Chapter : 2
IF I HADN'T MET YOU
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Pairing : Suamiku Uchiha Madara dan Hyuga Hinata
Warning : Rate T, crack pairing, sedikit OOC, AU, Typos everywhere
Fanfic ini memang terinspirasi dari lagunya Aimer dengan judul Anatani de awanakereba.
Author baru, harap maklum jika banyak kesalahan.
Don't Like Don't Read…
"Madara.. Sekali lagi kau menemui gadis itu, aku tidak akan segan-segan mencoretmu dari daftar ahli waris Uchiha!". Bentak Uchiha Tajima kepada putra tertuanya Uchiha Madara, yang hendak melangkahkan kakinya keluar dari pintu utama Uchiha mansion.
"Tou-san pikir aku takut dengan ancaman seperti itu, Tou-san pikir aku tidak dapat hidup jika aku keluar dari sini?!.". Balas Madara seraya membalikan badannya ke arah Tou-san nya.
"Aku sangat mencintainya Tou-san, aku rela kehilangan segalanya. Asalkan bisa bersama dia!". Jelas Madara lagi.
"Tou-san pikir kau sudah kehilangan akal sehat, jika kau tetap pergi darisini. Kau pikir ayah gadis itu akan membiarkanmu bersama anak gadisnya. Ingat, dia masih dibawah umur, aku tahu kalian saling mencintai. Tapi Hyuga Hiasi tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk meruntuhkan bisnis kita. Saham kita akan anjlok ketika berita tentangmu membawa anak gadisnya yang dibawah umur, tersiar keseluruh Jepang. Tidak Madara.. Dia tidak akan membiarkanmu begitu saja.. Kau hanya akan membusuk dipenjara. Dan perusahaan kita akan hancur. Pikirkan juga nasib karyawan-karyawan kita". Terang Uchiha Tajima.
"jika kau benar-benar mencintainya. Lupakan gadis itu. Atau tunggu sampai ia sudah dewasa. Itu demi kebaikan kalian. Jika dia sudah dewasa, aku takan menghalangimu bersamanya". Ucap Uchiha Tajima seraya membalikan badannya dan berjalan kearah kamarnya.
Madara hanya berdiri terdiam ditempatnya. Mengepalkan tangan kanannya dan menengadahkan kepalanya dengan mata yg berkaca-kaca, menahan kesal.
Cinta itu buta, mungkin pernyataan itu benar adanya. Pertemuan tak disengaja antara Madara dan Hinata setahun yang lalu menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka. Cinta yang tulus dan suci, meski usia mereka jauh berbeda.
Madara teramat mencintai gadis kecil itu. Setahun mereka menjalin kasih, meski tidak salah satu pun diantara mereka yang menyatakan cinta, namun mereka yakin mereka memiliki ikatan lebih dari pertemanan, dan menjaganya dengan sepenuh hati. Cobaan pun datang menghantam cinta mereka. Hyuga dan Uchiha adalah rival abadi dalam dunia bisnis. Madara pun menyadari hal itu, tapi tidak dengan Hinata, ia sama sekali tidak mengerti tentang bisnis, karena ia tidak pernah tertarik untuk terjun ke dunia bisnis. Hinata selalu bercita- cita menjadi seorang penyanyi. Hyuga Hiasi melihat ketidak tertarikan Hinata pada dunia bisnis, sehingga lebih mempercayai putri keduanya Hanabi.
Hyuga Hiasi yang konservatif melarang Madara untuk bertemu dengan Hinata, mengancam akan melaporkan Madara ke polisi dengan tuduhan pedofilia. Tentu saja hal itu membuat Uchiha Tajima berang. Sehingga melarang Madara untuk menemui Hinata, demi kebaikan semua pihak.
Madara pergi jauh dari kehidupan Hinata. Madara juga merasakan sakit yang sama, seperti yang Hinata alami. Sakit karena berpisah dengan orang yang sangat ia cinta, tepat setelah ia menyatakan perasannya. Tanpa sepengatahuan Tou-san nya dan Hinata, Madara tetap memantau perkembangan kekasihnya baik kehidupan dan karirnya dari kejauhan selama bertahun- tahun.
