Huh! Kufikir kau sudah memiliki alat itu, ternyata belum!" umpat Sarada seraya berlari bersama Boruto memecah kegelapan Malam. Tujuan mereka saat ini hanya satu, yaitu Ruang Penyimpanan Rahasia. Tempat dimana alat yang mereka cari berada.
"Tapi apa benar ini jalannya?". "Kita sudah melewati Kantor Hokage loh?!"
"Tenang saja. Kau jangan meremehkan anak Hokage sepertiku!". "Ini adalah jalan Tikus yang kuciptakan agar tidak ketauan Penjaga!" balas Boruto dengan bangganya.
"Nah sekarang kita tinggal memanjatnya!". "Ruang Penyimpanan Rahasia, ada di lantai atas" lanjut Boruto setelah sampai di tempat yang dimaksud. Sarada menatap Ruangan yang di maksud Boruto, dan alangkah terkejutnya gadis berkacamata itu karena Ruangan yang di tunjuk anak bersurai pirang itu, sangat tinggi sekali.
"Apa kau gila hah!". "Ini sangat tinggi. Bagaimana kita memanjatnya!" teriak Sarada penuh emosi, karena merasa tidak mungkin mereka bisa menuju tempat yang di maksud.
"Stttt!" Boruto membekap Mulut gadis itu meski pun sedikit terlambat.
"Jangan berteriak-teriak seperti itu!". "Nanti kita ketauan!" lanjutnya.
"Eumh! Mmmhhh! Mmhhh! Mmmmmhhhhhh!"
"Hey. Hey. Hey ... Iya, iya. Aku tau". "Kau tidak usah khawatir, aku sudah terbiasa memanjat seperti ini, Patung Pahatan Wajah Hokage pun aku bisa melakukanya. Apa lagi Gedung ini?!" bisik Boruto.
"Kau tenang saja. Serahkan ini padaku" lanjutnya. Sarada terlihat mulai tenang, dan bekapan Mulut gadis itu pun mulai di lepaskan Boruto.
"Hemph!"
Anak pirang itu mulai membongkar isi Rangselnya, dan mulai menyiapkan segala persiapan untuk Mendaki Gedung itu. Sarada hanya diam saja memperhatikan kesibukan bocah pirang itu, agaknya anak gadis berkacamata itu masih kesal dengan Boruto. Setelah beberapa saat Boruto selesai dengan pekerjaannya. Di Tangannya kini terdapat Tali yang cukup panjang dengan sebuah alat pengait di salah satu ujungnya, tanpa berlama-lama lagi anak itu mulai melemparkan Talinya, namun percobaan pertama gagal. Begitu pun dengan percobaan ke dua, ke tiga dan seterusnya.
Pletaakkk!
"Awww!" desis Boruto saat alat pengait yang di lemparnya nyasar tepat di Kepala pirangnya.
"Aduuuhh~ sakit sekali!" gumam anak itu sambil mengusap-usap Kepalanya yang benjol. Sarada mendesah lelah melihat tingkah Boruto, sepertinya kegagalan itu membuat moodnya rusak.
"Sudahlah ini tidak akan berhasil" ucapnya seraya mulai beranjak pergi, meninggalkan bocah pirang itu yang saat ini masih sibuk dengan sebuah benjolan di Kepalanya.
"Eh!". "Tunggu. Apa kau akan menyerah begitu saja? Apa kau tidak penasaran dengan Wajah ayahmu?" tanya Boruto seraya menggenggam Tangan Sarada. Gadis itu berhenti berjalan. Bukan karena Boruto, tapi karena Sarada menghentikan langkahnya. Ucapan Boruto kembali menguatkan semangatnya untuk bertemu sang ayah.
"Berikan padaku!" Sarada langsung merebut Tali yang di genggam Boruto. Dan dengan sekali percobaan gadis itu langsung berhasil mengaitkan Tali itu. Boruto berdecak kagum dengan kehebatan Sarada yang sukses dalam sekali percobaan.
