Title : Beside You
Disclaimer : Masashi Kishimoto. Kalau Naruto punya aku, Gaara-kun pasti jadi tokoh utamanya, bukan Naruto. Hahaha..
Summary : "Mana bisa aku membiarkan orang yang aku cintai terluka? Kau juga tak bisa diam kalau melihat gadis yang kau cintai terluka kan?" "Karena itu aku juga tidak bisa melihatmu terluka! Apalagi karena melindungiku!"
Pairing : Sasuke U. dan Sakura H.
Author Notes : Gomen-ne.. banyak salah typo di Chapter 1.
Diakhir cerita juga ada missing typo. Di kalimat, 'Dokter menghampiri Shizune. "Bagaimana keadaan Sakura?"'
Nee, seharusnya, 'Dokter Shizune. Temari segera menghampiri Shizune. "Bagaimana keadaan Sakura?"'
Semoga Reyna bisa perbaiki lain kali hehe. Oh ya, maaf juga kalau OOC. Jangan di Flame pleaseee?? *menatap dengan puppy eyes* Takut soalnya. Hahaha :D
Mau balas review yang belum sempat dibalas dengan PMs, boleh kan? Ehehe
Nakamura Kumiko-chan : iyaa nggak akan dibikin mati kok ^^ iyaa pairing SasuSaku. Di fav? Boleeeeh sekaliiiiii hahaaaa *hidung memanjang seperti pinokio* makasih sudah di fav :D ini sudah di update kan? Hehehe arigatou nee, Kumiko-chan mohon bantuan selanjutnya yaa :D
***000***
"SAKURA!!!!" jeritan perih dari Naruto membuat Sasuke sadar bahwa apa yang ia lihat itu nyata.
"Ssshh.." Sakura mendesah. Menahan nyeri dipunggungnya. Wajah pucatnya mengeluarkan banyak keringat. "Aku akan lebih terluka, bila kamu yang tertembak.."
Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Dokter segera menghampiri Shizune. "Bagaimana keadaan Sakura?"
Beside You
Chapter 2 : Sakura Haruno
Semua murid Special Class SMA Konoha mulai masuk satu persatu keruangan Sakura. Ruangan tempat gadis paling beruntung itu. Dua luka tembaknya tidak membuatnya sampai kehilangan nyawa. Yep. Tentu saja, karena dua tembakan itu, tidak satupun mengenai bagian vitalnya. Tapi untuk sementara waktu, Sakura harus istirahat dirumah sakit. Kiba, Shino, dan Neji membawakan Sakura beberapa buah-buahan yang kini diletakkan dimeja kecil disebelah kasur Sakura. Sakura duduk diatas kasurnya, tersenyum lemah sambil mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya yang sudah repot-repot untuk datang.
Akhirnya sepuluh orang penghuni Special class pulang. Sisanya hanya tinggal Naruto, Sasuke, dan Sakura diruangan itu. Sasuke hanya diam, duduk dikursi disebelah kasur Sakura. Naruto berdiri tepat di depan kasur Sakura, menyandarkan punggungnya ketembok. Hening. Tak ada satu orang pun yang buka suara. Yang dua merasa bersalah, yang satu lagi masih mencoba mengumpulkan tenaga.
Naruto menatap Sakura bergantian dengan Sasuke. Ia lalu memutuskan tidak mengganggu mereka berdua. "Aku pulang dulu ya, Sakura-chan. Cepat sembuh dan kembali kesekolah ya.."
"Arigatou, Naruto-kun.." ucap Sakura, sambil tersenyum lemah.
BLAM!
Tinggal Sasuke. Ia masih terdiam. Otaknya masih mencoba merangkai beberapa kata agar menjadi kalimat yang tepat. "Maaf Sakura, harusnya aku bisa melindungimu.."
"Ie. Itu sudah menjadi bagian dari tugas yang diberikan kepala sekolah padaku. Menjadi guard," ucap Sakura, masih dengan sedikit tenaga yang ia punya.
