Belach ©Tite Kubo
Just One Day © Nenk RukiaKate
Pairing : Ichiruki, dkk
: Sakura Haruno © Masashi Kishimoto
Genre : Romantic and Friendship
Rate : T
Warning : AU, cannon, semi-cannon? Typo, OOC maybe, cerita bertele-tele, kacau, abal and segala ketidaksempurnaan masih ada disini,
'Apanya yang berpacaran? Apanya yang kencan?' Kata-kata itu selalu berulang dalam pikiran Rukia. Pagi-Pagi sekali Rukia sudah dibangunkan oleh keributan yang dibuat oleh sang pemuda yang berstatuskan pacarnya kini –Ichigo. Entah apa yang sudah dilakukan pemuda itu sehingga membuat kenyamanan tidur Rukia menjadi terganggu, dan ketika Rukia sudah sadar sepenuhnya dari mimpi indah tadi malam, Ichigo malah pergi meninggalkannya dengan hanya berkata, 'Tunggu aku sebentar, setelah ini kita akan berkencan.' Sambil mencium keningnya lagi, lalu pergi entah kemana.
"Apanya yang sebentar?" lagi-lagi Rukia menggerutu dengan melirik jam dinding yang terpasang tepat di atas televisi ruang keluarga Kurosaki itu. Sudah hampir 3 jam pemuda itu meninggalkannya sendirian dirumah ini, ya hampir 3 jam karena jam tersebut menunjukkan pukul 08.55 yang artinya waktunya di Karakura ini akan semakin berkurang dengan tidak berarti jika pemuda itu tidak segera menunjukkan batang hidungnya kali ini. Dan sendirian, karena seluruh anggota Kurosaki yang lain telah memulai aktifitas harian mereka sejak 2 jam yang lalu.
Rukia sudah menyiapkan sumpah serapah yang akan dia keluarkan jika Ichigo datang, memarahinya, memaki, dan menendang kepala orange kesayangannya jika memang itu diperlukan. Sungguh keterlaluan pemuda itu membuat dirinya begitu gelisah tidak karuan seperti ini, sampai-sampai acara chappy and the carrot kesayangannya lewat begitu saja didepan matanya –dengan kata lain tidak dia perhatikan sama sekali- karena pikirannya terus tertuju pada shinigami daiko itu.
"Aku pulang, Ru- HEY!" baru saja Ichigo melangkahkan kakinya di depan pintu rumah, Rukia sudah menyambutnya dengan lemparan remote tv yang dia pegang sedari tadi. Untung Ichigo punya reflex yang sangat bagus sehingga bisa menangkap benda tidak bersalah itu diwaktu yang tepat.
"Apa-apaan kau? Aku baru saja pulang, bukannya Hey! Apalagi denganmu kali ini hah!" dengan cepat Ichigo sudah mencengkram lengan Rukia karena melihat wanita itu akan mulai mengacuhkannya. Tapi begitu melihat raut wajah Rukia yang terlihat sangat –lelah, sedih, kecewa- entahlah Ichigo juga bingung mengartikannya, tapi yang jelas Ichigo mengerti bahwa pasti dia yang salah atas keadaan ini dia langsung melonggarkan cengkraman tangannya itu.
Baru saja Ichigo ingin berkata memberi penjelasan pada Rukia, dia sudah didahului wanita itu dengan perkataan yang membuatnya kaget setengah mati. "Kita batalkan saja rencana hari ini, sepertinya itu tidak ada gunanya sama sekali," ucap Rukia sambil memalingkan wajahnya dari Ichigo.
"Ap-apa yang baru saja kau katakan? Jangan bercanda Rukia, kau tahu itu tidak lucu, kan? Jangan bermain-main denganku Rukia!" Entah kenapa perasaan Ichigo menjadi tidak enak begitu mendengar apa yang baru saja Rukia lontarkan, seperti ada sesuatu yang disembunyikan Rukia darinya, melihat tatapan matanya, tatapan yang sama seperti saat mereka berpisah pertama kalinya -saat Byakuya membawa Rukia untuk diadili- Ichigo tidak suka tatapan Rukia yang seperti itu.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Rukia Kuchiki?" ucap Ichigo lembut tapi dengan tatapan mengintimidasi.
