FANFIC REMAKE ORIGINALLY BY ME!

Kristao Story

Kris Wu and Huang Zi Tao + (Joan d'Arc)

Drama School Life/Bromance/Supranatural/Friendship

Rating: T

Note: Joan d'Arc merupakan tokoh nyata yang di kenal sebagai Pahlawan Wanita dari Prancis yang membantu pasukan tentara Prancis mengusir tentara Inggris di akhir Perang Seribu Tahun masa itu. (lengkapnya search d gugel XD)

.

.

.

Masih terlihat sisa-sisa kemeriahan festival semalam di halaman depan maupun gerbang utama Yinyuetai High School pagi ini. Pukul 7 pagi, banyak siswa yang mulai berbondong-bondong memasuki wilayah sekolah. Di antara mereka ada yang berwajah ceria dan ada pula yang ber wajah kurang tidur, seperti Chan Lie, Kai, Sehun dan panitia lainnya yang bertanggung jawab akan festival malam itu. Karena mereka harus membersihkan dan menata sekolah seperti sedia kala, dan hal itu mengurangi banyak waktu tidur mereka.

Tak seperti Tao. Pemuda bersurai legam layaknya bulu gagak itu datang dengan wajah berseri-seri, seperti telah menemukan sekarung emas. Dengan perasaan senang karena hari ini cerah, ia mendekati ketiga anggota osis itu. Tak menghiraukan tatapan banyak orang yang tertuju pada dirinya yang selalu jadi pusat perhatian di sekolah. Bahkan jika ia sedang bersama Kris, tak sedikit orang yang mengabadikan itu di kamera ponsel atau kamera digital sekalipun.

"Selamat pagi!" sapa Tao riang. Menyamakan langkahnya dengan Chan Lie dan membuat pemuda itu menoleh.

"Pagi..." balasnya lesu.

"Kok lesu?" tanya Tao, bergantian menatap Chan Lie, Kai dan Sehun. Memang mereka sedang berjalan beriringan saat ini.

"Ngantuk.." jawab ketiganya kompak. Tao mengangkat sebelah alisnya.

"Memang semalam selesai jam berapa?"

"Jam 12 malam, bisa kau bayangkan kita hanya tidur berapa jam semalam?" tanya Sehun lalu menguap lebar.

"Ckckck, seharusnya kalian minta bantuan ku dan Kris"

"Memang begitu rencananya, tapi saat aku mau memanggil kalian, kalian sudah tidak ada"

Tao menoleh pada Chan Lie. "Eh? Benarkah? Eheheheehehe... ah ya, aku minta Kris untuk mengantar ku pulang...maaf.." ujarnya sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Dasar, bagaimana kita mau minta bantuan?" gumam pemuda bertelinga dobby itu dengan palm face.

"Ah! Seharusnya kau menelpon ku, aku bisa kirim orang untuk membantu kalian!"

"Kirim orang?" ulang Kai. "Siapa?"

"Anak buah ku"

"Anak buah Ayahmu" ralat Chan Lie membenarkan.

Tao menyeringai lucu. "Ah ya, itu yang ku maksut"

"Kalau kau berniat membantu kenapa tidak dari awal ha?" ujar Kai seraya mencubit pipi gembil Tao gemas.

"Eheheehehe, habis aku ngantuk berat jadi sampai rumah aku langsung tidur" kata pemuda Panda Panda itu nyengir. Kai melengos, membuat seringai lima jari Zitao semakin lebar.

"Ah, aku punya sesuatu untuk kalian!" Tao merogoh tas sekolahnya, dan mengeluarkan beberapa bungkus kecil permen. Ia meraih tangan Chan Lie dan menaruhnya di telapak tangan pemuda tampan itu.

"Permen? Ini yang kau sebut sesuatu tadi?" tanyanya datar. Tao mengangguk.

"Itu permen kopi, siapa tahu bisa mengurangi rasa kantuk kalian, semoga membantu. Aku duluan ya, dah~" ucap Tao beranjak meninggalkan ketiga pemuda itu dengan langkah yang teramat ringan.

Chan Lie, Kai dan Sehun hanya menatap sosok Tao yang mulai menjauh dengan wajah datar.

"Kalian mau?" tawar Chan Lie menyodorkan telapak tangan kanannya yang penuh permen.

.

.

