Title: Around Me

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Pair: Sasuke Uchiha & Hinata Hyuuga

Sorry for typo dan kekurangan lainnya, OOC Maybe…

Chapter 2

Hinata terbangun setelah sayup-sayup mendengar suara berisik dari luar kamarnya, dia masih ingin tidur karena semalaman bekerja lembur untuk mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan hari ini. Hinata berpikir siapakah yang membuat gaduh di pagi hari, seketika itu juga Hinata teringat pria bernama Sasuke yang saat ini tengah ditampung di apartemen ini. Yah orang itu memang tidak berisik tapi ada saja tingkahnya yang sangat menyebalkan menurut Hinata.

Seperti kemarin misalnya, setelah berkata seenaknya mengenai masakan Hinata sebelum mencicipinya ternyata dia menghabiskan tanpa sisa makanan yang dibuat Hinata dan tanpa mengeluarkan suara. Tentu saja bagi Hinata itu menyebalkan karena seharusnya Sasuke itu berkomentar seperti sebelumnya, seperti ketika belum menyantap masakan Hinata. Berkata 'lumayan' atau 'enak'-ini yang diharapkan Hinata- atau bahkan berkomentar 'buruk' bila kenyataannya demikian. Tapi Hinata cukup percaya diri terhadap masakan yang dibuatnya.

Selain makanan pria itu juga bersikap seenaknya terhadap Hinata, dia meminta –Menyuruh- ini itu kepada Hinata dan bodohnya Hinata menurutinya. Pikirnya ini demi Neji-nii. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena Neji menghubunginya dan meminta Sasuke untuk menemuinya dan setelah itu pria berambut raven itu pergi meninggalkan apartemen dan Hinata bebas dari gangguan Sasuke. Tapi setelah mendengar keributan di luar Hinata berpikir hari-harinya yang damai bersama Nii-sannya akan terusik. Hinata berniat untuk tidak memedulikan keributan itu dan ingin melanjutkan kembali tidurnya namun ketika nama "Sasuke" diterikan oleh seseorang Hinata langsung terlonjak. Bukan karena nama Sasuke akan tetapi suara yang meneriaki nama itu. Itu suara perempuan. Sejak kapan apartemen kakaknya ini dihuni oleh perempuan selain dirinya. Pikiran Hinata mulai tidak karuan. Apa si Sasuke itu benar-benar berulah? Apa dia membawa seorang perempuan setelah kembali?

Hinata ingat dia tidur hampir pukul tiga pagi. Dan Hinata juga yakin baik Neji maupun pria itu belum kembali ke apartemen sebelum Hinata tertidur. Apa si Sasuke itu pulang pagi dengan membawa perempuan? Pikiran-pikiran negatif memenuhi kepala Hinata. Kalau benar demikian Hinata berpikir bagaimana Nii-sannya itu menemukan seorang teman bejad seperti itu. Daripada memikirkannya lebih baik Hinata memastikan pemikirannya itu. Dan akhirnya Hinata berjalan menuju pintu keluar kamarnya.

Setelah membuka pintu Hinata dibuat tercengang dengan pemandangan di depannya. Seorang pria dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur tengah berdiri di hadapannya dengan punggung polos tanpa mengenakan pakaian. Pria itu hanya mengenakan celana pendek yang biasa dipakai Neji, Hinata sedikit lega setelah menyadari hal tersebut, namun ketika matanya kembali menelusuri tubuh bagian atas pemuda itu sepertinya ada yang berbeda. Itu bukan Neji, rambut pria itu pendek dan seperti bebek.

"aaaaaaaaa" teriak Hinata seketika setelah menyadarinya, dan tanpa mengamati situasi dia berbalik ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras.

.

.

.

Di sebuah ruangan yang baru saja ditinggalkan Hinata karena terkejutannya menyisakan dua orang manusia yang satu seorang perempuan cantik bercepol dua yang juga tengah terkejut dengan teriakan yang ditimbulkan Hinata dan satunya lagi seorang pria yang terlihat malas setelah mendengar teriakan tadi.

"ck. Perempuan memang merepotkan" dan gadis yang berdiri di depannya hanya memelototi tingkah menyebalkan dari pria berambut raven

"kau yang merepotkan Sasuke! Kau harus terbiasa kalau di tempat ini ada adik Neji dan dia seorang gadis. Jadi jangan berbuat seenaknya dengan berkeliaran tanpa memakai bajumu!" gerutu gadis bercepol itu. Tak lama kemudian pintu kamar di sebelah kamar Hinata terbuka memperlihatkan tampang seorang pria yang terlihat lelah juga terusik dengan kejadian barusan.

