Annyeong, long time no see. FF ini adalah REMAKE dari novel Mira W berjudul 'Jangan Pergi, Lara'. Tidak meremake secara keseluruhan sih. Saya hanya mengubah nama tokohnya dan melakukan penambahan serta pengurangan di beberapa bagian. NO BASH, jika Anda tidak suka, cukup klik icon 'X'. Mudah kan? ^.v RnR, ne? Gumawo *bow*

Cast

-. Lee SungMin

-. Kim RyeoWook

-. Choi SiWon

-. Cho KyuHyun

-. And other cast

Summary

Menceritakan perjalanan cinta Lee SungMin, seorang calon dokter yang sedikit 'slengean'. Ketika saudara kembarnya yang menderita kelainan jantung mencintai kekasihnya, akankah SungMin merelakan sang kekasih untuk saudaranya? Sementara di sisi lain, seorang pasiennya selalu berusaha menarik perhatiannya. /Mian, summary gaje T.T /WonMin, KyuMin/GS/DLDR

Warning

GS, OOC, Remake, typo(s), Crack Pair (maybe), DLDR

Rate

M?

Disclaimer

Semua chara di ff ini adalah milik Tuhan YME, keluarganya, dan dirinya sendiri. Tapi bagaimanapun keadaannya, SungMin mutlak milik saya dunia akhirat :D *dimutilasi pumpkins*

Happy Reading ~~~

oooOOooo

Chapter 2

SungMin sudah menguap untuk yang kesekian kalinya ketika tiba-tiba bangku di sebelahnya diduduki oleh seorang namja. Dan SungMin tidak jadi menguap ketika matanya yang sudah setengah terpejam mengenali namja itu.

"Kau..." desisnya tertahan. Lalu cepat-cepat diperbaikinya sikapnya.

"Dokter...Choi?" gumamnya gugup.

Namja itu menoleh dengan terkejut. Awalnya dia tertegun sesaat, seolah sedang mengingat-ingat yeoja di depannya ini. Tapi kemudian dia tersenyum. Dan ketika melihat senyumnya, ketika melihat dimple yang begitu memikat itu, tiba-tiba saja SungMin menyesal telah datang ke gedung itu dengan hanya memakai T-shirt dan celana jeans. Dan penyesalannya semakin bertambah ketika RyeoWook datang menghampiri mereka setelah acara selesai. SungMin baru menyadari betapa cantik dan anggunnya RyeoWook dalam gaun hitam panjangnya.

"Wookie, perkenalkan. Ini Dokter Choi SiWon, dosenku." Lalu kepada Dokter Choi, katanya pelan, "Saudara kembar saya, Dok. Lee RyeoWook."

Mereka berjabat tangan sambil menukar senyum. Dan SungMin hampir tidak bisa menahan kekesalannya ketika dia melihat mata Dokter Choi bersinar penuh kekaguman. Tapi RyeoWook memang pantas dikagumi. Dengan rambut tergerai panjang dan bebas hingga ke punggungnya, dengan gaun hitam panjang yang begitu mempesona, RyeoWook tampil begitu anggun seperti seorang putri. Dan di sisinya, SungMin tampak seperti yeoja berandal dengan jeans lusuhnya.

"Saya sangat mengagumi permainan pianomu. Kau benar-benar sangat berbakat." puji Dokter Choi.

Brengsek! Maki Sungmin dalam hati. Tanpa tau kenapa dan kepada siapa dia marah.

"Kamsahamnida." RyeoWook tersenyum malu. "Saya tidak menyangka seorang dokter juga menyukai musik klasik."

"Oh, saya merupakan salah satu penggemar fanatik. Kapan kau akan mengadakan konser seperti ini lagi?"

Dan mulailah mereka terlibat perbincangan tentang musik klasik. Membiarkan SungMin tertegun bengong menafsirkan bahasa planet mereka.

"SungMin-ssi juga bisa bermain piano?" tanya Dokter Choi tiba-tiba, setelah SungMin berdehem untuk yang keenam kalinya meski tenggorokannya tidak gatal.

"Oh, cuma bisa do-re-mi-fa-sol, Dok!" sahut SungMin spontan. "Itupun masih memakai sebelas jari!"

