I'm trying to write some dirty scenes after these chapter.
I'm still trying, tho. Hihi~~
Happy reading! Give me some comments!
.
.
.
Pada akhirnya, Jongin harus menunggu Baekhyun yang masih entah kemana. Mungkin masih berkutat dengan lelaki kesekiannya itu. Terkadang Jongin ingin menghentikan kebiasaan Baekhyun yang seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Baekhyun tetaplah Baekhyun. Orang yang akan menyerang balik jika keinginannya tidak terpenuhi.
Jongin duduk di depan gedung dengan kaki yang menggantung dan digoyang-goyangkan. Beberapa kali dia melayani orang-orang yang meminta foto padanya. Di udara yang panas begini, dia hanya ingin segera pulang. Untung saja depan gedung sedang tidak banyak orang yang lewat. Kalau banyak? Bisa-bisa dia didesak orang-orang yang ingin meminta foto atau tanda tangannya.
Dia kesal dengan Baekhyun. Sudah membuatnya menerima tawaran drama gay, belum lagi sekarang dia diduakan dengan Shinchan atau entah siapalah itu. Bisa dibayangkan, jika shooting sudah dimulai nanti. Pasti Baekhyun memilih untuk berduaan dengan pria itu… No. Jongin belum ingin membayangkannya.
Dengan perasaan dongkol, dia menendang batu-batu yang ada di depannya. Jika bisa dibayangkan mungkin seperti anak kecil yang meluapkan kemarahannya karena ditinggal sendirian di rumah oleh sang ibu yang pergi berbelanja. Ah, kurang lebih begitu.
"Ayo pulang!"
Jongin mendongakkan kepalanya dan melihat Baekhyun sedang berjalan berdampingan dengan manajer Kyungsoo, "YEHET!" seru Jongin seraya berlari ke arah Baekhyun.
Pfft.
Jongin menoleh kearah dimana suara itu muncul. Kyungsoo. Dengan adorablenya dia menutup mulutnya yang menahan tawa. Kacamata frame tebalnya itu menutupi matanya yang melengkung.
Jongin mengerucutkan bibirnya, "Kau menertawakanku?"
"A-aku? Tidak, Jongin-ssi—ah, maafkan aku…" ucap Kyungsoo dengan nada yang semakin lirih.
"Jangan ketus dengan calon lawan mainmu, Jongin-ah. Ayo pulang!"
"Aku tidak ketus… ah, lupakan yang tadi, Kyungsoo-ssi!" dia menepuk pundak Kyungsoo dan pergi.
Jongin sempat mendelik ke arah Baekhyun yang mengetuk kepalanya. Baekhyun bilang jika Jongin harus bersikap baik dan tidak pemalas. Karena katanya, produser dari drama web ini sangat menggantungkan kesuksesan ceritanya dari Jongin. Meskipun Jongin sendiri ragu, karena dia tidak yakin apakah bisa memerankan peran itu dengan baik atau tidak.
Jongin sendiri berpendapat jika Baekhyun bersikap begitu hanya untuk menarik perhatian Chanyeol, manajer Kyungsoo. Padahal baru saja Baekhyun lepas dari Hongbin, sekarang sudah menggandeng pria baru lagi. Memang sih, Jongin mengakui jika Baekhyun adalah seorang social-butterfly. Tapi bukan berarti langsung mengganti prianya. Jongin juga mengakui jika Baekhyun terlampau cantik untuk menjadi seorang pria. Eits, bukan berarti Jongin tertarik. Once again, he is not a gay.
"Jongin-ah."
"Hmm."
"Perhatikan aku dulu!"
"Kau perhatikan jalan saja."
"YA!"
Jongin mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke Baekhyun, "Apa, Hyungku sayang?"
"Hmm… menurutmu, Chanyeol seperti apa? Apa dia cocok denganku?"
"Cocok."
"Sudah? Hanya itu saja?" Tanya Baekhyun mendesak.
"Memangnya apalagi? Kalau aku bilang tidak, kau pasti juga akan memaksa bahwa kau cocok dengan dia dan blah, blah, blah. Hyung, aku tahu siapa dirimu—sudahlah, akhiri petualanganmu itu. Akhiri dan punya anak dengan siapa tadi? Chanhee—"
"Chanyeol! YA!"
"Nah, Chanmin atau siapalah itu."
Jongin mendaratkan perhatiannya ke ponsel lagi. Dia sempat mendengar Baekhyun bergumam 'Sudah kubilang Chanyeol, kau idiot—' tapi dia tidak menggubris dan sibuk dengan Pokemon GO!-nya. Berulang kali dia meminta Baekhyun untuk berhenti di pinggir jalan hanya untuk melemparkan Pokeball dan menangkap Pokemon yang dia inginkan.
Ketika sedang sibuk menangkap Pokemonnya dan berhenti di pinggir jalan, Baekhyun mengangkat suaranya lagi, "Jongin-ah."
"Hmm."
"Astaga—bisakah kau berhenti memainkan Digimon itu?"
"Pokemon, Hyung! Berbeda! Hish, lagipula kau tidak bisa berhenti bermain Cooking Dashmu—"
"Bermain Cooking Dash menyenangkan, kau tahu."
"Terserah kau saja."
Baekhyun terdiam sejenak sebelum mengangkat suaranya lagi, "Jongin-ah, bagaimana pendapatmu tentang Kyungsoo?"
"Kyungsoo? Lawan mainku?"