"ada apa?" tanyanaya parau

"Neji-kun, kau bangun? Si Saasuke ini membuat keributan" gadis bercepol itu berjalan menghampiri Neji. Terdengar suara gerutuan pelan dari arah pemuda raven. Neji sendiri hanya menatap Sasuke sekilas dan mengernyit bingung melihat kehadiran gadis di hadapannya.

"kau sendiri apa yang kau lakukan di sini sepagi ini Tenten?" gadis bernama Tenten itu terlihat sedikit salah tingkah.

Dengan wajah memerah dia berbisik pelan ditujukan kepada Neji "ingin memberi kejutan" tapi sepertinya bisikan itu masih terdengar sampai di telinga Sasuke, karena dengan segera pria itu menimpali

"kau berhasil!"

"tapi yang membuat kejutan untuk Hinata-chan itu kau!" sambar Tenten cepat. Neji hanya menghela nafas melihat kelakuan dua orang tersebut.

"Sasuke pakai bajumu jika di sini! Hinata belum terbiasa dengan kehadiranmu, jadi hati-hatilah" dan kepada Tenten, Neji hanya melirik sekilas kemudia pria berambut panjang itu berjalan menuju pintu di samping kamarnnya dan mengetuk pelan.

"Hinata, ini aku. Ayo kita bicara" dan setelah itu terdengar gumaman pelan dari balik pintu.

.

.

.

Dan di sini, di ruang tengah di mana empat orang tengah berkumpul dengan ekspresi yang berbeda-beda. Hinata sendiri bersedia keluar dari kamarnya setelah mendengar sura Neji, dan kakaknya itu meminta untuk berbicara. Sepertinya dia akan membicarakan kejadian yang baru dialaminya tadi. Di samping kanannya duduk seorang pemuda yang menurut Hinata menjadi penyebab keributan di pagi ini, tenang saja Hinata dia kini sudah berpakaian lengkap. Dan di hadapannya ada Neji beserta seorang gadis yang belum Hinata kenal namun dari raut wajahnya gadis itu terlihat berbinar namun sedikit canggung.

"gomen ne Hinata-chan, mengenai kejadian tadi" gadis yang belum Hinata kenal itulah yang memulai membuka suaranya. Kenapa gadis itu tau namanya? Dan memanggilnya dengan sufiks chan melirik kea rah Nii-sannya sepertinya dia tidak keberatan.

"dia Tenten, kekasihku" melihat raut kebingungan di wajah Hinata membuat Neji bersuara. Hinata pun terlihat terkejut, setaunya kakaknya ini tidak memiliki kekasih sebelumnya, atau apa dia memang tidak berniat menceritakannya kepada Hinata, Hinata sedikit kecewa dibuatnya.

"mereka baru berkencan belum lama ini" akhirnya Hinata mendengar pemuda di sampingnya bersuara, walaupun terlihat enggan sepertinya pria itu berusaha untuk mengatasi kebingungan Hinata. Dan seketika Hinata tersenyum. Melirik gadis bernama Tenten dan dibalas senyum canggung serta malu-malu dari gadis itu.

"Ne Hinata-chan sepertinya sekarang aku akan sering berkunjung! Kau juga boleh memanggilku Nee-chan" Tenten bersuara. Hinata sendiri tertawa pelan.

"sepertinya kalian dapat melanjutkan percakapan ini. Kau juga Sasuke! Aku lelah." Neji beranjak dari tempatnya duduk meninggalkan ketiga orang yang tersisa di ruangan itu. "ya, sepertinya kau memang masih butuh tidur" Tenten berteriak pelan.

"ano, apa Neji-nii tidak bekerja?" Tanya Hinata pelan

"karena kemarin dia mengerjakan tugas kantor yang seharusnya tidak dia kerjakan jadi dia mendapat libur untuk mengganti waktu libur kemarin" Hinata hanya menjawab "oh" pelan.

"kalau dia?" Hinata bertanya kepada Tenten dengan melirikan ekor matanya. Mendengar pertanyaan Hinata Tenten terlihat bingung untuk menjawabnya.

"kau seharusnya bertanya langsung kepadaku!" sahut pria di sampingnya cepat, Hinata hanya melirik sekilas. Namun seketika Hinata bertanya "lalu apa yang kau lakukan pagi tadi dengan membuat keributan?" namun Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya bingung, dan seketika tersadar.

