Hey, maaf lama. Ini chapter 2 nya,...
Thx for the review,...
(‾⌣‾)
.
.
.
.
.
.
"Maaf sayang, tidak disini," bisik namja itu sambil menarik lenganku dengan kasar, membawaku keluar ruangan khusus itu. Kami menerobos kerumunan orang-orang gila dengan aroma alkohol di mulut mereka. Aku benci bau ini.
"Kau mau kemana? Pestanya baru akan di mulai," ucap Yunho pada laki-laki yang tengah menyeretku ini.
"Mian Hyung, Aku punya pesta sendiri yang harus segera ku mulai."
Yunho melirikku sekilas, lalu menganggukan kepalanya seakan tahu 'pesta' macam apa yang di sebut namja ini. Kurasa aku tahu pesta macam apa yang ia maksud. Tapi, semoga dugaanku salah.
"Arraseo, asal kau tahu saja, dia masih sangat polos."
"Tenang saja Hyung, akan ku ajari semua yang ku tahu pada bocah ini," oh Sial! Apa dia baru saja menyebutku bocah?
Aku harus melakukan sesuatu. Ditaruh mana mukaku jika aku pasrah saja di bawa kabur oleh orang yang bahkan tak ku tau namanya untuk di perkosa. Changmin pasti tak akan berhenti mengejekku sampai aku mati.
"Tunggu dulu, hyung! Bukankah aku sedang dalam jam kerja? Kenapa kau membiarkaknku pergi begitu saja?" protesku pada Yunho.
"Tak apa, pergilah dengan Siwon. Mumpung aku sedang baik malam ini."
"Aku pergi dulu," pamit laki-laki yang bernama Siwon ini pada Yunho.
Dan kembali, dia menyeretku keluar club. Dengan sedikit kesusahan aku mengikutinya karena banyak sekali oarang di sini. Sebenarnya siapa yang bodoh di sini? Kenapa aku dengan langkah ringan terus saja mengikutinya. Mungkin besok aku harus ke dokter jiwa.
Mobilnya berhenti di depan sebuah gedung mewah, kurasa sebuah apartement. Apa dia tinggal di sini? Seberapa kaya namja bernama Siwon ini? Sial, bagamana bisa seorang manusia punya banyak sekali kelebihan?
Lagi-lagi dia menyeretku dengan paksa. Apa dia tidak bisa sedikit lebih manusiawi. Atau memang itu kebiasaannya. Entahlah. Kurasa aku terlalu banyak berfikir. Sampai-sampai aku tak sadar jika dia sudah membawaku masuk ke apartementnya dan langsung memagut bibirku seketika. Aku memndorongnya keras hingga pautan kami terlepas.
"Apa-apaan kau ini?" protesku padanya yang lagi-lagi menunjukan smirk nakalnya kearahku.
"Wae? Jangan bilang kau tidak mau,"
"Aku memang tidak mau."
"Lalu kenapa kau mau ikut kesini?"
"Kau, kau yang memaksaku bodohhhh,... Sshhh," sial, apa yang dia sentuh?
"Apa kau yakin? Kyuhyun? Itu namamu kan?"
"Ennghhhh,..," sial! dia meremas penisku.
Tangannya yang tadi di luar celanaku kini sudah menelusup kedalam. Membuatku sedikit terkejut karena tangannya menyetuh penisku langsung. Meremasnya dan mengocoknya. Bibirnya mulai mencumbuiku dari mulai telinga hingga dadaku. Kakiku benar-benar terasa lemas. Tubuhku goyah dan bersandar di bahunyaa, membuat gerakannya terhenti.
"Blow me, babe,..." bisiknya smabil mengenggam tanganku, mengarahkannya ke selangkangannya.
Sedikit ragu, kuremas penisnya yang bisa dibilang cukup besar itu. Dan ia memejamkan matanya terlihat sangat menikmatinya, membuatku sedikit lebih berani memainkan kejantanannya. Kubuka pengait celana, lalu resletingnya. Kemudian underwearnya. Dan penisnya yang sudah agak menegang terlihat jelas di depan mataku.
Kuraih dan ku kocok perlahan sambil memperhatikan ekspresi wajahnya. Tanpa desahan, tapi terlihat jika ia tengah menikmatinya. Entah kenapa dadaku berdebar tak karuan melihatnnya yang sedang seperti ini. Membuat gerakan tanganku semakin cepat.
Kutekuk lututku, dan kini kepalaku berada di depan kemaluannya. Aku ingin melihat dia lebih menikmatinya. Aku ingin lebih lama lagi melihatnya yang seperti ini. Terlihat sangat sexy dan menggairahkan.