"Kenapa kau lakukan itu? Seharusnya aku yang terbaring di kasur itu. Bukan kau.." ucap Sasuke pelan, pandangan matanya terfokus pada Sakura. Terfokus pada mata hijau amber Sakura.
"Mana bisa aku membiarkan orang yang aku cintai terluka? Kau juga tak bisa diam kalau melihat gadis yang kau cintai terluka kan?" sergah Sakura, ia gerah akan rasa bersalah Sasuke. Wajahnya mengalihkan pandangannya dari Sasuke, kearah yang sebaliknya.
Sasuke kesal. Geram akan sikap keras kepala Sakura. Tangannya mencengkram kursi yang didudukinya keras. "Karena itu aku juga tidak bisa melihatmu terluka! Apalagi karena melindungiku!"
Sakura terdiam. Perlahan, Sakura berpaling lagi menatap Sasuke. Sasuke menunduk. Secara—tidak—langsung, ia sudah menyatakan perasaannya pada Sakura.
Dibalik pintu kamar Sakura, berdiri seseorang yang sejak tadi menguping. Mata birunya menatap menengadah kelangit-langit. Angannya untuk menggapai Sakura kini pupus. Ia tahu kalau Sakura juga menyukai Sasuke. Dan ia akan sangat bersalah apabila masih mengejar-ngejar Sakura. Dan sekarang yang Naruto pikirkan, apa bisa ia melupakan Sakura, sementara bayang-bayang Sakura terus menghantuinya setiap saat? Padahal selama ini Naruto hanya bisa melihat lurus kedepan. Hanya satu fokus yang ia punya. Hanya Sakura, dan tak ada yang lain. Sesak. Dadanya terasa semakin sesak.
"Naruto-kun?"
Naruto menoleh. Si gadis berbola mata lavender itu menatapnya dalam, "Apa kau sudah sarapan?"
Naruto menggeleng. Ia mencoba mengukir sedikit senyum, menyembunyikan perasaannya. "Aku tidak lapar, Hinata-chan.."
Hinata menunduk. Pipinya merona kemerahan. "Oh.. tapi wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?"
Naruto kaget. Ia lalu melirik kearah jendela. Sedikit bayangannya terpantul dikaca itu. Hinata benar. Wajahnya sangat pucat. Hinata menarik lengan jas seragam Naruto, "A-aku bawa bekal. Apa kau mau makan bersamaku, Naruto-kun?"
Naruto menatap Hinata, perlahan wajah Hinata tersamarkan. Yang ia lihat kini malah wajah Sakura yang sedang tersenyum. Naruto menutup matanya, lalu membukannya lagi. Kini ia melihat Hinata. Lalu kepalanya pun mengangguk untuk memberikan jawaban kepada Hinata. Dua orang itu kini berjalan pergi, menjauh dari ruangan Sakura.
Hening. Didalam ruangan itu masih hening. Tak ada yang buka suara. Sakura terlalu terkejut. Sasuke sudah kepalang basah.
"Apa maksudmu, Sasuke?" Sakura yang masih bingung, memberanikan bertanya. Ia takut mengira bahwa dirinya hanya kege-eran. Ta[I ia yakin dan telinganya pun mendengar dengan jelas kalau Sasuke secara tidak langsung mengucapkan—melafalkan, perasaannya secara tersurat.
"Pikirkanlah sendiri." Sasuke pura-pura acuh. Ia masih memasang gesture cool-nya.
"Nee.." Sakura berfikir sejenak. Ia memutar bola matanya, "Kau menyukaiku, Sasuke?"
Ditembak begitu, Sasuke hanya bisa diam. Ia—sungguh—merasa sangat bodoh menyatakan perasaannya dirumah sakit, saat gadis itu baru terbangun, dan baru akan sembuh.
"Kau diam?" Sakura semakin penasaran. Diliriknya bola mata hitam yang kini memandang buah-buahan yang tadi dibawakan oleh Neji dkk. "Diam artinya 'iya' loh, Sasuke.."
Sasuke menoleh, kembali menatap mata hijau ambernya Sakura. "Memang 'iya'."