"Hmm, bagaimana?"
Jongin menegakkan badannya dan mengerutkan alis, "Dia… lucu. Adorable. Seperti anak kecil. Sudah, itu saja dan jangan bertanya lagi."
"Asal kau tahu, dia lebih tua darimu."
"What?! Tidak mungkin! Dia masih seperti anak baru lulus SMA—benarkah?"
Baekhyun mengangguk, "Dia lebih tua setahun darimu. So, he is your Hyung."
"Oh, okay." jawab Jongin yang kemudian sibuk dengan Pokemonnya lagi.
"Kau tidak tertarik dengannya?" Tanya Baekhyun lagi.
"For fuck sake, Hyung. I'm not a gay!"
"Yet."
"YA! Sudah kubilang aku bukan gay."
"Kita lihat saja nanti," Baekhyun kembali menghidupkan mesin mobilnya, "Kita lihat apakah Do Kyungsoo bisa membuatmu gay atau tidak." Ucapnya yang dibarengi dengan dengusan keras dari Jongin padanya.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Jongin segera merebahkan dirinya di sofa super fluffynya. Dia merasa jam tidurnya kurang, dan dia sudah bersiap untuk melanjutkan petualangannya di dunia mimpi. Baekhyun yang melihat artisnya sudah membaringkan badannya di sofa hanya bisa menghela nafas. Kebiasaan malas Jongin memang menjadi masalah selama ini. Manajemennya selalu mengeluh jika Jongin datang dengan wajah yang sembab dan mata yang mengantuk. Dan hampir setiap kali ada shooting dia selalu begitu.
Walaupun Jongin adalah pria yang selalu-datang-dengan-wajah-mengantuknya itu, dia terkenal sebagai orang yang professional. Banyak yang memuji kegigihannya dalam bekerja. Pokoknya, jangan sampai Jongin bertemu dengan bantal ataupun ayam. Karena jika bertemu dengan bantal, dunia mimpi akan datang dengan sekejap. Dan ayam? Jongin bisa makan 3 bucket ayam sekaligus dan itu bisa membuat bentuk badannya tidak terjaga.
"YA! Ganti bajumu dulu!" seru Baekhyun sembari membuka kaleng colanya.
"Sebentar." Jawab Jongin dengan mata yang tertutup.
"Kim Jongin. Pilih ganti baju sekarang atau aku harus—"
"Hish, iya, Baek Mama."
Jongin dan Baekhyun punya hubungan yang seperti itu memang. Love-hate relationship. Sekalipun Jongin sangat menyebalkan bagi Baekhyun, tapi dia akan sangat merindukan lelaki berkulit tanned itu jika sedang tidak bersama. Hmm… bisa dibilang, Baekhyun sudah seperti ibu tiri dari Jongin. Jahat, tapi akan rindu jika orang yang dijahati itu tidak pada tempatnya.
Jongin mengganti bajunya dengan sebuah wife beater berwarna hitam dan sebuah celana jeans yang berhenti di atas lututnya. Dia sangat suka berpakaian begitu jika di rumah. Ketika sedang mengganti bajunya, dia menemukan flash disk yang diberikan Jongdae terjatuh dari sakunya.
"Ah, aku baru ingat." Gumamnya seraya melangkahkan kakinya kembali ke ruang tengah.
Ketika sampai disana, dia mendapati Baekhyun yang berdiri dari tempat duduknya, "Jongin-ah, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa, kau telepon aku, hm?"
"Tidak mau."
"Aku yang akan meneleponmu." Baekhyun memutar bola matanya, "Aku pulang, Sayang. Jangan merindukan Mama jika Mama pergi." Ucapnya dari balik pintu apartment Jongin.
"Ugh, so gay." Jongin diam sejenak, "Tapi memang dia gay, Jongin-ssi." Gumamnya sendirian.
Jongin meraih laptop yang ada di mejanya. Dia mendapati laptopnya masih dalam keadaan sleep. Ketika dibuka, dia menemukan pemutar videonya masih menyala dan menampilkan tampilan video porno disana. Jongin merasa itu wajar. He is an adult, after all.
Dia menancapkan flash disk itu dan mencari file yang dimaksud. Ah, dia menemukan sebuah folder bertuliskan UNFAIR-WEB DRAMA dan membukanya. Jongin sempat terkejut ketika mendapati begitu banyak file-file disana. Dan setelah beberapa saat berkutat, dia menemukan sebuah file yang bertuliskan 'SCRIPT UNFAIR-THIS IS LASTEST GOD, HELP ME'. Hmm, setelah membuka beberapa file yang bertuliskan, 'GOD, THIS IS LAST' ataupun 'GODDAMNSHIT I HATE THIS SCRIPT' sebelumnya.
Dengan jantung yang berdegup, dia membaca beberapa kalimat disana. Ada sebuah summary di halaman pertama yang ternyata, drama itu menceritakan 'sulitnya pasangan idol gay untuk menjaga hubungannya agar tidak terendus publik'.
Setelah beberapa lama bergidik karena membayangkan adegan tiap adegan disana, dia mulai menemukan adegan-adegan aneh. Di episode keempat, dia harus memulai kissing scenenya dengan Dyo, kekasih Kai, yang Kai sendiri merupakan perannya disana. Di episode kelima, dia menemukan dialog-dialog nakal yang diucapkan oleh Dyo untuk menggoda Kai. Dan di akhir episode lima, scene yang berisikan adegan seks dimulai. Dialog-dialog itu membuatnya mual dan akhirnya membuatnya menutup laptop itu dengan kasar.
