If We Love Again :
What Do You Think?
.
.
.
.
.
Chanyeol datang ke rumah Baekhyun tepat ketika Baekhyun baru saja keluar dari rumahnya. "Baekhyun!" panggil Chanyeol. Baekhyun hanya menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya, melewati Chanyeol tanpa mengucapkan apapun.
"Baekhyun? Kau tidak membawa jaket musim dinginmu?" tanya Chanyeol sembari mensejajari langkah Baekhyun. Dalam hati Baekhyun mengumpati kaki pendekny—oh bukan, ia mengumpati kaki panjang Chanyeol yang dengan mudah dapat mengejar Baekhyun.
"Aku tidak merasa kedinginan" ucap Baekhyun tanpa ekspresi.
Chanyeol menghentikan langkah kakinya dan mengangkat kedua alisnya. "Baekhyun! Tunggu!" dan sekali lagi Chanyeol dapat mengejar Chanyeol dengan mudahnya.
"Kau bahkan tak memakai sarung tangan. Kau ingin jarimu putus karena frostbite?"
"Tidak sedingin itu"
Chanyeol mengambil satu tangan milik Baekhyun. Namun Baekhyun melepas tangan Chanyeol yang melingkar di tangannya. "Tanganmu dingin, Baekhyun" ucap Chanyeol ketika ia meraih kembali satu tangan milik Baekhyun.
Baekhyun tidak mempedulikannya lagi dan membiarkan Chanyeol memperlakukan tangannya. Sedangkan satu tangan milik Baekhyun ia masukkan kedalam saku celananya, mengharap kehangatan.
Chanyeol mendekatkan tangan itu ke bibirnya dan meniupkan udara hangat dari dalam mulutnya. Kemudian ia menggosokkan tangan itu di antara kedua tangannya. Chanyeol tersenyum dan menggenggam tangan Baekhyun, kemudian memasukkan tangan-tangan itu ke dalam saku jaket miliknya.
"Hangat?" tanya Chanyeol sembari menatap Baekhyun. Baekhyun tak kunjung menjawab, alih-alih ia membuang muka saat Chanyeol masih menatapnya.
Chanyeol mengeluarkan tangannya dan tangan Baekhyun dari saku jaketnya ketika mereka sudah melewati di gerbang sekolah. Bahkan selama di subway, Chanyeol tidak melepaskan genggaman Baekhyun di tangannya.
Baekhyun sedikit uring-uringan karena ia merasa kesulitan menuruni tangga dan melewati mesin-mesin itu. Bahkan meraih kartunya pun juga sulit.
Tapi Chanyeol tidak menanggapinya, malah mengeratkan genggamannya pada Baekhyun.
"Sudah tiba" ucap Chanyeol setelah ia menghentikan langkahnya dan mengeluarkan tangan-tangan itu. Ketika Baekhyun hendak meninggalkan Chanyeol, ia menahan pemuda itu terlebih dahulu. "Apa lagi?"
"Hadiahku?"
"Hadiah apa? Kau melakukan itu dengan sendirinya. Kenapa aku harus memberikanmu hadiah?"
"Kau yang memberiku hadiah atau aku yang memberimu hadiah?" tanya Chanyeol.
Baekhyun memutar bola matanya malas dan menghela nafasnya, "Terserah kau saja" kemudian Baekhyun kembali melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah, Baekhyun berhenti dan memutar tubuhnya.
Berjalan menuju Chanyeol yang masih menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Ada apa?" tanya Chanyeol ketika Baekhyun sudah berada di hadapannya.
Baekhyun menghela nafasnya lagi dan berjinjit. Satu tangannya ia taruh di bahu Chanyeol dan kemudian ia mengecup pipi Chanyeol. "Sudah kuberikan hadiah, kau senang?" tanya Baekhyun tanpa ekspresi dan kemudian meninggalkan Chanyeol.
"Sangat, Baekhyun!" teriak Chanyeol yang mengejutkan beberapa teman mereka yang melintas.
Meskipun begitu Baekhyun masih mendudukkan tubuhnya di bangku samping Luhan. Baekhyun masih meminimalisir interaksi dengan Chanyeol. Mengingat Chanyeol yang mengabaikannya membuat Baekhyun kesal.
