Kedua orang tadi dipanggil menghadap ke ruang guru, sekarang ada di hadapan Uchiha Sasuke-sensei. Mereka gelagapan tidak mau memberi komentar soal apa yang terjadi. Tetapi, kedua pasang mata mengintimidasi keduanya membuat mereka akhirnya mengatakan sebenarnya.
"Saya benar-benar tidak tahu kenapa mereka mengajak Sakura ke lorong belakang sekolah, sensei," kata pemuda berambut kuning jabrik alias Naruto tidak tahan pada mata tersebut.
Tatapan Uchiha Sasuke tertuju pada gadis berambut merah muda sebahu. Sakura menelan ludah saking gugupnya. "Mereka mengajak saya untuk mengklarifikasi hubungan saya dengan Naruto, sensei. Itulah kenapa Hidan-senpai melakukan itu pada saya."
Sasuke mengangguk mengerti kemudian bertopang dagu menatap keduanya. "Lalu, apa kalian tahu kenapa saya membawa kalian ke sini?"
Naruto memutar kedua matanya. "Pastinya memberi hukuman mempelajari bab di buku panduan soal Matematika 'kan, sensei? Saya sudah tahu dari awal. Lagi-lagi itu—Aww!" ringis Naruto karena kena cubitan telak di lengannya, menyipitkan mata ke Sakura hingga bertanya-tanya. "Maafkan saya, sensei."
"Apa kalian tahu konsekuensinya karena memberikan keributan dan berita tidak jelas?" tanya Sasuke penuh ketajaman dan intens kepada keduanya. Mereka menelan saliva sekali lagi.
"Padahal bukan kami yang menyebarkannya," sahut Naruto cuek dan cemberut.
"Maafkan kami, sensei. Kami tidak mengulaginya lagi." Sakura membungkuk hormat. Naruto tidak percaya pada pendengarannya dan penglihatannya, ikut-ikutan hormat dan meminta maaf.
Sasuke menghela napas. "Oke, kalian dibebaskan." Sakura dan Naruto mendongak, tersenyum lebar. "Tapi, kalian harus menulis catatan tentang soal bullying. Mengerti?" Keduanya paham dan mengangguk mengerti. "Sekarang pergilah dan masuk ke kelas kalian."
"Terima kasih, Sasuke-sensei."
Sakura dan Naruto berbalik. Di saat mereka membuka pintu, Sakura meringis kesakitan pada punggungnya. Naruto mengetahuinya dan merangkul tubuh sahabatnya yang limbung.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Sakura? Kamu pucat sekali," katanya khawatir.
Sakura menggeleng cepat. "Aku baik-baik saja. Kita ke kelas, lebih baik." Naruto mengerti, tetapi sekilas dilirik pria di belakangnya yang sepenuhnya khawatir pada kondisi Sakura. Sebenarnya ingin memeluknya, tetapi Naruto mendapat tatapan tajam sampai-sampai dirinya hanya bisa menyerah.
Keduanya pun keluar dari ruangan guru Matematika mereka, Uchiha Sasuke.
.
Question And Answer
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to KISHIMOTO MASASHI
WARNING: High School version. Ada typo. Deskripsi biasa. Alternate Universe. Genre: Romance, Fluff, Family, Friendship, Humor.
Chapter 02: Angry?
"Arrgh! Sial banget hidup aku, kena damprat lagi dari Sasuke-sensei. Menyebalkan!" teriak Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi. Keempat sahabatnya hanya terkekeh geli. "Masa aku disuruh buat catatan tentang pem-bully-an? Itu tidak adil namanya. Sudah tahu aku tidak bisa mencari tahu hal begituan. Bikin capek!"
Keempatnya mengikik geli. Kiba menepuk pundak Naruto, menenangkannya. "Jangan khawatir, bro. Kita sama-sama cari di google. Mungkin di sana ada lebih menarik seperti itu," katanya mengedipkan mata. Naruto bingung.
