Jungkook tak mengerti.
Sungguh, di dunia yang seluas ini, atau negara Korea Selatan yang menurutnya tidak kecil, atau di mana tempatnya bekerja dan hidup, mengapa ia bisa dipertemukan dengan seorang laki-laki bergolongan darah AB yang memiliki sifat absurd seperti alien bernama Kim Taehyung?
Pertama kali Jungkook bertermu dengan Taehyung di tempat coffee shop-nya bekerja, ia sempat berpikir bahwa pemuda berambut cokelat itu memiliki umur yang lebih muda darinya. Hei, Jungkook tak sepenuhnya salah, dilihat dari tingkahnya pun, Taehyung terkadang bisa terlihat seperti anak kecil. Dan bodoh—astaga, ia bisa saja dicekik sampai mati jika Seokjin sampai mendengarnya.
Oh, omong-omong soal Seokjin, ia juga sempat memiliki perspesktif yang buruk tentangnya. Jika bukan karena sifat posesifnya yang berlebih terhadap Taehyung, mungkin saja Jungkook sudah memberinya cap bahwa Kim Seokjin itu sudah gila. Jika bukan karena kejadian mengerikan yang menimpa Taehyung saat itu, mungkin saja Jungkook tidak akan pernah menyukai eksitensi Seokjin di sekitarnya.
Well, siapa yang tidak menyangka kalau Kim Taehyung yang hiperaktif itu sebenarnya menyimpan sesuatu yang besar di baliknya?
"Jungkook-ie, berhenti melamun!"
Jungkook berjengit, bibirnya meringis ngilu begitu bagian belakang kepalanya menjadi korban jitakan kepalan kecil tangan Taehyung. Ia menoleh cepat dan mencebik kesal begitu Taehyung balas menatapnya sambil nyengir seperti orang bodoh.
"Tidak usah memukulku, Hyung," keluh Jungkook sebal, lalu mengusap kepalanya yang berdenyut sakit. " Akan kulaporkan pada Seokjin-hyung."
"Astaga, sejak kapan kau menjadi seorang pengadu, eoh?" balas Taehyung pura-pura terkejut, ia mengambil secangkir gelas putih yang tersimpan di rak penyimpanan, membuka tutup slot espresso yang baru saja dibuatnya, lalu menuangkannya ke dalam cangkir secara hati-hati. "Aku juga tidak merasa melakukan kesalahan apapun, jadi kau tidak punya hak melakukannya, Jeon."
Jungkook mendengus. Taehyung selalu berbicara seperti ini, sama sekali tidak sadar bahwa kecorobohan tingkat tingginya terkadang membuat Jungkook jantungan. Ia sudah diberi amanat oleh Seokjin untuk selalu mengawasi Taehyung dan menjauhkannya dari benda-benda tajam. Oh, Ya Tuhan, Kim Taehyung memang seorang anak kecil. Atau mungkin, ia lebih dari sekadar anak kecil yang biasa bermain di atas kotak-kotak berpasir taman bermain.
"Hyung selalu membuat orang lain cemas," Jungkook menggigit bibir ragu, merutuki kebodohannya ketika kalimat datar tanpa perencanaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Entah apa yang merasukinya, tetapi satu dari sekian kemungkinan yang ada, benak Jungkook akan kembali—dan selalu kembali lagi—pada keadaan Taehyung yang mekhawatirkan. Di mana ketika luka sayatan kecil dan cairan kental berwarna merah berbau tembaga dan anyir memenuhi pandangannya. Termasuk indra penciumannya.
Namun, seperti dugaannya, Taehyung menanggapinya dengan seulas cengiran konyol. (Jungkook tak mengerti cengiran itu berasal karena sifat alamiah Taehyung, atau karena laki-laki itu terkadang bisa terlihat bodoh dan tidak peka).
"Aku sudah besar, Kookie, tidak perlu berlebihan," sahutnya ringan sembari mengedikkan bahu tak acuh. "Aneh, lama-lama kau terlihat seperti Seokjin hyung saja." Ia meringis kecil, lalu mendengus geli.