Kubuka mulutku, dan kulahap penisnya yang sudah menegang itu. Dia membuka matanya, melihat ke arahku. Menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke penisnya. Membuat mulutku penuh dengan penis besarnya. Ku kulum penisnya dari pangkal hingga ujung. Kumainkan lidahku di kemaluannya, menyesapnya.
"Ahhh,.. Shhh, lebih cepat Kyu," perintahnya yang langsung membuat tempo kulumanku semakin cepat.
Sial, mendengar suara desahannya saja bisa membuat tubuhku bergetar begini. Aku tidak tahan, kubuka celanaku dan ku kocok sendiri penisku yang sudah sedikit basah karena mengeluarkan percum.
"Empgghhh,.." desahku tertahan oleh penis di dalam mulutku.
Kupercepat kulumanku seiring dengan makin cepatnya gerakn tanganku di bawah. Dia bahkan ikut memaju mundurkan pantatnya berlawanan dengan gerakanku, membuatku hampir saja tersedak karena penisnya masuk begitu dalam dimulutku.
"Ahhhhh,..." desahnya panjang bersamaan dengan cairan kental yang mengalir membanjiri mulutku, membuatku langsung menarik kepalaku dan memuntahkannya. Harusnya dia bilang kalu mau keluar. Ah , sial!
Dia menarik tubuhku keatas dan menciumku. Memasukan lidahnya ke dalam mulutku seolah-olah menyuruhku untuk menelan cairannya. Aku tak punya pilihan lain, kutelan sisa spermanya di mulutku, dan itu membuatnya melepaskan ciuman.
Dia melepas kancing bajuku dan menyesap putingku. Mengulumnya dan mengigitnya. Membuatku menggeliat nikmat. Mendorong tubuhku hingga kami berdua jatuh di atas sofa dengan aku berada di bawah. Dia mengesek-gesekan kemaluan kami yang sama-sama menegang, membuatku lagi-lagi mendesah entah untuk yang keberapa kali.
"Siapa yang tadi bilang tidak mau?" tanyanya disela-sela kegiatannya mengulum bibirku. Membuat wajahku memerah.
"Shhh,..Ahhh,..diamlah bodoh!" jawabku dengan susah payah.
Aku tetcekat ketika kurasakn jari tangannya memcoba untuk menerobos ke anusku. Kudorong tubunhya yang entah sejak kapan sudah tanpa busana itu.
"Apa yang kau lakukan?"
"Melonggarkan lubangmu tentu saja, apa kau mau langsung kumasuki? Jangan bilang kau ingin yang di atas."
"Mwo? Kau mau memasukan apa? Penismu? Janan bercanda."
"Aku tidak menerima penolakan, Kyu" katanya kemudian membungkam mulutku dengan sebuah ciuman kasar.
Sial, dia mencoba lagi memasukan jarinya ke dalam anusku, tapi kali ini dia membuatku tak berdaya dengan terus memberiku rangsangan di bagian sensitifku. Membuatku mendesah lagi dan lagi. Dua, tidak, kurasa tiga. Sudah tiga jarinya yang masuk ke dalam anusku. Apa dia benar-benar akan memasukan penisnya?
"Arggghh, sakit bodoh! Pelan-pelan," omelku ketika tiba-tiba dia memasukan penisnya dalm lubangku.
"Sabarlah sedikit," katanya sambil berusaha memasukan seluruh penisnya kedalam anusku.
Dia diam beberapa saat setelah penisnya suadah sepenuhnya masuk. Argh, sial ini sakit sekali. Berlahan ia mulai menarik penisnya, kemudian medorongnya lagi. Membuatku hampir menitikan air mata karena tak kuat menahan sakitnya.
"Shhhh,.. kau sngat sempit, Kyu."
"Tentu saja,.. Ngghhhh," aku tak bisa menahan diri untuk tidak melenguh ketiak ujung penisnya menyentuh sesuatu dia dalam sana yang entah bagaimana memberiku kenikmatan sendiri.
Siwon semakin mempercepat gerakannya. Dan ini benar-benar nikmat hingga membuatku lupa akan rasa sakitnya. Tiadak, dia terlalu pelan. Aku ingin lebih cepat lagi.
"enghhh, lebihh cepathh,.."
"Baiklah sayang," balasnya diiringi dengan suara tumbukan antara kulit kami yang semakin cepat.