Rukia yang diperlakukan seperti itu menjadi salah tingkah sendiri, otak cepatnya mengatakan jangan sampai Ichigo curiga tentang keadaan dirinya kali ini, tidak sekarang, belum saatnya.
"Tidak ada yang terjadi dan tidak ada yang aku sembunyikan! aku hanya kesal kau mengingkari janjimu hari ini padaku! Kau tahu berapa lama aku menunggumu disini, berapa lama aku berpikiran yang – Ichigo." Perkataan Rukia terhenti saat Ichigo tiba-tiba saja sudah memeluknya dan berkata 'maaf' di atas bahunya. Keduanya hanya saling terdiam sambil mengeratkan pelukan masing-masing seolah berkata 'jangan tinggalkan aku' itulah yang ingin Ichigo sampaikan pada pelukannya kali ini.
Dan untuk Rukia, pelukan ini berarti segalanya baginya. Sungguh dia tidak ingin melepaskan pelukan ini selamanya, dia tidak memerlukan apapun hari ini, dia tidak ingin hadiah, tidak ingin chappy, tidak ingin kembali ke Soul Society, tidak ingin apapun kecuali pemuda yang sedang memeluknya saat ini –Ichigo. Ya, dia hanya ingin Ichigo, sekarang dan selamanya.
O0o
"Apa ini?" Tanya Rukia ketika dirinya mendapat seikat bunga lily dalam genggamannya dari Ichigo.
"Tentu saja itu bunga."
"Maksudku untuk apa bunga ini kau berikan padaku? Apa kita akan ketempat ibumu?" Rukia masih bertanya sambil sesekali memperhatikan rangkaian bunga itu, karena seingatnya Ichigo tidak pernah membeli bunga kecuali ketika ia sedang berkunjung ke makam ibunya tercinta.
"Rukia, kau lupa perjanjian kita tadi malam?"
"Tidak."
"Ya sudah kalau begitu jangan bertanya." Ucap Ichigo santai. Sedangkan Rukia, mulai timbul kerutan didahinya sambil menatap ke arah pemuda itu.
"Kau hanya bilang aku tidak boleh membantah apapun yang kau katakan, tidak boleh menolak apapun yang kau berikan, dan juga tidak boleh menghindar apapun yang kau lakukan padaku, benar kan?" ucap Rukia yang dijawab anggukan oleh Ichigo, "Tapi, kau tidak bilang kalau aku tidak boleh bertanya apapun yang kau lakukan padaku, bukan?"
Baru saja Ichigo ingin membantah dia sudah mengatupkan kembali kedua bibirnya. Ichigo lupa jika Rukia memintanya untuk mengajarinya cara berpacaran, dan itu artinya dia harus selalu menjelaskan segala sesuatu yang dilakukannya pada wanita shinigami ini. Padahal, dia ingin Rukia bisa memahaminya sendiri, tapi sepertinya dia harus mengalah dengan sifat serba ingin tahu Rukia.
Dengan sedikit menghela nafas Ichigo berkata, "Kau… juga suka bunga lily, kan?" yang dijawab anggukan oleh Rukia.
"Bunga itu untukmu. Pada saat berkencan seorang pria akan memberikan bunga pada wanita yang dicintainya sebagai ungkapan 'aku sayang padamu' atau 'aku mencintaimu', seperti itu."
"Biasanya mereka memberikan bunga mawar, tapi karena kau alergi mawar maka aku memberikan bunga itu untukmu," lanjut Ichigo.
"Terima kasih." Rukia berkata sambil tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, wajahnya penuh dengan sinar bahagia, Ichigo tahu itu.
"Hanya itu?" tanya Ichigo dan mendapat raut wajah heran Rukia sekali lagi.
"Kau harus mencium pacarmu setiap kau mendapatkan sesuatu darinya," ucap Ichigo sambil menunjuk pipinya sendiri.
"Mana ada peraturan seperti itu," Rukia menggerutu sambil mencucutkan bibirnya dan mendekatkan wajahnya pada Ichigo.