"Tapi Hyung—"
"Ah, ada pelanggan. Jungkooki-ie, ayo cepat layani mereka."
Hyung tidak mengerti, benak Jungkook berteriak. Relung hatinya pun membenarkan. Kim Taehyung hanya tidak mengerti. Bahwa keadaan fisik dan mentalnya tidak lebih rapuh dari daun kering yang gugur dan bisa hancur kapan saja menjadi kepingan-kepingan kecil.
.
.
.
"Protector"
Disclaimer : kalo Taehyung sama Seokjin milik saya, udah saya nikahin mereka dari dulu.
Rated : T
Proudly present by Cakue-chan
.
.
[Two : Jeon Jungkook]
.
.
Ketika kedai baru saja buka pagi itu dan suasana dalam keadaan sepi pelanggan, Jungkook mendapati Kim Taehyung berdiri di luar. Bersama seseorang.
Ia segara membawa kedua kakinya menuju pintu utama, mendorongnya dengan sebelah bahu tanpa mengalihkan tatapannya kepada dua orang yang masih berpijak setia di depan kedai. Jungkook tak perlu berpikir dua kali untuk tahu bahwa mobil hitam dan pria yang bersama Taehyung saat ini adalah Kim Seokjin.
Sebenarnya, keadaan ini adalah hal yang klasik. Setiap pagi, setiap jam, bahkan untuk menit dan detik, eksitensi Kim Seokjin tak akan pernah hilang dari kehidupan Taehyung sendiri. Jungkook tahu itu. Sangat tahu. Hanya saja, hati kecilnya terkadang memaksa dirinya untuk merasa iri. Entah mengapa.
"Hyung tidak perlu khawatir!"
Langkah Jungkook terhenti, tepat beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Suara Taehyung yang bernada tinggi dan marah itu sedikit membuatnya tertegun. Pasalnya, ini adalah kali pertama Jungkook mendengar Hyung-nya itu berteriak seperti ini. Terlebih kepada Seokjin.
"Taehyung, dengar—"
"Hyung selalu berlebihan!" potong Taehyung cepat, masih menggunakan nada suara yang sama. Bahkan lebih tinggi. "Kau tidak pernah membuatku bebas! Selalu mengaturku dan mengekangku!" jeda sejenak, yang dilanjutkan dengan gumaman lirih. "Aku membencinya, Seokjin hyung."
Tanpa sadar Jungkook menahan napas. Satu hal lagi, selama ini—saat-saat di mana ia mengenal siapa itu Kim Taehyung—tak pernah sekalipun Jungkook mendengar pemuda berambut cokelat itu mengeluhkan hidupnya. Bagaimana kondisi tubuhnya, apa yang dirasakannya, termasuk setiap detik yang dihabiskan oleh Taehyung dengan segala peraturan yang berlaku. Seperti tidak boleh terlalu kelelahan, menghindari benda tajam, bahkan mengikuti kegiatan yang ringan-ringan. Jungkook tahu Taehyung menderita di balik sikapnya yang konyol. Namun, tak pernah sekalipun Taehyung mengeluhkan semuanya. Sekecil apapun itu.
Terkadang , Jungkook berpikir bahwa takdir tak pernah adil terhadap Taehyung.
Pemuda AB hiperaktif itu seolah-olah memiliki batas tersendiri untuk ruang geraknya. Taehyung tak pernah benar-benar merasa bebas. Baik secara fisik maupun mental. Seakan-akan hidupnya adalah parasit, benalu dalam hidup orang lain yang tidak akan pernah bisa bertahan hidup jika tak ada penopang di setiap sisi-sisinya. Tak ada pondasi kokoh yang menopang segalanya.
Bahkan tanpa dijelaskan pun, Jungkook tahu Taehyung tak pernah merasa benar-benar hidup dengan normal.
"Pulang kerja nanti, Hyung tidak perlu menjemputku." Ucapan final Taehyung kembali menarik Jungkook ke alam nyata.