Dokter Choi dan RyeoWook tertawa pelan. Tapi di telinga SungMin, tawa mereka malah terdengar seperti ejekan.

.

"Wookie, kapan kau akan mengadakan konser lagi?" tanya SungMin setelah menurunkan Sannie di depan sekolahnya.

RyeoWook menoleh dengan heran.

"Kau sudah bertanya dua kali." gumamnya pelan, takut SungMin tersinggung. "Wae, Minnie-ya? Kau tidak mendadak jatuh cinta pada musik klasik, kan?"

"Tentu saja tidak!" jawab SungMin berlagak acuh. "Aku orang terakhir di dunia yang akan jatuh cinta pada musik klasik."

"Lalu kenapa kau terus bertanya? Apa karena...dokter itu?" mata RyeoWook menyipit menatap saudaranya.

"Nugu? Dokter Choi? Kalau mau bertemu dengannya, aku tidak perlu mengorbankan telingaku untuk mendengar permainan pianomu. Setiap hari dia di rumah sakit."

Dan SungMin menjadi curiga ketika tidak didengarnya jawaban RyeoWook. SungMin melirik sekilas. Dilihatnya RyeoWook sedang menatap lurus ke depan. Air mukanya begitu polos, seolah-olah tidak menyimpan perasaan apa-apa. Tapi SungMin malah semakin penasaran.

"Dia tampan, ya Wook?" pancing SungMin.

"Huh? Nugu?" RyeoWook menoleh kaget.

"Nugu? Ya Dokter Choi! Siapa lagi?" dengus SungMin jengkel.

"O..."

Sebenarnya SungMin ingin menoleh dan melihat perubahan wajah RyeoWook, ingin menerka arti "O" panjang itu. Tapi sial, sebuah taksi memotong seenaknya di depan mobilnya.

"Dia duda, Wook. Istri dan anaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan." pancing SungMin lagi.

"O..."

Hanya itu tanggapan RyeoWook. "O" panjang itu lagi. Tidak ada kelanjutannya. Aish!

"Apa kau tidak menyukainya, Wook?" SungMin tidak sabar lagi. Akhirnya dia menyerang langsung ke sasaran. Sudah dua kali pancingannya meleset.

Sekarang RyeoWook menoleh. Dan SungMin melihat ada kepedihan dalam senyumnya.

"Dia pernah kehilangan anak dan istrinya." sahut RyeoWook lirih. "Dia pasti berharap suatu hari nanti dia dapat membangun kembali mahligainya yang hilang. Lalu apa yang bisa diberikan oleh seorang yeoja penyakitan seperti aku ini, Min?"

Sejenak SungMin tertegun. Tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Segurat keharuan menoreh batinnya.

"Tahun depan aku jadi dokter." SungMin berusaha menutupi keharuan dalam suaranya. "Akan kucarikan bahan plastik yang paling bagus untuk mengganti katup jantungmu yang rusak. Aku janji, kau pasti bisa memiliki anak kembar sekaligus, Wookie!"

Tentu saja SungMin hanya bercanda. Tapi sampai menurunkan RyeoWook di depan sekolah musiknya, SungMin masih tak habis pikir, kenapa dia harus mengucapkan kata-kata seperti itu? Dia tak ingin RyeoWook juga jatuh cinta pada Dokter Choi, kan? Nah, kenapa tadi dia memberinya harapan?

.

Ketika SungMin memasuki kamar pasien yang terletak di ujung koridor itu, bau alkohol yang begitu menyengat menyapa hidungnya. Dan dia semakin kesal ketika melihat pasiennya sedang duduk setengah berbaring dengan bertelanjang dada.

"Annyeonghaseyo, Dok." sapa namja itu sambil tersenyum jahil.

"Siapa yang mengijinkanmu membawa alkohol ke kamar?!" desis SungMin tajam. "Teman-temanmu yang membawakannya untukmu?"

"Tidak penting saya mendapat ini dari mana." sahutnya santai.

"Arrasso! Minumlah terus!" cetus SungMin gemas. Dia berbalik keluar dari kamar. Tapi suara namja itu membuatnya berhenti melangkah.

"Kau tau, Dok?" tanyanya sambil menyeringai.

"Mwo?" SungMin mendelik.

"Saya tidak percaya kau tidak suka alkohol!"