"Keren~"
"Hemph!". "Lalu sekarang bagaimana?"
"Ah!". "Baiklah" ucap Boruto seraya menalikan ujung lain dari Tali itu pada Pinggangnya. Dan setelah selesai, bocah itu segera melakukan hal yang sama pada Pinggang Sarada.
"Eh?!". "Apa yang—"
"Ini agar kita selamat" potong Boruto.
"Apa terlalu keras?"
"T-tidak ..." entah kenapa Sarada terlihat malu saat bocah pirang itu menalikan Tali yang sama di Pinggangnya. Sarada seperti melihat sisi lain dari Boruto. Yap, Boruto yang selalu terlihat bodoh dan berisik dengan berbagai tindakannya untuk mencari perhatian sang ayah kini terlihat baik dan penuh perhatian. Jujur saja ini membuat gadis itu merasa aneh.
"Kenapa?". "Merasa aku terlihat Keren?" tanya Boruto dengan percaya dirinya.
"Bodoh!" balas Sarada seraya membuang Mukanya, meyembunyikan Wajahnya yang merona merah.
'Aku menyesal memikirkannya!'
"Ya sudah ... Ayo kita mulai!" Tanpa membuang waktu lagi bocah kuning itu segera memanjat Dinding itu dengan bantuan Tali itu. Mereka berdua kini terlihat seperti Agen rahasia yang sedang melaksanakan Misi super rahasianya. Sudah sampai setengah dari tinggi Dinding yang harus mereka panjat, dan kini Boruto barulah merasakan kesusahan untuk mencapai tujuan mereka.
'Astaga! Sarada berat sekali!'. 'Dia pasti banyak dosa!' batin Boruto yang mulai kepayahan memanjat Dinding itu bersama Sarada.
Lima belas menit kemudian. Setelah melalui perjuangan besar Ahirnya Boruto berhasil melewati rintangan pertama dan berhasil masuk ke dalam Ruangan Penyimpanan Rahasia. Dengan nafas yang terengah-engah bocah pirang itu tersenyum penuh kemenangan pada Sarada, seolah-olah, keberhasilannya adalah sesuatu yang patut di banggan.
"Berhenti memasang Wajah seperti itu. Bodoh!" Meski kembali menyuarakan umpatannya, Sarada merasa jantungnya berdetak cepat saat melihat senyum Boruto beberapa saat lalu. Senyum itu, membuatnya terlihat sangat tampan. tapi saat kini melihat bocah pirang itu sedang pundung, entah kenapa Hatinya merasakan kehangatan. Hingga tanpa sadar, gadis itu tertawa penuh kebahagiaan.
"Hihihi~" tawa Sarada. Boruto mengalihkan pandangannya pada anak gadis itu, dan alangkah terkejutnya bocah itu karena kini Sarada terlihat sangat bercahaya dan hidup. Yap, jangankan tertawa, tersenyum saja Sarada tidak pernah setulus ini. Tapi yang dilihatnya saat ini ...
"Cantik ..." gumam Boruto tanpa sadar, seraya terus memandangi Wajah gadis itu.
"E-eh!". "A-apa—"
"A-aku ... Eumh~ Ah!". "S-sudahlah. Ayo kita cari alat itu" ucap Boruto seraya mulai berjalan menjauh untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi. Sarada pun melakukan hal yang sama, tapi karena dia tidak tau bagaimana bentuk dan rupa alat yang mereka cari, Sarada hanya memegang secara acak alat-alat yang menarik perhatiannya, lalu memperlihatkannya pada Boruto.
"Bukan ..."
"Tidak"
"Salah ..."
"Bukan itu!"
"No ..."
"Huh!". "Yang mana sih!" gerutu Sarada dengan kesalnya. Karena sedari tadi, setiap benda yang di tunjukannya selalu salah. Tapi ...