Sebelas tahun menetap di Jerman, akhirnya Madara kembali ke Jepang setelah ia mendapatkan kabar Tou-san nya menghadap yang kuasa, karena kanker paru-paru yang telah diderita hampir empat tahun terakhir. Beberapa hari setelah upacara pemakaman Uchiha Tajima, Madara diangkat sebagai CEO Uchiha Corporation. Karena hanya Madara yang pantas menjabat jabatan itu, seluruh keluarganya percaya dengan kejeniusan dan ilmu yang telah ia dapat diluar negeri, mampu mengembangkan sayap Uchiha Corporation dalam segala bidang.
Kesibukan Madara mengurus segala bisnisnya ia kira mampu membuat ia lupa akan sosok yang sangat dicintainya. Semakin Madara mencoba untuk melupakan Hinata, semakin ia rindu terhadap Hinata. Karena cintanya kepada Hinata ia menutup diri terhadap wanita lain. Sikapnya menjadi sangat dingin dan tertutup. karena Hinata pula lah yang menyebabkan dia tetap membujang diusianya yang sudah menginjak tiga puluh sembilan tahun.
"Kisetsu nado iranai.. Nani mo furetakunai
Mou ano hana no na wa.. Wasuretatte ii ya
Dakedo yume no naka de wa.. Anata wa waratteru
Ima demo sou nanda
I gave you everything.. You gave me anything?
Zutto itsumade demo
You're everything.. I'm still waiting.
Aishitete mo ii.. Mafuyu ni saita
Hana no youna.. Ima wa hakanai kioku demo..."
Madara membaringakan tubuh lelahnya diranjang, dengan kedua tangan terlipat yang menjadi tumpuan kepalanya. Memejamkan matanya yang tidak dihinggapi rasa kantuk, pikirannya melayang terbang jauh bersama syair-syair lagu yang ia dengarkan melalui ponselnya.
"Maafkan aku.. Maafkan aku Hinata chan. Andai aku dapat memberitahumu alasan mengapa kita begini..". Batin Madara lirih.
" Tunggulah aku Hinata chan.. Aku masih mencintaimu seperti dulu." Gumam Madara. Tak terasa cairan bening mengalir diujung matanya yang terpejam.
Siapa yang mengira pria kuat dan berkharisma seperti Madara, akan menangis karena wanita. Mungkin air matanya adalah batas kekuatannya untuk menghalau segala rindu yang berkecamuk dalam dirinya. Madara merasa sudah tidak sanggup lagi menahan beban kerinduan. Mungkin Hinata tak pernah melihat wajah Madara selama sebelas tahun, namun Madara setiap saat dapat melihat wajah orang yang ia sayangi melalui media elektronik, hal inilah yang membuat Madara semakin tersiksa, melihat sang kekasih dari kejauhan. Tanpa bisa memeluk apalagi menciumnya.
"Madara-sama, selamat datang. Ruangan anda sudah kami rubah sesuai dengan keinginan anda. Semoga Madara-sama menyukainya." Ucap seorang wanita berperawakan sedang berambut merah dan berkacamata ketika Madara tiba didepan ruangannya. Wanita tersebut membukakan pintu ruangan tersebut, lalu membungkukan badannya sebelum kembali ke tempatnya.
"Hn." Jawab Madara singkat dan menghempaskan dirinya kekursi kerja.
Ini adalah kali pertama Madara berkantor di perusahaan rekaman milik Uchiha Corporation, yakni Susanoo Music. Perusahaan rekaman prestisius yang mencetak penyanyi-penyanyi ternama di Jepang. Dan salah satu penyanyi jebolan Susanoo Music yang sedang naik daun adalah Hyuga Hinata.
Tentu saja Hinata dan Hyuga Hiasi, ayah Hinata tidak pernah tahu bahwa Susanoo Music adalah milik Madara, karena baik Madara maupun ayahnya tidak pernah terjun langsung mengurus Susanoo Music. Hinata juga tidak tahu nama keluarga Madara, bahkan Hinata hanya mengenal Madara dengan Mada-kun.