"Wait, berarti… aku yang menjadi lelakinya?"
Pertanyaan itu muncul setelah membaca script itu. Dia membutuhkan jawaban. Pikirannya masih melayang ke jalan cerita yang dibacanya tadi. Bulu kuduknya berdiri jika mengingatnya. Oh, berdiri? Wait, dia juga tidak mengerti mengapa adiknya juga begitu. Dia… bukan gay, 'kan?
.
.
.
Jongin melangkahkan kakinya menuju kedai kopi milik Sehun. Dia, setelah melakukan research untuk perannya, memutuskan untuk menemui Sehun. Dia pikir, Sehun orang yang tepat untuk mendengar keluh kesahnya. Lagipula, jika dipikir-pikir lagi, posisi Sehun akan sama dengan dirinya di drama. Sebagai lelaki pada hubungan mereka. Meskipun sebenarnya mereka sama-sama pria, sih.
Hari sudah cukup malam dan pasti kedai sudah hampir tutup. Maka dari itu dia bermaksud membawa Sehun ke rumahnya dan menceritakan apa yang masih menjadi tanda tanya di otaknya. Karena apa? Sehun gay. Dan dia tidak tahu lagi harus bertanya pada siapa. Baekhyun? Those dumbshit? Bagi Jongin bertanya Baekhyun hanya akan menambah masalah.
Kedai sudah gelap dan Jongin berpikir jika mungkin Sehun sudah kembali ke apartmentnya sendiri. Dia masih celingukan disana—berharap jika Sehun masih ada di dalam. Dan ternyata—DANG!
"Oh Sehun?" gumam Jongin.
Jongin mendorong pintu kedai itu dan mengendap-endap. Seketika wajahnya berubah bosan ketika menemui Luhan, sedang berada di pangkuan Sehun dengan bibir yang saling terpaut. Bahkan lenguhan-lenguhan aneh juga sudah terdengar dari sana.
"Sehun-ah!"
"Oh?"
BRAK! Luhan mendorong Sehun hingga jatuh.
"YA! OH—God! I hate this person!" seru Sehun yang terduduk di lantai seraya menendang-nendangkan kakinya ke udara. Luhan sendiri langsung masuk ke dalam dan berpura-pura sibuk. Wajah dan telinganya bahkan terlihat memerah walaupun di cahaya yang temaram.
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Jongin polos.
"Of course, dickhead! ARGH!" teriak Sehun seraya menarik rambutnya sendiri.
Apa salahku? Pikir Jongin. Dia, yang merasa tidak berdosa langsung mendudukkan dirinya di salah satu kursi dan mengetuk-ngetukan jari jemarinya di meja layaknya menunggu pesanan. Padahal, jelas-jelas kedai sudah tutup. Memang, dumb Jongin.
"Apa maumu?" ucap Sehun yang memberikan segelas air putih dan duduk di hadapan Jongin.
"Aku? Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa?"
"Pulang dulu ke rumahku."
"What? Kau sudah menggangguku dengan Luhan dan kau memintaku untuk pulang ke rumahmu? Tidak mau!"
Jongin mengedipkan matanya tidak berdosa, "Sekali saja. Hm?" ucapnya dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.
"Aku benci padamu."
"Syukurlah." Jawab Jongin seraya mengamati Sehun yang sekarang mengemasi barang-barangnya.
Sehun membenci kebiasaan sahabatnya yang suka memerintah begini. Tapi… Jongin adalah sahabatnya. Sahabat yang sudah dia anggap seperti saudara lelakinya sendiri. Seperti apapun Jongin, dialah orang pertama yang menjadi tumpuan jika masalahnya tiba.
"Sehunnie." Sapa Luhan.
"Hmm?"
"Aku pulang dulu."
Sehun mengangguk, "Perlu aku antar?"
Kali ini Luhan menggeleng, "Tidak usah. Lagipula hanya dekat dari sini."
"Baiklah," Sehun mengecup kening Luhan sebentar, "Hati-hati dijalan." Ucapnya yang dijawab dengan anggukan lemah dari Luhan. Lelaki itu, Luhan maksudnya, hanya bisa tersenyum kikuk ketika melewati Jongin. Dia merasa malu karena Jongin memergokinya making out dengan Sehun. Walaupun sebenarnya Jongin masih tidak mengerti dan mengangguk dengan polosnya. Of course, idiot Jongin.
.
.
.
"Kau sudah berkencan dengannya?" tanya Jongin ketika sudah sampai di rumahnya.
Sehun mengangkat bahunya, "Entahlah."
"Lalu, apa yang kulihat tadi?"
"Hmm… iya, Jongin. Aku sudah berkencan dengannya."
"Secepat itu? Kau baru mengatakan bahwa kau menyukainya kemarin!"
"Kau juga. Baru mengenalku kemarin? Ayolah, kau tahu siapa Oh Sehun. Dia selalu bergerak cepat!" ucap Sehun membanggakan dirinya.
"Aku menyesal mengatakan yang tadi."
Sehun tertawa terbahak-bahak. Dia sudah sangat hafal dengan kebiasaan Jongin yang muak dengan semua kata-katanya. Tapi Jongin tidak pernah serius tentu saja.
"Hei, bro. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Ini…" Jongin membuka naskah yang diberikan Jongdae padanya.