"Ahirnya!" teriak Boruto dengan girangnya, saat menemukan alat yang di maksud. Teriakan bocah itu cukup nyaring, bahkan teriakan Boruto mungkin sampai terdengar ke luar. Buktinya, Penjaga Ruangan itu mulai terlihat panik.
"Hoy! Siapa di dalam?!". "Maling ya?!"
"Bodoh!". "Tidak usah bertanya, langsung saja tangkap mereka. Aku akan melapor pada Hokage-Sama dulu" ucap dua Penjaga Ruang Penyimpanan Rahasia. Salah satu dari mereka segera berlari meninggalkan temannya yang saat ini sedang membuka Pintu Ruangan itu dengan paniknya. Yap, kepanikan itu membuat sang Penjaga kesulitan mencari Kunci yang benar, mengingat Kunci yang di peganggnya cukup banyak, dan tergabung dalam sebuah Gelang besar.
"Sial. Yang mana sih Kuncinya!" desis Penjaga itu. Karena selalu salah saat memasukan Kunci yang di pegangnya.
"Bodoh!". "Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?! Kita jadi ketauan tau!" damprat Sarada.
"Ah!". "Kau sendiri malah berteriak"
"Huh. Ini bukan saatnya untuk itu, sekarang bagaimana?!". "Kita akan tertangkap sebelum berhasil pergi ke masa lalu!"
"Santai. Lagi pula kita sudah dapat alatnya kan?" ucap Boruto dengan santainya, seraya menunjukan sebuah alat yang mirip dengan Laptop. Boruto lalu membuka alat itu, dan mulai sibuk untuk menggunakan alat Penjelajah Waktu yang di ciptakan Sai dan Ino itu.
"Hei, kau bisa tidak?". "Kau terlihat asal-asalan!" tanya Sarada. Gadis itu terasa kurang yakin dengan apa yang di lakukan Boruto.
"Tenang saja. Kurasa ini sama saja dengan Laptop yang di miliki Tou-San". "Kau tau, aku sering meminjamnya untuk bermain Game!"
"Selesai!" lanjutnya. Kini Boruto dan Sarada terlihat menunggu, tapi sayangnya tidak terjadi apa-apa. Tidak ada tanda-tanda jika alat itu akan memindahkan mereka. Sementara di luar, kini sudah terdengar semakin heboh. Bahkan suara Naruto sayup-sayup sudah terdengar di Telinga mereka.
"Kamfreett!". "Kenapa tidam bisa!" teriak Boruto dengan kesalnya.
"Sudah kubilangkan lakukan yang benar!" balas Sarada juga dengan kesalnya. Saat sedang bertengkar dalam kepanikan mereka, Layar dari alat itu mulai bercahaya, seolah-olah men-scann Tubuh ke dua anak itu.
"Eh?!" Boruto dan Sarada terlihat terkejut dan menghentikan pertengkaran mereka. Sementara di luar.
"Sedang apa kau berada di sini?" tanya Naruto yang baru sampai di tempat itu, bersama Penjaga yang tadi menyusulnya.
"Ah. Maaf Hokage-Sama, Saya belum menemukan Kunci yang cocok"
"Cih!" Naruto terlihat kesal dengan jawaban Penjaga itu. Dan dengan sekali tendangan keras, sang Hokage berhasil mendobrak Pintu itu. Dan setelah berhasil membuka Pintu dengan paksa, kini pandangan Naruto di hiasi oleh kehadiran Boruto dan Sarada yang Tubuhnya sedang terselimuti Cahaya berwarna biru terang.
"Boruto, Sarada-Chan. Kalian ..." gumam Naruto cukup terkejut karena yang berhasil menyusup ke Ruangan itu adalah anaknya dan anak sahabatnya sendiri. Tapi sebelum Naruto kembali mengucapkan kalimatnya, Boruto dan Sarada sudah menghilang dari tempat itu.
"Tiidaaaakkkk!"