"Kamu ngomong apa? Ngomong yang jelas. Sakit kepala aku selalu mendengar ocehan berkaratmu yang tidak tentu arah. Bikin kepala berdengung sangking pecahnya."
"Kamu tahulah anak zaman sekarang suka hal-hal yang begi—adauw!" Kiba mengaduh karena kena pukulan gulungan buku dari Tenten. "Apaan sih, Tenten! Tidak lihat ya, orang lagi asyik malah diganggu."
"Mending itu otak dicuci. Tidak cocok buat berpikiran jorok seperti itu. Kamu cocoknya berada di rehabilitasi supaya tidak mencuci otak Naruto. Kamu cocoknya temani aku belajar."
"Hei, buat apa belajar. Toh, sebentar lagi naik kelas XII," bantahnya keras. Kepala Kiba kena telak lagi dari Tenten. "Kenapa suka sekali main mukul kepala orang?"
"Biar kamu sadar, bawel." Tenten mendengus kemudian beranjak pergi. Naruto dan ketiga sahabat tertawa.
"Puas kalian menertawakan orang!" sungutnya bertambah.
"Cocok sama pacar kamu itu. Kamu tipenya pemalas, Tenten tipenya rajin." Shino yang tadinya pendiam langsung berbicara. "Aku tidak mau ikut apa yang kamu katakan. Aku ada urusan sepulang sekolah ini."
"Terserah," dengus Kiba sambil mengusap-usap kepala dipukul Tenten tadi.
Naruto melirik sebentar ke Sakura yang terus mengiris kesakitan. Kedua mata biru langitnya menyipit karena Sakura terus-terus menyentuh punggungnya. Terbersit kekhawatiran menjadi-jadi dan membuatnya bangkit berdiri kemudian duduk di samping Sakura.
"Punggung kamu baik-baik saja?" tanyanya seraya melirik punggung Sakura.
Sakura cepat-cepat menggeleng. "Punggung aku tidak apa-apa. Hanya sedikit gatal saja."
Meragukan perkataan Sakura, Naruto menyentuh punggung gadis itu. Tiba-tiba Sakura menjerit. Tubuhnya limbung dan pingsan di dada Naruto. Pemuda itu panic dan mengguncang tubuh Sakura.
"Sakura! Kamu tidak apa-apa?!"
Tidak tanggung-tanggung lagi, Naruto membawa Sakura ke UKS. Dibantu keempat sahabatnya dan sahabat Sakura yang lain, Tenten. Karena Ino sedang berada di UKS akibat kakinya terkilir. Sesampainya di UKS, Ino terkejut melihat Naruto menggendong Sakura dan membaringkannya di bangsal sebelah.
"Sakura tidak apa-apa 'kan?" tanyanya khawatir.
"Mungkin punggungnya sakit."
"Pasti karena kakak senior mendorong Sakura tadi," ucapnya kesal membuat Naruto melotot maksimal.
"Benarkah itu, Ino?" Gadis itu mengangguk. Naruto berdecak kesal.
Tidak lama kemudian, muncullah sosok seorang pria berwajah datar dan dingin. Semuanya terdiam kecuali Naruto yang memasang wajah seram. Kedua mata pria itu tertuju pada gadis yang terbaring lemah. Sarat kekhawatiran meminta jawaban dari kedua mata biru langit Naruto. Serasa mengerti, pria itu membalikkan badan. Semuanya menghela napas lega dan bertanya-tanya.
"Alasan apa Sasuke-sensei datang ke sini, ya?" tanya Ino heran pada guru satunya itu.
"Mungkin karena siswa-nya kena musibah makanya dia datang dan jenguk ke sini." Tenten memberikan jawaban positif membuat yang lainnya mengerti dan paham.
.
.
Sepulang sekolah, Naruto dan kawan-kawannya membimbing Sakura dan Ino ke mobil masing-masing untuk di antar pulang. Sebelum ke parkiran, mereka menangkap sekumpulan orang-orang melompat kodok di tengah lapangan. Mereka tergelak penuh tawa melihatnya.
