Okeee, ini dia! Udah Yumi usahakan untuk update secepatnya kan? ^_^v
Chapter yang ini enggak terlalu berat, sih… Gak seberat chapter 1.
Dia untuk istirahat(?) aja, soalnya chapter sebelumnya serius banget!
Eimi-senpai, Icime-senpai, Dum-senpai (kupanggil begitu boleh ya? XD), dan Lady-senpai: Makasih banyak untuk reviewnya!
UchihaArisa-san & Wulan-chan: Makasih bangeeet, Yumi seneng kalo kalian suka!^o^
Sip, silahkan menikmati chapter ke-2nya! Semoga enggak mengecewakan.
P.S: NARUTO belongs to Kishimoto Masashi-san.
Chapter 2 : Some Qustions?
"Sasuke-san… Salam kenal!" sapanya ceria dengan senyum yang sama.
"…"
Sepi.
Sunyi.
Seluruh murid kelaspun juga terdiam melihat respon Pangeran mereka. Bila reaksinya adalah ketidakpedulian, mungkin siswa-siswi seisi kelas tidak akan memamerkan tanda tanya disekitar otak mereka. Tapi dia, si Pangeran Es. Justru diam menatap si murid baru. Dengan tatapan… bingung?
"Um, ano… Sasuke-san?" Naruto mencoba sekali lagi menyapanya.
"…"
"S-Sasuke-san, apa ada yang salah?" Oke, Naruto mulai gugup sekarang. Sementara Sasuke masih sibuk dengan pikirannya.
Waktu itu, dia seorang wanita kan?
Rambutnya panjang kan?
Dan dia jelas makai gaun!
Gaun tanpa lengan ditengah malam bersalju…
….Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis itu, sih?
Memakai gaun tidur tanpa lengan ditengah cuaca dingin.
"Dobe." celetuk Sasuke otomatis entah atas dasar apa.
"…"
Sepi.
Sunyi.
Lebih parah dari yang sebelumnya.
Kalau memang responnya adalah diam, itu lebih masuk akal. Dari pada bibir seorang UCHIHA yang terdidik dalam dunia bisnis, melontarkan kata yang… kurang pantas dan tanpa alasan pada pertemuan pertama dengan seseorang. Itu lebih membingungkan.
"TEME! Apa sih maumu? Aku kan bicara baik-baik!" desis Naruto dengan berbagai siku dikepalanya.
"S-Sasuke-kun… itu bukan kata yang tepat untuk dikatakan saat perkenalan, lho…" kata Sakura dengan gugup sementara siswa-siswi lainnya sweatdrop masal.
"Hn," tatapan matanya kini telah kembali menjadi datar. Sebelum ada seorangpun yang merespon lebih lanjut, ia justru beangkit dari tempat duduknya, dan berjalan keluar kelas.
"Hei, Sasuke, mau kemana kau? Pelajaran baru saja dimulai dan kau akan membolos?" tegur Neji dari tempatnya duduk.
"Hn," Lalu lirikannya terarah kepada seorang siswa berambut merah. "Katua Kelas, aku ke taman." Katanya datar.
Sepi.
Sunyi.
Lagi.
"Neraka benar-benar membeku…" bisik seorang siswa.
"Astaga, sejak kapan Sasuke-sama melapor saat ingin membolos…?" gumaman siswi lain menyusul.
Gaara hanya diam tanpa ambil peduli, dan menatap datar halaman tengah buku yang dipegangnya. Sementara Sakura dan Hinata berusaha menenangkan Naruto yang mood-nya telah rusak dihari pertama sekolah. Sebelum Kiba menghampiri Naruto dan memulai perkenalan.
"Ini gila! Tapi mungkin saja mereka kembar… tapi banyak sekali kebetulannya… tunggu… apa mungkin kalau dia menyamar atau sejenisnya? Yang satu itu harus dipastikan!" dia duduk gelisah dibangku taman yang semalam disinggahinya. Matanya menatap penuh perhitungan kearah jendela gedung tua, lokasi dimana dia bertemu gadis yang kemarin menarik perhatiannya.
End Normal POV
KRIIIIIINNG
"Yeah! Istirahat! Hey, teman-teman, dikantin ada ramen tidak?" teriakkannya pada teman-teman terdekatku yang sepertinya kini telah dekat dengannya juga.
Aku hanya berdiri diambang pintu kelas dan bersandar santai. Aku menatap datar padanya, memperhatikan tiap gerak-geriknya.
"N-Naruto-k-kun, s-su-suka ram-ramen?" tanya Hinta dengan wajah merah terbakar.
"Yap! Sangat suka! Ramen adalah makanan kesukaanku sepanjang masa." Jawabnya bangga dengan kedua ibu jarinya terangkat.
"Ada." Mulutku tanpa sadar menjawab pertanyaannya. Dan sekali lagi. Hiruk pikuk dikelas berubah menjadi sunyi.
Ck, aku hilang kendali lagi. Kenapa setiap berhubungan dengannya jadi seperti ini? Diam-diam aku merutuki diri sendiri atas kebodohanku.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Seruku datar, seraya mengibaskan tangan memberi kode padanya untuk mengikutiku.
