Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rating: M

Warning: YAOI, typo(s), Abal, and many more

Pairing: Uchiha Sasuke & Uzumaki Naruto

Don't like don't read, ok?

Rasa manis pada lidah itu bisa membuat seseorang mengernyit heran, tersenyum tipis, terdiam, menyeringai, bahkan … jatuh cinta. Rasa manis itu merupakan ungkapan kasih sayang … mungkin. Tepukan tangan pada meja berbalut tepung menambah kesan unik pada makanan itu. Hiasan warna-warni dengan sejuta sentuhan membuat makanan itu terkesan cantik dan sangat menarik. Hati yang sedang dalam keadaan berbunga-bunga menambah aroma nikmat pada makanan itu.

Manis.

Lembut.

Itulah hal yang selalu bersangkutan dengan sebuah kue buatan tangan.

Pastry Chef

PARS 2: Bet

Seorang pemuda dengan rambut pirang sedang duduk di sebuah café dengan santai. Matanya memperhatikan setiap pengunjung yang masuk ke dalam café tersebut. Entah sudah berapa kali dia menghela napas pagi ini, sepertinya hari ini kehidupannya sedikit suram. Tangannya bergerak untuk membuka celemek yang dikenakannya. Namun, gerakannya terhenti saat seorang pemuda dengan muka jahat melewatinya.

'BUGH'

"Aww-ssh," dia meringis sakit saat tangannya terhantup meja ketika sedang terburu-buru memakai celemek itu lagi. Dia tersenyum lebar ke arah sosok itu sembari menundukkan kepalanya.

"Naruto!"

"Y-ya!" Naruto tampak segera berdiri dari duduknya dan menatap sosok yang memanggil namanya dengan nada berbahaya itu dengan lekat.

Sosok itu menatap Naruto balik dengan tatapan iblisnya. Wajahnya semakin dekat dan dekat ke wajah Naruto.

'GREP'

Dia memegang kepala Naruto dengan kuat dan menempelkan dahi Naruto ke dahinya. "Kau mau bolos, kan?" tanyanya sembari menyeringai lebar ke arah Naruto yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan digeleng-gelengkan bodoh! Hidungku sakit kena hidungmu!" teriak Kyuubi sembari menangkap kepala Naruto dan menyuruhnya diam.

"KYAAAAAA! YAOI!"

'DUAG'

"Aww!" Kyuubi dan Naruto meringis bersamaan saat mendengar teriakan tersebut. Matanya lalu beralih pada gadis-gadis yang sedang menggigit tangan mereka sampai berdarah yang ada di depan pintu masuk café. Tiba-tiba, ide nakal muncul di otak Kyuubi yang gila akan uang. Dengan tangan nakalnya dia menarik wajah Naruto yang sedang terbengong dan mengecup bibir Naruto dengan pelan dan menggigitnya.

"Oush!" Kiba dan Gaara memejamkan sebelah mata mereka saat menyaksikan adegan live incest tersebut.

Hening.

Hening.

Hen—

"KYAAAAAAA!"

Mayat pun bergelimpangan dan darah pun tergenang.

"Hahahahah!" Kyuubi tertawa tidak jelas sembari menyeringai ke arah gadis-gadis tersebut. Dengan perlahan dia mendatangi para mayat-mayat tersebut dan tersenyum ramah. "Café kami selalu terbuka untuk kalian para gadis cantik."

'GUBRAK'

Shikmaru rasanya ingin menyumpal mulut yang selalu berbicara manis dan kasar disaat bersamaan tersebut. Ha—ah, beruntung pemuda satu itu punya wajah yang tampan. Shikamaru menguap lebar dan kembali masuk ke dalam dapur. Kyuubi sendiri tersenyum lebar saat para gadis itu mulai masuk ke dalam café-nya satu per satu. Matanya mengerling ke arah Naruto yang masih bengong di depan sebuah meja kecil.

Dengan malas Kyuubi mengangkat kedua bahunya tak peduli dan melewati Naruto begitu saja.

Hening.

Hening.

Hen—"

"WHAT THE HELL? KAKAK SIALAN!" Naruto berteriak dengan kencang saat sadar dari lamunannya. Naruto berjalan menuju dapurnya untuk mendinginkan kepalanya. Mulutnya terus mengeluarkan dumelan tidak jelas tentang kakaknya. Mulutnya terus saja mengoceh sembari tangannya membuka kulkas besar yang berada tak jauh darinya.