"Pagi semua~~" sapa Ruki ceria tepat setelah membuka pintu kelas.

"Pagi~" balas siswa yang lain, ikut tersenyum melihat Tao yang selalu tampil ceria.

"Pagi Zi, semangat sekali" Dio yang kebetulan baru datang, berdiri tepat di sebelah kanan Tao.

"Ah tentu saja, semalam aku tidur dengan nyenyak"

"Ha? Apa hubungannya?" Dio mengernyit bingung.

"Tentu saja ada, kau lihat anak-anak osis?" pemuda bermata bulat itu mengangguk.

"Ya, kenapa mereka?"

"Mereka terlihat suram kerana tidak tidur cukup semalam, jadinya seperti itu"

"Ooh..." Dio mengangguk-angguk paham. "Memang tadi kau ketemu siapa di luar?"

"Chan Lie, Kai, dan Sehun"

"Lalu?"

"Aku memberi mereka permen kopi"

"Untuk apa?"

"Supaya tidak mengantuk, kau mau? Aku masih punya"

Dio buru-buru menggeleng. "Tidak, terima kasih" ucapnya dan nyelonong masuk ke dalam kelas.

Ruki pun ikut mengayunkan kakinya masuk ke dalam kelas, dan melihat Kris yang sudah datang duduk di bangku mereka. Duduk tepat di samping jendela dengan pandangan keluar, tak menyadari kedatangan sahabat tersayangnya.

"Pagi Dragon!" sapanya dengan senyum mengembang. Pemuda yang di maksut menoleh, menatal datar seperti biasa.

"Pagi..."

"Semalam kau pulang jam berap—"

"Hai, kita bertemu lagi~" suara yang berasal dari sesosok hantu wanita berbaju zirah transparan yang tiba-tiba muncul dari dalam meja mereka sukses membuat Tao terdiam. Seperti sebuah kecepatan internet yang butuh proses. Pemuda manis yang cantik itu belum menyadari jika ada seorang hantu menyapa dirinya, dan...

"UWAAAA!" teriakan berkekuatan supersonic yang sukses membuat Kris terlonjak dari kursinya.

Mengambil langkah seribu menjauh dari meja miliknya dan Kris dengan mata membola serta wajah memucat.

"Ada apa Zi?" tanya Dio heran. Tentu saja karena Tao yang tiba-tiba berteriak. Pemuda berjuluk Panda itu tak menjawab, masih shock dengan apa yang di lihatnya.

"Kau bisa melihat Joan?" tanya Kris dengan alir bertaut.

Tao masih diam membeku.

"Kemari!" bergerak cepat, ia mendekati meja kembali dengan tatapan waspada dan menarik tangan Kris menjauh dari hantu wanita itu.

"Kenapa kau bawa-bawa hantu ke sekolah!?" bisiknya kesal.

"Aku tidak membawanya, dia yang mengikuti ku!" ucap Kris membela diri.

"Bagaimana mungkin!?"

"Waktu aku mau berangkat, dia sudah berdiri di depan pintu apartemen ku!"

"Kenapa tidak kau usir!?"

"Sudah, tapi dia tetap datang! Lagipula kenapa kau bisa melihat Joan?"

"Aku juga tidak tahu! Lagipula sia—tunggu, kau tahu namanya?"

"Ya, dia 'kan Joan"

"Ya Tuhan! Bahkan kau sampai tahu namanya!"

"Dia Joan! Masa kau tidak tahu?"

"Aku tidak peduli namanya Joan atau tidak, yang jelas aku tidak suka bisa meliat hantu seperti ini!"

"Joan d'Arc!"

"Ha? Apa?"

"Namanya Joan d'Arc"

Dahi Tao berkerut. "Namanya sama seperi pahlawan wanita dari Perancis itu ya..." kemudian diam, dan tiba-tiba...

"Aaah! Joan d'Arc!" histerisnya yang sukses membuat semua mata di kelas itu memandang mereka dengan tatapan heran. Kris buru-buru membungkam mulut Ruki yang seenaknya ber ah ah sejak tadi.

"Kau memanggil ku?" Joan muncul dari balik punggung Kris, dan lagi-lagi Tao terbelalak melihatnya. Rupanya dia belum terbiasa melihat wujud hantu dari seorang Joan d'Arc.