Sakura tercekat. Pipinya merona kemerahan. Tidak ia sangka kalau Sasuke seberani itu. Sasuke berdiri, mendorong kursinya sedikit kebelakang. "Ja, aku mau pulang. Kau tidak apa-apa kan kutinggal sendirian?"
"Iya. Tidak apa, soalnya Otoo-san mau datang sebentar lagi. Hati-hati ya, Sasuke-kun.." ucap Sakura, sebenarnya sedikit aneh akan sikap Sasuke. Tidakkah Sasuke ingin mengetahui perasan Sakura padanya?
"Ja nee, cepat sembuh dan kembali kesekolah ya," ucap Sasuke singkat, dan pintu pun tertutup, meninggalkan Sakura sendirian dikamar itu.
KLEK!
Baru saja Sakura akan merebahkan dirinya, seseorang sudah masuk lagi keruangannya. "Otoo-san.."
Kakashi tersenyum, "Bagaimana keadanmu, anakku?"
Kakashi duduk dikursi yang tadi diduduki Sasuke. Ia menginap dirumah sakit demi menjaga Sakura. Hatinya sudah perih ketika tahu anak angkatnya menjadi korban di dalam sebuah misi.
***
Itachi terduduk lemas. Rantai meliliti tubuhnya. Tidak membiarkan sedikit tubuhnya dapat bernafas bebas. Ia manatap sekelilingnya hanya palang besi berentetan yang memenjarakannya. Tak ada tembok atau apapun. Hanya palang-palang besi terkuat se-Tokyo. Ia sudah dimasukan ke daftar penjahat kelas kakap karena gangguan mental.
Terdengar langkah kaki mendekati ruangan yang terbuat dari palang-palang besi berukuran tiga kali tiga meter. Tanpa melihat siapa yang mengunjunginya pun, Itachi sudah tau. "Nee, kau datang ya, Sasuke-chan.."
Sasuke diam. Ia sangat benci panggilan itu. Dan Itachi tau itu. Sasuke tidak mau mempersalahkan hal kecil. Ia datang kemari hanya sekedar berkunjung. Tak lebih. Itachi tersenyum menyeringai. "Hey, Sa-chan, gadis berambut pink itu, apa kabarnya? Sudah mati kah?"
Sasuke terhenyak. ia menggeleng. Memperlihatkan kemenangan atas kegagalan Itachi. "Ia selamat, ia terlalu kuat untuk mati oleh dua tembakan mu, Itachi-niisan.."
"Kemana harga dirimu? Dilindungi oleh seorang wanita.. aku sih lebih memilih mati daripada harus begitu.." ucap Itachi, mencela Sasuke. Ia lalu kembali menatap bola mata hitam Sasuke, "Kau masih berhutang padaku."
Sasuke diam. Ia mengerti maksud dari ucapan Itachi. "Utangku itu, sepertinya hanya akan membuang waktumu, Onii-san.."
"Ie. Utangmu, bagiku sangatlah menarik." Itachi menatap adiknya dengan senyum menyeringainya, "Kau pikir setelah merebut perhatian otoo-san, kau bisa lepas dariku? Kau berhutang besar, adikku.."
"Kau juga berhutang padaku, onii-san.." Sasuke dengan cepat membalas. "Aku diam walau tahu kaulah pembunuh Otoo-san.."
Itachi mengalihkan pandangannya. Menatap kearah lain. "Cih! Tua bangka itu sudah menyiksaku. Membandingkanku denganmu. Dia membuangku dengan mudah. Dan kau penyebabnya. Kau penyebab kenapa otoo-san tak lagi melihatku sebagai yang nomor satu!"
Sasuke diam. "Salahmu, nii-san. Kau terlalu terpukul setelah kematian Okaa-san. Padahal Okaa-san sudah bilang kalau kau harus tetap kuat meski apa yang terjadi.."
"Setelah kematian Okaa-san, Otoo-san hanya melihatmu, bocah tengik!" ucap Itachi geram. Rantainya sedikit bergerak. "Kau merebut perhatian Otoo-san dariku! Kau membuatku semakin hancur, Sasuke!"