Ia melihat Seokjin menggeleng. "Tidak bisa," tolaknya telak, "aku akan menjemputmu, Tae."
"Aku bukan anak kecil lagi, Hyung!"
"Dan aku tidak ingin mendengar penolakan, Kim Taehyung!"
"Hyung terlalu egois!"
Buk. Satu pukulan keras mengenai bahu Seokjin. Sebelah tangan Taehyung terkepal erat (Jungkook bersumpah ia bisa melihat tangan itu bergetar) ketika menghantam tepat bahu kanan Seokjin. Semua orang tahu pukulan seperti itu tidak akan berefek apa-apa. Ia juga tidak melihat Seokjin meringis atau mengaduh sakit. Tetapi, satu hal yang membuat Jungkook tak nyaman adalah ketika Taehyung mendengus setelahnya, memberikan tatapan penuh luka kepada Seokjin, lalu berlalu pergi meninggalkan pria itu begitu saja. Ia bahkan tidak mengucap kalimat sapa atau senyum konyolnya ketika berpapasan dengan Jungkook. Langkahnya datar hingga memasuki kedai.
Jungkook mengembuskan napas perlahan. Ini bukan pertama kalinya ia melihat drama picisan antara Taehyung dan Seokjin. Meski akhirnya tetap saja memberikan efek menegangkan setelah ia melihatnya.
"Maaf untuk perdebatan kecil tadi, Jungkook," Seokjin membuka suara, memecah keheningan yang sebelumnya sempat tercipta. Gurat wajahnya tampak lelah dan cemas. "Kau pasti bosan melihatnya."
"Tidak perlu dipikirkan, Hyung," tidak, sebenarnya aku memikirkan Tae-hyung. Jungkook menelan kalimat terakhirnya dalam-dalam. "Ada masalah di antara kalian berdua?" ia tahu bentuk pertanyaannya tidak sopan, tapi ia juga tahu Seokjin tidak akan terganggu akan hal itu.
Seokjin menari napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Entahlah," katanya, "apa aku terlihat berlebihan menjaga Taehyung?"
Seandainya Jungkook tidak tahu keadaan Taehyung yang sebenarnya, maka ia akan menjawab 'ya' tanpa ragu. Namun ketika keadaan mengatakan sebaliknya, kali ini Jungkook meragukan jawabannya sendiri. Tidak. Seokjin tidak berlebihan. Jungkook sadar betul bahwa perlakukannya tersebut semata-mata karena menyayangi Taehyung.
"Kemarin sore, Taehyung lagi-lagi melakukan hal yang ceroboh. Ia terjatuh di tangga gedung apartemen kami dan melukai sebelah lengannya,"
Bola mata Jungkook refleks melebar. Apa katanya tadi?
"Kau pasti bisa menebaknya, Jungkook. Cukup banyak darah yang keluar," meski Seokjin mengatakannya dengan begitu tenang dan pelan, ia tahu kalau pria itu tengah dilanda kecemasan dan rasa gelisah. "Dan yang membuatku khawatir, Taehyung sama sekali tidak meneleponku setelahnya."
Ada dua hal di dunia ini yang Jeon Jungkook pahami mengenai Kim Taehyung. Pertama, meski Taehyung terlihat seperti anak kecil dan terkadang bersikap bodoh, ia sadar Tahyung tak pernah ingin membuat orang di sekitarnya khawatir. Apalagi membuat repot dengan keadaannya.
Kedua, Taehyung selalu berusaha bersikap bahwa ia bisa melakukannya sendirian. Walaupun pada akhirnya, figur Kim Seokjin lah yang akan selalu membantu sekaligus menemaninya. Sekalipun Taehyung membantah keras bahwa ia bisa hidup mandiri tanpa perlu bantuan siapa-siapa.
Jungkook mengerti dengan rasa khawatir yang dirasakan Seokjin terhadap Taehyung. Hanya saja, ia tak tahu harus menunjukannya seperti apa.