Si manis bermata ala Panda itu mencoba menelan ludah di tenggorokannya yang mendadak tercekat.

"K-kau b-benar-benar...Joan?..." tanyanya takut-takut. Joan mengangguk sambil tersenyum.

"Ya, kau mengenal ku?"

"Tentu saja! Siapa yang tidak kenal Joan d'Arc pahlawan wanita pemberani dari Perancis itu!?" ujar Tao menggebu-nggebu se akan lupa akan ketakutannya pada hantu wanita itu.

"Taozi?" panggil Dio dengan alis berkerut. Pemuda manis itupun menoleh.

"Apa?"

"Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?" Dio menatap cemas pada teman sekelasnya. Mendengar pertanyaan pemuda bermata bulat itu Kris hanya menutupi mulutnya, menahan tawa.

"Eh? Aku baik-baik saja, kenapa?"

"Dari tadi kau histeris sendiri, dan kau tidak sedang bicara dengan Kris" ujarnya seraya melirik sang Pangeran yang berdiri tepat di samping Tao.

"Ekh...i-itu...aku...aku sedang biacara sendiri!" elaknya dengan wajah memerah karena malu.

Dio menaikkan sebelah alisnya. "Dasar aneh..." gumamnya dan kembali mengobrol dengan teman-temannya.

Tao kembali menoleh sengit pada Kris yang sedang memegangi perut karena asyik menahan tawa berkat tontonan bodoh yang di suguhkannya.

"Kau kenapa tidak memberitahuku sih!?"

"Hmpf,..hahaha,...hanya orang bodoh yang tidak sadar akan hal itu...hahaahaha"

"Diam! Dasar kau menyebalkan!" Tao memukul keaal lengan berotot pemuda Wu itu lalu beranjak ke bangkunya. Wajahnya merengut kesal dengan bibir mengerucut beberapa senti ke depan.

"Tao marah?" tanya Joan, menatap cemas si manis yang duduk bersendekap di bangkunya. Kris menggelengkan kepalanya.

"Tidak, memang begitu sifatnya. Dia suka ngambek" kata Kris berbisik.

"Ooh..." Joan angguk-angguk. Dan mengikuti sang Pangeran sekolah yang berjalan kearah kursinya, tepat di samping kanan Tao.

.

.

.

Jam istirahat telah berlalu 10 menit yang lalu. Jika siswa yang lain berbondong-bondong menuju cafeyaria atau tempat lain yang tepat untuk di jadikan tempat istirahat, tidak dengan Kris dan Tao. Kedua pemuda itu malah menuju perpustakaan yang justru banyak di hindari oleh siswa-siswa lainnya. Hanya sebagian orang saja yang mau datang ke 'tempat suci' itu, karena beredar rumor jika perpustakaan Yinyuetai High School itu sangat angker. Karena katanya dulu ada seorang siswa yang mati bunuh diri di salah satu bagian ruang perpustakaan. Itulah alasan mengapa nyaris tidak ada siswa yang mendekat lebih dari radius 10 meter.

"Fanfan, kenapa kita harus ke sini?" tanya Tao memelas dengan rona takut yang sangat kentara, sambil memperhatikan sekelilingnya dengan berpegangan pada ujung sweater seragam Kris.

"Di sini tempat yang paling sepi" jawabnya sambil melihat ke deretan bangku yang kosong. Ada beberapa orang di sana, tengah membaca buku. Walau tak urung ada beberapa siswa yang hanya menggunakan kedok hanya untuk pacaran (bagi yang berani). Ia membawa beberapa buku yang agak tebal di lengan kirinya.

"Tapi kan banyak tempat sepi di sekolah ini, tidak cuma perpustakaan" ujarnya terdengar menrengek.

"Ini tempat yang paling tepat"

"Tempat ini menyeramkan tahu"

"Tidak juga, hanya perasaan mu saja"

"Kalau cuma perasaan ku kenapa banyak anak yang takut kemari?"

"Mereka saja yang bodoh, percaya dengan cerita yang sama sekali tidak terbukti"

"Berarti kau juga mengatai ku bodoh?"

Kris menoleh dari buku yang baru saja di bukanya. "Memang kau percaya?"

"Tentu saja. Coba kau lihat, ruangan ini tidak seperti perpustakaan, mana ada perpustakaan suram begini?"