"Naskah? Hei, kau yang aktor disini—"
Jongin mengekang kepala Sehun dibawah ketiaknya agar mendekat ke arah laptop yang ada di hadapannya, "Aish! Cerewet! Lihat dulu!"
"Aku sudah melihatnya, lalu?"
Jongin menceritakan semua yang menjadi keluh kesahnya dan menanyakan apa yang ada di dalam hubungan gay. Meskipun pada akhirnya Sehun mengatakan bahwa suatu saat nanti Jongin akan berubah menjadi seorang gay juga. Ah, Sehun sudah menjelaskan berulang kali dan Jongin, sebagai a piece of idiot brain, tentu susah untuk mengerti. Dia, selalu memberikan pendapatnya sendiri dan membuat Sehun uring-uringan dengan sendirinya.
"Kau cari saja di internet sendiri!" seru Sehun yang kesal dan memilih untuk menonton sepak bola yang ada di TV.
"Aku sudah mencarinya tapi aku tidak mengerti."
"Jongin, dengarkan aku." Sehun menghadap ke arah Jongin, "Di dalam hubungan gay, akan sama seperti hubungan yang straight. Hanya saja pelakunya berjenis kelamin yang sama."
"Lalu kenapa kalian jadi gay kalau prinsipnya sama—"
"Diam kau, dickhead! Begini, hmm… aduh, bagaimana ya? Yang jelas, kami, aku juga, more attracted with a dick."
"Oh, okay. Tidak usah dijelaskan lebih jauh lagi. Lalu?"
"Ada seme, dan uke."
"Apalagi itu astaga—"
"YA!" Sehun mengetuk kepala Jongin dengan remote TVnya, "Biarkan aku jelaskan semua!"
Sehun menghela nafas ketika dengan patuhnya Jongin berkata okay, "Jadi, seme bersifat lebih dominan. Biasanya, seme akan bersifat lebih manly. Istilahnya, dia menjadi laki-laki pada hubungan mereka. Sedangkan uke, dia bersifat lebih feminin. Biasanya mereka punya gen conceive. Walaupun tidak semuanya, tapi kebanyakan begitu."
"Ah…"
"Mengerti?"
"Tidak semuanya," Sehun mendelik, "Paling tidak ada yang aku mengerti. Oh, kalau menurutmu aku lebih cocok menjadi seme, atau uke?"
"Seme. Kau tidak punya gen untuk bisa hamil, 'kan?"
"Nope. Menghamili aku bisa."
Sehun melirik dengan wajah sebal, "Asshole."
"That's you~"
Sehun kembali memperhatikan TV yang menampilkan pertandingan antara AS Roma melawan Manchester United. Ah, dia tersenyum sendiri. Dia baru ingat jika Luhan benar-benar menyukai tim setan merah itu. Memang di otaknya sekarang hanya ada Luhan, Luhan, Luhan, dan Vivi. Dia selalu punya prioritas sendiri untuk anjing kesayangannya itu.
"Ini gila. Ada adegan seks seperti ini?"
Sehun mendekatkan dirinya pada Jongin, "Uhum. Sudah kubilang, prinsipnya sama, Jongin-ah."
"Aku bisa gila. Bagaimana bisa aku melakukan adegan seperti ini?"
"Bisa."
"Caranya?"
"Hubungi lawan mainmu. Kalian harus saling mengenal. Memerankan gay untuk seseorang yang bukan gay aku yakin pasti sangat sulit. Tapi, kalian bisa mendapatkan feel yang tepat jika kalian sering bertemu. Aku benar, 'kan?"
Benar, Oh Sehun.
"Begitukah? Berarti aku harus mengenal Kyungsoo?"
Sehun menaikkan alisnya seraya menggerakan bahu, "Terserah. Mungkin si Kyungpoo itu bisa membantumu."
"Kyungsoo!"
"Ya, ya. Hanya typo sedikit."
"Kau berbicara, bukan mengetik, asshole."
.
.
.
Jongin lagi-lagi berusaha melatih setiap dialog disana. Dia masih belum bisa mengerti harus melakukan apa. Sudah hampir hari Minggu tapi dia belum bisa memahami dan mendapatkan feel yang tepat. Berbagai banyak pertanyaan muncul di otaknya, tapi dia tidak tahu harus menanyakannya pada siapa. Haruskah dia melatih dialog-dialog itu?
"Hyung!" seru Jongin pada Baekhyun yang sudah berkeliaran di rumahnya sejak pukul enam pagi.
"Hmm? Apa?"
"Maukah kau menemaniku berlatih dialog-dialog disini? Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Lagipula kau seorang gay. Jadi aku pikir aku bisa berlatih denganmu."
"Coba aku lihat," Baekhyun meraih naskah yang sudah dicetak Jongin sebelumnya, "Hei, dialog disini sama dengan dialog peran straight yang biasa kau mainkan, 'kan? Toh kau menjadi seme disini. Tidak ada yang berubah."
"Tapi, Hyung… melakukan dengan sesama pria itu berbeda rasanya. Seperti… ah! Aku tidak bisa menjelaskannya!"
Baekhyun menepuk pundak Jongin, "Kau hubungi saja Kyungsoo. Latihan saja dialog ini bersama. Kau bukan gay, 'kan? Jadi aku pikir kau harus mengenal lawan mainmu lebih baik daripada biasanya."
"Kenapa saranmu seperti Sehun?" gerutu Jongin sendirian.