Cup.
Rukia membelalakkan matanya. Karena yang dia dapat bukan pipi pemuda itu melainkan bibirnya!
O0o
Kepala jeruk itu benar-benar pandai mempermainkan perasaan Rukia hari ini. Pagi-pagi dirinya sudah dibuat kesal, kemudian dibuat sedih, dibuat bahagia, kaget, bahagia lalu dibuat kesal lagi. Ya, dirinya sedang merasa kesal sekarang. Lihat saja, baru saja pemuda itu mengatakan hanya akan ada mereka berdua hari ini, tiba-tiba seorang wanita berambut soft pink datang menghampiri mereka berdua. Mengajaknya berbicara dan mengacuhkan Rukia yang ada disampingnya.
Rukia mengibaratkan Ichigo kali ini seperti Rangiku yang sudah bertemu dengan sake –lupa akan segalanya. Entah kenapa perasaan Rukia jadi tidak karuan seperti ini, rasanya seperti sedih bercampur perih dan pedih. Sebagian dirinya mengatakan 'lihatlah Ichigo sepertinya sangat bahagia dengan wanita itu,' dia terlihat seperti pria normal yang bisa berbicara normal dan tersenyum normal, kenapa berbeda sekali dengan saat mereka bersama?
Mereka berdua terlihat sangat cocok sekali, sama ketika Rukia melihat Ichigo dengan Inoue. Aih, Rukia bodoh disaat seperti ini kenapa nama Inoue malah terlintas dalam benaknya? Membuat dirinya merasa bersalah karena dirinya telah mencuri Ichigo dari wanita itu. Mencuri? Entahlah, apa kata itu pantas disandarkan dengan dirinya karena bagimanapun Inoue lebih dulu berteman dengan Ichigo, lagipula dirinya dan semua orang tahu jika Inoue sangat menyukai pemuda itu dengan sangat jelas.
Lalu apa yang dilakukannya kini? Sudah tahu Inoue menyukai Ichigo, lalu kenapa dirinya malah meminta Ichigo untuk menjadi kekasihnya hari ini? Ah, Rukia bahkan lupa akan kenyataan itu karena pikirannya terlalu kalut ketika memikirkan hubungannya dengan Ichigo harus berakhir dengan segera. Rukia hanya ingin menghabiskan kesempatan terakhirnya hanya bersama Ichigo, bukan yang lainnya, karena itu biarkanlah dia bersikap egois sekali ini saja. Hanya sehari, dan setelah hari ini Ichigo akan bebas menjalankan harinya seperti biasa.
Mungkin setelah hari ini Ichigo kembali akan melupakan dirinya, dan berkencan dengan seseorang yang benar-benar di cintainya. Tapi sebagian dirinya mengatakan 'Tidak bisakah hanya dirinya saja yang ada di sisi pemuda itu?' dan dengan segera dia mengenyahkan pikiran absurdnya kali ini. Dia tidak boleh berpikiran seperti itu, pada dasarnya Ichigo bukanlah miliknya seorang, Ichigo milik keluarganya, milik teman-temannya yang ada di dunia nyata ini, bukan dirinya yang hanya bayangan semu, - sakit. Hati Rukia mendadak sakit memikirkan kenyataan ini.
Tanpa sadar Rukia melangkahkan kakinya menjauhi pemuda yang sedang berbincang bersama wanita cantik tersebut. Pikirannya melalang buana memikirkan kembali kisahnya dengan pemuda itu. Sepuluh tahun waktu dunia nyata, atau seratus tahun menurut perhitungan Soul Society bukanlah waktu yang singkat dan tidak memiliki arti sama sekali untuknya. Mungkin dirinya tidak akan merasa begitu sedih jika saja hubungannya dengan Ichigo hanya sebatas hubungannya seperti, dia dan Keigo, dia dan Tatsuki maupun dia dan Ochi-sensei. Hanya saja yang dia pikirkan lagi-lagi hanya pemuda itu –Ichigo. Dan untuk kesekian kalinya Rukia hanya bisa menghela nafas.
"RUKIAA!"
