Suatu hari yang naas, tragedi itu terjadi. Eren telah mendapatkan promosi dalam divisi khusus setingkat polisi huru-hara, mendapat dinas pertamanya ke luar kota. Kabar duka datang untuk kami beberapa hari kemudian. Yang kembali darinya hanya tangan kirinya yang terpotong. Kami tetap memakamkan tangan kiri itu.
Sejak kematian Eren, Mikasaku menghilang. Gadis itu terlihat lebih tua dari yang seharusnya. Bibirnya memucat, sepucat kulit wajahnya yang sembab. Kantung matanya menebal dan rambutnya kusut akibat tidak beranjak dari tempat tidur. Tidak hanya sedih melihat keadaannya yang sedemikian buruk, tidak kusangka kematian Eren meraibkan kehidupan darinya. Dan yang lebih menyakitkan, ketika menyadari betapa berarti Eren baginya, bahkan setelah apa yang telah kita lewati bersama. Minggu ke tiga setelah kematian Eren, ia tak juga bangkit dari kondisinya. Kehadiranku seperti tidak terlihat sama sekali, aku hanya bayangan.
Akhirnya kubuatkan dia dua iris roti bakar, ia berterima kasih dan berusaha ada untukku, namun segitu saja.
Kau bilang ingin menyerahkan segenap cintamu padaku, Mikasa. Rupanya kau masih menyimpan Eren dalam hatimu, menutupnya rapat, merahasiakan dariku. Setelah dia menyelesaikan sarapan, kugenggam kedua tangannya erat. Kuhela napas cukup dalam.
"Selamat tinggal."
Kulihat sorot matanya terbelalak. Ia terpaku untuk sesaat, tidak mengatakan apapun. Kuangkat kedua tangannya dan kukecup untuk terakhir kalinya. Terima kasih, sempat bermimpi bersamaku.
Langkahku tidak terburu meninggalkan Mikasa yang masih juga tidak melakukan apapun selain tatapannya mengikutiku menghilang dari pintu kamarnya. Sebelum meninggalkan kediaman Jeager, kupastikan jendela dan pintu belakang terkunci rapat, kompor gas dalam keadaan mati dan semuanya dalam keadaan aman. Hatiku remuk ketika melangkah keluar dan mengunci pintu, tidak lupa menyelipkan kuncinya melalui sela pintu.
Aku begitu galau, menyembunyikannya dengan cacat dibalik kejujuranku. Aku berduka atas kematian Eren, dia lelaki yang baik dan serius. Tapi bila dia tidak terhibur olehku, untuk apa aku ada di sisinya? Apa artinya bila aku terus berada di sekitarnya bila semua itu tidak berarti? Alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan gadis yang selama enam tahun melekat dalam pikiran dan mimpiku. Tapi setiap langkahku bergerak menjauh darinya, sesuatu mengatakan padaku bahwa aku payah. Dia sedang berduka atas kematian orang yang berarti baginya, kenapa daripada mencoba untuk ada di sisinya, aku malah berharap dia cepat melupakan Eren?
Sepintas melodi singkat mengalun, Mikasa mengirim pesan singkat; "Maaf, Jean."
Kuletakkan kembali ke dalam kantung pakaianku, mencoba menahan segenap keinginan untuk membalas. Tapi satu blok berlalu, aku mengambil ponselku lagi dan membalas; "Jaga dirimu."
Aku sudah tiba di lingkungan rumah, begitu familiar, aku dan Mikasa sering berjalan kaki sambil bergandengan tangan melewati jalan ini di malam hari. Kenangan antara aku dan dia, kini menari-nari di setiap sudut jalan. Terlau banyak kenangan untuk ditinggalkan. Ketika sampai di rumah, aku hanya bisa duduk untuk menenangkan diri dan tetap pada keputusanku. Realitanya, aku tidak pernah nyata baginya. Aku hanya refleksi perasaannya terhadap Eren.
Satu cara untuk menyembuhkan diri dari kenangan yang menghilang adalah dengan cara bepergian. Kucari-cari pekerjaa untuk jurnalis pariwisata, mungkin beberapa hari mencari pedesaan damai dan indah untuk berlibur bisa membantu. Setelah kuterima pekerjaan itu, aku dibiayai oleh sponsor untuk berkemas dan berangkat pergi menggunakan kereta meninggalkan Berlin menuju Prancis.