"Hyung tenang saja, aku akan menjaga Tae-hyung di sini," sahut Jungkook akhirnya, berharap bisa mengurangi beban di pundak Seokjin. "Hyung tidak perlu khawatir."
Seokjin mengumbar seulas senyum tipis. "Aku percayakan padamu, Jungkook. Terima kasih."
Jungkook tak tahu Taehyung akan merasa senang atau tidak jika mendengar semua ini.
.
.
.
.
"Oh, Jungkook-ie?"
Jungkook mendesah pelan. Lagi-lagi cengiran konyol itu terpoles dalam rautnya yang polos. Seakan-akan Taehyung tidak mengingat pertengkaran sebelumnya bersama Seokjin.
"Pagi, Hyung," sapa Jungkook akhirnya, membiarkan Taehyung lebih dulu membenarkan kemeja putih dan rompi hitam yang membalut tubuhnya. "Hyung semangat sekali hari ini."
Taehyung tertegun sejenak. Sadar betul bahwa perkataan Jungkook tadi berkebalikan dengan pagi yang dijalaninya di apartemen bersama Seokjin.
"Begitulah," Taehyung mengedikkan bahu, lalu terkekeh canggung ketika Jungkook mengamatinya lekat. "Ada sesuatu di wajahku, eoh? Tatapanmu mengerikan Jungkook, hahaha."
Namun, Jungkook tak benar-benar memandang wajah Taehyung. Fokusnya matanya tertuju pada lengan kiri Taehyung, tapi saat ia tak menemukan keanehan di sana, Jungkook mengalihkannya cepat pada lengan kanan. Taehyung seperti kesulitan mengangkat lengan kanannya tinggi-tinggi.
Taehyung, menyadari bahwa tatapan Jungkook mengarah pada lengannya—pada luka melintang yang sudah tertutupi rapi dengan perban—hingga tanpa sadar ia mengangkat tangan yang lain dan menutupinya pelan.
"Ah, ini, kau pasti sudah mendengarnya dari Seokjin-hyung, ya?"
Jungkook mengangguk kecil. Tak ingin membuat mood Taehyung memburuk pagi ini. Di saat-saat tertentu, Taehyung bisa sangat tidak suka jika seseorang memberinya tatapan simpati dan penuh rasa kasihan.
"Hanya luka kecil," cengiran lebar itu masih sama, "kau tidak perlu khawatir, Kookie,"
Jungkook mendengus samar. Panggilan 'Kookie' yang diucapaknya Taehyung tadi terdengar aneh, ia jadi merasa seperti kue cokelat bertaburan chocochips yang dipanggang sampai kering.
"Hyung benar-benar ceroboh,"
"Astaga, apa menurutmu itu sopan?"
"Tapi itu kenyataannya. Hyung memang ceroboh." Tawa renyah Jungkook terdengar, renyah sekali.
Taehyung tertawa gusar. "Berhenti memanggilku ceroboh. Kau mengatakannya seolah-olah aku ini tidak bisa hidup dengan benar," ia mendesah pelan, menarik napas kasar, lalu mengembuskannya cepat, "tapi kau benar Kookie. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa hidup dengan cara yang normal."
Begitu ia menyadari nada suara Taehyung melemah dan terkesan lebih kepada dirinya sendiri, tawa Jungkook mendadak lenyap. Ia mendapati binar yang berkilat di sepasang mata Taehyung tampak redup dan kosong. Oh, tidak, apakah ia salah berbicara tadi?
"Hyung, maaf …"
Alis Taehyung terangkat. "Untuk apa? Kau sama sekali tidak bersalah. Jangan dipikirkan," dengan cepat ditepuknya punggung Jungkook, setelah itu terkekeh pelan. "Kau tahu Kookie, aku sempat berpikir bagaimana caranya aku bisa hidup dengan normal."
Jungkook menatap mata jernih itu lekat-lekat, tapi tak mengatakan apa-apa. Tak juga bertanya; 'kenapa harus Hyung bisa berpikir seperti itu?' Atau 'Apa Hyung tak pernah menganggap bahwa semua ini adalah normal?' dan 'Kenapa Hyung harus repot-repot memikirkannya. Padahal Seokjin-hyung sudah memberikan semuanya' .