Grep.
"Jangan lakukan ini lagi, Rukia. Jangan! Jangan pergi seperti ini, maafkan aku… maaf…" Ucap Ichigo sambil mengeratkan pelukannya pada wanita itu. Tidak perlu dipastikan wanita yang ada dipelukannya ini Rukia atau bukan, dengan hanya sekali lihat walau itu hanya dari bentuk tubuh belakangnya Ichigo tahu dengan pasti bahwa wanita ini adalah Rukianya.
. . .
Sebenarnya, saat itu mereka berdua sedang mampir ke toko kue langganan Ichigo untuk mengambil kue pesanan Ichigo untuk Rukia. Tapi disaat yang bersamaan dirinya dihampiri oleh seorang rekan kerjanya yang hari ini juga mengambil jatah cuti hanya untuk menemani kekasihnya –Sakura Haruno. Dokter pindahan dari Konoha yang merupakan partner Ichigo di Rumah Sakit Karakura.
Baru saja Ichigo ingin memperkenalkan Rukia pada Sakura, dirinya baru sadar jika Rukia tiba-tiba lenyap dari pengawasannya, padahal walau dirinya sedang berbincang dengan Sakura tapi tak sedikitpun dia mengalihkan pandangannya dari wanita mungilnya itu. Dalam kepanikan yang sangat besar Ichigo langsung pergi meninggalkan sakura tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan padanya. Mencari Rukia ditengah ratusan orang yang berlalu lalang sungguh membuatnya kesal sekaligus panik karena Rukia sedang memakai gigai-nya jadi Ichigo tidak bisa mencari Rukia dengan merasakan Reiatsu shinigami mungil itu.
Dan ditengah kegusaran hatinya, dia menemukan Rukia yang sedang memandang matahari di atas kepalanya, dengan tanpa membuang waktu dirinya langsung berlari sambil meneriaki nama wanita itu lalu menubrukkan dirinya sendiri ke tubuh wanita pujaan hatinya ini. Dan entah kenapa Ichigo benar-benar merasa takut jika Rukia menghilang dari pandangannya- lagi.
O0o
"Ichigo, lepaskan tanganku?" Perintah Rukia untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak." Jawaban Ichigo masih sama sedari awal.
"Ichigo? Jangan berlebihan, aku tidak akan kemana-mana, jadi lepaskan tanganmu?" Rukia masih berusaha menahan amarahnya, jika saja pemuda itu tidak sedang menyetir mungkin Rukia sudah menggigit tangannya sedari tadi.
"Tidak akan kulepaskan!" Ichigo masih bersikeras mempertahankan haknya.
"Ichigo, kau sedang menyetir, paman bilang –, "
"Diam atau kucium lagi." ucap Ichigo cepat sebelum Rukia dapat menyelesaikan kalimatnya.
Rukia yang mendapat pilihan seperti itu hanya bisa mengatupkan kembali bibirnya dan menahan kembali suara protesnya untuk dirinya sendiri. Ichigo yang kali ini sungguh berbeda dengan Ichigo yang ia kenal selama 10 tahun ini. Ichigo yang sekarang terkesan lebih… protektif atau posesif? Entahlah, Rukia tidak dapat membedakannya, padahal mereka sedang tidak bertarung tetapi kenapa Ichigo bersikap seperti ini kepada dirinya?
.
.
.
"Aku ingin ke Chappy Wonderland Ichigo~ ayolah~ untuk yang terakhir kali aku ingin kesana~," sedari tadi Rukia merayu untuk bisa ke tempat favouritenya tapi Ichigo tidak juga menjawab ajakan Rukia tersebut.
"Aku bilang, cium aku dulu baru aku akan membawamu kesana, jika tidak kau diam dan tenanglah." Ucap Ichigo disertai dengan seringainya. Entah kenapa, setiap Ichigo mengatakan 'cium' wajah Rukia pasti langsung memerah seketika dan setalah itu Rukia memilih untuk diam sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Dan Ichigo, sangat suka sekali melihat wajah Rukia yang merona malu seperti ini, sungguh pemandangan yang sangat langka, pikirnya.