Malam semakin larut, tapi meski begitu, Konoha tidaklah tenang. Terlebih lagi untuk Ninja dan ANBU. Mereka terlihat berlarian kesana kemari, meloncari Atap Rumah penduduk, atau tempat-tempat tak lazim lainnya, asalkan itu bisa di jadikan tempat tumpuan kaki mereka. Yap, dengan cepat berita tentang penyusupan Boruto dan Sarada ke tempat Ruang Penyimpanan Rahasia sudah menyebar. Agaknya itulah penyebabnya Konoha terlihat sangat sibuk di Malam hari seperti ini.
Di Kantor Hokage.
Naruto terlihat sedang duduk di tempatnya. Jarinya terlihat mengetuk-ngetuk Meja untuk mengusir rasa panik dan khawatirnya. Sementara di sudut lain Kantor Hokage, Hinata dan Sakura sedang duduk di sebuah Kursi panjang dengan Tangan yang saling menggenggam untuk sedikit berbagi rasa cemas mereka pada ke dua bocah itu. Shikamaru dan Sizune juga terlihat berada di sana. Meski banyak orang di dalam Kantor Hokage, tidak ada satu pun dari mereka yang suara. Mereka larut dengan fikirannya masing-masing.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Shino dan Kiba memasuki Kantor hokage setelah terlebih dahulu mengetuk Pintu. Semua Mata dari para Shinobi dan Kunoichi yang ada di tempat itu langsung mengarah mereka. Bahkan Naruto langsung bangkit dari duduknya saat dua Shinobi tipe Sensorik terbaik di Konoha itu memasuki Ruangannya. Sepertinya kedatangan Kiba dan Shino sudah di tunggu-tunggu oleh mereka.
"Bagaimana?!" tanya Naruto. Terlihat jelas jika Hokage ke tujuh itu tidak sabaran untuk menunggu laporan ke duanya.
"Tidak ada. Serangga-Seranggaku tidak bisa menemukan Chakra Boruto dan Sarada di sekitar Konoha"
"Yah aku pun begitu. Aku dan Akamaru tidak bisa mencium bau mereka. Hoaammm~". "Sepertinya mereka benar-benar melakukan penjelajahan waktu" ucap Kiba menyerukan pendapatnya, setelah terlebih dahulu melaporkan hasil kerjanya.
"Tapi bagaimana bisa?". "Bukankah saat dulu Naruto mencobanya, dia hanya berpindah tempat dan tidak berhasil melakukan penjelajahan waktu?!" Shikamaru mulai berbicara saat Kiba sudah selesai dengan kalimatnya. Yap, perlu diketahui. Naruto sebelumnya sudah mencoba alat penemuan Sai dan Ino itu, namun hasilnya gagal. Naruto hanya berpindah tempat dari Atap Kantor Hokage ke Hutan Kematian.
Lalu kenapa Boruto dan Sarada bisa?
Kenapa mereka memiliki hasil yang berbeda meski memakai alat yang sama?!
"Sial. Harusnya aku menghancukan alat itu!" desis Naruto dengan geramnya. Pandangannya lalu melirik pada sang istri dan sahabatnya. Mereka, Hinata dan Sakura terlihat semakin cemas.
"Bagaimana ini, Hinata?". "Apa yang harus aku katakan pada Sasuke-Kun?" ucapnya penuh kecemasan. Hinata hanya mengusap punggung wanita bersurai pinky itu. Sebagai seorang Ibu yang juga memiliki nasib yang sama, Hinata sama sekali tidak tau harus mengatakan apa, karena saat ini perasaannya pun sama cemasnya dengan Sakura.
"Panggil Sai dan Ino!" perintah Naruto tiba-tiba.
"Shikamaru, pilih Ninja yang cocok untuk menggantikan Misi yang mereka jalankan!" lanjutnya, Shikamaru langsung mengangguk tanggap atas perintah sang Hokage ke tujuh itu. Setelah itu, Penasehat Hokage itu mulai pergi meninggalkan Ruangan Hokage untuk mengerjakan perintah Naruto. Tapi sebuah interupsi Naruto kembali menghentikan langkahnya.