"Kau belum berbaikan? Aku melihatmu mengecup pipi Chanyeol tadi pagi" ucap Luhan setelah Baekhyun mendudukkan pantatnya. Baekhyun segera menaruh kepalanya di atas meja, ia menatap Luhan. "Jangan membahas hal itu. Aku sedang tidak ingin membahasnya"
Baekhyun menutup kedua matanya, terlalu lelah mengikuti langkah besar milik Chanyeol. Dipikir-pikir, kenapa Baekhyun yang harus mengikuti langkah besar Chanyeol? Bukankah seharusnya Chanyeol yang mengikuti langkah kecilnya.
Ketika mendengar suara decitan kursi dari bangku Luhan, kemudian Baekhyun membuka matanya, dan mendapati Chanyeol kini berada di hadapannya.
Terlebih, Chanyeol menaruh kepalanya di atas meja dengan wajah menghadap wajah Baekhyun. Baekhyun terkejut dengan kontak mata yang tiba-tiba dengan Chanyeol.
"K-kau—"
"Aku minta maaf, okay?"
Baekhyun mengalihkan wajahnya untuk menatap sisi lain dan mendapati Luhan dan Sehun tengah berbincang di bangku yang biasanya digunakan oleh Baekhyun dan Chanyeol. Luhan tersenyum ketika mendengar candaan Sehun.
"Baekhyun" panggil Chanyeol.
"Diam, kau bisa duduk di sini jika kau tutup mulutmu" kemudian Baekhyun menatap wajah Chanyeol tanpa ekspresi.
Ketika pelajaran berlangsung, Chanyeol tak henti-hentinya menatap Baekhyun dengan menyangga kepalanya dengan satu tangannya. Chanyeol memperhatikan setiap gerakan Baekhyun dalam diam.
Baekhyun menghela nafasnya dan menatap Chanyeol yang masih menatapnya. "Bisa kau hentikan itu? Itu sedikit mengganggu konsentrasiku"
Chanyeol mendekatkan diri pada Baekhyun, "H-hey, apa yang kau coba la-lakukan?"
"Kalau aku tidak boleh berbicara dan tidak boleh menatapmu, apa yang harus ku lakukan?" bisik Chanyeol di telinga Baekhyun. "Apapun namun jangan menggangguku"
Chanyeol menaruh kepalanya di atas lipatan tangannya yang berada di meja. "Chanyeol, apa yang kau lakukan?"
"Memandangimu, manis"
Tiba-tiba saja kelas Chanyeol di penuhi gelak tawa. Chanyeol menegakkan posisi duduknya dan melihat kawan-kawannya menatap dirinya. Ia baru saja menyadari jika yang memanggilnya tadi adalah guru yang sedang mengajar, bukan Baekhyun.
"Ya Tuhan, Chanyeol! Kelasku dimulai tidak sampai tiga puluh menit yang lalu dan kau sekarang tidak fokus. Sekarang keluar dan angkat tanganmu tinggi-tinggi" kelas itu kembali di penuhi gelak tawa.
"Baekhyun, temani Chanyeol di luar" lanjut guru itu.
"Y-ya? Tapi aku tidak melakukan apa-apa"
Guru itu menaruh bukunya di atas meja kemudian kedua tangannya berada di masing-masing sisi meja itu, "Aku melihatmu berbincang dengan Chanyeol beberapa saat yang lalu, dan jelas kau tidak fokus. Sekarang kau pergi keluar dan temani Chanyeol"
Chanyeol masih saja berdiri di depan pintu kelas, belum berkehendak untuk meninggalkan kelas.
"T-tapi aku hanya menyuruhnya untuk kembali fokus pada pelajaran, Mr. Gong"
"Baiklah, kau hanya temani saja Chanyeol di luar. Tak perlu angkat tanganmu. Bagimana pun juga—ah, cepatlah keluar dari kelasku"
Baekhyun bersungut-sungut dan kemudian ia pergi keluar kelas setelah ia melirik Chanyeol yang tersenyum senang.
"Jangan tersenyum, aku berada di sini karena siapa" ucap Baekhyun ketika ia telah berdiri di samping Chanyeol yang kedua tangannya sudah terangkat. "M-maaf" cicit Chanyeol.
"Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya?" tanya Baekhyun.