"Bukan urusanmu! Yang jadi dokternya saya, bukan kau!" bentak SungMin geram.

"Omo, galaknya!" Namja itu bergidik pura-pura takut. "Kau tau kenapa saya menolak dipindahkan ke rumah sakit yang lebih bagus?"

"Saya tidak wajib menjawab semua pertanyaanmu, kan? Sekarang, pakai bajumu!" perintah SungMin judes.

"Tapi...bagaimana Dokter bisa memeriksa kalau saya pakai baju?" namja itu tersenyum penuh kemenangan. Meski tidak melecehkan, tapi senyum itu cukup membuat paras SungMin memerahsedikit.

Cerewet, maki SungMin dalam hati.

Tapi harus diakuinya, meskipun menyebalkan, tapi dia mulai tertarik pada tingkah laku namja itu. Terutama pada dadanya yang bidang itu, pada bulu-bulu halus yang menyemaki dadanya.

Aish! Mati-matian SungMin berusaha supaya pandangannya tidak turun ke dada yang terbuka itu. Tapi berandal ini memang evil, dia tau sekali dimana disimpannya pesona yang memukau itu. Dan sekali evil tetap evil, dia tak bosan-bosannya menggoda SungMin setiap kali yeoja itu datang untuk mengontrol keadaannya.

"Aku benar-benar tobat pada pasien di kamar tujuh itu! Kalau belum diancam, dia tidak mau menurut!" gerutu SungMin pura-pura kesal.

"Kalau begitu, rayu saja, Min!" goda DongHae sambil menyeringai.

"Minnie, aku ada usul!" sela HyukJae tiba-tiba. "Bagaimana kalau kita tukar tambah?"

"Apa yang mau kau tukar, Hyuk? Namjachingumu yang berkutu itu?"

"Pasienmu!" HyukJae mengedip lucu. "Tukar dengan pasienku yang di kamar empat."

"Pasienmu yang hampir kadaluarsa itu, Hyuk? Andwe! Aku masih waras!"

"Tadi kau bilang kau tobat pada pasienmu itu. Dia cerewet kan?"

"Hah, daripada dapat pasien seperti pasienmu yang sudah tua itu, lebih baik aku dapat dua pasien lagi yang seperti berandal itu, Hyuk!"

"Aish, itu cuma alasanmu supaya lebih lama di bagian bedah!" cibir DongHae.

Dan SungMin hanya bisa tersenyum masam saat HyukJae dan DongHae terus saja menggodanya. Tapi, memang harus diakuinya, dia memang bertambah betah berlama-lama di rumah sakit semenjak masuk ke bagian bedah. Apakah karena pasien evil yang satu itu atau karena... Dokter Choi?

Alangkah bahagianya dapat mengobrol dengan Dokter Choi. Mendiskusikan suatu kasus. Dokter Choi begitu telaten menjelaskan hal-hal yang belum diketahui SungMin. SungMin sangat mengaguminya. Di mana lagi ada dokter bedah setampan dia? Dia begitu pintar, bukan hanya di bidangnya, tapi juga di bidang lainnya. Dokter Choi bukan hanya ahli membedah tubuh manusia, tapi dia juga mahir bermain biola. Dia juga menguasai beberapa jenis olahraga. Tenis, berenang, beladiri. Pengetahuannya juga sangat luas. Bukan hanya di bidang kedokteran, tapi juga melebar ke urusan politik dan olahraga. Dan di hadapan namja yang nyaris sempurna itu, SungMin mendadak berubah jinak. Ya, mungkin SungMin memang harus mengakui, dia memang menyukai Dokter Choi.

.

Sebenarnya sudah beberapa hari ini, SungMin merasa lutut kirinya sakit. Tapi dia tidak peduli. Sejak kecil, sakit memang tidak pernah membuatnya mengeluh. Lagipula, memang tidak ada seorangpun yang mendengar keluhannya. Sudah ada RyeoWook yang selalu sakit. Dan waktu Eomma sudah tersita habis untuk penyakit RyeoWook. Tapi hari ini, lututnya bertambah sakit. SungMin terpaksa menyeret sebelah kakinya ketika menaiki tangga yang menuju kamarnya.

"Aigoooo! Sannie memang tidak salah lihat. Minnie Eonnie pincang!" teriak Sannie.