Dan alasan Madara memilih berkantor di Susanoo Music, yang gedungnya lebih kecil dibanding gedung Uchiha Corporation, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki hubungannya dengan Hinata. Itulah harapannya, apakah Madara akan bersatu kembali dengan Hinata? Entahlah hanya waktu yang dapat menjawabnya.
" Hinata- san, anda sudah tiba di Susanoo Music. Anda tak baca sms dariku?" tanya suara seorang wanita dari ponsel Hinata.
Dengan lirih Hinata menjawab. "Hmmm.. Baterai ponselku habis. Aku lelah sekali semalam dan langsung tidur. Jadi aku tak tahu kalo pertemuan kita dengan Obito-sama ditunda besok."
Hinata menghela nafas dan melanjutkan ucapannya. "aku akan menunggu disini sebentar Sakura -san, sampai sopirku menjemput. Tadi ia sudah izin terlambat datang karena macet.".
"Maafkan aku Hinata-san, andai saja aku tidak sedang diare, pasti pertemuan kita tidak terbengkalai dan kau tidak menunggu sendirian disana.". Jawab wanita yang bernama Sakura, yang tak lain adalah sahabat sekaligus Manajer Hinata.
"Jangan berbicara seperti itu Sakura-san, penyakit datang tanpa bisa diprediksi. Istirahat dan minum obat ya. Semoga kau lekas sembuh". Ucap Hinata.
"Baiklah. Terima kasih Hinata. Hati-hati disana, karena kau tak bawa pengawalmu hari ini.. Ja Naa...". Sahut Sakura sambil terkekeh.
" iya pengawalku. Aku harap semua baik-baik saja.. Bye..". Jawab Hinata sambil tersenyum lalu mematikan ponselnya.
Hinata menuju lobby untuk menunggu sopirnya yang akan menjemputnya. Duduk disebuah sofa berwarna coklat dekat dengan pintu utama dan berhadapan dengan lift. Sesaat setelah Hinata menghempaskan tubuhnya disofa, tiba-tiba tubuhnya kaku, dadanya bergemuruh dan sesak, ketika ia melihat sesosok pria yang sepertinya kenal. Pria tinggi dengan setelan jas hitam, berambut panjang hitam yang agak berantakan keluar dari lift bersama seorang wanita berambut panjang berwarna merah.
Hinata terkesiap dan terus memandangi pria yang kini berjalan melewatinya. Namun pria yang dipandangi tersebut sepertinya tidak sadar ada mata beriris lavender yang kini mulai berkaca-kaca, menatapnya tajam tanpa berkedip sesaat pun.
Hinata merasakan degup jantungnya tak lagi berirama normal. Keringat dingin mengaliri tubuhnya, ia hanya mampu menatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhnya tak dapat digerakan dan lidahnya kelu.
Madara tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen yang dipegang Karin, sekretarisnya dan sesekali menatap Karin yang sedang menjelaskan isi dokumen ditangannya. Mereka berjalan ke arah ruangan dengan pintu besar, yang bertuliskan meeting room.
Hinata masih terdiam ditempatnya. Setelah Madara dan Karin masuk kedalam meeting room Hinata berlari menuju meeting room. Mengintip dari jendela yang ada disamping pintu. Setelah mengedarkan pandangannya ke penjuru meeting room. Akhirnya pandangan Hinata menemukan sosok yang begitu sangat dirinduinya namun juga dibencinya, yaitu Mada-kun.
Hinata membalikkan tubuhnya lalu berjalan kearah toilet wanita. Hinata merasakan sangat sesak didadanya. Ia tak tau harus bahagia atau bersedih, berjumpa kembali dengan pria yang telah meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Hinata berjalan tertatih dan memegangi dadanya dengan tangan kanannya. " tidak ada luka disini. Tapi kenapa sakit sekali?". Gumam Hinata lirih. Hinata langsung menangis tersedu saat berada didalam toilet. Mengeluarkan semua airmata yang tertahan sejak pertama kali ia melihat Mada-kun nya.