"Aku hanya ingin kau berhenti menghindariku"
"Aku tidak menghindar"
"Maksudku aku ingin kau tidak seperti ini" Chanyeol menatap Baekhyun yang menunduk. "Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti bersikap seperti ini?"
Hening, Baekhyun pun tak kunjung menjawab. Ia berdeham dan menjilat bibirnya, "Kau harus berjanji agar tak mengulangi semua hal itu. Bermesraan dengan orang lain ataupun mengacuhkanku"
"Aku berjanji. Jadi, kau sudah tidak marah?"
Suara pintu kelas terbuka, "Chanyeol! Aku menghukummu! Bukan menyuruhmu berbincang-bincang dengan Baekhyun!" suara Mr. Gong memasuki telinga mereka berdua. "M-maafkan aku!" dan kemudian Chanyeol mengangkat kedua tangannya tegak.
"Jadi, kau sudah tidak marah, Baekhyun?" bisik Chanyeol.
"Masih, aku masih marah padamu"
"Oh ayolah, Baekhyun. Apa yang harus kulakukan agar kau tak marah padaku?"
"Tidak tahu"
Kemudian Baekhyun tersenyum, "Mungkin dengan mengajakku berkencan ke Lotte World akhir minggu ini?"
Chanyeol kemudian tersenyum dan memeluk tubuh Baekhyun. "Tentu! Aku akan membawamu pergi berkencan!"
"Park Chanyeol!" teriak gurunya dari dalam ruang kelas, terganggu akan teriakan murid didiknya.
.
.
.
Chanyeol berdiri di rumah Baekhyun dengan seikat bunga di tangannya. "Apa-apaan ini, Yeol?" Baekhyun menerima bunga itu dari tangan Chanyeol. "Woah, bunga-bunga ini masih kalah cantik dengan dirimu, Baekhyun"
Tangan Baekhyun mengusap wajah Chanyeol dan mencubitnya gemas, "Terima kasih, Yeol"
Entah bagaimana, namun Chanyeol dan Baekhyun terlihat serasi dengan pakaian yang mereka pakai. Chanyeol memakai kaus hitam, celana ripped jeans berwarna langit, dan sebuah topi hitam terpasang di kepalanya. Sedangkan Baekhyun mengenakan kaus putih dan celana ripped jeans berwarna langit.
Mereka menghabiskan waktu mereka di Lotte World. Bersenang-senang hingga sore hari dan malamnya Baekhyun kembali menginap di rumah milik Chanyeol, kedua orang tuanya tengah melakukan perjalanan bisnis.
"Ini hari yang sangat menyenangkan, Yeol!" Baekhyun tersenyum.
Dalam hatinya, Chanyeol bernafas lega karena anak ini sudah kembali ceria seperti sebelum-sebelumnya. Chanyeol tengah memainkan gitarnya di kamarnya. Sedangkan Baekhyun berbaring di ranjang dengan dagu yang disangga dengan kedua tangannya.
"Kau tahu lagu ini?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang memberikan anggukan sebagai jawaban. "Kalau begitu, bernyanyilah. Akan ku iringi dengan gitarku"
"Haruskah?"
"Ya"
Baekhyun tersenyum dan mendudukkan tubuhnya di samping Chanyeol. Ia meraih ponselnya untuk mencari lirik dari lagu yang di maksudkan oleh Chanyeol.
"Kau siap?" tanya Baekhyun yang di jawab dengan sebuah anggukan oleh Chanyeol. Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada bahu Chanyeol.
"I do believe, all the love you give"
"All of the things you do"
"Love you, love you"
"I'll keep you safe, don't you worry"
"I wouldn't leave, wanna keep you near"
"Cause I feel the same way too"
"Love you, love you"
"Want you to know that I'm with you"
"I will love you and love you and love you"
"Gonna hold you and hold you and squeeze you"
"I will please you, for all times"
"I don't wanna lose you and lose you and lose you"
"Cause I need you I need you I need you"
"So I want you to be mine forever"
"You've got to understand, my love"
"You are Park Chanyeol Park Chanyeol Park Chanyeol"
"Park Chanyeol Park Chanyeol Park Chanyeol, Love"
"You are Park Chanyeol Park Chanyeol Park Chanyeol"
"Park Chanyeol Park Chanyeol Park Chanyeol, Love"
Baekhyun dan Chanyeol tertawa setelah permainan mereka usai. Baekhyun dengan sengaja mengganti lirik tersebut menjadi lebih, uhm, menyenangkan bagi Chanyeol. "Apa-apaan dengan itu, Baekhyun?" tanya Chanyeol.