Normal POV
Sunyi.
Lagi-lagi sunyi mendadak.
Setelah Sasuke keluar, kelaspun masih tetap terdiam,
Sakura berhenti berbicara dengan Ino yang terpaku dengan mulut terbuka. Wajah Hinata yang memerah segera kembali normal dengan wajah kebingungan. Kiba mematung dengan posisi tangan yang terkepal kearah Shino yang tidak mampu ditebak ekspresinya. Neji berhenti dari kegiatan membacanya. Gaara,,, tetap Gaara. Dan Naruto…
Sekali kedipan.
Sekali lagi.
Dua kali kedipan lagi.
"Um… kalau begitu aku keluar duluan ya, teman-teman. Jaa!" Katanya setelah tersadar dan berlari menyusul Sasuke sebelum kehilangan jejaknya.
Naruto berlari dan melihat punggung Sasuke yang berjarak beberapa meter darinya. Sejujurnya, meski tubuhnya seolah berkonsentrasi mengejar si raven, tapi pikirannya sibuk pada kebingungannya.
Teme itu kenapa sih? Tadi pagi sikapnya seperti member deklarasi perang. Tapi sekarang dia ingin berbicara denganku. Secara pribadi? Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang ingin dibicarakannya?
Naruto segera berhenti berpikir ketika dia sadari Sasuke berhenti. Dia melihat tempat mereka berada sekarang. Bangku taman dibawah pohon sakura dihalaman sekola. Atau tepatnya ditaman didepan gedung lama sekolah mereka.
Astaga, si Teme ini mikir apa sih? Kenapa harus ditempat seperti ini? Dia sepenyendiri itu ya?
"Hey, Dobe." Panggil Sasuke, yang dibalas oleh deathglare dari yang dimaksud.
"Apa, sih, Teme?" tanyannya.
"Kau punya saudara kembar?" Sasuke memulai pembicaraan.
"Tidak." Jawabnya yakin dan otomatis.
"Apa jenis kelaminmu?" celetuk Sasuke to the point.
"…"
Shiiiiiiiiiinng
Whhhuuuuuuuuuushh
"Te-Teme, sudah kuduga kau memang yang teraneh dikelas sejak tadi pagi." Kata Naruto yang kini berkeringat dingin dengan jari tangan kanannya yang memijit batang hidungnnya. "Kalau kau demam sebaiknya beristirahat saja di UKS!"
"Aku tidak butuh saran tidak berguna seperti itu." Kata Sasuke datar. "Pokoknya jawab saja."
"Jelas sekali aku ini laki-laki, kan? Kenapa pertanyaanmu abnormal seperti itu?" Naruto mulai geram dengan siswa dihadapannya.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya seraya menyeringai. "Yakin bukan perempuan?"
"Temeee! Kalau kau memang niat mati bilang saja dari tadi! Tidak perlu memancingku dan menghancurkan mood-ku dihari pertamaku sekolah! Aku ini 100% laki-laki! Sebenarnya kau ini mau apa sih?" desis Naruto.
"Yakin?" tanya Sasuke lagi, tanpa ambil peduli pada pertanyaan Naruto.
"TENTU SAJA YAKIN! AKU SUDAH HIDUP SELAMA 16 TAHUN, BODOH! AKU BISA MEMBEDAKANNYA!" Naruto berteriak mengeluarkan rasa kesalnya. Terpajang jelas siku-siku berbagai posisi dikepalanya.
Sekali lagi Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Kalau memang begitu, kenapa harus marah-marah?"
"MANA ADA LAKI-LAKI YANG TIDAK MARAH KALAU DITUDUH PEREMPUAN, HAH?" Jujur saja, saat itu ingin sekali rasanya Naruto menyambar pisau atau apalah yang tajam, dan menghujamkannya penuh nafsu pada pemuda raven dihadapannya.
"Hn, tapi aku tidak akan berhenti mengawasimu. Mulai sekarang." Tutrnya seraya berbalik menuju gedung sekolah. Meninggalkan Naruto yang kini menatapnya seolah dia baru saja menelanjangi anak perempuan tak berdosa ditengah jalan.
Sudah kuduga, dia gila. Batin Naruto yang tanpa sadar merinding. Akhirnya ia memutuskan untuk ke kantin dan …
"AH! Tunggu, teme! Aku tidak tahu dimana kantinnya! Aku harus kemana? Kau kan yang membawaku kesini! Tanggung jawab!" panggilnya seraya berlari mengejar si raven.
To be continue…
Yosh! Beginilah! Maaf ya, kalau ini enggak sesuai harapan…
Kayaknya ini memang lebih pendek dari chapter sebelumnya.
Mungkin karna chapter 1 banyak penjelasannya. Gomeeeenn!
Jujur, Yumi sendiri juga geregetan! Rasanya Sasuke pingin Yumi cubit…
Lama-lama, Naru kasian juga, ya… Nasibnya harus berhadapan dengan orang yang kayak begitu.
*nyengir* Silahkan tunggu di chapter berikutnya ya~ ^-^6
Yak, Yumi harap readers memberikan reviewnya. Supaya Yumi bisa tau kurang-lebihnya.
Arigato! ^o^d