"Tata ruangnya yang tidak tepat makanya terlihat suram"

Kris memilih bangku yang berada di pojok ruangan, dekat lekukan dinding. Dari tempat itu, tidak akan ada orang yang memperhatikan mereka, sekalipun mereka bertingkah seperti orang gila.

"Sampai kapan kau mau berdiri?" tanyanya, dengan sebelah alis terangkat menatap Tao yang berdiri di sisi meja. Pemuda manis itupun ikut duduk di kursi sebrang berhadapan dengan Kris. Sedangkan Joan, hantu wanita itu melayang di dekat sang Pangeran sekolah, tengah memperhatikan ruang perpustakaan.

"Joan..." panggil Tao. Sepertinya sudah tidak takut lagi melihat Joan.

"Ya?" wanita berdarah Perancis itu menoleh.

"Bisa kau tidak terlalu dekat dengan Kris?"

Kris yang sedang membuka halaman demi halaman di buku yang sedang di bacanya pun melirik ke arah Tao, lalu melirik ke arah Joan di samping kirinya, lalu kembali membuka satu per satu halaman pada buku itu, dan sempat mengangkat bahu kecil.

"Eh? Memang kenapa?" hantu cantik itu menatap bingung.

"Hmm...aku agak sedikit aneh melihat ada wanita menempel pada Kris seperti itu"

"Tapi aku kan hantu"

"Ya, tapi kau kan juga wanita"

"Kau cemburu Taozi?"

Pemuda manis itu melotot kaget. "C-cemburu? Kenapa aku?" ucapnya agak tergagap.

"Siapa tahu saja kan? Lagipula kau dan Kris sangat akrab" ujar Joan, melayang pindah ke samping kanan Ruki.

"Memang salah kalau kami akrab?" tanyanya agak pelan.

"Tidak sih, tapi ku pikir kalian lebih dari teman"

"Ada-ada saja, kami hanya berteman Joan"

"Tapi bagus juga kalau kalian lebih dari itu"

"Diam Joan!" hardik Tao yang entah mengapa terdapat rona merah muda di pipi gembilnya. Joan hanya mengangkat bahu, kenudian duduk di atas meja.

"Di sini di tulis kalau kau mati karena di bakar Joan, tapi kenapa jiwa mu masih ada di bumi?" tanya Kris setelah menekuni bukunya beberapa saat, mengalihkan tatapannya pada wanita berbaju zirah itu.

Joan mengangkat bahu lemas. "Aku juga tidak tahu, padahal ku pikir aku sudah cukup tenang. Saat aku memikirkan itu, tiba-tiba saja aku sudah sampai di sini"

"Aneh.. apa ada yang membuatmu penasaran?" tanya Tao sambil menyangga dagunya.

Joan menggeleng. "Aku juga tidak tahu"

"Peristiwa itu sudah ber abad-abad lamanya, kenapa baru sekarang kau muncul? Lagipula Perancis sudah maju sekarang, tidak ada perang lagi, kecuali di Timur Tengah..." kata Reita.

"Kalaupun aku tahu, aku pasti sudah mengatakannya pada kalian"

"Mungkin ada sesuatu hal yang ingin kau lakukan Joan?" Tao merubah posisi tangannya. Kini rerlipat diatas meja dan meletakkan dagunya diatas lipatan tangannya.

"Yah.. mungkin, tapi apa? Kalaupun ada zaman kita sangat jauh berbeda, lagipula kenapa aku harus ada di China? Kenapa tidak di Perancis saja? Ya kan?"

Kris mengangguk-angguk kecil. "Kalau begitu kenapa? Lagipula kematianmu sudah sangat lama, sangat aneh kalau jiwa mu baru bergentayangan sekarang"

"...mungkin kau masih ingin hidup Joan.." Tao menggumam namun cukup jelas terdengar.

Joan tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Tidak mungkin, aku sudah cukup puas dengan apa yang ku lakukan. Lagipula Perancis sudah merdeka dan maju, apa lagi yang ku inginkan?"

"Kau benar...ahh! ini memusingkan!" Tao menelungkupkan tubuhnya ke meja. Menyangga dagunya dengan tumpukan tangannya(lagi), memperhatikan Kris yang sedang mencari sesuatu di buku yang di bacanya.

"Lagipula kenapa harus kami yang kau hantui?" tanyanya agak menggumam(lagi).

