Tsunayoshi mengambil tasnya lalu menatap sekeliling kamarnya.
"Entah kenapa... sejak aku ke dunia ini... aku nggak lihat Reborn... mungkin dia ada urusan." Gumamnya pelan sambil berjalan turun ke lantai satu, tepatnya ke ruang makan, di sana ada Renato yang duduk manis sambil makan roti bakar, ia menoleh sebentar.
"Selamat pagi Tsuna-kun!"
"Pagi." Balasnya singkat. Tsuna mengambil selembar roti lalu mengoleskannya dengan selai coklat dan memakannya dengan perlahan.
Tanpa tahu hari ini akan menjadi hari terburuk baginya.
Sunless Sky
A Katekyo Hitman Reborn Fanfiction
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
Pair: R27, 2795, 5986
No YAOI
Chapter 01
Namimori Town
"Ohayo gozaimasu! Juudaime." Sapa Gokudera—seperti biasa dia selalu datang menjemput Tsuna, sambil tersenyum ramah
"Ohayo Gokudera-kun." Balas Tsuna.
"Ohayo Gokudera-san." Renato tersenyum sambil menatap Gokudera dengan ramahnya.
"Tsk, Ohayo." Balas Gokudera cuek, Tsuna hanya bisa sweatdrop di tempat, lalu mereka bertiga jalan kesekolah bareng. Lalu diperjalanan mereka bertemu Yamamoto jadinya mereka berangkat sekolah berempat.
Namimori Junior High School
3-A
"Ohayo Tsuna-kun." Sesosok gadis berambut coklat muncul tiba-tiba di depan Tsuna yang sedang duduk membuatnya kaget.
"Ehhh? K—Kyoko-chan? O—ohayo!"
"Oi onna! Jangan buat Juudaime kaget!" seru Gokudera kesal.
"Maa... maa..." Yamamoto menepuk-nepuk pundak Gokudera untuk menenangkannya.
"Jangan sentuh gue Yakyuu baka!" seru Gokudera—lagi, sementara yang dibentak cuman tertawa.
"Jangan ketawa begok!" namun bagaikan angin lalu, Yamamoto tak berhenti tertawa. Setelah 5 menit baru ia berhenti tertawa.
"Oii Tsuna!" suara terdengar dari sebrang, salah satu teman sekelas Tsuna, Tsuna menoleh ke sumber suara.
"Hm, ada apa ya?"
"Di cariin Byakuran tu!"
Tsuna terdiam
"Byakuran?"
Mungkin Byakuran bakal ngasih tahu misinya dia apa. Diapun bergerak mengikuti temannya itu menuju sebuah kelas. Yakni kelas 3-C
"Apa Byakuran jadi guru ya disini?"
Salah.
Dia menganga nggak jelas melihat pemandangan yang ada di depannya.
Byakuran.
Lengkap dengan seragam yang sama seperti yang dia kenakan. Jangan lupakan di kelas itu juga ada Irie dan Spanner.
"Apa maksudnya ini."
"Ah Ohayo~ Tsunayoshi-kun."
"Ah... Ohayo Byakuran." Balasnya sambil sweatdrop ditempat.
"Pulang sekolah bisa temui kita di atap nggak?"
Tsuna mengangguk.
"Apa hanya itu saja? Kalau begitu aku akan kembali ke kelas."
"Tunggu dulu. Tsunayoshi-kun~ menurutmu ada yang aneh tidak?"
Tsuna terdiam.
"Sun Arcobaleno tidak ada dirumah ya?"
"Mungkin Reborn sedang ada urusan di Italy." Jawab Tsuna tenang.
"Tidak."
Tsuna menatap Byakuran dengan tatapan bingung. Namun perasaannya mengatakan bahwa hal yang dikatakan Byakuran adalah hal yang paling tak ingin ia dengar.
"Kau... tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Sun Arcobaleno, maupun Arcobaleno lainnya. Karena, mereka—" kata-kata Byakuran terputus meninggalkan Tsuna yang masih penasaran.
"Mereka semua sudah meninggal."
Tsuna terdiam, lalu ia kembali bersuara.
"Benarkah?"
"Hm..."
"Oh..." suasana kembali hening.
'Aku harusnya tak mengatakan hal ini ke Tsunayoshi-kun. Tapi—"
"Hanya itu saja kan? Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu." Tsuna pergi tanpa sedikitpun menoleh kearah Byakuran.
SKIPPED
Hari ini Tsuna pulang sendiri tanpa ditemani Renato maupun Gokudera dan Yamamoto, hari ini terasa sangat hampa.
Tsuna menatap pintu gerbang rumahnya, lampu kamarnya hidup. Pasti di dalam ada Gokudera dan Yamamoto, atau kalau bukan mereka, mungkin Renato.
Tsuna melangkahkan kakinya, menjauhi rumah itu. Entah kenapa ia tidak ingin pulang. Ia melangkah menuju sebuah jembatan. Terus berjalan hingga ia pun duduk di pinggiran sungai.
Apa yang ia takutkan, telah terjadi
"Tidak..."
"Kau tidak akan bertemu lagi dengan Sun Arcobaleno, maupun Arcobaleno lainnya."
"Karena mereka sudah mati."
"Ukh..."
Tsuna memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit. Entah kenapa ia merasa matanya basah.
"Eh..."
Satu persatu air itu menetes dari dagunya turun ke rumput hijau yang terhampar luar di pinggiran sungai.