"Dasar strawberry busuk beraninya mengancamku dengan cara licik seperti itu, awas saja ku adukan kau dengan nii-sama, biar kau –"
"Aha… adukan saja pada nii-sama tersayangmu itu, dan akan ku katakan kalau kau yang mencium bibir ku – Aahhh~ Rukia aku sedang menyetir." Rukia menjambak rambut Ichigo saking kesalnya ditambah dengan deathglare andalannya pula. Dan bukannya merasa takut, Ichigo malah semakin melebarkan senyumannya.
"Hey, mana ada kekasih sekasar dirimu. Seharusnya kau bersikap lebih lembut sedikit pada kekasihmu ini." Ucap Ichigo lembut, sambil mengusap pipi Rukia dengan jemarinya yang masih menggenggam jemari wanita itu.
Melihat Rukia sudah kembali dengan tampang ingin tahunya Ichigo kembali berkata, "yang dilakukan orang berpacaran biasanya, pertama saling menyayangi satu sama lain, kedua saling memahami satu sama lain, ketiga saling memberi perhatian satu sama lain, dan yang terpenting adalah saling mencintai satu sama lain, ketika semua itu terpenuhi kau akan merasa bahwa hidupmu sempurna saat bersamanya, itu yang dikatakan ayahku."
"Setiap pasangan memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan rasa kasih sayang mereka pada pasangannya. Begitupun dengan kita berdua, kita pasti punya cara sendiri yang berbeda dengan pasangan yang lainnya, dan itu yang akan kita berdua pelajari mulai dari sekarang, benar kan Rukia?" Ichigo menepikan mobilnya hanya untuk berbicara serius dengan Rukia.
"Untuk itu tetaplah bersamaku Rukia, berjanjilah padaku kau tidak akan pernah meninggalkanku lagi, kau tahu betapa bahagianya aku saat kau mengatakan ingin menjadi kekasihku, sejujurnya aku merasa kalah karena seharusnya aku yang mengatakan hal itu terlebih dulu padamu, karena ku kira… selamanya kau hanya akan menganggapku sebagai temanmu,"
"Ichigo… kata-katamu sangat indah sekali, walau hanya satu hari sepertinya aku mulai mengerti apa-" perkataan Rukia lagi-lagi terputus dengan interupsi jari Ichigo di atas bibir Rukia.
"Berpacaran tidak hanya bisa satu hari saja, itu tidak benar Rukia. Yang aku harapkan adalah bisa bersamamu selamanya, dan aku pasti bisa mewujudkan hal itu, kau percaya padaku kan? Kita pasti bisa menjalani hubungan ini berdua, Rukia. Kau dan aku, pada akhirnya kita pasti bisa bersama selamanya, aku yakin itu." Ichigo berkata sambil menghapus air mata Rukia yang tiba-tiba saja mengalir di kedua Kristal violetnya itu.
Rukia senang, sungguh sangat senang mendengar pernyataan Ichigo kali ini, tapi disaat yang bersamaan dirinya dirundung kesedihan yang begitu mendalam. Kenapa jadi seperti ini? Seharusnya Ichigo tidak merasakan hal yang sama dengannya, karena itu dia berani meminta hal ini pada Ichigo. Seharusnya Ichigo tetap menganggapnya sebagai teman saja, dengan begitu ketika hari ini berakhir dirinya bisa meninggalkan Ichigo dengan cara yang sama ketika waktu pemuda itu kehilangan kekuatannya. Tapi jika begini adanya, dirinya sungguh tidak tahu bagaimana caranya harus memberitahukan Ichigo tentang keadaan dirinya setelah ini.
"Aku mencintaimu Rukia, sangat mencintaimu." Ichigo berkata tulus.
Rukia kaget luar biasa, dengan segenap kekuatannya yang tersisa dia mencengkram kemeja Ichigo saat pemuda itu meletakkan tangan Rukia diatas dadanya, bermaksud agar Rukia bisa merasakan debaran jantung pemuda itu.
"Se- sejak ka- pan?" tanya Rukia terbata-bata, matanya terlihat bingung dan tidak percaya diwaktu yang bersamaan.