"Naruto! 20 crepes tiga ras—"

"DIAM!"

Eh?

Kiba menatap Naruto dengan horror sembari melangkah mundur dari dapur tersebut. Dia tersenyum canggung sembari ngacir dari dapur tersebut. Naruto yang baru sadar habis membentak Kiba hanya terdiam dan menggaruk kepalanya dengan kasar. "Ke-kenapa aku membentaknya? Aish! Tadi pesanannya apa?" dengan malas Naruto keluar dari dapur tersebut sembari memasang tampang tidak tahu arah. "Ehm, tadi pesanannya apa, yah?"

Shikamaru dan Kiba memandang Naruto dengan tatapan cengo. Kiba mendekati Naruto dengan perlahan. Matanya menatap Naruto dengan lekat dan meletakkan tangannya di pundak Naruto. Kiba tampak menghela napas berat sembari mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto. "Ha—ah … DIAM! Ok kita seri. Pesanannya 20 crepes tiga rasa," ucap Kiba sembari tersenyum lebar dan menepuk-nepuk pundak Naruto. "Ah~ senangnya balas dendam."

Naruto jaws dropped melihat kelakuan Kiba barusan. Malas meladeni. Naruto kembali masuk ke dalam rumah keduanya. Dengan riangnya dia mengambil adonan yang tadi dia ambil dari dalam kulkas. "Sepi sekali," ucapnya seraya mengaduk-aduk adonan tersebut. Dia tersenyum tipis sembari menjetikkan jarinya. "Ok, saya akan memberikan resep untuk membuat kue paling gampang dan enak ini. Pertama-tama, ayak tepung dan garam ke dalam mangkuk besar. Lalu, kocok telur dan susu ke dalam mangkuk yang sedikit kecil. Lalu, kalian tinggal mencampurkannya dengan adonan tepung dan garam tadi. Untuk tekstur yang lembut, lebih baik disaring dan ditaruh ke dalam mangkuk besar. Dan kalian tinggal mendinginkannya di kulkas. Lebih lama lebih baik tapi jangan terlalu lama, minimal sehari, deh." Naruto berbicara panjang lebar sembari menyendokkan adonan tersebut ke dalam sebuah wajan yang sudah dipanaskan—sudah dioleskan dengan mentega sedikit.

Ternyata dia sedikit gila.

Sampai-sampai dia berbicara sendiri.

Dengan lihainya dia memiringkan wajan tersebut agar adonan merata. Setelah warna atasnya sedikit kecoklatan, dia membalikan adonan tersebut dan menunggu sampai beberapa saat. Setelah dirasanya cukup, Naruto mengangkat wajan tersebut dan menumpahkan isinya pada sebuah telenan lebar. Beberapa kali dia melakukan hal tersebut untuk mendapatkan kulit crepes yang banyak, sekitar 23 lembar.

Naruto kemudian menaruh beberapa jenis buah dan coklat pada kulit crepes tersebut. Setelah semuanya selelsai, dia membunyikan bel yang ada di hadapannya sebanyak tiga kali.

'KRING'

'KRING'

'KRING'

"Naru, jangan seperti penjajah koran," ucap Gaara seraya mengambil beberapa piring crepes yang ada di meja Naruto. Selang beberapa saat, Gaara dan Shikamaru menyusul untuk mengambil sisanya. "Siapa yang menjaga kasir kalau kau disini, Deer?" tanya Gaara sembari membawa keluar pesanan tersebut.

Shikamaru menguap lebar sembari mendelik kesal ke arah Gaara. "Kyuubi yang menjaganya, Panda," ucap Shikamaru balas mengejek Gaara. Gaara hanya mendengus kesal sembari mulai berjalan menuju meja pelanggan begitu juga dengan Kiba dan Shikamaru.

Naruto menghela napas lelah sembari berjalan menuju gudang belakang. Dia menaruh kepalanya di sebuah kotak buah yang penuh dengan buah jeruk. Dia tersenyum tipis saat merasakan dingin buah-buahan tersebut—habis dimasukkan ke dalam pendingin.

"Rambutmu seperti jeruk-jeruk itu."

Naruto mendongakkan kepalanya menatap orang yang baru saja berkata. Matanya menyipit memperhatikan sosok tersebut. "Ah! kau si tukang minta kue!" ujarnya sembari berjalan perlahan menuju sosok tersebut.