"Kenapa kau ganti liriknya?" lanjut Chanyeol.
"Kau tidak suka?"
"Kau bercanda? Itu sangat lucu, Baekhyun!" kemudian Chanyeol mengusap kepala Baekhyun.
"Aku benar-benar mencintaimu, Baekhyun. Aku tidak tahu apa yang kau berikan padaku hingga aku sejatuh cinta ini padamu"
Baekhyun tersenyum, "Aku senang jika kau masih mencintaiku setiap harinya. Begitu pula denganku, Chanyeol. Apa yang kau lakukan padaku hingga aku masih mencintaimu?"
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi ya, Chanyeol"
"Tidak akan pernah"
.
.
.
"Baekhyun, apa aku sudah terlihat baik?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang setia berada di samping Chanyeol saat mereka berada di belakang panggung.
"Kau selalu terlihat baik, Chanyeol"
"Woah, penonton kita banyak sekali teman!"
Chanyeol kembali menatap Baekhyun setelah tadi menatap Jongdae yang baru saja memasuki ruang persiapan, "Kau yakin aku terlihat baik?"
Kedua tangan Baekhyun menangkup pipi Chanyeol dan membuat Chanyeol menatapnya, "Sangat! Aku tahu kau bisa melewati ini. Kau dan Rose sudah mengambil banyak latihan, sesekali akupun membantumu. Aku yakin kau tidak akan gagal! Percaya padaku"
Chanyeol menghembuskan nafasnya, kali ini ia merasa tenang. "Perutku keram, Baekhyun"
"Kau tidak ingin ke kamar mandi, bukan?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Aku hanya merasa nervous, Baekhyun. Ini penampilan pertamaku di depan orang banyak, kalau—"
"Hentikan, Chanyeol. Tidak akan ada hal-hal yang tidak inginkan terjadi"
Chanyeol menganggukkan kepalanya. Ingin sekali Baekhyun menampar wajah Chanyeol untuk menyadarkan pemuda itu agar tidak bersikap berlebihan. "Oh, Tuhan! Bantu priaku ini tampil dan tolong buatlah pantatnya tenang. Amen!"
"Membaik?" tanya Baekhyun pada Chanyeol setelah ia melontarkan doa pada Tuhan.
Chanyeol hendak tertawa mendengar permintaan Baekhyun. Dan well, itu sedikit membuatnya tenang.
"Jangan mengubah-ubah lirik lagu, okay? Hanya aku yang boleh mengubah lirik" kemudian Baekhyun tertawa mengingat beberapa hari lalu ia mengganti lirik lagu saat bersama Chanyeol.
"Kau akan di belakang panggung untukku, bukan?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Aku akan berada di bangku penonton bersama Luhan"
Chanyeol mengangguk dan mengusap pipi Baekhyun. "Chanyeol! Rose! Kalian harus segera bersiap di belakang panggung" ucap Jongdae kembali.
"Kau bisa, Love. Aku yakin semua akan berjalan lancar" Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol yang berada di pipinya. "Terima kasih, sampai jumpa nanti!"
Sebelum Baekhyun meninggalkan Chanyeol, ia memeriksa penampilan prianya sekali lagi. Merapikan rambut hitamnya yang ditata naik dan menampilkan keningnya membuat Chanyeol semakin tampan. Membenahi pakaian serba hitam yang dikenakan Chanyeol sebagai pemeriksaan terakhir.
"Kau terlihat lebih menawan, Yeol" kemudian Baekhyun mengecup pipi Chanyeol sebelum meninggalkan Chanyeol. Dan ketika Baekhyun memutar tubuhnya, Chanyeol menahan Baekhyun dan memberikan Baekhyun sebuah pelukan dari belakang.