"keributan itu juga yang membuatku terbangun" jawab Sasuke malas sembari mengedikkan dagunya menunjuk ke arah Tenten. Hinata mengikuti pergerakan Sasuke. Dan akhirnya Tenten tersadar dengan apa yang sedang kedua orang itu bicarakan.

"aku berniat membuat kejutan untuk Neji, tapi sepertinya tidak berjalan lancer" Tenten menunjuk ke arah dapur yang terlihat berantakan, Hinata mulai mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi sepertinya Tenten-nee berniat memberi kejutan untuk Neji-nii dengan membuatkan sarapan namun tidak berjalan mulus melihat kondisi dapur yang –pantas kalau keributan pagi tadi membangunkannya juga Sasuke- dan entah apa yang terjadi selanjutnya hingga Tenten berteiak kepada Sasuke lalu Hinata berpikir yang tidak-tidak dan melihat Sasuke yang tidak memakai bajunya lalu begitulah.

"apa kalian sudah saling kenal sebelumya? Rasanya tadi pagi Tenten-Nee meneriaki Sasuke san?" Hinata bertanya karena penasaran, sepertinya mereka memang sudah saling menganal

"dia penggemar berat Neji yang-"

"Sasuke!" sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya Tenten terlebih dahulu memotongnya, dan ekspresi wajah gadis itu seketika berubah –sepertinya malu-

"dulu kami satu kampus Hina-chan. Jadi kami memang sudah saling mengenal" sepertinya Hinata cukup paham dengan situasi ini.

"ne Hina-chan kau sendiri apa tidak kuliah hari ini?" mata bulan Hinata membulat seketika, dengan panic dia mencari-cari jam untuk memastikan waktu. Untuk hari ini Hinata memang mengambil kelas sore, namun ada tugas yang harus dikumpulkannya kepada dosennya pukul 11 pagi. Dan ketika menemukan jam dinding di ruangan tersebut menunjukkan pukul 10, Hinata bergegas untuk bersiap-siap. Memang masih cukup waktu dari apartemen menuju kampus Hinata, namun tetap saja dia tidak ingin terlambat. Dan setelah itu Hinata berpamitan untuk bersiap-siap.

"Hei Sasuke. Hinata kawai ne?" ujar Tenten seketika melihat tingkah Hinata. Sasuke sendiri mengabaikan perkataan Tenten, namun tampaknya mata pria Uchiha itu memperhatikan gerak-gerik Hinata.

.

.

.

Jarak menuju kampus Hinata dari apartemen dapat ditempuh kurang lebih setenagh jam, jadi Hinata memiliki waktu setengah jam untuk besiap. Hinata sendiri bukan gadis yang suka berdandan menggunakan make up tebal, cukup dengan bedak tipis dan polesan lip balm agar bibirnya tidak kering. dia juga bukan tipe yang terlalu mempermasalahkan penampilannya. Jadi waktu setengah jam sudah lebih dari cukup untuk mandi dan bersiap. Hari ini Hinata memilih setelan simple yakni celana Jeans, t-shirt yang dibalut cardigan dengan warna senada dan Hinata juga memilih flat shoes yang mudah dipakai. Setelah menatap penampilannya di cermin Hinata menyiapkan tugas-tugas yang sudah siap untuk dikumpulkan dan bergegas meninggalkan kamarnya.

"Hinata-chan" suara pertama yang Hinata dengar setelah membuka pintu adalah suara Tenten yang memanggilnya "kau bawa ini yah, kau kan belum sarapan" Hinata memandang launch box yang dipegang oleh Tenten "e-eto" berniat menolak namun sepertinya Tenten tak akan membiarkannya

"ne, walaupun hanya roti isi selai kau harus tetap memakannya! Aku tidak ingin kau kelaparan di jalan"

"terima saja! Itu lebih baik daripada dia memberikanmu bento buatannya" Hinata sedikit terlonjak kala suara Sasuke menggema di belakang kepalanya, Hinata melirik Sasuke sekilas. Pria itu berpenampilan cukup rapih, sepertinya dia juga akan pergi. Menghela nafas pelan Hinata menerima pemberian Tenten. Lagipula tidak ada salahnya menolak kebaikan seseorang, apalagi mungkin dia akan menjadi kakak iparmu bukan.