"Itu saran terbaik, moron," Baekhyun mengeluarkan ponselnya, "Kalau kau ingin membuat janji dengan Kyungsoo, aku bisa menanyakannya lewat Chanyeol sekarang."
"Kau ingin ikut kemanapun jika aku bersama Kyungsoo?"
"Tentu saja! Karena dengan begitu aku bisa bertemu Chanyeol!"
Jongin menghela nafasnya dan bergegas menuju kamar, "Mintakan nomor Kyungsoo saja pada Chanmin—"
"CHANYEOL!" seru Baekhyun dari luar kamar.
Jongin merebahkan dirinya di ranjang. Matanya sudah hampir tertutup karena mengantuk. Tapi dia menatap jam yang ada tak jauh dari sana. Ah, pukul sembilan pagi. Dua jam lagi dia harus melakukan sebuah pemotretan sebuah produk sepatu. Sebenarnya dia paling suka jika melakukan pemotretan produk sepatu, karena dia akan secara otomatis mendapatkan sepatu gratis dari pihak sponsor. Petty Jongin, indeed.
Entah mengapa perannya di drama web itu sedikit menjadi beban. Jongin bukan seorang homophobic, tapi dia bukan gay. Tentu akan sangat canggung untuk memerankan peran itu. Baginya memang menantang, tapi selama ini dia selalu menghindari peran tersebut.
Ketika matanya mulai terpejam, terdengar sebuah teriakan, "KIM JONGIN!"
"Hmm?"
Pintu kamar itu terbuka, "Ayo! Kita berangkat! Jangan tidur lagi!"
"Oh, Hyung…" rengeknya.
"AISH! Ayo!"
Dengan paksa Baekhyun menarik Jongin yang masih malas di tempat tidurnya. Rambut berwarna coklat itu sudah berantakan, dan Baekhyun harus merapikannya sekali lagi. Ah, lagipula sebentar lagi Jongin akan di make-up juga. Jadi berangkat dengan keadaan nista pun Baekhyun tidak begitu peduli.
Di mobil pun Jongin kembali tidur. Lelaki itu selalu melakukan hibernasi jika bisa dilakukan. Dan itu terkadang membuat pakaiannya menjadi berantakan dan tidak tertata rapi. Bahkan kali ini dia tidur dengan bibir terbuka—benar-benar bukan seorang aktor terkenal; bukan.
Ketika sampai, Baekhyun masih harus menyeret Jongin. Ah, benar-benar seperti seorang ibu yang memarahi anaknya yang malas berangkat sekolah. Persis, tidak ada bedanya sama sekali.
"Hyung… sebentar…" rengek Jongin.
"Hei! kau harus professional! Hurry up!"
"Hyung, masih ada setengah jam lagi untuk tidur."
Baekhyun menghentikan langkahnya di depan pintu yang berkaca gelap dan membetulkan rambutnya, "Kau harus cepat. Semakin cepat lebih baik."
"Aish! Kau tak biasanya begini—"
"Jonginnie," Baekhyun memegang kedua pundak pria yang matanya masih mengantuk itu, "Jika kau lebih cepat, kau akan terhindar dari omelanku seharian."
"EH? Kenapa begitu?"
"Karena—"
Terdengar suara dari belakang mereka, "Selamat pagi!"
Park Chanyeol.
"Ah, pantas saja…" gerutu Jongin.
Chanyeol datang dengan senyum ramahnya itu. Jongin mengakui jika pria itu terlihat friendly. Tapi postur tubuhnya yang sangat tinggi itu membuat pria itu sedikit awkward. Namun jika dilihat-lihat lagi, Chanyeol dan Baekhyun memang cocok. Maka dari itu, Jongin tidak heran ketika mendengar bahwa Baekhyun menginginkan keturunan dari Chanyeol. Dan Jongin bisa menjamin jika mungkin tiga bulan lagi dia harus mencari manajer baru.
Perhatian Jongin teralih pada seseorang yang berjalan di belakang Chanyeol. Seseorang yang wajah bulatnya itu tersembunyi dibalik kacamata yang super tebal. Lelaki itu sedang sibuk dengan ponselnya yang juga terhubung dengan headset putih yang ada di telinganya. Saking sibuknya, dia tidak menyadari jika Chanyeol berhenti dan dia menabraknya.
DUG!
"Ah, Hyung! Kenapa berhenti?" keluhnya sembari mengusap kepalanya yang terbentur punggung Chanyeol.
"Jangan sibuk dengan ponselmu terus menerus! Sudah kubilang kalau Hyuk tidak akan membalas pesanmu—"
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Siapa juga yang menghubungi Hyuk—OH, Jongin-ssi!"
"Oh, hai, Kyungsoo-ssi…" jawab Jongin kikuk.
"Kalian berdua bisa masuk kesana!" seru Baekhyun.
"Berdua? Maksudnya?" tanya Jongin.
"Kalian, adalah brand ambassador dari sepatu ini. Ah, kalian tidak pernah bertemu sebelumnya ya? Apa kalian lupa? Hmm, sekarang kalian bertemu—" Baekhyun bersikap seolah seorang shipper dari couple idol, "Nah, kali ini kalian harus melakukan pemotretan berdua. Ini dilakukan untuk mempromosikan drama web kalian. Semangat bekerja, anak-anakku!"