"Sejak kau menghilang dari pandanganku, saat aku kehilangan kekuatanku, saat itu aku sadar aku sudah kehilangan sebagian jiwaku, dan sejak saat itu aku tahu hariku tidak akan pernah sama tanpa dirimu, aku- tidak berarti sama sekali tanpa dirimu, Rukia." Ichigo berkata jujur dari dalam sanubarinya.
Rukia benar-benar kehilangan kata, dia hanya bisa memeluk Ichigo sambil menahan tangis dibelakangnya. Seharusnya dia merasa bahagia dengan pernyataan Ichigo ini, bukan menangis menyesal karena mengetahui kebenaran ini. Kemana para hollow jelek itu, disaat dirinya ingin kabur dari kenyataan yang begitu menyesakkan dada ini malah tidak terlihat batang hidungnya seujung kukupun!
Rukia ingin sekali mengatakan hal yang sama dengan yang Ichigo katakan, Ingin sekali. Tapi dia tahu dia tidak akan pernah bisa mengakuinya, karena jika Ichigo tahu Rukia juga merasakan hal yang sama dengannya, sudah bisa dipastikan Ichigo akan kembali merusak seisi Soul Society. Dan Rukia kembali ragu apakah keputusannya untuk menghabiskan waktu dengan Ichigo ini benar atau tidak. Karena sedikit semi sedikit kebenaran hati mereka mulai terungkap hari ini.
O0o
.
.
.
06.30 pagi, kediaman Uryuu Ishida.
"Haruskah aku memberimu penghargaan tamu terpagi setalah para hollow sialan itu," Sapa Ishida menemui tamu istimewanya pagi ini.
"Terserah kau lah, aku cuti hari ini, jadi kau bisa menggantikanku hari ini di Rumah Sakit, kan?" Ucap Ichigo langsung. Yang disambut raut heran diwajah datar sang Quincy.
"Um… aku ada kencan hari ini," Ichigo berkata sambil menggaruk bagian belakang kepalanya sambil bersiap pergi meninggalkan kediaman sahabatnya yang terbilang mewah ini.
"Dengan Kuchiki?" tebaknya.
"Ketahuan ya." Jawab Ichigo dengan cengiran lugunya yang semakin membuat Ishida menahan kedutan didahinya akibat ulah sang kepala orange.
.
.
.
07.00 pagi, kediaman Sado Yasutaro.
"Ichigo? Ada apa?" tanya Chad ketika dirinya baru saja selesai melakukan jogging pagi dan mendapati Ichigo sedang menyender pada pagar rumahnya.
"Um… begini aku ada kencan hari ini, bisakah kau menggantikanku membasmi hollow hari ini di Karakura?" tanya Ichigo kembali pada sahabat karibnya yang satu ini.
Chad mengangguk sebagai jawaban. Ichigo tahu chad pasti akan membantunya walau dia tidak meminta, tapi dia ingin Chad tahu bahwa hari ini dia sedang tidak berada di kota Karakura seharian.
"Kau akan bertemu Kuchiki hari ini?" Sungguh chad hanya bermaksud untuk bertanya.
"Wah, kau hebat Chad bisa tahu aku akan kencan dengan Rukia hari ini." Kata Ichigo dengan senyum sumringah sambil menepuk bahu Chad dan berlalu pergi begitu saja dari hadapannya.
"Doakan aku ya." Ujar Ichigo sambil melambaikan tangannya tanpa berbalik lagi kehadapan pemuda bertubuh besar itu. Sedangkan Chad hanya bisa tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju kediaman pribadinya itu.
.
.
.
07.15 pagi, mini market.
"Kurosaki-kun pagi…" Sapa wanita bertubuh sintal yang menjadi salah satu sahabatnya juga.
"Inoue? Selamat pagi." Sambut Ichigo riang. Inoue yang mendapat tanggapan seperti itu dari pujaan hatinya ini menjadi salah tingkah sendiri.
"Um… ano… tumben kurosaki-kun pagi-pagi sekali sudah berbelanja, pasti titipan Yuzu-chan ya?" tanya Inoue sambil sesekali melirik ke arah Ichigo.