'TWITCH'

Sosok itu merasa persimpangan mulai terukir indah di dahinya. Sementara Naruto masih saja meneliti sosok tersebut. "Benar, kan? Kau yang minta kueku hari itu? Wah kau sedang apa di si-NO! jangan bilang kau membuntutiku? Atau, kau mau meminta kueku lagi, iya kan?"

Wajah Sasuke tampak gusar mendengar ocehan seenaknya yang keluar dari mulut cerewet tersebut. Sasuke berdehem dan menyeringai ke arah Naruto. "Aku datang kesini untuk menuntutmu! Gara-gara kue Madelaine yang kumakan kemarin, gula darahku jadi naik. Dasar, dobe. Kau buat kue atau mau bikin manisan?"

Eh?

Naruto mengedip-ngedipkan matanya saat mendengar omongan Sasuke. Butuh waktu lama baginya untuk mencerna perkataan Sasuke. "Enak saja! Kau tahu, selama lebih dari lima tahun aku membuat kue itu, dan baru kau yang mengatakan kalau kueku terlalu manis. Kau saja yang kena diabetes! Dasar teme!" Naruto menggembungkan pipinya dengan kesal seraya menatap Sasuke lekat.

Lima tahun, eh?

Cukup lama juga. Sepertinya dia berbakat.

Sasuke menyeringai senang dalam hati. Dengan senyuman tipis dia memegang tangan Naruto. "Kau harus bekerja di rumahku selama seminggu penuh. Ini semua hukuman karena kau telah membuat gula darahku naik."

WHAT?

"Apa-apaan! Kau tidak bisa seenaknya seperti itu. Kakakku pasti ak—"

"Sebaiknya kau pergi saja Naru. Soalnya aku sudah mendapatkan uang yang banyak. Bahkan … uang ini sebanding dengan keuntungan yang kita dapat saat kau bekerja sebulan penuh. Dan sekarang kau hanya perlu berada disana selama seminggu dan yang kita dapatkan sebanyak ini. Pergilah! Aku sudah punya pengganti untukmu. Hahahahah!" Kyuubi tertawa lebar sembari menenteng sebuah koper besar yang penuh dengan uang. "Aku kaya! Aku kaya! Sering-sering saja meminjamnya!"

Eh?

"A-aku dibuang? A-aku dibuang? Aku dibuang. Aku dibuang." Naruto terus saja mengucapkan kalimat itu saat memasuki ruang ganti dan sampai saat ini dia sedang duduk di kursi mobil Sasuke dan dia terus saja mengucapkan mantra tersebut. Auranya menggelap dan itu membuat Sasuke yang sedang mengemudi bergidik ngeri.

Sebenarnya dia ini orang apa bukan?

-VargaS. Oyabun-

Gaara menatap Kyuubi dengan lekat sebelum akhirnya berbalik dan meinggalkan Kyuubi begitu saja. Kyuubi yang merasa Gaara sedikit mengacuhkannya menjadi kesal. Dengan cepat dia menarik lengan Gaara dan menatapnya dengan lekat. "Ada apa denganmu? Apa aku berbuat salah?"

"Pertama, kau selalu memarahinya. Kedua, kau menciumnya dan membuatnya seperti orang bodoh. Dan ketiga, kau berani menjual adikmu hanya karena uang. Apa kau masih waras?" tanya Gaara sembari menatap Kyuubi dengan datar. Meskipun tatapan itu datar dan tak berekspresi sama sekali. Kyuubi tahu benar bahwa orang yang ada di hadapannya ini sedang marah besar. "Aku akan pulang cepat hari ini. Jika kau tak mengambil Naruto dari rumah itu … aku tidak akan pernah datang ke café ini."

Hah?

Kyuubi membulatkan matanya saat dapat mencerna perkataan Gaara. Dengan cepat dia menarik kembali tangan Gaara. "O-ok! Aku berjanji akan membawanya kembali. Ta-tapi kau tidak boleh libur sendiri. Kau ini! Kan yang punya café aku," ucap Kyuubi dengan gugup sembari berusaha tersenyum lebar. Kyuubi tampak mengerling ke arah Shikamaru yang hanya menonton adegan mereka dengan ketertarikan.

"Ha—ah, semua pegawai disni juga tahu kalau Gaara bisa membeli café ini sebanyak yang dia mau."

Kyuubi pun pundung di pojokan.