Dengan pelan Tsuna menghapus air matanya lalu menundukkan kepalanya.
Ia tak tahu kenapa, namun sekarang ia hanya ingin sendiri.
Sementara di rumah Tsuna.
"Tsuna-kun belum pulang ya?" Renato menatap kamar Tsuna yang masih kosong melompong, ia lalu menatap kearah jam
Jam menunjukkan pukul 22:30
"Sudah larut malam namun Tsuna-kun belum pulang juga..." Renato bergegas mengambil mantel musim dinginnya lalu keluar dari rumah Tsuna.
"Aku harus menemukan Tsuna-kun." Ia terus berjalan di tengah dinginnya musim dingin, rasa dingin menusuk kulitnya yang pucat itu.
Namun ia tak peduli, ia harus menemukan Tsuna-kun.
Tsuna-kun belum pulang dari tadi, ia pasti lebih kedinginan daripadna drinya karena Tsuna tidak membawa mantel.
"Tsuna-kun..." ia terus mencari Tsuna sampai akhirnya ia melihat siluet Tsuna sedang berjalan ditengah dinginnya malam. Renato langsung bergegas menuju posisi Tsuna. Namun ia merasa kepalanya sangat sakit. Ia tak tahu kenapa, namun ia tidak bisa berdiri lagi.
Pandangannya mulai pudar, namun ia tetap berusaha untuk menggapai siluet itu.
"Ts..Tsu...na-kun."
Sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
"Ukh..."
Renato membuka matanya pelan, ia menatap sekelilingnya. Ini bukan rumahnya, lalu jika ini bukan rumahnya lalu ini rumah siapa?
"Ah! Kau sudah sadar, Renato."
Suara itu...
"Ya...mamoto...kun?"
Wajah pucatnya menatap Yamamoto.
"Kau mencari Tsuna ya? Dingin-dingin kayak gini?"
Renato mengangguk pelan.
"Bukan kau itu fisiknya lemah dan mudah pingsan. Harusnya kau tak mencari Tsuna diudara yang sedingin ini. Kau kan bisa menyuruhku atau Gokudera."
"Ta..pi aku... khawatir... Tsu...na-kun... be...lum pulang dari tadi. Ji...ka aku memberi tau... salah... sat..u dari kalian, kalian pasti khawatir."
Suaranya terdengar lemah. Yamamoto hanya tersenyum.
"Tsuna tidak akan kenapa-napa. Yasudah aku antar pulang ya? Kau bisa jalankan?—ah kayaknya nggak mungkin. Aku gendong ya."
Renato hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Yamamoto.
Sunless Sky
Renato terdiam sambil menatap langit-langit kamarnya, hari ini ia tidak masuk sekolah karena kondisinya yang tak memungkinkan.
Namun yang pasti ada satu hal yang membuatnya tidak tenang.
Tsuna... ia belum pulang.
Ia mengatakan semuanya pada Gokudera, bahwa Tsuna tidak pulang kemarin. Tentu saja Gokudera marah dan berkata kenapa kau tak memberitahuku lebih awal. Gokudera berniat untuk membentaknya lebih keras lagi namun dihentikan oleh Yamamoto.
"Maa.. maa... tenang Gokudera, mungkin Renato hanya tak ingin kita khawatir. Ia bahkan rela mencari Tsuna sendirian ditengah malam yang dingin ini mengingat tubuhnya itu mudah sakit."
Gokudera terdiam dari dua belas hari semenjak dia sekolah disini dia hanya hadir sebanyak 6 hari sementara sisanya dihabiskan dengan berdiam diri di rumah sakit.
Tapi tetap saja. Ia khawatir.
Kalau saja ia memiliki fisik yang kuat.
Kalau saja ia tidak lemah seperti ini.
Ia mungkin akan mencari Tsuna.
Renato mencoba untuk bangun, namun ia terjatuh lagi. Ia hanya bisa terdiam sampai ia merasakan hal itu.
Seseorang akan masuk ke dalam rumah ini.
"Tadaima."
Itu suara Tsuna. Renato hanya terdiam, sebenarnya ia ingin turun ke bawah, tapi tak bisa.
Renato mulai merasa mengantuk, dan sebelum seseorang membuka pintu kamarnya, iapun tertidur.
Tsuna melihat Renato yang tertidur dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, tapi tidak lama kemudian dia menghampiri pemuda itu dan mengatakan sesuatu.
"..."
Namun sayangnya kata-kata itu terlalu kecil sehingga hilang tertelan angin lalu.
Sunless Sky
Hari ini dapat mata pelajaran olahraga, seperti biasa Renato hanya melihat siswa 3-A yang berlari dari jendela di dalam kelas. Tiba-tiba sesosok pemuda berambut hitam panjang yang jalin panjang datang.
"Selamat pagi, Renato. Saya ingin berbicara dengan anda."
Renato menoleh kearah pria yang terlihat seperti orang china ini lalu bertanya.
"Hm? Siapa ya?"
"Saya dari kelas 3-B—"
"—nama saya Fon."
Lalu semuapun menjadi gelap.
To Be Continued
Haaaaa~~~H baru bisa update sekarang... aduh greget deh
Oh iya thanks buat yang ripiu, maupun yang ga tapi udah mau baca fanfic saya yang ala kadarnya.
Sampai jumpa chapter depan ya!