Jongin memutar kedua bola matanya dengan bosan dan berlalu pergi, diikuti Kyungsoo di belakangnya. Sempat dia mendengar Baekhyun berkata, Anak-anak kita bekerja bersama, Channie-ah!—dan itu sempat membuat Jongin ingin muntah saja.
Jongin duduk di samping Kyungsoo ketika sedang di ruang make up. Sesekali dia melirik ke arah lelaki tersebut. Bahkan ketika Kyungsoo bercanda dengan make up artis nya, dia juga melirik. Jongin mengakui jika Kyungsoo sangat adorable. Apalagi ketika dia melihat plushie Pororo yang sedari tadi menyembul di tas ransel Kyungsoo, membuat Jongin bertanya-tanya apakah Kyungsoo benar-benar lebih tua darinya.
"Sudah siap? Perkenalkan, namaku Kim Minseok! Aku bertugas sebagai fotografer kalian disini!" lelaki berpipi chubby itu menjabat tangan Jongin dan Kyungsoo, "Aigoo! Kalian pasti bisa menjadi couple yang cocok! Bisa kita mulai?"
Keduanya mengangguk, "Huh…" Kyungsoo menghela nafasnya.
"Gugup?" tanya Jongin.
Kyungsoo mengangguk lagi, "Aku tidak pernah percaya diri jika melakukan pemotretan begini."
"Santai saja," Jongin merangkul pundak Kyungsoo, "Lihat kameranya, Kyungsoo-ssi. Bergeraklah senyaman mungkin. Aku akan membantumu."
Berkali-kali Minseok mengeluhkan wajah Kyungsoo yang kaku dan stay pada satu ekspresi saja; ekspresi kosong. Kyungsoo sendiri sudah mulai gusar dengan dirinya. Dan itu membuat Jongin kikuk dan bingung harus berbuat apa.
"Tunggu, bukankah kalian menjadi pasangan gay di drama web nanti?" tanya Minseok.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Jongin sembari menyesap es Americano yang diberikan oleh Baekhyun baru saja.
"Ah, Kim Jongdae itu pasanganku, by the way."
"Pasanganmu? Pasangan… mu?" Jongin meyakinkan.
"Hmm! Maka dari itu ketika ada kabar jika kalian akan melakukan pemotretan ini, aku yang mengambil jobnya. Aku pikir ini bisa kalian gunakan untuk melatih chemistry kalian." Dia beralih ke Kyungsoo, "Kyungsoo-ssi, jangan gugup, hmm? Dan kau, Jongin-ssi, sebagai orang yang lebih berpengalaman, bantu dia. Kalian bisa seintim mungkin. Itu untuk mendongkrak drama web kalian nanti."
Rasanya Jongin ingin meledak saja. Drama web itu benar-benar menjadi hantu baginya. Dia pikir pemotretan kali ini akan membuatnya lupa dengan drama web sialan itu tapi ternyata tetap berkutat disana. Walaupun begitu, dia tetap berusaha professional. Dengan menuntun Kyungsoo agar tidak gugup, dia berhasil menyelesaikan tiga per empat sesi pemotretannya.
"Kalian ganti sepatu dan pakaiannya. Sehabis itu kita lakukan sesi terakhir!" teriak Minseok.
Tema terakhir membuat Jongin curiga. Apalagi dengan kemeja jeans dan celana putihnya, dan sebuah sneakers berwarna denim juga. Seperti akan pergi berkencan saja. Dan kecurigaannya berujung menjadi sebuah kebenaran ketika melihat Kyungsoo memakai pakaian serupa. Yang berbeda adalah celana yang dipakai Kyungsoo hanya sebatas lutut.
"Sudah siap? Nah, kalian harus saling berhadap-hadapan! Iya, begitu! Kyungsoo-ssi, tatap mata partnermu!"
Jongin sempat melihat Kyungsoo menghela nafasnya, "Santai saja." Bisiknya seraya tersenyum.
Santai? Bullshit kau, Jongin-ah! Pikir Jongin. Dia sendiri sebenarnya super gugup. Bukan gugup karena berhadapan dengan Kyungsoo. Tapi ini pemotretan yang diluar kewajaran. Maksudnya, ini job gay pertama yang akan dilihat oleh publik. Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi fansnya nanti.
Sejenak Jongin mengagumi mata bulat dari Kyungsoo. Matanya benar-benar bagus; adorable. Ah, bagian tubuh mana yang tidak adorable dari seorang Do Kyungsoo? Bahkan kuku jarinya saja lucu. Ketika Kyungsoo diharuskan tersenyum padanya, pipinya benar-benar terlihat chubby. Dan itu membuat Jongin ingin meremasnya saja.
"Ah! Selesai! Terima kasih atas kerja keras kalian semua!" teriak Minseok.
"Terima kasih semuanya." Ucap Kyungsoo seraya membungkukkan badannya 90 derajat ke semua orang disana. Termasuk Jongin.
"Jangan gugup lagi, Kyungsoo-ssi."
"Ah, i-iya, Jongin-ssi. Senang bisa bekerja denganmu."
Jongin tertawa kecil, "Sama-sama… Hyung. Aku pikir aku akan memanggilmu begitu setelah ini."
"Oh! Bagaimana kau tahu kalau aku Hyung—"
"Baekhyun Hyung mengatakannya padaku."
"Ah…"
Kyungsoo menganggukkan kepalanya dengan ekspresi super childishnya. Secara tiba-tiba, ada orang yang mencubit kedua pipi chubbynya, Byun Dumbass Baekhyun.