"Tunggu Shikamaru. Panggil juga Sasuke!"
"Hah~ baiklah"
•
Naruto :: Anakku di Masa Depan!
A Naruto Fanfiction by Tobi Tobio.
•
Sebuah Aurora tiba-tiba tercipta di dalam Hutan, Boruto dan Sarada terlihat terlempar dari Aurora itu. Sayangnya masalah datang, karena mereka jatuh di tempat yang salah. Yap, mereka jatuh dari ketinggian yang extrim. Sementara tidak jauh dari tempat itu, Terlihat Tim tujuh sedang berjalan dengan santainya, setelah melaksanakan Misi mereka untuk mengantarkan Tazuna yang berujung pada pertarungan hidup dan mati melawan Zabuza dan Haku.
"Eh?". "Apa itu?" gumam Naruto saat melihat penampakan Aurora tadi yang kini sudah kembali menghilang, setelah melemparkan dua bocah tadi.
"Aurora?" gumam Sakura.
"Sepertinya ada yang jatuh dari Aurora itu, Ayo kita periksa!" ucap Naruto seraya berlari ke arah Aurora tadi. Sementara Kakashi dan Sasuke hanya diam saja dan tidak berkomentar sedikit pun. Termasuk saat melihat Naruto berlari ke arah Aurora itu.
"Hey Naruto, tunggu dulu!". "Huh! Anak itu ... Dasar!" ucap Sakura dengan sebalnya, karena teriakannya tidak di gubris sedikit pun oleh Naruto.
"Yah, mau bagaimana lagi". "Ayo susul Naruto" ucap Kakashi pada ahirnya. Mau tidak mau Sakura dan Sasuke harus menuruti perintah sang Sensei, meski sebenarnya mereka enggan untuk melakukannya. Jujur saja pertarungan dengan Zabuza dan Haku cukup menguras tenaga mereka. Meski sudah beristirahat dengan cukup sebelum melakukan perjalanan pulang, tetap saja beristirahat di Desa sendiri lebih membuat mereka nyaman. Namun sialnya, keinginan itu harus tertunda karena aksi Naruto.
"Huh! Padahal sebentar lagi kita sampai di Desa Konoha"
"Hn ..."
Kakashi, Sasuke dan Sakura ahirnya sampai di tempat Naruto. Bocah kuning itu terlihat berdiri mematung dengan Wajah yang terlihat pucat pasi, dengan pandangan yang menjurus pada sosok Sarada dan Boruto yang pingsan dan tersangkut di sebuah Ranting dan Dahan Pohon. Sakura menghampiri Naruto dan menepuk Pundak si pirang. Dengan sedikit terkejut Naruto lalu mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
"Ada apa Naruto?" tanya Sakura.
"Ah! S-Sakura-Chan!". "Ti-tidak ada. Aku hanya bingung dengan apa yang kutemukan. dua anak disana ... Mereka memakai Lambang yang sama denganku dan Sasuke!"
"Ah masa sih?" tanya Sakura. Lalu mulai memperhatikan Lambang Clan yang menempel pada Baju Sarada dan Boruto.
"Benar juga ... Ada Lambang Pusaran Air dan Lambang Kipas!". "Tapi bukankah Lambang Pusaran Air itu semua Ninja memakainya? Lihat Rompi Jounin Kakashi-Sensei!" lanjutnya.
"Tidak, ini berbeda. Lambang ini hanya di pakai di Rompi Chunin dan Jounin, untuk menghormati Clan Uzumaki yang dulu selalu membantu Konoha dahulunya". "Tapi jika di pakai di pakaian seperti itu ... Dia juga adalah Uzumaki seperti Naruto?" ucap Kakashi sedikit menerangkan tentang Lambang Uzumaki yang ada di Rompi Jouninnnya, meski ahir ucapannya terdapat keraguan.