Madara dan Karin keluar dari meeting room. Mereka menuju ruangan Madara di lantai dua. Hinata yang sengaja bersembunyi dari Madara, melihat mereka lantas membuntuti mereka dari jauh. Hinata sangat penasaran, mengapa Madara ada di Susanoo Music. Sudah bertahun-tahun Hinata bolak-balik ke Susanoo Music. Tapi baru hari ini dia melihat Madara, dan sepertinya Madara adalah orang yang sangat penting di Susanoo Music, karena setiap orang yang berpapasan dengannya, mereka pasti membungkukan badan ke arah Madara. Saat Madara dan Karin masuk kedalam lift Hinata melihat angka tujuan mereka. Hinata masuk ke lift yang ada disebelah lift yang dinaiki Madara dan Karin, dan memncet tombol angka dua.
Ketika Hinata keluar dari lift, Hinata akhirnya dapat melihat punggung kedua orang yang ia buntuti. Sampai kedua orang itu masuk kedalam ruangan yang bercat beda dengan ruangan lainnya, yakni warna ungu muda. Hinata bertanya kepada petugas kebersihan yang kebetulan lewat dan mendapatkan informasi bahwa ruangan tersebut adalah ruangan Presiden direktur mereka Uchiha Madara, yang baru tiga bulan ini datang dari Jerman.
Hinata kaget luar biasa mendengar penjelasan dari petugas kebersihan yang sudah berlalu meninggalkannya. Hinata ragu-ragu dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa perempuan berambut merah sepinggang yang kini sudah duduk dikursinya, didepan ruangan sang Presdir.
Hinata bisa melihat name tag wanita tersebut dan membacanya. "Permisi Uzumaki-san, bisa saya bertemu dengan Uchiha- sama". Tanya Hinata dengan nada agak bergetar.
"Siapa nama anda, apakah anda sudah buat janji?". Balas Karin singkat.
"nama saya Sakura.. Haruno Sakura,saya diperintah Obito-sama untuk bertemu dengan Uchiha-sama." Jawab Hinata dengan keringat dingin yang kembali mengucur didahinya, karena takut Karin mengetahui bahwa Hinata sedang berbohong.
"tunggu sebentar.". Seru Karin, Karin pun mengambil pesawat telepon didekatnya. Bertanya pada orang yang ia telpon, lalu menutup teleponnya dan mempersilahkan Hinata masuk.
Hinata masuk kedalam ruangan yang didominasi warna ungu muda nan lembut, warna favoritnya. Ruangan besar itu sangat rapi, bersih dan wangi bunga lavender. Kini dihadapannya ada seorang pria yang tengah duduk dikursi kerjanya. Nampaknya pria tersebut sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Hinata hanya dapat melihat rambut sang pria yang hitam kelam. Hinata menguatkan pijakan kedua kakinya agar tak runtuh saat itu juga.
Sang pria mematikan ponselnya dan memutar kursi kerjanya kearah Hinata. "Apa yang ingin anda bicarakan kepadaku Haruno-san, kenapa Obito mengutus anda dan tidak datang sendiri kepadaku". Ucap Madara lalu memakai kaca matanya.
Hinata hanya terdiam dan air matanya sudah tak tertahankan lagi. Ia menundukan wajahnya agar Madara tak melihat airmatanya yang mulai turun. "Mada-kun.. Apakah kau benar-benar tak mengingatku?." Batin Hinata berbisik lirih.
Madara telah memakai kacamatanya, seketika itu juga ia terkejut melihat wanita yang ada didepannya. Madara berdiri dari kursinya lalu menghampiri wanita itu. Wanita yang sedari tadi menundukan kepalanya.
"Hinata-chan.. Kau kah itu?" tanya Madara kepada Hinata.
Hinata menegakkan kepalanya dan menatap Madara yang semakin mendekat ke arahnya. "Kau mengenaliku..". Jawab Hinata.
"Bagaimana bisa aku tidak mengenalimu Hinata-chan" tukas Madara yang kini berada tepat didepan Hinata.
"Sebelas tahun... Sebelas tahun kau bisa bersikap seperti orang yang tidak pernah mengenaliku.." balas Hinata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau meninggalkanku begitu saja. Kau buang aku seperti sampah. Tak ada kabar apapun darimu.. Kau ini manusia macam apa.. ?". Cerocos Hinata yang sudah tidak mampu menahan emosinya kepada Madara, emosi yang ia tahan selama ini kini meluap-luap tak terkendali. Hinata bahkan tidak peduli jika suaranya terdengar sampai keluar ruangan Madara.