Kutarik kepalanya lalu kukulum bibir kissablenya itu. Manis, nikmat, panas. Kumasukan lidahku ke mulutnya yang kemudian disambut oleh lidahnya. Bibirnya lalu menjelajahi leherku, memberikan beberapa kissmark disana. Turun kebawah, mengulum putingku, membuatku hampir gila karena begitu banyak kenikmantan yang ku rasakan sekaligus.
Siwon semakin mempercepat gerakannya di dalam anusku. Tak lama kemudian cairan hangat memenuhiku,diiringi dengan desahan panjangnya. Spermanya sangat banyak hingga mengalir membasahi pahaku.
Dia menarik penisnya dari dalm anusku, kemudian mengecup dahiku. Sudah selesai? Tidak, aku masih belum puas. Kudorong tubuhnya hingga aku sekarang duduk di atas perutnya. Mengecup bibirnya, dada, kemudian putingnya. Memberikan kissmark di lehernya.
"Mau lagi eoh?" tanya nya sambil tertawa pelan,"Ternyata kau nakal juga ya."
"Diam lah dan masukan penismu kedalam lubangku lagi," jawabku yang membuatnya lagi-lagi terkekeh.
"Masukan saja sendiri,"tantangnya.
Kuraih penisnya dan kukocok sebentar. Ku possisikan pantatku diatas kejantanannya. Pelan-pelan, aku mencoba memasukan penisnya yang masih ereksi itu ke dalam anusku yang berkedut. Sial, kenapa susah sekali.
"Ahhh,.." desahku ketika ujung penisnya sudah masuk ke anusku.
Berlahan kuturunkan pantatku. Dan kupejamkan mataku ketika penisnya sudah masuk sepenuhnya. Kutumpukan tanganku diatas perutnya yang kokoh, lalu aku mulai bergerak naik turun. Mencoba mencari titik nikmatku.
"Agghhh,.. Bagus sekali Kyu, kau benar-benar terlihat seperti pelacur."
Entah kenapa, kata-kata kasarnya itu justru membuat libidoku semakin terpacu. Kupercepat gerakanku ketika sudah kutemukan kenikmatanku. Desahan dan lenguhan tak henti keluar dari mulutku. Siwon bahkan ikut menggerakan pinggulnya berlawanan arah.
Ku kocok penisku ketika kurasa aku hampir keluar. Kocokanku semakin cepat seiring dengan cepatnya gerakan pinggulku.
"Terlalu lama sayang," bisiknya kemudian membalik posisi kami.
Ia berada di atasku. Mengenjotku semakin cepat dan brutal. Tak butuh waktu lama bagiku untuk klimaaks. Dan tubuhku mulai melemas. Tapi ia masih saja menggerakan penisnya. Kupejamkan mataku sambil terus mendesah.
"Siwonhhh,... Shhh akhhh!"
"Ya, begitu, pangil namaku,"
"Eungghhh,.. Hakhh,..akhhh,"
Lagi, untuk yang kedua kalinya kurasakan cairan hangat memenuhi anusku. Ia mengeluarkan juniornya yang masih bermandikan sperma, mendekatkannya ke mulutku. Tanpa harus diperintaahnya, ku kulum juniornya. Ku bersihkan sisa cairanya dengan lidahku, membuatnya tersenyum kemudian meringkuk di sampingku. Jujur saja posisi ini tidak nyaman, sofa ini tak seluas tempat tidur. Tangannya yang besar merengkuh pinggangku. Merapatkan tubuh kami, membuat tubuhku merasakn sensasi aneh. Panas dan dingin secara bersamaan.
"Sebagai amatir, kau tidak terlalu buruk."
Amatir? Benar juga, ini pasti buakn untuk pertama kalinya dia bercinta dengan orang yang baru dikenalnya. Aku pasti hanya satu dari sekian banyak teman sex nya. Aku bukan siapa-siapa untuknya. Aku tak berarti apapun. Aku? Kenapa aku jadi berharap lebih? Bodoh.
Aku bangkit dari tidurku. Sial, pantatku sakit sekali. Dengan langkah tertatih, ku ambil pakaianku. Ku kenakan kembali sebisaku tanpa mempedulikan tampang bingung Siwon yang tengah memperhatikanku.
"Aku mau pulang," ujarku padanya.
"Mwo? Sekarang?"
Aku hanya mengangguk lemah menjawab pertanyaanya. Kepalaku sakit.
TBC
Arggghhh, maaf, jelek, gaje, maksa. Kecepetan, Aneh. bash saja pemirsa, gpp. Hhehe,
Lanjutkah? Atau udah aja?