"Terima kasih, tuan putri" kemudian Chanyeol mengecup pipi Baekhyun. "Sampai jumpa nanti!" teriak Chanyeol pada Baekhyun yang kini berada di pintu. Baekhyun melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Aw, I can't help but… kalian terlihat sangat manis ketika bersama" ucap Rose ketika ia mendatangi Chanyeol. Sedangkan yang dipuji hanya tersenyum kikuk mendengar pujian dari Rose.
Baekhyun mencari keberadaan Luhan yang sudah mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi penonton. Ia perlu memincingkan matanya untuk mencari keberadaan Luhan yang berada di dekat panggung. Di samping Luhan terdapat Sehun yang bersebelahan dengan Jongin dan Kyungsoo.
"Oh, kalian disini" Baekhyun mendatangi Luhan. "Hey, Baekhyun. Bagaimana Chanyeol? Membaik?" tanya Luhan.
"Chanyeol sedikit panik, tapi dia adalah pria dewasa. Jadi, ia bisa menenangkan pantatnya dengan sedikit bantuanku"
Baekhyun meremat jemarinya ketika lampu padam setelah pembawa acara meninggalkan panggung. Ia sedikit gugup sebenarnya, dan kemudian Baekhyun berkomat-kamit melancarkan doa pada Tuhan untuk menyelamatkan penampilan Chanyeol.
Alunan musik yang sudah biasa Baekhyun dengar berputar dan membuat seluruh penonton berteriak serta bertepuk tangan. Baekhyun kembali menatap panggung yang masih gelap. Kemudian lampu sorot menyorot tubuh Rose yang terlihat cantik dengan sedikit polesan di wajahnya
"Naui du nuneul gameumyeon"
Ketika aku menutup kedua mataku
.
"Tteooreuneun geu nundongja"
Aku melihat mata itu
.
"Jakku gaseumi siryeoseo"
Dadaku terus terasa sakit
.
"Ichyeojigil baraesseo"
Jadi aku ingin melupakan
.
"Kkumiramyeon ije kkaeeonasseumyeon jebal"
Jika ini adalah mimpi, tolong bangunkan aku sekarang
.
"Jeongmal niga naui unmyeongin geolkka"
Apakah kau benar-benar takdirku
.
"Neon, falling you"
Kau, falling you
Setelah itu lampu sorot yang menyorot Rose pun mati, lalu tubuh Chanyeol tersorot. Penonton kembali ricuh, mengingat Chanyeol adalah orang yang sangat di idam-idamkan di sekolah. Tidak hanya sekolah mereka, sekolah lain pun ada yang mengidam-idamkan Chanyeol. Oh benar, acara ini terbuka untuk umum.
Baekhyun tersenyum ketika Chanyeol benar-benar terlihat tampan di atas panggung. Ada rasa bangga muncul dalam diri Baekhyun.
"Unmyeongcheoreom neoreul falling"
Seperti takdir kau terjatuh
.
"Tto nareul bureune calling"
Kau memanggilku lagi, calling
.
"Heeo naol su eobseo"
Aku tidak dapat kabur
.
"Jebal hold me"
Tolong pegang aku
.
"Nae inyeonui kkeuni neonji"
Apakah kau garis takdirku
.
"Gidarin niga matneunji"
Apakah kau yang menungguku
.
"Gaseumi meonjeo wae naeryeoanneunji"
Kenapa dadaku tidak turun terlebih dahulu
.
(Stay with me)
.
"Nae maeumsok gipeun gose"
Jauh di dalam hatiku
.
"Niga saneunji"
Kau tinggal
.
(Stay with me)
.
"Nae ane sumgyeowatdeon jinsil"
Kebenaran yang tersembunyi dalam diriku
Chanyeol menolehkan wajahnya ke kanan dan kiri. Memindai seluruh pengunjung dan mencari dimana Baekhyun berada. Tanpa Chanyeol sadari, banyak wanita yang mengagumi ke tampanannya hanya dengan menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.
Chanyeol tidak tersenyum, bahkan alisnya sedikit tertekuk. Ia masih mencari keberadaan pemuda mungil yang sudah mencuri hatinya dan tak akan pernah mengembalikannya lagi.
Ketika ia menemui Baekhyun yang bersama dengan Luhan, ia sedikit menyunggingkan senyumnya. Baekhyun yang menyadari itu tersenyum lebar dengan penuh keterpukauan. Mata Chanyeol tak pernah putus untuk menatap Baekhyun.