'Apa mungkin?!'. 'Uzumaki terkenal dengan Warna Rambutnya yang merah, terkecuali Naruto karena mengikuti Gen Minato-Sensei ...'
'Lalu kenapa anak itu juga ... Lagi pula aku merasakan kemiripan dari Wajahnya dan Wajah Naruto. Apa ini?!' batin Kakashi. Wajahnya terlihat bingung dengan kenyataan yang saat ini mereka saksikan. Lalu pandangannya beralih pada Sasuke. Meski dia tetap diam dan tenang, namun terlihat jelas jika Sasuke pun cukup bingung dan penasaran dengan mereka.
'Dia ... Apa dia adalah Uchiha?'. 'Tidak mungkin. Aku dan Itachi adalah satu-satunya Uchiha yang tersisa lalu dia siapa?!' batin Sasuke.
"Apa ini sangat penting dan serius?". "Kenapa kalian bertiga terlihat tegang seperti itu?" tanya Sakura.
"Hah~ kita bicarakan ini lain kali. Sasuke, Naruto, Bawa mereka ke Konoha ... Bukankah kalian cukup penasaran bukan?" ucap Kakashi. Tanpa banyak bicara, Sasuke dan Naruto melaksanakan perintah kakashi. Naruto terlihat menggendong Boruto dan Sasuke terlihat menggendong Sarada.
"Hey apa kau merasakan sesuatu?!" Sasuke tiba-tiba membisiki Naruto yang berjalan di sampingnya. Tapi agaknya Naruto sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di bisikan Sasuke.
"Hn ... Maksudku, sebuah perasaan aneh seperti seolah-olah kita memiliki sebuah ... Ikatan?!" lanjut Sasuke seraya melirik Wajah Sarada yang pingsan di Bahunya.
"Ah iya ... Aku juga merasakannya. Aku merasa anak ini seperti adikku atau semacamnya ..." balas Naruto.
"Jadi begitu ya ..."
"Eh!". "Apa ini?!" gumam Sakura seraya memungut sebuah Kacamata
Sementara di sebuah Desa.
Terlihat Sai dan Ino (dewasa) sedang mengawasi sebuah Desa itu atas Tebing. Mereka terlihat serius saat mengawasi Desa itu, Hingga kedatangan Kiba dan dua Jounin dari Desa Konoha lainnya menggalihkan perhatian mereka. Setelah pandangan mereka bertemu, tanpa banyak bicara lagi Kiba segera menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Kalian cepat kembali ke Desa. Konoha sedang ada masalah". "Ini perintah langsung Hokage!" ucap Kiba, langsung pada Intinya.
"Masalah?". "Apa yang terjadi?"
"Jelasnya, biar Hokage saja yang menjelaskannya"
"Hmm ... Baiklah. Ini hasil pengawasan kami di lima Desa sebelumnya". "Kalian hanya tinggal melanjutkan sisanya" ucap Sai langsung tanggap dengan situasinya, dan memberikan sebuah Gulungan kecil pada Kiba.
"Ayo pergi, Ino!" ucapnya lagi. Dan setelah berbasa-basi sedikit dengan Kiba dan dua Jounin lain, Sai dan Ino langsung pergi dari tempat itu.
"Jadi kita hanya perlu mengawasi dua Desa lain setelah ini ya ... Kerja mereka cukup baik. Meski sedikit kuno sih" komentar Kiba seraya membaca isi laporan yang sudah di buat Sai dan Ino dalam Gulungan tadi.
"Kalian awasi Desa ini. Aku akan menyalin laporan mereka untuk di kirimkan pada Hokage melalui Email!"
"Jika ada situasi yang mencurigakan, segera beritau aku"
"Baik!" jawab ke dua Jounin itu.
Di tempat Sai dan Ino.
Ke dua pasangan suami-istri itu sedang melompati satu Dahan Pohon ke Dahan lainnya. Mereka terlihat buru-buru untuk kembali ke Desa Konoha. Kata masalah yang di ucapkan Kiba cukup mengganggu mereka saat ini. Dan itu sedikit banyak membuat mereka berdua tergesa-gesa untuk kembali ke Desa. Di tambah fakta jika Sasuke pun saat ini sedang dalam perjalanan yang sama dengan mereka.