Memang. Awalnya Itachi selalu menjadi panutan. Menjadi yang nomor satu diantara Ayah, Ibu, dan Sasuke sendiri. Tapi semenjak kematian ibunya, Itachi menjadi terpuruk. Sasuke terus berusaha keras menjadi yang nomor 1. Kematian ibunya malah memberinya semangat, untuk membahagiakan ibunya yang sudah tiada, dengan mengikuti kata-katanya. Menjadi nomor satu. Dan ia berhasil. Sasuke manjadi yang nomor satu dimata Ayahnya. Itachi merasa terkucilkan. Merasa dibuang. Padahal salahnya sendiri, kenapa nilai mata pelajarannya terus menurun, hingga membuatnya masuk Akatsuki High, tempat yang sangat dihindari Kunoichi baik-baik seperti klan Uciha. Klan terkuat yang pernah ada.
Itachi menaruh dendam pada Sasuke. Ia berniat mencelakai Sasuke saat akan bertamasya bersama Ayah mereka. Saat mereka sampai disebuah tebing tinggi, Itachi dengan cepat mendorong Sasuke . tapi Sasuke berhasil menangkap ranting yang ada disekitar tebing. Ayahnya tidak tinggal diam. Ia membahayakan nyawanya sendiri untuk menolong Sasuke. Ayahnya terengah-engah, dan masih terduduk di ujung tebing. Sasuke berhasil naik kembali keatas tebing. Namun tiba-tiba, tebing yang diinjak Ayah Sasuke retak, dan menjatuhkan sang Ayah. Itachi dan Sasuke menjadi yatim piatu di umur Sasuke yang ke 12.
"Tuan Uciha, jam besuk sudah habis."
Sasuke menoleh kebelakang. Suara penjaga itu membuyarkan lamunanya. Ia lalu mambalik badannya, bersiap untuk segera pergi dari tempat itu. "Sampai jumpa, nii-san.."
"Jangan kembali lagi, bocah tengik!" ucap Itachi geram. Ia sangat membenci Sasuke. Otaknya sudah dipenuhi dengan berbagai cara untuk membunuh adiknya. Setelah suara langkah kaki itu menghilang, Itachi menunduk.
Tes!
Air mata jatuh mengalir dipipinya. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu. Sasuke adalah adiknya yang sangat ia sayang. Sangat ia cintai. Ia sangat ingin melaksanakan pesan terakhir ibunya. 'Jagalah Sasuke, sebagaimana kamu menjaga ibu, ya Itachi?'
Tapi ia tidak bisa. Ia sudah terlalu malu untuk mundur dari situasi yang ia buat. Ia sudah terlalu malu untuk kembali menjadi dirinya yang dulu. Ia sebenarnya merasa sangat menyesal. Iri. Ia hanya iri pada adiknya yang bisa menjadi lebih kuat dan hebat darinya. Ia iri kenapa perhatian Otoo-san sekarang hanya untuk Sasuke. Ia bingung mencari perhatian Otoo-san yang menghilang darinya.
Tapi ia sudah tak bisa kembali. Semuanya menjadi sangat mustahil bagi Itachi, setelah apa yang ia perbuat. Membunuh Otoo-san secara tak langsung, berniat mencelakai adiknya, hampir membunuh gadis yang adiknya sayangi. Ia sudah tidak punya muka untuk kembali sebagai Itachi Uciha, kakak dari Sasuke Uciha.
***
Sakura sudah kembali masuk sekolah. Ia tidak betah harus berlama-lama dirumah sakit. Maka dalam waktu 5 hari, ia sudah diberikan ijin pulang oleh dokter Shizune (Sakura memaksa Shizune mengijinkannya pulang. Shizune tidak bisa melakukan apapun selain menandatangi surat kepulangan Sakura). Sakura disambut dengan baik oleh ke dua belas penghuni Special Class di Konoha Gakuen.
Sakura sangat aneh pada Sasuke. Padahal sehari sebelum kepulangannya, Sasuke masih lembut padanya. Dan sekarang, Sasuke seratus persen mengacuhkannya. 'Orang macam apa kau, Sasuke Uciha..?' ucap Sakura dalam hati.