Teriakan yang lantang itu membuat RyeoWook dan sang Appa seketika menoleh ke arah SungMin.

"Minnie-ya, gwenchana?" tanya RyeoWook khawatir.

"Ah, gwenchana. Hanya sedikit ngilu." sahut SungMin acuh. Dia meneruskan langkahnya tanpa menoleh. Tapi RyeoWook terus mengikutinya sampai ke kamar.

"Apa kau jatuh, Min?"

"Jatuh? Kau pikir aku anak kecil?" SungMin tertawa dibuat-buat.

"Coba kulihat." desak RyeoWook penasaran. " Beberapa minggu lalu, kaki kirimu terkilir kan? Waktu itu kau tidak mau diurut."

"Sekarang juga tidak! Menyingkirlah, tukang pijit!" jawab SungMin tegas.

Tapi RyeoWook tidak mempedulikan gurauan saudaranya. Dia duduk di sisi tempat tidur SungMin dan memeriksa kakinya.

"Kaki yang sama, Min? Yang kiri lagi? Dimana yang sakit?" RyeoWook menekan pelan tungkai saudaranya. "Disini?"

"Bingo! Tepat di bagian yang sedang kau pegang, ahjumma tukang pijit. Di lutut!" gurau SungMin sambil meringis menahan sakit.

"Mungkin kau terlalu lelah membawa mobil besar itu, Min." sela HanGeng yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.

"Nah, ini kesempatan bagus. Sudah lama Minnie menunggu, kapan Appa akan mengucapkan kata-kata itu!"

Sambil tersenyum pahit, HanGeng duduk di tepi ranjang SungMin.

"Kau ingin Appa menjual mobil itu?"

"Asal diganti dengan yang lebih bagus dan lebih mungil!" sahut SungMin jenaka.

Lama tuan Lee menatap putrinya dengan getir.

"Appa janji, mulai besok Appa akan memisahkan sedikit penghasilan Appa. Akan Appa belikan mobil baru yang mungil untukmu." kata HanGeng sungguh-sungguh. "Kau kan tau, Appa tidak punya banyak uang. Appa tidak bisa menjanjikan hal yang muluk-muluk padamu. Tapi, kalau Appa punya uang..."

"Appa, sudahlah. Minnie hanya bercanda." potong SungMin cepat, mati-matian membuat nada suaranya terdengar ceria, meski sesungguhnya, hatinya tengah diremas oleh keharuan yang begitu besar.

"Tapi kakimu sakit..."

"Kaki Minnie sakit bukan karena mobil itu. Minnie terlalu banyak berdiri waktu jaga malam!"

SungMin selalu seperti ini, pikir HanGeng terharu. SungMin tak pernah membiarkan orang lain sedih. Ditanggungnya sendiri kesakitan dan penderitaannya.

"Sebaiknya kau istrirahat dulu, Min. Jangan terlalu banyak nyetir." kata RyeoWook lembut.

"Ah, itu pasti cuma alasanmu untuk bolos!"

"Aish, aku serius, Minnie!"

"Eh, ngomong-ngomong, kapan kau mengadakan konser lagi, Wook?"

"Besok malam."

"Besok?" SungMin melompat kaget. "Kau tidak mengundangku?"

"Sebenarnya kali ini resital..."

"Apapun namanya, kau harus mengundangku. Aku suportermu yang paling fanatik. Aku bertepuk tangan paling keras untukmu!"

"Tadinya aku ingin mengatakannya, Min. Tapi karena kakimu sakit..."

"Aneh, Wook. Sakit di kakiku langsung hilang!" SungMin menepuk keras bahu saudaranya.

Tentu saja RyeoWook tidak percaya. Dia tau SungMin berdusta, tapi apalagi yang harus dikatakannya?"

.

RyeoWook menatap saudaranya dengan bingung. Malam ini dandanan SungMin sungguh luar biasa. Dia bukan saja memakai gaun panjangsama seperti yang dikenakannya, dia bahkan memakai wig yang model dan panjangnya persis sama dengan rambut RyeoWook.

"Aku jadi curiga. Kau ingin menyaingiku atau ingin mengecoh panitia?" cetus RyeoWook setelah tidak dapat lagi mengekang rasa ingin tahunya.