"Mungkin bukan sesuatu yang mudah, ya … untukku sendiri. Dan 'normal' yang kumaksud di sini mungkin sudah terlalu wajar untukmu, Kookie,"
Apa yang sebenarnya ingin Taehyung katakan? Dan entah mengapa, Jungkook merasa tidak nyaman ketika percakapan ini membuatnya sesak. Yang tanpa sadar, mengikis setiap pertahanan Taehyung yang selama ini dibangunnya.
"Lalu, apa yang akan Hyung lakukan?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dengan bebas sebelum Jungkook bisa mencegahnya.
Taehyung terdiam sejenak, berusaha menemukan kalimat yang cocok sekaligus menghapus ragu yang selalu datang di relung hatinya. Jungkook menunggunya dengan sabar. Hingga beberapa detik kemudian, Taehyung mengembuskan napas perlahan dan berkata pelan.
"Mungkin aku harus belajar untuk melepas Seokjin-hyung terlebih dahulu."
.
.
.
.
Jungkook ingat. Taehyung pernah bercerita bahwa Ayahnya pernah bilang bahwa ia adalah bintang yang paling bersinar di antara berjuta-juta bintang lainnya. Jungkook pikir semua itu hanyalah perkataan konyol yang diucapkan seorang Ayah ketika Taehyung kecil mendapat mimpi buruk dan akhirnya tidak bisa tidur.
Namun, begitu ia tahu kondisi sebenarnya dari seorang Kim Taehyung, Jungkook sadar.
Bahwa bintang yang paling bersinar di antara jutaan bintang lainnya adalah bintang yang paling cepat mati.
tbc
A/N : Haloo :) Masih puasa kah? /puasamalahupdatefanfic/
Gak tau kenapa saya malah ngerasa ini cerita jadi agak hurt comfort, padahal kan genrenya drama sama romance juga 8""D ah, udahlah.
Btw, baru-baru ini saya dapet pertanyaan dari temen yang suka baca fanfic bts dan pair JinTae juga/heh. Dan saya akhirnya malah ikut-ikutan mau nanya. Kalo semisalnya dia/saya buat fanfic JinTae dan mau dibukukan (maksudnya dibuat novel dan dipublish secara self publishing, ke nulisbuku, misalnya) adakah di sini yang berminat memesan? Itu juga baru rencana dia sih, dan saya bingung jawabnya gimana. Jadi saya nanya langsung aja ke kalian 8"""D #apaan. Silakan jawab di kotak review atau PM ya~ hihi.
Oh iya, balesan dulu yang review kemarin XDD saya gak nyangka responnya bagus, sini sini, saya pelukin satu satu :') Makasih juga bagi yang udah fave dan follow!
Hunaxx : haha, awas nanti malah mau bobo siang gak jadi lagi/heh. Soal luka Taehyung, saya malah ngerasa itu kurang sadis *dikejer Jin* hihi, sesekali saya pengen buat sosok Yoongi yang cool X3 tentang sakit Taehyung, ada penjelasannya di bawah kok. Gomawo sudah review ya~ | Jinvjin : HALO JUGAAAA XD hahaha, saya juga suka kok Jin yang protektifnya gak ketulungan :'3 dan soal penyakit Taehyung nanti saya jelasin di sini. Untuk cerita pertemuan mereka juga nanti ada di chapter-chapter selanjutnya kok~ Gomawo sudah review yaa! nemooo : ada penjelasannya di bawah soal penyakit Taehyung. Dan.. yaaaa! saya juga termasuk rada serem kok sama protektifnya Jin X''DD Gomawo udah review yaaa~