"kalau sudah siap. Ayo ku antar!" seketika Hinata memutar tubuhnya menghadap Sasuke

"kau akan mengantarku?" tanyanya bingung

"hn"

"sepertinya kau cukup tau diri Sasuke, nah Hinata-chan tidak usah sungkan dengan Sasuke." Sebelum Hinata sempat menjawab kalimat Tenten, lengannya terlebih dahulu di raih Sasuke dan pria itu menyeretnya menuju pintu keluar. Karena gerakan tiba-tiba itu Hinata tidak sempat untuk melepaskan genggaman Sasuke.

Setelah Hinata dan Sasuke meninggalkan apartemen, Tenten terlihat menghela nafas "semoga Hinata-chan akan baik-baik saja selama Sasuke tinggal di sini" entah apa yang dipikirkan Tenten, namun seketika dia teringat tujuan utama datang ke apartemen ini. Melirik ke arah dapur dan berujar semangat "yosh, aku harus melanjutkan membuat kejutan untuk Neji". Bila kalian melihat keadaan dapur di apartemen tersebut sepertinya perkataan Tenten juga patut ditujukan kepada Neji 'semoga Neji-kun akan baik-baik saja menerima kejutan dari kekasihnya itu'.

.

.

.

Kembali ke keadaan Hinata, gadis itu masih berjalan dalam diam dibelakang Sasuke yang masih menarik lengannya pelan. Dan fokus Hinata adalah lengannya yang masih digenggam oleh Sasuke itu. Karena sedikit rishi akhirnya Hinata bersuara

"Sasuke-san" dan seketika Sasuke berhenti untuk melirik ke arah Hinata, melihat Hinata yang mengedik ke lengannya, Sasuke seketika melepaskan kontak di antara mereka.

"ayo cepat! Kau tidak ingin terlambat kan" dan Sasuke kembali melangkahkan kakinya menuju basemen apartemen. Hinata kembali mengikutinya dalam diam.

Setelah sampai dihadapan mobil berwarna hitam yang notabennya adalah milik Neji, Sasuke segera memasuki bangku kemudi, dan menunggu Hinata untuk masuk dan mengambil posisi di sampingnya.

"Kau tunjukkan jalan menuju kampusmu!" Hinata mengangguk mengerti.

Ada beberapa pertanyaan yang berkecamuk di kepala gadis berambut indigo itu, jadilah dia memutuskan untuk bertanya.

Pertama "ano, apa Neji-nii sudah lama dekat dengan Tenten-nee?" Sasuke melirik sekilas dan memutuskan untuk menanggapi

"sepertinya mereka bertemu lagi belum lama ini"

Hinata mengangguk mencoba untuk memahami "Kalau dulu?"

Mendengar pertanyaan Hinata, Sasuke menyeringai tipis "tadi bukankah sudah kujawab kalau Tenten adalah penggemar berat Neji selama kuliah dulu" Hinata cukup terkejut dengan jawaban Sasuke, ternyata ucapan pria ini beberapa waktu tadi bukanlah godaan semaata yang ditujukan kepada Tenten. Hinata bersiap memberikan pertanyaan sebelum Sasuke melanjutkan kalimatnya "aku tidak banyak tahu mengenai hubungan mereka, baru kemarin saat bertemu Neji, dia bercerita kalau mereka telah resmi berpacaran!" mendengar Sasuke bercerita Hinata rasa pria ini Tidak terlalu buruk, dan cukup menyenangkan "kalau kau ingin tahu lebih banyak langsung saja menanyakannya kepada Neji atau Tenten!" perkataan Sasuke ada benarnya, bertanya langsung tentu akan lebih baik dan Hinata rasa dia bisa lebih dekat dengan Tenten. Jadi Hinata memutuskan untuk mengganti topik dan beralih ke pertanyaan selanjutnya

"ne Sasuke-san sendiri kenapa mau mengantarku?" kau tidak terlihat seperti orang yang bersedia melakukan hal-hal seperti ini, tambahnya dalam hati. Mobil berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah dan Sasuke terlihat acuh mendengar pertanyaan Hinata barusan

"kau pikir apa?"

"hm?" Hinata mengangkat sebelah alisnya menandakan ekspresi kekurang mengertiannya terhadap jawaban Sasuke.

Menghela nafas pelan Sasuke menjawab "berjalan-jalan mengelilingi tempat baru tentu jauh lebih menyenangkan dari pada harus terjebak di antara romansa kakakmu itu kan?"