"Gaseumeun ttwigo isseo"
Dadaku terus berlari
.
"Yeojeonhi neol bogo isseo"
Aku masih saja melihatmu
.
"Jakkuman sumi makhyeoseo"
Nafasku terus-terusan habis
.
"Ajigeun meollieseo"
Dari kejauhan
.
"Neoreul jikyeobogo sipeo"
Aku ingin melindungimu
.
"Naega tto wae ireoneunji"
Kenapa aku menjadi seperti ini lagi
Dan sekali lagi gadis-gadis itu menjerit kegirangan ketika Chanyeol mulai rapp dengan gayanya. Chanyeol menutup kedua matanya untuk menghilangkan rasa malunya setelah mendengar jeritan-jeritan itu.
"Chanyeol sangat luar biasa, Baekhyun!" puji Luhan yang membuat senyum Baekhyun mengembang.
Menjelang akhir lagu, Chanyeol dan Rose bertatapan dan mulai berhamonisasi satu sama lain seperti yang sudah mereka persiapkan.
Dan ketika penampilan berakhir, gedung itu menjadi ricuh dengan suara kegembiraan seperti ketika pertandingan bola.
"Baekhyun, Aku mencintaimu" ucap Chanyeol menggunakan mic setelah seluruh lampu di atas panggung padam.
Kemudian gedung itu semakin ricuh dengan pernyataan tiba-tiba dari Chanyeol. Semua orang tahu siapa itu Baekhyun, mereka disebut-sebut sebagai pasangan sempurna. Luhan menepuk bahu Baekhyun yang menunduk dengan kedua tangan terangkat menutupi wajahnya.
Oh, Baekhyun lupa berdoa pada Tuhan untuk memberikan kewarasan di otak Chanyeol untuk tidak melakukan hal aneh-aneh selama di panggung. Seperti mengatakan 'Baekhyun, aku mencintaimu' dengan mic yang menyala contohnya.
Jongin dan Sehun menepuk satu sama lain dengan tawa karena, hell, Chanyeol bukan orang yang seperti itu. Sedangkan Kyungsoo menatap Baekhyun dengan senyuman menggoda di bibirnya.
Bahkan ketika pembawa acara memasuki panggung, suara ricuh itu tak kunjung menghilang. Suara-suara itu semakin membuat Baekhyun malu. Suara derit kursi kosong di sampingnya tidak membuat Baekhyun berkutik untuk menurunkan wajahnya.
"Merasa malu?" dan itu adalah suara milik Chanyeol.
Teman-teman mereka kembali menggoda Baekhyun atas ucapan Chanyeol. "Kenapa kau mengatakannya di panggung, Chanyeol? Kau sudah merasa percaya diri ya?"
Chanyeol tersenyum dan membawa satu tangannya untuk melingkar di bahu Baekhyun. "Karena aku memang mencintaimu, Baekhyun. Tidak ada salahnya bukan?"
"T-tapi aku malu" tangan Chanyeol menarik Baekhyun dan membawa Baekhyun ke dalam pelukannya. "Jangan pikirkan perkataan orang lain, Baekhyun. Biarkan saja mereka melihat, toh kita tidak berbuat mesum di tempat umum"
"Aku mencintaimu" bisik Chanyeol di telinga Baekhyun.
"Aku mencintaimu juga, Yeol"
Tangan Chanyeol menggunakan bangku Baekhyun sebagai sandaran tangannya, dan kini Baekhyun menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol. Ia berani melakukan hal itu ketika sudah tidak ada suara sorakan-sorakan yang membuatnya malu.
Joonmyeon, pembawa acara, membalik kertasnya. Dalam ear-in yang ia pakai, Joonmyeon dapat mendengar suara Jongdae untuk mengulur waktu karena salah satu pemain ada yang sembelit.
"Penampilan selanjutnya adalah penampilan drama musikal dari kelas teater. Sembari menunggu para penampil untuk bersiap, berikan tepuk tangan yang meriah untuk Kepala Sekolah Seo"
Dan tiba-tiba saja lampu sorot itu menyorot Kepala Sekolah Seo. Suara tepuk tangan dan sorak sorai kembali terdengar.
