Naruto © Masashi Kishimoto

Deep © Mitsuki Ota

.

.

.

Warning: standard applied

.

.

.

Namanya Hinata. Uchiha Hinata. Kami berkenalan setahun yang lalu. Dia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat—setelah ibuku tentunya. Dia sangat lembut; perkataan maupun perbuatannya. Pertama kali aku melihatnya, dia termenung dalam kesendiriannya di taman. Entah dorongan apa yang membuatku duduk di sampingnya meski banyak bangku yang kosong. Dia tampak tak menyadari kehadiranku, membuatku penasaran. Sebenarnya apa yang ada dipikiran gadis yang satu ini? Aku tak mengerti, namun dari tatapan matanya, dia tampak kosong. Dia bukan boneka, kan?

"Kau mau di sini terus, nona?" tanyaku, menyadari diriku yang terlalu ingin tahu urusannya.

Dia tersentak kaget. Kan, dia memang tidak menyadari kehadiranku.

"Ah, maaf, Tuan. Aku tidak menyadari kehadiranmu," katanya menyesal, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Hn. Ini sudah malam. Kupikir kau sebaiknya pulang," saranku. Ini pertama kalinya aku bersikap seperti ini dengan makhluk bernama wanita. Rasanya begitu aneh. Mengapa aku begitu peduli dengan orang asing yang bahkan sejak tadi tak menyadari kehadiranku?

"Maaf sudah merepotkan Tuan. Terima kasih."

Aku mengangguk. Sudah berapa lama ya aku di sini, menunggu wanita yang tak jelas tadi? Aku melirik jam di tanganku. Jam 6 malam. Sudah sejam ternyata. Gaara, apa yang sedang kaulakukan? Aku merutuki diriku yang seperti ini.

.

.

.

Hari berikutnya dan seterusnya aku masih melihat wanita itu. Ia masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Gadis cantik dengan pandangan kosong yang menghabiskan waktu sorenya dengan melamun. Aku duduk lagi di sebelahnya. Seperti hal ini adalah kebiasaan baru bagiku.

"Etto ... Tuan?" Sontak aku menoleh. Tumben. Apa sekarang dia menyadari kehadiranku?

"Hn?"

"Sepertinya Tuan senang sekali menghabiskan waktu duduk di taman ini," ungkapnya, tersenyum.

Demi apapun yang ada di bumi, gadis ini sangat manis ketika tersenyum.

"Tuan. Tuan?"

"Hn?"

"Kau sedang melamun?"

"Tidak. Aku hanya terkejut kau menyadariku," ungkapku, seperti anak polos. Dia malah tertawa.

"Maaf, aku hanya merasa Tuan sama sepertiku. Senang menghabiskan waktu sorenya di taman ini."

"Aku hanya kebetulan lewat."

"Oh, aku mengerti."

"Siapa namamu?"

"Hinata. Uchiha Hinata."

"Aku Gaara. Sabaku Gaara."

.

.

.

Begitulah cara kami berkenalan. Aku dan Hinata. Hingga kami menyadari perasaan kami satu sama lain. Perasaan lebih yang kumiliki, yang aku yakin Hinata juga mempunyainya.

.

.

.

"Aku menyukaimu, Hinata."

"Gaara-kun?"

"Aku menyukaimu, Hinata. Apa kau mau menjadi—"

"Aku sudah menikah, Gaara-kun," ungkap sang gadis dengan menyesal.

"Hinata? Apa kau serius?" Aku tak bisa mencegah dirinya untuk tidak terkejut. Bagaimana mungkin Hinata sudah menikah?

"Maaf, Gaara-kun," ungkapnya lalu pergi.

Saat Hinata pergi, baru aku tahu, rasa sakit yang orang lain alami ketika cintanya bertepuk sebelah tangan. Sesakit ini kah cinta? Mengapa aku yang baru merasakan perasaan yang banyak orang bilang berjuta rasanya itu begitu menyakitkan? Mengapa?

.

.

.

Sejak itu Hinata tidak pernah muncul lagi di taman. Dia seolah menghilang di telan bumi, dan Gaara tahu penyebabnya.

Hinata menghindarinya, atau bahkan mungkin membencinya? Memikirkannya membuat Gaara bersedih. Jika Hinata tidak bisa menjadi miliknya, tak bisakah dia hanya melihatnya? Menjaganya dari kejauhan? Tak bisakah, Hinata?

"Ini pertama kalinya aku jatuh cinta, Hinata. Dan itu menyakitkan," gumamnya.