"Oh, ini? Tidak bukan titipan Yuzu, aku hanya ingin membuat makan malam untuk Rukia, hari ini kan ulang tahunnya." Jawab Ichigo masih dengan keriangan yang sama.
Bagai tersambar petir, Inoue hanya bisa membelalakan matanya lalu memandang sendu kepada Ichigo. "Be- benarkah hari ini ulang tahun Kuchiki-san? Astaga aku saja lupa dengan ulang tahun ku sendiri." Maksudnya adalah 'kenapa kau ingat ulang tahun Kuchiki tetapi ulang tahunku tidak?'
"Um, hari ini ulang tahunnya yang ke 250 tahun, tua sekali dia ya, tapi heran tubuhnya tetap saja pendek seperti itu, walau semakin hari dia terlihat semakin cantik sih," Ucap Ichigo sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat Inoue semakin menundukkan kepalanya.
"Oh ya Inoue," Panggilan Ichigo membuat wanita itu kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap pemuda itu kembali.
"Yang tadi itu tolong rahasiakan dari Rukia ya, dia bisa membankai-ku jika mendengarnya, kau tahukan wanita itu sangat menyeramkan jika sedang marah hahahha." Lanjut Ichigo lagi sambil menggelengkan kepalanya ketika mencoba membayangkan apa yang akan dilakukan Rukia pada dirinya.
"Aku duluan ya Inoue, Rukia pasti akan membunuhku jika aku tidak segera datang, jaa…" Ichigo berlalu begitu saja dari hadapan Inoue tanpa berbicara sepatah katapun lagi. sedangkan Inoue hanya bisa menyaksikan apa yang dilakukan Ichigo di mini market itu secara diam-diam. Melihat cara ichigo memilih bahan makanan, lalu berpikir sejenak mempertimbangkan makanan itu masuk keranjangnya atau tidak, membayangkan apa Rukia akan menyukainya ataupun tidak, mau tidak mau Inoue kembali menangis didalam hatinya. 'Ternyata Kurosaki-kun benar-benar mencintai Kuchiki-san.' Senyumnya miris.
O0o
Yuhuu~ minna-san~
nenk lagi~ nenk lagi~ nenk lagi~
#gak nanya #gak nanya -jawab minna-san
seperti biasa typo masih berkeliaran, so nenk selalu mengharapkan koreksiannya dari para senpai and readers sekalian ^^,
Untuk chap kali ini bagaimana? tambah kacau kah? nenk menambahkan karakter tetangga sebelah biz bingung mau pake karakter yang mana coz cerita ini kan agak" cannon, jadi kalau pake karakter om Tite takut ngerusak jalan cerita aslinya, jadinya minjem punya om Masashi K, deyh... gapapa kan ya? and twu kan pacarnya Sakura versi nenk hehehe...
Chap yang kali ini masih mengisahkan kegalauan Rukia, and mereka masih dalam perjalanan menuju tempat kencan mereka gitu, jadi kencan intinya masih belom deyh xixixi, sampai sini bisa dipahami kah, kalau pada awalnya Rukia meminta Ichigo buat jadi pacarnya karena menganggap mereka masih teman seperti biasanya. Tapi buat Ichigo, kesempatan kali ini merupakan titik balik buat hubungan mereka berdua, coz dia kira Rukia juga ngerasa hal yang sama dengan Ichigo. kira-kira apa ya tanggapan Ichigo pas dia tahu keadaan Rukia yang sebenarnya? tunggu chap depan ya xixixi... ^^,
And buat kencan mereka, udah tau donk apa yang udah dipersiapkan Ichigo buat Rukia? hehehe... Ichigo juga nakal ya, dibilang jangan kasih tau siapapun tentang kencan mereka hari ini, eh dia malah ngebongkar sendiri saking seneng hatinya gitu... Makanya pagi-pagi buta Ichigo udah riweuh sendiri buat siapin kencan hari ini... kacau... kacau... gimana jadinya Rukia harus menyikapi keadaan ini ya? wah semakin semrawut tulisan nenk nih, ya sud, cap cuz lah.. seperti biasa riview pleasee... ^^,