"Lihat! Para senior kena hukuman! Rasakan itu, biar mampus!" cerocos Kiba menatap tajam pada Sasori yang ikut membalasnya tajam.
Sangat mengerti apa yang dilakukannya kali ini, Naruto memaafkan orang itu. Dia membimbing Sakura masuk mobilnya. Merasakan ide cemerlang, Naruto memanggil sahabat-sahabatnya.
"Guys!" Mereka menoleh. "Bisa bantu aku, tidak?"
Menyuruh Tenten dan Ino menjaga Sakura selagi mereka memberikan hukuman kepada senior-senior mereka yang kurang ajar. Mereka mengeluarkan alat-alat untuk mengganti ban. Mereka berlima melihat beberapa mobil, ada tiga berderet di tempat parkir. Merasa terpanggil untuk menjahili. Kelimanya pun bongkar ban tersebut.
Beberapa ban terlepas dari bagian mobil sehingga keempat ban tersebut hilang. Mereka menaruhnya ke tempat sampah biar pengangkut sampah membawanya pergi. Inilah hukuman karena telah menyakiti Sakura secara diam-diam.
Tenten tahu maksud Naruto malah bersedekap. "Kalian itu, tidak ada kapok-kapoknya ngerjain orang. Bagaimana nanti kalau Sasuke-sensei mengetahuinya? Kalian bisa ditambah hukuman dua kali lipat."
"Aduuuh, Nyonya bawel. Lebih baik diam. Ini urusan kita-kita, para cowok alias pemuda ganteng dan keren. Cewek alias gadis-gadis manis lebih baik masuk ke dalam mobil dan kita pulang. Mengerti?" gerutu Kiba mendorong tubuh Tenten masuk ke mobil kesayangannya seraya menggoda membuat pipi Tenten bersemu merah.
Sai, Shino, Gaara dan Ino masuk ke mobil Sai. Sakura berada di mobil Naruto. Ketiga mobil itu pun pergi dari tempat parkir meninggalkan sekelompok orang-orang tercengang karena keempat ban mobil mereka tiga-tiganya, tidak ada. Mereka sangat tahu ini pasti kerjaan Naruto dan kawan-kawan.
"Dasar, Namikaze! Awas saja anak sialan itu! Berani-beraninya menjahili kita semua seperti ini! Aku bakalan cincang dia!" desis Sasori mengepal tangannya erat seraya memukul bemper mobil. Sasori mengaduh tertahan karena kesakitan. Zetsu tertawa, membuang muka.
Hidan tidak terima. "Ini bukan salah Naruto, Sasori. Ini salah si Haruno. Dia pasti menyuruh Naruto-ku untuk melakukan hal begini."
"Anak ini benar-benar terlalu cinta mati sama Namikaze," gerutu Konan menyentil telinga Hidan sampai kesakitan. "Lebih baik minta sama ketua Osis Pein buat antar kita. Malas aku kalau harus naik angkutan kota."
"Tapi, hukuman kita belum selesai."
"Biar aku yang bilang sama Pein deh." Konan yang cemberut karena tidak bisa pulang naik mobilnya, kembali ke sekolah untuk bertemu Pein, ketua Osis St. Konoha President.
Mereka tidak tahu kalau pria berambut biru memandangi ketiga mobil tanpa empat ban. Seringai lucu terbentuk dan dia menggeleng. Dia sengaja membiarkannya karena ini demi wanita dicintainya yang dia nikahi selama 5 bulan. Ini hukuman untuk senior tidak tahu aturan seperti mereka. Awas saja jika mereka berani lagi sama Sakura. Bakal dijitak sampai kepala bocor! Ups!
-To be continued-
.
A/N: Chapter 2 update. Semoga saja humornya terasa deh. Saya tidak tahu harus bagaimana karena saya baca terus fanfict atau orific di wattpad. Supaya ada unsur humornya terasa. Hehehe…
Terima kasih sudah mau membaca fict saya! ^^
Dan terima kasih atas review-nya.
Sign,
Zecka Fujioka
04 Mei 2014