.

.

.

Apakah aku pernah dibenakmu?

Apa kau pernah sekali saja memikirkan persaaanku?

Pernahkah kau bertanya mengapa aku jatuh cinta padamu?

Gaara memikirkan hal itu dalam kamarnya yang gelap. Hanya suara detik jam yang menemaninya. Ia sudah mematikan ponselnya ketika sambungan teleponnya tidak pernah tersambung ke nomor Hinata. Ia tak akan mengganggu Hinata dan suaminya, ia hanya ingin meminta maaf karena telah mencintai Hinata. Bagaimanapun juga ia merasa berdosa telah mencintai isteri orang lain. Namun ia tak pernah bisa menghubungi Hinata. Semua panggilan dan pesan yang ia kirim tak pernah sekalipun mendapat respon. Apakah Hinata ingin ia melupakan wanita bermanik perak itu?

Ia resah dalam melewati malam-malamnya. Ia ingin bertemu dengan Hinata, sangat ingin. Namun ia tak tahu di mana sang gadis tinggal.

"Mungkinkah aku harus menyerah padamu, Hinata?"

.

.

.

Sore itu Gaara memutuskan datang ke taman itu lagi. Setitik hatinya masih berharap ia akan bertemu dengan Hinata, meski ia yakin ia tak akan bertemu dengan sang gadis seperti hari-hari sebelumnya. Tapi Tuhan tak pernah ingkar, ia selalu mengabulkan apa yang hambanya pinta. Di tengah keputusasaannnya, Hinata duduk di bangku taman tepat dihapannya. Hinata kembali ke Hinata yang dulu; melamun dengan pandangan yang kosong.

Dengan ragu, sang pemuda berambut merah itu duduk di samping gadis berkulit susu itu. Sang gadis nampak tak sadar akan kehadiran sang pemuda. Seperti pertama kali Gaara kala bertemu.

"Hi—"

"Aku mencintainya, Gaara-kun. Tapi sekalipun dia tak pernah memperhatikanku. Kami sudah bersama selama empat tahun, namun tak pernah sekalipun ia menganggapku. Jika ia tak mencintaiku, mengapa ia menikahiku?"Hinata menangis. Mersakan beban hidupnya begitu berat, dan ia tak bisa menahan lagi.

Meski merasa berdosa, Gaara memeluk Hinata. Ia tak sanggup melihat orang yang ia cintai menangis di depannya.

"Aku ada di sampingmu, Hinata.".

.

.

.

Dan setelah itu aku dan Hinata semakin sering bertemu, dan kami juga tak pernah mengungkit persaanku. Hinata tampak lebih bahagia dibandingkan dulu. Wajahnya terlihat lebih segar dan bersemangat. Dan sebab ini kami juga lebih sering bertemu.

"Gaara-kun baru pulang?" tanya Hinata.

"Hn. Tadi aku mampir di minimarket. Ini." Aku menyodorkan sekaleng minuman dingin pada Hinata. Ia menerimanaya dan berterima kasih.

"Aku berpikir, mengapa kau tak bercerai dengan suamimu Hinata?"

"Aku tidak tahu, Gaara-kun."

"Mengapa kau tak menikah denganku saja?"

.

.

.

Ah, setelah sekian lama enggak apdet, akhirnya punya kesempatan juga. Sebenarnya aku ngerjain ini di sela-sela kestresanku sama pelajaran microlinguistik. Besok ulangan dan aku belum presentasi. Dan saking stressnya aku bahkan enggak bisa berpikir. Do'akan presentasiku lancar ya :)

Oh ya, aku juga mau minta maaf jika banyak yang menunggu fiksi ini. Aku sangat menyesal, dan sekalinya apdet malah mengecewakan begini. Dan kalo boleh jujur, aku agak malas setelah membaca review yang masuk dalam akunku ini. Menjadi author itu tidak mudah. Hargailah kami para author yang sudah meluangkan waktunya demi membuat cerita fiksi. Kami tidak dibayar loh. Kami hanya dibayar oleh review dan favorit para reader. Bukan berarti aku minta review dan favorit yang banyak. Hanya saja, membuat fanfiksi di sela-sela kesibukan dunia nyata itu susah. Mohon pengertiannya.

Terima kasih karena telah mampir. Terima kasih buat review yang kalian berikan. Aku sangat bahagia :)

Ah ya, chapter depan giliran sudut pandang Hinata. Spoiler dikit. Hehehe

Jaa~