Memang banyak yang tahu bahwa bocah panda ini merupakan orang kaya yang kurang kerjaan—bekerja di café pinggir jalan seperti itu. Selain untuk mengisi waktu luang, Gaara bekerja disini hanya untuk memakan kue gratis yang selalu diberikan Naruto pada saat jam kerja berakhir. Seharusnya dia bisa membeli semua kue yang Naruto buat. Akan tetapi dia tidak menyukainya. Kenapa? Karena dia ingin mendapatkan kue gratis dari Naruto langsung. Dasar bocah panda yang aneh! Dan … bodoh.

Kyuubi menatap miris ke arah Gaara yang sedang menggembungkan pipinya—menahan tawa. "Kau jahat, Panda!" Gaara hanya mampu menatap Kyuubi dengan kesal sembari melepaskan celemeknya dan bergegas pergi dari ruangan tersebut.

"Satu lagi terlukai! Dua pegawai hilang~ pekerjaan bertambah~ gaji pun bertam—"

"Kiba, keluar!"

"Oke~" dengan nada riang Kiba keluar dari dapur itu. Entah kenapa, kelakukan Kiba yang selalu seenaknya membuat Shikamaru tertawa kecil. Shikamaru tampak memperhatikan gelagat Kiba dari jauh. Terkadang dia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

'TRING'

Tiba-tiba ide nista Kyuubi keluar lagi. Dia bangkit dari pundungnya dan menyeringai ke arah Shikamaru. "Hei, kau mau melihat adegan Yaoi antara majikan dan bawahan. Tunggu sebentar." Kyuubi berjalan perlahan mendekati Kiba. Namun, belum sempat dia menyentuhnya, Shikamaru menarik kerah belakang Kyuubi dengan keras.

"Apa maumu bocah rubah?" tanya Shikamaru sembari mendelik kesal. Kyuubi hanya tersenyum dan menunjuk tato panda yang ada di telapak tangannya—buat pakai pulpen. "Aku bawa dia kembali dan kau jangan mendekati anjing kecilku."

"Roger!" Kyuubi menyeringai lebar saat melihat Shikamaru keluar dari café tersebut dan membawa seorang Gaara kembali di tangannya.

"Ck! Aku mau pulang!" teriak Gaara sembari berusaha lepas dari cengkraman Shikamaru. "Hais! Apa maumu sebenarnya? Aku sudah bilang akan kembali saat kau membawa Naruto kem—"

Kyuubi tersenyum lebar dan menarik Gaara untuk memasuki ruangannya. Tanganya bergerak untuk membekap mulut Gaara. "Kau akan menyesal jika berteriak."

"Arggghhh! NO!" Gaara membulatkan matanya saat Kyuubi mendorongnya ke sebuah sofa yang ada di dalam ruangannya. "Ok! Ok! Aku akan bersikap baik. Tapi, bisakah kau menyingkir dari atasku?" tanya Gaara sembari menatap Kyuubi dengan horror.

"Pilih kembali bekerja atau kau berada di ruangan ini sampai jam kerja berakhir dan hanya berdua denganku. Jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang tidak-tidak."

"Aku kerja dulu," ucap Gaara sembari mendorong Kyuubi dan segera keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Kyuubi yang tersenyum puas. "Dasar yokai!"

Kekacauan di café Kyuubi sepertinya sudah mulai membaik. Gaara sudah kembali mau bekerja—tentunya dengan paksaan. Shikamaru sudah menjaga kasirnya lagi dan Kiba tetap saja mengantarkan pesanan ke meja pelanggan. Semuanya berjalan cukup lancar meskipun tidak ada Naruto. karena … selain Naruto, ternyata Kyuubi juga pandai membuat kue. Bersyukurlah pada Kyuubi yang selalu memperhatikan Naruto saat membuat kue.

Ya, meskipun gaji tidak naik, Kiba tetap semangat dan ceria sepertinya. Meskipun tidak ada Naruto, Gaara tetap saja mendapatkan kue gratis—dari Kyuubi. Tanpa Naruto pun mereka cukup bersikap damai satu sama lain.

-VargaS. Oyabun-

Naruto memanyunkan bibirnya saat Sasuke menyuruhnya untuk membawakan jasnya. Beruntung kesabaran Naruto masih cukup banyak untuk menghadapi orang gila yang tak terlalu dikenalnya ini. Naruto membulatkan matanya saat merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya dari samping. Matanya menatap sosok yang sedang memeluk pinggangnya dengan seenaknya.