Menyadari jawaban yang dilontarkan oleh Sasuke Hinata mengerti sekarang, pria ini sepertinya tidak ingin menjadi pengganggu kegiatan yang akan dilakukan oleh Neji dan Tenten. Sasuke tidak ingin menjadi obat nyamuk haha, tanpa Hinata sadari dia terkekeh pelan dan mengundang perhatian Sasuke Seketika. Pria itu mengernyit heran "kau kenapa?" dan Hinata seketika menggeleng menyembunyikan fakta yang ia pikirkan Sasuke pun sepertinya tidak ambil pusing dengan tingkah Hinata.

Tetapi dipikir-pikir lagi menemani pasangan lain berkencan tidaklah buruk bila kita bisa lebih bersama dengan orang yang kita sukai, benarkan?. Hinata mengela napas berat setelah memikirkan tindakan tadi. Ini bukanlah hal yang patut dibenarkan. Lagipula Hinata sudah berniat untuk menghilankan perasaannya. Dia tidak ingin menjadi gadis jahat yang akan menusuk sahabatnya dari belakang. Lagi pula Hinata sadar walaupun dia melakukan itu hanya dirinyalah yang akan terluka karena Naruto tak sedikitpun ada ketertarikan terhadapnya. Dia tau bahwa pria berambut kuning itu sangat menyayangi Sakura.

"ada apa?" tiba-tiba suara berat di sebelahnya membuat Hinata tersadar dan dengan cepat Hinata menggeleng "tidak apa"

"Sasuke-san" Hinata memanggil pria itu ragu

"hn?"

"ano.. ah tidak jadi, tidak usah dipikirkan" sepertinya Hinata berniat mengatakan sesuatu, namun diurungkannya dan Sasuke kembali tidak ambil pusing dengan pernyataan Hinata.

Hening beberapa saat sampai Sasuke bersuara "kau tidak akan memakan roti pemberian Tenten?"

Merespon pernyataan Sasuke, Hinata menggeleng pelan "aku belum lapar, nanti saja di kampus"

"Kalau begitu berikan padaku, kau bisa membeli makanan lain di kampusmu" Hinata mengernyit dengan pernyataan Sasuke dan Hinata memilih untuk bertanya "kau lapar?" dan tanpa diduga Sasuke bergumam "hn" Hinata tersenyum menyadari pria itu langsung mengiyakan pertanyaannya, dan dari ekspresi yang ditunjukkan oleh pria itu membuat Hinata tanpa sadar tersenyum. Dengan gerakan cepat hinata mengambil kotak makan yang berada di dalam tasnya, membuka tutup kotak Hinata mengambil sepotong roti dan menyodorkannya ke pada Sasuke. Tanpa diduga pria itu langsunng menyambar roti yang ada menggunakan mulutnya. Hinata dibuat terkejut dengan aksi Sasuke, menyadari tingkah Hinata yang sedikit kikuk Sasuke sedikit banyak tersadar dan menyeringai, setelah menelan roti tadi Sasuke berkomentar "kau menyodorkan roti ini tidak jauh dari mulutku jadi lebih mudah langsung memakannya. Kalu kau menyodorkan kotak makan itu baru aku kan mengambilnya dengan tanganku satu persatu" mendapati jawaban Sasuke, gadis itu menyadari kesalahnnya namun jawaban Sasuke tadi justru membuat Hinata makin salah tingkah dan wajahnya terlihat memerah kentara sekali bahwa gadis berambut panjang ini malu "gomen" jawabnya pelan, seketika Hinata kembali menyodorkan roti buatan Tenten itu namun kini beserta kotak yang menjadi wadahnya, dan tanpa memandang Sasuke. Tanpa Hinata sadari pria di sampingnya itu menyeringai lebar.

.

.

.

Perjalanan dilanjutkan dalam diam, untungnya bagi Hinata kejadian memalukan tadi tidak terjadi terlalu lama karena beberapa menit kemudian mereka sampai di depan gerbang utama Konoha University yang merupakan kampus Hinata. Setelah menyerahkan kotak roti ke genggaman tangan Sasuke Hinata pamit kepada Sasuke dan berniat membuka pintu mobil sebelum manik lavendernya mendapati spion mobil memperlihatkan Sahabat berambut pinknya tengah berjalan beriringan dengan seseorang yang sudah jelas Hinata tahu adalah kekasih gadis itu sekaligus laki-laki yang Hinata sukai. Ragu, akhirnya Hinata memilih menyamankan kembali posisi duduknya di dalam mobil.