Naruto hanya bisa menatap Sakura dari kejauhan. Ia masih memiliki rasa penyesalan itu, walah sudah enam hari terlewat sejak kajadian itu. Naruto mendengus. Perasaannya masih tidak tenang. Ia meraih ponsel di atas mejanya. Lalu mengetik cepat, kemudian menyimpan ponselnya disaku jasnya.
Ponsel Sakura bergetar. Tanda ada pesan masuk. Pesan dari Naruto. 'Sakura-chan, ada yang ingin kubicarakan. Bisa temui aku di atap saat istirahat?'
Sakura mengetik cepat, membalas pesan Naruto. Ia lalu memasukan ponselnya ke tas, saat menyadari kalau Tsunade-sensei sudah berjalan mendekat kearah kelas mereka.
Ponsel Naruto bergetar. Naruto segera membaca pesannya. Pesan balasan dari Sakura. 'Oke.'
Naruto segera memasukan ponselnya ke saku jasnya.
GREK!
Pintu geser itu terbuka. Tsunade-sensei berdiri di pintu masuk. "Kalian kedatangan tamu, murid-murid spesialku.."
Tsunade masuk kedalam kelas, dan duduk dimeja guru (duduk dimeja? Tidak sopan *dijitak Tsunade*). Seluruh kelas mulai ribut. Bingung menebak siapa yang datang. Seseorang masuk kedalam kelas itu, diikuti tiga teman dibelakangnya. Gaara, Matsuri, Temari, dan Kankurou. Murid Suna Gakuen.
"Saya, selaku ketua OSIS Suna Gakuen, ingin mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepada murid Special Class SMA Konoha," ucap Gaara tegas. "Terima kasih telah menolong teman kami yang disandera oleh Itachi Uciha. Semoga setelah ini, kita dapat terus berteman baik. Arigatou mina-san!"
Ino berdiri. Melakukan standing applause. Kemudian diikuti Chouji, Shikamaru, dan seluruh murid Special Class. Ketika tepuk tangan mulai mereda, Matsuri maju, "Terima kasih kami ucapkan juga, khususnya untuk Sakura Haruno-senpai yang sudah bersedia berkorban menjadi guard."
Sakura diam ditempat duduknya. Terhenyak akan ucapan Matsuri. Tepuk tangan kembali memeriahkan kelas ini. Tepuk tangan khusus untuk Sakura, yang diikuti oleh seluruh murid Special Class, Gaara, Matsuri, Temari, Kankurou, juga Tsunade-sensei.
***
Sakura menaiki tangga menuju atap sekolahnya satu persatu. Ia lalu membuka pintu keluar itu. Angin langsung menerbangkan rambut merah muda sakura yang sebahu. Seseorang berdiri beberapa meter dihadapan Sakura. Rambut pirangnya bersinar karena cahaya matahari. Mata birunya menatap Sakura intens. Sakura berjalan mendekati Naruto. "Apa yang ingin kau bicarakan, Naruto-kun?"
Naruto diam. Sakura kini berdiri dengan jarak 30 senti darinya. Naruto menatap mata hijau ambernya Sakura. "Sakura-chan.."
"Ya?" Sakura menunggu kalimat yang akan dilontarkan Naruto.
"Maaf. Gara-gara aku, kau jadi tertembak dua kali.." ucap Naruto, ia memilih kalimat itu untuk berbasa-basi.
Sakura menatap mata biru terang milik Naruto. "Jangan berbasa-basi, Naruto-kun. Langsung ke intinya saja.."
"Aku menyukaimu."
TO BE CONTINUED
Gomen-ne…
Kembali memotong dan menggantungkan cerita hehehehe… *dirasengan Naruto*
Kalau ada yang merasa kurang sreg, review dan beritahu Reyna yaaaaa….????? *merayu ala Ino*
Yang penting, sekarang pencet-pencetlah ijo-ijo dibawah untuk me-Review..
Gomen kalau ada missing typo dan kesalahan typo lagi. Gomennasai!
Review Pleaseeeeeeeeee?????????????? *menatap readers dengan puppy eyes*