Suasana pedesaan Prancis yang cukup berbeda dari Berlin cukup membantuku bersantai. Aku mengambil beberapa gambar fotografi sambil berkeliling desa membalas senyum ramah gadis-gadis yang melintas. Di sini cukup banyak perkebunan anggur, mengetahui sponsorku, petani anggur itu mengizinkanku mencicip hasil jerih payah mereka. Lumayan.
Ketika kembali ke hotel, aku kembali pada kesendirianku. Menunggu ngantuk, aku menuliskan pengalaman persepsi yang kudapat ke dalam buku catatan.
Saat itulah, ponselku berdering, nama Mikasa tertera di sana.
"Jean, apa kabar?" Suaranya terdengar sehat.
"Baik, kau sudah sehat?" jawabku.
"Ya..." dia terdiam untuk beberapa saat.
"Ada apa, Mikasa?"
Desahan yang terdengar melalui telepon membuatku menduga ada sesuatu yang penting yang akan dikatakannya. "Jean, ... maafkan aku."
"Maaf kenapa?"
"Ketika kau pergi, ... aku mulai menyadari sesuatu." Ia terdiam lagi sesaat, "Selama ini aku terlalu mengabaikanmu. Aku terus mempertahankan perasaanku untuk Eren, walau begitu aku terus mempertahankanmu karena ... aku suka perhatianmu. Bila dipikir kembali, rasanya aku serakah sekali. Maaf."
"Bukan masalah lagi sekarang."
"Jika ada yang bisa kulakukan, aku ingin mengulangi semua dari awal. Bersamamu, Jean."
Aku tidak memberikan jawaban karena begitu terkejut mendengar ucapan itu dari Mikasa. Suaranya terdengar bergetar, dan dia bukan tipe yang sembarang mengucapkan sesuatu.
"Beberapa hari ini aku terus berpikir, merenungkan betapa bodohnya aku. Semua tersia-sia begitu saja. Akhirnya aku mengerti, selama ini aku hanya mengejar bayang semu Eren, dan mengabaikan realita. Kau realitaku."
"Mikasa, sudahlah." Tak dapat kuungkapkan betapa lega perasaanku sekarang. Kukira semua sudah berakhir. "Aku sedang di suatu tempat di Perancis sekarang. Tunggu beberapa hari lagi, setelah pekerjaanku di sini selesai, aku akan kembali."
"Terima kasih."
Kami menutup obrolan kami dengan ucapan sayang yang biasa kami bagi bersama. Malam itu, aku kembali dapat tidur dengan nyenyak. Segala impianku ternyata tidak menghilang, namun memang kadang butuh pukulan keras untuk membuktikan betapa bernilai sebuah hubungan itu.
Kami kembali bermimpi tentang hidup baru kami berdua yang sempat tertunda.
Pagi hari dalam kereta menuju desa berikutnya, aku dan Mikasa mengobrol di telepon. Kami telah kembali normal, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Pada saat aku melewati Marseille, aku mampir ke Jewelry untuk membeli cincin. Uangku tidak banyak, untung aku tahu Mikasa tidak tertarik pada barang-barang berkilau seperti perempuan lainnya. Kubeli yang terindah yang mampu ditakhlukkan oleh jumlah nominal di dalam dompetku.
Hari terakhir berkeliling Prancis, aku segera membeli tiket pulang ke Berlin menggunakan kereta. Sungguh melelahkan, tapi hasratku untuk berjumpa kembali dengan Mikasa mengalahkan kelelahan itu.
"Mikasa, mungkin kau ingin memasak makan malam untuk dua orang." Aku melirik dua botol anggur lokal di pedesaan Prancis yang kubeli kemarin.
"Wah, kukira kau masih di Prancis?"
"Yah, aku masih di Prancis, aku sedang menunggu keretaku sekarang. Mungkin malam nanti aku sudah sampai. Aku ingin bertemu denganmu segera."
"Kau ingin makan apa?"
Tepat saat itu juga, keretaku tiba. "Apapun, buat apapun yang ingin kau masak."