454 : Yeaaaaaah! Tebakanmu benar, yup. Semacam kayak Lay Exo. Dan ya, mereka tinggal seapartemen. Mereka udah jadian kok. Ini udah dilanjut kok, dan mudah-mudah pertaannyamu bisa kejawab di chap-chap selanjutanya ya. Gomawo sudah me-review~ | ayumKim : Yap, Taehyung punya penyakit itu. Gomawo udah review yaa~ TaeKai : Hahah, makasih udah suka. Dan gomawo sudah review yaaa! | suyang : Hihihi, hapunten malah jadi multichap gini X"'D Gomawo udah review nyaa~~ | dnttchmaeheh : senang kalo kamu suka XD penyakit Taehyung dijelasin di bawah kok nanti, dan emang agak mengerikan. Aaaaa, saya juga suka kalo Taehyung dilundungi. Dah lanjut, gomawo udah review ya~
SeseFujoshi Tabestry Syndrome : hahaha, reviewmu selalu bikin ngakak XD maafkan saya yang malah bikin hutang lagi, ihik :""D (btw, kalo cepet saya mau update fanfic yang exo kok/gakpenting/) saya mau karamelnya aja jangan kentutnya #plek. Gomawo udah review ya~ | Jang TaeYoung : Untuk soal sad ending, itu rahasia, tehe. Well, nanti kita lihat saja nanti ya X''D Gomawo udah review dan suka yaa! | Cute voodoo : Aaaaaa, yap! Bingo! Hahaha, saya juga kadang suka kesel sama yg protektif gitu kok X''D/plek/ kecuali kalo sama Taehyung gak apa-apa/heh. Gomawo udah review yaaa~ | dhantieee : ini udah next. Dan... yap. Kamu bener. Gomawo udah review yaa!
Kekematodae : seorang lagi yang benerr XDD yap, TaeTae memang sakit itu. Udah dilanjut. Gomawo buat reviewnyaa~ | Deushiikyungie : Jimin nya nanti menyusul yaa~ iya, taetae suka sama jin kok XDD udah lanjut dan gomawo udah review ya~ | sweetyYeolli : aaaaa, senang rasanya kalo kerasa X3 yap, TaeTae sakit itu. Soal angst, ikuti aja terus ceritanya yaa~ XD Gomawo sudah review! | exoyeondan : halo shipper JinV XDD Iyaaaaa, saya udah ngulang-ngulang rookie king dan itu manis gak ketulungaaan :") dan soal keadaan Taehyung yang spesial, nanti dijelasin kok di bawah. Gomawo udah review yaaa~ | Phylindan : Yaaaaaap! Ada yang bener lagi XDD Hihi, kaliatan jelas kok sama penyakitnya TaeTae. Gomawo atas review-nya yaaa~
Fesyensyen : hihihi, saya juga suka kalo Jin udah protektif sama alien XDD Daan yap, Taehyung memang punya penyakit itu ceritanya. Gomawo udah review yaa~ | ClarieLu : senang rasanya kalo sukaa XD nanti ada penjelasan tentang Jin kok di chapter-chapter berikutnya. Gomawo udah review yaaa! | jeymint : Yup, ini chaptered. Hahaha, ekspresi Jin yang seksi XDD gomawo udah review yaa~ | Jisaid : Ada penjelasannya kok di bawah. Gomawo udah review yaa! | TKTOPKID : Taehyung alaynya berasalan kok XD/apaan. Hihi, gomawo reviewnya yang bikin saya melayang tinggi~~ | Luvesick hoon : aaaaa, terlalu kasar ya? X''D Taehyung sakit apa nanti ada penjelasnnya kok. Udah lanjut dan gomawo udah review~ | Heyoyo : Udah lanjut dan penyakit Taehyung dijelasin di bawah, gomawo buat review-nya yaa~ Feilu : Hahah, mereka emang cute sangat XD udah lanjut dan gomawo udah review yaa~
Seperti yang sudah ditanyakan, YUUUP! Taehyung di sini emang punya penyakit Hemofilia. Di mana keadaan penderita memiliki sel darah yang sukar membeku kalo misal ada bagian tubuh yang luka. Maksudnya, luka luar. Tebakan kalian benaaarrrr! XDDD *tebar cofeti*
Makasih udah baca chapter ini. Kotak review selalu terbuka koook~~ :)