"Apa salahnya meniru dandananmu? Memangnya kau punya hak paten?" sahut SungMin datar.

"Kau memang makin cantik, Minnie. Tapi aku ragu, JungMo oppa bisa mengenalimu." RyeoWook tersenyum sabar.

"Jangan khawatir, dia tidak akan keliru menciummu. Dia hafal bauku, kok!"

"Kata siapa, salesman itu akan ikut bersama kita?" potong HeeChul galak. "Siapa yang mengijinkan dia ikut?"

"Siapa yang bisa melarang dia pergi? Motor, ya punya dia. Uang juga dia yang punya!" balas SungMin ketus. Sedikit tersinggung karena Eommanya merendahkan JungMo, namjachingunya. Eomma memang tidak menyetujui hubungannya dengan JungMo. Menurut Eomma, JungMo hanyalah seorang namja yang tidak punya apa-apa.

"Minnie Eonnie! Eonnieeeeee...!" teriak Sannie dari bawah. Dia berlari-lari ke atas dan sudah membuka mulutnya lebar-lebar ketika tiba-tiba dibatalkannya ketika melihat Eommanya. Setelah HeeChul pergi, baru dia berani menghampiri SungMin dan berbisik,

"JungMo oppa sudah datang. Dia menunggu di bawah!"

Bergegas SungMin menyelinap ke bawah, tapi seolah memiliki mata di balik tubuhnya, Eommanya sudah berbalik dan menatapnya dengan tajam.

"Ingat, hanya lima menit! Dan dia tidak boleh ikut bersama kita!" bentaknya judes.

SungMin mendengus berang. Dia menuruni tangga dengan kesal. Dan kejengkelannya mencapai puncaknya ketika JungMo bahkan tidak mengenalinya lagi!

"Wookie, apa Minnie sudah siap?" tegur JungMo hangat.

Meledak amarah SungMin melihat sorot kekaguman yang terpancar di mata namja itu. Belum pernah SungMin melihat JungMo menatapnya seperti itu. Matanya bersinar penuh gairah!

"Minnie belum siap! Tunggu saja disitu!" sahut SungMin ketus. Dibantingnya daun pintu dengan kasar. JungMo tertegun bengong.

RyeoWook tidak mungkin bersikap sekasar itu. Jadi yang muncul tadi pasti... Omona!

Dengan panik, JungMo mengetuk pintu. Dan pintu itu terbuka begitu kasarnya sampai JungMo terlompat mundur.

"Mian, Minnie! Aku tidak mengerti kenapa kau berdandan seperti Wookie!" jelasnya salah tingkah.

"Aku juga tidak mengerti kenapa kau memandang Wookie seperti itu!" SungMin membeliak marah. Sekali lagi SungMin membanting pintu. Dan sekali lagi JungMo tertegun bengong, tapi kali ini, dia tidak berani lagi mengetuk pintu.

Heran, pikir HeeChul curiga. Kali ini tidak ada lima menit. Apa mereka punya akal baru untuk menipuku?

HeeChul mengawasi gerak-gerik SungMin dengan cermat. Sejak dari rumah hingga ke tempat tujuan, tidak bosan-bosannya dia merapati putrinya yang satu ini. Tapi yang ditemuinya disana benar-benar di luar dugaan.

Tidak ada lagi salesman yang hanya memiliki motor tua nan butut. Tidak ada lagi namja bercelana jeans kumal yang selalu berisik dengan motornya itu.

Yang menunggu putrinya sekarang adalah seorang dokter yang luar biasa tampan dan sangat sopan. Aigoooo! Sejak kapan SungMinnya yang slengean itu bisa memilih namja yang benar?

"Bukan main." sambut Dokter Choi sopan, ketika dia menghampiri dua gadis kembar tersebut. "Dengan potongan rambut dan pakaian yang persis sama seperti ini, bagaimana saya harus membedakan kalian? Malam ini, kalian benar-benar menjadi sepasang anak kembar!"