Masalah ini pasti sangat serius. Sampai-sampai seorang Shinobi yang melakukan Misi super rahasia seperti Sasuke pun di panggil pulang!
"Itu kan ..."
"Oi. Sasuke-Kun!" teriak Ino menimpali gumaman sang suami saat melihat Sasuke sedang melompat dari Dahan ke Dahan lain dengan tak kalah cepatnya. Merasa di panggil, Sasuke melirik ke belakang, dan mulai memperlambat lajunya saat menyadari jika mereka adalah Ino dan Sai, salah satu temannya.
"Kau ... Apa kau juga bermaksud pulang?" tanya Sai saat mereka sudah saling berdekatan dan menyelaraskan kecepatan mereka saat melompati Pohon-Pohon itu.
"Yah. Shikamaru mengirimkan Email atas perintah Hokage untuk menyuruhku kembali ke Desa" jawab Sasuke singkat.
"Jadi begitu ya ... Bahkan Sasuke-Kun juga!". "Kira-kira masalah apa?!" ucap Ino.
"Mungkin sesuatu yang gawat" komentar Sai.
"Apa kalian juga sama?". "Kudengar kalian sedang mengawasi beberapa Desa yang di duga sedang mempersiapkan Kudeta pada Negera Api?!" tanya Sasuke. Sai dan Ino hanya mengangguk tanda membenarkan pertanyaan sang Uchiha itu.
"Kalau begitu. Kurasa ini benar-benar gawat!". "Ayo lebih cepat lagi!" lanjut Sasuke seraya mempercepat lajunya. Sai daj Ino pun segera melakukan hal yang sama agar tidak tertinggal oleh Sasuke.
'Apa yang terjadi?!'. 'Apa pemberontakannya sudah di mulai? Jika iya, berarti Misi mereka gagal!' batin Sasuke cemas seraya melirik Ino dan Sai secara bergantian.
'Atau ...'
'Tidak mungkin. Ini baru asumsiku saja. Lagi pula bukti yang ku dapatkan belumlah cukup!' Sasuke segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan yang terlintas dalam fikirannya sendiri. Sai agaknya cukup tanggap dengan gelagat Sasuke.
"Ada apa?!". "Kau tau sesuatu?!" tanyanya.
"Tidak ... Tidak ada!" jawab Sasuke. Sai tidak banyak bertanya lagi, tapi dari caranya menatap sang Uchiha, terlihat jelas jika mantan ANBU NE itu tidak mempercayai ucapan Sasuke begitu saja.
•
BERSAMBUNG.
•
Note ::
Okeh Tobi sudah berusaha melanjutkan Fict ini hahaha. Dan bagaimana? Cukup menarik kah?
Sekedar catatan. Latar dan Seting dalam Fict ini terbagi menjadi dua. Masa-masa Tim tujuh Gennin dan Masa-masa Naruto menjadi Hokage. Jadi mungkin ini akan sedikit membingungkan (mungkin).
Oh iya, Reader-San punya Saran untuk 'tanda' pemisah antara Timeline? Jujur saja Tobi sedikit bingung tadi.
Dan sedikit curhat ya. Setelah Lebaran nanti Tobi akan Kuliah (lagi). Yah, mau gimana lagi. Kantor menyuruh seperti itu. Dan saat ini Tobi sangat sibuk sekali. Selain masalah kerjaan, aktivitas lain di luar kerjaan, lalu rincian pengajuan proposal perencanaan biaya Kuliah dan lain-lain, cukup menyita waktu Tobi. Jadi mulai saat ini, karena waktu menulis yang semakin sempit, jumlah Word Tobi kompres sedemikian rupa dari 5k+ menjadi hanya 3k+.
Mohon Reader-San mengerti.