'TWITCH'

"DASAR MESUM! Kau ini apa bagusnya, sih? Sudah tukang minta kuenya orang. Suka seenaknya! Punya diabetes juga! Dasar orang gi—"

"Diam, bersikaplah biasa sebentar saja. Aku janji ini yang pertama kalinya."

Pertema kali?

Be-berarti bukan yang terakhir?

"TEME! AKU PULANG!"

"Jangan bergerak," ucap Sasuke sembari tetap memluk pinggang Naruto dan berjalan santai melewati sosok yang akhir-akhir ini membuatnya kesal. Pria dengan rambut hitam yang sedikit acak-acakan dan mata yang merah, Shisui Uchiha. "Ah sayang, malam ini kita akan menikmati malam kita yang sangat sempurna."

Naruto membulatkan matanya saat mendengar ucapan tidak jelas dari Sasuke. "Aku bukan say-aw!" Naruto meringis sakit saat Sasuke mencubit pinggangnya dengan keras. Matanya menatap Sasuke dengan horror.

"Sepertinya kau sudah tidak sabar sampai-sampai berteriak seperti itu," ucap Sasuke lagi sehingga membuat Naruto ingin loncat dari rumah itu saat itu juga. Helaan napas lega keluar dari bibirnya saat Sasuke membawanya ke kamar. "Ha—ah, kenapa aku harus bertemu orang itu."

"Aku lelah. Aku tidak mengerti ada masalah apa dirimu dengan orang itu. Yang jelas jangan bawa-bawa aku." Naruto menidurkan tubuhnya di ranjang besar Sasuke sembari bergelut di dalam sebuah selimut—terlalu lelah.

"Justru aku membawamu kesini karena orang itu. Aku harus membawa seorang pasangan yang cantik tapat di hadapannya. Kalau tidak, aku akan kalah taruhan dengannya," ucap Sasuke sehingga membuat Naruto bengong seketika. "Hanya seminggu. Aku membutuhkanmu hanya seminggu. Ini tidak sulit, kau hanya perlu berpura-pura."

'TWITCH'

"Kau kan disuruh cari pacar yang cantik? Kenapa kau malah membawaku, hah? Kau menghinaku, ya?" Naruto tampak menatap Sasuke dengan lekat sembari menggembungkan pipinya. Bau saja dia hendak mencekik Sasuke, tiba-tiba sebuah ketukan pada pintu membuat Naruto dan Sasuke mematung di tempat.

'Tok tok tok'

"Sasuke, apa kau ada di-ah sepertinya aku mengganggu aktifitas kalian." Sosok itu tampak menutup pintu itu kembali.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Saat ini Sasuke sedang memeluk dan mencium bibir Naruto dengan paksa. Naruto yang notabene sedang kaget hanya mampu terdiam dan tak melakukan apa pun. Cukup lama Sasuke menempelkan bibirnya dengan bibir Naruto sebelum akhirnya dia melepaskannya.

Kedip.

Kedip.

Kedip.

Entah sudah berapa kali Naruto berkedip dari kenyataan. "Teme sialan!"

'DUAGH'

Naruto melayangkan tinjunya ke wajah Sasuke dengan keras. Napasnya terengah-engah. Matanya menatap Sasuke yang sedang tersungkur di lantai dengan kesal. "Berani sekali kau menciumku!"

"Maaf, aku refleks," ucap Sasuke sembari menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Dia bangkit dari terjatuhnya dan mendekati Naruto. "Aku tidak sengaja."

Tidak sengaja?

Mukanya seperti menikmati.

Naruto tak mendengarkan Sasuke. Dia berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi Sasuke. Menutup pintu kamar mandi itu dengan kasar sehingga meninggalkan debaman yang cukup nyaring.

"Sama seperti kue. Bibirnya lembut dan manis," ucap Sasuke dengan nada kecil sembari menjilat bibirnya. Senyuman kecil terukir di bibirnya saat mengingat wajah terkejut Naruto. "Kau tidak boleh membenci majikanmu," teriak Sasuke dari luar.

'BRAK'

Sasuke tampak tersentak kaget saat sebuah benda tampak menghantam pintu kamar mandi tersebut. Dengan helaan napas kecil dia berjalan menuju sebuah jendela yang ada di kamarnya. Matanya memicing tajam saat melihat Shisui sedang duduk di sebuah bangku panjang. "Ini semua gara-gara orang itu. Aku akan membalasmu."

To Be Continued

Mind to review?