"Gomen.. Gomen.. Gomen.. Gomen.. Gomen.. Gomen.." ucap Madara lirih seraya mendekap Hinata erat.
Hinata yang didekap secara tiba-tiba oleh Madara terkejut, Hinata meronta-ronta dan memukuli dada bidang Madara dengan kedua tangan kecilnya. Tangisnya pun pecah dan berkata "Kau anggap aku ini apa? Apakah aku begitu tidak berharganya bagimu.. Sehingga kau perlakukan aku seperti ini.. Aku sangat membencimu.. Mada-kun..".
Madara tak melepaskan dekapannya. Ia hanya mampu mengucapkan kata "Gomen" berkali-kali. Dan mengecup lembut kening Hinata yang tertutup poni.
Hinata terdiam seketika. Tak percaya dengan apa yang baru saja Madara lakukan, dan membalas dekapan Madara. Hinata tak dapat membohongi dirinya, betapa ia sangat merindukan pria yang kini mendekapnya dengan hangat. Meskipun Hinata merasa benci kepada Madara, namun rasa benci itu tertutupi dengan rasa sayangnya yang begitu besar terhadap Madara.
"Maafkan aku Hinata- chan. Maafkan atas segala yang telah kulakukan padamu. Maafkan atas sikapku selama ini.. Aku sangat mencintaimu Hinata- chan". Ucap Madara yang telah melepaskan dekapannya dan menangkupkan kedua tangannya dipipi Hinata.
"aku juga masih mencintaimu Mada-kun.. Tapi aku belum bisa memaafkanmu". Jawab Hinata sambil melepaskan kedua tangan Madara dari pipinya.
"Kenapa ? Apa kau sudah memiliki kekasih Hinata-chan..?" tanya Madara.
"Tidak. Aku tidak memiliki kekasih, tapi jika aku dengan mudahnya kembali padamu, setelah apa yang kau lakukan padaku. Mungkin nanti kau akan meninggalkan aku lagi!". Kau yang sudah berkeluarga Mada-kun". Tukas Hinata yang kembali menundukan kepalanya.
Madara bergegas ke meja kerjanya dan mengambil sebuah foto berfigura indah, satu-satunya foto yang terpajang dimeja kerjanya, dan memperlihatkannya kepada Hinata.
"Hanya gadis ini yang aku cintai. Dialah cinta pertamaku dan aku harap dia juga yang akan menjadi cinta terakhirku..". Ucap Madara lirih.
Hinata terkejut melihat wajah gadis yang ada dalam figura. Karena gadis yang ada difigura itu adalah dirinya. Dirinya yang masih berumur 15 tahun mengenakan seragam sekolah.
"Maukah kau menikah denganku, Hinata -chan". Tanya Madara yang memandang tajam wanita pujaan dihadapannya.
"bagaimana aku bisa menikah denganmu. Namamu saja aku tidak tahu?" jawab Hinata seraya tersenyum.
"Uchiha... Uchiha Madara.. Itu nama lengkapku Hyuga-san". Ucap Madara dengan bibir yang melengkung tipis.
"yaa.. Aku mau Uchiha- sama". Jawab Hinata lagi.
Mendengar jawaban Hinata. Mata Madara terbelalak dan spontan memeluk mesra Hinata. Hinata membalas pelukan Madara. Sesaat kemudian mata mereka saling berpandangan dan Madara mengucapkan "I love You" serta mencium lembut bibir Hinata.
Hinata memejamkan kedua matanya, menikmati sapuan lembut bibir Madara dan berharap agar ini bukanlah mimpi. Inilah ciuman pertama mereka. Ciuman manis yang mungkin akan membuat kisah cinta mereka semakin indah.
Helmi Ae: makasih untuk saran dan kritiknya yg sangat membangun. Entah kenapa saya begitu mengagumi sosok Uchiha Madara, sehingga saya membuat fanfic ini. Jika ada waktu saya akan buat fanfic dengan karakter yang lain. Sekali lagi terima kasih. Dan mohon maaf apabila ada kesalahan.