"Entahlah, mungkin karena Kris?" pemuda itu mengangkat wajahnya.

"Kenapa aku?" bingung, sebelah alis tebalnya terangkat tinggi.

"Karena kau memiliki apa yang orang lain tidak punya, six sence"

"Ah~ kau benar Joan, aku pernah dengar kalau hantu atau arwah gentayangan akan tertarik pada orang yang memiliki six sence, karena hanya orang-orang yang memiliki kelebihan itu yang bisa mengakui keberadaan kalian!" kata Tao menggebu.

"Ya begitulah, karena hantu juga ingin di anggap keberadaanya, tidak hanya manusia"

"Berarti ini semua gara-gara kau dragon!" tuding Tao, mengarahkan jari telunjuk lentiknya pada Kris. Pangeran sekolah itu mengernyit.

"Kenapa gara-gara aku?"

"Karena six sence mu itu, kita jadi di ikuti Joan!"

"Taozi sayang...kau pikir di Dunia ini hanya aku yang memiliki six sence? Dari 1:10 ada beberapa orang yang juga memilikinya, jadi kau tidak bisa menuduh ku"

"Ah ya, kau benar..." Tao menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, lemas.

"Joan, boleh aku tanya?" menggeser pandangan matanya dari buku ke hantu wanita itu.

"Ya, silahkan"

"Apa tujuan mu membantu Perancis saat itu?" tanya Kris penasaran.

"Tentu saja untuk membebaskan Perancis dan membuat masyarakatnya bahagia"

"Bahagia ya... apa kau juga menginginkan hal itu pada semua orang di Dunia?"

"Ya, tentu saja. Saat aku sadar, apa yang kulakukan saat itu dapat mengubah Perancis, aku sangat senang. Tidak sia-sia aku mati di bakar"

"Merdeka bukan berarti damai Joan"

"Maksut mu?" pahlawan wanita Perancis itu mengernyitkan dahi bingung.

Kris menarik nafas panjang, sembari menyandarkan punggungnya santai.

"Kau bilang tadi ingin membebaskan Perancis, yang berarti membuat Perancis merdeka dari tentara Inggris kan?" Joan mengangguk.

"Apa kau tidak berpikir kalau 'merdeka' berarti juga 'damai'? Sebuah kedamaian di butuhkan rasa saling peduli, kasih sayang, dan cinta..."

"Rasa cinta terhadap sesama yang membuat orang merasa damai. Damai terhadap sekitarnya maupun dirinya sendiri" inilah kamilat terpanjang yang pernah Kris lontarkan.

"Aku tidak paham Kris" kata Tao dengan kening berkerut. Kris menghela nafas, dan membenarkan posisi duduknya.

"Maksut ku, mungkin jiwa mu belum tenang karena rasa penasaran akan 'damai' itu. Kau penasaran apakah setelah kau mati mereka akan 'damai' dan mencintai satu sama lain. Memerangi ke egoisan diri yang mungkin menimpamu waktu itu. Intinya, kau penasaran akan cinta dan kasih sayang terhadap manusia satu ke manusia lainnya"

Joan diam. Kata-kata Kris itu ada benarnya, mungkin benar hal itu yang membawanya sampai kemari.

"Tapi kenapa di China? Dan tidak di Perancis?"

"Kau hanya merasa penasaran akan hal itu Joan, dimanapun saat ini jiwa mu berada itu tak masalah. Yang jelas, kau butuh bukti nyata untuk memuaskan rasa penasaran mu itu"

"Kris benar Joan! Kau hanya butuh melihat sendiri seperti apa cinta dan kasih sayang itu" timpal Tao bersemangat.

Joan hanya mengangguk kecil. "Kalian benar... tapi kenapa aku malah bersama kalian? Apa kalian saling mencintai?" tanya Joan dengan polosnya.

"Ha? Kau bercanda ya?" kedua alis tebal Kris bertaut.

"Mungkin saja kan? Kalau tidak kenapa aku bisa ada di sini bersama kalian? Kenapa tidak sedang menggentayangi seseorang yang sedang jatuh cinta dan memiliki six sence?"

"Dengar ya Joan, sekalipun aku abnormal aku tidak akan mau dengan laki-laki bermata Panda, cengeng seperti dia" kata si tampan itu yang membuat raut wajah Tao seketika berubah.