"Kepada pasangan guru di sekolah kita, Mr. Nam dan Ms. Jeon" lanjut Joonmyeon.
Lampu sorot itu kemudian menyorot Mr. Nam dan Ms. Jeon yang duduk berdampingan di dekat kepala sekolah.
"Penjaga sekolah tercinta kita, Tuan Chang! Yang sekarang masih menjaga sekolah kita dari posnya di depan" lanjut Joonmyeon.
"Siswa berprestasi kita, Jin Soyeon"
Lampu sorot itu menyorot Soyeon yang tengah memegang buku novel. Soyeon membenahi letak kacamatanya kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Dan pasangan manis kita, Byun Baekhyun dan Park Chanyeol!" sebut Joonmyeon dan kemudian lampu sorot itu menyorot Chanyeol dan Baekhyun yang belum berubah posisi, Baekhyun menyandar di bahu Chanyeol dan Chanyeol masih menaruh tangannya di atas sandaran kursi Baekhyun.
Ketika lampu sorot itu menyorot mereka, Baekhyun segera menyembunyikan wajahnya di bahu Chanyeol dan tangan Chanyeol berpindah dari sandaran kursi menuju tubuh Baekhyun.
Suara ricuh kembali terdengar. Chanyeol tersenyum malu, ia menutup mulutnya dengan satu tangan yang tersisa dan kemudian melambaikan tangannya.
Joonmyeon merasa puas dan segera mengakhiri sesi mengulur waktunya. Chanyeol mengutuk senior menyebalkan itu dari dalam hatinya.
Ketika lampu sorot itu padam, Baekhyun tidak segera memunculkan wajahnya. "Baekhyun, sudah selesai" dan kemudian Baekhyun kembali menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol.
"Kau terlihat sangat manis ketika kau malu, Baekhyun. Semakin membuatku jatuh cinta" bisik Chanyeol. Ia tidak ingin semua orang mendengar ucapannya karena, well, ia merasa itu terlalu cheesy.
Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dan mengecupnya sekali.
Acara berakhir dengan konfeti-konfeti berjatuhan dari langit-langit, dengan segera para pengunjung berdiri sembari menikmati pemandangan berjuta-juta konfeti yang jatuh. Baekhyun tersenyum melihat konfeti tersebut berjatuhan. Dan Chanyeol lebih menganggumi Baekhyun yang terlihat sangat indah di antara konfeti yang berjatuhan.
Baekhyun tersenyum menatap Chanyeol hingga matanya mengecil. Tangan itu terulur untuk mengusap pipi Chanyeol, "Oh! Ada konfeti di rambutmu!" Baekhyun berjinjit untuk mengambil konfeti di rambut Chanyeol.
Ia mengambilkan beberapa potong konfeti dari rambut Chanyeol. Dan ketika tangan itu bergerak turun, tangan Chanyeol menahannya. Kedua mata Chanyeol tak putus-putusnya untuk menatap kedua mata Baekhyun.
Yang pada awalnya menahan, kini menggenggam tangan Baekhyun.
"C-chanyeol? J-jangan membuat-ku gu-gup" Baekhyun merasa terintimidasi oleh tatapan intens Chanyeol.
Kening Baekhyun berkerut ketika wajah Chanyeol mendekati wajahnya. Kening mereka menyatu, hidung mereka bergesekan. "Ch-chanyeol?"
Chanyeol sedikit memiringkan kepalanya, beberapa senti lagi maka bibirnya dan bibir Baekhyun bersentuhan dan beradu.
Hingga beberapa detik terlewati kemudian Chanyeol menarik kembali kepalanya.
"A-ada apa?"
"Kita sudah berjanji, ciuman itu akan kita simpan sampai di altar, benar?"
Baekhyun tersenyum dan mengangguk, jemari panjang itu menggenggam jemari-jemari Chanyeol. Dan kemudian Chanyeol membawa Baekhyun pada sebuah pelukan.
"Hush, anak kelas dua tidak pantas bersikap seperti itu di tempat umum" sindir Luhan pada Chanyeol dan Baekhyun. "Anak kelas dua tidak boleh berbuat mesum seperti itu" di lanjut dengan Sehun.
"Urus saja urusan kalian" Chanyeol berucap masih memeluk tubuh Baekhyun. Dan kemudian mereka tertawa.