"Baiklah, sepertinya aku tahu mau masak apa. Oh ya, Jean, kau takkan percaya ini ..." suaranya terdengar antusias, Mikasa pasti akan bercerita banyak tentang hal menarik yang dilihat atau dialaminya belum lama ini. Tapi maaf, sayang, kepalaku pusing sekali dan aku hanya ingin tidur sekarang. Aku benar-benar lelah sehingga tidak bisa membedakan apakah sedang terbangun atau bermimpi. "Tunggu, tunggu. Simpan itu untuk malam nanti. Biarkan aku istirahat dulu agar kita dapat menikmati waktu semalaman."
"Hmm, baiklah, nikmati perjalananmu. Aku cinta padamu, Jean."
Setelah sambungan telepon terputus, aku segera meletakkan barang-barangku di tempat yang aman, terutama botol anggur ini. Begitu duduk di atas bangku kereta, kedua mataku terasa berat. Pohon demi pohon berlalu dengan cepat, mengantarkanku kembali ke tempat kekasihku berada.
Yah, Jean. Ketika membuka mata nanti, Mikasa telah menanti.
Perlahan kututup kelopak mataku dan tertidur pulas.
Tidak ada mimpi buruk, tidak ada yang mengerikan. Dalam mimpiku, aku dan Mikasa akhirnya mengikrarkan janji setia sampai maut memisahkan. Kami berlarian di padang rumput liar, ditengah pegunungan. Kupikir kami berada di surga. Di surga ini, Mikasa tidak pernah menjadi lebih cantik dari ini. Aku menuangkan anggur ke gelas kami berdua, dan menikmatinya disela obrolan kecil. Sinar matahari tidak terlalu terik, menjadikan suasana hangat bersemi. Aku bersandar pada dahan pohon dengan kekasihku tidur dalam pelukan. Angin semilir membuai kami dalam kedamaian. Bila ini bukan surga, ini lebih indah daripada surga. Dan kuberikan segenap cintaku untukmu, mempelai yang telah lama kunanti.
Ketika terbangun, kereta sudah tidak bergerak. Suara kasak-kusuk para penumpang lain membuatku mengendus sesuatu yang tidak beres. Ketika membuka mata, kulihat mereka sedang bergerak menuju satu arah. Suasana penasaran berbaur dengan ketegangan memenuhi atmosfer. Kulongok keluar jendela kereta, melalui pemandangan yang ada, aku tahu saat ini kami sudah memasuki wilayah Jerman.
Kepada seorang pria yang lewat, aku bertanya, "Pak, maaf, kenapa kita berhenti?"
Pria itu membelalakkan matannya sejak tadi, dan kepadaku ia berkata tergesa, "Kita tidak bisa masuk Berlin."
Bila ekspresinya tidak seperti itu, mungkin aku tidak akan mulai cemas. "Kenapa?"
Bibir pria itu gemetar dan pandangannya terpaku. Ia terlihat seperti orang ling-lung, kemudian meninggalkanku tergesa. Ia berbaur dengan kerumunan yang mengantri untuk keluar dari gerbong kereta.
Kini setelah kuperhatikan, lalu lintas semua bergerak menuju satu arah; keluar dari Berlin. Atau menjauh dari Berlin. Kendaraan yang mencoba masuk ke kota Berlin, tampak mencoba berputar untuk masuk ke jalur yang berlawanan. Mereka mengakibatkan situasi memanas karena menghalangi jalan.
Ku hampiri seorang wanita dengan mata sembab yang sedang berbicara dengan cepat pada seorang lelaki yang kewalahan menanggapinya. "Aku harus masuk ke Berlin, anak-anakku bagaimana?"
Si lelaki hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa, wajahnya terlihat putus asa.
Di tempat lain orang-orang tampak jelas mencoba untuk tidak bersikap panik dan mengantre keluar dari kereta. Namun petugas hanya mengizinkan sepuluh orang sekali keluar dari gerbong untuk berlari menjauh dari Berlin.
Situasi yang aneh. Aku mencoba untuk menghubungi Mikasa. Tidak diangkat. Mungkin dia sedang belanja, coba kuhubungi ponselnya. Tidak diangkat. Aku mulai senewen. Sekali lagi aku mencoba menghubungi kekasihku, namun tidak pernah diangkat. Aku menyerah.