"Apa kau bilang? Cengeng?" ulang Tao tersinggung. Kris mengangguk.

"Kau bahkan menangis melihat drama di televisi"

"Kenapa kau selalu mengejek ku!?"

"Aku tidak mengejekk mu Taozi..."

"Lalu tadi itu apa!?

"Memang itu kenyataanya kan? Kau sama dengan Madam Mei"

"Aku tidak sama dengan dia!"

"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi bertengkar? Apa selalu seperti ini?" tanya Joan heran melihat tingkah kedua pemuda itu. Yang bahkan belum ada satu jam duduk berdiskusi dengan tenang.

"Dia yang selalu mulai duluan Joan!" tuding Tao.

"Aku? Lagi-lagi kau menyalahkan aku" Kris menyahut santai.

Kriiiiiiiiiiiiinnngg~!

Bel tanda usai jam istirahat berbunyi. Tao memanyunkan bibirnya seprti bebek, Kris tetap dengan gaya santainya yang datar, yang seakan tak pernah mengatakan apa pun yang dapat menyakiti pemuda manis bermata Panda yang saat ini benar-benar kesal dibuatnya.

"Sebaiknya kalian kembali ke kelas, sudah bel" ujar Joan.

"Kau benar, tidak ada gunanya meladeni orang seperti Kris Wu" kata Tao sewot, dan beranjak pergi.

Kris berdehem kecil, kemudian bangkit berdiri. Berjalan di belekang Tao yang sudah mendahuluinya dengan langkah lebar.

"Kau sudah tidak takut lagi ya? Perpustakaan ini kan angker" ucap Kris iseng. Seperti yang di duga, Tao seketika berhenti di tempat.

"Kau mulai lagi!" ia berbalik cepat menatap kesal Kris.

"Tidak, memang ada dan agak angker kok. Tanya saja pada Joan" kata Kris cuek. Tao melirik ke arah hantu wanita itu, Joan pun mengangguk kecil.

"Benar kok, di depan mu ada seorang kakek-kakek"

"Kau juga berkomplot dengan Naga sialan ini? Kalian berdua sama saja!" Tao menghentakkan kakinya kesal, membalikkan tubuhnya. Dan...

"Gyaaaaaa—"

Cepat Kris membungkam mulut Tao yang hampir saja membuat mereka di damprat oleh penjaga perpustakaan, dan Tao terbelalak shock. Melihat apa yang di kataan Joan itu berada di depannya. Hantu seorang kakek-kakek yang sangat pucat dan pandangan mata kosong. Hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.

"Jangan teriak, ini perpustakaan" Kris berbisik.

"...mmh..." Tao menggumam lemas. Kakinya seperti agar-agar, dan hantu kakek-kakek itupun hilang bersamaan dengan tubuhnya yang merosot ke lantai karena mendadak lemas.

"Dasar, makanya jangan sok berani" meski terkesan malas. Kris tetap saja membantu sahabatnya yang manis itu untuk tetap berdiri. Tapi karena Tao tidak sanggup menggunakan kedua kakinya, alhasil sang Pangeran sekolah harus mengangkat tubuh sang malaikat yang kini wajahnya pucat pasi.

Yah, meskipun Tao sudah terbiasa dengan kehadiran Joan bukan berarti pemuda manis itu akan baik-baik saja jika melihat hantu yang tiba-tiba muncul di depan matanya.

Melihat pemandangan intim itu, Joan hanya mengangkat sebelah alisnya. Senyum kecil terbentuk di bibirnya keringnya

Ternyata benar ya...

To be ccontinue

.

.

Kalau ada nama tak di kenal yang masih nyelip mohon di maklumi ya :v

Dan sedikit penjelasan. Disini Tao ngga bisa ngeliat hantu, dan kemungkinan melihat hantu itu terjadi jika hanya bersama Kris. Karena Kris bisa melihat hantu jadi orang2 yang ada di sekitarnya kaya bisa ikut ngeliat hantu itu, plus pengaruh Joan yang selalu gentayangan di sekitar mereka. Jadi kaya menyalurkan energi kasat mata ke Tao yang akhirnya Tao bisa ngeliat hantu.

Bingung ga? Ya udah kalo bingung :v #ditabok

Review seikhlasnya buat jadi penyemangat :"

Regards, Skylar