.
.
.
"Chanyeol, bukankah California terlihat keren?" Baekhyun menunjukkan ponselnya pada Chanyeol. "Aku ingin pergi ke California, atau ku lanjutkan saja kuliahku di California?"
"C-california? Kau akan melanjutkan kuliahmu di California?" kening Chanyeol terkerut.
"Kenapa? Ada masalah dengan itu?"
"Jika kau ingin ke California, aku akan mengajakmu ke sana suatu hari! Tidak perlu berkuliah jauh-jauh di luar Korea. Kau akan jauh denganku dan aku tidak akan tahan akan hal itu" bibir Chanyeol sedikit mengerucut dan wajahnya menunjukkan wajah tidak suka.
"Ku rasa dengan pemikiran berlibur ke California tidaklah buruk. Kau sudah mengatakannya! Kita harus berlibur ke California suatu saat nanti!" Baekhyun menyandarkan kepalanya pada paha Chanyeol.
"Tentu, kau tidak boleh mengingkarinya, Byun!" Chanyeol mencubit hidung Baekhyun.
"Senang rasanya melihatmu berada di kamarku" ucap Baekhyun kemudian menarik wajah Chanyeol untuk memberikan sebuah kecupan di pipi Chanyeol.
Kedua orang tua Baekhyun lagi-lagi menjalani perjalanan bisnis lainnya dan meninggalkan Baekhyun seorang diri di rumah mereka. Namun Baekhyun menyuruh Chanyeol untuk menginap di rumahnya. Ketika Baekhyun izin pada Ibunya, Ibu Baekhyun dengan senang hati memperbolehkan.
"Perjalanan kita masih jauh Chanyeol. Apa kita akan baik-baik saja?" kini tanya Baekhyun pada Chanyeol yang masih menatapnya. "Dengan kau berada di sisiku, tentu saja semua akan baik-baik saja, Byun"
"Kau tidak akan meninggalkanku bukan, Yeol?"
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Baekhyun"
"Aku hanya mencintaimu, Yeol. Kemarin, hari ini, besok, lusa, dan seterusnya. Aku hanya akan mencintaimu. Kau percaya padaku?"
"Aku pun hanya mencintaimu, Baekhyun. Tentu saja aku memercayaimu. Bagaimana denganmu? Kau percaya padaku?" Baekhyun mengangguk sebagai sebuah jawaban untuk Chanyeol.
"Aku mencintaimu, Yeol"
"Aku juga mencintaimu, Baekhyun"
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
OR TBC?
.
.
.
Note :
Oh tidak, note ini akan panjang. Aku tidak mengharuskan kalian membaca ini tapi ku harap kalian tidak keberatan untuk membacanya, paling tidak dua paragraf dibawah tulisan ini, kkk.
Tidak, cerita ini tidak berakhir seperti ini. Izinkan aku menjelaskan terlebih dahulu pada kalian agar kalian tidak kebingungan dengan tulisanku kali ini. Pertama kali aku menulis If We Love Again bukanlah cerita sub-judul Wish Tree ataupun What Do You Think yang telah ku publish. Melainkan cerita yang akan ku update selanjutnya, agar kalian tidak bingung sebut saja versi C. Setelah selesai menulis versi C, ku pikir untuk melanjutkan cerita ini dan menuliskan versi B. Setelah menulis keduanya, aku sedikit merasa janggal di dalam cerita, kemudian ku putuskan untuk memberikan dua chapter awal sebelum memasuki inti cerita yang ingin ku tulis.
Kemudian yang ingin ku perjelas lagi adalah, cerita ini akan memiliki dua jalan di saat bersamaan, seperti yang ku katakan di atas, versi C dan versi B. Seperti sebuah jalur yang memiliki dua ujung. Maka dari itu ku tuliskan dalam note sebelumnya jika cerita ini akan sedikit panjang dari cerita-ceritaku yang lain, kkkk. Semoga kalian terhibur dengan cerita ini.
Sudah, aku tidak ingin berpanjang-panjang lagi. Aku mengupdate cerita ini lebih cepat karena aku telah mengecewakan kalian pada cerita lain yang aku update satu tahun sekali, maafkan aku!
Terima kasih~