Bersinar mata SungMin ketika mendengar pujian itu. Bukankah itu berarti dia sama cantiknya dengan RyeoWook? Tapi ketika dia melirik RyeoWook dan melihat betapa berserinya wajah saudaranya itu, kesenangannya langsung turun sampai ke dasar. Kapan pernah dilihatnya RyeoWook sebahagia itu? Seketika SungMin kehilangan gairahnya yang sempat meluap-luap tadi. Ada segurat perasaan tidak enak menoreh hati kecilnya. Sebuah perasaan yang sulit dijabarkan.

Sepanjang konser, SungMin hanya diam. Meski di depan sana, RyeoWook tengah menarikan jemarinya dengan lincah di atas tuts piano. Belum pernah SungMin merasa begitu terkesan dengan penampilan saudaranya. RyeoWook memainkan pianonya dengan penuh kesungguhan. Dengan segenap jiwa dan raganya. Membuat seluruh penonton terpaku di tempatnya, terpesona dengan kemegahan dan keindahan musik klasik yang disuguhkan RyeoWook.

"Daebak! Fantastis!" gumam Dokter Choi kagum.

Entah kenapa, tiba-tiba SungMin merasa hatinya tidak enak. Tadinya dia mengira karena pujian Dokter Choi, karena dia cemburu pada RyeoWook. Tapi ketika dilihatnya kepala RyeoWook terkulai di atas piano...

"RyeoWook-ssi kenapa, SungMin-ssi?" tanya Dokter Choi bingung.

Sebuah kesadaran melecut otak SungMin. Dengan cepat, SungMin naik ke atas panggung. Dokter Choi langsung membuntutinya.

RyeoWook setengah menelungkup di atas piano. Tangannya menebah dada kirinya. Nafasnya sesak dan berbunyi. Kulitnya dingin dan basah berkeringat. Wajahnya yang pucat berkerut menahan sakit. Pipi dan bibirnya sudah membiru. Tapi dia masih sadar penuh. Matanya menatap SungMin dengan panik.

"Panggil ambulans! Dia terkena serangan jantung!" perintah SungMin tegas, ketika para panitia menghampiri mereka dengan bingung. SungMin sudah lupa dimana dia berada. Dia lupa, orang-orang berjas dan berdasi di hadapannya itu bukanlah perawat di rumah sakit yang biasa diperintahnya. Tapi sesaat sebelum mereka melaksanakan perintah SungMin, Dokter Choi sudah mendahului menggendong RyeoWook...

TBC~~~

Annyeong, chingudeul *lambai2 genit*. Gumawo karena udah meluangkan waktu demi membaca ff ini. Mian kalau masih kurang berkenan di hati saudara2 sekalian. Kali ini saya mau mencoba menjawab pertanyaan dari para reader, antara lain :

~Ada yang nanya, gimana ciri2 Ming. Oke, secara fisik, wajah Ming dan Wook sama persis (namanya juga kembar identik). Tapi yang buat beda adalah cara berpenampilan mereka. Kalo Wook lebih terkesan feminim dengan rambut panjang, Ming lebih terlihat tomboy dengan rambut pendek. Sikap dan sifat mereka juga membuat mereka nampak berbeda. Ya, mungkin udah banyak yang taulah kalau sikap itu juga berpengaruh pada aura (?) yang dipancarkan. Ya, bisa dikatakan, kalo Wook lebih terlihat anggun karena sikapnya yang seperti putri, daripada Ming yang seenak udel dan sedikit badgirl.

~Ini ff WonMin ato KyuMin? Hm, bisa dikatakan ff ini melibatkan keduanya, meski di awal, lebih ke arah WonMin. Tapi ntar ada juga KyuMin momentnya. Buat yang pernah baca novel aslinya, pasti udah tau ff ini ujung(?)nya bakal seperti apa.

~Bakal nyesek gak? Hm, mungkin emang nyesek. Tapi gak bakal sad ending kok *kok jadi bongkar rahasia ya?*

Ah iya, jujur, sebenarnya saya gak tau, readerdeul sekalian mayoritas KyuMin shipper ato WonMin shipper. Karena itu, sebelumnya saya minta maaf seandainya nanti, ending dari ff ini kurang berkenan di hati kalian. Tapi siapapun kalian, KMS, WMS, atopun netral (?), saya tetap berterimakasih pada kalian semua. Akhir kata, saran dan kritik diterima, asalkan bukan dalam bentuk bash dan flame.

Gumawo *bow bareng sungmin yeobo* :D