Koreksian Chap sebelumnya:
1. Ulang tahun Rukia itu 14 Januari, bukan Februari #hayo gak ada yang sadar kekeliruan fatal nenk ya, xixixi maaf ya, 14 feb. itu tanggal nenk waktu ngetik itu fic. jadi kebawa cerita deyh *mohon maaf yang sebesar-besarnya*
2. Kata 'perduli' seharusnya 'peduli'
3. kata 'seorangpun' seharusnya 'seorang pun'
4. kata 'sanksi' seharusnya 'sangsi'
5. tambahan penjelasan dialognya nenk perbaiki di chap ini, masih kah ada yang salah or kurang? mohon koreksiannya ^^,
pantesan gak pernah dapet nilai perfect, wong tingkat kesalahannya banyak gini T_T, huhuhu berhubung nenk gak tau cara meng-edit cerita yang sudah dipublish, so nenk perbaiki dichap ini ya, and buat koreksian chap ini, nenk perbaiki dichap depan yua, nenk udah coba perbaiki yang di doc manager tapi kayaknya ga ngaruh nyh, huhuhu, jadi maapin nenk ya, cuma bisa memperbaikinya seperti ini T_T, buat para senpai yang mengetahui jawaban pertanyaan nenk, domohon bantuannya ya ^^,
Nenk ucapkan maaf yang sebesar-besarnya jika chap kali ini maupun fic. nenk kali ini masih belum atau tidak berkenan di hati para readers sekalian, dan nenk ucapkan Terima kasih banyak untuk readers sekalian yang sudah bersedia melirik, melihat, apalagi membaca dan meriview fic. yang tidak sempurna ini, Arigatou Gozaimasu ^^, Fic. ini akan tetap selesai walaupun anda tidak menyukainya, sekali lagi nenk ucapkan terima kasih banyak ^^,
Special Thanx To :
Chaos Seth, Riruzawa Hiru15, Maknae Kazuma, Kinkyo Sou, Naruzhea AiChi, Ray Kousen7, Zanpaku Naightfall Akenomyosei -mudah"an gak salah ketik :D, Rizuki Aquafanz, Haruka Ndo, Beby-chan, Jee-Zee Eunry, Cha'py Muetz, Wakamiya Hikaru.
- Udah di Update, nenk'nya jangan diomelin lagi ya, tapi buat chap depan... err... errr...*gigit jari
#dibankai karena fitnah 'omel' coz sebenernya gak ada yang ngomel syh, senpai-senpai kan baik semua ma nenk~ *Hug.. Hugg... ^aku sayang kalian^
um... aaa... *kabuuurrrr lagiiii -
The Reader : Salam kenal juga ^^, ho'oh gapapa koq, dirimu mau sempetin mampir aja nenk udah seneng and berterima kasih banget, um... masa syh seperti itu, jadi ulam -malu- nenk,heheh kalo chap kali ini bagaimana? jika masih belum berkenan tolong nenk dimaafkan, and mohon bimbingannya ya ^^, Arigatou Gozaimasu^^,
Hana Kuroshiro : Salam kenal juga Hana-san ^^, -eh, bolehkah nenk panggil seperti itu?- belum end koq, masih ada satu chap lagi besok xixixi, calonnya Rukia? dirimu maunya siapa? chap depan ada jawabannya ^^, Arigatou Gozaimasu ^^,
can-can : Iya~, nenk disini hehhe, ho'oh diterusin, udah kilat belom updatenya? hehehhe Semangattt! Arigatou Gozaimasu can-can ^^,
Uki gagal log-in : Uki~ hahahh dirimu twu aja, jadi ulam nenk ma uki wkwkwkw, hoo? typo ya? xixixi maap ya uki, seperti biasa faktor kurang teliti, but thanx buat koreksiannya, tapi gimana cara editnya ya? ^^a eh, my stories? haahhaa kirain udah ga ada yang minat stories yang itu, xixixi gomen.. gomen.. update segera juga deyh, Arigatou gozaimasu ^^,
290412
-nenk kate-