Sasuke yang menyadari bahwa Hinata urung meninggalkan mobil akhirnya bertanya "kenapa tidak jadi pergi? Kau tidak takut terlambat?" melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11 kurang lima menit Hinata sedikit lebih gelisah, namun dia pikir lagi terlambat beberapa menit akan lebih baik dari padi harus berpapasan dengan mereka kan. Menggaruk pelan pelipisnya yang tidak gatal Hinata memandang Sasuke dan memaksakan sebuah senyumah, akan tetapi melihat ekspresi datar pria itu Hinata seketika meringis "itu bukanlah sebuah jawaban" sasuke menjawab, mengacu pada senyuman yang Hinata lakukan.

Menghembuskan nafas pelan Hinata menjawab asal "aku masih mempersiapkan diri sebelum menemui dosen nanti, kau tau dosen ini sangat berbahaya(killer)" dengan ekspresi yang berusaha dibuat mengerikan saat berbicara mengenai dosennya, namun sepertinya tidak mempan bagi Sasuke terbukti dari tampang pria itu yang masih saja datar dan terlihat tidak berminat.

Namun beberapa detik kemudian Hinata mendapati bahwa tatapan Sasuke tertuju kearahnya, ah bukan tapi arah belakang Hinata, dan gadis itu tanpa sadar memutar tubuhnya menuju arah pandang Sasuke. Seketika itu juga Hinata terlonjak mendapati seorang pria dan seorang gadis yang Hinata sudah kenal betul sedang memperhatikan ke arahnya, ah mungkin memperhatikan mobil ini. Jantung Hinata seketika berdektak lebih kencang, karena seingat Hinata mereka pernah beberapa kali melihat mobil ini walau tidak sering namun Hinata sedikit banyak berharap mereka tidak menyadarinya ditambah lagi kaca hitam mobil yang tidak transparan dari luar. Hinata masih merasa gelisah takut kalau-kalau dua orang itu menyadari kehadirannya namun tidak menghampiri mereka.

Hinata tentu bingung dengan keadaan ini, namun beruntung mereka tidak bertahan lama untuk memperhatikan mobil Neji ini. Gadis berambut indigo ini pun mengembuskan nafa lega. Deheman yang berasal dari sebelahnya kembali mengagetkan Hinata, gadis itu menoleh dan mendapati pria raven di depannya terlihat sedang memasang ekspresi tanya. Dan Hinata harus kembali menghela nafas berat entah untuk yang ke berapa kalinya.

Sebelum Hinata sempat membuka mulut gadis itu mendapati ekspresi Sasuke yang terlihat berbeda dia tidak mampu mengartikan ekspresi pria itu, sepertinya pria dihadapannya ini hendang bersuara "sepertinya kau terlihat bermaslah dengan mereka" hinata tetap memperhatikan Sasuke yang masih ingin melanjutkan kalimatnya "ku pikir karena kita akan tinggal bersama dalam waktu yang cukup lama kau bisa lebih terbuka ke padaku, dan anggap aku sebagai kakak laki-laki kedua juga tidak masalah, siapa tahu kau dapat menerima bantuan dariku" dan seringai lebar diperlihatkan oleh pria itu. Mendengar Sasuke berkata demikian tentu menggelitik Hinata, dan dia seperti menyadari adanya sedikit keganjilan. Namun Hinata pikir Sasuke mungkin bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Lalu kau juga tidak boleh berpikiran negative dengan orang lain kan, apalagi pria di hadapannya adalah sahabat Neji. Dan karena hal inilah Hinata menghembuskan napfas pelan, dan membalas seringai Sasuke dengan senyuman manisnya, senyuman tulus.

To be continue…

Terima kasih pada pembaca yang bersedia membaca, memberi review, memfav, dan memfollow fic ini hehehe. Daku sadar kalau mungkin deskripsi yang kupaparkan masih kurang baik. Susaaaaah soalnya buat deskripsi itu hahaha. Yah fic ini memang masih terdapat banyak kekurangan dan saya sendiri masih dalam tahap belajar jadi mohon kritik dan sarannya. Dan bagi yang masih berharap(kalo ada ) mengenai kelanjutan fic ini saya tidak dapat menjanjikan lebih. Semangat saya membuat fic ini bergantung pada semangat kalian(?) menyemangati saya dengan memberikan review, fav, follow. Dan maaf buat typo yang bertebaran, nggak sempet ngedit. Cukup sekian deh

thanks yaaah…

see yaa..