Aku menepuk bahu seorang lelaki dan bertanya, "Ada apa di Berlin? Kenapa semua orang meninggalkan Berlin?"
Lelaki itu berkeringat dan ketakutan. Sebelum menjawabku, ia mengak air ludah, "Kau takkan percaya. Lebih baik cepat ikut berbaris selagi masih sempat."
Maka aku kembali ke tempat dudukku, tanpa mengerti apa yang terjadi. aku mengambil tas dan anggur dan ikut antrean. Demi tidak membuat anak-anak ketakutan, orang-orang dewasa diam tidak mengatakan sedikitpun tentang apa yang membuat ketakutan. Seorang anak gadis, memeluk boneka beruangnya, bertanya pada ibunya. "Ibu, ada apa? Kenapa semua orang ketakutan?"
"Tidak apa-apa, sayang." suara si ibu terdengar tenang, mungkin agar si anak tidak panik.
Tidak lama akhirnya aku berada di luar. Melihatku akan berjalan menuju Berlin, seorang petugas cepat-cepat menahanku, "Jangan ke sana, Tuan. Jangan ke Berlin, naiklah bus itu, anda akan dibawa ke tempat yang lebih aman."
Apa-apaan orang ini? Aku menepis tangannya yang menahan tubuhku. "Kenapa semua orang meninggalkan Berlin?"
"Anda tidak akan mau ke sana!" Petugas itu terlihat frustrasi.
"Minggir." Aku baru melangkah dua kali ketika aku menyadari dari kejauhan, kulihat sesuatu.
Saat ini sudah malam, namun kota berwarna merah. Merah oleh kobaran api. Tidak hanya satu area, tapi di setiap area Berlin, aku melihat kobaran api. Kota itu sedang dihancurkan.
Tapi bukan oleh pesawat tempur, bukan oleh pasukan dari negara lain. Bukan juga oleh para pemberontak. Aku melihat sosok seperti manusia dalam bentuk siluet. Mereka bergerak perlahan menjelajahi Berlin. Sesekali membungkuk untuk memungut sesuatu. Sosok itu membuat Berlin terlihat seperti kota miniatur yang bisa diinjak-injak dengan mudah. Dan yang lebih mengerikan, tidak hanya satu sosok, namun aku melihat ada tiga. ... Tidak, empat. Tunggu dulu ... enam, tujuh, delapan ... dan lebih banyak lagi.
Apa yang terjadi malam ini? Kulihat raksasa itu mengangkat sesuatu, terlihat meronta-ronta. Kemudian si raksasa memasukkan benda hidup itu ke dalam mulutnya. Darahku seperti membeku ketika kusadari bahwa itu adalah manusia. Beberapa tewas mengerikan karena tubuhnya terputus menjadi rebutan dua raksasa. Berlin merah oleh kobaran api dari listrik konslet dan juga oleh hujan darah. Mendadak aku tersadar; impianku menemukan tempat bagi kita berdua, bagi aku dan Mikasa, kini luluh lantak.
Darahku naik ke kepala. Kulepaskan koperku begitu saja, dua buah botol anggurku terjatuh ke tanah, kemudian disambar sebuah sepeda motor yang tidak sengaja melintas. Aku terus berlari menuju Berlin. Mataku tidak berkedip, bahkan kurasakan kedua mataku memanas ... kemudian berair. Topi di kepalaku terlepas, aku tidak peduli, aku harus ke Berlin.
Mikasa!
Wajah Mikasa ketika ia menyeduhkan kopi untukku ...
... senyum Mikasa ...
Sirene dari motor polisi menghampiriku, menegurku dengan galak untuk menjauhi kota Berlin. Kutonjok tepat di hidungnya hingga ia terjatuh dari motor. Kurebut motor itu dan kugunakan untuk memasuki kota Berlin. Pantas ... pantas dia tidak mengangkat teleponnya! Satu sisi dari diriku berharap dia sudah berada bersama mereka yang melarikan diri dari Berlin. Namun sisi diriku yang lain masih merasa cemas karena kenyataan bahwa Mikasa tidak mengangkat ponselnya.
Mikasa! Kau di mana?
"Aku cinta padamu, Jean."
Air mataku terbawa angin, aku sama sekali tidak tahu dimana kekasihku. Aku kehilangan mimpiku dalam bencana ini.
bersambung ...