"Lucu sekali! Astaga, anak Eomma!"
"Hyung—hentikan! Kau memalukan." Sindir Jongin.
"Akui saja dia lucu, Jongin-ah. Semua orang juga membicarakannya. Oh! Apa perlu aku menjadi manajermu juga? Kau menggemaskan sekali Kyungsoo-ya!"
"Hyung—" ucapan Kyungsoo terus saja tertahan dengan kehebohan Baekhyun. Bahkan sekarang sepertinya dia memandang Jongin dengan tatapan seperti anak kecil yang meminta tolong agar dihindarkan dari seorang penculik.
Jongin menarik tangan Kyungsoo, dan kemudian melepaskannya ketika sudah terbebas dari Baekhyun. Memang Baekhyun agak menyeramkan. Setelah itu mereka berdua pergi ke tempat berganti pakaian. Tentu, sudah lebih dari tiga jam mereka melakukan pemotretan dan sudah saatnya pulang ataupun melakukan jadwal yang lain.
Ketika semuanya selesai, dia keluar dari ruang ganti dengan pakaian casualnya. Dengan kaos dan celana jeans robeknya. Bahkan sneakers kumalnya itu juga masih dipakai. Sebenarnya Baekhyun sudah melarangnya untuk memakai sepatu kumal itu. Tapi Jongin tetaplah Jongin. Anak kecil yang keras kepalanya. Dia mendapati Baekhyun yang sedang membisikkan sesuatu pada Chanyeol dan Kyungsoo yang memainkan ponselnya lagi. Jongin sedikit merasa kasihan dengan Kyungsoo. Dia seperti anak kecil yang ditinggalkan orang tuanya yang sibuk sendiri.
"Ah! Kau sudah selesai, Jongin-ah?" tanya Baekhyun.
"Sudah, Mama."
Chanyeol angkat bicara, "Baiklah, Kyungsoo-ya. Kita pulang sekarang."
Kyungsoo mengangguk dan mulai mengambil tas ransel yang berplushie Pororo itu. Jujur Jongin iri. Ayolah, dia penggemar Pororo juga. Tapi untuk membawa plushie seperti itu? Hmm… Jongin sendiri berperawakan tinggi dan tipikal bad boy. Kalau dia membawa plushie? Hancurlah citra yang sudah dia bangun selama ini. Bad boy pembawa plushie? Yang benar saja.
Jongin hanya mengamati Kyungsoo yang bersiap-siap. Dia ingin membuat janji dengan Kyungsoo, tapi jika melihat keadaan saat ini sepertinya tidak mungkin. Atau meminta nomornya saja? Rasanya Jongin ragu dan hanya mengikuti kemanapun Kyungsoo bergerak.
"Ayo, Hyung." Ajak Kyungsoo pada Chanyeol.
"Ah, kami pergi dulu."
Chanyeol pun sempat berpamitan dengan Baekhyun. Bahkan Baekhyun mengisyaratkan pada Chanyeol untuk menghubunginya jika sedang tidak sibuk. Ah, baru berkenalan dan mereka sudah seperti itu. Ciri khas Baekhyun.
Baru sekitar beberapa langkah, akhirnya Jongin tersadar juga, "Kyungsoo Hyung!" serunya yang kemudian menghampiri Kyungsoo.
Lelaki berkacamata itu menoleh, "Hmm… ya?"
"Apakah… kau besok ada jadwal?"
"Besok?" Kyungsoo melirik ke arah Chanyeol yang kemudian menjawab tidak ada, "Ada apa?"
"Bisakah kita bertemu? Hmm… ada sebuah hal yang ingin aku bicarakan padamu. Tentang naskah drama web kita. Karena aku punya salinannya—"
"Bisa. Aku bisa bertemu denganmu."
Sorot mata Jongin berubah menjadi tertarik, "Ah! Baguslah! Bisakah aku meminta nomor ponselmu atau semacamnya?"
"Kemarikan ponselmu." Kyungsoo mengetikkan sesuatu, "Sudah. Kyungsoo Do."
Jongin mengangguk, "Terima kasih, Hyung!" serunya yang kemudian dijawab dengan anggukkan dari Kyungsoo.
Setelah Kyungsoo pergi, Jongin memutuskan untuk pulang juga bersama Baekhyun. Dia merasa lega karena lawan mainnya nantinya adalah orang yang bisa diajak bekerja sama. Entah, dia tidak mempedulikan lawan mainnya yang lain. Yang dia tahu hanya Kibum, Minho, dan Taemin yang mungkin nanti menjadi anggota grup di drama webnya.
Di dalam mobil, dia langsung mengeluarkan ponselnya. Sedikit berpikir, apa pesan yang akan dikirimkan pada Kyungsoo. Untuk mengawalinya dia selalu tidak punya ide. Dia merasa canggung lagipula.
"Jongin-ah, kau tahu, ketika kau membuat janji tadi, kau seperti mengajak Kyungsoo pergi berkencan."
"Tidak. Jangan mengada-ada."
"Aku jujur," Baekhyun tertawa kecil, "Bahkan sekarang kau berpikir untuk mengirimkan pesan yang bagaimana padanya, 'kan?"
"Bagaimana kau tahu? Maksudku—"
"Bilang saja, Hyung, ini aku Jongin. Jam berapa kau bisa bertemu? Apa perlu aku jemput? Coba begitu."
"Agresif sekali."
Baekhyun menoleh ke arah Jongin dengan ekspresi terkejut, "Oh! Kau akan mendekatinya? Apa kau sudah berubah?"
"YA! Jangan berlebihan! Aih…"
Dan ternyata, Jongin mengirimkan seperti yang dikatakan Baekhyun. Di dalam otaknya dia bertanya-tanya apakah dia memang seperti orang yang sedang mendekati seseorang atau tidak. Ayolah, dia bukan gay. Pokoknya dia bukan gay.
.
.
.
Jongin masih terkapar di ranjangnya pagi sekitar jam 10. Padahal, sebentar lagi Kyungsoo akan pergi ke rumahnya. Tapi sayangnya, Jongin masih di dunia mimpinya, bahkan hanya bermodalkan boxer tanpa kaos di atasnya. Ah, sebelumnya mereka sudah membuat janji untuk bertemu dan akhirnya memutuskan untuk di rumah Jongin saja. Jongin tidak bermasalah dengan itu, bahkan dia bersyukur karena tidak harus keluar rumah dan bisa bermalas-malasan.
Ting-tong! Ting-tong!
"Aish… Baekhyun Hyung…" gumam Jongin yang kemudian menutup telinganya dengan bantal.
Ting-tong! Ting-tong!
"Astaga!"
Dengan emosinya dia melangkahkan kaki dari ranjangnya. Dia sudah bersiap untuk meneriaki Baekhyun karena tidak membuka pintu secara langsung. Padahal jelas-jelas Baekhyun mengetahui password dari apartmentnya.
Dia membuka pintu, "Buka saja, Hyung! Kau ini—" dia tersadar dengan sosok kecil yang berdiri di depan pintu, "Oh, Kyungsoo Hyung…"
"O-oh, hei. Aku mengganggu tidurmu ya nampaknya?"
"Tidak, Hyung! Masuklah!" dia melihat seonggok kaos kaki dan celana dalam di ruang tengah, "Ah, sebentar!" dia bergegas mengambil barang-barang hinanya dan menyembunyikannya di kamar. Tak lupa dia memakai baju yang lebih proper dan pergi menemui Kyungsoo.
"Kau tinggal sendiri?" tanya Kyungsoo yang melihat Jongin keluar dari kamarnya.
"Begitulah. Mau minum?"
"Air putih saja." Kyungsoo meneliti apartment Jongin, "Kau harus merapikan rumahmu nampaknya. Apakah tidak ada waktu?"
"Aku pemalas, Hyung. Kau sudah lihat buktinya," dia duduk dan menyerahkan air minum itu pada Kyungsoo, "Aku akan menunjukkan naskahnya padamu, dan aku akan pergi dulu untuk mandi. Tak apa, 'kan?"
Kyungsoo mengangguk. Kemudian Jongin mengambil lembaran-lembaran kertas yang sudah berbentuk seperti bekas pembungkus makanan dan menyerahkannya pada Kyungsoo. Tanpa basa-basi dia langsung pergi ke kamar mandi. Sebenarnya dia menghindari reaksi Kyungsoo jika membaca dialog-dialog dan adegan aneh yang ada disana. Dia tidak siap untuk itu. Benar-benar tidak siap.
Hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk Jongin mandi. Tapi dia masih berlama-lama di dalam kamar hanya untuk mengestimasi berapa lama Kyungsoo membaca di adegan-adegan akhir. Dia penasaran dengan tanggapan Kyungsoo, tapi dia tidak siap. Apakah Kyungsoo terkejut? Atau Kyungsoo biasa saja? Ah, dia penasaran.
Dan akhirnya, dia melangkahkan kakinya keluar kamar sekitar 10 menit kemudian, "Kau sudah membacanya, Hyung?"
Kyungsoo mengangguk, "Hanya garis besarnya." Jawabnya lirih.
"Hyung, dengarkan aku. Kau tahu, aku bukan gay. Dan ini sangat sulit untukku. Untuk melakukan adegan yang ada disana tentu memerlukan usaha. Apalagi harus melakukan adegan seks—oh God, aku tidak bisa membayangkannya. Tapi aku yakin kau bisa membantuku untuk itu. Aku menggantungkan ini padamu."
"Jongin-ah… aku sendiri juga masih asing dengan ini semua. Iya, aku gay. Tapi untuk melakukan adegan begini—aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa melakukan kissing scene itu."
Jongin menghela nafasnya, "Ah! Aku tidak bisa membayangkannya."
Dia, Jongin, menyandarkan punggungnya dengan perasaan gusar. Dia pikir Kyungsoo bisa membantunya, tapi ternyata Kyungsoo sendiri tidak yakin. Lalu, bagaimana dengan dia? Bukankah akan lebih sulit lagi? Jongin menatap jari jemarinya yang sedari tadi memainkan gelang yang ada di pergelangan tangannya. Bahkan dia membiarkan suasana diantara mereka berdua menjadi kikuk dan terdiam untuk beberapa saat. Di dalam otaknya masih berisi bayangan bagaimana dia harus melakukan adegan dewasa itu dengan seorang laki-laki. Tidak sampai melakukan yang sebenarnya sih, tapi, tetap saja, 'kan?
"Jongin-ah," Jongin mendongakkan kepalanya dan menatap Kyungsoo, "Mau berlatih bersama?"
"Berlatih apa?" tanya Jongin tidak mengerti.
"Berlatih adegannya."
...
..
.
TBC.
